Arsip Kategori: ISIS KHWARIJ

BERIKUT JUGA ADALAH RINGKASAN CERAMAH AGAMA, HAKIKAT DARI RADIKALISME

Di akhir-akhir ini muncul fitnah yang menimpa kepada kaum Muslimin secara menyeluruh, dan secara khusus kepada Ahlus sunnah, yaitu ketika muncul istilah radikalisme.

Kemudian timbullah istilah-istilah dalam Islam yang “diidentikkan” dengan radikalisme, yang sesungguhnya istilah-istilah itu ada dalam agama ini, agama Islam, dan istilah itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga dalam kitab-kitab para ulama yang dikarang dari para tabi’in, tabi’ut tabi’in, sampai (zaman) kita hari ini.

Ketika dimunculkan istilah-istilah yang sesungguhnya istilah benar dan syar’i, seperti istilah jihad, istilah daulah Islam, istilah syari’ah, istilah bid’ah, dan istilah kafir, menjadi sesuatu yang dianggap berindikasi ataupun yang melatarbelakangi radikalisme / kekerasan. Maka kita melihat 2 fenomena yang sangat berbahaya di tengah-tengah umat Islam, terutama tentunya kaum Muslimin yang awam terhadap agamanya sendiri, di mana 2 bahaya ini adalah berikut.

Pertama : akan menjadikan semakin jauhnya orang-orang yang lemah terhadap agamanya untuk mengetahui dan menelaah agamanya. Misalnya: Ketika diindikasikan bahwa jihad identik dengan kekerasan, maka mereka tidak mau belajar apa itu jihad dan mereka juga antipati dengan istilah jihad dan hakikatnya. Demikian juga istilah “daulah Islam”, “khalifah”, “khilafah”, ataupun “negara Islam”, karena diidentikkan bahwa orang yang ingin menegakkan daulah Islam adalah radikal, dst. Demikian juga istilah “bid’ah”, di mana apabila seseorang berbicara tentang definisi bid’ah dan pembagian bid’ah, identik dengan yang akan memecah-belah umat, diidentikkan bahwa ini adalah orang yang radikal, maka tentunya kaum Muslimin akan semakin jauh, tidak akan mempelajari, dan antipati ketika mendengar pembahasan apa itu bid’ah, definisi bid’ah, dst. Demikian juga dengan istilah “takfir” atau “pengkafiran”, maka semakin jauh orang-orang awam mempelajari agama ini dan menelaah agama ini, karena mereka merasa takut ketika mempelajari apa-apa yang merupakan bagian dari agamanya, kemudian diidentikkan dengan istilah radikalisme / terorisme.

Sedangkan yang kedua : akan menjadikan lemah dan akan menimbulkan rasa takut dari orang-orang yang kepada agama ini, di mana mereka mungkin orang-orang yang tidak istiqamah, orang-orang yang beragama tetapi mungkin terkadang lemah dengan timbulnya fitnah, tuduhan, dan cacian, maka menimbulkan mereka merasa takut kalau ingin menjelaskan agama ini. Misalnya, kalau dia berbicara tentang istilah-istilah agama ini, dia merasa takut nanti akan tertuduh ini terlibat A, B, atau C, dst.
Dalam kesempatan yang singkat ini, saya (Ustadz Abu Qatadah) ingin memaparkan sekilas, bahwa sesungguhnya istilah-istilah yang ada di dalam Al-Quran ataupun Sunnah dan istilah para ulama itu tidak identik dengan radikal. Di sini ada tiga pembahasan utama.

Pembahasan yang pertama dan utama, sesuatu yang wajib diyakini oleh setiap mukmin-mukminah, muslim-muslimah, baik ulamanya, orang awamnya, ataupun cendekianya, semuanya, bahwa dia harus meyakini bahwa Islam itu adalah agama yang menciptakan kedamaian-ketentraman, agama yang membawa kebaikan. Seorang Muslim, dia harus meyakini bahwa tidak ada kebaikan yang sesungguhnya, yang hakiki, kecuali dengan dinul Islam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas menjelaskan dalam Surat Al-Anbiya’, ayat ke-107, yaitu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan salah satu hikmah Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengutus para Nabi sebelumnya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (الأنبياء: ١٠٧)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

(QS Al-Anbiya’ [21]: 107)

Sumber : http://www.radiorodja.com/hakikat-radikalisme-ustadz-abu-qatadah/

Barokallohufyik…!!!

Iklan

BERIKUT ADALAH RINGKASAN CERAMAH AGAMA, TENTANG KESESATAN ISIS

Tentang munculnya ISIS (Da’isy), ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah mengisyaratkan akan munculnya gerakan ini. Dalam kitab Abu Nu’aim rahimahullah, beliau meriwayatkan yang dinisbatkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ فَالْزَمُوا الأَرْضَ فَلا تُحَرِّكُوا أَيْدِيَكُمْ ، وَلا أَرْجُلَكُمْ ، …

“Jika kamu melihat bendera-bendera hitam, maka berdiamlah (jangan mendukung / jangan mengikuti), …
Kemudian ‘Ali radhiyallahu ‘anhu melanjutkan:

… هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لا يَفُونَ بِعَهْدٍ وَلا مِيثَاقٍ ، يَدْعُونَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى ، وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُورُهُمْ مُرْخَاةٌ كَشُعُورِ النِّسَاءِ ، حَتَّى يَخْتَلِفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ …

“… Mereka mengklaim mempunyai negara (mengklaim pemilik khilafah tapi sesungguhnya tidak ada yang mengakui mereka karena tidak diangkat dan tidak ada yang mengangkat), mereka mengklaim sebagai orang yang paling benar tapi kebenaran jauh dari mereka, nama-nama mereka kunyah (Abu …, Abu …) nisbat kepada tempat-tempat (Al-Baghdady, Al-Filistiny, Al-Jazairy, dst), rambut-rambut mereka panjang terurai seperti rambut wanita, kemudian berselisih di antara mereka sendiri. …”

Sembilan puluh persen apa yang diisyaratkan oleh Ali radhiyallahu Ta’ala ‘anhu tentang akan munculnya satu kelompok ini (ISIS) adalah sama, (baik) sifat-sifatnya (maupun) karakternya.

‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengisyaratkan kalimat ini karena kefaqihan beliau kepada ayat-ayat Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan munculnya penyimpangan di akhir zaman.

Sumber : http://www.radiorodja.com/kesesatan-isis-ustadz-abu-qatadah/

Barokallohufyik…!!!

MENDAHULUKAN KHILAFAH DARI PADA TAUHID??

Orang-Orang Yang Tertipu Oleh Hizbut Tahrir,.. Dan Khilafah Khayalan Mereka,..

Abu Salma al-Atsary

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb pemelihara alam semesta, satu-satunya Ilah yang Haq untuk disembah, yang tiada sekutu bagi-Nya baik dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum dan ibadah kepada-Nya, yang mengutus para nabi untuk menegakkan haq-Nya, yang menurunkan al-Kitab sebagai bayyinah atas keesaan-Nya, yang menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadikan segala maksud dan tujuan hanyalah untuk-Nya.
Amma Ba’du:

Sesungguhnya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, sejak manusia pertama diciptakan hingga manusia terakhir akan binasa, Tauhid merupakan pondasi dasar ubudiyah seorang hamba, haq Rabb yang harus dipenuhi hamba-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, tiadalah diutus para anbiya’ dimuka buni ini kecuali mengembalikan fitrah manusia pada kesuciannya, dalam mengabdi dan beribadah kepada penciptanya semata.

Namun, sungguh sayang, ketika kelompok-kelompok islam yang parsial/juz’iyyat dalam gerakannya bermunculan, mereka membangun bangunan yang dimulai dari atapnya, sedangkan pondasinya keropos dan kosong dari pilar-pilar aqidah, maka bagaimana mungkin bangunan tersebut akan berdiri, sedangkan pondasinya tidak ada, dan mereka mencurahkan segala daya dan upaya mencari cara untuk membangun atap bangunan yang tak berpondasi dan berpilar tersebut.

Mereka berfikir, jika mereka membangun pondasi terlebih dahulu, akan memerlukan waktu yang lama, biaya dan tenaga yang besar, sedangkan hujan, badai dan terik telah menyiksa, maka atap untuk berlindung lebih diperlukan, karena mereka tak kuat lagi tertimpa hujan dan panas terik…

Namun sungguh malang, karena upaya mereka itu adalah mustahil dan bodoh, karena biar bagaimanapun, pondasi adalah penting dalam membangun infra-struktur suatu bangunan, tanpa pondasi, maka kita seolah-olah hanya mengharap sesuatu yang tak mungkin tegak, bak hendak meraih bulan dan bintang di tengah malam, padahal tangan tak sampai.

Pun seandainya berdiri atap tersebut, dan mereka beranggapan telah aman dari hujan dan terik yang mendera, namun bangunan itu sangat lemah, hanya dengan tiupan angin sedikit saja, maka akan hancur berkeping-keping bangunan dan usaha mereka yang sia-sia tersebut.

Inilah perumpaan mereka, penyeru-penyeru islam yang senantiasa menggembar-gemborkan khilafah islamiyyah, namun mereka jahil dan acuh terhadap aqidah dan manhaj yang benar di dalam islam.

Inilah fenomena nyata saat ini, dimana banyak sekali kelompok yang mengklaim sebagai kelompok penegak syariat islamiyyah dan pelanggeng hukum-hukum islam, berkoar-koar ke sana kemari, meneriakkan dan memekikkan tathbiqus syarii’ah (penegakkan syariat), namun sekali lagi sungguh sayang, pekikan mereka tampak begitu parsial, seolah-olah syariat islam yang dimaksud hanyalah seputar hukum-hukum siyasiyyah saja, hanya penyelenggaraan hukum had, qishash, dan lain sebagainya.

Mereka melalaikan suatu hal yang lebih penting dari itu semua, yang merupakan dasar dan pijakan dari hukum-hukum lainnya, dan merupakan syariat terbesar di dalam islam, yang seharusnya kita tegakkan dan kita prioitaskan, sebagai pengejawantahan penegakkan syariat secara integral dan kaafah, yakni penegakkan haqqullah (hak Allah) yang wajib dipenuhi hamba-Nya, yaitu mentauhidkan-Nya di dalam uluhiyah/ubudiyyah.

Karena inilah metode rasululullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam dalam da’wahnya, manhajnya seluruh rasul dan nabi, karena Allah Ta’ala’ala telah menandaskannya secara gamblang di dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 36, “Dan sungguh telah kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul, (yang menyeru) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”

Mereka menyatakan bahwa menegakkan daulah merupakan ghoyah (tujuan) da’wah, dan daulah khilafah Islamiyyah adalah suatu hal yang niscaya dan wajib, mereka berdalil dengan qoidah ushul fiqh, Maa Laa Yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajibun, Suatu hal yang jika tanpanya tidak akan sempurna suatu kewajiban, maka hukumnya adalah wajib, karena tidaklah akan tegak syariat Islam kecuali jika ada perangkatnya, sedangkan daulah khilafah adalah perangkat syar’i untuk meng-implementasikannya. Maka daulah khilafah hukumnya wajib, dan tidak menegakannya termasuk dosa.

Mereka juga berdalil dengan hadits baiat, bersabda nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam, “Man maata walaysa fi unuqihi baa’iatan, fa maata miytaatan jaahilayatan” (barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada baiat di pundaknya, maka matinya bagaikan bangkai jahiliah).

Anggapan mereka, bahwa baiat wajib atas kholifah/imamul a’dham, namun sekarang saat tak ada imamul a’dham, maka dengan kembali ke qoidah awal tadi, makai baiat adalah wajib, karena jika tak ada baiat maka mati kita adalah mati jahiliah, sehingga wajib atas kita untuk membaiat seorang imamul a’dham, padahal ba’iat takkan bisa ditegakkan jika tak ada daulah, maka menegakkan daulah hukumnya wajib, sehingga menurut anggapan mereka, orang-orang yang menegakkan daulah tidak terkena ancaman hadits tersebut, namun orang islam yang tak ada keinginan untuk menegakkan daulah terkena ancaman matinya dalam keadaan jahiliah.

Maka, kami katakan pada mereka, wahai para pengklaim penegak hukum islam dan perindu daulah khilafah islamiyyah, dengan cara apakah kalian memenuhi harapan antum tersebut?

Dengan metode bagaimanakah antum menegakkannya?

Na’am!!! Tidak dipungkiri bahwa syariat islam takkan bisa tegak secara sempurna jika tidak didukung oleh hukama’ atau daulah islamiyyah.

Sungguh merupakan suatu dambaan bagi kami dan kalian akan tegaknya daulah khilafah Islamiyyah ‘ala manhaj nubuwwah, namun ingatlah, bahwa islam ini adalah agama yang sempurna, yang tak butuh pengurangan terlebih lagi penambahan, telah terang metode da’wah al-haq di al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwa tidaklah para nabi dan rasul (QS 16:36, 21:25), baik itu nabi Nuh kepada kaumnya (QS 7:59), Hud kepada kaum ‘Aad (QS. 7:65), Sholih kepada kaum Tsamud (QS. 7:73), Nabi Syuaib kepada Madyan (QS. 7:85), dan seluruh nabi hingga nabi terakhir kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam (39:65-66,dan masih banyak ayat pada tempat lain) melainkan adalah mereka semua diutus untuk menegakkan peribadatan hanyalah untuk Allah semata, baik dalam ibadah dan ahkam.

Lantas, mengapa gaung dan gema pekikan tathbiq syariiatil islaamiyyah yang kalian tabuh itu kosong dari syariat islamiyyah yang paling tinggi ini, yakni da’wah kepada tauhidul uluhiyyah/ibaadah?

Kenapa kalian konsentrasikan, fokuskan dan curahkan segala daya dan upaya kalian pada bagian yang parsial/juz’iyyah saja, yakni penegakkan daulah khilafah semata, penegakan syariat had, qishahsh dan yang semisalnya, sedangkan tidak pernah kami lihat kalian mengajak manusia kepada Aqidah yang benar secara tafshil (teperinci), kepada sunnah nabi yang mulia yang shohihah, kepada dien yang murni sebagaimana awalnya.

Maka kami katakan lagi kepada mereka mengenai dalil-dalil parsial mereka tentang ghoyah da’wah mereka yang mereka orientasikan kepada daulah, maka kami jawab :

  1. Likulli maqaal maqaam wa likulli maqaam maqaal (tiap-tiap ucapan ada tempatnya dan tiap tempat juga ada ucapannya), kaidah yang kalian gembar-gemborkan, Laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, tentulah ada konteksnya, dan memang kami membenarkan bahwa daulah adalah suatu hal yang niscaya sebagai perangkat penegakkan syariat islamiyyah, dan ini adalah ideal keinginan tiap muslim, jika ada muslim yang tak menghendaki akan adanya daulah islamiyyah maka patutlah dipertanyakan keimanannya.

