Arsip Kategori: RISALAH KELUARGA

ISTERI YANG KUFUR NIKMAT

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, ia bercerita bahwa :

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :

“Wanita mana saja yang meninggal sedang suaminya meridhainya maka akan masuk surga”

(HR.Ibnu Majah,Tirmidzi, dan Hakim, Dan Al-Hakim mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih)

Kemudian Sabda Beliau yang lainnya:

“Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu, dan berpuasa bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya, menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya,”masuklah kamu kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki”

(HR.Imam Ahmad dan Nasa’i. Semua perawi hadits ini tsiqah)

Oleh Karena itu tidak boleh hilang dari benak kita bahwa memahami ajaran agama yang lurus ini dengan kesadaran dan ketaatan kepada suami merupakan bagian yang dapat memasukkan seorang wanita muslimah ke dalam surga.

Akan tetapi kita dapati kenyataan pada masa ini sedikit sekali seorang istri yang taat kepada suaminya dan mensyukuri pemberian suami kepada dirinya (kecuali yang dirahmati Allah). Selalu saja merasa kurang dan tidak cukup..

Sehingga suami yang sudah lelah bekerja seharian jarang disambut dengan senyuman mesra karena kecilnya penghasilan sang suami..

Kadang pula Dia tidak sadar telah menjerumuskan dirinya dalam bahaya besar yaitu Allah tidak sudi memandang dirinya akibat dari  ketidak peduliannya terhadap rasa  syukurnya  atas apa yang diberikan suami kepadanya baik nafkah ataupun yang lainnya.

Sebagaimana hal ini, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :

“Allah tidak akan memandang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal ia butuh kepadanya”

(HR.Al-Hakim dalam Mustadraknya, beliau mengatakan isnad hadits ini adalah shahih)

Jadi dengn demikian Hendaklah seorang istri mengingat hadits diatas dengan baik dalam pikirannya agar ketika ia lupa mengucapkan syukur (terima kasih) kepada suaminya segera beristighfar kepada Allahu Ta’ala dan segera mengucapkan ucapan syukur kepada suaminya untuk menghindarkan dirinya dari kemurkaan Allah. Yang demikian itu karena wanita muslimah yang telah dibekali dengan ilmu agama sadar dan selalu menepati janji dan tidak mengenal kufur terhadap nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya karena dia mendapatkan petunjuk dari agamanya yang menyelamatkan dirinya dari keburukan moral akhlak wanita-wanita kafir yang tidak pernah mengakui kebaikan-kebaikan yang suami mereka berikan..

Kadang Ironisnya wanita-wanita muslimah dewasa ini diantara mereka ada yang berperilaku demikian..

Oleh karnA Mungkin hadits dibawah ini patut untuk dicamkan :

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Pernah diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata kebanyakan dari penghuninya adalah wanita yang suka berbuat kufur. Ditanyakan kepada beliau,”Apakah mereka berbuat kufur terhadap Allah? Beliau menjawab,”Mereka berbuat kufur terhadap keluarga  dan kufur terhadap kebaikan.Apabila engkau senantiasa berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka lalu mendapatkan perlakuan buruk darimu, niscaya akan mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”

(Hadits Muttafaq Alaih)

Barokallohufyikum !!!

Iklan

6 DOSA SUAMI TERHADAP ISTERI

SUAMI juga manusia, bisa berbuat salah. Namun, kesalahan sikap bisa diperbaiki. Yang paling penting, ketika menikah, suami tidak boleh melakukan kesalahan syar’i kepada istri. Ada beberapa kesalahan suami terhadap istrinya dan ini sangat mendasar. Apa saja?

  1. Tidak mengajar agama dan hukum syariat kepada Isteri.

Betapa sukarnya untuk menjadikan seorang isteri yang benar-benar solehah. Malah, istri menjadi satu ujian besar bagi seorang lelaki untuk mencari dan membentuk pasangan menjadi seorang isteri yang mempunyai sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang kuat.
Berbahaya jika ada di antara isteri masih tidak tahu bagaimana untuk menunaikan solat dengan betul, hukum haid dan nifas, melayani suami dan mendidik anak mengikuti Islam.

