Arsip Kategori: HIZBIY ALIRAN

MENDAHULUKAN KHILAFAH DARI PADA TAUHID??

Orang-Orang Yang Tertipu Oleh Hizbut Tahrir,.. Dan Khilafah Khayalan Mereka,..

Abu Salma al-Atsary

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb pemelihara alam semesta, satu-satunya Ilah yang Haq untuk disembah, yang tiada sekutu bagi-Nya baik dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum dan ibadah kepada-Nya, yang mengutus para nabi untuk menegakkan haq-Nya, yang menurunkan al-Kitab sebagai bayyinah atas keesaan-Nya, yang menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadikan segala maksud dan tujuan hanyalah untuk-Nya.
Amma Ba’du:

Sesungguhnya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, sejak manusia pertama diciptakan hingga manusia terakhir akan binasa, Tauhid merupakan pondasi dasar ubudiyah seorang hamba, haq Rabb yang harus dipenuhi hamba-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, tiadalah diutus para anbiya’ dimuka buni ini kecuali mengembalikan fitrah manusia pada kesuciannya, dalam mengabdi dan beribadah kepada penciptanya semata.

Namun, sungguh sayang, ketika kelompok-kelompok islam yang parsial/juz’iyyat dalam gerakannya bermunculan, mereka membangun bangunan yang dimulai dari atapnya, sedangkan pondasinya keropos dan kosong dari pilar-pilar aqidah, maka bagaimana mungkin bangunan tersebut akan berdiri, sedangkan pondasinya tidak ada, dan mereka mencurahkan segala daya dan upaya mencari cara untuk membangun atap bangunan yang tak berpondasi dan berpilar tersebut.

Mereka berfikir, jika mereka membangun pondasi terlebih dahulu, akan memerlukan waktu yang lama, biaya dan tenaga yang besar, sedangkan hujan, badai dan terik telah menyiksa, maka atap untuk berlindung lebih diperlukan, karena mereka tak kuat lagi tertimpa hujan dan panas terik…

Namun sungguh malang, karena upaya mereka itu adalah mustahil dan bodoh, karena biar bagaimanapun, pondasi adalah penting dalam membangun infra-struktur suatu bangunan, tanpa pondasi, maka kita seolah-olah hanya mengharap sesuatu yang tak mungkin tegak, bak hendak meraih bulan dan bintang di tengah malam, padahal tangan tak sampai.

Pun seandainya berdiri atap tersebut, dan mereka beranggapan telah aman dari hujan dan terik yang mendera, namun bangunan itu sangat lemah, hanya dengan tiupan angin sedikit saja, maka akan hancur berkeping-keping bangunan dan usaha mereka yang sia-sia tersebut.

Inilah perumpaan mereka, penyeru-penyeru islam yang senantiasa menggembar-gemborkan khilafah islamiyyah, namun mereka jahil dan acuh terhadap aqidah dan manhaj yang benar di dalam islam.

Inilah fenomena nyata saat ini, dimana banyak sekali kelompok yang mengklaim sebagai kelompok penegak syariat islamiyyah dan pelanggeng hukum-hukum islam, berkoar-koar ke sana kemari, meneriakkan dan memekikkan tathbiqus syarii’ah (penegakkan syariat), namun sekali lagi sungguh sayang, pekikan mereka tampak begitu parsial, seolah-olah syariat islam yang dimaksud hanyalah seputar hukum-hukum siyasiyyah saja, hanya penyelenggaraan hukum had, qishash, dan lain sebagainya.

Mereka melalaikan suatu hal yang lebih penting dari itu semua, yang merupakan dasar dan pijakan dari hukum-hukum lainnya, dan merupakan syariat terbesar di dalam islam, yang seharusnya kita tegakkan dan kita prioitaskan, sebagai pengejawantahan penegakkan syariat secara integral dan kaafah, yakni penegakkan haqqullah (hak Allah) yang wajib dipenuhi hamba-Nya, yaitu mentauhidkan-Nya di dalam uluhiyah/ubudiyyah.

Karena inilah metode rasululullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam dalam da’wahnya, manhajnya seluruh rasul dan nabi, karena Allah Ta’ala’ala telah menandaskannya secara gamblang di dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 36, “Dan sungguh telah kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul, (yang menyeru) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”

Mereka menyatakan bahwa menegakkan daulah merupakan ghoyah (tujuan) da’wah, dan daulah khilafah Islamiyyah adalah suatu hal yang niscaya dan wajib, mereka berdalil dengan qoidah ushul fiqh, Maa Laa Yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajibun, Suatu hal yang jika tanpanya tidak akan sempurna suatu kewajiban, maka hukumnya adalah wajib, karena tidaklah akan tegak syariat Islam kecuali jika ada perangkatnya, sedangkan daulah khilafah adalah perangkat syar’i untuk meng-implementasikannya. Maka daulah khilafah hukumnya wajib, dan tidak menegakannya termasuk dosa.

Mereka juga berdalil dengan hadits baiat, bersabda nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam, “Man maata walaysa fi unuqihi baa’iatan, fa maata miytaatan jaahilayatan” (barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada baiat di pundaknya, maka matinya bagaikan bangkai jahiliah).

Anggapan mereka, bahwa baiat wajib atas kholifah/imamul a’dham, namun sekarang saat tak ada imamul a’dham, maka dengan kembali ke qoidah awal tadi, makai baiat adalah wajib, karena jika tak ada baiat maka mati kita adalah mati jahiliah, sehingga wajib atas kita untuk membaiat seorang imamul a’dham, padahal ba’iat takkan bisa ditegakkan jika tak ada daulah, maka menegakkan daulah hukumnya wajib, sehingga menurut anggapan mereka, orang-orang yang menegakkan daulah tidak terkena ancaman hadits tersebut, namun orang islam yang tak ada keinginan untuk menegakkan daulah terkena ancaman matinya dalam keadaan jahiliah.

Maka, kami katakan pada mereka, wahai para pengklaim penegak hukum islam dan perindu daulah khilafah islamiyyah, dengan cara apakah kalian memenuhi harapan antum tersebut?

Dengan metode bagaimanakah antum menegakkannya?

Na’am!!! Tidak dipungkiri bahwa syariat islam takkan bisa tegak secara sempurna jika tidak didukung oleh hukama’ atau daulah islamiyyah.

Sungguh merupakan suatu dambaan bagi kami dan kalian akan tegaknya daulah khilafah Islamiyyah ‘ala manhaj nubuwwah, namun ingatlah, bahwa islam ini adalah agama yang sempurna, yang tak butuh pengurangan terlebih lagi penambahan, telah terang metode da’wah al-haq di al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwa tidaklah para nabi dan rasul (QS 16:36, 21:25), baik itu nabi Nuh kepada kaumnya (QS 7:59), Hud kepada kaum ‘Aad (QS. 7:65), Sholih kepada kaum Tsamud (QS. 7:73), Nabi Syuaib kepada Madyan (QS. 7:85), dan seluruh nabi hingga nabi terakhir kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam (39:65-66,dan masih banyak ayat pada tempat lain) melainkan adalah mereka semua diutus untuk menegakkan peribadatan hanyalah untuk Allah semata, baik dalam ibadah dan ahkam.

Lantas, mengapa gaung dan gema pekikan tathbiq syariiatil islaamiyyah yang kalian tabuh itu kosong dari syariat islamiyyah yang paling tinggi ini, yakni da’wah kepada tauhidul uluhiyyah/ibaadah?

Kenapa kalian konsentrasikan, fokuskan dan curahkan segala daya dan upaya kalian pada bagian yang parsial/juz’iyyah saja, yakni penegakkan daulah khilafah semata, penegakan syariat had, qishahsh dan yang semisalnya, sedangkan tidak pernah kami lihat kalian mengajak manusia kepada Aqidah yang benar secara tafshil (teperinci), kepada sunnah nabi yang mulia yang shohihah, kepada dien yang murni sebagaimana awalnya.

Maka kami katakan lagi kepada mereka mengenai dalil-dalil parsial mereka tentang ghoyah da’wah mereka yang mereka orientasikan kepada daulah, maka kami jawab :

  1. Likulli maqaal maqaam wa likulli maqaam maqaal (tiap-tiap ucapan ada tempatnya dan tiap tempat juga ada ucapannya), kaidah yang kalian gembar-gemborkan, Laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, tentulah ada konteksnya, dan memang kami membenarkan bahwa daulah adalah suatu hal yang niscaya sebagai perangkat penegakkan syariat islamiyyah, dan ini adalah ideal keinginan tiap muslim, jika ada muslim yang tak menghendaki akan adanya daulah islamiyyah maka patutlah dipertanyakan keimanannya.

Namun satu hal yang harus diingat, metode apakah yang kita tempuh dalam menuju daulah Islamiyyah, inilah yang membedakan antara kami dengan kalian. Kalian lebih fokus kepada upaya parsial dengan pengopinian kepada masyarakat pentingnya daulah islamiyyah dan penegakkan syariat (walau banyak dari kalian jahil terhadap syariat itu sendiri) sedangkan kita mengajak ummat secara integral dari metode yang digariskan Allah dan Rasul-Nya, yang kita berpijak dan berangkat darinya.

Maka wahai kalian yang berjuang dengan orientasi daulah, kita katakan, maa laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, dengan kaidah ini kita sepakat bahwa menegakkan daulah adalah suatu hal yang niscaya, maka mari kita juga bersepakat, dengan kaidah itu pula, tidak akan bisa tegak daulah jika kita tidak meniti dengan metodenya para anbiya’ dan rusul yang telah ma’tsur di dalam kitabain, yakni memulai dakwah ini dari tauhid dan akidah shahihah.

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hujurat : 1), dari ayat ini maka wajib bagi tiap mu’min untuk mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dari lainnya, dan wajib berhujjah dengan keduanya, maka apakah layak bagi kita mendahulukan kaidah ushul fiqh di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal ushul fiqh merupakan istinbath para ulama’ yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah,.
  2. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah)” (An-Nisaa’ : 59), dari ayat ini wajib atas mu’min jika berselisih untuk mengembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Sekarang kita berselisih terhadap orientasi da’wah, antum mengatakan daulah prioritas pertama saat ini sedangkan kami menyatakan tauhid dan akidah islamiyyah yang terpenting, maka merupakan kewajiban atas kita untuk mengembalikan perselisihan kita ini kepada kitabain, maka wahai kalian yang berorientasi kepada daulah dan tathbiqusy syarii’at, tunjukkan dalil-dalil kalian dari al-Qur’an dan as-Sunnah, di ayat mana para anbiya’ dan rusul memulai da’wahnya dan memprioritaskan da’wahnya kepada kekuasaan, di hadits mana??

Apakah qath’i ad-Dilalah (pasti penunjukannya)??,

Maka ketahuilah!!!

Kami dapat menunjukkan berpuluh-puluh ayat dari al-Qur’an dan beratus-ratus hadits tentang manhaj kami yang qath’i ad-Dilalah, bahwa metode haq dari kitabain adalah tauhid, prioritas pertama dan utama!!!

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (ar-Ra’du : 11), kita beristifaadah dengan ayat ini bahwa keadaan ummat ini takkan berubah hingga ummat ini yang merubah keadaan mereka, tentunya dengan cara/ikhtiyar yang masyru’ (disyariatkan), maka kita sama-sama sepakat dan sering menggunakan ayat ini, namun kita berbeda dalam pemahamannya.

Kalian sering menggunakan ayat ini sebagai hujjah wajibnya menerapkan syariat islamiyyah dan dorongan untuk menegakkannya sebagai solusi dari semua krisis ummat saat ini, namun kalian lupa, bahwa ikhtiyar manusia itu juga tak lepas dari Iradah syar’iyyah Allah, yakni Allah takkan menolong hamba-Nya yang tak menolong agama-Nya, Intanshurullahu yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, mafhum muwaafaqah (pemahaman tekstual) dari ayat ini adalah, jika kita menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong kita.

Kemudian mafhum mukhalafah (pemahaman berkebalikan) dari ayat ini adalah, jika kita tidak menolong agama Allah dengan cara yang digariskan Allah dan rasul-Nya, maka bagaimana mungkin Allah akan menolong kita dan memperteguh kedudukan kita, walaupun kita sudah berusaha untuk merubah keadaan kita, namun jika Allah tak menghendaki, yang disebabkan oleh faktor penghalang turunnya nashrullah, maka keadaan kita akan tetap demikian.

Dan ingatlah bahwa cara perubahan yang paling masyru’ adalah inqilabiyyah yakni dengan tashfiyah (pensucian/pemurnian) dari syirik, bid’ah, maksiat, dan tarbiyah (pembinaan) dengan akidah yang benar, sunnah yang shahihah, dan amal yang shalih. Inilah metode yang haq itu, inilah perubahan yang akan membawa kepada kemenangan, yakni at-Tashfiyah wat-Tarbiyah!!!

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah bejanji dengan orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal sholeh, bahwa ia sungguh-sungguh akan menjadikanmu berkuasa di bumi (dengan kekhilafahan), sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelummu berkuasa, dan sungguh ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar merubah keadaan mereka setelah mereka dala keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dan tiada mempersekutukan-Ku dengan suatu apapun.” (an-Nur : 55),

Ayat ini bagi orang-orang yang berakal pasti akan menunjukkan banyak faidah, dari tekstual ayat telah nyata bahwa merupakan janji Allah untuk memberikan kekuasaan bagi ummatnya yang beriman dan beramal shalih, iman kepada Allah secara ijmal (global) dan tafshil (terperinci), yang mana keimanan ini hanya dimiliki oleh ahlus sunnah wal jama’ah, dan beramal sholih, yang ikhlash lillahi Ta’ala dan ittiba’ rosul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam.

Inilah syarat kemenangan itu, bahkan pada akhir ayat Allah menjelaskan syarat yang lain, yakni mentauhidkan-Nya semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Lantas, bagaimana mungkin Allah Ta’ala akan mmberikan kekuasaan jika ummat ini masih jahil terhadap aqidah yang benar, mereka tak bisa membedakan mana syirik mana tauhid, mana sunnah mana bid’ah.

Mereka masih menyembah kuburan-kuburan, bertawassul dengan wali-wali dan orang shalih yang telah meninggal, menyeru mayat-mayat, membangun kubah di kuburan, ghuluw terhadap nenek moyang mereka, lantas bagaimana mungkin Allah akan memenuhi janji-Nya.

Maka berfikirlah!!!

Inilah yang ditinggalkan oleh hampir kebanyakan kelompok islam, yakni metode dakwah integral/kulliyat yang ittiba’ terhadap metode da’wah anbiya’ dan rusul, yang ma’tsur di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang tidaklah jika ummat ini berpijak dan berangkat dainya kecuali hanyalah kemenangan yang akan didapatnya. Maka berfikirlah sekali lagi wahai kalian yang berjuang menatap ke langit namun kepalamu tak mampu mendongak ke atas apalagi meraihnya.

  1. Al-Ghoyah laa tubirrul washilah, Tujuan tak membenarkan segala cara, karena, al-ashlu fil ‘ibaadah al-ittiba’, asal dari ibadah adalah ittiba’ rasul, dan islam itu tauqifiyyah, laa yutsbitu illa bid’dalil, tidak ditetapkan kecuali dengan dalil, dan da’wah termasuk bagian dari islam, dan ia adalah da’wah, sedangkan da’wah itu adalah tauqifiyyah.

Maka wajib untuk ittiba’ terhadap metode rasul, maka kami tanyakan kepada mereka, ittiba’ terhadap siapakah kalian dalam metode dakwah kalian?

Tidakkah kalian telah melakukan bid’ah fi manhajid da’wah, bid’ah dalam metode da’wah?

Maka dimanakah hujjahmu wahai orang yang berakal???

Sungguh, kami dapat menunjukkan kepada mereka berpuluh hujjah akan lemahnya pemahaman mereka terhadap manhaj dakwah bid’iyyah mereka, banyak kitab yang telah ditulis para ulama’ mengenainya, namun kami cukupkan hanya sampai di sini.

Semoga dapat mengambil pelajaran orang-orang yang berakal, dan semoga impian mereka yang hanya isapan jempol semata itu dapat sirna dan mereka akhirnya tersadarkan bahwa kita takkan dapat meraih kekuasaan dengan pemahaman parsial, dan bersumber dari pemahaman mu’tazilah, khawarij dan kelompok sempalan islam.

sumber : https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2009/10/27/mengapa-mereka-lebih-mendahulukan-khilafah-daripada-tauhid/

MEMBERI KELAPANGAN UNTUK KELUARGA DI HARI ASYURA

image

Pertanyaan:
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)

Jawaban:

Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:

pertama, kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.
Kedua, rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci ahli bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip mengambil sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.

Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

سيكون في ثقيف كذاب ومبير

“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.” (HR. Muslim)

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain radliallahu ‘anhu, sementara bid’ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, 4/555)

Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,

من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”

Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ibnu Abdil Bar dalam Al-Istidzkar.

Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai hasan li ghairih (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,
“Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.” (Al-Maqasidul Hasanah, 225)

Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,
“Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.” (Tamam Al-Minnah, 410)

Dalam Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:

Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lathaiful Ma’arif, 54)
Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam Majmu’Fatawa beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (Majmu’ Al-Fatawa, 25/313)
Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam Lathaif, “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (Lathaiful Ma’arif, 54)
Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah, no. 6824.
Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhuma.
Allahu a’lam.

Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

MENGENAL SEKTE MURJI’AH

image

Ada Yang Bertanya, Apa Sih Murji’ah Itu? Silahkan Baca Penjelasannya
      

Bismillah, walhamdu lillah, washolaatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan di antara hal yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tentang berpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan; seluruhnya terancam masuk neraka kecuali satu, yaitu yang meniti jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Apa yang disampaikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah omong kosong. Melainkan hal itu telah menjadi kenyataan sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan ia tidak berbicara dengan hawa nafsu. Namun itu adalah wahyu yang diturunkan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Oleh sebab itu, sebagai seorang mukmin hendaknya kita juga mengetahui dan mengenali golongan-golongan yang menyimpang tersebut disamping mempelajari dan mengikuti golongan yang selamat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Hudzaifah bin Yamanradhiyallahu ‘anhu,

“Orang-orang selalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Sedangkan aku selalu bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir (kejelekan tersebut) akan menimpa diriku.”1

Dan insya Allah kali ini kita akan coba sedikit mengenal salah satu dari kelompok-kelompok dalam Islam yang telah muncul saat ini, yaitu Murji’ah.

Pengertian Murji’ah
Murji’ah merupakan isim fa’il dari kata al-irja’ yang memiliki dua makna:

Berarti : pengakhiran.
Berarti : memberikan harapan.
Secara istilah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad, Murji’ah ialah: orang-orang yang menganggap:

keimanan itu hanya sebatas pengucapan dengan lisan saja2, dan seluruh manusia tidak saling mengungguli dalam keimanan. Sehingga, keimanan mereka dengan keimanan para malaikat dan para nabi itu satu (sama dan setara).
Keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.
Tidak ada istitsna’ (ucapan insya Allah) dalam hal keimanan3.
Dan siapa saja yang beriman dengan lisannya namun belum beramal, maka ia seorang mukmin yang hakiki.4
Sedangkan Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi mengatakan, “Murji’ah ialah mereka yang mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan.”5

Sebab Mereka Dinamakan Murji’ah
Mereka disebut Murji’ah dikarenakan mereka mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan. Mereka mengatakan bahwa kemaksiatan tidak memiliki pengaruh buruk pada keimanan )seseorang) sebagaimana ketaatannya tidak bermanfaat dalam kekufuran. Kemudian, dengan dasar ini mereka senantiasa memberikan harapan kepada pelaku maksiat berupa pahala dan ampunan Allah.6

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka disebut Murji’ah karena senantiasa memberikan harapan atas pahala dan ampunan kepada para pelaku maksiat.

Perbedaan dasar antara murji’ah dan ahlus sunnah
Perbedaan yang paling mendasar antara Ahlus sunnah dan kelompok Murji’ah adalah pada masalah defenisi keimanan. Murji’ah mengatakan keimanan itu hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disertai pembenaran dalam hati. Dan mereka tidak memasukkan amal perbuatan sebagai bagian dari keimanan.

Sedangkan Ahlus Sunnah mengatakan bahwa keimanan itu adalah:

Pengucapan dengan lisan. Yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Meyakini dengan hati.
Pengamalan dengan anggota badan.
Dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, serta berkurang dengan bermaksiat.
Kelompok-kelompok murji’ah
Para ulama yang menulis kitab-kitab firaq (sekte-sekte dalam Islam) berbeda-beda dalam mengklasifikasikan jenis-jenis Murji’ah. Berikut adalah pengklasifikasian Syaikhul islam ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap kelompok ini.

Kelompok yang mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas apa yang ada dalam hati, berupa pengetahuan dan keyakinan. Diantara mereka ada yang memasukkan amalan hati ke dalam cakupan iman, dan ada juga yang tidak seperti Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya.
Kelompok yang mengatakan bahwa iman itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Dan ini merupakan perkataan Karromiyyah.
Kelompok yang mengatakan keimanan itu hanya pembenaran dengan hati dan ucapan (2 kalimat syahadat).7 Dan ini merupakan perkataan Murjiah fuqaha.8
Jenis yang ketiga ini merupakan yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, dan kelompok Murji’ah sering ditujukan untuk jenis yang ini.

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rojihi juga mengklasifikasikan murji’ah menjadi 4 kelompok:

Jahmiyyah. Mereka mengatakan keimanan itu adalah pengenalan terhadap Rabb dengan hati. Sedangkan kekufuran itu kejahilan terhadap Rabb dalam hati. Mereka adalah orang-orang ekstrim; dan ini merupakan defenisi yang paling rusak tentang iman.
Karromiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Jika seseorang telah mengucapkan syahadat dengan lisannya, maka dia adalah seorang mukmin walaupun dalam hatinya berbohong.
Asy’ariyah dan Maturidiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya pembenaran hati.
Murji’ah fuqoha. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu perbuatan dan pembenaran hati serta pengucapan dengan lisan. Dan ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah dan para murid beliau.9
Dan penamaan murji’ah fuqaha dikarenakan mereka adalah dari kalangan para ahli fiqih dan ahli ibadah yang diakui oleh ahlus sunnah.