Namun satu hal yang harus diingat, metode apakah yang kita tempuh dalam menuju daulah Islamiyyah, inilah yang membedakan antara kami dengan kalian. Kalian lebih fokus kepada upaya parsial dengan pengopinian kepada masyarakat pentingnya daulah islamiyyah dan penegakkan syariat (walau banyak dari kalian jahil terhadap syariat itu sendiri) sedangkan kita mengajak ummat secara integral dari metode yang digariskan Allah dan Rasul-Nya, yang kita berpijak dan berangkat darinya.

Maka wahai kalian yang berjuang dengan orientasi daulah, kita katakan, maa laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, dengan kaidah ini kita sepakat bahwa menegakkan daulah adalah suatu hal yang niscaya, maka mari kita juga bersepakat, dengan kaidah itu pula, tidak akan bisa tegak daulah jika kita tidak meniti dengan metodenya para anbiya’ dan rusul yang telah ma’tsur di dalam kitabain, yakni memulai dakwah ini dari tauhid dan akidah shahihah.

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hujurat : 1), dari ayat ini maka wajib bagi tiap mu’min untuk mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dari lainnya, dan wajib berhujjah dengan keduanya, maka apakah layak bagi kita mendahulukan kaidah ushul fiqh di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal ushul fiqh merupakan istinbath para ulama’ yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah,.
  2. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah)” (An-Nisaa’ : 59), dari ayat ini wajib atas mu’min jika berselisih untuk mengembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Sekarang kita berselisih terhadap orientasi da’wah, antum mengatakan daulah prioritas pertama saat ini sedangkan kami menyatakan tauhid dan akidah islamiyyah yang terpenting, maka merupakan kewajiban atas kita untuk mengembalikan perselisihan kita ini kepada kitabain, maka wahai kalian yang berorientasi kepada daulah dan tathbiqusy syarii’at, tunjukkan dalil-dalil kalian dari al-Qur’an dan as-Sunnah, di ayat mana para anbiya’ dan rusul memulai da’wahnya dan memprioritaskan da’wahnya kepada kekuasaan, di hadits mana??

Apakah qath’i ad-Dilalah (pasti penunjukannya)??,

Maka ketahuilah!!!

Kami dapat menunjukkan berpuluh-puluh ayat dari al-Qur’an dan beratus-ratus hadits tentang manhaj kami yang qath’i ad-Dilalah, bahwa metode haq dari kitabain adalah tauhid, prioritas pertama dan utama!!!

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (ar-Ra’du : 11), kita beristifaadah dengan ayat ini bahwa keadaan ummat ini takkan berubah hingga ummat ini yang merubah keadaan mereka, tentunya dengan cara/ikhtiyar yang masyru’ (disyariatkan), maka kita sama-sama sepakat dan sering menggunakan ayat ini, namun kita berbeda dalam pemahamannya.

Kalian sering menggunakan ayat ini sebagai hujjah wajibnya menerapkan syariat islamiyyah dan dorongan untuk menegakkannya sebagai solusi dari semua krisis ummat saat ini, namun kalian lupa, bahwa ikhtiyar manusia itu juga tak lepas dari Iradah syar’iyyah Allah, yakni Allah takkan menolong hamba-Nya yang tak menolong agama-Nya, Intanshurullahu yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, mafhum muwaafaqah (pemahaman tekstual) dari ayat ini adalah, jika kita menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong kita.

Kemudian mafhum mukhalafah (pemahaman berkebalikan) dari ayat ini adalah, jika kita tidak menolong agama Allah dengan cara yang digariskan Allah dan rasul-Nya, maka bagaimana mungkin Allah akan menolong kita dan memperteguh kedudukan kita, walaupun kita sudah berusaha untuk merubah keadaan kita, namun jika Allah tak menghendaki, yang disebabkan oleh faktor penghalang turunnya nashrullah, maka keadaan kita akan tetap demikian.

Dan ingatlah bahwa cara perubahan yang paling masyru’ adalah inqilabiyyah yakni dengan tashfiyah (pensucian/pemurnian) dari syirik, bid’ah, maksiat, dan tarbiyah (pembinaan) dengan akidah yang benar, sunnah yang shahihah, dan amal yang shalih. Inilah metode yang haq itu, inilah perubahan yang akan membawa kepada kemenangan, yakni at-Tashfiyah wat-Tarbiyah!!!

  1. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah bejanji dengan orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal sholeh, bahwa ia sungguh-sungguh akan menjadikanmu berkuasa di bumi (dengan kekhilafahan), sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelummu berkuasa, dan sungguh ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar merubah keadaan mereka setelah mereka dala keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dan tiada mempersekutukan-Ku dengan suatu apapun.” (an-Nur : 55),

Ayat ini bagi orang-orang yang berakal pasti akan menunjukkan banyak faidah, dari tekstual ayat telah nyata bahwa merupakan janji Allah untuk memberikan kekuasaan bagi ummatnya yang beriman dan beramal shalih, iman kepada Allah secara ijmal (global) dan tafshil (terperinci), yang mana keimanan ini hanya dimiliki oleh ahlus sunnah wal jama’ah, dan beramal sholih, yang ikhlash lillahi Ta’ala dan ittiba’ rosul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam.

Inilah syarat kemenangan itu, bahkan pada akhir ayat Allah menjelaskan syarat yang lain, yakni mentauhidkan-Nya semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Lantas, bagaimana mungkin Allah Ta’ala akan mmberikan kekuasaan jika ummat ini masih jahil terhadap aqidah yang benar, mereka tak bisa membedakan mana syirik mana tauhid, mana sunnah mana bid’ah.

Mereka masih menyembah kuburan-kuburan, bertawassul dengan wali-wali dan orang shalih yang telah meninggal, menyeru mayat-mayat, membangun kubah di kuburan, ghuluw terhadap nenek moyang mereka, lantas bagaimana mungkin Allah akan memenuhi janji-Nya.

Maka berfikirlah!!!

Inilah yang ditinggalkan oleh hampir kebanyakan kelompok islam, yakni metode dakwah integral/kulliyat yang ittiba’ terhadap metode da’wah anbiya’ dan rusul, yang ma’tsur di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang tidaklah jika ummat ini berpijak dan berangkat dainya kecuali hanyalah kemenangan yang akan didapatnya. Maka berfikirlah sekali lagi wahai kalian yang berjuang menatap ke langit namun kepalamu tak mampu mendongak ke atas apalagi meraihnya.

  1. Al-Ghoyah laa tubirrul washilah, Tujuan tak membenarkan segala cara, karena, al-ashlu fil ‘ibaadah al-ittiba’, asal dari ibadah adalah ittiba’ rasul, dan islam itu tauqifiyyah, laa yutsbitu illa bid’dalil, tidak ditetapkan kecuali dengan dalil, dan da’wah termasuk bagian dari islam, dan ia adalah da’wah, sedangkan da’wah itu adalah tauqifiyyah.

Maka wajib untuk ittiba’ terhadap metode rasul, maka kami tanyakan kepada mereka, ittiba’ terhadap siapakah kalian dalam metode dakwah kalian?

Tidakkah kalian telah melakukan bid’ah fi manhajid da’wah, bid’ah dalam metode da’wah?

Maka dimanakah hujjahmu wahai orang yang berakal???

Sungguh, kami dapat menunjukkan kepada mereka berpuluh hujjah akan lemahnya pemahaman mereka terhadap manhaj dakwah bid’iyyah mereka, banyak kitab yang telah ditulis para ulama’ mengenainya, namun kami cukupkan hanya sampai di sini.

Semoga dapat mengambil pelajaran orang-orang yang berakal, dan semoga impian mereka yang hanya isapan jempol semata itu dapat sirna dan mereka akhirnya tersadarkan bahwa kita takkan dapat meraih kekuasaan dengan pemahaman parsial, dan bersumber dari pemahaman mu’tazilah, khawarij dan kelompok sempalan islam.

sumber : https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2009/10/27/mengapa-mereka-lebih-mendahulukan-khilafah-daripada-tauhid/

FITNAH ISIS (Daulah Islam Iraq dan Syam) DAN KEJAHATANNYA

image

Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Tentang ISIS dan Khilafah Khayalan Mereka

Oleh: Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيمالحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛

Beberapa tahun lalu, di Iraq lahir sebuah kelompok yang menamakan diri mereka دولة الإسلام بالعراق والشام (dalam versi bahasa Inggris: Islamic State of Iraq and Sham; ISIS), dan dikenal juga dengan singkatan [داعش] yang diambil dari huruf-huruf awal nama daulah khayalan tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian pengamat yang mengikuti perkembangan mereka, munculnya daulah khayalan ini diikuti dengan munculnya sejumlah nama: Abu Fulan Al Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, yaitu berupa kun-yah yang disertai penisbatan kepada suatu negeri atau kabilah. Inilah kebiasaan orang-orang majhul (orang yang tidak jelas) yang bersembunyi di balik kun-yah dan penisbatan.

Kemudian setelah beberapa waktu terjadinya peperangan di Suriah antara pemerintah dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah. Bukan untuk membantu memerangi pemerintah Suriah, namun malah memerangi Ahlus Sunnah yang berjuang melawan pemerintah Suriah dan membantai Ahlus Sunnah. Dan sudah masyhur bahwa cara mereka membunuhi orang-orang yang ingin mereka bunuh seenaknya yaitu dengan menggunakan golok-golok yang merupakan cara terburuk dan tersadis.

Di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka mengubah nama mereka menjadi الخلافة الإسلامية (Al-Khilafah Al-Islamiyah). Khalifahnya yang disebut dengan Abu Bakar Al Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid jami’ di Mosul. Diantara yang ia katakan dalam khutbahnya: “Aku dijadikan pemimpin bagi kalian padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kalian”. Sungguh ia telah berkata benar, bahwa ia bukanlah orang yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuhi orang seenaknya dengan golok-golok. Apabila pembunuhan tersebut atas perintahnya, atau ia mengetahuinya atau ia menyetujuinya, maka justru ia adalah orang yang terburuk di antara mereka. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barangsiapa mengajak kepada jalan petunjuk, maka ia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi pahala orang yang mengkutinya itu sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak keada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa semisal dosa orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi dosa orang yang mengkutinya itu sedikitpun” (HR. Muslim, 6804)

Kalimat yang ia katakan tersebut dalam khutbahnya, sebenarnya adalah kalimat yang telah dikatakan oleh khalifah pertama umat Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaah. Namun beliau adalah orang yang terbaik dari umat ini, dan umat ini adalah umat yang terbaik dari umat-umat yang ada. Beliau berkata demikian dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) padahal beliau sendiri tahu dan para sahabat juga tahu bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil berupa ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai hal tersebut. Maka sebaiknya firqah ini (ISIS) sadar diri dan kembali kepada jalan petunjuk sebelum daulah mereka hilang dihembus angin sebagaimana daulah-daulah yang telah ada semisalnya di berbagai zaman.

Dan suatu hal yang disayangkan, fitnah (musibah) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima dan disambut oleh sebagian pemuda di negeri Al-Haramain. Mereka bahagia dan senang terhadap khilafah khayalan ini sebagaimana senangnya orang yang haus ketika mendapatkan minuman. Dan diantara mereka juga ada yang mengaku telah berbai’at kepada khalifah majhul tersebut! Bagaimana mungkin bisa diharapkan kebaikan dari orang-orang yang memiliki pemahaman takfir (serampangan memvonis kafir) dan taqtil (serampangan membunuh orang) dengan cara membunuh yang paling kejam dan sadis?

Maka yang menjadi kewajiban atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri mereka dari pengaruh para provokator, dan hendaklah mereka ruju’kepada apa yang datang dari Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam setiap tindak-tanduk mereka. Karena pada keduanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaknya mereka juga ruju’ kepada para ulama yang senantiasa menasihati mereka dan kaum muslimin. Diantara contoh keselamatan dari kesesatan karena ruju’ kepada para ulama adalah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya (191) dari Yazid Al Faqir, ia berkata:

كنتُ قد شَغَفَنِي رأيٌ من رأي الخوارج، فخرجنا في عِصابةٍ ذوي عدد نريد أن نحجَّ، ثمَّ نخرجَ على الناس، قال: فمررنا على المدينة فإذا جابر بن عبد الله يُحدِّث القومَ ـ جالسٌ إلى ساريةٍ ـ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: فإذا هو قد ذكر الجهنَّميِّين، قال: فقلتُ له: يا صاحبَ رسول الله! ما هذا الذي تُحدِّثون؟ والله يقول: {إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ}، و {كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}، فما هذا الذي تقولون؟ قال: فقال: أتقرأُ القرآنَ؟ قلتُ: نعم! قال: فهل سمعت بمقام محمد عليه السلام، يعني الذي يبعثه فيه؟ قلتُ: نعم! قال: فإنَّه مقام محمد صلى الله عليه وسلم المحمود الذي يُخرج اللهُ به مَن يُخرج. قال: ثمَّ نعتَ وضعَ الصِّراط ومرَّ الناس عليه، قال: وأخاف أن لا أكون أحفظ ذاك. قال: غير أنَّه قد زعم أنَّ قوماً يَخرجون من النار بعد أن يكونوا فيها، قال: يعني فيخرجون كأنَّهم عيدان السماسم، قال: فيدخلون نهراً من أنهار الجنَّة فيغتسلون فيه، فيخرجون كأنَّهم القراطيس. فرجعنا، قلنا: وَيْحَكم! أَتَروْنَ الشيخَ يَكذِبُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم؟! فرجعنا، فلا ـ والله! ـ ما خرج منَّا غيرُ رَجل واحد، أو كما قال أبو نعيم

“Dulu aku pernah terpengaruh dan begitu menyukai suatu pemikiran dari pemikiran Khawarij, lalu kami keluar bersama sekelompok orang banyak untuk berhaji. Kami pun keluar bersama orang-orang. Kemudian tatkala kami melewati Madinah, kami mendapati Jabir bin ‘Abdillah tengah duduk di tengah para musafir untuk mengajarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau menyebutkan tentang Al Jahannamiyun (orang-orang yang dikeluarkan dari neraka). Aku pun berkata kepada Jabir bin ‘Abdillah, ‘Wahai shahabat Rasulullah, apa yang sedang kau katakan ini? Bukankah Allah berfirman (yang artinya): Wahai Rabb kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia” (QS. Ali ‘Imran: 192). Allah juga berfirman (yang artinya): “Setiap kali mereka (para penghuni neraka) hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya” (QS. As-Sajdah: 20). Lalu apa yang kalian katakan ini?”. Maka Jabir bin ‘Abdillah pun berkata, “Apakah kau membaca Al Quran?”. Aku menjawab, “Ya”. Jabir berkata, “Lantas apakah kau mendengar tentang kedudukan Muhammad ‘alaihis salam? Yakni kedudukan yang beliau diutus kepadanya?”. Aku menjawab, “Ya”. Jabir “Maka sesungguhnya itulah kedudukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang terpuji, yang dengan sebabnya lah Allah mengeluarkan orang yang dikeluarkan dari neraka”. Kemudian Jabir menjelaskan tentang letak shirath dan bagaimana manusia melintasinya. Aku khawatir tidak menghafalnya semua penjelasannya. Hanya saja Jabir mengatakan bahwa ada orang-orang yang dikeluarkan dari neraka setelah mereka berada di dalamnya, dia mengatakan, “Lalu mereka dikeluarkan (dari neraka) seakan-akan mereka itu potongan kayu dan biji-bijian kering yang telah dijemur, lalu mereka dimasukkan ke sebuah sungai dari sungai-sungai surga dan mereka mereka dicuci di situ, lalu dikeluarkan lagi seakan-akan mereka itu kertas yang putih”. Lalu kami pun ruju’, kami mengatakan kepada sesama kami, “Celakalah kalian! Apakah kalian pikir Syaikh (yaitu Jabir bin ‘Abdillah) telah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Dan kami pun ruju’, dan demi Allah, tidaklah ada yang keluar dari kelompok kami kecuali seorang lelaki saja. Atau kira-kira demikian yang dikatakan oleh Abu Nu’aim” (HR. Muslim)

Abu Nu’aim di sini adalah Al Fadhl bin Dukain, ia adalah salah seorang perawi hadits ini. Hadits ini menunjukkan bahwa kelompok yang disebutkan di dalamnya telah mengagumi pemikiran Khawarij, yaitu mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini mereka kekal di neraka. Namun dengan bertemunya mereka dengan Jabir radhiyallahu’anhu dan dengan penjelasan beliau, akhirnya mereka kemudian mengikuti bimbingan Jabir kepada mereka lalu meninggalkan kebatilan yang mereka pahami. Mereka juga tidak jadi melancarkan pemberontakan yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah haji. Inilah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang Muslim jika ia ruju’ kepada ulama.

Bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat ahlussunnah wal jama’ah juga ditunjukkan oleh sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berikut ini, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu,

إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu ketika telah terlihat cahaya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, ia pun berlepas diri dari Al Qur’an dan membuangnya di belakang punggungnya. Lalu ia berusaha memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah syirik. Aku (Hudzaifah) berkata: ‘Wahai Nabi Allah, (dalam keadaan ini) siapakah yang berbuat syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh?’. Beliau bersabda: ‘yang menuduh’” (HR. Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Al-Bazzar, lihat Silsilah Ash Shahihah karya Al-Albani no. 3201).

Masih belianya usia, merupakan sumber buruknya pemahaman. Ini ditunjukkan oleh hadits yang di riwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya (4495) dengan sanadnya dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya bahwa ia berkata:

قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا} ، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله  {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

“Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan aku ketika itu masih berumur muda: Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke Ka’bah atau Umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf pada keduanya”. Maka aku berpendapat bahwa tidak mengapa seseorang tidak melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah?. Aisyah berkata: Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshar, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid. Dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah. Ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke Ka’bah atau Umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf pada keduanya”” (HR. Al Bukhari)

‘Urwah bin Az-Zubair termasuk orang yang utama dari kalangan tabi’in, salah seorang dari 7 fuqoha Madinah di masa tabi’in. Beliau telah menyiapkan‘udzur-nya pada kesalahan pemahaman beliau, yaitu usia beliau yang masih muda ketika bertanya pada Aisyah. Maka jelaslah dari sini bahwa belianya usia meupakan sumber buruknya pemahaman dan bahwa kembali kepada ulama adalah sumber kebaikan dan keselamatan. Dalam Shahih Al Bukhari(7152) dari Jundab bin Abdillah, ia berkata:

إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل

“Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali dari yang baik hendaknya ia lakukan. Barangsiapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan setangkup darah yang ia tumpahkan, hendaknya ia lakukan” (HR. Al Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (13/130) : “Diriwayatkan juga secara marfu’ oleh Ath-Thabrani dari jalan Ismail bin Muslim, dari Al Hasan, dari Jundab dengan lafadz: kalian tahu bahwa aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه

‘Janganlah terhalangi sampai salah seorang dari kalian dengan surga karena setangkup darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga’

Hadits ini walaupun tidak secara tegas marfu’ kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam namun dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat. Sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa hak” [selesai perkataan Ibnu Hajar].

Sebagian hadits-hadits dan atsar-atsar ini telah aku sebutkan dalam tulisanku berjudul Biayyi ‘Aqlin wa Diinin Yakuunut Tafjiir wat Tadmiir Jihaadan. Di dalamnya juga terdapat banyak hadits dan atsar yang menjelaskan haramnya bunuh diri dan haramnya membunuh orang lain tanpa hak. Tulisan ini telah dicetak secara tersendiri pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama tulisan lain yang berjudul Badzalun Nush-hi wat Tadzkiir li Baqaayal Maftuuniin bit Takfiir wat Tafjiir yang termasuk dalam Majmu’ Kutub war Rasail milikku (6/225/276).

Dan kepada para pemuda yang sudah ikut-ikutan mendukung ISIS ini, hendaklah mereka ruju‘ dan kembali kepada jalan yang benar. Dan jangan terfikir sama sekali untuk bergabung bersama mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan ini lewat bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan golok-golok yang sudah jadi ciri khas kelompok ini. Dan (kepada para pemuda Saudi) hendaknya mereka tetap mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya. Demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek juga mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Sungguh negeri ini adalah negeri yang terbaik di dunia ini, dengan segala kekurangannya. Dan diantara sebab kekurangan tersebut fitnah (musibah) para pengikut budaya Barat di negeri ini yang terengah-engah dalam taqlid terhadap negeri Barat dalam perkara yang mengandung mudharat.

Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar Ia senantiasa memperbaiki kondisi kaum muslimin di manapun berada. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada para pemuda kaum Muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, semoga Allah menjaga negeri Al Haramain baik pemerintah maupun masyarakatnya dari setiap kejelekan, semoga Allah memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang fajir. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Sumber: http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28

Penerjemah: tim penerjemah Muslim.Or.Id

SITUS RESMI JABHAH NUSHRAH TERBARU UNGKAP KERUSAKAN DAN KEDZOLIMAN ISIS KHAWARIJ

image

ALEPPO – Komite Media Jabhah Nushrah di Wilayah Timur merilis sebuah situs yang didedikasikan sebagai penjelasan tentang kesesatan Daulah (ISIS) pada Senin (17/2/2015). Materi tersebut bertajuk “Daulah Islam: Sebuah kekhalifahan Dzalim dan Rusak”. Website tersebut mengupload 4,5 GB (220 file) video, foto, dokumen, dan rekaman suara yang mengungkapkan betapa bahaya dan sesatnya Daulah (ISIS), sebagaimana dilaporkan Opensyria dalam Muqawamah, Kamis (26/2).

“Dia (ISIS) bekerja secara intelektual dan politik; sehingga kita harus menghadapinya dengan senjata yang sama,” demikian bunyi bagian pendahuluan situs tersebut.

Rilis situs tersebut merupakan bagian dari strategi Jabhah Nushrah guna menciptakan jalinan emosional dan meluruskan pemahaman warga Suriah, kondisi yang dianggap penting untuk membangun Imarah Islam di Suriah.

Materi dari website tersebut, menurut muqadimahnya, merupakan “pesan yang kami telah putuskan untuk dikirim ke seluruh umat.” Di dalamnya termasuk video dan foto-foto eksekusi tentara Daulah terhadap warga sipil, serta kesaksian dari orang-orang dari dalam Daulah. Situs itu juga menyajikan rekaman suara petinggi Daulah (ISIS) yang menyebut Syaikh Usamah Bin Laden (rahimahullah), Amir Imarah Islam (Taliban) Mullah Muhammad Umar (hafidzahullah), dan pejuang Jabhah Nushrah sebagai murtadin (orang yang keluar dari Islam).

Semua rekaman video, suara, dan pernyataan dalam situs tersebut secara resmi tertanda oleh Jabhah Nushrah dan para petinggi Al-Qaeda pusat, serta anggota Dewan Syura, termasuk Syaikh Ayman Az-Zawahiri (hafidhahullah), Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani (hafidhahullah), dan Syaikh Abu Abdullah Al-Shami (hafidhahullah). Jabhah Nushrah secara tegas menuntut diakhirinya pertikaian antara faksi-faksi jihad, dan [mengakhhiri] kesalahpahaman dalam komunikasi, serta menyeru [Muslimin] untuk bersatu di bawah kesatuan atau Imarah Islam.

Dalam sebuah dokumen audio, Syaikh Ayman Az-Zawahiri dan Syaikh Abu Muhmmad Al-Jaulani menatakan kepada rakyat Suriah, menyerukan penghancuran rezim Assad, mengutuk persengkataan, faksi pemberontak yang rusak (pelaku kriminal), dan menyerukan sebuah ikatan Islami, menyatukan umat, yang ianya lebih kuat daripada politik, Hizbiyyah, atau ikatan Ashobiyyah.

Pernyataan ini sekaligus mendefinisikan peran organisasi jihad sebagai garda terdepan dan pembela revolusi yang sebenarnya, dan yang terakhir bertindak sebagai perpanjangan kehendak umat Islam.

  1. Muqadimah Website

Jabhah Nushrah dalam muqadimahnya berusaha untuk mengekspos penyimpangan Daulah (ISIS). Hal ini dilakukan agar umat Islam dan Mujahidin menyadari siapa sebenarnya Daulah (ISIS). Pada banner website tersebut, JN mengatakan bahwa ini merupakan “rilis terbesar di kancah jihad untuk mengungkap hakikat Khawarij modern: ‘Tandhim Daulah Al-Baghdadi’”.
muqadimah website Jabhah Nushrah disertai banner yang tegas

caption muqadimah website Jabhah Nushrah disertai banner yang tegas

Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; dan tidak ada permusuhan kecuali pada para penindas (Zalim), dan sungguh akibat yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, Sholawat dan Salam semoga tercurahkan pada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Umat Islam harus tahu realitas apa yang terjadi di Suriah, dari penindasan, kekejaman, dan agresi dari Jamaah Daulah terhadap kaum Muslimin pada umumnya, dan Mujahidin khususnya. Dengan beberapa pengecualian kekejaman serupa belum terulang dalam sejarah. Namun banyak yang masih bingung dan ragu-ragu, terutama ketika terpengaruh oleh media mereka (Daulah) yang penuh dengan kebohongan. Dan untuk alasan ini, kami, “Komite Media Jabhah Nushrah di Wilayah Timur,” telah memutuskan untuk mengungkap hakikat dan kebohongan para Ghullat (ekstremis) yang berselubung di balik jubah agama; maka kami bekerja dan mengumpulkan materi-materi yang terkait dengan peristiwa-peristiwa (di Suriah), serta penjelasan dari para ulama, dan kami menyusunnya semua itu dalam format yang mudah untuk dicari; sehingga kebenaran itu sampai pada mereka yang ingin untuk mencari tahu.

Website ini datang sebagai sanggahan; pengajaran dan nasihat kepada umat; sebagai pedoman untuk mereka yang bodoh; sebagai klarifikasi kepada mereka yang membabi buta; sebagai dakwah untuk mereka yang terdelusi dan ditipu; dan sebagai tekanan kepada penindas.

Website ini, yang kami mohon kepada Allah agar bermanfaat bagi kami, adalah pesan yang telah kami putuskan untuk menyampaikannya ke seluruh umat. Kami melihat mereka tersebar di kanan dan kiri (kebingungan), meraba-raba dalam gelap mencari jalan. Sungguh proyek Jamaah Daulah berbahaya di setiap tingkatan. Dia dipersenjatai dengan pikiran hitam dan bergerak secara intelektual, militer dan politik; sehingga kita harus menghadapinya dengan senjata yang sama.

Jadi ini adalah upaya kami, kami memohon pengampunan dari Tuhan kami (agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata (pula); kita menaruh (fakta) ini di tangan mereka yang menginginkan kebenaran, bersama harapan kami kepada Allah Azza wa Jalla agar (upaya kami) tidak mencair bagai lembah, atau tertiup bagai debu. Kami memohon kepada Azza wa Jalla agar pekerjaan kami ini membantu kemenangan kaum tertindas, dan menjadi penghalang bagi penindas, karena Allah ada di belakang kami, dan Dia-lah yang membimbing ke jalan yang lurus.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Setelah Mukadimah website, daftar isi membagi situs menjadi 17 bagian:

Fadilatus Syaikh Dr. Ayman Az-Zawahiri – Hafidhahullah
Fadilatus Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani – Hafidhahullah
Fadilatus Syaikh Abu Mariah Al-Qahtani – Hafidhahullah
Mubahalah, dan kesaksian sebelum akhir waktu Mubahalah
Serial hukum Imarah, oleh Syaikh Harith An-Nadhari – Taqabbalahullah
Serial masalah-masalah penting seputar Imamah hak umat, oleh Syaikh Abu Abdullah As-Shami- Hafidhahullah.
Ulama dan Da’I : Mereka memutuskan dengan kebenaran, dan membongkar hakikat Daulah
Tulisan dan pernyataan (Ini adalah pernyataan kepada manusia, sebagai bimbingan dan nasihat untuk orang yang bertaqwa)
Dokumentasi bergambar.. Membongkar hakikat aqidah mereka dan takfir mereka kepada Mujahidin.
Dokumentasi kejahatan.. Mereka membunuh orang-orang Islam dan meninggalkan orang-orang musyrik.
Daulah Khawarij berkata : Rekaman suara mengungkap kerusakan aqidah mereka
Dan bersaksilah seseorang dari mereka : Kesaksian tentang Jamaah Daulah dari dalam
Syubuhat dan Tanggapan: Tanggapan para ulama dan da’i mengenai syubuhat ekstrimis Khawarij
Muhajirin di bawah pengepungan : Serial perkataan Muhajirin yang dikepung oleh Khawarij dan Nushairiyyah di Deir Ez-Zor
Kaum Zindiq dan kafir memuji Daulah Islam atas pembunuhan mereka terhadap orang-orang Islam di Suriah
Pengalaman Aljazair : Alasan kegagalan Jihad Aljazair dan perbandingan dengan peristiwa di Syam
Khilafah yang kami inginkan, oleh Syaikh Dr. Ayman Az-Zawahiri – Hafidhahullah

  1. Detail Bagian : Kejahatan Perang dan Rekaman yang Bocor

Di sini kami hanya mengambil satu dari banyak contoh kejahatan Daulah terhadap kaum Muslimin. Hal ini diungkapkan dalam bagian 10. Dokumentasi kejahatan.. Mereka membunuh orang-orang Islam dan meninggalkan orang-orang musyrik.

2.1 Prajurit asing Daulah melakukan eksekusi terhadap orang tua dan anak-anak di Aleppo

Jabhah Nushrah menampilkan video sejumlah prajurit Daulah mengeksekusi setidaknya tujuh warga sipil di Aleppo pada tahun 2013. Tidak jelas siapa yang memproduksi dan mengupload video yang berjudul “Kebenaran tentang Abu Assad Al-Uzbeki, penjahat dalam pembantaian di Aleppo,” ke YouTube pada April 2014.

