Arsip Kategori: AQIDAH DAN TAUHID

INDAHNYA SYARIAT ISLAM

indahnya syariat Islam adalah bahwa tidak adanya bahaya dalam syariat Islam dan Islam mengatur para pemeluknya untuk tidak menimbulkan bahaya pada orang lain.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

“Tidak ada bahaya (Dhororo) dalam syariat Islam dan tidak menimbulkan bahaya (Dhirooro).”

(HR. Ibnu Majah, Daruquthni, Malik dan Hakim, Shohih)

Demikianlah perkataan Rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam, singkat namun memiliki makna yang sangat dalam..

Hal ini sangat berbeda dengan perkataan kita di zaman sekarang. Sering kali kita mendengar orang yang berkata panjang lebar namun faedah perkataannya sangat sedikit.

Di antara makna Adh Dhoror yang disebutkan oleh para ulama adalah bahaya, sehingga hadits tersebut bermakna tidak ada bahaya dalam syariat Islam. Hal ini dapat dibuktikan misalnya pada seseorang yang tidak mampu untuk sholat dengan berdiri, maka dia diperbolehkan untuk sholat dengan duduk. Atau seorang yang tidak mampu menggunakan air untuk berwudhu karena sakit, maka dia boleh bertayamum dengan tanah sehingga tidak mengakibatkan mudhorot pada dirinya.

Sedangkan makna Adh Dhiroor adalah menimpakan bahaya pada orang lain. Sehingga hadits ini bermakna larangan bagi setiap kaum muslimin untuk menimpakan bahaya pada orang lain. Demikianlah syariat Islam yang indah ini, tidak ada bahaya yang ditimbulkan karena menjalankannya dan juga melarang pemeluknya untuk menimpakan bahaya pada orang lain. Hadits ini juga menunjukkan bahwa agama Islam telah mengharamkan sesuatu yang dapat mendatangkan bahaya, mewajibkan untuk mencegah bahaya sebelum terjadinya bahaya tersebut serta mewajibkan untuk menghilangkan bahaya sesudah terjadinya bahaya tersebut…

Barokallohufyikum…!!!

MEMBERI KELAPANGAN UNTUK KELUARGA DI HARI ASYURA

image

Pertanyaan:
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)

Jawaban:

Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:

pertama, kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.
Kedua, rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci ahli bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip mengambil sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.

Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

سيكون في ثقيف كذاب ومبير

“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.” (HR. Muslim)

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain radliallahu ‘anhu, sementara bid’ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, 4/555)

Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,

من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”

Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ibnu Abdil Bar dalam Al-Istidzkar.

Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai hasan li ghairih (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,
“Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.” (Al-Maqasidul Hasanah, 225)

Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,
“Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.” (Tamam Al-Minnah, 410)

Dalam Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:

Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lathaiful Ma’arif, 54)
Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam Majmu’Fatawa beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (Majmu’ Al-Fatawa, 25/313)
Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam Lathaif, “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (Lathaiful Ma’arif, 54)
Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah, no. 6824.
Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhuma.
Allahu a’lam.

Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

PENGERTIAN AKIDAH

Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang berarti tidak ada lagi keraguan sedikit pun bagi orang yang telah meyakininya.

Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid ( Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat Allah)..

Dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih..

(Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/ th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql).

Barokallohufyikum !!!

MENILAI AKIDAH SESEORANG ITU HARUS MESTI DENGAN MANHAJNYA, BUKAN MANHAJ ABAL ABAL YANG SOK INGIN MENEGAKKAN AGAMA ALLAH, NAMUN HANYA SEBATAS KERONGKONGANNYA SAJA

Melihat atau menilai akidah seseorang tidak cukup hanya dengan lambang atau LOGO yang bersimbolkan tulisan tulisan saja,

MISALNYA TULISAN KALIMAT YANG MENTAUHIDKAN ALLAH, La’ilaha’illallah
muhammadarrasulullah :

YANG Dimana sering kita melihat hal tsbt pada :

  • sebuah tulisan yang ada di bendera bendera.
  • sebuah tulisan yang ada di ikatan kepala

  • sebuah tulisan yang ada di pakaian, baju dll..

  • sebuah tulisan yang ada di alat alat media, komunikasi dan lain sebagainya…

Yang seolah olah mereka ini adalah orang orang yang benar benar berakidah dan menunjukkan kalau diri mereka telah benar benar bertauhid, padahal mereka sejatinya bukan orang bertauhid melainkan hanya sekedar tampilan luarnya saja, yang di simbolkan pada tulisan tulisan kalimat kalimat tauhid, dan merasa paling benar dalam menegak kan kalimat Tauhid tsbut…

Padahal mereka hanyalah kelompok HIZBIYYIN/HIZBIYYAH yang katanya tidak ada kelompok dalam dirinya/mereka, namun menganggap dirinyalah yg paling benar, dan yang di luar kelompok mereka adalah kafir, musuh Allah, murtad, munafik, fasik, yang katanya keluar dari islam dlsbg….

Itulah, sebagian di antara mereka/para hizbiyyin/hizbiyyah sangat mudah mentahdzir saudara saudaranya mereka jika tidak sepadan dengan nya …

Wal’iya Udzubillaahimin Dzaalik..