Diantara buah pemikiran kelompok murji’ah
Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa perbedaan dasar antara Murji’ah dan Ahlus Sunnah ialah dalam permasalahan iman. Dari sinilah muncul banyak pandangan mereka yang menyelisihi Ahlus Sunnnah. Diantaranya adalah:

Keimanan itu tidak bertambah dan tidak juga berkurang.10
Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan telah meyakininya dengan hati disanggap sebagai seorang Mukmin yang sempurna imannya serta termasuk penghuni surga; walaupun ia meninggalkan salat, puasa, dan melakukan dosa-dosa besar lainnya.
Keimanan seorang mukmin sama seperti keimanan para malaikat dan juga para nabi. Karena keimanan itu tidak saling melebihi satu dengan yang lain.
Seseorang tidak boleh ber–istitsna dalam keimanan, yaitu mengatakan “saya mukmin insya Allah”. Karena hal itu menunjukkan menandakan keraguan dalam keimanan. Yaitu ashlul iman (pokok keimanan). Dan siapa yang ragu dalam keimanan, maka tidak bisa dikatakan sebagai seorang mukmin.11 . Kecuali berkata demikian dalam rangka khawatir terjerumus dalam men-tazkiyah diri sendiri, yaitu khawatir dianggap merasa imannya sudah sempurna, maka boleh berkata demikian. Namun bukan dalam rangka meragukan ashlul iman (pokok keimanan)12 .
Wallahu a’lam.


Referensi:
Al-Jami’ Ash-Shahih, Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari.
Mauqif ahlis Sunnah wal jama’ah min ahlil ahwaa’ wal bida’, DR. Ibrahim ibn ‘Aamir Ar-Ruhaili.
Majmu’ fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Al-mukhtar fi ushulis sunnah, Abdul Aziz Ar-Rojihi.
Ushuluddin ‘indal imam Abi Hanifah, Muhammad ibn Abdirrahman Al-Khumais.
Catatan Kaki
1 HR. Bukhari no. 3606.

2 Maksudnya: keimanan itu hanya sebatas ucapan dua kalimat syahadat saja. Sehingga, seseorang sudah dianggap mukmin hanya dengan mengucapkan dua kalimat tersebut.

3 Maksudnya, seseorang mengatakan, “Saya mukmin insya Allah”.

4 Mauqif ahlis Sunnah wal jama’ah min ahlil ahwaa’ wal bida’ 1/152.

5 Al-mukhtar fi ushulis sunnah 1/265, syamilah.

6 Mauqif ahlis Sunnah wal jama’ah min ahlil ahwaa’ wal bida’ 1/152.

7 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/354, Syamilah.

8 Majmu’ fatawa 111/223, syamilah.

9 Al-mukhtar fi ushulis sunnah 1/265, syamilah.

10 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/389, Syamilah.

11 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/415, Syamilah.

12 Simak penjelasan Syaikh Muhammad Ali Farkus di http://www.ferkous.com/site/rep/Ba12.php

Penulis: Muhammad Nurul Fahmi

Artikel Muslim.Or.Id

sumber : http://muslim.or.id/aqidah/mengenal-sekte-murjiah.html

KEBENCIAN HIZBUT TAHRIR KEPADA SAUDI, SEHINGGA KEDUSTAAN YANG DILONTARKANNYA, KHILAFAHNYA BELUM BERDIRI SAJA SUDAH SEPERTI INI ?

image

Ketauhilah saudariku, mengapa hisbut tahrir begitu membenci arab saudi ?

Segala cara digunakan kelompok sesat Hizbut Tahrir (HT), walau hanya bermodalkan prasangka-prasangka tak berdasar untuk menjelek-jelekan negeri Arab Saudi, negeri yang terdapat padanya kiblat kaum muslimin dan masjid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, negeri yang memuliakan para ulama dan penuntut ilmu, negeri yang paling banyak diterapkan hukum-hukum Islam, negeri yang paling banyak membantu kaum muslimin di seluruh dunia, di saat Hizbut Tahrir sendiri tak punya negara yang menaungi dan menolong kaum muslimin, bahkan banyak tokoh-tokoh besarnya yang tinggal di negeri-negeri kafir. Ada apa dengan Hizbut Tahrir…?!

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أقول- وأشهد الله تعالى على ما أقول وأشهدكم أيضاً – إنني لا أعلم أن في الأرض اليوم من يطبق من شريعة الله ما يطبقه هذا الوطن أعني المملكة العربية السعودية، وهذا بلا شك من نعمة الله علينا فلنكن محافظين على ما نحن عليه اليوم، بل ولنكنمستزيدين من شريعة الله- عز وجل- أكثر مما نحن عليه اليوم، لأنني لا أدّعي الكمال، وأننا في القمة بالنسبة لتطبيق شريعة الله لا شك أننا نخل بكثير منها، ولكننا خير والحمد لله مما نعلمه من البلاد الأخرى، ونحن إذا حافظنا على ما نحن عليه اليوم، ثم حاولنا الاستزادة من التمسك بدين الله- عز وجل- عقيدة ومنهاجًا فإن النصر يكون حليفنا ولو اجتمع علينا مَنْ بأقطارها، لأن الله- عز وجل- يقول وهو الذي بيده ملكوت السماوات والأرض: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ)

“Aku katakan –dan aku persaksikan kepada Allah dan kepada kalian terhadap ucapanku ini- bahwa sungguh aku tidak mengetahui di dunia ini pada masa ini yang menerapkan syari’at Allah seperti yang diterapkan negeri ini, maksudku Kerajaan Arab Saudi, dan tidak diragukan lagi ini termasuk nikmat Allah kepada kita, maka hendaklah kita menjaga nikmat yang kita rasakan hari ini, bahkan hendaklah kita menambah penerapan syari’at Allah ‘azza wa jalla lebih banyak lagi dari apa yang sudah kita terapkan hari ini, karena kita tidak boleh mengklaim sempurna (dalam penerapan syari’at), dan memang pada kenyataannya dalam penerapan syari’at kita masih banyak kekurangan, akan tetapi segala puji hanya bagi Allah sepanjang yang kami ketahui bahwa syari’at yang kita terapkan lebih baik dari negeri-negeri yang lain.

Dan apabila kita menjaga apa yang sudah kita capai hari ini, kemudian kita terus berusaha menambah kuat berpegang teguh dengan agama Allah ‘azza wa jalla, baik aqidah maupun manhaj, maka pertolongan Allah akan selalu bersama kita meski seluruh dunia bersatu untuk memusuhi kita, karena Allah ‘azza wa jalla yang di tangan-Nya kerajaan langit dan bumi telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.” (Muhammad: 7-8).” [Majmu’ Fatawa war Rosaail, 25/505-506]

Kebaikan Pemerintah Arab Saudi untuk Kaum Muslimin Dunia

Kita tidak menutup mata, layaknya manusia biasa, pemerintah dan ulama Saudi tentunya memiliki kesalahan dan kekhilafan. Akan tetapi, orang yang berbudi tentu tidak mudah melupakan kebaikan saudaranya, sedangkan orang yang tidak berbudi, alias tidak tahu balas budi, sulit bagi mereka mengingat kebaikan orang lain, prasangka buruk mereka telah menutupi semua kebaikan yang ada pada saudaranya, seperti kata penyair:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Pandangan simpati menutupi segala cela, Pandangan benci menampakkan segala cacat.”

Kebaikan pemerintah Saudi terhadap kaum muslimin dunia sudah tidak terhitung jumlahnya, termasuk Indonesia. Ratusan masjid dibangun oleh pemerintah maupun yayasan sosial yang mengumpulkan dana dari pemerintah dan masyarakat Saudi serta santunan fakir miskin dan pembuatan sumur-sumur sebenarnya sudah sangat banyak, hanya saja jarang diekspos oleh media.

Pemerintah Saudi juga membuka cabang universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud di Jakarta untuk kaum muslimin di Indonesia. Sampai saat ini saya tidak tahu ada sekolah di Indonesia yang dibangun oleh pemerintah mana pun di dunia ini dengan menyewa dua buah gedung besar dan mewah untuk kaum muslimin di Indonesia secara gratis. Bukan hanya itu, para mahasiswa juga digaji, buku-buku diberikan secara gratis, asrama juga gratis.

Cabang universitas Muhammad bin Su’ud ini juga terdapat di negeri-negeri lain. Di dalam negeri Saudi sendiri, saat ini ada ribuan pelajar muslim dari seluruh dunia, termasuk anak-anak bangsa Indonesia. Mereka belajar secara gratis plus digaji oleh pemerintah Saudi, bahkan di masa Pemerintahan Raja Salman bin Abdul Aziz hafizhahullah yang baru ini, beliau melipatgandakan gaji mereka di bulan ini.

Ketika terjadi Tsunami Aceh dan Sumatera Utara, negara-negara Barat gembar-gembor di media massa mengumumkan sumbangan-sumbangan mereka, padahal nilainya juga tidak terlalu besar, itupun ternyata sebagian besarnya berupa pinjaman. Diam-diam pemerintah Saudi, hampir tidak terekspos oleh media (entah sengaja atau tidak?!), telah mengirim pesawat-pesawatnya ke Aceh yang mengangkut berbagai macam bantuan. Beberapa media ketika itu menginfokan:

“Rakyat dan pemerintah Arab Saudi menyumbang US$530 juta (sekitar Rp. 4,8 triliun) untuk korban gempa dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumatra Utara. Semua sumbangan itu berbentuk hibah. Dari total hibah itu, sebesar US$280 juta berupa uang tunai yang terdiri dari sumbangan masyarakat sebesar US$250 juta dan dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US$30 juta. Sementara US$250 juta sisanya berbentuk makanan, obat-obatan, selimut, dan alat-alat kedokteran.”

“Semua sumbangan itu merupakan hibah (pemberian), bukan utang yang harus dibayar. Sumbangan berupa hibah ini tentu saja lebih baik daripada sumbangan yang berupa utang. Karena utang ini di kemudian hari akan menjadi beban masyarakat Indonesia. Meskipun utang itu bersifat pinjaman lunak (soft loan), rakyat Indonesia tetap harus membayarnya,” ungkap salah seorang tokoh.

Adakah bantuan Saudi untuk Palestina? Apakah benar tuduhan dusta lagi keji yang dihembuskan orang-orang Syi’ah, bahwa Saudi bekerjasama dengan Inggris hingga Palestina berhasil dicaplok Yahudi? Jawabannya, kenyataan yang ada sangat bertolak belakang dengan tuduhan dusta tersebut. Ketika hizbiyyunmasih sibuk berdemo untuk Palestina dan mengkritik fatwa ulama Saudi akan haramnya demo, Pemerintah Saudi dan masyarakatnya telah mengumpulkan dana dalam jumlah yang sangat besar untuk Palestina. Media menginformasikan:

“Raja Arab Saudi pada Senin mengumumkan sumbangan senilai satu miliar dolar AS bagi pembangunan kembali Gaza yang digempur secara ofensif oleh Yahudi selama beberapa pekan. “Atas nama rakyat Saudi, saya umumkan sumbangan sebesar 1 miliar dolar bagi program pembangunan kembali Gaza,” kata Raja Saudi pada pembukaan konferensi tingkat tinggi Arab di Kuwait.”

Ketika Amerika Serikat menekan Saudi untuk memboikot pemerintahan Palestina dengan tidak memberi bantuan, media memberitakan:

“Arab Saudi menegaskan bahwa mereka akan tetap melanjutkan pemberian bantuan dana yang jumlahnya sekitar 15 juta dollar AS setiap bulannya untuk pemerintah Palestina.”

Media lain menginfokan sumbangan seorang pengusaha:

“Seorang pengusaha Saudi yang menolak untuk disebutkan identitasnya ini- pada hari senin, sumbangkan 25 juta Riyal untuk membantu rakyat Gaza.”

Catatan Asy-Syaikh Hamd Al-‘Utsman hafizhahullah:

Dalam beberapa tweet beliau menyebutkan diantaranya,

1)      Tidak Ada yang Mengingkari Bantuan Saudi untuk Kaum Muslimin Dunia, Kecuali…?

مواقف السعودية في نصرة قضايا الإسلام في كل أقطار الدنيا لا ينكرها إلا عدو نفسه،قال النبي ﷺ“لايشكر الله من لايشكر الناس“.

“Peran-peran Saudi dalam membantu permasalahan-permasalahan Islam di seluruh dunia tidak ada yang mengingkarinya kecuali musuh dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 416)

2)      Pembangunan Masjid-masjid dan Pusat-pusat Islam Hingga ke Kutub Utara:

غالبية المساجد والمراكز الإسلامية في الخارج بُنيت بدعم الدولة السعودية وتبرعات شعبه السخي،حتى بلغت مآذن المساجد القطب الشمالي.

“Banyak sekali masjid dan pusat-pusat dakwah Islam di luar Saudi, dibangun dengan dukungan Pemerintah Saudi dan bantuan dana masyarakatnya yang dermawan, hingga tempat-tempat berkumandang adzan dari masjid-masjid sampai ke Kutub Utara”.

3)      Peran Arab Saudi dalam Menyelamatkan Kuwait dari Pembantaian Partai Sosialis Komunis Ba’tsi Iraq dan Bahrain dari Serangan Syi’ah Iran:

لا ننسى نصرة السعودية للكويت في تحريرها من الاحتلال البعثي،كما لاننسى نصرتها للبحرين في منع الغزو الايراني لها،والوفاء شيمة المسلم.

“Jangan engkau lupa bantuan Saudi untuk Kuwait dalam membebaskannya dari penjajahan Partai Ba’ts, jangan pula engkau lupa dengan bantuan Saudi terhadap Bahrain dalam menghalau serangan pasukan Iran, dan menunaikan janji adalah sifat seorang muslim”.

4)      Peran Arab Saudi dalam Jihad Afghanistan:

السعودية دفعت أبناءها للدفاع عن أفغانستان من الاحتلال الروسي فضلا عن المليارات،وكافأنا جاحدالجميل بإقامة معسكرات تدريب هناك لغزونا.

“Saudi telah mengerahkan anak-anak negerinya untuk membela Afghanistan dari penjajahan Rusia, apalagi milyar-milyar dananya…”

5)      Peran Arab Saudi dalam Membantu Dunia Islam dan Pakistan Secara Khusus dalam Pengembangan Senjata Nuklir:

السعوديةدفعت المليارات لتنمية الدول الإسلامية لمنشآتهاالتعليميةوالصحيةوالعسكرية،والكهرباء والماءوالطرق،ودعمت باكستان في صناعة السلاح النووي.

“Saudi telah membantu milyar-milyar dananya untuk mengembangkan negeri-negeri Islam; untuk pembangunan dalam pendidikan, kesehatan, militer, listrik, air, jalan-jalan, dan membantu Pakistan dalam pengembangan senjata nuklir”.

6)      Peran Arab Saudi dalam Menyelamatkan Bosnia:

في الوقت الذي فرضت فيه الأمم المتحدة منعا لتوريد الأسلحة في حرب البلقان زودت السعودية البوسنة والهرسك بالأسلحة لدفع عدوان الصرب عليهم.

“Ketika PBB memboikot impor senjata dalam Perang Balkan, Saudi membekali Bosnia dan Herzegovina dengan senjata-senjata untuk membela diri dari kezaliman Serbia kepada mereka.”

7)      Peran Arab Saudi dalam Membantu Palestina:

سليم الزعنون رئيس المجلس الوطني الفلسطيني:السعودية فتحت لنا مخازن أسلحة جيشها وزودتنا بالأسلحة عام ١٩٧٨.

“Salim Az-Za’nun, Pemimpin Majelis Tanah Air Palestina berkata: Saudi telah membuka untuk kami gudang-gudang penyimpanan senjata tentaranya dan membekali kami dengan berbagai senjata sejak tahun 1978.”

Raja Salman bin Abdul Aziz hafizhahullah berkata,

فلسطين قضيتناالأولى

“Palestina adalah permasalahan kami yang pertama.”

Kebaikan Ulama Saudi untuk Kaum Muslimin Dunia

Bukan hanya pemerintahnya yang berusaha membantu Palestina, para ulama di Saudi pun mengeluarkan fatwa sebagai dorongan kepada masyarakat dan kaum muslimin di seluruh dunia untuk ikut membantu. Inilah fatwa ulama yang dituduh secara dusta dan keji oleh sebagian orang, bahwa mereka telah bersekongkol dengan Yahudi untuk merebut Palestina:

Fatwa Lembaga Resmi untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’

Tentang Masalah Palestina

“Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da;

Sesungguhnya Lajnah Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.

Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Beliau juga bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Beliau juga bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya.” (HR. Muslim)

Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi di belakang mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan.” (Al Ma’idah: 2)

Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka. Dan diantaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.

Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.

Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan orang-orang yang berakal dan bijak disetiap urusan mereka, karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya langkah.

Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.

Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya dan menjadikan tipu daya mereka boomerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.

Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.”

Tertanda:

Mufti Saudi Kerajaan Arab Saudi dan Ketua Komite Ulama Besar: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Aalusy Syaikh hafizhahullah.

Dan Para Ulama Anggota Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi

[Sumber terjemahan dari website Ahlus Sunnah Jakarta dengan sedikit perubahan dan teks Asli dari website Sahab]

Bantuan kepada kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, oleh ulama Saudi bukan sekedar fatwa belaka, namun benar-benar diamalkan oleh para ulama tersebut. Diantaranya dalam kisah-kisah berikut:

Keteladanan Mufti Saudi Arabia dan Ketua Umum Rabithah Al-‘Alam Al-Islami di masanya, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Ali bin Abdullah Ad-Darbi menceritakan, “Ada satu kisah yang sangat berkesan bagiku, pernah suatu saat berangkatlah empat orang dari salah satu lembaga sosial di Kerajaan Saudi Arabia ke pedalaman Afrika untuk mengantarkan bantuan dari pemerintah negeri yang penuh kebaikan ini, Kerajaan Saudi Arabia.

Setelah berjalan kaki selama empat jam dan merasa capek, mereka melewati seorang wanita tua yang tinggal di sebuah kemah dan mengucapkan salam kepadanya, lalu memberinya sebagian bantuan yang mereka bawa. Maka berkatalah sang wanita tua, “Dari mana asal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami dari Kerajaan Saudi Arabia”. Wanita tua itu lalu berkata, “Sampaikan salamku kepada Syaikh Bin Baz”. Mereka berkata, “Semoga Allah merahmatimu, bagaimana Syaikh Bin Baz tahu tentang Anda di tempat terpencil seperti ini?” Wanita tua menjawab, “Demi Allah, Syaikh Bin Baz mengirimkan untukku 1000 Riyal setiap bulan, setelah aku mengirimkan kepadanya surat permohonan bantuan, setelah aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.” [Koran Al-Madinah, no. 13182]

Salah seorang murid Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah bercerita, “Pada suatu malam, ketika Syaikh Bin Baz rahimahullah sedang shalat tahajjud, tiba-tiba terdengar suara orang melompat ke rumahnya, maka Syaikh pun membangunkan anak-anaknya untuk melihat apa yang terjadi, dan beliau tetap melanjutkan shalatnya, setelah beliau shalat barulah anak-anaknya mengabari bahwa telah ditangkap seorang pencuri, dia adalah seorang pekerja dari Pakistan, lalu Syaikh minta pencuri itu dihadirkan ke hadapannya. Pertama sekali yang beliau lakukan adalah membangunkan tukang masak dan memasakkan makanan untuknya, setelah si pencuri makan sampai kenyang, beliau memanggilnya dan berkata, “Kenapa engkau melakukan ini?” Pencuri menjawab, “Ibuku di Pakistan saat ini sedang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya 10.000 Riyal, sedang saya hanya memiliki 5.000 Riyal, maka saya hanya mau mencuri 5.000 Riyal.” Maka Syaikh menghubungi salah seorang muridnya yang berasal dari Pakistan untuk mencari kebenaran akan perkataan si pencuri. Pada hari berikutnya, Syaikh telah mendapatkan kebenaran atas pengakuan si pencuri, beliau pun memberikan kepadanya bantuan sebesar 5.000 Riyal dan menambah lagi 5.000 Riyal dengan anggapan kemungkinan dia membutuhkannya, maka total bantuan Syaikh kepadanya sebesar 10.000 Riyal. Singkat cerita, pencuri ini kemudian menjadi murid Syaikh dan selalu menyertai beliau sampai wafatnya.”[Disarikan dari ceramah, “Maqaathi’ Muatststsiroh; Ibnu Baz rahimahullah Ma’a As-Sariq.”]

Abdullah bin Muhammad Al-Mu’taz menceritakan: Asy-Syaikh Muhammad Hamid, Ketua PaguyubanAshabul Yaman di negara Eretria berkisah:

“Saya datang ke Riyad di malam hari yang dingin dalam keadaan tidak punya uang untuk menyewa hotel. Saya kemudian berpikir untuk datang ke rumah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Saat itu waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Awalnya saya ragu, namun akhirnya saya putuskan untuk pergi ke rumah beliau. Saya tiba di rumah beliau yang sederhana dan bertemu dengan seseorang yang tidur di pintu pagar. Setelah terbangun, ia membukakan pintu untukku. Saya memberi salam padanya dengan pelan sekali supaya tidak ada orang lain yang mendengarnya karena hari begitu larut.

Beberapa saat kemudian aku melihat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjalan menuruni tangga sambil membawa semangkuk makanan. Beliau mengucapkan salam dan memberikan makanan itu kepada saya. Beliau berkata, “Saya mendengar suara anda kemudian saya ambil makanan ini karena saya berpikiran anda belum makan malam ini. Demi Allah, saya tidak bisa tidur malam itu, menangis karena telah mendapat perlakuan yang demikian baik.” [Untaian Mutiara Kehidupan Ulama Ahlus Sunnah, Abu Abdillah Alercon, dkk, hal. 27-28]

Subhanallah, inilah akhlak para ulama yang sangat dibenci oleh para pelaku syirik dan bid’ah. Inilah pemerintah yang dituduh ganas dan sadis oleh mereka yang membenci dakwah tauhid dan sunnah. Dan masih banyak lagi kebaikan pemerintah Saudi dan ulamanya untuk kaum muslimin dunia yang tidak mungkin kami ceritakan semuanya di sini.

فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [Al-Hajj: 46]

Inikah Penyebab Hizbut Tahrir Membenci Arab Saudi…?!