Dalam video pembantaian tersebut, setidaknya satu anak ditembak mati. Setelah eksekusi, komandan satuan (Abu Assad) berjalan sepanjang orang yang tewas dan berbicara dalam bahasa Slavia.
video pembantaian yang dilakukan ISIS

video caption pembantaian yang dilakukan ISIS

Pada detik ke 49, seorang warga yang menunggu untuk dieksekusi mengatakan, “dia hanya seorang anak kecil.” Namun prajurit Daulah tetap membunuh anak itu tanpa ampun. Sumber: “ISIS melakukan eksekusi massal di Suriah +21.” Tahrir Souri. 7 Maret 2014.
video pembantaian yang dilakukan ISIS

video caption pembantaian yang dilakukan ISIS

Pada menit 01:55, komandan satuan berbicara dalam bahasa yang terdengar seperti bahasa Slavia. Sumber: “ISIS melakukan eksekusi massal di Suriah +21.” Tahrir Souri. 7 Maret 2014.

Jabhah Nushrah membandingkan frame video dari komandan satuan yang terlihat dalam video pembantaian, dengan foto seorang pejuang asing dari video resmi Jamaah Al-Baghdadi. Nama pria itu adalah Abu Assad Al-Uzbeki, “menyajikan perbandingan titik-demi-titik kedua gambar.
Abu Assad al-Uzbeki

Pada: detik ke 29, terlihat jelas foto Abu Assad Al-Uzbeki dengan video pembantaian sangat mirip dengan foto dalam video rilisan Daulah. Tulisan di gambar : “Dan ini yang dikenal sebagai Abu Assad Al-Uzbeki.” Sumber: “Kebenaran tentang Abu Assad Al-Uzbeki, penjahat dalam pembantaian di Aleppo.”

Pada menit ke 02:37, Jabhah Nushrah coba membandingkan antara kedua gambar. Tutup kepala dan ukurannya, hidung dan bentuk wajahnya, sabuk amunisi, lingkar tubuh, sarung tangan dan jenggot semuanya memiliki kesamaan. Sumber: “Kebenaran tentang Abu Assad Al-Uzbeki, penjahat dalam pembantain di Aleppo.”

Setelah analisis video, Jabhah Nushrah menyajikan pernyataan video oleh Mujahid Syaikh Atiatullah Al-Libi, seorang anggota Dewan Syura Al-Qaeda. Al-Libi pertama menyatakan “adalah tugas kita, sebgai seorang yang memiliki kemampuan, untuk menyelamatkan dan melindungi [masyarakat Muslim] yang tertindas.” Beliu kemudian mengutuk kebrutalan kekejaman dan mencela tindakan seperti itu, beliau mengatakan “mereka tidak ada bedanya dengan geng-geng kriminal (Shabihah) Assad, atau tentara bayaran murtad.”
pesan Dewan Syura Al-Qaeda

pesan Dewan Syura Al-Qaeda

Pada 2:40, Anggota Dewan Syura Al-Qaeda Syaikh Atiatullah Al-Libi mencela kekejaman, dan mendesak untuk membela kaum Muslimin yang tertindas di mana-mana. Sumber: “Kebenaran tentang Abu Assad Al-Uzbeki, penjahat dalam pembantain di Aleppo.”

2.2 Rekaman suara ‘ulama’ Daulah yang mengkafirkan Syaikh Usamah Bin Laden

Abu Muhammad Al-Tunisi, Syar’I Daulah yang berbasis di Hasakah, Abu Mus’ab Al-Tunisi, Syar’I Daulah di Deir Ez-Zor, dan Abu Usamah Al-Iraki, gubernur Hasakah, membahas mengenai apakah pantas mengkafirkan Taliban di Afghanistan, dan terlebih lagi, Syaikh Usamah bin Laden sendiri.

Saat pembahasn dimulai, satu orang mengatakan (tidak jelas siapa) bahwa sebelum invasi AS ke Afghanistan pada tahun 2001, pemerintah Taliban telah mengirim duta ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan menurut mereka, juga ke PBB, perwakilan tidak resmi itu dikenal bernama Abdus Salam Daif.

Sebuah pertanyaan kemudian diajukan: “apakah ‘pelanggaran’ ini membuat Taliban murtad dan keluar dari Islam?” Pada menit ke 01:10, konsensus di antara yang hadir adalah “tentu saja.” Keterlibatan Taliban dengan masyarakat internasional membuat mereka murtad. Sementara Syaikh Usamah Bin Laden, pada menit ke 2:36 dalam rekaman: “Jika dia menyaksikan tindakan ini berlangsung dan kemudian duduk bersama mereka, maka hukum atas dirinya adalah sama dengan mereka (yakni murtad).”

Kesimpulan

Website yang baru dirilis ini merupakan salah satu upaya Jabhah Nushrah untuk mengungkapkan hakikat Daulah (ISIS) yang sebenarnya. Dengan dibongkarnya penyimpangan dan kesesatan mereka, Jabhah Nushrah berharap agar kaum Muslimin dan Mujahidin, serta orang-orang yang masih mencari kebenaran akan tercerahkan dan menemukan kebenaran sejati. Wallahua’lam bish shawwab.

http://www.arrahmah.com/foto/situs-resmi-jabhah-nushrah-terbaru-ungkap-kerusakan-dan-kedzaliman-isis.html#sthash.qCiJbfm4.dpuf

TIDAK ADA KHALIFAH DARI AHLUL BAIT SAMPAI HARI KIAMAT KECUALI IMAM MAHDI, JADI DAULAHNYA BAGHDADY ADALAH MAJHUL

image

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al Bidayah Wan Nihayah juz 11/398 menyebutkan :

“Dan di antara yang menjadi dalil bahwa mereka (Khilafah Daulah Fathimiyyah) adalah orang-orang yang memberikan pengakuan dusta (bahwa mereka adalah Ahlul Bait), sebagaimana disebutkan oleh para ulama yang terhormat itu dan para imam yang utama, dan bahwasanya mereka (Daulah Fathimiyyah) tidak memiliki hubungan nasab sama sekali dengan Ali bin Abi Thalib juga kepada Fathimah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana pengakuan mereka. Adalah ucapan sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma kepada Al Husain bin Ali bin Abi Thalib ketika akan berangkat ke Iraq, yaitu saat para penduduk kota Kuffah mengirimkan utusan kepada beliau dan berjanji akan memberikan bai’at kepadanya.

Ibnu Umar berkata : “Janganlah engkau pergi ke sana karena sesungguhnya aku takut engkau akan terbunuh, dan sesungguhnya kakekmu (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam) telah diminta oleh Allah untuk memilih dunia atau akhirat, dan beliau memilih akhirat dibandingkan dunia. Sedangkan engkau adalah bagian dari beliau dan sesungguhnya demi Allah, engkau tidak akan mendapatkannya (kekhalifahan), engkau maupun salah satu di antara orang setelahmu, juga Ahlul Bait mu”.

Ibnu Katsir kemudian menjelaskan : “Kalimat yang berkedudukan Hasan Shahih, yang tertuju pada kepada masalah ini dan sangat masuk akal, yang disampaikan oleh sahabat yang mulia ini menunjukkan bahwa : TIDAK AKAN ADA KHALIFAH DARI AHLUL BAIT KECUALI MUHAMMAD BIN ABDULLAH AL MAHDI (IMAM MAHDI) YANG AKAN DIANGKAT DI AKHIR ZAMAN BERSAMA DENGAN TURUNNYA NABI ISA IBNU MARYAM. HAL INI KARENA DEMI MENJAGA AGAR AHLUL BAIT TIDAK TERPEDAYA DENGAN DUNIA DAN AGAR TIDAK MENGOTORI KEMULIAAN MEREKA”.(Al Bidayah Wan Nihayah Juz 11/398)

Berdasarkan atsar hasan shahih ini dan berbagai komentar ahli nasab terhadap keluarga Al Badry, tidak sedikit yang mengatakan bahwa nasab Al Badry bukanlah Ahlul Bait. Namun demikian jika memang benar bahwa nasab Al Badry di mana Syaikh Abu Bakar Al Baghdady dilahirkan merupakan Ahlul Bait maka kemungkinannya adalah :

Pertama : Syaikh Abu Bakar Al Baghdady menjadi Khilafah bukan di atas Manhaj Nubuwwah karena masih belum memenuhi syarat-syarat wilayah, tamkin, ahlul halli wal aqdy dan sebagainya menurut jumhur ulama mutaqaddimin dan muta’akhkhir.

Dan juga karena khilafahnya didirikan dengan dasar ghalabah sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Malik bin Marwan (pendiri Daulah Umayyah) atau Abul Abbas Ash Shaffah (pendiri Daulah Abbasiyyah). Atsar Ibnu Umar di atas sangat jelas menyebutkan bahwa Khalifah dari Ahlul Bait setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Al Hasan bin Abi Thalib adalah Muhammad bin Abdullah Al Mahdi.SEBELUM AL MAHDI, MEMANG AKAN MUNCUL KHILAFAH TAPI KHALIFAHNYA BUKAN DARI AHLUL BAIT.

Adapun mengenai pentingnya syura yang melibatkan jumhur ulama’ berikut penjelasan Asy Syahid –kamaa nahsabuh- Sayyid Quthb tentang pentingnya Syura :

“Di sini, di ayat-ayat ini menggambarkan kekhasan jama’ah ini (jama’atul muslimin) yang mana sifat ini telah dilekatkan secara kuat dan menjadi sifat utamanya, padahal ayat-ayat ini sifatnya Makkiyah yang diturunkan sebelum berdirinya Daulah (Khilafah) Islam di Madinah. Sesungguhnya kami menemukan bahwa di antara sifat jama’ah ini adalah : “…dan urusan-urusan mereka itu diputuskan dengan syuro di antara mereka”. Dari ayat yang diwahyukan Allah di atas, maka sesungguhnya penempatan kedudukan syura pada kehidupan kaum muslimin lebih dalam dari sekedar sebagai aturan politik kenegaraan. Syura adalah tabi’at yang sangat mendasar bagi jama’atul muslimin secara keseluruhan di mana semua urusan mereka didasarkan atas syura tersebut, kemudian dari jama’atul muslimin itulah syura diaplikasikan pada Daulah (khilafah) dengan sifat asasnya sebagai sebuah proses alami pada Daulah Islamiyyah”. (Fie Zhilalil Qur’an 6/327)

Dari penjelasan Sayyid Quthb di atas bisa kita pahami bahwa Syura adalah asas utama umat ini dan dengan syura pula Khilafah Islamiyyah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah akan ditegakkan. Lalu bagaimana jika proses syura ini yang justru disepelekan oleh ISIS??

Dengan syura, semua pihak bisa saling memberi nasehat, saling menghargai perbedaan dan saling memberikan masukan. Semestinya ISIS memberikan penghargaan dan keutamaan kepada para masyayikh jihad untuk dilibatkan dalam syura Ahlul Halli Wal Aqdy, karena buah jihad ini adalah berasal dari benih yang ditanam, dirawat dan dijaga oleh para masyayikh pendahulu mereka itu.

Allah Azza Wa Jalla berfirman : “Dan Allah memberikan setiap mereka yang memiliki keutamaan (balasan) keutamaannya”. (Qs. Huud : 3)

AL QUR’AN MENGAJARKAN KEPADA KITA AGAR KITA MENGHARGAI KEUTAMAAN PARA PENDAHULU KITA DALAM ILMU DAN AMAL.

Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, ia berkata : Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :“Bukan dari kalangan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda di antara kami. Dan menghargai hak orang yang alim di antara kami.” (HR. Imam Ahmad dan Hakim)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bukan dari kalangan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih muda di antara kami dan menghargai kemuliaan orang tua di antara kami”. (HR. Ahmad)

Sabda Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, “bukan dari kalangan kami” adalah pelepasan diri yang berkonsekuensi bahwa pelakunya berhadapan dengan ancaman tersebut dan ia menyimpang dari manhaj yang benar, sesat dari jalan yang lurus, Minhaajun Nubuwwah.

Wallahu a’lam…

(muqawamah.com)

MILITER SAUDI SIAP TUMPAS PENYUSUP KHAWARIJ ISIS DARI PERBATASAN IRAK

image

RIYADH – Deputi Putra Mahkota Muhammad Bin Naif, Deputi Premier II dan Menteri Dalam Negeri, mengirimkan peringatan keras kepada semua orang yang berencana untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas Kerajaan bahwa, “ada orang yang siap mengorbankan nyawa untuk membela agama mereka, bangsa, kepemimpinan dan warga negara.” Demikian kutip SPA, Kamis (19/3/2015) saat ia berbicara pada sesi akhir latihan gabungan mobilisasi sektor keamanan (Homeland 85).

Sementara, tentara keamanan Saudi pada Rabu (18/3) mengakhiri latihan sepekannya di perbatasan Irak. Sebelumnya, di tempat yang sama, 3 tentara tewas diduga akibar serangan “teroris” pada Januari lalu.

Petugas perbatasan dan unit lai Kementerian Dalam Negeri juga telah menyelenggarakan latihan “gabungan taktis pertama” di utara kota Arar, sebagaimana dilaporkan SPA.

Latihan itu dimulai akhir bulan lalu. SPA mengatakan bahwa satu skenario merupakan upaya menanggulangi musuh “yang menyerang perbatasan dengan kendaraan.” Sebanyak 1500 personel penjaga perbatasan, pusat kontrol komando berteknologi tinggi, departemen kutom dan agensi lainnya turut andil dalam latihan itu.

Perbatasan utara kini menerapkan sistem pagar ganda yang dilengkapi radar, serta kamera pengintai yang berjajar sepanjang ratusan kilometer. Sistem pertahanan tersebut merupakan garda depan Kerajaan dalam menghadang penyusup.

Insiden penyerangan terhadap para petugas perbatasan Januari lalu, menjadi pelajaran demi keamanan wilayah gurun Suwayf, utara Arar. Tidak boleh ada lagi penyusup yang menyerang Kerajaan dari sisi Irak.

“[Tentu] untuk membuatnya kedap hamir mustahil,” ujar sumber diplomat barat.

ASTAGFIRULLOH, KHAWARIJ ISIS EKSEKUSI TIGA MUJAHIDIN SALAFIYYIN AHRAR SYAM

image

DAMASKUS – Setelah Mujahidin Jaisyul Islam, kini ISIS memenggal 3 Mujahidin Ahrar Syam. Demikian adegan dalam sebuah video eksekusi yang dirilis ISIS pada You Tube, Kamis (12/3/2015).

Bereaksi atas tragedi bertubi-tubi yang menimpa Mujahidin Suriah tersebut, salah seorang Mujahidin bernama Abu Khattab mengatakan bahwa, “ISIS merilis video pemenggalan Mujahidin Ahrar Syam. Mereka putus asa. Mereka telah dihancurkan di Irak dan di Suriah, tidak ada kemenangan kali ini, jadi upaya apa yang lebih baik untuk meraih kemenangan, selain daripada memenggali beberapa Mujahidin?”