Saudaraku seiman di manapun kita berada, perlu sekali kita ketahui bahwa menilai orang yg benar benar berakidah adalah dengan manhajnya, karna dengan adanya manhaj yang benar dari seseorang tidak akan pernah mentahdzir saudara mereka, karna sebagaimana hal itu tidak pernah dilakukan nya pada masa rasulullah maupun para shahabat dan sangat berhati hati dari hal tersebut..

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Karena inilah, wajib berhati-hati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan (yang dilakukan). Karena hal ini adalah bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka”.
[Majmu Fatawa’ (III/229)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan “kafir” atau “musuh Allah”.

Sebgaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “wahai kafir”, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan; namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 60), Abu ‘Awanah (I/23), Ibnu Hibban (no. 250-at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban), dan Ahmad (II/44) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma]

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“ … Dan barangsiapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan ia musuh Allah, sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya sendiri”.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 61), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, karena tuduhannya akan kembali kepada dirinya, jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6045) dan Ahmad (V/181), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Padahal keterangan dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir, kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut).

KARNA Syarat-syarat seseorang bisa dihukumi kafir ADALAH :

(1). mengetahui (dengan jelas)

(2). dilakukan dengan sengaja, dan,

(3). tidak ada paksaan.

Sedangkan intifa’ul mawani’ (tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir), yaitu kebalikan dari syarat tersebut :

(1). Tidak mengetahui

(2). Tidak disengaja, dan

(3). Karena dipaksa.

[Lihat Mujmal Masa-ilil Iman wal Kufr al-‘Ilmiyyah fi Ushulil-‘Aqidah as-Salafiyyah, Cetakan II Tahun 1424 H, halaman 28-35, dan Majmu’ Fatawa’ (XII/498)]

Dan kemudian yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul ‘Ilmi yang dalam ilmunya, dan para ulama Rabbani.
Sebab Rabbani, adalah orang yang bijaksana, ‘alim, dan penyantun, serta banyak ibadah dan ketakwaannya.
dengan ketentuan-ketentuan syari’at yang sudah disepakati.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/405)]

Ketahuilah bahwa orang yang benar benar bermanhaj Ahlus Sunnah tidak akan mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam), selama hatinya tetap dalam keadaan beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”
[An-Nahl:106]

OLEH KARNA ITU PERLU JUGA KITA KETAHUI, BAHWA ORNG YANG BENAR BENAR BERAKIDAH HARUS DI LIHATNYA PULA BAGAIMANA MANHAJNYA APAKAH SUDAH BENAR ATAU TIDAK, Sebab kalau kita melihat bahwa Pada hakekatnya, Para hizbiyyah/hizbiyyin meski mereka memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, yg di mana mereka sebenarnya Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga yaitu, Bin Baaz, Al-Albani dan Al-Utsaimin.

Serta Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salaf secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan.

Dan Sampai sampai mereka menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui tentang waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bid’ah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan.

Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mulut mereka, apalagi pada zaman sekarang ini, mereka para hizbiyyin/hizbiyyah berani mencela dan memfitnah para ulama, ulil amri, dan kaum muslimin yang tidak sepaham dengan nya…

Ketahuilah, Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah.

Karna Orang-orang yang merendahkan Ulama’, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah atau bermanhaj Salafus sholih, NAMUN manhaj mereka hanyalah Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena mereka hanya nampak baik pada PENAMPILAN nya saja..

Oleh karna itu mari Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang lurus..

Agar kelak mereka bersama dengan manhaj Salafus Sholeh yang murni, dan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para tabiin yang berada diatasnya..

Wollohu Waliyyut Taufiik !

DARI PENGENALANMU TENTANG ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Engkau DAPAT mengetahui
bahwa :

Rezeki, kehidupan yang baik dan buruk, seluruhnya telah ditentukan.

Maka, berdoalah …!
Dan bersabarlah …!
Serta bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang …!

“…Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur ” .
Barokallohufiik !

JANGAN MENGAMBIL ILMU KEPADA ORANG YANG BELUM JELAS AKIDAH NYA, WALAUPUN DIA MENGATAKAN DIRINYA MENGIKUTI SUNNAH

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Belajar ilmu agama tidak boleh serampangan, karena yang dikorbankan adalah prinsip agama kita. Belajar agama harus kepada ahlinya yang jelas keilmuan, akidah, manhaj, akhlak, dan adabnya; jangan kepada hizbiyin, orang yang berakhlak jelek, atau yang tidak jelas manhaj serta akidahnya.

Barokallohufiikum !

MENGEDEPANKAN KERIDHO’AN ROB-NYA DI ATAS HAWA NAFSUNYA

Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Rob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya”
[(HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)]

Barokallohufiikum !

TAWAKKAL ADALAH SALAH SATU CIRI ORANG YANG BERIMAN DAN BERTAUHID

Allah Berfirman :

َ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang, apabila nama Allah disebut, bergetarlah hati mereka. Dan apabila Ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambahalah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.”
[Al-Anfâl: 2]

Allah Jalla wa ‘Alâ menyifati orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya, dengan tiga sifat yang agung :

  1. Perasaan takut terhadap Allah ketika nama-Nya disebutkan sehingga mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
  2. Bertambahnya keimanan mereka ketika mendengarkan bacaan kalâmullah.

  3. Menyerahkan semua urusan dan hanya bersandar kepada-Nya.
    Ayat ini menunjukkan bahwa bertawakkal hanya kepada Allah merupakan salah satu sifat orang-orang yang beriman.