Hizbut Tahrir adalah kelompok sesat yang banyak disingkap kesesatannya oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya para ulama di Arab Saudi secara umum dan dua kota suci Makkah dan Madinah secara khusus, dan berikut beberapa poin ringkasan penyimpangan Hizbut Tahrir yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdur Rahmman bin Muhammad Sa’id Ad-Dimaysqiyyah dalam kitab beliau “Ar-Roddu ‘ala Hizbit Tahrir”:

1) Kesibukan utama mereka adalah politik dan ajakan mendirikan khilafah, maka tidak akan engkau dapati mereka sibuk mengajak untuk membersihkan aqidah, menegakkan sholat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

2) Hijrahnya banyak anggota dan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir ke negeri-negeri kafir Eropa.

3) Mereka tidak memiliki aqidah yang jelas, selain khilafah yang menurut aqidah mereka adalah prioritas, seakan-akan Allah menyatakan, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menegakkan khilafah”.

4) Menawarkan khilafah kepada tokoh Syi’ah Khomeini yang melakukan banyak kekafiran (sebagaimana disebutkan dalam majalah “Khilafah” mereka no. 18 tanggal 4-9-1989 M) dan mereka memuji kitab Khomeini yang berisi banyak kesyirikan dan kekafiran berjudul “Al-Hukumah Al-Islamiyah” dalam majalah mereka Al-Wa’i no. 26 tahun 1989 M, maka ini diantara yang menunjukkan rusaknya aqidah mereka.

5) Tidak memahami dan berusaha mengobati perkara-perkara yang menyebabkan runtuhnya khilafah kaum muslimin, yaitu kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Mereka ingin Allah ta’ala merubah mereka namun mereka tidak berusaha merubah diri mereka.

6) Para penceramah mereka selalu berceramah hanya dengan mengandalkan emosi dan pembicaraan politik untuk menutupi kebodohan mereka terhadap ilmu agama, maka engkau tidak akan dapati tokoh-tokoh mereka memiliki halaqoh-halaqoh ilmu syar’i yang diprioritaskan.

7) Memusuhi aqidah tauhid dan bersikap lembek dalam mengamalkannya, disertai ajakan untuk bersatu bersama kelompok-kelompok syirik seperti Syi’ah, Shufiyyah dan lain-lain.

8) Membolehkan orang kafir menjadi anggota parlemen Islam atau menjadi kepala daerah dan pemimpin pasukan di negeri muslim (sebagaimana dalam buletin “Ajwibah wa Asilah” yang diterbitkan oleh Pendiri HT An-Nabhani bulan Rabi’uts Tsani 1390 H/5-6-1970 M)

9) Kondisi mereka menunjukkan bahwa tujuan dapat membenarkan segala cara.

10) Kekacauan aqidah mereka dalam masalah Al-Qodha dan Al-Qodar.

11) Akal menurut mereka termasuk sumber agama, dan ini adalah hasil adopsi dari Mu’tazilah.

12) Berjilbab lebar sesuai syari’at menurut mereka adalah kemerosotan moral sebagaimana diisyaratkan An-Nabhani dalam “An-Nizhom fil Islam” hal. 10 dan 128.

13) Tidak ada bedanya menurut mereka antara Sunni dan Syi’ah, padahal jelas sekali kekafiran Syi’ah.

14) Meniadakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar hingga tegak khilafah khayalan mereka, sebagaimana disebutkan dalam kitab mereka “Manhaj Hizbit Tahrir minat Taghyir” hal. 21.

15) Pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin dan tuduhan mereka bahwa negeri-negeri muslim adalah negeri-negeri kafir, sebagaimana dalam kitab mereka “Hizbut Tahrir” hal. 32, 103.

16) Bahkan menganggap Makkah dan Madinah bukan negeri Islam, sebagaimana dikatakan seorang tokoh Hizbut Tahrir dalam dialog bersama Asy-Syaikh Abdur Rahman Ad-Dimasyqiyyah.

17) Menolak hadits-hadits Ahad dalam aqidah, ini adalah kesesatan yang nyata.

18) Mengingkari azab kubur.

19) Mencela hadits-hadits tentang Imam Mahdi.

20) Fatwa-fatwa fiqh aneh Hizbut Tahrir:

Boleh berciuman dan berjabat tangan dengan wanita non mahram (Buletin Hizbut Tahrir “Jawaabus Suaal” 29-05-1970 M yang disebarkan An-Nabhani).

Boleh melihat gambar porno.

Boleh bagi wanita mengenakan wig dan celana “banthalun” dan boleh keluar mengikuti Pemilu meski dilarang suami (Buletin Hizbut Tahrir “Jawaabus Suaal” 17-02-1972 M yang disebarkan An-Nabhani)

Wanita boleh jadi anggota parlemen, sebagaimana dalam kitab mereka “Muqoddimatus Dustur” hal. 114 dan “Mitsaqul Ummah” hal. 72.

Boleh wanita menjadi qodhi, sebagaimana dalam kitab mereka “An-Nizhom Al-Ijtima’i fil Islam” hal. 89.

Boleh mengqishosh seorang muslim yang membunuh orang kafir, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang.

Boleh taat kepada khalifah mereka meski menyelisihi ayat dan hadits yang jelas, sebagaimana dalam kitab mereka “Ad-Daulah Al-Islamiyah” hal. 108.

Dan masih banyak lagi yang dipaparkan Asy-Syaikh Abdur Rahman Ad-Dimasyqiyah secara detail dalam kitab beliau “Ar-Roddu ‘ala Hizbit Tahrir” silakan merujuk kitab tersebut.

PENEGASAN

Bagi yang mendalami dan memahami manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah insya Allah dengan mudah memahami analisa sebab kebencian Hizbut Tahrir terhadap Arab Saudi, yaitu karena negeri Arab Saudi, baik pemerintah dan ulamanya memiliki peran yang sangat besar dalam memperjuangkan tauhid dan sunnah serta berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf, yang sangat bertentangan dengan manhaj Hizbut Tahrir, bersamaan dengan itu para ulama Ahlus Sunnah baik yang memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan Arab Saudi, merekalah yang menyingkap kesesatan Hizbut Tahrir, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah penghalang terbesar bagi “khilafah” khayalan dan berbagai kesesatan Hizbut Tahrir yang lainnya, dan bukanlah ini suatu analisa yang baru, tapi sudah disebutkan ulama Salaf sejak dulu.

Al-Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata,

علامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر

“Tanda ahlul bid’ah adalah menjelek-jelekan Ahlul Atsar (Ahlus Sunnah).” [As Sunnah lil Laalakaai, 1/179]

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata,

لَيْسَ مِنْ صَاحِبِ بِدْعَةٍ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخِلَافِ بِدْعَتِهِ بِحَدِيثٍ إِلَّا أَبْغَضَ الْحَدِيثَ

“Tidak ada satu pun pelaku bid’ah yang engkau sampaikan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang menyelisihi bid’ahnya, kecuali ia akan membenci hadits tersebut.” [Syarafu Ashaabil Hadits: 149]

Al-Imam Ahmad bin Sinan Al-Qoththon rahimahullah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مُبْتَدِعٌ إِلَّا وَهُوَ يُبْغِضُ أَهْلَ الْحَدِيثِ فَإِذَا ابْتَدَعَ الرَّجُلُ نُزِعَ حَلَاوَةُ الْحَدِيثِ مِنْ قَلْبِهِ

“Tidak ada di dunia ini seorang ahlul bid’ah pun kecuali ia membenci Ahlul Hadits (Ahlus Sunnah), dan apabila seseorang berbuat bid’ah maka akan dihilangkan manisnya hadits dari hatinya.” [Syarafu Ashaabil Hadits: 150]

Al-Imam Abu Nashr bin Sallaam Al-Faqih rahimahullah berkata,

لَيْسَ شَيْءٌ أَثْقَلَ عَلَى أَهْلِ الْإِلْحَادِ، وَلَا أَبْغَضُ إِلَيْهِمْ مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَرِوَايَتِهِ بِإِسْنَادِه

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat atas orang-orang yang sesat dan lebih dibenci oleh mereka dari mendengar hadits dan meriwayatkannya dengan sanadnya.” [Syarafu Ashaabil Hadits: 151]

Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata,

علامات البدع على أهلها بادية ظاهرة، وأظهر آياتهم وعلاماتهم: شدة معاداتهم لحملة أخبار النبي صلى الله عليه وسلم واحتقارهم واستخفافهم بهم

“Tanda-tanda ahlul bid’ah nampak jelas pada orang-orangnya, dan tanda mereka yang paling jelas adalah, kerasnya permusuhan, perendahan dan peremehan mereka terhadap para ulama pembawa hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” [‘Aqidatus Salaf Ashhaabil Hadits: 101]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: http://sofyanruray.info/mengapa-hizbut-tahrir-membenci-arab-saudi/

Wollohu A’lam, Barokallohufiikum !

MENJAUHI PEMAHAMAN BARU YANG MENYIMPANG

Di dalam hadits Ibnu Mas’ud, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka lagi. Kemudian akan datang suatu kaum, kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.”

[(Mutafaq ‘alaihi)]

[(Dan Lihat Ash-Shahihah oleh Al-Albany no. 700)]

Selain dalil di atas, perkara pokok ini (yaitu kewajiban mengikuti pemahaman Salaf) mempunyai dalil-dalil lain dari al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

[(An-Nisa’ : 115)]

Dalil dalam ayat ini ada pada digabungkan sikap menjauhi jalan kaum mu’minin dengan penentangan kepada Rasul, hingga akhirnya berhak memperoleh ancaman yang dahsyat ini. Padahal hanya dengan penentangan kepada Rasul saja telah cukup untuk memperoleh ancaman tersebut berdasarkan firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta menentang Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.

[(Muhammad : 32)]

[(Dan Lihat Majmu’ul Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah (19/194)]

Barokallohufiik !

MENILAI AKIDAH SESEORANG ITU HARUS MESTI DENGAN MANHAJNYA, BUKAN MANHAJ ABAL ABAL YANG SOK INGIN MENEGAKKAN AGAMA ALLAH, NAMUN HANYA SEBATAS KERONGKONGANNYA SAJA

Melihat atau menilai akidah seseorang tidak cukup hanya dengan lambang atau LOGO yang bersimbolkan tulisan tulisan saja,

MISALNYA TULISAN KALIMAT YANG MENTAUHIDKAN ALLAH, La’ilaha’illallah
muhammadarrasulullah :

YANG Dimana sering kita melihat hal tsbt pada :

  • sebuah tulisan yang ada di bendera bendera.
  • sebuah tulisan yang ada di ikatan kepala

  • sebuah tulisan yang ada di pakaian, baju dll..

  • sebuah tulisan yang ada di alat alat media, komunikasi dan lain sebagainya…

Yang seolah olah mereka ini adalah orang orang yang benar benar berakidah dan menunjukkan kalau diri mereka telah benar benar bertauhid, padahal mereka sejatinya bukan orang bertauhid melainkan hanya sekedar tampilan luarnya saja, yang di simbolkan pada tulisan tulisan kalimat kalimat tauhid, dan merasa paling benar dalam menegak kan kalimat Tauhid tsbut…

Padahal mereka hanyalah kelompok HIZBIYYIN/HIZBIYYAH yang katanya tidak ada kelompok dalam dirinya/mereka, namun menganggap dirinyalah yg paling benar, dan yang di luar kelompok mereka adalah kafir, musuh Allah, murtad, munafik, fasik, yang katanya keluar dari islam dlsbg….

Itulah, sebagian di antara mereka/para hizbiyyin/hizbiyyah sangat mudah mentahdzir saudara saudaranya mereka jika tidak sepadan dengan nya …

Wal’iya Udzubillaahimin Dzaalik..

Saudaraku seiman di manapun kita berada, perlu sekali kita ketahui bahwa menilai orang yg benar benar berakidah adalah dengan manhajnya, karna dengan adanya manhaj yang benar dari seseorang tidak akan pernah mentahdzir saudara mereka, karna sebagaimana hal itu tidak pernah dilakukan nya pada masa rasulullah maupun para shahabat dan sangat berhati hati dari hal tersebut..

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Karena inilah, wajib berhati-hati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan (yang dilakukan). Karena hal ini adalah bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka”.
[Majmu Fatawa’ (III/229)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan “kafir” atau “musuh Allah”.

Sebgaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “wahai kafir”, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan; namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 60), Abu ‘Awanah (I/23), Ibnu Hibban (no. 250-at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban), dan Ahmad (II/44) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma]

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“ … Dan barangsiapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan ia musuh Allah, sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya sendiri”.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 61), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, karena tuduhannya akan kembali kepada dirinya, jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6045) dan Ahmad (V/181), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Padahal keterangan dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir, kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut).

KARNA Syarat-syarat seseorang bisa dihukumi kafir ADALAH :

(1). mengetahui (dengan jelas)

(2). dilakukan dengan sengaja, dan,

(3). tidak ada paksaan.

Sedangkan intifa’ul mawani’ (tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir), yaitu kebalikan dari syarat tersebut :

(1). Tidak mengetahui

(2). Tidak disengaja, dan

(3). Karena dipaksa.

[Lihat Mujmal Masa-ilil Iman wal Kufr al-‘Ilmiyyah fi Ushulil-‘Aqidah as-Salafiyyah, Cetakan II Tahun 1424 H, halaman 28-35, dan Majmu’ Fatawa’ (XII/498)]

Dan kemudian yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul ‘Ilmi yang dalam ilmunya, dan para ulama Rabbani.
Sebab Rabbani, adalah orang yang bijaksana, ‘alim, dan penyantun, serta banyak ibadah dan ketakwaannya.
dengan ketentuan-ketentuan syari’at yang sudah disepakati.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/405)]

Ketahuilah bahwa orang yang benar benar bermanhaj Ahlus Sunnah tidak akan mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam), selama hatinya tetap dalam keadaan beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”
[An-Nahl:106]

OLEH KARNA ITU PERLU JUGA KITA KETAHUI, BAHWA ORNG YANG BENAR BENAR BERAKIDAH HARUS DI LIHATNYA PULA BAGAIMANA MANHAJNYA APAKAH SUDAH BENAR ATAU TIDAK, Sebab kalau kita melihat bahwa Pada hakekatnya, Para hizbiyyah/hizbiyyin meski mereka memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, yg di mana mereka sebenarnya Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga yaitu, Bin Baaz, Al-Albani dan Al-Utsaimin.

Serta Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salaf secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan.

Dan Sampai sampai mereka menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui tentang waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bid’ah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan.

Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mulut mereka, apalagi pada zaman sekarang ini, mereka para hizbiyyin/hizbiyyah berani mencela dan memfitnah para ulama, ulil amri, dan kaum muslimin yang tidak sepaham dengan nya…

Ketahuilah, Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah.

Karna Orang-orang yang merendahkan Ulama’, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah atau bermanhaj Salafus sholih, NAMUN manhaj mereka hanyalah Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena mereka hanya nampak baik pada PENAMPILAN nya saja..

Oleh karna itu mari Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang lurus..

Agar kelak mereka bersama dengan manhaj Salafus Sholeh yang murni, dan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para tabiin yang berada diatasnya..

Wollohu Waliyyut Taufiik !

MELIHAT DARI REALITAS SEJARAH

Dengan menelusuri sejarah Islam, akan tampak dengan jelas bahwa banyak KHILAFAH KHAYALAN yang dideklarasikan dalam sepanjang sejarahnya, baik melalui klaim kedatangan MAHDI atau melalui jalur SEKTE SEKTE KHAWARIJ YANG SESAT; dan mereka adalah orang-orang yang sangat terobsesi dengan khilafah, akan tetapi tanpa petunjuk dan al Qur`an. Nampaknya –wallahu a’lam- ini telah menjadi karakter mereka.

Adapun AHLI SUNNAH WAL JAMAAH, mereka tidak menetapkan nama khilafah atau IMAMAH ‘UDZMA melainkan bagi orang yang benar-benar memiliki kekuasaan atas mayoritas mereka (kaum muslimin) baik dengan kerelaan atau dengan penaklukan di berbagai daerah kaum muslimin.

Adapun seorang yang dibaiat oleh suatu penduduk daerah tertentu saja, atau berhasil menaklukan daerah itu saja, maka kekuasaannya hanya bersifat LOKAL atas mereka, tidak mencakup orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya atau ditaklukkan olehnya. Beginilah seterusnya kemudian kemunculan masalah multi kepemimpinan yang telah dijelaskan tadi. Makalah ini tentu tidak akan mendiskusikan masalah ini dari sisi legal atau tidaknya.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata :

“Tidak pernah sama sekali umat ini bersepakat untuk mengangkat seorang KHAWARIJ menjadi pemimpin. Andai Allah memberi kekuasaan kepada mereka, maka akan rusaklah bumi ini… dan dengan demikian, ada belasan atau dua puluh orang dari mereka yang masing-masing pernah menyatakan bahwa dirinya adalah KHALIFAH .” 

[Mukhatashar Ta`rikh Dimasyq: 26/390]

Barokallohufiik !

GARA GARA TIDAK ADANYA KHILAFAH PERANG DI SURIAH TERJADI , BENARKAH ?

Hizbut Tahrir Tetap Ngotot Anggap Perang Suriah Terjadi Karena Ketiadaan Khilafah


Perang terjadi di Suriah telah berlangsung lebih dari 1,5 tahun. Rezim Syiah Bashar Assad belum ada itikad baik untuk menghentikan serangan dan pembantainnya terhadap warga sipil rakyatnya sendiri.

Kejahatan yang telah dilakukan oleh Bashar Assad bukanlah masalah biasa, karena ia terkait permasalahan keyakinan. Hal itu terbukti dengan banyaknya bala bantuan dari gerombolan Syiah untuk membantu Bashar Assad menghancurkan muslim Suriah yang mayoritas adalah Sunni.

Iran yang notabene adalah negara Syiah menjadi penolong Bashar di barisan depan, Hizbullah Lebanon yang jelas beraqidah Syiah Rafidhah memberikan bantuan dana dan pasukannya, dan terakhir adalah tentara Mahdi dari Irak mengirimkan pasukannya ke bumi Syam. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perang itu adalah perang aqidah, antara Syiah dengan Ahlussunnah.

“Perang Suriah adalah perang karena aqidah. Rezim Bashar Assad beraqidah Syiah Nushairiyah yang sangat jahat kepada Ahlussunnah,” kata aktifis Islam Asal Suriah, Syaikh Ghoyyats Abdul Baqi dalam beberapa acara pengajian, seminar dan temu aktifis dakwah yang diadakan di Jabodetabek, Solo, Bandung, Cirebon dan Yogyakarta.

Hal senada dikatakan oleh Angga Dhimas, relawan HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) yang beberapa waktu lalu pergi ke Suriah sebagai relawan tenaga medis. “Perang Suriah adalah bukan bersifat lokal, ia adalah perang antara Syiah dengan Sunni,” kata Angga dalam presentasinya di gedung Dewan Dakwah, Senin (15/10).

Selain itu, para ulama Ahlussunnah mendukung pasukan pembebasan Suriah, diantara mereka adalah Syaikh Utsman Al Khomis dan syaikh Al ‘Arifi. Juga pemerintah dan para ulama di Arab Saudi memberikan bantuan kepada mereka dengan hitungan yang tidak sedikit. Mereka semua menilai bahwa perang itu adalah membela keyakinan.

Banyak dari ulama pun berfatwa  mengenai jihad suriah, beberapa waktu lalu Syaikh Sholih Al Luhaidan, anggota Lajnah Daimah Arab Saudi, ditanya apakah mengirim bantuan untuk pasukan revolusi Suriah adalah jihad?, Beliau menjawab dengan tegas bahwa itu adalah jihad fi sabilillah.

“Jika diketahui bahwa sumbangan tersebut akan sampai dengan penuh amanat ke tangan mereka (Pasukan Revolusi Pembebasan Suriah) tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk kedalam Jihad fi sabilillah insya Allah. Apa-apa yang bisa menguatkan Pasukan revolusi dan bisa melemahkan tentara militer rezim Suriah adalah sebuah hal yang mesti,” kata Syaikh Sholih.

Sementara itu, mufti besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh mengatakan bahwa kondisi Muslim Suriah sudah sangat membahayakan, maka kaum muslimin harus segera menolongnya.

“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, situasi disana sungguh membahayakan dan buruk, tapi pertama yang harus kita lakukan adalah kita berdoa kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, kemudian mengerahkan upaya dalam pemberian bantuan kepada mereka jika memungkinkan. Negara-negara Islam di dunia harus mendukung saudara-saudara seiman di Suriah, serta mewaspadai bahaya besar yang terjadi karena sudah banyak darah yang tertumpah dan juga kehormatan yang direnggut. Tidak diketahui di zaman ini kejahatan yang lebih besar selain di Suriah,” kata Syaikh Abdul Aziz pada bulan Maret Lalu.

Kenapa Hizbut Tahrir Ngotot Khilafah?

Hidup dalam naungan khalifah yang adil dan tegaknya hukum Allah adalah dambaan setiap muslim sejati. Tetapi apakah segala permasalahan yang terjadi saat ini disebabkan ketiadaan khilafah? Sehingga jalanan macet karena tidak ada khilafah, harga Sembako mahal karena tidak ada khilafah, zina merajalela karena tidak ada khilafah, marak Korupsi karena tidak ada khilafah, kemunduran umat Islam karena tidak ada khilafah, perbedaan penentuan awal puasa dan hari raya karena tidak ada khilafah, kehidupan buruh kurang sejahtera karena tidak ada khilafah, perang di suriah pun terjadi karena tidak ada khilafah.

“Keadaan kaum muslimin saat ini yang memprihatinkan, dan khususnya perang yang terjadi di Suriah adalah terjadi karena tidak tegaknya khilafah ala manhaj an nubuwwah, maka dari itu marilah kita menyelesaikan persoalan ini dengan berusaha untuk menegakkan khilafah diatas bumi ini,”kata salah seorang petinggi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) di gedung Dewan Dakwah, Senin (15/10).

Khilafah seakan menjadi solusi ajaib menuntaskan segala macam permasalahan dan musibah. Nampaknya hampir tidak pernah mereka menisbatkan sebab-sebab permasalahan dan bencana pada kebodohan umat Islam akan agamanya, lemahnya iman mereka kepada Allah dan hari akhir, dan lainnya yang lebih berdasar syar’i, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dari generasi salaf.

Jika menengok sejarah ke belakang, maka didapati bahwa kehancuran kekhilafahan Baghdad waktu dulu oleh tentara tartar terjadi pada masa ‘Khilafah’ dan berkembangnya ajaran sesat yang bersumber dari filsafat Yunani, seperti Mu’tazilah terjadi di zaman Khilafah, bahkan khalifah Al Makmun pada saat itu mendukung penuh ajaran tersebut dan memaksa para ulama Ahlussunnah untuk mengikutinya.