  1. Mencari-cari kekurangan dan kesalahan isteri.

Jika seorang suami terus mencari kekurangan dan kelemahan istrinya, dikhuatirkan akan menimbulkan perasaan kurang senang pada isterinya. Dan barang siapa mencari aib saudaranya sendiri, Allah juga akan mencari aibnya. Maka, hendaklah seorang suami itu bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada isterinya.

  1. Menghukum tidak sesuai kesalahan.

Hal ini termasuk kezaliman terhadap isteri. Di antara bentuk hukuman yang zalim itu adalah:
– Memukul di tahap awal pemberian hukuman. Padahal Allah SWT telah berfirman,“Wanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.”( An Nisa’:34)
– Mengusir isteri dari rumah tanpa ada sebab secara syar’i. Allah SWT berfirman yang artinya: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .” (Ath Thalaq:1)
– Memukul wajah, mencela dan menghina. Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apakah hak isteri ke atas suaminya? Baginda menjawab, “Dia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak memburuk-burukkan dan tidak memboikot kecuali di dalam rumah.” (Riwayat Ibnu Majah, disahihkan oleh Al Albani)

  1. Pelit memberi nafkah.

Sesungguhnya kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada isteri, sepertimana yang ditetapkan di dalam al-Quran. Isteri berhak mendapat nafkah, kerana dia telah menjadi halal untuk disenangi, dia telah menaati suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumahnya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

  1. Sikap keras, dan kasar.

Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya.” (Riwayat Tirmidzi, disahihkan al Albani). Maka hendaknya seorang suami itu berakhlak baik terhadap isterinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar. Di antara bentuk sikap lembut seorang suami itu adalah, bergurau senda, menyuapkannya makan dan memanggilnya dengan panggilan yang mesra.

  1. Berpoligami mengikut nafsu

Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajipan-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.” (An Nisa: 3). Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama. [majalah-i]

Sumber : https://www.islampos.com/6-dosa-suami-terhadap-istri-150505/

ISTERI SHOLIHAH

Tentunya seorang isteri sangat ingin dijuluki sebagai simpanan yang paling baik diatas muka bumi ini,  sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :

“Ingatlah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu simpanan yang paling baik bagi seseorang? Yaitu wanita shalihah, jika suami memandangnya, maka dia membuatnya senang, jika suami menyuruhnya maka dia menaatinya dan jika suami tidak ada disisinya maka dia menjaganya “

(HR.Abu Dawud)

Oleh karna itu, Alangkah berbahagianya seorang suami bila mendapati istrinya termasuk seorang wanita shalihah karena ia adalah sebaik-baik perhiasan diatas muka bumi..

Dan juga betapa bahagianya sang istri  bila mendapati suaminya yang ia cintai senang terhadap dirinya dan meredhainya karena dengan keridhoan suaminya itu maka apabila ia mati tidak ada balasan yang terbaik baginya melainkan surga Allah yang seluas langit dan bumi dimana ia bisa memasukinya dari pintu manapun yang ia kehendakinya.

Barokallohufyikum !!!

HATI HATI DENGAN IPARMU

Rasulullah bersabda :

“Saudara ipar itu kematian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam surath an-Nisa, telah di nyatakan bahwa ,

Allah berfirman :

“(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara…”
(QS. an-Nisa: 23)

Yang Maksudnya adalah, tidak boleh menikahi dua wanita yng bersaudara, baik saudara kandung maupun sepersusuan…

Karna kita hanya bisa menikahi adik ipar kita,

jika:

-kita telah menceraikan istri kita dan telah selesai masa iddah atau

  • Istri kita telah meninggal dunia.

Oleh karna itu, kita jangan merasa aman dalam posisi semacam ini. Karena setan akan berupaya keras dalam menjerumuskan kita untk berbuat perzinahan.

Maka Waspadalah… !

Karna Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.”
(HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

CUKUP DENGAN SATU ISTRI ASALKAN HIDUPNYA BAHAGIA, DAN MENYAYANGINYA WALAU ADA KEKURANGAN YANG ADA PADA DIRINYA

hendaknya seorang suami harus bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya, juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dangan benar.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda :

“Bersikap baiklah kepada para istri. Karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kamu hendak meluruskannya niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Maka bersikap baiklah kepada para istri.”
[(Muttafaqun’alaih)]

Rasulullah pernah bersabda :

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya.”
(HR. Tirmidzi)

Kemudian lihatlah Firman Allah di bawah ini Dan CAMKANLAH baik baik, karna kelak pertanggung jawaban akan di mintai, BAGAIMANA PEMBINAAN KITA dalam Keluarga :

Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
[(Qs At Tahrim:6)]

Oleh karna itu hendaknya kita sebagai suami tidak mengabaikan hal ini, karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban atasnya..