Faedah Ayat :

  1. Disyariatkannya bertawakkal hanya kepada Allah, dan bahwa hal itu merupakan salah satu dari sifat-sifat orang beriman.
  • Bahwa keimanan itu bertambah dan berkurang, bertambah karena (mengerjakan) ketaatan dan berkurang karena (mengerjakan) kemaksiatan.

  • Bahwa keimanan kepada Allah mengharuskan bertawakkal hanya kepada-Nya.

  • Bahwa di antara sifat-sifat orang-orang yang beriman adalah khusyu’ dan merendahkan diri kepada Allah Ta’âlâ.

  • [Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

    Barokallohufiik !

    TIDAK SEMUA MUSLIM LAYAK DIJADIKAN GURU ATAU USTADZ

    Tidak semua orang yang kita
    kenal adalah tempat kita bertanya tentang
    masalah agama.

    Allah berfirman :

    “Ikutilah orang
    yang tiada minta Balasan kepadamu; dan
    mereka adalah orang-orang yang mendapat
    petunjuk” (QS Yasin:21).

    Ibnu Sa’di mengatakan :

    “Ikutilah orang yang
    memberikan nasehat kepadamu, yang
    menginginkan kebaikan untukmu, bukan
    seorang yang menginginkan harta dan upah
    darimu karena nasehat dan bimbingan yang dia
    berikan kepadamu. Ini merupakan faktor
    pendorong untuk mengikuti orang yang memiliki
    sifat demikian. Namun boleh jadi ada yang
    bilang, ‘memang boleh jadi dia berdakwah dan
    tidak meminta upah dengan dakwahnya namun
    ternyata dia tidak berada di atas kebenaran’.
    Kemungkinan ini Allah bantah dengan
    firmanNya, ‘Dan mereka adalah orang-orang
    yang mendapat petunjuk’. Hal ini karena mereka
    hanyalah mendakwahkan hal-hal yang dinilai
    baik oleh akal sehat dan mereka hanya melarang
    untuk mengerjakan hal-hal yang dinilai buruk
    oleh akal sehat” (Taisir al Karim al Rahman hal
    817, cetakan Dar Ibnu al Jauzi)

    Pepatah arab mengatakan :

    faaqidus syai’ laa
    yu’thihi, orang yang tidak punya tidak akan bisa
    memberi. Sebagaimana orang yang tidak punya
    uang tidak akan pernah bisa memberi uang
    kepada orang lain maka demikian pula orang
    yang tidak berada di atas hidayah tentu tidak
    bisa bagi-bagi hidayah.
    Dalam ayat di atas Allah menjelaskan ciri dai
    yang bisa bagi-bagi hidayah karena dia memang
    berada dalam hidayah yaitu tidak meminta upah
    dengan dakwah dan nasehatnya.
    Tidak hanya sebatas meminta upah berupa
    harta, namun juga tidak meminta upah dalam
    bentuk penghormatan, cium tangan, disowani,
    diminta mencoblos partai tertentu, dimintai
    membuat kartu anggota organisasi tertentu
    ataupun tergabung dalam kelompok pengajian
    tertentu.

    Inilah ciri orang yang layak kita jadikan sebagai
    guru ngaji kita.

    Syeikh Abdur Rahman bin Muhammad bin
    Qosim mengatakan :

    “Dalam dakwah ada dua
    syarat yang harus dipenuhi yaitu ikhlas karena
    mengharap melihat wajah Alloh dan sesuai
    dengan sunnah Rasulullah. Jika seorang dai tidak
    memenuhi kriteria pertama maka dia adalah
    musyrik. Tetapi jika syarat kedua yang tidak
    terpenuhi maka dia adalah mubtadi’. Demikian
    pula, seorang dai harus mengetahui materi yang
    hendak didakwahkan baik berupa perintah
    maupun larangan sebagaimana seharusnya
    lembut ketika memerintah dan melarang suatu
    hal” (Hasyiah Kitab at Tauhid hal 55).

    ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀَ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺭِّﺛُﻮﺍ ﺩِﻳﻨَﺎﺭًﺍ ﻭَﻻَ
    ﺩِﺭْﻫَﻤًﺎ ﻭَﺭَّﺛُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Dan
    sesungguhnya para nabi itu tidak memwariskan
    dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan
    ilmu agama” (HR Abu Daud no 3741, dinilai
    shahih oleh al Albani).

    Adalah menjadi ketentuan untuk semua nabi,
    jika mereka meninggal dunia maka harta
    warisan mereka tidak jatuh kepada keluarganya
    namun menjadi hak sosial. Ketentuan ini
    memberi penegasan bahwa dakwah yang
    diusung oleh para nabi dan orang-orang yang
    mengikuti jejak mereka dengan baik adalah
    dakwah yang ikhlas. Mereka berdakwah bukan
    untuk tujuan memperkaya diri sendiri atau
    anggota keluarga dan keturunan.
    Andai harta warisan para nabi itu dibagikan
    kepada keluarganya maka boleh jadi ada orang
    akan berpikir bahwa nabi demikian rajin
    berdakwah adalah supaya anggota keluarganya
    berkecukupan hingga tujuh keturunan.