Pernyataan Hizbut Tahrir yang menganggap perang Suriah terjadi karena ketiadaan khilafah terlalu dipaksakan dan tidak nyambung, sekaligus bertentangan dengan pendapat para ulama Ahlussunnah dan orang-orang yang mengetahui kondisi Suriah secara langsung.

“Sejauh ini langkah apa yang sudah ditempuh HTI soal Suriah?,” sebuah jawaban yang dikatakan oleh relawan yang baru pulang dari Suriah, Fathi At-Tamimi, terhadap pertanyaan yang disampaikan anggota HTI dalam acara penggalangan dana untuk muslim Suriah di Bandung, Ahad (14/10).

Sampai saat ini belum ada langkah nyata yang dilakukan oleh massa HTI terkait pembantaian Ahlussunnah Suriah, selain teriak-teriak kecil di pinggir jalan. Bagaimana khilafah versi Hizbut Tahrir akan bisa menyelesaikan perang Suriah?, sedangkan menurut mereka Syiah termasuk bagian madzhab dalam Islam bahkan dulu pernah ingin membai’at Khomeini yang jelas-jelas pemimpin Syiah Rafidhah sebagai khalifah mereka. Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi rooji’uun. (bms)

=============================

sumber : http://www.gemaislam.com/index.php/berita/indonesia-news-menuitem/668-hizbut-tahrir-tetap-ngotot-anggap-perang-suriah-terjadi-karena-ketiadaan-khilafah?tmpl=component&print=1&layout=default&page=

Barokallohufiik !

ADA APA DENGAN HIZBUT TAHRIR ? KHILAFAH MODEL SIAPA YANG AKAN DI USUNG NYA ?

Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan….


Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya dan sebagainya, kita akan tahu bahwa klaim mereka ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah ternyata tidak dilakukan dengan cara-cara yang Islami.

*** Apa Itu Hizbut Tahrir? ***

Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT) telah memproklamirkan diri sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1).

Atas dasar itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)

Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan:

“Demikian pula, dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan…, dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan problematika utama kaum muslimin, yaitu menegakkan sistem khilafah.”(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41).

Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.

Allah menegaskan:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya’.” (An-Nahl: 36)

Rasulullah juga menegaskan:

“Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)

*** Tujuan dan Latar Belakang ***

Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )

Para pembaca, tahukah anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi?

Landasannya adalah bahwa semua negeri kaum muslimin dewasa ini –tanpa kecuali– termasuk kategori Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim.

Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim. (Lihat Mengenal HT, hal. 79)

Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah sifat yang kontinu (terus-menerus/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya adalah orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah.

Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur, dan setiap negeri yang penduduknya orang-orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut.” (Majmu’ Fatawa, 18/282)

Para pembaca, mengapa –menurut HT– harus satu khilafah? Jawabannya adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan, republik presidentil (dipimpin presiden) ataupun republik parlementer (dipimpin perdana menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara (khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak negara bagian. (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55)

Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara (khilafah) dan satu khalifah. Namun, jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.

Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata: “Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 37)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Para imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 34)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya (dalam kondisi seperti itu -pen) tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya.” (As-Sailul Jarrar, 4/512)

Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shan’ani, sebagaimana dalam Subulus Salam (3/347), cet. Darul Hadits.

*** Kapan HT Didirikan? ***

Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) yang berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah, dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama.Dia adalah Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 135, dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi).

Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya, lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?!

Wallahul musta’an.

*** Landasan Berpikir Hizbut Tahrir ***

Landasan berpikir HT adalah Al Qur‘an dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan dengan pemahaman Rasulullah dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka.

Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani, menjuluki mereka dengan Al-Mu’tazilah Al-Judud (Mu’tazilah Gaya Baru).

Padahal jauh-jauh hari, shahabat ‘Ali bin Abi Thalib telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.”2 (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Demikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah, berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin.

Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad atas para nabi, syafaat Rasulullah untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di hari kiamat, adanya siksa kubur, adanya jembatan (ash-shirath), telaga dan timbangan amal di hari kiamat, munculnya Dajjal, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi ‘Isa u di akhir zaman, dan lain sebagainya.

Adapun dalam masalah fiqih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim, boleh melihat gambar porno, boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka, boleh mengeluarkan jizyah (upeti) untuk negeri kafir, dan lain sebagainya. (Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 139-140)

** Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah **

Bagi HT, khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut, HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:

1. Mendirikan Partai Politik

Dengan merujuk Surat Ali ‘Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal HT hal. 3).

Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memperbanyak pendukung dan pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil membentuk partai. (Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)

Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang jauh dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yang berpendapat demikian?!

Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!

Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu a’lam.

2. Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)

Berinteraksi dengan umat (Tafa’ul Ma’al Ummah) merupakan tahapan yang harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada empat:

– Pertama: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24). Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin ‘ashabiyyah (fanatisme) dan loyalitas terhadap

HT.
-Kedua: Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif/umum yang disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi antara masyarakat dengan penguasanya.

Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7)

Betapa ironisnya, Rasulullah memerintahkan kita agar menjadi masyarakat yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka:

“Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)

– Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).
Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin, tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)

– Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian. Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).

Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan Rasulullah. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah menjuluki mereka dengan “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka”!

Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.” (Mengenal HT, hal. 3)

Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah : “Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.”

Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?”

Rasulullah bersabda (artinya): “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z, 3/1476, no. 1847)?!

Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah :

“Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya (nasehatnya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin , dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits no. 1096)?!

Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya, sebagaimana yang mereka nyatakan:

“Sikap HT dalam menentang para penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan, menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura), menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada.” (Mengenal HT, hal. 26-27)

Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim.” Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik.

Buktinya, mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasehat “di hadapan” sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya.

Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah yang diriwayatkan shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin di atas?!

Dan jangan terkecoh dengan ucapan mereka, “Meskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata) dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yang menghalangi dakwahnya.” (Mengenal HT, hal. 28). Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).

3. Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)

Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan:

“Hanya saja setiap orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.” (Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)

Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:

1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.

2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan). (Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72)

Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka” yang mereka tempuh.

Wahai HT, ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Bahwasanya Nabi mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah I dan Rasul-Nya.

Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak, sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa…

Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/6)

Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t: “Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:

  1. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

  3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

  4. Seseorang yang mengatakan: “ Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir, Muhammad Al-’Uraini hal. 21-22)

Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran, maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan nasehat kepadanya, bukan pemberontakan.

Adapun dalih mereka dengan hadits Auf bin Malik :

Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (membe-rontak)?”

Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!” (HR. Muslim, 3/1481, no. 1855)

bahwa “mendirikan shalat di tengah-tengah kalian” adalah kinayah dari menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga –menurut HT– walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir dan boleh untuk digulingkan!

Ini adalah pemahaman sesat dan menyesatkan.

Para pembaca, tahukah anda dari mana ta‘wil semacam itu? Masih ingatkah dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan para ulama. Wallahul musta’an.

Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih petunjuk Ilahi. Amin…

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.)

========================================

1 Menolak sifat-sifat Allah I dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja. (ed)

2 Lanjutan riwayat tersebut: “Dan sungguh aku telah melihat Nabi n mengusap pungggung khufnya.” (ed)


sumber : http://asysyariah.com/kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah-sorotan-ilmiah-tentang-selubung-sesat-suatu-gerakan/

Barokallohufiikum !

TAUHID DULU ATAU KHILAFAH?

Kritik Terhadap Metode
Dakwah Hizbut Tahrir .


At Tauhid edisi V/16

Oleh: Ammi Nur Baits

Khilafah adalah cita-cita yang didambakan oleh seluruh kaum muslimin, lebih-lebih bagi mereka yang menjadi aktivis dakwah. Khilafah merupakan hadiah yang Allah persembahkan bagi umat ini setelah mereka berusaha untuk meniti kebenaran. Karenanya, kami ingatkan tulisan ini hanyalah sekelumit usaha untuk mewujudkan cita-cita munculnya khilafah. Tulisan ini bukanlah upaya untuk memecah belah persatuan kaum muslimin. Tulisan ini hanyalah sebatas nasehat antar sesama muslim yang mencita-citakan kesatuan dan persatuan kaum muslimin di atas kebenaran.

Kelompok yang Pertama Kali Menjadikan Khilafah Sebagai Prinsip Dakwah

Syaikh DR. Shalih bin Sa’ad As Suhaimi pernah ditanya tentang prinsip dakwah imamah (khilafah) dalam kesempatan dauroh bulan Juli 2008 di Mojokerto. Beliau menjawab:

“Imamah atau khilafah, yang pertama kali menjadikannya sebagai prinsip adalah kelompok Syi’ah dan Mu’tazilah. Imamah memang diharapkan. Setiap muslim berkeinginan agar kaum muslimin berada di bawah satu bendera dan satu khalifah. Namun keadaan ini (kaum muslimin di atas satu khilafah) sedah berakhir sejak masa Khulafa’ur rasyidun atau sejak keluarnya Abdur Rahman Ad Dakhil dari kekhalifahan Abbasiyah….” (dikutip dari Majalah Adz Dzakhiirah edisi 42 tahun 1429 H).

Orang-orang syi’ah menjadikan Imamah (kekhalifahan) sebagai salah satu rukun iman mereka. Berikut adalah kutipan perkataan tokoh-tokoh syi’ah:
Muhammad Ridlo al Mudhofar Ar Rofidhi mengatakan: “Kami berkeyakinan bahwasanya imamah adalah salah satu asas agama. Keimanan tidak sempurna kecuali dengan memiliki keyakinan tersebut…” (dikutip dari Madkhol Ila al aqidah al islamiyah)

Ibnul Muthohir al Hully dalam muqodimah kitabnya yang berjudul Minhajul Karomah mengatakan: “Amma ba’du, ini adalah risalah dan makalah yang mulia, yang berisi tentang pembahasan paling penting dalam masalah agama dan permasalahan paling utama bagi kaum muslimin; yaitu masalah imamah, dengan imamah bisa didapatkan derajat kemuliaan. Imamah adalah salah satu rukun iman. (Minhajul Karomah 1/20, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Rabi’ dalam Manhajul Anbiya fi Da’wah).

Bahkan sebagian mereka beranggapan lebih jauh dari pada perkataan tokoh sebelumnya. Mereka berpendapat bahwa imamah lebih penting dari pada masalah Nubuwah (kenabian). Salah satu tokoh dan ulama mereka di zaman ini, Hadi At Thohroni mengatakan: “Imamah itu lebih mulia dibandingkan nubuwah. Karena imamah adalah tingkatan ketiga yang dengannya Allah memuliakan Ibrohim setelah (seblumnya) mengalami derajat Nubuwah dan Al Khullah. (dikutip dari Madkhol Ila al aqidah al islamiyah).

Yang dimaksud Nubuwah adalah diangkatnya seseorang menjadi nabi. Sedangkan yang dimaksud Imamah adalah diangkatnya seseorang menjadi imam atau pemimpin. Dan yang dimaksud Al Khullah adalah diangkatnya seseorang menjadi kekasih terdekatnya Allah. Maksud perkataan Hadi At Thohroni adalah derajat diangkatnya seseorang menjadi imam atau pemimpin itu lebih mulia dari pada status diangkatnya seseorang menjadi nabi. Karena menjadi imam itu tingkatannya paling tinggi, yang di bawahnya ada tingkatan al khullah dan di bawahnya lagi baru tingkatan kenabian.

Hal yang senada juga pernah disampaikan oleh Abul A’la Al Maududi salah satu tokoh pergerakan di timur tengah. Beliau mengatakan: “Hakekat tujuan beragama adalah menegakkan aturan imamah yang baik dan lurus.” (Al Ushul Al Akhlaqiyah).

Alasan Mereka yang Gemar Meneriakkan Tegaknya Khilafah

Berikut kami sisipkan kutipan pendapat dan alasan mereka untuk menegakkan khilafah. Diambil dari salah satu makalah yang diterbitkan di situs mereka.
“Menegakkan Khilafah dan menunjuk seorang Khalifah adalah kewajiban bagi setiap Muslim di seluruh dunia, lelaki dan perempuan. Melaksanakan kewajiban ini sama saja seperti menjalankan kewajiban lain yang telah Allah Swt perintahkan kepada kita, tanpa boleh merasa puas kepada diri sendiri. Khilafah adalah persoalan vital bagi kaum Muslim.” (lih. Apa itu Khilafah?)

“Penderitaan dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan dari negara-negara kapitalis, khususnya AS, tidak akan lenyap kecuali dengan tegaknya negara Khilafah yang akan menerapkan ideology yang haq, yaitu Islam yang agung yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil alamin.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.105)

“kita telah mengetahui bahwa umat Islam akan segera kembali menjadi negara adidaya, yaitu dalam Khilafah Rasyidah.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.122)

“Masalah Timur Tengah ini tidak akan pernah dapat diselesaikan kecuali dengan berdirinya negara Khilafah Islam.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.135)

“Maka itu, keburukan yang telah mencengkeram dunia selama berabad-abad itu haruslah dibatasi. Harus pula diwujudkan sebuah negara yang mampu membatasi keburukan itu, yaitu negara Khilafah Islamiyah.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.222)

Jika boleh disimpulkan, maka bisa ditarik satu benang merah bahwa tujuan utama kelompok ini dalam mendakwahkan tegaknya khilafah adalah menyelesaikan masalah umat. Karena bagi mereka, hanya dengan khilafah semata semua permasalahan umat ini bisa selesai. Setelah kaum muslimin berhasil mendirikan khilafah barulah mereka secara bersama-sama berdakwah menegakkan keadilan dan memerangi kedzaliman di muka bumi ini. Dakwah mengajak orang untuk mentauhidkan Allah baru diutamakan setelah tegaknya khilafah.

Tidak ada satupun orang yang menganggap jelek tujuan ini. Bisa dikatakan semua orang akan sepakat dengan tujuan yang indah dan mulia ini. Memperjuangkan kesejahteraan umat merupakan satu tekad yang mulia. Namun…ada yang perlu dijadikan bahan diskusi, benarkah bahwa khilafah adalah satu-satunya solusi bagi permasalahan umat. Sehingga hampir semua masalah umat hanya diberi satu jawaban “SEMUA INI BISA SELESAI HANYA DENGAN KHILAFAH”..?? (lih. Judul Bulettin Al Islam ketika memberikan jawaban atas kasus Gaza dua bulan yang lalu).

Jalan Menuju Kejayaan Umat Hanya Satu

Banyak jalan menuju mekkah. Demikian anggapan sebagian orang. Karena prinsip ini, sebagian orang acuh terhadap berbagai fenomena perselisihan yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Selama niatnya baik dan ada tekad untuk memperjuangkan islam, apapun caranya, semuanya tak jadi masalah. Mari sejenak kita renungkan.

Kita meyakini bahwasanya Allah tidaklah menurunkan syariat ini baik yang penting maupun yang paling penting kecuali semuanya merupakan solusi terbaik bagi umat manusia untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka semua yang Dia ajarkan, baik melalui Al Qur’an maupun contoh perbuatan NabiNya merupakan jalan utama untuk menggapai kejayaan umat.

Dengan kata lain, siapapun yang mengharapkan kejayaan umat namun dia memilih jalan yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bisa dipastikan harapannya tidak akan tercapai.

Disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud ketika menceritakan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membuat satu garis lurus, kemudian beliau bersabda:

“Inilah jalan Allah”.

Setelah itu, beliau membuat beberapa garis cabang di sebelah kanan dan kiri garis lurus, kemudian beliau bersabda:

“Ini ada banyak jalan, pada masing-masing jalan ada setan yang mengajak untuk menuju jalan tersebut.” Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Al An’am 153, yang artinya: “Inilah jalanku yang lurus, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti banyak jalan cabang, karena kalian akan berpecah dari jalanya.”

(HR. Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Berdasarkan riwayat ini bisa kita tegaskan jalan yang benar menuju kejayaan HANYA SATU.

Antara Al Qur’an, Hadis dan Sejarah

Seringkali orang yang berprinsip khilafah sebagai prioritas utama ketika menjelaskan pentingnya khilafah mereka menunjukkan bukti-bukti sejarah. Terutama sejarah khilafah Utsmaniyah yang runtuh pada abad ke-18 M.

Berikut beberapa klaim mereka tentang sejarah kemenangan khilafah:
“Daulah Utsmaniyah, sebagai Negara Khilafah Islamiyah, pernah menjadi negara pertama hampir tiga abad lamanya, tanpa satu pesaing pun untuk kedudukannya hingga pertengahan abad ke-18 M.” (Mafahim Siayasiyah li…hal.34)

“Daulah Utsmaniyah telah membangkitkan kengerian di semua orang Kristen Eropa dan terwujud suatu kebiasaan umum di kalangan Kristen bahwa pasukan Islam itu tidak terkalahkan,” (Mafahim Siayasiyah li…hal.45)

“Ringkasnya, kondisi berbagai negara di dunia yang mengalami perubahan adalah sebagai berikut: Dunia pada masa lampau didominasi oleh Daulah Utsmaniyah, Prusia, Rusia, Austria, Inggris, dan Perancis. Negara-negara inilah yang dahulu mengendalikan berbagai urusan dunia, mengancam perdamaian, dan memutuskan perang.” (Mafahim Siayasiyah li…hal. 71)

Meskipun kutipan di atas diakui belum mewakili keseluruhan, namun penulis menyimpulkan, setelah membaca buku Mafahim Siayasiyah li.. bahwa terkesan mereka lebih menonjolkan bukti-bukti sejarah untuk mendukung prinsip mereka. Jika begitu hebatnya sejarah untuk dijadikan bukti mutlak prioritas khilafah, di manakah porsi Al Qur’an dan As Sunnah?

Bukankah prinsip dakwah adalah bagian yang sangat vital dalam islam?

Lalu mungkinkah penjelasan Al Qur’an dan Hadis tentang ini kurang mencukupi, sehingga kita harus beralih pada klaim sejarah?

Jangan sampai kita bersikap apriori dan menutup mata terhadp kajian Al Qur’an dan Hadis dalam menentukan jawaban. Kita memiliki koridor baku yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadis. Semata klaim sejarah belum cukup. Sebagaimana penjelasan ahli sejarah bahwasanya sejarah belum tentu sesuai fakta. Sejarah bukanlah realita.

Klaim sejarah bisa dimanipulasi berdasarkan sudut pandang masing-masing pengamat. Karenanya, kesimpulan sejarah banyak dilatar belakangi dengan berbagai kepentingan. Kita tidak menutup mata atas kebaikan daulah Utsmaniyah yang telah menaklukkan beberapa negeri kafir.

Bagi pengamat yang dilatar belakangi obsesi khilafah mengatakan bahwa daulah Utsmaniyah merupakan khilafah islamiyah yang terakhir runtuh. Namun bagi pengamat lainnya khilafah islamiyah al udzma sudah berakhir sejak keluarnya Abdur Rahman Ad Dakhil dari kekhalifahan Abbasiyah. Karena sejak saat itu kekuasaan kaum muslimin sudah terpecah. (lihat Keterangan Syaikh Sholeh Suhaimi di majalah Adz Dzakhiroh edisi 42, 1419 H).

Di sisi lain, bagi pengamat orang menganggap daulah Utsmaniyah merupakan bukti sejarah kejayaan umat karena khilafah. Namun bagi pengamat sejarah yang lain berpendapat sebaliknya, daulah Utsmaniyah sama sekali tidak menghukumi kaum muslimin dengan syariat Allah, kecuali dalam kaum muslimin yang tinggal di negeri mereka sendiri, dan itupun hanya sesuai dengan madzhab hanafi.

Bahkan daulah Utsmaniyah telah menjadi pelindung bagi bid’ah dan kesyirikan.

Lebih dari itu, raja terakhir dari daulah ini, Sultan Abdul Hamid II telah menjadikan Muhammad As Shayadi –pemimpin thariqoh Ar Rifa’iyah- sebagai penasehat utama kerajaan. (lih. Ar Rad ‘Ala Hizb. Karya Abdur Rahman bin Muhammad Sa’id Ad Dimsyaqi, hal. 71 & 72).

Ringkasnya, semata klaim sejarah bukanlah bukti utama untuk menegakkan satu prinsip dakwah. Bahkan klaim sejarah bukanlah bukti untuk menunjukkan realita. Namun bukan berarti kita menolak sejarah seutuhnya. Bahkan jika itu realita, kita terima seutuhnya. Akan tetapi selayaknya kita jadikan Al Qur’an dan Hadis sebagai acuan utama untuk menegakkan prinsip dakwah.

Mari kita pegangi dua prinsip di atas baik-baik, untuk memberikan jawaban yang tepat dan bijak terhadap permasalahan khilafah. Kita tetapkan jalan menuju kejayaan umat islam hanya satu, yaitu jalan yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadis.

Oleh karena itu, jika meneriakkan prioritas khilafah adalah SESUAI DENGAN KORIDOR Al Qur’an dan Hadis maka mari kita sepakati bahwa Khilafah adalah JALAN SATU yang ditegaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai jalan keselamatan.

Sebaliknya, jika memprioritaskan khilafah bukanlah jalan menuju kejayaan umat sebagimana yang DIGARISKAN Al Qur’an dan hadis maka berarti jalur ini termasuk diantara jalan menyimpang yang didiami setan.

Tinjauan Al Qur’an, Hadis dan Realita Sejarah

Penjelasan masalah ini bisa kita temukan dengan gamblang dalam Al Qur’an, Hadis, dan sejarah. Jika diantara kita ada yang merasa sulit untuk diajak menjawab masalah ini dengan Al Qur’an dan Al Hadis berdasarkan metode pemahaman ulama masa silam, mungkin bisa mempelajari REALITA SEJARAH kaum muslimin. Mudah-mudahan itu bisa memberikan jawaban yang menenangkan. Mengingat keterbatasan tempat, berikut hanya akan diberikan jawaban ringkas dan sederhana. Kami berharap semoga Allah menjadikannya bermanfaat.

Pertama, tinjauan dalil Al Qur’an

Tujuan utama Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul, dan Menurunkan kitab-kitabNya
Allah berfirman, yang artinya: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Allah berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwa tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku. Maka sembahlah Aku!” (QS. Al Anbiya’: 25).

Allah juga berfirman: “Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Agar kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 1-2).