Innalillaahi wainna ilaihi raaji’uun, syahid insyaa Allah. Wallahua’lam bish-shawwab.

ANGGOTA ISIS KHAWARIJ PENGEKSEKUSI MUJAHIDIN JAISYUL ISLAM YANG AKHIRNYA TEWAS

image

DOUMA – Anggota ISIS pengeksekusi Mujahdin Jaisyul Islam dilaporkan telah tewas di tangan Syari’at Hizum (elemen JI). Demikian lapor Abu Sumiyyah, Mujahidin Suriah, Jum’at (13/3/2015).

“Abu Aisha al-Tunisi alias Bob Marley (IS) dibunuh Sariat Hizum (Jaisyul Islam) sebagai pembalasan atas pemenggalan salah seorang Mujahidin JI,” ujar Abu Sumiyyah. (http://www.arrahmah.com/news/2015/03/09/update-kronologis-kekejian-isis-terhadap-mujahidin-jaisyul-islam.html)

Sumber-sumber ISIS juga mengatakan bahwa anggotanya yang mencegah Mujahidin Jaisyul Islam shalat sebelum mengeksekusi telah tewas.

“Sebelum menggorok korban, Khawarij ini bilang dia mau pisau yang tumpul!

Lalu dia memukul Mujahidin JI karena minta ijin shalat. Sekarang dia telah mati,” pungkas Abu Sumiyyah.

Walahua’lam bish-shawwab.

KRONOLOGI KEKEJIAN ISIS TERHADAP MUJAHIDIN JAISYUL ISLAM

image

DOUMA – Kebencian kaum Muslimin kian tak terbendung terhadap ISIS, saat Mujahidin Jaisyul Islam ditolak untuk menjalankan sholat menjelang eksekusi matinya, demikian ujar Abu Zubair mengutip The Syrian Network, Ahad (8/2/2015).

Sebelumnya, Sabtu (7/2) Mujahidin dari Jaisyul Islam (JI) menangkap 7 orang anggota Daesh/ISIS. Saat ketujuhnya digeledah, ikhwah JI menemukan beberapa barang termasuk HP. Pada salah satu HP terdapat video yang mengerikan.

Dalam video tersebut, seorang akh Mujahid Jaisyul Islam dari kota Douma yang ditawan oleh ISIS di Tall Dakkuh dieksekusi mati. Ketika itu ia sedang ditugaskan untuk memasukkan senjata dan bahan logistik di Ghuthah Timur yang diblokade oleh shabihah tentara rezim syiah, Irak, Lebanon, Iran, dan Afghanistan.

“Akhi ini tahu bahwa ia akan segera dieksekusi. Kemudian dengan berurai air mata ia meminta eksekuto r-orang tunisia yang menghunus pisaunya- untuk memberi kesempatan menunaikan sholat zhuhur sebelum disembelih. Namun si jagal malah tertawa dan segera saja menyembelihnya,” demikian terang Abu Zubair.
video caption elemen ISIS tolak permintaan Mujahidin Jaisyul Islam sholat 2 rakaat sebelum dipenggal

video caption elemen ISIS tolak permintaan Mujahidin Jaisyul Islam sholat 2 rakaat sebelum dipenggal
anggota ISIS asal Tunisia yang menyembelih Mujahidin Jaisyul Islam

anggota ISIS asal Tunisia yang menyembelih Mujahidin Jaisyul Islam

Sementara itu, keempat anggota ISIS lain menginjak punggung korban dengan raut gembira dan kemarahan. Mereka kemudian bersahutan takbir saat leher korban digorok. Salah seorang dari mereka bahkan mengekspresikan kegembiraan dengan menembakkan senjata ke udara, lalu memberi isyarat untuk memisahkan kepala korban yang sudah sudah meninggal dari badannya. Astaghfirullahal ‘adziim.

“Semoga Allah membalas kekejian mereka para khawarij abad ini!!” pungkas Abu Zubair menyesalkan perilaku elemen ISIS itu.

CUKUP DENGAN AJARAN ISLAM YANG BENAR, TAMPA MENGIKUTI IDEOLOGI ISIS

Tak perlu penanaman pentingnya ideologi Demokrasi untuk menangkal laju pertumbuhan ISIS. Sungguh, dengan mengajarkan Islam yang benar, itu sudah sangat cukup untuk mencegah manusia dari radikalisme.

Buktinya ISIS justru malah berkembang di negara-negara berideologi Demokrasi, sedang negara yang berlandaskan Islam seperti Saudi Arabia, ISIS kagak laku.

Selama orang-orang Indonesia mendewakan Demokrasi, selama itu pula ideologi-ideologi sesat akan tumbuh berkembang.

Disadur dari status Ustadz Erik bin Shareef Hafidzhahullah

KHAWARIJ ISIS MENCEGAH ORANG YANG INGIN MENDIRIKAN SHOLAT DAN MENYEMBLIHNYA

image

Pada Senin (9/3/2015) lalu, Zahran Alloush, Pemimpin Jays Islam sekaligus panglima militer Jabhah Islamiyah, memposting sebuah video pada akun twitter-nya yang menegaskan seorang mujahid dari Jays Islam telah disembelih oleh Tentara “Daulah Islamiyah” atau kelompok Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS. Tentara “Khilafah” itu bahkan menolak permintaan Sang Mujahid untuk shalat sebelum menyembelihnya dengan cara yang keji.

Jays Islam (Tentara Islam), sebelumnya dikenal dengan Liwa Al-Islam atau Brigade Islam, adalah gabungan dari berbagai kelompok Jihad yang didirikan oleh Zahran Alloush, putra seorang ulama Suriah yang berbasis di Saudi, Abdullah Muhammad Alloush. Ia pernah ditangkap oleh Rezim Suriah dan dibebaskan pada pertengahan 2011 setelah menjalani hukuman karena aktifitas Jihadinya.

Berkenaan dengan hal ini, Syaikh Abu Qatadah Al-Filishthini menyampaikan fatwa mengenai hukum mencegah orang yang ingin mendirikan shalat. Berikut terjemahan lengkap fatwa Syaikh Abu Qatadah tersebut, yang dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Ahad (15/3).

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يَنۡهَىٰ ٩ عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ١٠

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat”. [Qs. Al Alaq: 9-10]
Abu Qatada arrives home

HUKUM MENCEGAH ORANG YANG INGIN MENDIRIKAN SHALAT
Oleh: Syaikh Umar Mahmud (Abu Qatadah Al Filishthini)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi yang diutus dengan kasih sayang kepada sekalian alam, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau, amma ba’du:

Saat ini masyarakat dapat menyaksikan bagaimana tingkah polah para ghulat tak terpelajar yang begitu hiperaktif itu. Suatu saat mereka ingin menjalani sebuah ritual yang bodoh dan sesat dengan menjadikan seorang pemuda sebagai tumbalnya, mereka ingin membunuhnya dengan cara disembelih, maka si pemuda meminta satu hal, yaitu menunaikan shalat sebelum ia disembelih, ternyata mereka justru menyumpahi permintaan terakhirnya itu.

Kejadian ini menyiratkan satu gambaran yang jelas; bahwa para pelaku perbuatan ini adalah makhluk paling keji dan manusia paling pandir, jika ada yang mengatakan bahwa mereka lebih mirip dengan kaum zindiq yang suka mengolok-olok agama, mungkin itu ada benarnya, karena pada saat kejadian itu, salah satu dari mereka mencari sebilah pisau yang tumpul untuk menyembelih pemuda tadi demi melampiaskan nafsu hatinya yang kelam dan jiwanya yang sakit!

Dan dalam rangka menyatakan sikap terkait kejadian yang ditanyakan kepada diri hamba yang senantiasa ingin bertaqwa kepada Rabbnya ini (Syaikh Abu Qatadah – red.), maka saya (Syaikh Abu Qatadah – red.) berkata:

Yang jelas adalah bahwa korbannya dalam kondisi ditahan atau tertawan, jadi semestinya si korban tidak akan dibunuh hingga keluar keputusan dari mahkamah syariat, namun ketika orang-orang tak berilmu itu merekam perbuatan keji mereka, maka sebagai orang yang mengaku Islam, seyogyanya mereka menjelaskan alasan mengapa orang itu dibunuh, dan ternyata penjelasan itu tidak ada sama sekali! Perbuatan mereka ini mencerminkan bahwa mereka lebih tepat disebut sebagai gerombolan preman dan pembuat onar, tidak lebih dan tidak kurang.

Yang kedua, teriakan mereka dan segala tingkah laku mereka termasuk merekam adegan penyembelihan itu menunjukkan bahwa mereka layaknya sebuah komunitas yang saling berkompetisi dalam melakukan perbuatan yang demikian, sehingga dari kenyataan bahwa mereka sudah tidak bisa membedakan lagi antara yang halal dan haram ini, kita dapat mengukur seberapa besar kadar penyakit rabies yang ada di dalam diri mereka. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka juga menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak faham agama maupun urusan keduniaan.

Begitu pula dengan rasa bangga mereka dalam merekam korban penyembelihan dan melarang si korban untuk shalat, perilaku semacam ini adalah penyakit, yaitu penyakit ghuluw, penyakit rabies, dan penyakit narsis dengan cara melakukan sesuatu yang bejat dan nista. Penyakit ini adalah titel dan ciri khas Jamaah Daulah yang nista, bejat dan hobi berdusta ini, yaitu jamaah yang dipimpin oleh Al Baghdadi.

Sesungguhnya melarang si korban untuk shalat adalah perbuatan kufur dan riddah, sekarang katakanlah si korban adalah orang kafir yang kemudian ingin mengerjakan shalat, sedangkan shalat adalah salah satu ciri-ciri orang Islam sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita dan memakan sembilan kita, maka dia adalah seorang Muslim..” [HR. Bukhari No.378].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يَنۡهَىٰ ٩ عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ١٠

“bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat” [Qs. Al Alaq: 9-10]

Dan para durjana itu bukan hanya melarang, namun mereka mencegah si korban untuk shalat, maka ini adalah perbuatan kufur yang lebih berat timbangannya. Karena apabila seseorang melarang, maka larangannya bisa dipatuhi, bisa juga dilanggar. Namun jika seseorang sudah mencegah, maka tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan sesuatu yang ia cegah itu.

Katakanlah si korban benar-benar murtad sebagaimana yang mereka klaim –padahal mereka adalah makhluk yang paling tidak mengerti permasalahan ini, yang saya makud permasalahan menjatuhkan putusan hukum syariat terhadap terdakwa pelaku perbuatan riddah dan kufur – kemudian si korban ingin melaksanakan shalat, maka apa alasan yang membolehkan mereka untuk mencegahnya melaksanakan shalat?! Mungkin saja si terdakwa ingin bartaubat, apakah boleh mencegah seseorang yang ingin bertaubat?!!

Ya Allah, betapa parahnya kerusakan yang mereka timbulkan terhadap agama ini! Betapa durjananya mereka sampai-sampai mereka berani menghalangi seseorang yang ingin menempuh jalan Allah! Betapa bejatnya mereka sampai-sampai mereka berani menumpahkan darah yang diharamkan! Betapa lalainya mereka sampai-sampai mereka terjerumus ke dalam kekeliruan yang menjadikan seseorang kufur!

Dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan ini, yaitu meremehkan perbuatan mencegah orang yang hendak shalat, maka tidak diragukan lagi ia termasuk orang yang berlawanan dan bertentangan dengan firman Allah Ta’ala berikut ini:

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Qs. Al Hajj: 32]

Perbuatan ini menunjukkan bahwa tidak ada taqwa di dalam hati mereka, karena barangsiapa yang urusan shalatnya memprihatinkan, maka dalam urusan lain ia lebih memprihatinkan.


Adapun mengenai cara membuktikan keislaman seseorang menurut agama kita, berikut ini adalah cara-cara yang benar menurut para ulama:

Pertama: melalui ucapan, maksudnya dengan ucapan Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasulullah, dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam:

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻻ ﺇﻟٰﻪَ ﺇﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﺧَﺎﻟِﺼﺎ ﻣُﺨْﻠِﺼﺎ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔَ

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah, maka dia masuk surga.”

Kedua: melalui pembuktian, yaitu apabila seorang muslim mengerjakan amalan yang merupakan ciri khas orang Islam, contohnya shalat dan haji, dalilnya adalah hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas:

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita & memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang Muslim, ia memiliki perlindungan dari Allah & Rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” [HR. Bukhari No.378].

Ketiga: melalui perunutan, maksudnya seorang anak yang mengikuti agama salah satu orang tuanya, karena pada dasarnya seorang manusia akan mengikuti agama yang terbaik dari dua agama yang dipeluk oleh kedua orang tuanya (jika agama keduanya berbeda – red.).

Keempat: negara, seorang anak temuan yang ditemukan di Negara Islam dianggap beragama Islam, sebagaimana halnya anak temuan yang ditemukan di negara kafir dianggap kafir, kecuali jika ada perubahan lain atau jika mayoritas agama penduduk suatu negeri berbeda dengan agama yang dianut oleh pemerintahnya.


Si terdakwa itu berniat mengerjakan shalat, maka tak peduli apapun motivasi dibalik keinginannya untuk shalat, ia tidak boleh dicegah untuk shalat, dan siapa saja yang mencegahnya maka ia telah mengkufuri Allah Ta’ala dan tidak menjunjung tinggi agamanya.

Menurut perkataan para imam, senang terhadap kekufuran adalah kufur, sedangkan orang-orang pandir itu senang jika si pemuda itu mati dalam keadaan belum mengerjakan shalat zhuhur, berdasarkan keterangan yang ada di dalam rekaman itu, dan ini adalah kekufuran yang nyata, berdasarkan sabda RasulullahShallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةُ فَقَدْ كَفَرَ

“Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia telah kafir.”

Ini baru orang yang meninggalkan shalat, apalagi dengan orang yang mencegah orang lain melaksanakan shalat!!

Belum lagi dengan dua perbuatan bejat yang menunjukkan betapa buruknya agama mereka dan agama orang yang mengizinkan mereka melakukan penyembelihan ini, dua perbuatan itu adalah:

Pertama:
Usaha para setan itu untuk mencari pisau yang tumpul, bahkan si pelaku menghunjamkan pisaunya ke atas batu untuk menghilangkan ketajamannya! Ini adalah penyakit, karena menurut para pakar, orang yang mengkonsumsi narkotika atau melakukan perbuatan yang tidak senonoh tidak akan puas dengan satu gaya atau cara, ia akan mencari tambahan dosis yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan setan selalu menyemangatinya untuk terus menambah perbuatan nistanya, beginilah sejatinya penyakit ala setan ini berlaku.