    Dengan adanya ketentuan di atas maka orang
    akan semakin yakin bahwa dakwah para nabi
    hanyalah karena Alloh. Mereka ingin agar
    masyarakat berubah semakin baik, semula syirik
    menjadi tauhid, bid’ah menjadi sunnah dan
    maksiat menjadi ketaatan.
    Jangan terburu-buru menjadikan seseorang
    sebagai guru ngaji kita sebelum sifat di atas ada
    pada mereka. Tidak semua muslim layak
    dijadikan guru dan tidak semua orang yang kita
    kenal adalah tempat kita bertanya tentang
    masalah agama.

    By Ustadz Aris Munandar —

    Semoga bermamfaat .
    Barokallohufiikum !

    ANJURAN UNTUK TIDAK KELUAR DARI JAMA’AH WALAU HANYA SATU JENGKAL

    Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ» [ أخرجه أحمد وغيره]

    “Siapa yang memisahkan diri dari jama’ah sekadar satu jengkal maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”

    [HR. Ahmad dalam Musnad 4/130, 202, 5/344, Abu Daud 4/241 no. 475]

    Barokallohufiik !

    PENGANUT ISLAM YANG TERASING DI TENGAH UMMATNYA YANG BANYAK

    Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

    “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

    Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi,

    أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ

    “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)

    Sebagaimana kata As Sindi dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Sunan Ibnu Majah,

    غَرِيبًا أَيْ لِقِلَّةِ أَهْله وَأَصْل الْغَرِيب الْبَعِيد مِنْ الْوَطَن

    Disebut ‘gharib’ jika pengikutnya sedikit dan maksud asal dari kata ‘gharib’ adalah jauh dari negeri.

    ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً

    Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.

    (فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ

    Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut.

    و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا

    Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.

    وَفِيهِ تَنْبِيه عَلَى أَنَّ نُصْرَة الإِسْلام وَالْقِيَام بِأَمْرِهِ يَصِير مُحْتَاجًا إِلَى التَّغَرُّب عَنْ الأَوْطَان وَالصَّبْر عَلَى مَشَاقّ الْغُرْبَة كَمَا كَانَ فِي أَوَّل الأَمْر

    Ini menunjukkan bahwa memperjuangkan dan menjalankan ajaran Islam memang butuh akan keterasingan dari negeri. Ketika itu butuh ada kesabaran ekstra dalam menghadapi keterasingan sebagaimana keadaan Islam di awal-awal. Demikian penjelasan As Sindi.

    Baca selengkapnya di :
    Rumaysho.Com >> http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/berbahagialah-orang-yang-terasing-10465

    TIGA JAWABAN MANUSIA KETIKA DIPERINTAHKAN UNTUK TAAT KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATALA DAN RASULNYA SHALALLAHU ALAIHI WA SALLLAM

    PERTAMA
    Jawaban orang mukmin:

    “sami’na wa atho’na”

    (kami dengar, kami taat)

    KEDUA
    Jawaban Bani Israil atau Yahudi:

    “sami’na wa ashoina”

    (kami mendengar, tapi tidak menaati)

    KETIGA
    Jawaban orang MUNAFIQ:

    “sami’na wa hum laa yasma’uun”

    (mereka berkata: “kami dengar” padahal mereka tidak mendengarkan)

    TerMasuk kategori manakah kita  ?
    Semoga kita termotivasi untuk selalu menjadi golongan pertama, Aamiin.. !?

    ——————–

    PENJELASAN :

    PERTAMA
    Jawaban orang mukmin:

    “sami’na wa atho’na”

    misalnya dijelaskan di surat an-Nuur: 51

    “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami MENDENGAR, DAN KAMI PATUH.” Dan mereka itulah orang-orang
    yang BERUNTUNG.”

    Dan Pada Surat Al-Baqarah: 285:

    “…Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:
    “KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT.”

    KEDUA
    Jawaban Bani Israil atau Yahudi:

    “sami’na wa ashoina”

    Contohnya :
    Terdapat pada surat Al-Baqarah: 93,

    “…Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “KAMI MENDENGAR TETAPI TIDAK MENTAATI”.

    KETIGA
    Jawaban orang MUNAFIQ:

    “sami’na wa hum laa yasma’uun”

    Contohnya terdapat pada Surat
    Al-Anfaal: 20-21,

    “Hai orang orang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang MUNAFIQ yang berkata: “KAMI MENDENGARKAN”, PADAHAL MEREKA TIDAK MENDENGARKAN.”

    Ketika mereka mengatakan,

    “kami mendengar”,

    Allah Maha Tahu, sebenarnya hati mereka menolak dan mereka tidak mendengarkan.

    Sebagaimana orang munafik pada umumnya, secara zhahir mereka menampakkan sifat baik, mendengar dan merespon, padahal tidak demikian (Ibnu Ishaq dlm Tafsir Ibnu Katsir hal 25 terbitan Pustaka Imam Syafii)

    Kemudian Ibnu Katsir menulis :

    “Allah menjelaskan bahwa manusia seperti ini adalah MAHLUK PALING BURUK dan TERMASUK PERANGAI PALING BURUK. karena Allah berfirman di ayat selanjutnya:

    “Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yg tuli.”
    [al-Anfaal: 22]

    Maksudnya TULI dari mendengarkan kebenaran. BISU dari memahaminya. Karena itu Allah berfirman:

    “Yang tidak mengerti apa pun”.