Ibadah yang dilakukan oleh manusia tidak bisa dinamakan ibadah kepada Allah kecuali dengan meninggalkan pembatal-pembatal ibadah. Diantaranya adalah kesyirikan. Artinya, Ketika beribadah manusia dituntut untuk mentauhidkan Allah. Sebagaimana shalat tidak bisa disebut shalat keculai jika bersih dari pembatal shalat. Oleh karena itu, makna kata ibadah dalam ayat ini adalah adalah tauhid. Karena hakekat ibadah adalah menatuhidkan Allah dalam setiap menjalakan perintah dan larangan.

Khilafah adalah hadiah dari Allah bagi setiap orang yang bertauhid
Allah berfirman yang artinya: “Dan Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh bahwa Allah sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi (baca: mewujudkan khilafah) sebagaimana Allah telah memberikan kekuasaan kepada orang-orang sebelum kalian. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Dia ridhoi untuk mereka (Islam), dan Dia sungguh akan mengganti keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman. Mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apappun.” (QS. An Nur: 55).

Dalam tafsir Al Jalain dijelaskan bahwa Allah telah mewujudkan janjiNya kepada kaum muslimin (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat) dan Allah memuji mereka dengan firmanNya di akhir ayat di atas: “Mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun.” Maka ayat ini berstatus sebagai alasan kenapa Allah memberikan kekuasaan kepada mereka (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat).

Oleh karena itu, secara urutan manusia dituntut untuk menegakkan tauhid terlebih dahulu barulah kemudian Allah memberikan hadiah kepada kaum muslimin dengan diwujudkannya kekuasaan (khilafah) bagi mereka. Bukan sebaliknya, khilafah dulu baru semua penyimpangan diselesaikan.

Karena sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir di atas bahwa tauhid merupakan syarat mutlak suatu kaum itu mendapatkan khilafah. Dan demikianlah realita yang terjadi pada dakwahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah belasan tahun beliau mengajak umat kepada tauhid barulah Allah memberikan kekuasaan kepada beliau dan para sahabat tepatnya setelah mereka hijrah ke madinah.

Kedua, tinjauan dari dalil hadits

Oleh karena itu, dalam sejarah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tercatat bahwa beliau hanya mengajak umat untuk tunduk dan taat kepada Allah terutama tauhid. Tidak pernah sedikitpun mengajak umat untuk mendirikan daulah islam. Bahkan sebaliknya, beliau menolak semua tawaran orang-orang musyrikin Quraisy untuk menjadi raja Mekkah. Karena tujuan utama beliau bukanlah mencari kekuasaan namun mengajak manusia untuk memurnikan tauhid kepada Allah.

Dan demikianlah keadaan dakwah para rasul ‘alaihim as sholatu was salam mereka tidaklah hadir di masyarakatnya untuk memusnahkan daulah yang berkuasa di sana kemudian membangun daulah yang baru. Mereka tidak menuntut untuk dijadikan raja maupun penguasa. Namun mereka datang dengan membawa hidayah bagi umat manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kemusyrikan.

Bahkan beliau sendiri pernah ditawari oleh Rabnya (Allah ta’ala) dan diberi pilihan antara menjadi seorang rasul sekaligus raja ataukah menjadi seorang rasul yang statusnya hanya hamba biasa. Kemudian beliau memilih untuk menjadi rasul yang statusnya hanya hamba biasa. (sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Al Bukhari & Muslim).

Andaikan obsesi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menegakkan khilafah di muka bumi ini maka tentu beliau akan memenuhi tawaran orang kafir Quraisy atau bahkan tawaran Allah ta’ala untuk menjadi penguasa jazirah arab baru kemudian mendakwahkan tauhid. Ini menunjukkan bahwa sedikitpun beliau tidak berobsesi untuk menegakkan kekuasaan, namun obsesi beliau hanya satu, yaitu mengajak umat untuk berislam dengan mentauhidkan Allah sepenuhnya.

Ketiga, bukti sejarah bahwa kekuasaan bukanlah jaminan kemenangan

Sekali lagi, kita tidak menolak sejarah. Jika itu realita maka kita terima sepenuhnya. Berikut kami sisipkan beberapa realita sejarah bahwa kekuasaan tidaklah menjamin diterimanya dakwah.

Pertama, kisah raja Romawi yang sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, raja Heraklius. Disebutkan dalam shahih Al Bukhari hadis ke-7 di Bab “Bad’ul wahyi” bahwa setelah raja Heraklius menerima surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia paham betul bahwa beliau adalah Nabi akhir zaman setelah berdialog dengan salah satu orang Quraisy (Abu Sufyan) yang berdagang ke Syam dan membandingkannya dengan apa yang ada di injil. Kemudian Heraklius memerintahkan para pembesar-pembesar Romawi untuk berkumpul di Daskarah (istana yang dikelilingi benteng) yang berada di kota Hims.

Setelah semuanya masuk, dia perintahkan untuk menutup semua pintu istana. Kemudian Raja Nasrani ini berpidato: “Wahai masyarakat Romawi, siapa yang ingin mendapatkan kejayaan, kebenaran, dan kerajaan yang kokoh maka hendaknya dia membai’at Nabi ini.” Tiba-tiba para hadirin bubar berlarian seperti keledai liar menuju pintu-pintu istana. Namun ternyata semuanya tertutup. Setelah Heraklius melihat mereka pada berlarian dan dia putus untuk bisa mengajak mereka beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, raja ini meminta agar mereka berkumpul kembali. Kemudian dia berpidato: “Apa yang aku katakan barusan sesungguhnya hanyalah untuk menguji komitmen kalian terhadap agama kalian (nasrani).” Kemudian para hadirin bersujud pada Heraklius dan mau menerima keputusannya. Dan inilah akhir keadaan Heraklius.

Kedua, kisah raja Najasyi sang penguasa negeri Habasyah. Disebutkan dalam buku-buku siroh nabawiyah bahwa setelah Raja Najasyi mendengar keterangan tentang dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengar bacaan surat Maryam yang disampaikan oleh Ja’far (salah satu sahabat yang berhijrah ke Habasyah), beliau menangis dan masuk Islam.

Hanya saja Raja yang adil ini menyembunyikan Islamnya di hadapan para uskup-uskupnya. Oleh karena itu, Allah ta’ala tidak memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah. Para ahli sejarah menjelaskan analisis hal tersebut disebabkan:

a) Posisi rijaluddin (tokoh agama) nasrani yang cukup kuat dalam pemerintahan. Keadaan ini selanjutnya membuat mereka mampu menghalangi dakwah islam di tengah masyarakat Habasyah

b) Raja Najasyi, meskipun beliau itu raja yang adil dan telah masuk islam, namun beliau tidak mampu menunjukkan secara terang-terangan kepada rakyatnya bahwa beliau telah meninggalkan nasrani. Ini menunjukkan kelemahan hukumnya. Sehingga setinggi apapun posisinya tidak mampu mengubah Habasyah menjadi daulah islamiyah. (lih. Siroh Nabawiyah jilid I, Mediu)

Demikianlah pelajaran berharga dari keadaan dua raja tersebut. Kekuasaannya tidak mampu menampakkan aqidahnya. Berbeda dengan Fir’aun. Sebab utama dia mampu menguasai kaumnya disebutkan oleh Allah dalam firmannya, yang artinya: “dia menakut-nakuti kaumnya, sehingga mereka mentaati Fir’aun..” (QS. Zukhruf: 54).

Disebutkan dalam tafsir Jalalain bahwasanya Fir’aun menginginkan agar rakyatnya mendustakan Musa dengan menakut-nakuti mereka. Kemudian mereka-pun taat kepada Fir’aun. Mari kita bandingkan antara dua kasus di atas. Raja Najasyi dan Kaisar Romawi tidak mampu memaksakan aqidahnya karena sebelumnya dia tidak menyiapkan keadaan hati rakyatnya untuk menerima islam.

Berbeda dengan Fir’aun, dia berhasil menguasai rakyatnya dan memaksa mereka untuk mewujudkan keinginannya setelah sebelumnya dia menyiapkan keadaan hati rakyatnya agar meyakini bahwa tujuan Musa adalah mengusir kalian dari Mesir.

Bisakah kita bayangkan, ketika Allah mewujudkan khilafah bagi kaum muslimin, sementara kebanyakan mereka tidak paham syariat islam. Mungkinkah mereka akan menerima aturan syariat yang ditetapkan oleh khilafah? Mungkin bisa kita pastikan; yang ada hanyalah kudeta.

Bisa jadi ketika khalifah ingin menghilangkan kesyirikan, kemaksiatan, dan kebid’ahan, namun justru para pemuja kesyirikan, bid’ah dan maksiat akan melawan. Dengan kekuatan apa khilafah akan memaksa, sementara kelompok mereka (pemuja syirik, bid’ah dan maksiat) jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang memahami syariat.

Atau… mungkin dengan alternatif yang kedua. Sistem Khilafah membiarkan sepenuhnya setiap kegiatan keagamaan rakyatnya meskipun itu sarat dengan syirik, khurafat, dan bid’ah. Karena yang penting rakyat bisa tenang, sehingga bersama-sama rakyat bisa menggulingkan kekuasaan hegemoni orang yahudi & nasrani.

Membiarkan rakyatnya bergelimang dengan kesyirikan selama hukum hudud (seperti potong tangan, qisos, cambuk, dst.) ditegakkan? Demikiankah sistem khilafah yang diinginkan? Dengan tegas kita katakan: “Sistem ini bukan sistem khilafah islam!!!” ini sistem khilafah syirkiyah bukan islamiyah.

Belum lagi ketika khilafah ini berdiri, sementara banyak masyarakat masih ambisi untuk meraih jabatan… apa yang terjadi? Tidak lain adalah perebutan kekuasaan.. dari mana kaum muslimin bisa bersatu.

Lalu mana yang lebih penting… berdakwah mengajak umat untuk membenahi agama mereka dengan menyempurnakan tauhid mereka masing-masing, ataukah… mengajak semua elemen untuk menegakkan khilafah tanpa peduli bagaimana aqidah mereka?

Jika tujuannya untuk memahamkan rakyat dengan syariat maka harusnya yang pertama kali dilakukan adalah mendahulukan mengajarkan syariat islam sebelum mengajarkan fiqih politik. Kita mengkhawatirkan, jangan-jangan obsesi menggalang umat untuk mewujudkan khilafah ini hanyalah akan menjadi angan-angan belaka yang tidak mungkin terwujudkan selama kita membiarkan umat islam masih bergelimang dengan syirik, bid’ah dan maksiat. Mari kita renungkan perkataan para ulama:
“Siapa yang menginginkan sesuatu sebelum waktunya maka dia dihukum dengan tidak mendapatkannya”

Bahaya Sikap Lebih Mengutamakan Penegakan Khilafah Di Atas Lainnya

Ada beberapa konsekwensi negatif ketika seseorang itu berlebih-lebihan terhadap khilafah. Diantaranya:

Menganggap semua oknum yang tidak memiliki andil dalam penegakan khilafah sebagai orang sesat. Jika dia mati maka mati dalam keadaan membawa aqidah jahiliyah. Atau dengan bahasa yang lebih kasar, mati kafir. Diantara dalil yang digunakan untuk menguatkan anggapan ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang berpisah dari jama’ah (mereka maknai dengan khilafah) maka dia mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyah.” (HR. Al Bukhari). Karenanya siapa saja yang tidak mau gabung dengan khilafah, atau tidak ikut andil dalam menegakkan khilafah (karena khilafah belum berdiri) maka dia mati seperti matinya orang jahiliyah. Yang benar, hadis ini sama sekali tidak menunjukkan makna di atas. Karena yang dimaksud keluar dari jamaah adalah memberontak kepala negara kaum muslimin yang sah. Sedangkan yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati dalam keadaan bermaksiat bukan mati kafir. (lih. Fathul Bari 20/58).
Meremehkan dosa besar atau bahkan kekafiran. Setelah Khumaini berhasil memberangus rezim Reza Pahlevi, datanglah beberapa utusan dari kelompok yang gemar memprioritaskan khilafah untuk menemui Khumaini dan menawarkan penegakan khilafah kepadanya. (lih. Majalah Al Khilafah At Tahririyah, edisi 18 bulan Agustus 1989). Disamping itu, kelompok ini juga sempat memuji tulisan Al Khumaini yang berjudul Al Hukumah Al Islamiyah, dimana pada tulisan ini ditegaskan Khumaini bahwa Imam (Khalafah) itu lebih utama dibandingkan malaikat atau para nabi. (lih. Majalah Al Wa’i At Tahririyah edisi 26, tahun ke-3 Dzul Qo’dah 1409). Padahal para ulama telah menyatakan kafirnya orang yang beranggapan: “para imam lebih utama dibandingkan para nabi.” (lih. Pernyataan Syaikhul Islam dan beberapa ulama lainnya sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar Al Haitami dalam Al I’lam bi Qowathi’il Islam).
Ditambah lagi keadaan orang-orang syi’ah yang mencela para sahabat, menghina para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengkultuskan ahli bait, menyimpangkan Al Qur’an dan beberapa penyelewengan syi’ah yang keterlaluan lainnya, bagi kelompok khilafah itu bukan masalah besar. Itu masalah kecil dalam pandangan mereka jika dibandingkan dengan masalah penegakan khilafah. Bukankah ini berarti merelakan untuk mengorbankan aqidah yang benar demi tegak dan kembalinya khilafah.
Menganggap ajaran agama terbagi dua; bagian inti dan kulit. Kenyataan lain ketika terlalu ambisi terhadap khilafah. Mereka menggolongkan ke dalam dua golongan. Bagian inti dan kulit. Setiap masalah penting bagi mereka digolongkan sebagai inti agama, sementara masalah yang kurang penting bagi mereka digolongkan bagian kulit, meskipun hakikatnya itu dosa besar. Akibatnya, ketika diingatkan bahaya bid’ah, atau ancaman untuk orang-orang yang celananya menyelisihi syariat, atau masalah wanita terjun ke jalan, mereka menganggap itu masalah kurang penting. Karena lebih penting menjaga perasaan masyarakat agar mau menerima dakwah mereka ketimbang mengingatkan mereka yang justru membuat mereka lari.
Munculnya obsesi kekuasaan sehingga tega untuk mencela ulama. Setelah mereka terkesima dengan sejarah khilafah daulah Utsmaniyah, mereka merasa terpukul berat dengan runtuhnya daulah ini. Sehingga tidak heran, ada sebagian di antara mereka yang memperingati tanggal mulai runtuhnya daulah Utsmaniyah dalam rangka mengenang sejarah berakhirnya khilafah bagi mereka. Sayangnya, kesedihan ini membuahkan satu sikap yang kurang tepat. Setelah meruntut sekian penyebab runtuhnya daulah Utsmaniyah mereka berkesimpulan bahwa salah sebab runtuhnya daulah ini adalah dakwah tauhid yang digencarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang bekerja sama dengan inggris. Abdul Qodim Zalum mengatakan: “Sesungguhnya tentara inggris telah membantu mereka (dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) dengan senjata dan harta untuk membangun asaa madzhab, mereka menginginkan untuk menguasai Karbala dan kuburan Al Hasan. Dan ketika kota Madinah sudah jatuh ke tangan mereka, merera hendak merobohkan kubah besar yang menaungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan masalah ini telah banyak diketahui, bahwa penyebab semua ini adalah Wahabiyah, anteknya inggris.” (lih. Kaifa Hudimat Al Khilafah hal. 10-12 karya Abdul Qodim Zalum, cet. 1962).
Perkataan Salah Satu Tokoh Pergerakan

Berikut perkataan salah satu tokoh da’i pergerakan, yang kebanyakan pengikutnya mendambakan tegaknya khilafah. Dalam kesempatan kajian di Darul Hadis di Mekkah, beliau juga pernah ditanya:
Isi pertanyaan:

Sebagian mengatakan bahwa islam akan kembali jaya dengan hakimiyah (khilafah), sebagian yang lain mengatakan islam akan kembali jaya melalui jalur pelurusan aqidah dan tarbiyah jamaah. Manakah yang benar?

Beliau menjawab:

“Dari manakah datangnya kekuasaan (khilafah) agama ini di muka bumi jika tidak ada da’i-da’i yang mengajak untuk meluruskan aqidah dan beriman dengan iman yang benar. Kemudian mereka diuji dalam beragama dan mereka bersabar, mereka juga berjihad di jalan Allah. Kemudian hukum agama Allah akan ditegakkan di bumi. Satu permasalahan yang sangat jelas sekali. Hakim (Khalifah) tidaklah datang dari langit, tidak pula turun dari langit. Segala sesuatu datang dari langit namun dengan usaha keras manusia. Allah tetapkan hal ini untuk manusia. Allah berfirman yang artinya: “Andaikan Allah menghendaki Allah akan menolong kalian dari (kejahatan) mereka (orang kafir). Namun Allah menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain..” (QS. Muhammad: 4). Maka wajib kita awali dengan meluruskan aqidah dan mendidik generasi dengan aqidah yang benar. Generasi yang akan diuji kemudian mereka mampu bersabar atas ujian, sebagaimana bersabarnya generasi yang pertama.” (Dikutip dari kitab: Minhaj Al Firqoh An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Terakhir kami akhiri tulisan ini dengan kutipan pidato salah satu da’i pergerakan internasional. Perkataan ini kami letakkan di akhir tulisan ini dengan harapan bisa menjadi kesimpulan bagi pembahasan di atas. Kami hanya bisa mengharapkan, andaikan pengikut beliau menuruti apa yang beliau sampaikan.

“Tegakkanlah daulah islam di hati kalian masing-masing, niscaya daulah ini akan tegak di bumi kalian”

==========================

sumber : http://buletin.muslim.or.id/manhaj/tauhid-dulu-ataukah-khilafah

Barokallohufiikum !

LEBIH PENTING KHILAFAH ATAUKAH DAKWAH TAUHID ??

Tauhid Dulu, Atau Khilafah ?
Renungan Bagi Pendamba Khilafah .


Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.

Terkadang muncul celetukan di antara mereka, “Kalian ini ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”.

Atau yang lebih halus lagi berkata, “Agenda kita sekarang bukan lagi masalah TBC -takhayul, bid’ah dan churafat-, sekarang kita harus lebih perhatian terhadap agenda kemanusiaan.”

Atau yang lebih cerdik lagi berkata, “Kalau kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka, yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”. Allahul musta’aan…

Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?

Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepada mereka, bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)

Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, apabila kamu berbuat syirik maka benar-benar semua amalanmu akan terhapus, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65).

Lebih daripada itu, kemusyrikan -sebagai lawan dari tauhid- menjadi sebab seorang hamba terhalang  masuk surga untuk selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, seluruhnya adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama kali pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163).

Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka sepanjang hayat masih dikandung badan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.” (QS. al-Hijr: 99).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu). Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?

Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!

Seruan semacam ini sering kita dengar. Dan banyak sekali kalangan yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah ta’ala, yaitu jalan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).

Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!

Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan hak Allah ta’ala, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad raya. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang lainnya. Beliau  bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu). Namun, jangan disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama sekali tidak!

Jangan Bicara Masalah Bid’ah!

Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka, bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit. Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin, dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu  akan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan oleh agama.

Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha).

Sebagian ulama salaf juga berkata, “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih ada kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah, maka sulit diharapkan taubat darinya.” Selain itu, sebagaimana kita yakini pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak boleh serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.

Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan yang berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam khutbatul hajah di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap bahwa orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan mujahid!

Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan perjuangan serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus mereka tanggung di jalan dakwah ini.

Maka apabila kita telah mengetahui itu semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak menempuh jalan ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu maknanya dia telah berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena ‘pengkhianatannya’ itulah statusnya akan berubah dari seorang da’i ilallah -orang yang mengajak kepada Allah- menjadi da’i ila ghairillah -orang yang mengajak kepada selain Allah-! Nas’alullahas salamah

Jangan Merasa Paling Benar!

Sebagian orang ketika ditegur dan diingatkan untuk meninggalkan atau menjauhi perkara-perkara yang menyimpang dari agama -karena bertentangan dengan al-Qur’an ataupun as-Sunnah- dengan ringannya mengucapkan perkataan semacam itu. Entah penyimpangan itu terkait dengan aqidah, ibadah, ataupun masalah yang lainnya. Entah itu termasuk dalam kategori syirik, kekafiran, kebid’ahan ataupun kemaksiatan yang lainnya.

Belum lagi, jika orang tersebut memiliki sedikit ‘ilmu’ dan wawasan, maka dengan sigapnya dia akan ‘memperkosa’ dalil demi melanggengkan tindakannya yang keliru. Keras kepala, itulah sifat yang melekat dalam dirinya. Kalau dicermati lebih dalam, justru ternyata sikapnya yang tidak mau menerima nasehat dan teguran itu merupakan bentuk kesombongan dan ekspresi perasaan diri yang paling benar [!], Wal ‘iyadzu billah…

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. an-Nisaa’: 59).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu -Muhammad- sebagai hakim atas segala perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’: 65).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat, untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu).

Tauhid Sudah Ada di Dada-Dada Manusia!

Sebagian orang mengucapkan perkataan semacam ini, sehingga secara sadar ataupun tidak dia telah menjauhkan manusia dari dakwah tauhid. Berangkat dari asumsi yang salah itulah maka mereka tidak lagi memberikan porsi besar bagi dakwah tauhid. Mereka pun beralih ke kancah perpolitikan ala Yahudi dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang menyeret mereka dalam kehinaan.

Apabila dikaji sebabnya, maka hanya ada dua kesimpulan; mungkin karena ketidaktahuannya sehingga dengan mudahnya dia berkata demikian, atau karena dia mengetahui kebenaran namun sengaja berpaling darinya. Dan keduanya ini apabila menimpa seorang yang digelari sebagai da’i, ustadz ataupun murabbi merupakan realita yang sangat pahit sekali. Oleh sebab itu, kita perlu meluruskannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid bukan sekedar ucapan la ilaha illallah yang tidak diiringi dengan konsekuensinya. Orang-orang munafikin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan la ilaha illallah, akan tetapi mereka divonis akan menempati kerak neraka yang paling bawah. Hal itu tidak lain karena mereka tidak jujur dalam mengucapkannya.

Tauhid juga bukanlah sekedar keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan serta yang melimpahkan rezki, bukan itu saja! Sebab apabila memang itu tauhid yang dimaksud oleh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya beliau tidak perlu mengobarkan peperangan kepada kaum kuffar Quraisy yang telah mengimani perkara-perkara itu.

Jangan Runtuhkan Persatuan!