Berbeda dengan orang yang berniat menegakkan perintah Allah Ta’ala, ia hanya mencukupkan diri melaksanakan proses penjatuhan hukum hudud dan tidak menambah hal-hal lain. Sedangkan perbuatan si setan tadi menunjukkan bahwa ia adalah penderita penyakit yang virusnya sudah menjalar di dalam tubuhnya, sehingga ia tidak bisa lagi merasakan kenikmatan jika sekedar membunuh dengan pisau yang tajam dan sekali tebas, sehingga ia pun menumpulkan pisaunya terlebih dahulu, persis seperti diarahkan di dalam panduan orang-orang yang rusak, yaitu bagaimana berimprovisasi dalam melakukan perbuatan buruk dan nista.

Hal ini juga menjelaskan kepada kita bahwa sudah maklum di dalam jamaah ini, jika para anggotanya saling berlomba melakukan perbuatan-perbuatan nista semacam itu dan mereka saling membanggakan ‘hasil karyanya’ itu, ini adalah indikasi dari penyakit kejiwaan dan sifat para setan, tidak diragukan lagi, dan dari sini, terungkaplah poin yang kedua.

Kedua:
Kami melihat bahwa ada upaya yang kuat agar dapat merekam perbuatan ini, dan inilah yang sering saya komentari mengenai mereka, mereka adalah orang-orang ‘sakit’ yang hobinya mencari kenikmatan dengan cara menyiksa orang lain, bukan orang-orang yang ingin menegakkan syariat Allah Ta’ala, hasrat terbesar mereka adalah mendokumentasikan ‘karya’ mereka dan memamerkannya ke seluruh dunia, persis seperti pepatah arab, “jika ingin mencatatkan nama di dalam sejarah, maka kencingilah sumber mata air zam-zam.”

Perbuatan para pemuda itu adalah hasil didikan yang selama ini mereka terima, perbuatan ini seolah-olah sudah menjadi mandat atasan karena mereka sering menyaksikan para komandan mereka melakukan hal yang serupa, lalu mereka mencernanya dan akhirnya mereka terjerumus ke dalam jalan yang sama.

Jika engkau ditakdirkan dapat hadir dalam majelis mereka, engkau akan mendapati bahwa topik obrolan mereka adalah saling membanggakan foto-foto pembunuhan, persis seperti para persaingan para insan perfilman untuk meraih applaus dari para penonton film mereka, dan ini adalah kebiasaan para durjana, bukan kebiasaan para mahdiyyin (orang-orang yang mendapatkan petunjuk).

Sebenarnya yang paling berbahaya dari kejadian ini adalah ketika mereka meremehkan permintaan si terdakwa untuk melaksanakan shalat zhuhur yang menjadi kewajibannya, maka kelak mereka akan mendapatkan jatah mereka dari Allah, mereka telah berani bermain-main dengan kekufuran dan kehinaan. Sedangkan hanya Allah saja yang mampu menjaga orang-orang yang diberi petunjuk dari kesesatan-kesesatan semacam ini.

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam.

ISIS DALAM TIMBANGAN SYARI’AT

image

Berikut adalah rekaman kajian yang di bawakan oleh Ustadz Muhammad Afifuddin As Sidawi Hafidzahullah (Alumnus Darul Hadits,Yaman)

Download Kajian melalui link di bawah ini dengan cara klik kanan save link as/copy link location bagi pengguna download manager :

ISIS dalam Timbangan Syari’at –
Sesi pertama :
https://m.box.com/shared_item/https%3A%2F%2Fapp.box.com%2Fs%2F8pkxkl3azut6mqsf8dyx

ISIS dalam Timbangan Syari’at –
Sesi kedua :
https://m.box.com/shared_item/https%3A%2F%2Fapp.box.com%2Fs%2Frdr4j04shxnbb8xual36

ISIS dalam Timbangan Syari’at –
Sesi Tanya Jawab  :
https://m.box.com/shared_item/https%3A%2F%2Fapp.box.com%2Fs%2Fidn0acdzm3pg0za4tqkk

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

ANTARA JIHAD YANG SYAR’I DAN JIHAD ISIS

image

Berikut ini adalah rekaman kajian yang di bawakan oleh :

Ustadz Sofyan Chalid Ruray Hafidzahullah (Murid Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad)

Download Kajian melalui link di bawah ini dengan cara klik kanan save link as/copy link location bagi pengguna download manager :

https://m.box.com/shared_item/https%3A%2F%2Fapp.box.com%2Fs%2Frvr2t0ftax6hh48yuryj

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

MELIHAT DARI REALITAS SEJARAH

Dengan menelusuri sejarah Islam, akan tampak dengan jelas bahwa banyak KHILAFAH KHAYALAN yang dideklarasikan dalam sepanjang sejarahnya, baik melalui klaim kedatangan MAHDI atau melalui jalur SEKTE SEKTE KHAWARIJ YANG SESAT; dan mereka adalah orang-orang yang sangat terobsesi dengan khilafah, akan tetapi tanpa petunjuk dan al Qur`an. Nampaknya –wallahu a’lam- ini telah menjadi karakter mereka.

Adapun AHLI SUNNAH WAL JAMAAH, mereka tidak menetapkan nama khilafah atau IMAMAH ‘UDZMA melainkan bagi orang yang benar-benar memiliki kekuasaan atas mayoritas mereka (kaum muslimin) baik dengan kerelaan atau dengan penaklukan di berbagai daerah kaum muslimin.

Adapun seorang yang dibaiat oleh suatu penduduk daerah tertentu saja, atau berhasil menaklukan daerah itu saja, maka kekuasaannya hanya bersifat LOKAL atas mereka, tidak mencakup orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya atau ditaklukkan olehnya. Beginilah seterusnya kemudian kemunculan masalah multi kepemimpinan yang telah dijelaskan tadi. Makalah ini tentu tidak akan mendiskusikan masalah ini dari sisi legal atau tidaknya.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata :

“Tidak pernah sama sekali umat ini bersepakat untuk mengangkat seorang KHAWARIJ menjadi pemimpin. Andai Allah memberi kekuasaan kepada mereka, maka akan rusaklah bumi ini… dan dengan demikian, ada belasan atau dua puluh orang dari mereka yang masing-masing pernah menyatakan bahwa dirinya adalah KHALIFAH .” 

[Mukhatashar Ta`rikh Dimasyq: 26/390]

Barokallohufiik !

MEMBONGKAR KEBOHONGAN SETATUS AHLUL BAIT AMIR ISIS ABU BAKAR AL BAGHDADI

Mengenal nasab dalam hukum Islam merupakan hal yang sangat primer. Sebagai nikmat yang paling besar yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada hamba-Nya, perihal nasab bahkan diabadikan dalam firman Allah subhanahu wata’ala, sebagai berikut.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗوَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan) dan adalah tuhanmu yang maha kuasa.” (QS. Al-Furqan [25] : 54)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa nasab merupakan suatu nikmat yang berasal dari Allah. Hal ini dipahami dari lafaz “fa ja’alahu nasabaa.” Dan perlu diketahui bahwasanya nasab juga merupakan salah satu dari lima maqasid al-syariah.

Dengan mengetahui keabsahan nasab seseorang, kita dapat mengetahui legalitas hubungan kekeluargaan seseorang apakah itu berdasarkan pertalian darah, apakah itu buah dari pernikahan yang sah, atau nikah fasid, atau akibat senggama syubhat (zina).

Maka nasab menjadi sebuah bukti pengakuan syara’ bagi hubungan seorang anak dengan garis keturunan ayahnya, sehingga dengan itu anak tersebut menjadi salah seorang anggota keluarga dari keturunan itu. Dengan demikian, anak tersebut berhak mendapatkan hak-hak sebagai akibat keterikatan hubungan nasab, seperti hukum waris, pernikahan, perwalian dan lain sebagainya.

Apalagi jika seseorang mengakui bahwa ia keturunan baginda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam (ahlul bait), tentu garis nasabnya amat penting untuk diketahui keabsahannya…..

————————————————————

Bagian Satu:

PEMBUKTIAN BAHWA JAMAAH DAULAH MENYEMBUNYIKAN DAFTAR NAMA 12 ORANG YANG MEMISAHKAN ANTARA AL BAGHDADI DENGAN ‘URMUSY BIN ALI

Judul:

MENGANGKAT KEDUA TANGAN UNTUK MENAMPAR AL BAGHDADI

Banyak orang yang tak dikenal (majhul) di dalam nasab palsu Al Baghdadi

Ditulis oleh:
Ir. IBRAHIM AMIR

Turki Al Bin’ali – pakar syariat Tanzhim Daulah (ISIS) – menyebarkan sebuah risalah yang berjudul: “Angkatlah Kedua Tangan Kalian untuk Membaiat Al Baghdadi”. Di dalam risalah tersebut ia memuji-muji Al Baghdadi dengan berkata:

“Dia adalah seorang Syaikh Al Mujahid, seorang ahli ibadah yang zuhud; seorang Amirul Mukminin, seorang komandan pasukan agama, dialah Abu Bakar Al Qurasyi Al Husaini Al Baghdadi semoga Allah menjaga dan melindungi beliau, menjadikan beliau senantiasa di atas kebaikan dan membenarkan perilakunya. Beliau berasal dari keturunan ‘Urmusy Ibnu Ali Ibnu ‘Aid Ibnu Badriy Ibnu Badruddien Ibnu Khalil Ibnu Husen Ibnu Abdillah Ibnu Ibrahim Al Awwaah Ibnu Asy Syarif Yahya ‘Izzuddien Ibnu Asy Syarif Basyir Ibnu Majid Ibnu ‘Athiyyah Ibnu Ya’la Ibnu Duwaid Ibnu Majid Ibnu Abdirrahman Ibnu Qasim Ibnu Asy Syarif Idris Ibnu Ja’far Azzakiy Ibnu ‘Ali Al Hadiy Ibnu Muhammad Al Jawwad Ibnu Ali Ar Ridla Ibnu Musa Al Kadhim Ibnu Ja’far Ash Shadiq Ibnu Muhammad Al Baqir Ibnu Ali Zainal ‘Abidien Ibnu Al Husen putra Ali Ibnu Abi Thalib dan Fathimah Binti Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian garis keturunan beliau”..

Maka saya katakan : Mengapa ia tidak memulai menyebutkan nasabnya dengan namanya, nama ayahnya, nama kakeknya, sampai akhir nasab? Sedangkan nasabnya adalah nasab mu’allaq, yaitu awal dari nasabnya hilang. Namun katakanlah nasabnya ini benar, maka apakah ‘Urmusy ini kakeknya, atau ayah dari kakeknya, atau bahkan kakek dari kakeknya? Ada berapa orang tua yang memisahkan antara Ibrahim Awwad dengan ‘Urmusy?

Fakta mengejutkannya ialah; katakanlah bahwa nasabnya ini benar, maka ada 12 orang yang memisahkan antara dirinya dengan ‘Urmusy. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah nasab ini merupakan hasil duplikat dari nasab yang telah diumumkan bahwa itu milik Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Iraqi Shubhi As Samarra’i yang wafat pada tahun 1434 H dalam usia 80 tahun, di mana antara Syaikh Shubhi dengan ‘Urmusy terdapat sepuluh orang tua. Karena Syaikh Shubhi sudah lanjut usia, sementara Ibrahim Awwad masih muda, maka seharusnya antara Ibrahim dengan ‘Urmusy terdapat 12 orang tua.

Bagaimana membuktikan secara spontan bahwa sebuah nasab jaraknya adalah 12 orang dan waktunya adalah kurang lebih 360 tahun hingga 400 tahun?

Maka ini jawabannya; berikut adalah nasabnya Syaikh Shubhi As Samarra’i :

As Sayyid Shubhi (1354-1434)
Bin As Sayyid Jasim
Bin Humaid
Bin Hamd
Bin Shalih
Bin Mushthafa
Bin Hassan
Bin Utsman
Bin Daulah
Bin Muhammad
Bin Badri
Bin ‘Urmusy
Bin Ali
Bin ‘Aid
Bin Badri
Bin Badaruddin
Bin Khalil
Bin Husain
Bin Abdullah
Bin Ibrahim Al Awwah
Bin Asy Syarif Yahya Izzuddin
Bin Syarif
Bin Basyir
Bin Majid
Bin Athiyyah
Bin Ya’la
Bin Duwaid
Bin Majid
Bin Abdurrahman
Bin Qasim
Bin Asy Syarif Idris
Bin Ja’far Az Zaki
Bin Ali Al Hadi
Bin Muhammad Al Jawwad
Bin Ali Ar Ridha
Bin Musa Al Kazhim
Bin Ja’far Ash Shadiq
Bin Muhammad Al Baqir
Bin Ali Zain Al Abidin
Bin Husain
Bin Ali bin Abi Thalib

Di atas disebutkan bahwa ‘Urmusy ada di urutan 12. Apabila kita menuliskan nasab palsu Al Baghdadi dengan menempatkan ‘Urmusy di urutan 14 secara berurutan, maka:

Abu Bakar Al Qurasyi Al Husaini Al Baghdadi

Bin Majhul 1
Bin Majhul 2
Bin Majhul 3
Bin Majhul 4
Bin Majhul 5
Bin Majhul 6
Bin Majhul 7
Bin Majhul 8
Bin Majhul 9
Bin Majhul 10
Bin Majhul 11
Bin Majhul 12
Dari anak keturunan ‘Urmusy
Bin Ali
Bin Aid
Bin Badri
Bin Badaruddin
Bin Khalil
Bin Husain
Bin Abdullah
Bin Ibrahim Al Awwah
Bin Asy Syarif Yahya Izzuddin
???
Bin Asy Syarif Basyir
Bin Majid
Bin Athiyyah
Bin Ya’la
Bin Duwaid
Bin Majid
Bin Abdurrahman
Bin Qasim
Bin Asy Syarif Idris
Bin Ja’far Az Zaki
Bin Ali Al Hadi
Bin Muhammad Al Jawwad
Bin Ali Ar Ridha
Bin Musa Al Kazhim
Bin Ja’far Ash Shadiq
Bin Muhammad Al Baqir
Bin Ali Zain Al Abidin
Bin Husain
Bin Ali bin Abi Thalib

Pada nomor 24 mereka salah dalam proses pencatuman, yang aslinya Asy Syarif Yahya Izzuddin bin Syarif bin Basyir, mereka mengubahnya menjadi: Asy Syarif Yahya Izzuddin bin Asy Syarif Basyir….

Namun bagaimana saya tahu bahwa mereka telah menduplikat nasab? Jawabannya adalah karena mereka telah melakukan kesalahan, yaitu pada nama kakeknya ‘Urmusy.

Terdapat kesepakatan dari setiap orang yang menasabkan diri mereka kepada ‘Urmusy, bahwa nama ‘Urmusy adalah “‘Urmusy bin Ali bin Sa’id” “عرموش بن علي بن سعيد”, akan tetapi pada nasab Syaikh Shubhi tertulis “‘Urmusy bin Ali bin ‘Aid” “عرموش بن علي بن عيد” tanpa adanya huruf “س”, dan celakanya mereka menjiplak mentah-mentah kesalahan tersebut.