    Mengapa seburuk-buruk mahluk?
    sebab seluruh mahluk melata selain mereka taat kepada Allah sesuai fungsi ia diciptakan. sementara orang munafiq diperintahkan untuk beribadah lalu mereka kufur.

    Pada surat al-Araaf: 179

    Allah berfirman:

    “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.”

    (By Alqur’anAssunnah)

    Semoga bermanfaat .
    Wollohu Waliyut Taufiik !

    MENJADI INSAN BIASA YANG MERASA TIDAK LUPUT DARI KESALAHAN

    Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasallam bersabda:

    “Setiap manusia memiliki salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat.”

    [HR. Tirmidzi (2499) & Ibnu Majah (2451)]

    “Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat salah niscaya Allah wafatkan kalian & menggantikan dengan suatu kaum yang akan berbuat salah lalu mereka meminta ampunan kepada Allah hingga Allah memberikan ampunan bagi mereka.”

    [(HR. Muslim, Shohih Muslim 8/94 (2749)]

    Barokallohufiik !

    JANGAN DI NILAI DARI PENAMPILAN ORANG KARNA PENAMPILAN SESEORANG ITU BELUM TENTU BENAR

    Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata :

    “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit.
    Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.”
    [(Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38)]

    LIHATLAH FIRMAN ALLAH :

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”
    [(QS. Al An’am: 116)]

    DAN ALLAH BERFIRMAN :

    “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
    [(QS. Al A’raf: 187)]

    “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”
    [(QS. Al A’raf: 102)]

    YANG BERPEGANG TEGUH PADA KEBENARAN SEJATINYA HANYALAH SEDIKIT

    Di Sebutkan Dalam Al Qur’an Bahawa :

    “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ”
    [(QS. Hud: 40)]

    Disebutkan pula dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.”
    [(HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220)]

    KEMUDIAN NABI SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENJELASKAN BAHWA BERPEGANG PADA KEBENARAN ITU TERASING

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

    “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”
    [(HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah)]

    Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata :

    “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.”
    [(Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41)]

    KEMUDIAN PATOKAN KEBENARAN ITU BUKANLAH DI LIHAT DARI BANYAK NYA PENGIKUT

    Dalam hal ini yang menjadi Patokan Kita adalah harus tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun biasanya mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

    Allah Ta’ala berfirman :

    “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.”
    [(QS. Yusuf: 103)]

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
    [(QS. Al An’am: 116)]

    JADI DAPAT DISIMPULKAN BAHWA kita Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

    WollohutaA’ala A’lam Bhissowaab .
    Wa Barakallohufiikum !

    MEMAHAMI TENTANG UDZUR KEJAHILAN

    Asy-Syaikh Al-Albaaniy dan ‘Udzur Kejahilan

    Rekan-rekan sekalian,…..

    setelah kita mengetahui madzhab Ibnu Taimiyyah[1], Ibnul-‘Utsaimiiin[2], dan masyayikh kibaar lain tentang ‘udzur kejahilan …..

    sekarang mari kita simak bagaimana pandangan Al-Imaam Al-Mujaddid :

    Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah dalam permasalahan ini. Berikut akan saya bawakan dari kitab Mausuu’ah Al-‘Allaamah Al-Imaam Mujaddid Al-‘Ashr Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy yang disusun oleh Asy-Syaikh Dr. Syaadiy Aalu Nu’maan hafidhahullah. Tepatnya di juz 5 mulai halaman 733.

    Bagi yang dapat membaca dan memahaminya, Anda akan dapatkan pemahaman yang sangat mendalam yang mengandung rincian-rincian kondisi mana yang diberikan ‘udzur dan mana yang tidak diberikan ‘udzur, yang secara ringkas diuraikan dalam beberapa point berikut (dan ini bukan pembatas):

    1. Beliau rahimahullah membedakan antara pengkafiran (takfir) mutlak dan pengkafiran mu’ayyan (individu).
    2. Pengkafiran secara mu’ayyan dilakukan apabila telah tegak padanya hujjah Islam.

    3. Penegakan hujjah hanya dapat dianggap jika hujjah yang ditegakkan/disampaikan tersebut adalah hujjah Islam yang benar dan murni sesuai pemahaman salaf, bukan hujjah Islam yang tercampur dengan kekotoran dan penyelewengan.

    4. Pada dasarnya, kaum muslimin diberikan ‘udzur atas kejahilannya, termasuk dalam perkara kufur akbar dan syirik akbar. Namun demikian, dalam penerapannya tidaklah mutlak. Ada yang diberikan ‘udzur, ada pula yang tidak diberikan ‘udzur, sehingga perlu dilihat kondisinya.

    5. Seorang muslim yang hidup dalam lingkungan masyarakat Islami yang diterapkan padanya hukum-hukum Islam dan hukum-hukum itu telah tersebar/tersiar secara luas[3], maka kejahilannya tidak diberikan ‘udzur.

    6. Seorang muslim yang hidup dalam lingkungan yang tersebar padanya ilmu dan ulama, maka kejahilannya tidak diberikan ‘udzur.