Dah itu aja….
Barokallohufiik !

CARILAH ISTRI YANG BERHIJAB

image

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab: 59)

Inilah perintah yang menjadi identitas seorang Muslimah untuk selalu mengenakan jilbab di manapun dirinya berada.

Dari ayat perintah berjilbab tersebut, tersirat sebuah tujuan mulia yakni menjaga martabat seorang wanita dari laki-laki asing (bukan mahramnya).

Wanita yang baik akan menggunakan jilbab untuk menjaga hijab ketika bersosialisai dengan siapapun dan di manapun, kecuali kepada kerabat keluarganya. Dengan menjaga hijab, kehidupan seorang wanita akan jauh dari fitnah terlebih-lebih gosip di jaman seperti ini.

Dan masih banyak ayat-ayat Allah maupun hadits Rasulullah yang mengharuskan jilbab bagi seorang Muslimah jika dirinya ingin benar-benar mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Facebook

Barokallofiikum !

JANGAN SOK BERPOLIGAMI WALAUPUN KITA DI ANJURKAN

Tidak jarang dari mereka yang mengetahui, kalau kita di anjurkan,
Untuk berpoligami .

Apalagi, pada situs media mereka mereka memosting status tengtang berpoligami, seakan akan hal ini sangat mudah untuk di bina namun atau sangat mudah untuk di jalin .

Dimana yang sudah beristri, ingin sekali berpoligami yang dilakukan dengan cara memoduskan diri kepada media ataupun yang lain nya, dengan tujuan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, yang mengatasnamakan dengan kata BERPOLIGAMI, dan merasa mampu untuk menjalinnya!

Kepada saudaraku se’iman,
Dimanapun berada..!

Perlu kita ketahui bahwa, karna memang Allah subhanahu wata’ala telah menganjurkan kita untuk bepoligami

Sebagaimana dalam firmannya :

“… Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….”
(An-Nisaa : 3)

Pada anjuran tersebut bukan berarti kita itu harus SERAMPANGAN dalam memahaminya, kemudian semau maunya untuk kita berpoligami..,

karna setelah Allah menganjurkan kita ?, Namun Allah pula Menganjurkan cukup dengan mengawini wanita itu cukup satu saja, karna di takutkan kita tidak bisa berbuat adil dalam melakukannya atau membina nya, sebagaimana yang telah di sebutkan pada ayat di atas .

Dan juga letak anjuran berpoligami bukanlah terletak, pada kita mudah untuk mendapatkannya hanya dengan UCAPAN SAJA ..

Yang dimana kita merasa dapat mampu untuk mendapatkannya, namun tidak adil dalam pembinaan .

Karna Letak dianjurkannya poligami itu adalah jika seorang laki-laki mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya, Sebagaimana hal ini telah di sebutkan pula pada ayat di atas.

Tetapi walaupun demikian, jika diri kita sudah merasa aman dari fitnah, yaitu dari isteri-isteri kita, dan tidak akan menyia-nyiakan hak Allah atas dirinya karena mereka, serta bisa menyibukkan dalam beribadah kepada Rabb karena mereka, itu boleh kita lakukan jika kita dapat berlaku demikian, dan jangan sampai setelah kita mendapatkannya, menjadi suatu petaka/kerusakan pada rumah tangga kita, dan hanya menimbulkan fitnah .

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”
(At-Taghabun : 14)

Selain dari pada itu, kita juga harus melihat adanya kemampuan untuk menjaga kesucian dari pada istri istri kita, serta dapat memberikan perlindungan kepada mereka sehingga dia tidak akan memberikan kerusakan kepada mereka, yaitu istri istri yang di poligami .

Karna Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai kerusakan.

Dan kita harus sesuaikan dengan kemampuan yaitu mampu dalam arti memberikan nafkah kepada mereka.

Sebagaimana hal ini Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya”
(An-Nuur : 33)

(Dan lihat Fiqh Ta’addud Az-Zaujaat, hal. 5, Syaikh Musthafa Al-Adawi)

Kemudian hal ini
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya tentang hukum poligami :

“apakah ini sunnah?”