Apabila para da’i berbicara tentang tauhid dan membantah berbagai macam bentuk kemusyrikan yang ada serta menjelaskan sunnah dan membongkar berbagai macam bentuk bid’ah yang merajalela, maka bangkitlah sebagian orang dengan semangat bak pahlawan seraya berteriak,

“Mengapa kalian sibukkan umat dengan urusan semacam ini? Umat akan terpecah belah akibat dakwah kalian.”

Inilah komentar-komentar sinis yang mereka lontarkan. Padahal, kita telah mengetahui bersama bahwa persatuan kaum muslimin yang hakiki -yang dengannya mereka akan selamat di hadapan Rabbnya- adalah persatuan di atas tauhid dan sunnah, bukan persatuan di atas syirik dan bid’ah!

Orang-orang yang gemar menebar syirik dan bid’ah -dengan dipoles berbagai macam hiasan- maka mereka itulah sesungguhnya gerombolan pemecah belah dan pengacau persatuan!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka niscaya Kami akan biarkan dia terombang-ambing di atas kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidak akan bermanfaat harta dan keturunan, melainkan bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- orang-orang yang -dahulu ketika di dunia- saling berkasih sayang berubah menjadi saling memusuhi, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

Allah ta’ala juga berfirman mengenai seruan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, Dialah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia -saja-. Inilah jalan yang lurus.” (QS. az-Zukhruf: 64).

Allah ta’ala berfirman tentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain itu, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia perintahkan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-An’aam: 153)

Khilafah, Itu Solusinya!

Sebagian gerakan Islam yang telah kehilangan arah dan lalai dari misi dakwah para rasul sangat getol mendengung-dengungkan slogan ini. Menurut mereka, tanpa khilafah berarti tiada syari’ah. Tanpa khilafah, kaum muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah khilafah sebagai target perjuangan dan misi utama dakwah mereka. Tidak ada satupun problema di masyarakat atau negara melainkan  mereka sangkut-sangkutkan dengan khilafah dan politik kekuasaan.

Mereka menuding para da’i tauhid sebagai da’i kampungan yang tidak bisa bicara kecuali masalah-masalah sepele. Tidak bisa mengatasi masalah bangsa, tidak punya visi ke depan demi kejayaan umat, dan lain sebagainya.

Padahal, kita semua tahu bahwa bangunan umat ini tidak akan tegak dan kokoh kecuali di atas aqidah yang kuat dan murni. Seorang muslim dengan aqidah yang kokoh akan dengan sukarela menerapkan syari’ah dalam kehidupannya sekuat kemampuannya, meskipun misalnya ternyata khilafah belum mampu mereka wujudkan karena kondisi umat yang masih berlumuran dengan kotoran-kotoran keyakinan dan bid’ah yang sedemikian luas menjangkiti anak bangsa dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan melindas lembaran sejarah sedemikian lama.

Perubahan ini membutuhkan proses yang bertahap, tidak bisa terjadi secara tiba-tiba seperti membalikkan telapak tangan begitu saja.

Hal ini dapat kita saksikan dalam individu-individu kaum muslimin. Yang mana perubahan menjadi baik itu memerlukan proses dan tahap yang tidak sebentar. Nah, bagaimana lagi dengan sekelompok orang yang memiliki beragam problema, sebuah negara, apalagi kumpulan negara dengan jutaan masalah yang menghimpit warga negara mereka masing-masing?

Tentu merubahnya tidak cukup dengan teriakan dan slogan semata. Kembali kepada syari’ah tidak seratus persen bergantung pada khilafah. Betapa banyak syari’at yang bisa diterapkan oleh seorang individu umat ini, sebuah keluarga atau sekumpulan orang tanpa perlu menunggu tegaknya khilafah. Tidak ada yang salah dalam merindukan khilafah, akan tetapi tatkala khilafah menjadi tujuan dan cita-cita dakwah maka silahkan anda jawab sendiri pertanyaan ini; Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah menegakkan tauhid?

Dari situlah perlu kita camkan wahai saudaraku, bahwa tidak akan berhasil upaya apapun yang ditempuh oleh gerakan mana saja selama mereka lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti jejak para pendahulu mereka.

Imam Malik rahimahullah telah mengingatkan, “Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan hal itu gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan sebab Kitab ini -al-Qur’an- dan akan menghinakan sebagian kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Sungguh benar ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak berhasil mendapatkannya.” Betapa banyak orang yang mengira dirinya pejuang Islam, mujahid dakwah, da’i kebenaran, namun ternyata mereka salah jalan dan justru menjadi musuh Islam dari dalam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia akan tetapi mereka mengira bahwa mereka telah melakukan kebaikan yang sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)

Saudaraku, betapa banyak rumah yang roboh bukan karena tiupan angin kencang ataupun terpaan banjir bandang. Akan tetapi ia roboh karena pondasinya yang tidak kokoh, karena pilar-pilarnya yang begitu lemah, tidak kuat menopang dinding dan atap serta barang-barang berat yang ada di dalamnya, sehingga tatkala getaran kecil gempa menyapa maka luluh lantaklah seluruh sendi-sendinya dan runtuhlah rumah itu menimpa pemiliknya!

Maka demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengimpikan kekuasaan dan khilafah namun menyingkirkan agenda terbesar umat Islam yang sesungguhnya. Jadi, sepenting apakah tauhid itu? Kini anda telah bisa menjawabnya.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel http://www.muslim.or.id

sumber : http://muslim.or.id/manhaj/lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid.html

Barokallohufiik !

SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN KAUM KHAWARIJ

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berusaha menganalisa faktor-faktor penyebab munculnya bid’ah Khawarij dan berusaha menjelaskan cara-cara setan dalam menjerat mereka. Salah satunya adalah dengan menjadikan bid’ah yang mereka lakukan seolah-olah bagus dan indah serta layak diikuti dan diterima. Sehingga harus dibela dengan pedang oleh imam beserta jama’ah mereka.

Berikut ini akan kami sebutkan beberapa faktor yang dipaparkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang merupakan sebab penyimpangan dan kesesatan kaum Khawarij. Sekaligus faktor penyebab berkembangnya bid’ah mereka di tengah-tengah manusia.

1.Sikap Wara’ Yang Semu Sebagai Akibat Dari Kedangkalan Ilmu Mereka.

Banyak sekali orang yang bersikap wara’ terhadap hal-hal tertentu. Namun di lain pihak justru meninggalkan perkara-perkara yang diwajibkan atas mereka. Diantara mereka ada yang melakukan perkara-perkara syubhat dengan berpijak kepada persangkaan dusta belaka. Ironinya mereka menganggap hal itu sebuah kewara’an, disebabkan karena kedangkalan ilmu dan piciknya pemahaman mereka. Hingga mereka jadikan sebagai sesuatu yang harus diikuti layaknya sebuah syariat.

Disebabkan sikap wara’ semu yang ditunjukkan oleh kaum Khawarij tersebut, seperti berlebih-lebihan dalam menyikapi perkara kezhaliman dan kemaksiatan, dan keyakinan mereka yang keliru tentang ancaman Allah yang pasti ditepati-Nya dan tidak akan dipungkiri. Akibatnya mereka malah meninggalkan kewajiban mentaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan berhukum kepada sunnah beliau dalam masalah vonis memvonis. Serta meninggalkan kewajiban berlaku belas kasih terhadap kaum mukminin. Sehingga mereka jatuh ke dalam bid’ah yang besar! Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela dan memerintahkan untuk memerangi mereka.

Berkaitan dengan perkara di atas Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (XX/140): “Sikap wara seperti itu telah menjerumuskan pelakunya ke dalam bid’ah yang besar. Sama halnya sikap wara’ yang ditunjukkan oleh kaum Khawarij, Syi’ah Rafidhah, Mu’tazilah dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya. Mereka bersikap wara’ secara berlebihan terhadap kezhaliman atau sesuatu yang mereka anggap kezhaliman dengan menjauhi orang-orang yang berbuat zhalim, sayangnya mereka justru meninggalkan kewajiban yang dibebankan atas mereka, seperti shalat jum’at, shalat jama’ah, haji, jihad dan memberi nasehat serta berlaku kasih sayang kepada kaum muslimin. Orang-orang yang bersikap wara’ seperti itulah yang disanggah oleh para imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti imam yang empat. Mereka menyebutkan hal ini dalam deretan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Kemudian belaiu menjelaskan bahwa sikap wara’ yang semu ini hanya akan dapat diperbaiki dengan ilmu yang memadai, pemahaman yang mapan dan rasa kasih sayang yang dalam. Beliau berkata dalam kitab Al-Majmu’ (XX/141-142):

“Oleh sebab itu seorang yang wara’ membutuhkan ilmu yang cukup tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dan pemahaman dalam agama. Jika tidak maka sikap wara’nya itu lebih banyak mendatangkan kerusakan daripada maslahat. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kafir, ahli bid’ah, Khawarij, Rafidhah dan lain-lain.

Wara’ yang dianjurkan oleh syariat -yang justru dilanggar oleh kaum Khawarij- adalah:

Harus melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram.
Perbuatannya harus sesuai dengan sunnah nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Harus dalam lingkupan rasa takut dan pengharapan.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam Majmu’ Fatawa (XX/110-111): “Contohnya adalah kaum Al-Wa’idiyah dari kalangan Khawarij dan sejenisnya, yang menanggapi perkara maksiat dan larangan secara berlebihan. Dalam hal mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan mengagungkannya mereka sudah baik, namun sayangnya hal itu mereka lakukan di atas dasar menyelisihi sunnah nabi dan atas dasar pengingkaran mereka terhadap kewajiban mengasihi kaum mukminin meskipun melakukan dosa besar.”

  1. Menyamaratakan Antara Kesalahan Dan Dosa.

Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa pemabahasan tentang status hukum seorang muslim yang fasik merupakan sebab pertama terjadinya bid’ah di dalam agama. Kaum Khawarij berkata: “Orang fasik itu hukumnya kafir” mereka meyakini kebenaran infadzul wa’id (kebenaran ancaman Allah terhadap orang-orang fasik), menurut mereka maknanya adalah: “Orang-orang fasik kekal dalam neraka dan tidak akan dapat keluar darinya dengan syafaat atau dengan yang lainnya.” Hal itu hanya untuk menetapkan bahwa Allah benar-benar menepati janji dan tidak memungkirinya. Menurut mereka bila ancaman bersifat umum telah dikeluarkan maka akan terhitung pengingkaran apabila tidak membenarkannya. Mereka keliru dalam memahami sebuah ancaman. Mereka samakan antara dosa dan ancaman dengan kesalahan.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XXXV/69-70): “Kelompok-kelompok sesat menyamaratakan antara kesalahan dan dosa. Kadangkala mereka bersikap berlebihan dalam masalah ini. Ada yang berkata: “Orang-orang itu ma’shum!” Dan sebagian lagi berkata: “Orang-orang itu termasuk pembangkang karena kesalahan yang dilakukannya!” Ahli ilmu bukanlah orang yang ma’shum dan bukan pula orang yang tidak berdosa.
Faktor inilah yang banyak melahirkan kelompok-kelompok bid’ah dan menyimpang. Sebagian kelompok tersebut ada yang mencaci dan melaknat Salafus Shalih dengan alasan mereka telah melakukan dosa dan pelaku dosa tersebut berhak dilaknat. Bahkan mereka tidak segan menjatuhkan vonis fasik atau kafir terhadap Salafus Shalih. Sebagaimana dilakukan oleh kaum Khawarij yang mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan orang-orang yang mendukung mereka berdua, mengutuk dan mencaci mereka dan menghalalkan darah mereka…!”

  1. Kesalahan Dlam Memahami Dalil.

Kesalahan ini tampak lebih jelas dalam memahami nash-nash berisi ancaman dan beberapa masalah yang berkaitan dengan pengkafiran kaum muslimin. Demikian pula dalam memahami nash-nash tentang amar ma’ruf nahi mungkar dan beberapa hal yang berkenaan dengan pembangkangan dan perlawanan terhadap penguasa.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Dar’u Ta’arudhi Al-Aql wan Naql (I/141) berkata: “Kaum Khawarij yang mentakwil secara keliru ayat-ayat Al-Qur’an dan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka lebih baik keadaannya dari pada mereka (kaum Jahmiyah). Sebab kaum Khawarij tersebut menjatuhkan vonis kafir atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya saja mereka keliru dalam memahami nash Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut. Adapun kaum Jahmiyah menjatuhkan vonis kafir atas dasar ucapan yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya.”

  1. Kesalahan Dalam Menetapkan Wasilah Dan Target.

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu perintah syariat yang memiliki kaidah-kaidah, batasan dan wasilah tertentu. Kaum Khawarij -disebabkan berpalingnya mereka dari Sunnah nabi- justru memutarbalikkan perkara, mereka jadikan perkara ma’ruf sebagai perkara mungkar dan perkara mungkar sebagai perkara ma’ruf. Bahkan mereka tidak mengetahui wasilah amar ma’ruf nahi mungkar, mana saja mendatangkan maslahat dan mana saja yang tidak mendatangkan maslahat. Mereka keliru dalam menetapkan wasilah dan menentukan target.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’Fatawa (XXVIII/128) ketika mengulas kesalahan yang dilakukan manusia berkaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar berkata: “Kelompok kedua: Orang-orang yang ingin menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lisan ataupun dengan tangan (kekuatan) secara membabi buta tanpa bimbingan ilmu, sikap santun, kesabaran dan tanpa mempertimbangkan mana yang mendatangkan maslahat dan mana yang tidak, mana yang sanggup dilakukan dan mana yang tidak. ia melakukan amar ma’ruf atau nahi mungkar dengan anggapan bahwa ia sanggup melakukannya demi membela agama Allah dan sunnah rasul-Nya, sayangnya ia malah melanggar batasan-batasan syariat. Sebagaimana hal ini banyak dilakukan oleh ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu, seperti kaum Khawarij, Mu’tazilah, Rafidhah serta kelompok-kelompok bid’ah lainnya yang keliru dalam menegakkan jihad beramar ma’ruf nahi mungkar. Akibatnya kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahatnya. Oleh sebab itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar bersabar terhadap kezhaliman para penguasa dan melarang memerangi mereka selama mereka masih menegakkan shalat. Beliau bersabda:

أَدُّوا إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ وَ سَلُوْا اللهَ حُقُوْقَكُمْ

Tunaikanlah hak-hak mereka dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian”
Kami telah beberapa kali menjelaskan hal ini panjang lebar di tempat lain.”

  1. Kesalahan Dalam Menempatkan Dalil Dan Kandungan Dalil Tersebut.

Kaum Khawarij ini biasanya meyakini sebuah pendapat terlebih dahulu baru mencari-cari ayat Al-Qur’an yang dikira mendukung pendapat tersebut. Sementara tidak ada pendahulu bagi mereka dari kalangan sahabat maupun generasi yang mengikuti mereka dengan baik. Dan tidak pula dari kalangan para imam yang mendukung pendapat atau penafsiran mereka tersebut. Dalam hal ini mereka memakai dua metodologi:

Mementahkan kandungan nash-nash Al-Qur’an.
Menempatkan nash-nash tersebut tidak pada tempatnya.
Maka kesalahan mereka terpulang kepada dua perkara: kesalahan mereka dalam meyakini keyakinan-keyakinan batil dan kesalahan mereka dalam cara menetapkan keyakinan-keyakinan batil tersebut.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (XIII/356): “Orang-orang yang keliru dalam menetapkan dalil dan kandungan yang terdapat dalam dalil -seperti kelompok-kelompok ahli bid’ah- meyakini sebuah pendapat yang menyelisihi kebenaran yang diyakini oleh umat ini yang tidak akan bersepakat di atas kesesatan, dari kalangan Salaful Ummah dan para imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka membawakan ayat-ayat Al-Qur’an namun memahaminya dengan pendapat akal mereka.

Kadang kala mereka membawakan beberapa ayat Al-Qur’an untuk mendukung keyakinan mereka padahal ayat tersebut bukanlah dalil yang mendukungnya. Dan kadang kala mereka mentakwil dalil-dalil yang menyelisihi pendapat mereka dengan memalingkan dalil tersebut dari makna yang sebenarnya. Diantara kelompok itu adalah Khawarij, Rafidhah, Jahmiyah , Mu’tazilah, Qadariyah, Murjiah dan lainnya.”

PEMBAHASAN KELIMA : EKSES-EKSES NEGATIF BID’AH KHAWARIJ

Ekses negatif yang ditimbulkan bid’ah Khawarij tidak hanya menyentuh persoalan aqidah saja, bahkan juga menyentuh persoalan ibadah dan mua’malah yang berakibat langsung kepada kehidupan dan aktifitas kaum muslimin. Ekses-ekses negatif tersebut dapat kita simpulkan sebagai berikut:

Pertama : Pemberontakan Bersenjata Terhadap Imam-Imam Yang Berada Di Atas Petunjuk Dan Jama’ah Kaum Muslimin Serta Penguasa Mereka.

Ini merupakan ekses negatif yang paling berbahaya yang ditimbulkan oleh bid’ah Khawarij. Yang juga dapat mengakibatkan kerusakan dien dan dunia.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XIII/35): “Kedua kelompok tersebut (yaitu Rafidhah dan Khawarij) menghujat bahkan mengkafirkan penguasa kaum muslimin. Mayoritas Khawarij mengkafirkan Utsman dan Ali Radhiyallahu anhuma serta orang-orang yang mendukung mereka berdua. kaum Rafidhah melaknat Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum serta orang-orang yang mendukung mereka. Akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan oleh Khawarij lebih nyata lagi, berupa pertumpahan darah, perampasan harta, pemberontakan bersenjata, oleh sebab itu dalam beberapa hadits shahih disebutkan perintah untuk memerani mereka. Hadits-hadits yang berisi celaan dan perintah memerangi mereka sangat banyak sekali. Hadits-hadits tersebut mutawatir menurut Ahli Hadits, seperti halnya hadits ru’yah, azab kubur, hadits-hadits yang menjelaskan tentang adanya syafaat dan haudh (telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Kedua : Kebencian Mereka Terhadap Kaum Muslimin, Pengkafiran, Hujatan Dan Laknat Serta Penghalalan Darah Dan Harta Kaum Muslimin.

Setelah menyebutkan dua perkara di atas Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh sebab itu setiap muslim harus berhati-hati terhadap dua perkara di atas, dan juga seluruh perkara yang dapat menimbulkan kebencian terhadap kaum muslimin, hujatan, laknat dan penghalalan darah serta harta mereka….”

Ketiga : Menganggap Negeri Kaum Muslimin Sebagai Darul Kufur Dan Harb (Negeri Kafir Dan Boleh Diperangi). Dan Menganggap Negeri Merekalah Darul Hijrah.

Sikap seperti ini merupakan akibat dari bid’ah mereka. Hingga mereka anggap halal menumpahkan darah kaum muslimin dan merampas harta mereka. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Kitab Majmu’ Fatawa (XIX/73) berkata: “Perbedaan kedua antara Khawarij dengan ahlu bid’ah yang lain adalah: Kaum Khawarij ini mengkafirkan orang yang berbuat dosa dan kesalahan. Dan atas dasar itu mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta mereka. Dan menganggap negeri kaum muslimin sebagai darul harb sementara negeri mereka adalah darul iman……”

Dalam bagian lain ketika membahas perbedaan antara Khawarij dengan Mu’tazilah (Majmu’ Fatawa XIII/98) beliau menambahkan: “Mereka sangat menjaga kejujuran, seperti halnya Khawarij. Mereka tidak membuat-buat dusta seperti halnya kaum Rafidhah. Dan mereka juga berpendapat bahwa tidak boleh bernaung kecuali di negeri Islam, sebagimana halnya kaum Khawarij……”

Catatan:

Lebih parah lagi, kaum Khawarij ini sengaja berhijrah ke Darul Kufur dan menetap di sana dengan dalih:

Mereka tidak bisa sabar terhadap kezhaliman para penguasa muslim.
Mereka lebih banyak menyerang negeri Islam daripada negeri kufur. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (III/355): “Kaum Khawarij ini mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka. Menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengan mereka dengan tuduhan telah murtad menurut mereka. Suatu hal yang justru tidak mereka terapkan terhadap orang yang benar-benar kafir. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:
يَقْتُلٌوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَ يَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

“Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala”

Keempat : Mereka Mengkafirkan Orang Yang Menyelisihi Mereka Dan Memaksa Orang Lain Untuk Mengikuti Bid’ah Mereka.

Ini merupakan perkara yang hampir dapat ditemui pada selurh kelompok-kelompok yang menyelisihi sunnah, ahli bid’ah dan para pengikut hawa nafsu. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (III/279): “Kaum Khawarij merupakan kelompok bid’ah pertama yang mengkafirkan kaum muslimin, mengkafirkan orang karena berbuat dosa besar, mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.”

Itulah keadaan ahli bid’ah yang mengada-adakan bid’ah dan mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah tersebut. Sementara Ahlu Sunnah wal Jama’ah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, mentaati Allah dan rasul-Nya, mengikuti kebenaran dan berlaku belas kasih terhadap manusia.”

Kaum Khawarij mendasari bid’ah mereka dengan prinsip-prinsip bid’ah, persatuan ala hizbiyah serta pemikiran-pemikiran sesat.

Disamping itu mereka juga selalu mengamat-amati situasi dan kondisi yang berkembang dan peristiwa-peristiwa yang terjadi guna mempersiapkan tempat yang layak mereka jadikan pangkalan demi mewujudkan tujuan mereka. Oleh sebab itu aksi mereka tersebut terpusat pada point-point berikut ini:

  1. Menisbatkan diri kepada nama dan identitas yang bersifat umum, bukan kepada nama dan identitas yang bersifat khusus yang mengacu kepada manhaj Salafus Shalih.

Ketika membahas salah satu kebiasaan ahli bid’ah yang bersembunyi dibalik manhaj Salaf, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/153): “Kelompok yang terkenal dengan bid’ahnya seperti kelompok Khawarij dan Rafidhah tidak mengaku berada di atas manhaj salaf. Bahkan mereka mengkafirkan Salafus Shalih. Demikian pula kaum Khawarij yang telah mengkafirkan Utsman dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhuma dan jumhur kaum muslimin dari kalangan sahabat dan tabi’in. Bagaimana mungkin mereka mengaku berada di atas manhaj salaf?”