    7. Seseorang masuk Islam dan kemudian hidup dalam lingkungan masyarakat kafir atau negeri kafir yang tidak nampak padanya hukum-hukum Islam, maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    8. Seorang muslim yang hidup di lingkungan masyarakat Islam secara nama namun tidak nampak atau tidak diterapkan hukum-hukum Islam di dalamnya (tersebar kebodohan yang merata), maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    9. Seseorang yang hidup di lingkungan masyarakat Islam yang menyimpang dari ‘aqidah Islam yang benar dimana mereka didampingi ulama-ulama suu’ yang menyebarkan bid’ah dan penyimpangan terhadap sunnah; maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    10. Seseorang yang sudah berusaha secara ikhlash untuk mengetahui hukum Allah yang benar, namun kemudian ternyata ia salah; maka ia diberikan ‘udzur.

    11. Beliau rahimahullah tidak membedakan ‘udzur dalam masalah ushul ataupun furuu’.
      Masih banyak faedah lain yang rinciannya hanya didapatkan dengan membaca secara langsung penjelasan beliau rahimahullah di bawah.

    Sebenarnya masih banyak lembar penjelasan beliau dalam kitab tersebut, akan tetapi yang di bawah saya rasa cukup mewakili, dan Alhamdulillah, beliau cukup konsisten dalam menjelaskan kaedah dalam permasalahan ini.
    Ringkas kata, madzhab Al-Imaam sangat berbeda dengan ‘mereka’ (yang menafikkan ‘udzur kejahilan); yang sekarang mulai bergeliat membawakan cap-cap irjaa’ terhadap orang yang berseberangan pendapat dengan mereka, dengan membonceng fatwa sebagian ulama.

    Laa haula walaa quwwata illaa billaah…..

    Selamat menikmati penjelasan beliau[4] !!

    Al-Albani – Al-‘Udzr bil-Jahl.
    pdf by : abuljauzaa

    ……………………………………………………………

    [1]      Silakan baca :
    Ibnu Taimiyyah dan ‘Udzur Kejahilan (1)
    Ibnu Taimiyyah dan ‘Udzur Kejahilan (2)

    [2]      Silakan baca : Penjelasan Gamblang Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah dalam Masalah Pelabelan Kesyirikan.

    [3]      Beliau rahimahullah mencontohkan negeri Saudi ‘Arabia.

    [4]      Sebagian fatwa beliau rahimahullah di sini telah diterjemahkan di artikel : Madzhab Kibaar Ulama dalam ‘Udzur Kejahilan pada Permasalahan Kufur dan Syirik

    Di Ambil Dari Artikel :

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/?m=1

    Barokallohufiik !

    HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

    Oleh
    Abu Nida` Chomsaha Sofwan

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٨:٥٦

    “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

    Sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan meninggalnya Abu Thalib dalam keadaan tetap memeluk agama Abdul Muththalib (musyrik). Hal ini sebagaimana ditunjukkan hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu Al Musayyab, bahwa bapaknya (Al Musayyab) berkata: ‘Tatkala Abu Thalib akan meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sllam bergegas mendatanginya. Dan saat itu, ‘Abdullah bin Abu Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai, pamanku. Ucapkanlah la ilaha illallah; suatu kalimat yang dapat aku jadikan pembelaan untukmu di hadapan Allah,’. Akan tetapi, ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahal menimpali dengan ucapan : ‘Apakah engkau (Abu Thalib) membenci agama Abdul Muththalib?’. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi sabdanya lagi. Namun mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap di atas agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La ilaha illallah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang”. Lalu Allah menurunkan firmanNya:

    مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ٩:١١٣

    “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. [At Taubah/9 : 113]

    Adapun mengenai Abu Thalib, Allah berfirman:

    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki”. [Al Qashash/28 : 56].

    Dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, dapat dipetik beberapa manfaat dan pelajaran, sebagaimana akan kami sebutkan berikut ini.

    Pertama : Dalam kitab Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh menukil perkataan Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada RasulNya, ‘Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau kasihi,’ artinya, (memberi hidayah atau petunjuk) itu bukan urusanmu. Akan tetapi, kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan Allah akan memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia-lah yang memiliki hikmah yang mendalam dan hujjah yang mengalahkan. Hal ini sesuai dengan kandungan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: ‘Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat hidayah, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah (memberi taufiq) kepada siapa yang Dia kehendaki. (Al Baqarah : 272). Begitu juga firmanNya: Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (Yusuf:103).”

    Dalam kitab At Tamhid Li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh berkata: ‘Hidayah yang dinyatakan oleh Allah tidak dimiliki oleh Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa sallam di sini ialah hidayah taufik, ilham dan bantuan yang khusus. Hidayah inilah yang disebut oleh ulama sebagai hidayah at taufiq wal ilham. Yaitu, Allah Subhanahu w Ta’ala menjadikan dalam hati seorang hamba kemudahan secara khusus untuk menerima petunjuk; sebuah bantuan kemudahan yang tidak diberikan kepada orang selainnya. Jadi, hidayah taufik ini, secara khusus diberikan Allah kepada orang yang Dia kehendaki, dan pengaruhnya orang tersebut akan menerima petunjuk dan berusaha meraihnya. Oleh karena itu, memasukkan hidayah ini ke dalam hati seseorang bukanlah tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab hati hamba berada di tangan Allah, Dia yang membolak-balikannya sesuai dengan kehendakNya. Sehingga orang yang paling Beliau cintai sekalipun, tidak mampu Beliau jadikan menjadi seorang muslim, yang mau menerima petunjuk”.