Beliau menjawab :

“Tidak sunnah, tetapi boleh”.


Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa sunnah Nabi itu ada beberapa buah dan bukan hanya satu saja.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta ketika sakit yang mengantar beliau wafat :

“Di mana aku besok? Di mana aku besok?” Yang beliau maksudkan adalah hari (giliran) Aisyah. Lalu isteri-isteri beliau mengizinkan beliau untuk menetap di mana beliau kehendaki, sehingga beliau tinggal di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisinya. Aisyah berkata, “Maka beliau meninggal pada hari yang menjadi giliranku di rumahku. Lalu Allah mencabut nyawa beliau sementara kepala beliau bersandar di dadaku, sementara keringat beliau bercampur dengan keringatku”
(Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Kemudian Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

“Nabi pernah berada di rumah salah seorang isterinya, lalu salah seorang Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi) mengirimkan satu piring berisi makanan. Kemudian wanita yang rumahnya ditempati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul tangan pelayan sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan kemudian mengumpulkan kembali makanan tersebut ke dalamnya seraya berkata, ‘Ibumu telah cemburu’. Selanjutnya, pelayan itu ditahan sehingga dia diberi piring dari isteri yang rumahnya ditempati Nabi. Lalu pelayan itu menyerahkan piring yang baik kepada isteri yang dipecahkan piringnya. Sementara Nabi tetap menahan piring yang pecah itu di rumah kejadian peristiwa piring pecah”
(Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Ibnu Syaibah rahimahullah
di dalam kitab Al-Mushannaf (IV/388) berkata :

“Abad bin Al-Awam mengabarkan kepadaku dari Ghalib, dia berkata, “Aku pernah tanyakan kepada Hasan –atau ditanya- tentang seorang laki-laki yang mempunyai dua isteri di dalam satu rumah? Dia menjawab, Mereka (para Sahabat) memakruhkan al-wajs, yakni dia menggauli salah seorang dari keduanya sementara yang lainnya melihat”.
(Atsar ini shahih)

Dan juga Di dalam kitab Al-Mughni (VII/26), Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan :

“Seorang laki-laki tidak boleh menghimpun dua isterinya di dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya, baik itu masih kecil maupun sudah tua, karena antara keduanya terdapat mudharat, dimana antara kedunaya ada permusuhan dan kecemburuan. Sementara penyatuan keduanya dapat menyulut pertengkaran dan peperangan. Dan masing-masing dari keduanya akan mendengar gerakannya jika dia menggauli isterinya yang lain atau bisa juga dia akan melihat hal tersebut. Dan jika keduanya sama-sama setuju dengan hal tersebut, maka hal itu dibolehkan, karena hak itu milik keduanya, sehingga keduanya diberi toleran untuk meninggalkannya.

Demikian juga jika keduanya rela suami mereka tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Dan jika keduanya rela untuk suami mereka mencampuri salah seorang dari mereka dengan disaksikan oleh lainnya, maka yang demikian itu tidak diperbolehkan, karena hal tersebut mengandung kehinaan, kenistaan, dan jatuhnya kewibawaan sehingga hal tersebut tidak diperbolehkan meskipun keduanya membolehkan”.

Imam Al-Qurthubi (XIV/217) berkata :

“Tidak diperkenankan mengumpulkan para isteri di satu rumah, kecuali jika mereka rela”.

Di dalam kitab Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab dikatakan (XVI/415) :

“Jika seorang suami memiliki beberapa isteri yang tidak ditempatkan di dalam satu rumah, kecuali dengan kerelaan mereka atau salah seorang dari mereka, karena hal itu dapat menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mencampuri salah seorang dari mereka ketika yang lainnya tengah berada bersamanya karena yang demikiian itu adalah adab yang tidak baik lagi merusak hubungan”

Dengan demikian, semoga hal ini bermamfaat untuk kita semua .

Wallohuta’ala Bhissowaab !

DI KUTIP DARI : Buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, DENGAN sedikit perubahan .

Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah

Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah

Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Penerjemah Abdul Ghoffar EM

CERAMAH YANG SANGAT MENGINSPIRASI

image

Istri kita ngojek “antar jemput anak ke sekolah”. Di rumah nyuci dan nyetrika. Udah gitu masak juga. Jadi guru juga. Jadi dokter juga. Gitu itu kalo bayar orang udah berapa, pak?