Benar bahwa ada larangan untuk mencemarkan kehormatan nasab tanpa bukti, akan tetapi yang kita saksikan ini bukanlah nasab yang sebenarnya (alias nasab palsu) karena ketidakhadiran nama 12 orang tua di dalam daftar nasabnya. Bahkan ketika disebutkan namanya dengan “Ibrahim bin Awwad bin Ibrahim” mereka mengingkarinya, katanya demi alasan keamanan. Apakah alasan keamanan menjadi alasan untuk mengingkari 13 nama – termasuk nama depannya – yang dimulai dari seseorang yang hidup 4 abad silam?

13 Dzul Hijjah 1435

6 Oktober 2014

===========================

Bagian Kedua:

PEMBUKTIAN BAHWA NASAB AL BAGHDADI

ADALAH HASIL DUPLIKAT DARI NASAB SYAIKH SHUBHI AS SAMARRA’I

Judul:

GUNTUR YANG MENGGELEGAR DI ATAS

UBUN-UBUN KELOMPOK PENUMPAH DARAH

Ditulis oleh:
Ir. IBRAHIM AMIR

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada pembahasan sebelumnya saya telah menyebutkan tentang makalah Turki Al Bin’ali yang berjudul: “Angkatlah Kedua Tangan Kalian untuk Membai’at Al Baghdadi”, saya juga membahas mengenai bagaimana makalah tersebut mengklaim bahwa Al Baghdadi merupakan seorang ahli bait, namun ia tidak bisa menyebutkan nama ayah dan kakeknya hingga kira-kira pada urutan yang ketiga belas, dan bagaimana Al Bin’ali telah memulai menuliskan nasab dengan perkataan: “Beliau adalah cucu ‘Urmusy bin Ali bin ‘Aid…”

Saya juga telah menjelaskan bahwa di antara ‘Urmusy dengan Syaikh Shubhi terdapat 10 orang tua yang memisahkan keduanya, karena Syaikh Shubhi Rahimahullah wafat pada tahun 1434 H dengan usia 80 tahun dan beliau sudah lanjut usia sementara Ibrahim Awwad masih muda, maka seharusnya antara Al Baghdadi dengan Armush terdapat 12 orang tua yang memisahkan keduanya.

Mengklaim keanggotaan ahli bait adalah suatu hal yang berbahaya, apalagi itu sudah diumumkan, maka wajib dilakukan pembuktian dengan cara yang sudah terverifikasi, jika tidak, maka pelakunya telah mengklaim nasab kepada ahli bait tanpa bukti.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya mengenai tata cara penetapan nasab Asy Syarif (keturunan Rasulullah SAW), maka beliau menjawab:

“Mengenai cara menetapkan nasab Asy Syarif; maka itu dapat ditempuh dengan berbagai cara:

Pertama: Berdasarkan catatan para sejarawan yang terpercaya bahwa rumah si fulan atau keluarga si fulan adalah bagian dari ahli bait, dan dapat diketahui bahwa sosok yang dikenal sebagai penghuni rumah tersebut terdaftar oleh para sejarawan yang terpercaya.

Selanjutnya: Orang yang mengaku sebagai ahli bait harus memiliki sebuah sertifikat resmi dari para qadhi yang kapasitasnya diakui, atau dari para ulama yang terpercaya; bahwa ia adalah termasuk ahli bait.

Selanjutnya: Kabar bahwa keluarga si fulan adalah ahli bait sudah tersiar luas di seantero negeri.

Selanjutnya: Terdapat penjelasan yang adil, yaitu terdapat tidak kurang dari dua orang yang bersaksi mengenai hal itu, yang mana kesaksiannya tersebut didasari dengan dasar yang kredibel, apakah dari sejarah yang terpercaya, atau dari dokumen-dokumen yang mu’tabar, atau dari perkataan orang-orang yang terpercaya.

Sedangkan apabila itu hanya sekedar klaim yang tidak memiliki dasar yang benar, maka hal tersebut jangan dipercaya, baik klaimnya yang ini, ataupun klaim-klaimnya yang lain.” [Fatawa Islamiyyah: 4/531]

Al Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya sebuah hadits dengan nomor 3508, dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنْ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), maka ia telah kafir. Barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka”.

Masih dari Al Bukhari di dalam hadits nomor 6767: dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu ia berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain bapaknya, padahal ia tahu dia bukan bapaknya, maka surga haram untuk ia masuki.”

Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadist dengan nomor 2658 di dalam Sunannya dengan sanad yang shahih, Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Barangsiapa yang menghubungkan nasabnya kepada selain ayahnya atau seorang budak mengaku sebagai budak kepada selain majikannya, maka laknat dari Alloh, para malaikat dan manusia secara keseluruhan ditimpakan kepadanya.”

Ahmad berkata di dalam Musnadnya (2/326):

كُفْرٌ تَبَرُّؤٌ مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ وَادِّعَاءٌ إِلَى نَسَبٍ لَا يُعْرَفُ

“Termasuk perbuatan kufur kepada Allah apabila seseorang berlepas diri dari nasabnya, sekali pun itu hal yang sepele, dan orang yg mengakui keturunan orang lain yang tak dikenal”.

Di dalam buku Mishbah Az Zujajah Fie Zawaid Ibnu Majah, karangan Al Bushiri (2/326) disebutkan sebuah hadits dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ

“Barangsiapa yang mengaku-aku memiliki hubungan nasab kepada selain ayahnya, maka surga menjadi haram baginya, padahal bau surga dapat dicium sepanjang jarak perjalanan lima ratus tahun.” Hadits ini adalah hadits shahih….

————————————————————

Kesalahan fatal:

Namun pembahasan saya pada hari ini adalah mengenai sebuah point yang sangat urgen, karena apabila ia sudah terbukti kebenarannya, maka hilanglah kredibilitas Al Baghdadi yang itu tidak lain adalah sumber nasab yang ditulis oleh Al Bin’ali. Tentu saja ia sudah membacanya, mengevaluasinya, dan memastikannya, baru kemudian makalah tersebut tersebar di internet, dan ia tidak melakukan koreksi sedikitpun.

Pembahasan saya pada hari ini adalah seputar nama dari kakeknya ‘Urmusy, apakah namanya ‘Aid atau Sa’id?

Di dalam makalahnya, Al Bin’ali menyebutkan bahwa ‘Urmusy adalah bin Ali bin ‘Aid bin Badri.

Kutipan dari makalah “angkatlah kedua tangan kalian untuk membaiat Al Baghdadi” karangan Turki Al Bin’ali, di sini tertulis “‘Urmusy bin Ali bin ‘Aid”.

Namun ternyata seluruh sumber-sumber nasab yang khusus membahas daerah Samarra’ dan Iraq menyebutkan bahwa ia adalah “‘Urmusy bin Ali bin Sa’id bin Badri”, berikut ini adalah sebagian sumber tersebut:

Tertulis : ‘Urmusy bin Ali bin Sa’id

Tertulis : ‘Urmusy bin Ali bin Sa’id

Tertulis : ‘Urmusy bin Ali bin Sa’id

Maka mengapa nasab Al Baghdadi menyimpang dari semua orang sehingga pada nasabnya tertulis, “‘Urmusy bin Ali bin ‘Aid bin Badri”? Apakah mungkin Badri memiliki dua orang putra yang satu bernama ‘Aid dan satunya lagi bernama Sa’id? Kemudian ‘Aid memiliki anak dengan nama Ali dan Ali memiliki anak dengan ‘Urmusy, dan ternyata secara kebetulan Sa’id juga memiliki anak dengan nama Ali dan Ali juga memiliki anak dengan nama ‘Urmusy?

Meskipun kenyataannya seperti itu dan terdapat keanehan, akan tetapi secara teoritis hal tersebut masih diperbolehkan. Namun diperbolehkannya hal tersebut secara teoritis itu tidaklah cukup, ia harus didukung dengan pengakuan dari ahli nasab, dan itu belum ada, dan tidak ada seorangpun yang pernah menyebutkan bahwa Badri memiliki seorang anak bernama ‘Aid!!

Jadi dari mana asalnya nama ‘Aid ini? Dari mana? Sesuatu yang benar-benar membingungkan! Namun untungnya ada sebuah informasi penting: Setelah Al Allamah Al Muhaddits Shubhi bin Jasim As Samarra’i wafat, beberapa situs menyatakan bahwa nasabnya berakhir hingga Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu. Sebagian situs salah dalam menuliskan kata Said “سعيد”, mereka luput dalam menuliskan huruf “Sin” sehingga mereka menuliskannya dengan kata Aid “عيد”.

Berikut ini adalah nasab Syaikh Shubhi yang tercantum di berbagai situs dan di dalamnya tertulis kesalahan yang sama, saya akan memilihkan 3 contoh saja:

http://assalamu-alayka.tv/ar/detail/425

http://www.alukah.net/culture/11659/56786/#ixzz2XyfCvwcn

Apakah terdapat hubungan antara ‘Aid-nya Al Baghdadi dengan ‘Aid-nya Shubhi? Saya akan membiarkan orang yang cerdas menyimpulkan sendiri, Maha Suci Engkau wahai Rabbku, tidak ada Ilah kecuali Engkau.

Kami tidak ingin menzhalimi, kami hanya ingin membuat bantahan terhadap Al Baghdadi. Apakah mungkin bisa terjadi kesalahan yang disebabkan murni karena ketidaksengajaan, yaitu luput dalam menuliskan huruf “Sin” pada nama Sa’id di dalam nasab Al Baghdadi dan itu adalah kesalahan yang sama yang juga terjadi dalam penulisan nasab Syaikh Shubhi bin Jasim?

Kami ingin agar seseorang yang ahli dalam matematika dan menghitung peluang (ilmu kemungkinan/probabilitas) memberikan sugesti seberapa mungkin terjadinya kesalahan pada penulisan dua nasab yang satu panjang nasabnya 42 nama, dan satunya lagi 30 nama, dan kemudian keduanya mengalami kesalahan penulisan pada nama dan huruf yang sama.

Kembali lagi kepada kemungkinan yang kami anggap mustahil karena tidak ada pengakuan dari para ahli nasab, yaitu Sa’id seharusnya memiliki saudara yang bernama ‘Aid, dan keduanya memiliki anak yang masing-masing sama-sama bernama Ali, dan kedua Ali tersebut memiliki anak yang masing-masing sama-sama bernama ‘Urmusy.

Syaikh Shubhi serta Al Baghdadi ada di satu cabang, sedangkan seluruh anak cucu Alu Badri yang tersisa ada di cabang yang lainnya. Dan itu menjadi bukti bahwa nasabnya terpercaya, seiring dengan Al Bin’ali menyebutkan nasab Al Baghdadi seperti nasab Syaikh Shubhi, sebenarnya tidak ada kesalahan di dalamnya.

Namun di sinilah guntur yang menggelegar itu datang:

Syaikh Shubhi Jasim As Samarra’i menasabkan dirinya kepada ‘Urmusy bin Ali bin Sa’id sebelum beliau wafat. Dan ini tertulis di dalam buku “Inseklopedi Suku-suku Iraq” juz kelima, karangan Tsamir Abdul Hassan Al Amiri:

Dahi engkau layak untuk dicium wahai Syaikh Shubhi bin Jasim, sehingga orang-orang yang salah dalam menuliskan nasab engkau pun layak untuk dicium.

Kami menunggu jawaban dari para pendukung Jamaah Daulah, dan mereka tidak perlu kejang-kejang dan marah-marah dalam menyikapinya.

Rabu pagi 14 Dzul Hijjah 1435

8 Oktober 2014

————————————————————

SELENGKAPNYA LIHAT DI SUMBER ARTICLE PADA LINK DI BAWAH INI :

http://m.arrahmah.com/news/2014/10/17/eksklusif-membongkar-kebohongan-status-ahlul-bait-amir-isis-abu-bakar-al-baghdadi.html

Barokallohufiik !

NASEHAT SYAIKH ABDUL MUHSIN AL BADR TENTANG ISIS KHAWARIJ

Penulis: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Ulama Besar Arab Saudi, Ahli Hadits Kota Suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr  hafizhahullah berkata dalam risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah” di website resmi beliau,

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛

Sungguh telah lahir di Iraq beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri Daulah (Negara) Islam Iraq dan Syam, dan dikenal dengan empat huruf awal nama daulah khayalan tersebut yaitu [داعش] (ISIS), dan muncul bersamaan dengan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang yang mengamati tingkah pola dan pergerakan mereka, sejumlah nama sebagai julukan bagi anggota mereka dengan sebutan: Abu Fulan Al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, kuniah (julukan) yang disertai penisbatan kepada negeri atau kabilah, inilah kebiasaan orang-orang majhul (yang tidak dikenal), bersembunyi di balik julukan dan penisbatan.

Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.

Dan di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka merubah nama kelompok mereka menjadi “Al-Khilafah Al-Islamiyah”. Khalifahnya yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

مَنْدَعَاإِلَىهُدًىكَانَلَهُمِنَالأَجْرِمِثْلُأُجُورِمَنْتَبِعَهُلاَيَنْقُصُذَلِكَمِنْأُجُورِهِمْشَيْئًاوَمَنْدَعَاإِلَىضَلاَلَةٍكَانَعَلَيْهِمِنَالإِثْمِمِثْلُآثَامِمَنْتَبِعَهُلاَيَنْقُصُذَلِكَمِنْآثَامِهِمْشَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [HR. Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Dan kalimat yang ia katakan dalam khutbahnya tersebut, telah dikatakan oleh khalifah pertama dalam Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaahu, dan beliau adalah orang terbaik umat ini, sedang umat ini adalah umat yang terbaik di antara umat-umat yang ada, beliau mengatakan demikian dalam rangka tawadhu’ (bersikap rendah hati) sedang beliau mengetahui, para sahabat juga mengetahui bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya dari ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Termasuk kebaikan (yang kami nasihatkan) untuk kelompok ini, hendaklah mereka sadar diri dan kembali kepada kebenaran, sebelum daulah mereka hilang terbawa angin seperti daulah-daulah lain yang semisalnya di berbagai masa.

Dan sangat disayangkan, fitnah (bencana) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima oleh anak-anak muda yang bodoh di negeri Al-Haramain, mereka menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan terhadap khilafah khayalan ini layaknya kebahagiaan orang yang haus terhadap minuman, dan diantara mereka ada yang berkhayal telah membai’at khalifah majhul ini! Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!

Wajib atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri dari ikut-ikutan di belakang para provokator, dan hendaklah dalam setiap tindakan mereka kembali kepada dalil yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan dari Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, karena padanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaklah mereka kembali merujuk kepada para ulama yang menasihati mereka dan menasihati kaum muslimin.