Catatan:

Bahkan kaum mukminin yang lemah yang berdomisili di negeri ahli bid’ah, seperti Khawarij dan lainnya, terpaksa menyembunyikan keimanan dan manhaj mereka. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/149):
“Tidak ada satupun manhaj salaf yang harus disembunyikan kecuali bila berada di negeri ahli bid’ah, seperti di daerah kekuasaan Rafidhah dan Khawarij. Orang-orang mukmin yang lemah terpaksa menyembunyikan keimanan dan manhaj mereka. sebagaimana banyak diantara kaum mukminin yang menyembunyikan keimanan mereka di darul harb.”

  1. Mencari-cari kesalahan ahlus sunnah wal jama’ah hingga dalam masalah ijtihadiyah.

Ketika membahas kelompok-kelompok ahli bid’ah yang terkenal dan sikap mereka yang menolak mengikuti manhaj salaf Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/155): “Diantara sebab hujatan yang ditujukan oleh ahli bid’ah kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beberapa kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh individu Ahlu Sunnah dan kesalahan ijtihad sebagian ulama Ahlu Sunnah. Kesalahan dan pelanggaran itu menjadi fitnah bagi orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sehingga mereka jatuh dalam kesesatan yang jauh.”

  1. Menurut Khawarij Ahlu Hadits adalah musuh bebuyutan yang harus ditumpas dengan segala cara.

Dalam Majmu’ Fatawa (XX/161) Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap ahli bid’ah pasti berusaha menyembunyikan nash-nash yang bertentangan dengan prinsip mereka dan nash-nash yang tidak mereka sukai. Mereka tidak suka nash-nash tersebut dipublikasikan, diriwayatkan dan dibicarakan. Dan juga membenci orang-orang yang melakukan hal itu. Sebagaimana dikatakan oleh Salafus Shalih: Tidaklah seseorang jatuh ke dalam sebuah bid’ah melainkan akan dicabut kenikmatan hadits dari hatinya.”

  1. Mencari-cari kesalahan penguasa dan memprovokasi massa untuk melawan penguasa. Kemudian juga menghujat dan mengkafirkan penguasa.

PEMBAHASAN KEENAM : WAKTU DAN TEMPAT KAUM KHAWARIJ MEMULAI AKSI MEREKA

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya membahas dasar-dasar bid’ah Khawarij, sebab-sebab munculnya dan ekses-ekses nagatifnya saja, bahkan beliau juga mengungkap masalah yang lebih khusus lagi, yaitu masalah waktu dan tempat kaum Khawarij memulai aksi mereka. Perlu diketahui bahwa kaum Khawarij ini telah menetapkan waktu dan tempat mereka memulai aksi jihad -demikian anggapan mereka-, didukung beberapa unsur yang saling menguatkan sebagai mukaddimah berlangsungnya ‘pesta besar’ mereka.

  1. Tempat Dan Waktu Memulai Aksi.

Kaum Khawarij harus mendapatkan tempat yang cocok untuk memulai aksi. Setelah melakukan persiapan dan saling bahu-membahu untuk menyukseskan aksi mereka. Biasanya mereka memulai aksi selepas terjadinya peristiwa besar! Syeikhul Islam rahimahullah mengungkap gerakan politik terselubung ini dalam Majmu’ Fatawa (XXVIII/489), ketika beliau membahas kerusakan yang ditimbulkan oleh madzhab Rafidhah dan Khawarij: “Faktor penyebabnya adalah kaum Khawarij ini merupakan kelompok bid’ah pengikut hawa nafsu yang pertama kali menyempal dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, padahal eksistensi Khulafaur Rasyidin serta kaum Muhajirin dan Anshar, pelita ilmu dan iman, keadilan dan cahaya nubuwat serta kekuatan hujjah dan kekuasaan masih ada. Saat itu Allah menegakkan dien ini atas agama yang lainnya dengan kekuatan hujjah dan kekuasaan.

Sebab munculnya aksi mereka adalah kebijaksanaan Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu serta orang-orang yang mendukung mereka yang bersumber dari penakwilan mereka. Rupanya hal itu tidak dapat diterima oleh kaum Khawarij. Mereka anggap perkara ijtihad itu sebagai sebuah dosa. Bahkan menggolongkannya sebagai dosa besar! Oleh sebab itu mereka tidak memberontak pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, karena penakwilan seperti itu tidak terjadi pada zaman kekhalifahan mereka berdua dan juga ketika itu kaum Khawarij ini masih lemah.”

Jadi, mereka akan muncul pada dua kondisi:

Peristiwa-peristiwa dan fitnah-fitnah yang terjadi bertepatan dengan takwil-takwil bid’ah mereka.
Jumlah mereka yang memadai dan banyak.
2. Unsur-Unsur Pendukung Munculnya Aksi Khawarij.

Salah satu ciri khas Khawarij ini adalah mereka memiliki imam, jama’ah dan negeri (daerah kekuasaan/tempat berlindung).

Pertama: Mereka menyempal dari kaum muslimin.
Kedua: Mereka menyimpulkan ikatan wala’ dan bara’ (loyalitas dan permusuhan) atas dasar bid’ah mereka tersebut.
Kemudian imam mereka adalah imam tandingan bagi imam kaum muslimin yang sah. Oleh sebab itu bid’ah Khawarij dan bid’ah Rafidhah bertemu pada satu titik yang sama, yaitu masalah imamah dan khilafah! Berikut merembet kepada seluruh perkara ibadah dan hukum-hukum syar’i.”

Mereka menganggap negeri mereka yang layak disebut sebaagi darul hijrah dan darul iman. Sementara negeri kaum muslimin lainnya adalah darul kufur dan harb. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan unsur-unsur tersebut dalam Majmu’ fatawa (XIII/35): “Kaum Syi’ah ketika itu tidak memiliki jama’ah dan imam, tidak pula memiliki negeri dan kekuatan untuk memerangi kaum muslimin. Yang memiliki semua itu pada saat itu hanyalah kaum Khawarij!

Ciri khas mereka adalah memiliki imam, jama’ah dan negeri. Mereka anggap negeri mereka sebagai darul hijrah, adapun negeri kaum muslimin lainnya adalah darul kufur dan harb.”

KAPAN KHAWARIJ AKAN MUNCUL?

Jika bid’ah takfir dan bid’ah pembangakangan terhadap penguasa dan kaum muslimin telah saling berpadu, maka telah bersatulah pasangan serasi dalam sebuah pesta besar! Para pelayan yang dungu telah mengatur segala sesuatunya. Berjalan kesana kemari mengurus pesta besar tersebut! Menghidangkan kepada para undangan -kaum militan- beraneka ragam kesesatan dan penyimpangan dari aqidah dan manhaj dalam bentuk perbaikan dan penjelasan. Dihidangkan di atas meja yang berlapiskan kezuhudan dan kewaraan semu, sementara hakikatnya adalah kehancuran dan kebinasaan. Kemah-kemah telah dipancangkan, para kekasih telah saling berpasangan, rekan-rekan telah saling bersatu, harta telah dihamburkan, peran masing-masing telah dibagi-bagikan, mereka anggap genderang jihad telah bergema!

Jangan terkecoh! Sebenarnya itulah genderang setan Khawarij, yang ditabuh pada saat Ahlus Sunnah terlelap dan tercerai berai!

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XIX/89): “Orang yang mencela hukum yang diputuskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pembagian yang beliau tetapkan -seperti yang dilakukan oleh Khawarij- pada dasarnya telah mencela Kitabullah dan telah menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menyempal dari kaum muslimin. Kekuatan setan Khawarij ini dapat diredam pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum ketika kaum muslimin masih bersatu padu. Ketika umat ini telah terpecah belah pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, setan Khawarij ini merasa mendapat angin untuk melancarkan aksinya! Merekapun bergerak, mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah Radhiyallahu anhuma serta orang-orang yang mendukung mereka berdua. Akhirnya mereka diperangi oleh kelompok yang paling mendekati kebenaran, yaitu kelompok Ali bin Abi Thalib, sebagimana disebutkan dalam kitab Ash-shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عَلىَ حِيْنِ فِرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ, تَقْتُلُهُمْ أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالحَقِّ

Akan muncul nanti satu kelompok yang menyempal dari kaum muslimin ketika mereka terpecah menjadi dua golongan. Kelompok itu akan diperangi oleh golongan yang paling mendekati kebenaran.

Semoga Allah merahmati Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah mengungkap rahasia yang tersembunyi dibalik jubah Khawarij. Membeberkan asas dasar mereka, ekses-ekses negatifnya dan akibatnya yang sangat berbahaya terhadap umat, terutama ketika umat ini dalam kondisi terpecah belah dan lemah.

Tentunya kita sangat membutuhkan buku-buku karangan beliau, dan juga buku-buku seluruh ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dalam memahami kaidah-kaidah agama dan ushuluddin dan syariat. Hanya Allah sajalah yang kuasa memberi petunjuk kepada jalan yang benar, khususnya dalam kondisi umat yang dirudung fitnah dan lemah sekarang ini.

(Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Medani)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

……………

Artikel Almanhaj.or.id

Barokallohufiik !

DEKLARASI KHILAFAH ISLAMIYYAH ANTARA PERSPEKTIF SYARIAT DAN REALITA

Khilafah Islamiyyah, Siapa Yang Tidak Merindukannya, Bukan Khilafah Abal-Abal.. Atau Yang Mengaku Sebagai Khilafatul Lilmuslimiin,.
     

Oleh: Asy Syaikh Al Habib Alawy bin Abdulqadir As Segaf (Pembina Umum Yayasan Durar Saniyyah)

Segala puji milik Allah rabbul ‘alamin, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Khilafah Islamiyyah dan menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah diatas manhaj Nubuwwah adalah cita-cita yang agung, setiap muslim menghendakinya dalam kehidupan ini. Hal diatas merupakan tujuan Islam yang agung, wujud persatuan yang tertinggi yang Allah dan rasul-Nya perintahkan. Allah berfirman (yang artinya),

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al Mu’minun: 51)

“dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”(QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal: ridha kepada kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan kamu semuanya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah serta tidak bercerai berai…” (HR Muslim: 1715)

Para ulama sepakat (ijmak) atas wajibnya mengangkat seorang pemimpin untuk kaum muslimim. Diantara ulama yang mentransmisi ijmak (konsensus) adalah Al Mawardi dalam “al Ahkaam al Sulthaniyyah”, hal. 15, Abul Ma’aaly al Juwainy dalam “Ghiyaatsu al Umam”, hal. 15, al Qadhi Iyadh dalam “Ikmal al Mu’lim”, 6/220, An Nawawi dalam “Syarh Shahih Muslim”, 12/205 dan banyak lagi yang lainnya. Teks-teks ijmak sangat banyak dalam referensi-referensinya dan tidak perlu kami sebutkan disini.

Para ulama juga sepakat, bahwa tujuan utama dari Imamah (kepemimpinan) atau khilafah adalah apa yang disebutkan oleh para ulama melalui lisan dan buku-buku mereka. Imam al Mawardi merangkumnya dalam perkataan beliau, “Imamah ditegakkan untuk menjalankan misi nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia, menyerahkannya kepada orang yang mampu melakukannya dalam umat ini merupakan kewajiban yang disepakati.”

Dengan demikian, tujuan dari khilafah dan imamah adalah menegakkan kemaslahatan agama dan dunia. Merealisasikan tujuan ini bisa saja dilakukan oleh seorang penguasa muslim di suatu negeri dari negeri-negeri kaum muslimin walau pun tidak ada khilafah.

Penguasa itu harus didengar dan ditaati oleh orang-orang yang ada dalam kekuasaannya, walau pun kepemimpinannya bukan kepemimpinan yang besar (imamah ‘udzmaa) (kepemimpinan yang mencakup seluruh wilayah internasional –pent). Al ‘Allamah Asy-Syaukani berkata dalam “As Sail Al Jarrar”, 4/512, “Dan adapun setelah Islam tersebar, semakin luas wilayahnya dan daerah-daerahnya kian berjauhan, maka dimaklumi, setiap wilayah memiliki pemimpin atau penguasa sendiri-sendiri. Aturan-aturan suatu wilayah hanya berlaku untuk orang-orang yang berada disana dan tidak berlaku bagi orang-orang yang ada di wilayah yang lain.

Maka, tidak mengapa ada beberapa pemimpin atau penguasa, dan wajib untuk taat kepada masing-masing dari mereka -setelah pembaiatan- atas penduduk wilayah tersebut, yang berlaku padanya perintah serta larangannya. Begitu pun demikian untuk penduduk wilayah yang lain”.

Pernyataan ini juga dinukil dan dikuatkan oleh al ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan dalam kitabnya, “Ikliil al Karaamah fii Tibyaan Maqaashid al Imamah”, hal. 125. “Hampir seluruh ulama dari berbagai madzhab membolehkan pemimpin lebih dari satu jika tidak dimungkinkan mengangkat satu Imam yang menegakkan hukum untuk seluruh negeri kaum muslimin, karena jarak yang berjauhan”.

Walaupun dalam masalah ini terdapat silang pendapat, namun ia tidak memberi pengaruh para permasalahan yang sedang kita bahas. Mereka membolehkan dalam kondisi ini, karena ia adalah kondisi darurat dan tidak mampu. “Ketidakmampuan menggugurkan perintah dan larangan, walaupun pada asalnya wajib.” (Majmu’ al Fatawa: 20/61).

Ada perbedaan antara situasi leluasa dan darurat. Orang yang tidak membedakan keduanya, ia berarti bodoh terhadap landasan rasional dan dalil. Ini yang terjadi pada banyak manusia. Mereka mengira bahwa agama ini tidak akan tegak selama belum tegak khilafah, tidak membedakan antara upaya kepada penegakkan khilafah yang hakiki, yang diperintahkan oleh syariat dan sekedar deklarasi khayalan yang hanya memuaskan sisi emosional, walaupun dalam realitasnya tidak merealisasikan tujuan-tujuan khilafah sebenarnya. Prasangka semacam ini mirip dengan prasangka sebagian orang yang tidak mengerti bahwa yang mampu menyebarkan keadilan dan menghilangkan kezaliman hanya Imam Mahdi. Sehingga kedua kelompok ini hanya bergantung kepada dua perkara ini (Khilafah dan Mahdi)

Perbincangan tentang khilafah Islamiyyah atau Imamah Kubra sangat panjang. Telah banyak para ulama yang menuliskannya dari dulu hingga sekarang. Membahasnya tidak akan selesai hanya dengan satu makalah atau tulisan yang ringkas. Oleh karena itu, pembahasan dalam tulisan ini akan dibatasi seputar deklarasi khilafah yang telah diumumkan di Irak saat ini (ISIS), dari sisi realitas sejarah dan tinjauan syariat.

Pertama: Realitas Sejarah
Dengan menelusuri sejarah Islam, akan tampak dengan jelas bahwa banyak khilafah khayalan yang dideklarasikan dalam sepanjang sejarahnya, baik melalui klaim kedatangan Mahdi atau melalui jalur sekte-sekte khawarij yang sesat; dan mereka adalah orang-orang yang sangat terobsesi dengan khilafah, akan tetapi tanpa petunjuk dan al Qur`an. Nampaknya –wallahu a’lam- ini telah menjadi karakter mereka.

Adapun ahli sunnah wal jamaah, mereka tidak menetapkan nama khilafah atau imamah ‘udzma melainkan bagi orang yang benar-benar memiliki kekuasaan atas mayoritas mereka (kaum muslimin –pent) baik dengan kerelaan atau dengan penaklukan di berbagai daerah kaum muslimin.

Adapun seorang yang dibaiat oleh suatu penduduk daerah tertentu saja, atau berhasil menaklukan daerah itu saja, maka kekuasaannya hanya bersifat lokal atas mereka, tidak mencakup orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya atau ditaklukkan olehnya. Beginilah seterusnya kemudian kemunculan masalah multi kepemimpinan yang telah dijelaskan tadi. Makalah ini tentu tidak akan mendiskusikan masalah ini dari sisi legal atau tidaknya.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Tidak pernah sama sekali umat ini bersepakat untuk mengangkat seorang khawarij menjadi pemimpin. Andai Allah memberi kekuasaan kepada mereka, maka akan rusaklah bumi ini… dan dengan demikian, ada belasan atau dua puluh orang dari mereka yang masing-masing pernah menyatakan bahwa dirinya adalah khalifah.” (Mukhatashar Ta`rikh Dimasyq: 26/390)

Diantara sepak terjang Khawarij
Seorang pemuda khawarij mengklaim tegaknya khilafah di masa Abdulmalik, namun ia tidak berhasil meraihnya (Wafayatu al A’yaan: 2/455).

Pada tahun 140 H, khilafah diklaim untuk pemimpin Ibadhiyyah (salah satu sekte khawarij –pent) bernama Abdul A’la bin Samah al Ma’aafiry. Berjalan selama empat tahun, hingga akhirnya ia dibunuh oleh al Manshur para rahun 144 H (Tarikh Ibnu Khaldun: 4/241).

Di Thanja, khilafah diklaim untuk seorang amir khawarij, orang-orang menyebutnya dengan gelar amirul mukminin, kemudian ia dibunuh oleh Khalid bin Habib al Fihry (Tarikh Ibnu Khaldun: 6/145)

Diantara mereka juga adalah raja al Mu’iz Ismail asal Kurdi, ia mengaku dirinya berasal dari Quraisy dari Bani Umayyah, ia pun menyatakan dirinya sebagai khalifah dan diberi gelar al Haady. Ia pun akhirnya mati pada tahun 598 H (Mukhtashar Tarikh Dimasyq: 26/390)

Bahkan terkadang lebih dari satu orang mengumumkan khilafah dalam satu waktu. Ini yang terjadi di Andalusia. Sehingga pada abad kelima, di Andalusia saja, ada lima orang mendeklarasikan khilafah. (Al Waafi bil Wafayaat: 18/5).

Adapun klaim kedatangan Mahdi, maka ia sangat banyak. Cukup disini saya sebutkan contoh di masa sekarang:

Negeri ini (negeri dua tanah suci) telah mengalami kasus demikian. Pada akhir abad 14 (1385 – 1399), tatkala muncul sekelompok penuntut ilmu yang belajar kepada para ulama besar seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh al Albani rahimahumullah, penampilan mereka sunnah dan kehidupan mereka serba kekurangan.

Orang-orang akan memandang ringan ibadahnya jika membandingkannya dengan ibadah mereka. Mereka memiliki kecenderungan yang ekstrim, namun mereka sangat jujur dan ikhlas. Pemimpin mereka adalah Juhaiman al Utaiby, ia sering ke negara-negara teluk untuk mendakwahkan tauhid dan millah Ibrahim ‘alaihissalam.

Hingga berkumpullah banyak para pemuda tanpa pengawasan para ulama. Sampai terjadilah fitnah yang besar –mirip dengan fitnah deklarasi khilafah pada hari ini- yaitu diumumkannya kedatangan Mahdi untuk Muhammad bin Abdullah al Qahthany, saudara ipar Juhaiman.

Saya pernah bertemu dengan al Qahthany ini pada tahun 1399 H, duduk dengannya dan shalat dibelakangnya shalat jahriyyah dimana engkau akan memandang rendah shalatmu jika dibandingkan dengan shalatnya. Kedatangan Mahdi ini diumumkan pada sekitar Muharram tahun 1400. Juhaiman dan jamaahnya masuk ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Fajr.

Sesaat setelah shalat Fajr, Juhaiman dan saudara iparnya ini berdiri di hadapan jamaah shalat mengumumkan kepada orang-orang –melalui pengeras suara Imam Masjidil Haram dan shalat pun disiarkan melalui radio- kabar kedatangan Mahdi yang ditunggu (al Muntadhar), pembaharu (mujaddid) agama ini, kemudian Juhaiman dan pengikutnya membaiat “Mahdi al Muntadhar” tersebut di hadapan jamaah shalat serta meminta kepada mereka untuk membaiatnya pula. Berdirilah sekelompok dari mereka dan membaiatnya.

Orang-orang ramai memperbincangkan kabar tersebut dan banyak para pemuda yang terfitnah dengannya –seperti para pemuda yang terfitnah oleh deklarasi khilafah saat ini-. Sebagian mereka ada yang melakukan safar untuk membaiatnya, ada yang membaiatnya di tempat, ada juga yang bingung dan ragu.

Mereka pun dinasehati, bahwa ini adalah fitnah yang perkaranya harus dikembalikan kepada pandangan para ulama rabbani, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan pandangan mereka dalam kesesatan, sehingga umat Muhammad tersesat karena mereka.

Tatkala banyak dari pada pemuda saat itu melihat para ulama kaum muslimin, para penuntut ilmu yang senior dan para dai yang tulus di seluruh dunia mengingkari kedatangan Mahdi ini, karena hadis-hadis yang shahih dan hasan tentang kedatangan Mahdi tidak cocok dengan sosok saudara Ipar Juhaiman, banyak diantara mereka yang menarik diri, dan sebagiannya tetap pada pendapatnya. Hingga fitnah ini dapat dipadamkan, Mahdi mereka dibunuh, Juhaiman dan para loyalisnya dihukum mati. Terbangunlah mereka dari tidurnya dan pupuslah mimpi mereka. Sungguh, hari ini sama dengan kemarin!

Kedua: Tinjauan Syariat
Telah dimaklumi di kalangan para ulama bahwa diantara syarat-syarat terpenting yang wajib ada pada khilafah Islamiyyah diatas manhaj nubuwwah, selain persyaratan Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, adil dan berasal dari suku Quraisy, adalah persyaratan Musyawarah dan Kekuasaan.

Musyawarah
Yang dimaksud musyawarah adalah musyawarah ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama, para tokoh, pemimpin dan orang-orang yang memiliki pandangan yang memiliki kemampuan untuk mengikat urusan-urusan dan melepaskannya. Yaitu orang-orang yang diikuti oleh manusia baik dari ahli agama atau dunia.

Bukan ahlul halli wal aqdi sekelompok orang yang dipilih suatu jamaah kaum muslimin saja, baik dari kalangan jihadiyyah atau bukan, kemudian mereka disebut ahlul halli wal aqdi. Lalu mereka ditanya, apakah Anda semua memilih si Fulan sebagai Khalifah?

Dan mereka mengatakan, “Iya.” Tidak setiap orang yang disebut ahlul halli wal aqdi benar-benar ahlul halli wal aqdi. Nama tidak merubah hakikat yang dinamai sama sekali. Dalam Shahih Bukhari, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang membaiat seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, maka ia tidak dibaiat dan tidak pula yang membaiatnya, khawatir keduanya akan terbunuh.”