“Tapi suami bilang syukran (terima kasih) ke istrinya aja nggak pernah.” kata Ustadz Dr. Syafiq Basalamah hafidzahullah

“Ibu2, ada ngga suaminya yang bilang terimakasih?” tanya beliau.

“Adaa..” terdengar celetukan dari balik hijab.

“Alhamdulillah ada.”

Teman-temanku di sini pasti juga banyak yg senantiasa mengucapkan terimakasih kpd istrinya, insyaa Allah.

Tentu istri kita banyak kekurangannya sebagaimana suami pun banyak kekurangannya. Coba kita lihat kelebihannya yang sangat banyak itu.

Beliau menceritakan kisah inspiratif tentang seorang wanita yg menuliskan banyak sekali kekurangan suaminya di atas kertas, ternyata kertas yg sedianya ditulis si suami ttg kekurangan istrinya malah kosong.

“Lho kok kosong, mas?” tanya si istri.

“Karena…”

Ustadz tercekat tenggorokannya saat bercerita. Matanya berkaca2.

“Karena aku menerimamu apa adanya, dek.”

Masyaa Allah

Sumber Facebook.com

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

DURHAKANYA SEORANG ISTRI DAPAT MENGAKIBATKAN SHOLATNYA TIDAK DITERIMA

Jika suamimu melarangmu untuk bekerja keluar rumah, maka Sebagai istri wajib mentaati nya .

Kemudian jika suamimu memerintahkan kamu untuk berjilbab yang syar’i, maka kamu sebagai istri pula harus wajib mentaati nya .

Karna jika seorang istri  tidak mentaati suami nya dalam perkara yang ma’ruf, adalah termasuk bentuk kedurhakaan, yang akhirnya dapat mengakibatkan ibadah shalat nya tidak di terima, sampai ia kembali untuk taat kepada suaminya .

Di sebutkan dalam sebuah riwayat bahawa Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak melewati telinga-telinga mereka, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya, istri yang melewati malam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan seseorang yang mengimami suatu kaum sementara mereka tidak suka kepadanya.”

[HR. At-Tirmidzi (no. 360), dihasankan Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, Al-Misykat (no. 1122) dan Shahihul Jami’ (no. 3057)]

Imam Suyuthi rahimahullah menjelaskan dan berkata dalam Qutun Al-Mughtadzi:

“Maksudnya, shalat mereka tidak diangkat ke langit (tidak diterima oleh Allah), sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

“Kami tidak mengangkat shalat mereka ke atas kepala mereka walau satu jengkal.”

“Ini merupakan ungkapan yang menunjukkan tidak diterimanya shalat mereka.”
[Lihatlah Penjelasan Al-Mubarakfury dalam Tuhfatul Ahwadzi (2/290 – 291)]

Oleh karna dengan itu rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas atau boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka atau borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka atau borok nya tersebut, niscaya ia belum purna (belum dianggap cukup) menunaikan hak suaminya.”

[HR. Ahmad (3/159), dishahihkan Al-Haitsami (4/9), Al-Mundziri (3/55), dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il (137). Lihat catatan kaki Musnad Imam Ahmad (10/513), cet. Darul Hadits, Al-Qahirah]

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

PESANTREN AS SUNNAH

image

BERIKUT SEDIKIT INFO TENTANG PONDOK PESANTREN SALAFIYAH LOMBOK

Bismillah…

Pondok Pesantren Assunnah merupakan salah satu Pontren Islam Salafiyah yang ada di Lombok.

Beralamatkan di jln. Jurusan Lb Lombok-Mataram Km.55

Kampung Muhajirin .

Desa Bagek Nyaka Santri .

Kecamatan Aikmel .

Kabupaten Lombok Timur .

Propinsi Nusa Tenggara Barat .

kodepos 83653 Telp/Fax: 0376-2924114

email: pontrenassunnah@gmail.com

Pontren ini berdiri tahun 2004. Dan, alhamdulillah, sejak tahun 2011 Pontren ini sudah mendapat Izin Operasional dari Departemen Agama setempat.

Pesantren yang dibina oleh : 

Ust. Sufyan Bafien Zein dan

Ust. Mizan Qudsiyah, Lc

ini memiliki santri pada tahun ajaran 2011-2012 sebanyak 621 santri.