    Meskipun Abu Thalib merupakan kerabat Nabi yang banyak berjasa kepadanya, namun Beliau tidak mampu memberinya hidayah taufik.

    Adapun jenis hidayah yang kedua, berkaitan dengan hamba yang mukallaf, yaitu hidayah ad dilalah wal irsyad (memberi penjelasan dan bimbingan). Allah menetapkan jenis hidayah ini ditetapkan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus, seluruh nabi dan rasul, dan setiap dai yang menyeru manusia kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

    “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi hidayah”. [Ar Ra‘d/13 : 7].

    Dan Allah berfirman tentang diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللَّهِ

    “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memberi hidayah kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah”. [Asy Syura/42 : 52-53]

    Makna “engkau memberi hidayah” di sini ialah, engkau memberi petunjuk dan bimbingan ke jalan yang lurus dengan beragam petunjuk dan bimbingan, dengan didukung oleh sejumlah mukjizat dan bukti yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran Beliau sebagai seorang pemberi petunjuk dan bimbingan.

    Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi berkata dalam catatan kakinya terhadap kitab Fathul Majid: “Kata hidayah, dipakai untuk makna memasukkan petunjuk ke dalam hati, dengan mengubah haluannya dari kesesatan, kekufuran dan kefasikan, menuju petunjuk, keimanan dan ketaatan, dan membuatnya tetap lurus, teguh di atas jalan Allah. Hidayah seperti ini, khusus hanya dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati dan mengubahnya, serta memberi hidayah atau menjadikan tersesat jalan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

    Berdasarkan ayat ini diketahui, bahwa petunjuk semacam ini tidak terdapat pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi orang selain Beliau. Orang-orang yang mengaku memiliki petunjuk ini, misalnya para tokoh sufi dan semacamnya yang mengaku dapat memasuki hati murid-muridnya, dapat mengetahui isinya, serta dapat mengendalikan sesuai keinginannya, maka semua itu merupakan kedustaan dan penyesatkan. Orang yang mempercayai klaim seperti ini, berarti ia sesat dan menganggap Allah RasulNya dusta.

    Adapun petunjuk menuju ilmu, dalil, keterangan Al Qur`an dan lainnya untuk menempuh jalan keselamatan dan kebahagiaan, maka para hamba mampu melakukan petunjuk ini, sebagaimana telah ditetapkan pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. [Asy Syura : 52].

    Allah telah mewajibkan para ahli ilmu untuk melaksanakan tugas ini, yaitu memberikan petunjuk dengan cara amar makruf dan nahi munkar ke jalan Allah yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara kedua jenis petunjuk ini. Sebagian melewati batas dan sebagian lainnya meninggalkan amar makruf nahi mungkar, berdalih dengan ayat “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi”. Yang demikian ini merupakan kebodohan dan kesesatan”.

    Kedua : Berkenaan dengan tafsir surat At Taubah ayat 113, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh berkata: ‘Artinya, memintakan ampunan untuk orang musyrik, tidaklah pantas dilakukan para nabi. Ini adalah kalimat yang bentuknya khabar (berita), yang mengandung pengertian larangan. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Abu Thalib, sebagaimana disinyalir dari lafazh hadits yang menyebutkan kalimat fa anzala (lalu Allah menurunkan) setelah kalimat ucapan Rasulullah la astaghfiranna laka ma lam unha ‘anhu’ (sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu selama hal itu tidak dilarang) yang mengisyaratkan sebagai kelanjutannya.

    Di dalam Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: Kalimat ma kana atau la yanbaghi dan semisalnya, jika datang dalam Al Qur`an, maksudnya, perkara yang disebutkan tersebut terlarang (tertolak) dengan larangan yang keras. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia” (Maryam : 35). Demikian juga firmanNya “Dan tidak layak lagi Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (Maryam : 92). Dan firmanNya “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (Yasin : 40). Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Sesungguhnya Allah tidak tidur, dan tidak layak bagiNya untuk tidur”. [HR Muslim].

    Kemudian firmanNya “mereka memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik”, maksudnya, mereka (dilarang) memohon pengampunan untuk orang-orang musyrik.

    Sedangkan firmanNya “walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya”, maksudnya, sekalipun orang-orang musyrik itu adalah karib kerabat mereka sendiri. Karena itulah, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah lalu melewati kuburan ibunya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamk meminta izin kepada Allah untuk memintakan ampunan kepadaNya untuk ibunya, namun Allah tidak mengizinkan. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin menziarahi kuburan ibunya, dan Allah pun mengizinkannya. Maka Beliau pun menziarahinya untuk mengambil pelajaran.

    Allah melarang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk orang-orang musyrik, karena orang-orang musyrik tersebut tidak berhak untuk dimintakan ampunan. Jika engkau berdoa kepada Allah agar melakukan sesuatu yang tidak layak bagiNya, maka itu merupakan pelanggaran dalam berdoa.

    Di bagian lain Syaikh ‘Utsaimin berkata: ‘Dan termasuk perkara yang keliru dari sebagian ucapan manusia, yaitu menyebut tokoh-tokoh kafir yang meninggal dengan almarhum (yang pasti dirahmati Allah). Penyebutan seperti ini haram, karena bertentangan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, haram menampakkan kesedihan atas kematian mereka dengan cara berkabung atau selainnya; karena orang-orang yang beriman sepatutnya merasa senang dengan kematian mereka. Bahkan seandainya orang-orang beriman itu memiliki kemampuan dan kekuatan, niscaya akan memerangi orang-orang kafir itu agar agama seluruhnya milik Allah.