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dan “Al Fath”, 12/150: “Dalam perkataan umar diatas terdapat isyarat agar berhati-hati dari sikap tergesa-gesa dalam urusan seperti itu, karena tidak ada sosok yang seperti Abu Bakar yang terkumpul padanya sifat-sifat terpuji; kepatuhan terhadap perintah Allah, lemah-lembut terhadap kaum muslimin, akhlak yang baik, wawasan tentang politik dan sikap warak. Orang yang tidak ada padanya seperti sifat-sifat beliau, dikhawatirnya dengan membaiatnya tanpa musyawarah akan muncul perselisihan yang mendatangkan keburukan.”

Sebuah kepemimpinan, walaupun seorang pemimpin kecil atas suatu negeri, harus memiliki ahlul halliwal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan pemimpin. Dan ini sebagaimana yang telah lalu, berlaku dalam situasi lemah dan darurat. Setiap negara dipimpin oleh seorang penguasa muslim lebih baik dari pada keadaan manusia yang akan kacau tanpa aturan. Adapun kepemimpinan yang besar atau khilafah islamiyyah, maka ia tidak sah kecuali dengan musyawarah mayoritas ahlul halli wal ‘aqdi dari seluruh negeri. Imam Abu Ya’la dalam ‘al Ahkam al Sulthaniyyah’, 1/23 berkata, “(Khilafah) tidak sah tanpa mayoritas ahlul halli wal ‘aqdi.”

Syakhul Islam Ibnu Taimiah menyatakan dalam ‘Minhaj As Sunnah’, 1/526, tatkala beliau membantah sebagian ahli kalam yang berpendapat keabsahan imamah hanya dengan empat atau tiga atau kurang dari itu, beliau berkata, “Ini bukan pendapat para ulama ahli sunnah, walaupun sebagian ahli kalam berkata, “Imamah absah dengan baiat empat orang, sebagaimana sebagian mereka berkata, sah dengan baiat dua orang, sebagian lagi mengatakan sah hanya dengan baiat satu orang. Ini bukanlah perkataan para ulama sunnah.

Imamah menurut mereka hanya dinyatakan sah dengan persetujuan para tokoh. Dan seseorang tidak menjadi seorang imam (pemimpin) yang sah, sampai ia disetujui oleh para tokoh yang dengan mengikuti mereka dalam memilihnya tercapai tujuan dari imamah itu sendiri. Sesungguhnya tujuan dari imamah adalah tercapainya kekuatan dan kekuasaan. Jika ia dibaiat dan dengan baiat tersebut tercapai kemampuan dan kekuasaan, maka ia berhak menjadi pemimpin.”

Bahkan Imam Ahmad rahimahullah, dinukil dari beliau dalam salah satu riwayat, bahwa imamah hanya sah dengan ijmak (kesepakatan). Beliau berkata, “Barangsiapa yang menjadi pemimpin khilafah, orang-orang sepakat dan ridha kepadanya, begitu pun dengan orang-orang yang ditaklukkannya dengan pedang, sehingga ia menjadi seorang khalifah dan disebut dengan amirul mukminin, maka membayarkan sedekah kepadanya boleh, baik ia orang yang baik atau orang yang jahat.”

Beliau juga berkata dalam riwayat Ishaq bin Manshur saat ditanya tentang hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mati dan tidak memiliki imam, maka ia mati dengan cara jahiliyyah.” Apakah makna hadis ini? Beliau berkata, “Apakah engkau tahu siapa itu imam? Imam adalah orang yang disepakati oleh kaum muslimin. Seluruhnya mengatakan, “Ini adalah imam.” Ini lah makna hadis tersebut.” (Lihat Minaaj as Sunnah: 1/530)

Disini terdapat hal yang perlu digarisbawahi, yaitu perbedaan antara baiat sekelompok orang untuk seorang laki-laki di kalangan mereka dengan keabsahan imamah untuknya serta terangkatnya ia menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin dan keberhakannya memegang imamah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam ‘Minhaj As Sunnah’: 1/531, “Andai Umar dan sekelompok orang yang bersamanya membaiatnya (yaitu Abu Bakar) dan para sahabat yang lain menolak baiat tersebut, maka Abu Bakar tidak akan menjadi pemimpin dengan hal itu.

Ia hanya akan menjadi seorang pemimpin dengan pembaiatan mayoritas para sahabat, orang-orang pemilik kemampuan dan kekuatan. Oleh karena itu penolakan Sa’ad bin Ubadah tidak teranggap, karena hal itu tidak mencacati tujuan dari kepemimpinan, yaitu tercapainya kekuatan dan kekuasaan yang dengan keduanya terwujud kemaslahatan-kemaslahatan imamah. Dan hal itu, telah tercapai dengan persetujuan mayoritas.

Barangsiapa yang mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi seorang pemimpin hanya dengan persetujuan satu, dua atau empat orang, dan mereka bukanlah pemilik kemampuan dan kekuatan, maka ia telah salah, sebagaimana orang yang menganggap penolakan satu atau dua orang atau sepuluh mempengaruhi keabsahannya pun telah salah.

Kekuasaan
Tidak sah bagi pihak manapun untuk mendeklarasikan khilafah atas seluruh kaum muslimin dan mengangkat seorang pemimpin untuknya, lalu meminta seluruh kaum muslimin di seluruh dunia untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah kaum muslimin, padalah ia tidak memiliki kekuasaan, tidak dapat melindungi orang-orang yang dekat dengan mereka, apalagi orang yang jauh dari mereka. Ini adalah omong kosong dan kedunguan. Mendirikan khilafah bukan dengan sekedar klaim dan deklarasi. Apa nilainya sebuah deklarasi yang tidak memiliki hakikat dalam wujudnya?

Barangsiapa yang menaklukkan salah satu wilayah kaum muslimin, kemudian ia mengangkat dirinya menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin, maka seakan-akan ia menganggap dirinya telah menaklukkan seluruh negeri-negeri kaum muslimin, ini adalah perkara yang tidak sesuai dengan nalar dan realitas, maka dari itu ia pun tidak sesuai dengan syariat. Bahkan, ia menunjukkan reduksi yang besar dalam memahami hukum-hukum imamah dan yang terkait dengannya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kedua shahihnya dari hadis Abu Zinad, dari al A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai, diperangi dibelakangnya dan dijadikan pelindung.”

Al Hafidz An Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pemimpin itu adalah perisai” maksudnya seperti pelindung, karena ia mampu mencegah musuh agar tidak mengganggu kaum muslimin, menghalangi sebagian manusia dari sebagian, membela Islam, disegani manusia dan mereka menakuti kekuatannya. Makna “Diperangi di belakangnya” maksudnya diperangi bersamanya orang-orang kafir, para pemberontak, orang khawarij dan seluruh pelaku kerusakan dan kezaliman.” Ibnu Hajar dalam ‘al Fath’ dan para pensyarah hadis ini juga menjelaskan yang sepertinya.

Maka, bagaimana mungkin seorang dari kaum muslimin dibaiat sebagai pemimpin atas mereka padahal ia tidak dapat melindungi mereka?! Imamah juga memiliki hak dan kewajiban. Orang yang tidak mampu menunaikan hal yang Allah wajibkan atasnya terkait dengan hak rakyatnya, maka hendaknya ia tidak meminta mereka untuk menunaikan haknya atas mereka.

Maka, seseorang tidak dianggap sebagai khalifah atas kaum muslimin, melainkan jika pada dirinya benar-benar terdapat syarat-syarat khilafah ini, dari sisi kekuatan dan kekuasaan atas mayoritas kaum muslimin. Jika tidak demikian, Imamahnya bukanlah Imamah yang besar, paling tidak hanya pemimpin atas suatu daerah yang telah dikuasainya saja. Yang menjadi standar adalah hakikat dan makna, bukan sekedar makna dan tampilan.

Kehati-hatian Daulah-Daulah Islam dalam Mendeklarasikan Khilafah
Siapa saja yang memperhatikan Khilafah Islamiyyah dari sejak masa Khulafa Rasyidin hingga jatuhnya Khilafah Ustmaniyyah (Othoman), ia akan melihat bahwa masing-masing dari khalifah itu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar atas banyak kaum muslimin di zamannya. Adapun para Khulafa Rasyidun dan dua daulah: Umawiyyah dan Abbasiyyah, maka ini sangat jelas, khalifah demi khalifah memegang tampuk kepemimpinannya. Berikut adalah paparan untuk realitas sejarah yang dekat:

Daulah Utsmaniyyah
Tatkala daulah Abbasiyyah mulai melemah, para pemimpinnya terpecah belah dan daulahnya terpisah-pisah, hingga menjadi kerajaan-kerajaan dan pemerintahan-pemerintahan yang terpisah-pisah. Posis Khalifah saat itu hanya tinggal wujudnya saja, tanpa kekuasaan di bawahnya. Dari sini lah mulai nampak benih-benih kemunculan Daulah Utsmaniyyah.

Pada tahun 618 H, Arthgrl memimpin Turkiman Muslimin dan menguasai daerah yang cukup luas dari wilayah Turki, namun ia tidak mendeklarasikan khilafah. Kemudian ia wafat pada tahun 687 H dan digantikan oleh putra sulungnya Ustman, dialah pencetus pertama Daulah Utsmaniyyah. Ia mulai memperluas kekuasaannya, hingga pada tahun 688 H, ia berhasil menguasai Benteng Sauda, kemudian melakukan perluasan dan menjadikan Madinah Bani Syahr –Kota Baru- sebagai pusat kekuasaannya. Ia menggelari dirinya dengan Badisyah Ali Utsman dan membuat bendera untuk daulahnya (yaitu bendera yang digunakan oleh negara Turki saat ini), namun ia juga tidak mendeklarasikan khilafah.

Keadaan terus berlangsung hingga tiba masa Salim Awwal (918 – 926 H) yang berupaya untuk menyatukan seluruh negeri Islam yang belum berada dalam kekuasaannya. Hingga saat itu pun, ia tidak mendeklarasikan khilafah. Di masa itu, Shafawiyyin yang bersekutu dengan Portugis melawan kaum muslimin. Mereka berhasil dikalahkan dalam perang Jaldiran pada tahun 920 H. beberapa hari setelah itu, Sultan (bukan khalifah) Salim Awwal memasuki kota Tabriz dan menaklukkannya.

Tidak lama setelah mengalahkan Shafawiyyin, pada tahun 922, ia memerangi seluruh kerajaan-kerajaan dan berhasil menaklukkannya pada perang Maraj Dabiq, setelah penguasa Syam bergabung dengannya. Dengan peperangan ini, seluruh wilayah Syam berada dalam genggamannya begitu pun Anadhul seluruhnya di bawah kekuasaannya, dan ia pun tidak mendeklarasikan khilafah.

Pada tahun 923, terjadi perang Ridaniyyah, ia adalah peperangan terakhir melawan kerajaan-kerajaan tersebut dan Sultan Salim Awwal berhasil memenangkannya. Akan tetapi ia juga tidak mendeklarasikan khilafah. Dengan berakhirnya kekuasaan raja-raja itu, berakhirlah masa kepemimpinan khalifah dari Abbasiyyah yang sebagaimana tadi telah digambarkan, tidak memiliki kekuasaan apa pun. Lalu daerah Hijaz masuk ke dalam wilayah Daulah Ustmaniyyah. Saat itu lah, (ada juga yang mengatakan sebelumnya) Sultan Salim Awwal diberi gelar Khalifah kaum muslimin, kepemimpinan Ustmani berubah status dari Daulah menjadi Khilafah. Itu terjadi pada tahun 926 H, yaitu setelah lebih dari 300 tahun dimulainya kepemimpinan keluarga Utsman. Tidakkah orang-orang yang tergesa-gesa mengambil pelajaran?!

Daulah Su’udiyyah Pertama
Imam Mujaddid Muhammad bin Abdulwahhab bersekutu dengan Imam Muhammad bin Su’ud pada tahun 1157 H. Pada saat itu perkembangan dan perluasan daulah Su’udiyyah pertama dimulai. Banyak negeri-negeri Najd berhasil dikuasai. Pada tahun 1165, daerah Huraimla takluk. Kemudian Quwai’iyyah pada tahun 1169. Imam Muhammad bin Su’ud wafat pada tahun 1179 H. Kepemimpinan digantikan oleh putranya Abdulaziz. Ia melanjutkan perjalanannya bersama Imam Muhammad bin Abdulwahhab, hingga sang Imam pun wafat pada tahun 1206 H setelah Daulah Su’udiyyah pertama dimasanya berhasil menguasai banyak wilayah Najd. Namun ia tidak mendeklarasikan khilafah. Padahal ia berperang bersama dua pemimpin; Muhammad dan Abdulaziz sekitar 50 tahun, dan wilayah kekuasaan Daulah Su’udiyyah pertama setelah wafatnya sang Imam telah mencakup hampir seluruh Jazirah Arab di masa Imam Abdullah bin Su’ud, yang kepemimpinannya berakhir pada tahun 1234 H. Dengannya, berakhir masa Daulah Su’udiyyah pertama, dan tidak seorang pun dari mereka yang mendeklarasikan khilafah, padahal daulah mereka berjalan sekitar 80 tahun.

Thaliban
Kekuasaan Thaliban di Afganistan berjalan selama 6 tahun dari tahun 1417 H hingga tahun 1423 H. Di masa itu, Thaliban telah menguasai seluruh wilayah Afganistan. Namun demikian, mereka menamainya dengan ‘Imarah Afganistan Islamiyyah’ dan tidak mendeklarasikan khilafah. Mereka juga menggelari pemimpinnya dengan amirul mukminin, bukan dengan khalifatul muslimin. Ia juga tidak meminta kaum muslimin di India, Cina, Jazirah Arab, Maroko, kaum muslimin di Eropa, Amerika dan Arfika untuk berbaiat kepadanya.

Sejumlah Pertanyaan Banyak Para Pemuda
Sebagian mereka mengatakan, kita menyaksikan, mendengar dan membaca pihak ini dan pihak itu. Masing-masing mengungkapkan argumentasinya, untuk menyatakan bahwa pendapatnya adalah yang hak dan benar.

Masing-masing berargumentasi dengan ayat-ayat dan hadis-hadis, masing-masing juga menukilkan pendapat para ulama terdahulu untuk menguatkan pendiriannya. Kemudian, diantara para pendukung khilafah ini, kita mendapati diantara merekapara mujahid yang telah berkorban untuk agama ini dengan darah dan jiwanya, melawan musuh dengan sangat mengagumkan hati orang-orang yang beriman, bersiaga di bawah terik matahari dan cuaca dingin.

Sementara kita mendapati orang-orang yang mengingkari para pendukung daulah hanya duduk manis di rumahnya sambil menulis, jauh dari medan-medan pertempuran, dalam rasa aman, menulis sambil duduk di kursi-kursi empuk, di balik layar-layar komputer, dalam ruangan ber-AC. Bagaimana mungkin Anda menginginkan kami untuk meninggalkan pendapat yang pertama dan mengambil pendapat orang kedua?!

Sebagian mereka berkata, kami telah berputus asa dari perkataan kalian. Dari sejak 100 tahun yang lalu kalian menggembar-gemborkan seputar pentingnya mengembalikan khilafah Islamiyyah, namun kami tidak pernah melihat kalian mengerjakan sesuatu untuk mengembalikannya kecuali hanya omongan belaka. Ada pun mereka, para pejuang itu telah mewujudkan mimpi kami yang sangat besar dan merealisasikannya secara nyata dengan darah dan senjata mereka. Apakah kita akan meninggalkan realitas yang nyata, yang ramai dibicarakan oleh hampir seluruh media dan menggentarkan negara-negara kafir, lalu kami mengambil perkataan para pemalas semacam kalian?!

Pertanyaan-Pertanyaan Diatas Mengandung Tiga Syubhat:
Para pendukung khilafah telah merealisasikannya secara nyata, sementara orang-orang yang menentang mereka hanya bisa berbicara.

Para pendukung khilafah adalah ahli tsughur (para pejuang di medan perang), sementara orang-orang yang menentang mereka adalah ahli dutsur (yang bergelimang harta).

Semuanya berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama terdahulu.

Berikut adalah jawabannya:
Adapun syubhat pertama, bahwa para pendukung khilafah telah merealisasikannya secara nyata, hal ini sudah dibantah dalam penjelasan yang lalu. Bahkan, makalah ini seluruhnya ditujukan untuk membantah kesimpulan itu. Kita katakan, yang menjadi ukuran adalah hakikat dan makna, bukan sekedar nama dan bentuk. Mendeklarasikan sesuatu bukan berarti mengerjakan atau mewujudkannya. Mewujudkannya secara lahir tidak juga berarti menunjukkan keabsahannya, dalam hadis, “Shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.” Padahal orang itu sujud, rukuk, menunduk dan bangkit.

Adapun syubhat kedua, bahwa para pendukung khilafah adalah para pejuang di medan perang (ahli tsughur) dan orang-orang yang menentangnya adalah sekedar para penikmat harta, maka bantahan atas hal ini dari dua sisi:

Pertama: telah lalu pembahasan dalam makalah yang berjudul “Isykaliyyatu al Ghuluw fil Jihad al Mu’ashir” (Problem Radikalisme dalam Jihad Kontemporer) dalam kajian ketujuh, pada bantahan atas pernyataan, “Jika manusia berselisih, maka bertanyalah kepada ahli tsughur”, silahkan dirujuk kembali makalah tersebut. Intinya, ahli tsughur tidak memiliki otoritas yang melebihi ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan yang lainnya dalam mengangkat seorang khalifah kaum muslimin.

Kedua: realitasnya tidak demikian. Mayoritas ahli tsughur dari kalangan mujahidin, kelompok-kelompok besar, aliansi-aliansi dan faksi-faksi jihad yang ada tidak mendukung deklarasi khilafah, tidak membaiat mereka (ISIS), maka dalil itu berbalik atas mereka.

Adapun syubhat ketiga, bahwa seluruhnya berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama yang terdahulu untuk menguatkan pendapatnya, maka saya katakan: Yang menjadi ukuran bukan sekedar berargumentasi dan menukil, yang menjadi ukuran adalah bagaimana cara argumentasinya?

Bagaimana kapasitas ilmiah orang yang berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama ini? Jika kita memperhatikan substansi masalah kita saat ini, maka kita tidak menemukan dari para ulama rabbani yang dalam keilmuannya, yang terkenal keshalehan, ketakwaan dan jauhnya mereka dari syubhat, yang mendukung khilafah ini. Bahkan, para tokoh intelektual pergerakan jihad kontemporer saat ini pun secara tegas menolaknya.

Kita melihat, hanya para pemuda tanggung dan orang-orang bodoh –kecuali sedikit diantara mereka- yang mendukung khilafah ini. Jika Anda menelusuri seluruh alam Islami dari timur sampai ke barat, dari selatan sampai ke utara, Anda akan melihat bahwa seluruh para ulama, penuntut ilmu dan para da’i, mereka sepakat, seluruhnya mengingkari keabsahan khilafah ini, tidak meridhainya, dan tidak memandang bahwa syarat-syarat khilafah telah terpenuhi padanya. Tidakkah ini cukup sebagai bukti kebatilannya?

Para ulama rabbani yang dalam keilmuaanya adalah timbangan yang detail, saat terjadi kesimpang siuran, banyaknya fitnah, ketidakjelasan perkara dan kebingungan manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan mereka dalam kesesatan.

Kesimpulannya: Jika keumuman kaum muslimin di seluruh negeri membaiat seorang diantara mereka, maka ia adalah khalifah mereka. Wilayah itu disebut khilafah. Jika tidak, ia hanya salah satu Imarah, dan penguasa suatu wilayah itu adalahhakim atau amir yang khusus untuk orang-orang yang ada disana.

Dengan demikian, kepemimpinan yang tidak berkumpul padanya Umat ini, bukanlah kepemimpinan yang bersifat umum, tidak boleh disandangkan nama khilafah padanya, walau pun ia mendeklarasikannya. Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan mengembalikan orang-orang yang tersesat di kalangan kaum muslimin kepada kebenaran, dan memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan keselamatan.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim

18 Syawwal 1435


Penerjemah: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.

Artikel Muslim.Or.Id

sumber : http://muslim.or.id/manhaj/deklarasi-khilafah-islamiyyah-antara-perspektif-syariat-dan-realita.html

Barokallohufiikum !

TAUHID DULU ATAU KHILAFAH ?

Semua dakwah para Nabi dan Rasul adalah untuk menegakkan “Tauhid” maka tidak ada khilafah kecuali berdiri di atas Tauhid karena khilafah adalah merupakan hadiah dari Alloh untuk Hamba hambaNya, yang telah menegakan Tauhid di muka bumi.

Jadi khilafah bukan menjadi tujuan utama dakwah, akan tetapi ia menjadi sarana dalam menegakan tauhid di muka bumi.

Maka kita jumpai di antara para Nabi mereka tidak mempunyai khilafah atau bahkan beberapa segelintir orang yang mengikutinya, akan tetapi terus menyerukan dakwah tauhid….

Cobalah lihatlah misalnya nabi Nuh Alaihissalam yg berdakwah lebih kurang sekitar 950 tahun dan yang mengikuti pun hanya beberapa segelintir orang saja…apakah selama itu bliau berusaha mendirikn kekhilafahan…untuk mendirikan negara islam…tidak!!”” akan tetapi beliau terus meyerukan ke jalan Tauhid.

Nabi kita ketika memulai dakwahnya selama di mekah apakah sibuk bagaimana mendirikan negara islam….sama sekali tidak
Namun lihatlah tatkala umat nya sudah banyak yg mentauhidkan Alloh ,Alloh jadikan kaum muslimin kuat dan berkuasa di muka bumi.

Maka sugguh benar perkataan seorang dai :

قوموا دولة الأسلام في قلوبكم ستقم في أرضكم

Tegakkanlah daulah islam di hati hati kalian maka akan tegak di bumi kalian.

Kesimpulannya:

Tauhid Adalah prioritas utama,maka mari kita berusaha mempelajari tauhid yang benar pada diri kita, berusaha mengamalkan syariat Syariatnya pada diri kita, kemudian mengajarkan kepada keluarga,masyarakat begitu seterusnya sehingga ketika kaum muslimin sudah banyak yang kembali ke jalanNya, memtauhidkanNya,maka Allohpun akan ridho dan memberi kekuasaan di muka bumi di atas khilafah ‘ala manhaji nubuwah…

wallahu a’lam .
Barokallohufiik !