Terbagi di beberapa Jenjang Pendidikan yaitu :

TK- Islam Assunnah,

SD- Islam Assunnah,

SMP- Islam Assunnah,

SMA- Islam Assunnah dan

Ma’had Ali.

Pontren ini memiliki 36 guru agama yang merupakan alumni Timur Tengah (Univ. Islam Madinah, Ma’hadul Harom Makkah, Univ. Ibnu Utsaimin Unaizah KSA) dan alumni dalam negeri (LIPIA, STIT Ali bin Abi Tholib Sby, Ma’hadul Furqon Gresik dan Ma’had-ma’had lainnya di Indonesia) dan 30 guru umum alumni Universitas-universitas dalam negeri.

Sejak berdirinya Pontren Assunnah mendapat kunjungan kehormatan dari beberapa Ulama’ Timur Tengah sekaligus menyampaikan ceramahnya diantaranya:

Syekh DR. Sholah Al-budaer (Iman dan Khotib Masjid Nabawi ),

Syekh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al-badr Al-abbad ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh DR. Ibrohim Arruhaily ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh Ali Hasan Alhalabi, Syekh Saliim Ied Alhilali,

Syekh Masyhur Hasan Alu Salman,

Syekh Muhammad Musa Alu Nashr
(keempat murid syekh Alalbani-rahimahulloh- dari Yordania).

Demikian pula beberapa tamu dari Maroko, Inggris, Spayol dan kunjungan dan tamu-tamu lainnya.

Kurikulum yang digunakan yaitu paduan antara Kurikulum Dinas Pendidikan Nasional dengan Kurikulum Pondok.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH
Tentang info PESANTREN ASSUNNAH
Salafiyah Lombok ….

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

BUKU BAHAGIA BERSAMA SATU ISTRI TERCINTA

image

“Keluarga kita adalah buah dari pemikiran kita. Keluarga itu tidak akan berubah tanpa adanya pola pikir (mindset) yang baik dan cerdas dari kita. Bukan pasangan kaya raya yang mampu bertahan, melainkan pasangan yang paling adaptif merespons gejala perubahan di dalam keluarganya dengan mindset dan knowledge (ilmu pengetahuan) yang baik.”

Setiap suami dan istri niscaya mengharapkan pernikahan mereka bahagia (sakinah, mawaddah, wa rahmah), karena keluarga bahagia merupakan kenikmatan hidup yang membawa keseimbangan, ketenangan, dan kedamaian bagi setiap orang. Demi terciptanya semua itu, dituntut adanya pengorbanan, toleransi, negosiasi, saling menginspirasi, dan saling memahami di antara keduanya agar keindahan cinta mereka tetap bersemi dalam kesuciannya.

Di sisi lain, tidak sedikit bahtera pernikahan yang oleng kian kemari, bahkan kandas di tengah perjalanannya, akibat minimnya pengetahuan, skil, dan kepekaan dalam menafsirkan berbagai keinginan pasangannya. Sebaliknya, begitu banyak pula keluarga yang menyenangkan dan menyejukkan bagi jiwa-jiwa yang hidup di dalamnya, karena mereka mau “berbenah” bersama untuk menciptakan hubungan yang lebih berkualitas.

Kebahagiaan dalam mahligai rumah tangga adalah tanggung jawab bersama (suami isteri), setiap pasangan sebijaknya mampu menjadikan pasangannya “sempurna” dengan ketidaksempurnaannya. Buku ini merupakan pelita bagi suami istri yang mau bijaksana dan penuh cinta kasih menyikapi masalah maupun gejolak hidup bersama pasangannya. Dengan itu, mereka tidak hanya mendapatkan mawaddah dan sakinah, tapi juga memiliki rahmah sehingga hubungan bahagia mereka tetap “abadi” selamanya.[]

TESTIMONI PEMBACA

Setelah membaca ini hati ini kok jadi bergetar, merinding bulu kudu ini..air mata ini jadi menetes deras…pas banget dengan yang aku alami. Yaa Allah Yaa Roob…” Mochammad Moniroh asal Malang

“Meski baru baca beberapa halaman..Aku jadi lebih bertekad untuk bisa menjadi lebih baik buat keluarga biar bisa jadi istri tercinta buat suami. Jujur, masih banyak hal-hal yang harus diperbaiki meski hal-hal kecil diremeh karena sebenarnya ternyata itulah resep manis rumah tangga.