    Syaikh Shalih bin Abdulaziz Alu Asy Syaikh berkata,”Jika kita telah mengetahui kalimat ‘ma kana’ (tidak selayaknya) datang dalam Al Qur`an dengan kedua makna ini (makna larangan dan penafian), maka yang dimaksud di sini (ayat 113 surat At Taubah) adalah larangan. Yaitu larangan meminta pengampunan untuk siapapun dari orang-orang musyrik. Maka apabila Allah telah melarang para rasul, para nabi dan para wali, serta selain mereka dari kalangan orang-orang shalih; melarang mereka saat masih hidup dari meminta ampun kepada Allah untuk orang-orang musyrik tersebut, maka ini menunjukkan, kalaulah dianggap mereka mampu memintakan pengampunan dalam kehidupan mereka di alam barzakh, pastilah mereka tidak mau memintakan ampun untuk orang-orang musyrik, dan tidak akan mau memohon kepada Allah untuk orang-orang yang datang kepada mereka -saat mereka telah mati itu- untuk meminta syafaat, memohon ighatsah, atau ibadah-ibadah lainnya. Wallahu a‘lam.”

    Ketiga : Sebuah masalah sangat penting lainnya, yaitu tentang penafsiran sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ucapkanlah la ilaha illallah”, berbeda dengan yang dipahami oleh orang-orang yang mengaku berilmu.

    Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi berkata: Banyak orang mengaku berilmu, tetapi tidak mengerti makna kalimat “la ilaha illallah”, sehingga setiap orang yang mengucapkan kalimat itu, dianggapnya telah Islam, meskipun nyata-nyata melakukan kekufuran. Misalnya dengan beribadah kepada kuburan, kepada orang-orang yang sudah mati, kepada berhala-berhala, menghalalkan yang jelas-jelas diharamkan agama, memutuskan suatu perkara dengan landasan selain yang telah diturunkan Allah, dan menjadikan para rahib atau pendetanya sebagai tuhan selain Allah. Seandainya mereka mempunyai hati untuk memahami kalimat itu, tentu mereka akan mengetahui, makna la ilaha illallah ialah berlepas diri dari ibadah kepada selain Allah, dan memenuhi perjanjian dengan melaksanakan hak Allah dalam peribadatan. Ini ditunjukkan oleh firman Allah “Barangsiapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat ” [Al Baqarah : 256]”
    .
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri menyatakan, golongan Khawarij banyak yang melakukan shalat, puasa, membaca Al Qur`an dan dilandasi dengan la ilaha illallah, namun demikian beliau mengatakan, bahwa mereka kafir, jauh dari agama sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya. Beliau bersabda,”Seandainya aku bertemu dengan mereka, tentulah aku akan memerangi dengan peperangan yang dahsyat”. Demikianlah disebutkan dalam Ash Shahihain.

    Jika sekadar mengucapkan la ilaha illallah sudah cukup, tentu tidak akan terjadi peperangan antara Rasulullah n dengan kaum musyrikin. Bukankah kaum musyrikin pada saat itu juga memahami kalimat la ilaha illallah, bahkan pemahamannya melebihi orang-orang yang mengaku berilmu pada zaman sekarang ini? Namun Allah telah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak memahami.

    Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, bahwa perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (yaitu, berbeda dengan yang dipahami oleh orang yang mengaku berilmu) pada point ketiga ini, seolah-olah beliau menunjuk kepada penafsiran para ahli ilmu kalam terhadap makna kalimat la ilaha illallah, yakni mereka (ahli ilmu kalam) mengatakan, bahwa al ilah (dalam kalimat tersebut) adalah Dzat yang Maha Kuasa untuk melakukan ikhtira‘ (mencipta sesuatu tanpa contoh sebelumnya), dan tidak ada yang mampu untuk melakukan ikhtira‘, kecuali hanya Allah semata. Ini adalah tafsir yang batil.

    Memang benar, bahwa tidak ada yang mampu melakukan ikhtira‘ kecuali Allah, namun itu bukan makna yang sesungguhnya dari kalimat la ilaha illallah. Makna yang sebenarnya ialah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Karena, kalau mengatakan la ilaha illallah bermakna tidak ada yang mampu melakukan ikhtira` kecuali Allah, maka orang-orang musyrik yang dahulu diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga para wanita, anak-anak, dan harta mereka beliau bolehkan untuk ditawan dan diambil, telah menjadi muslim.

    Jadi, secara zhahir perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ini menunjukkan bahwa (mereka yang mengaku berilmu tersebut) adalah para ahli ilmu kalam yang menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan Tauhid Rububiyah, dan begitu pula orang-orang yang menyembah Rasulullah dan para wali tetapi berani berkata, ‘Kami mengucapkan la ilaha illallah.’”

    Maraji‘:
    1. Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh.
    2. Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
    3. At Tamhid Li Syarh Kitab At Tauhid Alladzi Huwa Haqqullahi ‘Alal ‘Ibad, oleh Syaikh Shalih bin Abdulaziz Alu Asy Syaikh.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

    Sumber Artikel : Almanhaj.Or.Id

    Semoga bermamfaat.
    Barokallohufiikum !