Cerita real hidup sehari-hari, hal-hal kecil yang kadang terlewati yang sesungguhnya bisa membuat kita makiiin cinte ama pasangan..hahay.” Bunda Nining Oktavia (Ibu Rumah Tangga di Bekasi)

“Owen, setelah aku baca bukumu, aku selalu menangis sedih dan tissu selalu habis. Sedihnya kenapa aku belum punya istri ???” Yusuf Efendi (Seniman Kaligrafi Profesional dan Enterprenuer Muda)

“Saya rasa buku yang berisi tulisan Owen Putra ini…ibarat pipis…gak akan bisa berhenti sebelum beres membacanya….” Agung Prakasa (Fotografer Profesional di Bandung, Jawa Barat)

“Tahu gak sih saat aku baca buku Owen, yang kebayang muka Owen. Kayaknya ane lagi denger Owen cerita dengan gaya khasnya.” Bunda Isti’atul Ma’rufah (Enterperenuer dan Kandidat Master di Jakarta)

Buku “BAHAGIA BERSAMA SATU ISTRI TERCINTA” sudah dibaca oleh berbagai kalangan dan profesi, baik di dalam maupun di luar negeri. Antara lain seperti: Dosen, motivator, pejabat negara, pengusaha (travel umrah, besi, pakaian, tekstil, dll), pedagang kaki lima, seniman, mantan diplomat, pekerja perminyakan, fotografer, mahasiswa, traveler, guru, pegawai kantoran, teller bank, pakar teknologi (IT), desainer, hakim, bidan, pengamat politik, TNI, penulis, editor, wartawan, dokter, dll.

Sejauh ini buku “BUKU BAHAGIA BERSAMA SATU ISTRI TERCINTA” sudah dipesan dari berbagai negara, dan provinsi di Indonesia. Antara lain seperti: Australia, Qatar, London, Hongkong, Yaman (San`a), Turki, Libya, dan Mesir. Sementara provinsi antara lain: Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara (Medan), Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, dll), Kepualauan Riau, Riau (Pekan Baru, dll), Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Palembang, Lampung, Jawa Barat, Banten, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, Bali (Buleleng, dll), Sulawesi Selatan, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Ternate, dll.

Teman-teman yang masih penasaran dengan buku “BAHAGIA BERSAMA SATU ISTRI TERCINTA” dan bingung cara membeli/ mendapatkannya silahkan hubungi nomor kontak berikut:

021-95217462 (Office)
085219160887 (call/SMS)
089679190284 (WA)
20EC2378 (Pin BB)

Harga: Rp. 58.000,-

**GRATIS ONGKOS KIRIM KE SELURUH DAERAH JABODETABEK
**Di Luar Jabodetabek Diskon Spesial

Sumber Facebook.com

Barokallohufiikum !

BETAPA MALANGNYA NASIB SEORANG WANITA LEMAH BILA MENDAPATKAN SUAMI YANG BERPERANGAI KASAR

Suami Berperangai kasar lagi “ringan tangan” seperti itu adalah bukanlah yang terbaik..

Padahal Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertitah:

“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.

” Datanglah ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu untuk mengadu:

“Wahai Rasulullah, sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.

” Mendengar pengaduan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin kepada para suami untuk memukul istrinya.

Namun ternyata setelahnya banyak wanita datang menemui istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam guna mengadukan suami-suami mereka..

Maka kata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sungguh banyak wanita berkeliling di keluarga Muhammad guna mengadukan suami-suami mereka. Bukanlah para suami yang memukul istri (dengan keras) itu orang yang terbaik di antara kalian.” [(HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud)].

Kata Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Justru ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ingin memberi (pukulan) pendidikan kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras hingga membuatnya mengadu/mengeluh.
[(‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Dharbin Nisa`)]

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu menjelaskan bahwa :

“sekalipun memukul istri dibolehkan karena akhlak mereka yang jelek misalnya, namun menahan diri dan bersabar atas kejelekan mereka serta tidak memukul mereka justru lebih utama dan lebih bagus. Ucapan yang semakna dengan ini juga dihikayatkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu”.
[(Syarhus Sunnah, 9/187)]

Semoga BermamfaAt .
Wa Barokallohufiikum !