Diantara contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena merujuk kepada ulama, adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih beliau (no. 191) dari Yazid Al-Faqir, ia berkata,

كُنْتُ قَدْ شَغَفَنِى رَأْىٌ مِنْ رَأْىِ الْخَوَارِجِ فَخَرَجْنَا فِى عِصَابَةٍ ذَوِى عَدَدٍ نُرِيدُ أَنْ نَحُجَّ ثُمَّ نَخْرُجَ عَلَى النَّاسِ – قَالَ – فَمَرَرْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَإِذَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ – جَالِسٌ إِلَى سَارِيَةٍ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى اللهعليه وسلم- قَالَ فَإِذَا هُوَ قَدْ ذَكَرَ الْجَهَنَّمِيِّينَ – قَالَ – فَقُلْتُ لَهُ يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِى تُحَدِّثُونَ وَاللَّهُ يَقُولُ (إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ) وَ (كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا) فَمَا هَذَا الَّذِى تَقُولُونَ قَالَ فَقَالَ أَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَعْنِى الَّذِى يَبْعَثُهُ اللَّهُ فِيهِ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- الْمَحْمُودُ الَّذِى يُخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ. – قَالَ – ثُمَّ نَعَتَ وَضْعَ الصِّرَاطِ وَمَرَّ النَّاسِ عَلَيْهِ – قَالَ – وَأَخَافُ أَنْ لاَ أَكُونَ أَحْفَظُ ذَاكَ – قَالَ – غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ زَعَمَ أَنَّ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا فِيهَا – قَالَ – يَعْنِى فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ عِيدَانُ السَّمَاسِمِ. قَالَ فَيَدْخُلُونَ نَهْرًا مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُونَ فِيهِ فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ الْقَرَاطِيسُ. فَرَجَعْنَا قُلْنَا وَيْحَكُمْ أَتُرَوْنَ الشَّيْخَ يَكْذِبُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَجَعْنَا فَلاَ وَاللَّهِ مَا خَرَجَ مِنَّا غَيْرُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَوْ كَمَا قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ

“Aku pernah terpengaruh oleh satu pemikiran Khawarij, maka kami beberapa orang pergi untuk berhaji, kemudian kami ingin memberontak, kami pun melewati kota Madinah, ternyata ada sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma sedang duduk di sebuah sudut, beliau sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau telah menyebutkan tentang al-jahannamiun (orang-orang yang dibebaskan dari neraka setelah diazab, lalu dimasukkan ke surga). Maka aku berkata kepadanya: Wahai sahabat Rasulullah, mengapa engkau menyampaikan ini padahal Allah telah berfirman,

إِنَّكَمَنْتُدْخِلِالنَّارَفَقَدْأَخْزَيْتَهُ

“Sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.” (Ali Imron: 192)

Dan firman Allah ta’ala,

كُلَّمَاأَرَادُواأَنْيَخْرُجُوامِنْهَاأُعِيدُوافِيهَا

“Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (As-Sajadah: 20)

Maka apa yang bisa engkau katakan?

Beliau berkata: Apakah kamu membaca Al-Qur’an?

Aku berkata: Ya.

Beliau berkata: Apakah kamu pernah mendengar ayat tentang kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang akan Allah bangkitkan beliau dalam kedudukan ini?

Aku berkata: Ya.

Beliau berkata: Sesungguhnya itu kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang terpuji, yang dengan itu Allah mengeluarkan sebagian orang dari neraka.

Kemudian beliau menyebutkan tentang peletakan jembatan (shiroth) dan lewatnya manusia di atasnya –aku khawatir menyampaikannya karena aku tidak menghapalnya dengan baik, yang pasti beliau menyebutkan tentang satu kaum yang keluar dari neraka setelah mereka diazab di dalamnya, mereka keluar dalam bentuk seperti biji wijen yang terbakar sinar matahari- Beliau berkata: Mereka lalu masuk ke salah satu sungai di surga, mereka mandi padanya, lalu mereka keluar dalam bentuk seperti kertas-kertas putih.

Kami pun kembali, lalu kami berkata kepada rombongan kami, celaka kalian apakah kalian menganggap Asy-Syaikh (Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (beliau tidak mungkin berdusta)?! Maka kami pun kembali, demi Allah (setelah itu) tidak ada seorang pun dari kami yang keluar (mengikuti Khawarij) kecuali satu orang –atau seperti yang dikatakan oleh Abu Nu’aim-.” [HR. Muslim]

Abu Nu’aim adalah Al-Fadhl bin Dukain, beliau adalah salah seorang perawi hadits ini. Dan hadits ini menunjukkan bahwa kelompok ini telah tertipu dengan pemikiran Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini kekalnya di neraka, dan dengan pertemuan bersama sahabat Jabir radhiyallahu’anhu dan penjelasan beliau, maka mereka kemudian mengikuti bimbingan beliau, meninggalkan kebatilan yang mereka pahami dan tidak jadi memberontak yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah melaksanakan haji, maka ini adalah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang muslim apabila ia merujuk kepada ulama.

Dan yang menunjukkan bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu,

إنَّأخوفَماأخافعليكمرجلقرأالقرآن،حتىإذارُئيتبهجتهعليهوكانردءاًللإسلام،انسلخمنهونبذهوراءظهره،وسعىعلىجارهبالسيفورماهبالشرك،قلت: يانبيَّالله! أيُّهماأولىبالشرك: الراميأوالمرمي؟قال: بلالرامي

“Sesungguhnya yang aku takuti menimpa kalian, adanya orang yang membaca Al-Qur’an, sampai apabila telah terlihat sinarnya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, maka ia pun berlepas diri darinya dan membuangnya di belakang punggungnya, lalu ia memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah melakukan syirik. Aku (Hudzaifah) berkata: Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas dihukumi syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh? Beliau bersabda: Bahkan yang menuduh.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Al-Bazzar, lihat Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 3201]

Anak muda, umumnya buruk pemahaman, yang menunjukkan hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau (no. 4495) dengan sanadnya kepada Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, bahwa beliau berkata,

قلتلعائشةزوجالنَّبيِّصلىاللهعليهوسلموأنايومئذحديثالسنِّ: أرأيتِقولاللهتباركوتعالى: إِنَّالصَّفَاوَالْمَرْوَةَمِنشَعَآئِرِاللَّهِفَمَنْحَجَّالْبَيْتَأَوِاعْتَمَرَفَلاَجُنَاحَعَلَيْهِأَنيَطَّوَّفَبِهِمَا،فماأرىعلىأحدشيئاًأنلايطوَّفبهما،فقالتعائشة: كلاَّ! لوكانتكماتقولكانت: فلاجناحعليهأنلايطوَّفبهما،إنَّماأنزلتهذهالآيةفيالأنصار،كانوايُهلُّونلِمناة،وكانتمناةحذوقديد،وكانوايتحرَّجونأنيطوَّفوابينالصفاوالمروة،فلمَّاجاءالإسلامسألوارسولاللهصلىاللهعليهوسلمعنذلك،فأنزلالله إِنَّالصَّفَاوَالْمَرْوَةَمِنشَعَآئِرِاللَّهِفَمَنْحَجَّالْبَيْتَأَوِاعْتَمَرَفَلاَجُنَاحَعَلَيْهِأَنيَطَّوَّفَبِهِمَا

“Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan aku ketika itu masih berumur muda: Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya.” Maka aku berpendapat bahwa tidak ada dosa atas seorang pun yang tidak melakukan sa’i antara Shofa dan Marwah?

Aisyah berkata: Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf (sa’i) pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshor, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid, dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, maka ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan (firman-Nya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya”.” [HR. Al-Bukhari]

Padahal ‘Urwah bin Az-Zubair termasuk sebaik-baik tabi’in, salah seorang dari 7 Fuqoha Madinah di masa tabi’in, beliau telah menyiapkan ‘udzurnya pada kesalahan beliau dalam memahami, yaitu keadaan beliau yang masih berumur muda ketika bertanya kepada Aisyah, maka jelaslah anak muda umumnya jelek pemahaman, dan bahwa kembali kepada ulama adalah kebaikan dan keselamatan.

Dan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 7152) dari Jundab bin Abdullah radhiyallahu’anhu, ia berkata,

إنَّأوَّلماينتنمنالإنسانبطنُه،فمَناستطاعأنلايأكلإلاَّطيِّباًفليفعل،ومَناستطاعأنلايُحالبينهوبينالجنَّةبملءكفٍّمندمهراقهفليفعل

“Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik hendaklah ia lakukan, siapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan sepenuh genggaman darah yang ia tumpahkan hendaklah ia lakukan.” [HR. Al-Bukhari]

Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (13/130),

ووقعمرفوعاًعندالطبرانيأيضاًمنطريقإسماعيلبنمسلم،عنالحسن،عنجندب،ولفظه: (تعلمونأنِّيسمعترسولاللهصلىاللهعليهوسلميقول:  لايحولنَّبينأحدكموبينالجنَّةوهويراهاملءُكفِّدممنمسلمأهراقهبغيرحلِّه)،وهذالولميرِدمصرَّحاًبرفعهلكانفيحكمالمرفوع؛لأنَّهلايُقالبالرأي،وهووعيدشديدلقتلالمسلمبغيرحقٍّ

“Hadits ini secara marfu’ terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, dari Al-Hasan, dari Jundab dengan lafaz: Kalian mengetahui bahwa aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

تعلمونأنِّيسمعترسولاللهصلىاللهعليهوسلميقول:  لايحولنَّبينأحدكموبينالجنَّةوهويراهاملءُكفِّدممنمسلمأهراقهبغيرحلِّه

“Janganlah terhalangi antara seorang dari kalian dan surga dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga.”

Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”

Dan hadits-hadits serta atsar-atsar ini sebagiannya telah aku sebutkan dalam risalah,

بأيعقلودينيكونالتفجيروالتدميرجهادا؟! ويحكمأفيقواياشباب

“Dengan akal dan agama apakah hingga pengeboman dan penghancuran dianggap jihad?! Kasihan kalian, sadarlah wahai para pemuda”

Dalam risalah ini terdapat beberapa ayat, hadits dan atsar yang banyak tentang haramnya bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa hak. Risalah ini telah dicetak secara terpisah pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama risalah lain yang berjudul,

بذلالنصحوالتذكيرلبقاياالمفتونينبالتكفيروالتفجير

“Mengerahkan nasihat dan peringatan untuk sisa-sisa orang yang tertipu dengan pengkafiran dan pengeboman” termasuk dalam kumpulan kitab-kitab dan risalah-risalahku juz ke 6 hal. 225-279.

Dan untuk para pemuda yang telah ikut-ikutan di belakang penyeru kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka mengoreksi diri, kembali kepada kebenaran dan jangan berfikir untuk bergabung dengan mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dengan bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan pisau-pisau yang telah menjadi ciri khas kelompok ini, dan (kepada para pemuda Arab Saudi) hendaklah mereka tetap konsisten dalam mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya, demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbaiki kondisi kaum muslimin di setiap tempat, memberi hidayah kepada para pemuda kaum muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, menjaga negeri Al-Haramain baik pemerintah maupun masyarakat dari setiap kejelekan, memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejelekan orang-orang yang jelek dan makar orang-orang yang buruk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

وصلىاللهوسلمعلىنبينامحمدوعلىآلهوصحبه

Pemerintah Syi’ah Suriah saat ini beraqidah kufur dan syirik, membantai rakyatnya sendiri, Ahlus Sunnah Suriah (Pen).

Bolehkah Berbaiat kepada ISIS atau Kelompok Lainnya dan Apa Kewajiban Pemerintah?

Fatwa Anggota Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah tentang Hukum Baiat kepada Selain Pemerintah dan Apa Kewajiban Pemerintah,

البيعة لمن تكون ؟ وهل يجوز أن يبايع أكثر من واحد ؟

البيعة لا تكون إلا لولي أمر المسلمين، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة، وهي من إفرازات الاختلاف، والواجب على المسلمين الذين هم في بلد واحد وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد، ولا يجوز المبايعات المتعددة، وإنما هذا من إفرازات تجوز المبايعات من اختلافات هذا العصر، ومن الجهل بالدين.

وقد نهى الرسول صلى الله عليه وسلم عن التفرق في البيعة وتعدد البيعة، وقال: ((من جاءكم وأمركم جميع على واحد منكم، يريد تفريق جماعتكم، فاضربوا عنقه))[1]، أو كما قال صلى الله عليه وسلم، وإذا وجد من ينازع ولي الأمر الطاعة، ويرد شق العصا وتفريق الجماعة، فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم ولي الأمر وأمر المسلمين معه بقتال هذا الباغي، قال تعالى: {وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه} الحجرات: 9.

وقد قاتل أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ومعه أكابر الصحابة، قاتلوا الخوارج البغاة حتى قضوا عليهم، وأخمدوا شوكتهم، وأراحوا المسلمين من شرهم، وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم؛ فإنه أمر بقتال البغاة وبقتال الخوارج الذين يريدون شق عصا الطاعة، وذلك من أجل الحفاظ على جماعة المسلمين وعلى كيان المسلمين من التفرق والاختلاف.

Tanya: Untuk siapakah baiat? Bolehkah berbaiat kepada lebih dari seorang (pemimpin)?

Jawab: Baiat itu tidak dilakukan kecuali bagi pemerintah kaum muslimin. Adapun baiat-baiat yang berbilang (terhadap kelompok-kelompok) adalah bid’ah (mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum), serta termasuk sebab yang memunculkan perselisihan.

Wajib atas kaum muslimin yang tinggal di satu negeri atau sebuah kerajaan untuk berbaiat kepada satu pemimpin (yaitu pemimpin negeri tersebut), tidak dibenarkan yang dibaiat itu lebih dari satu. Pembaiatan kepada banyak pemimpin termasuk sebab munculnya perselisihan di masa ini dan termasuk kebodohan terhadap agama.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang perpecahan dalam baiat dan berbilangnya baiat, beliau bersabda,

من جاءكم وأمركم جميع على واحد منكم، يريد تفريق جماعتكم، فاضربوا عنقه

“Siapa yang datang kepada kalian untuk memecah persatuan kalian, sedang kalian berada dalam satu kepemimpinan salah seorang dari kalian, maka penggallah lehernya.” [HR. Muslim][1] Atau seperti yang disabdakan oleh beliau shallallahu’alaihi wa sallam.

Apabila ada orang yang mau merampas ketaatan terhadap pemerintah, merusak persatuan dan memecah belah pemerintahan, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada pemerintah dan kaum muslimin yang bersamanya untuk memerangi orang yang melampaui batas ini.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya (melampaui batas) terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” [Al-Hujurat: 9]

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dan bersama beliau ada pembesar para sahabat, telah memerangi kaum Khawarij yang melampaui batas hingga berhasil menumpas mereka, menghancurkan kekuatan mereka dan mengamankan kaum muslimin dari kejelekan mereka.

Inilah sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau telah memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang melampaui batas (para pemberontak) dan memerangi Khawarij yang ingin melepaskan diri dari ketaatan terhadap pemerintah. Ini semua dalam rangka menjaga pemerintahan kaum muslimin dan menjaga kaum muslimin dari perpecahan dan perselisihan.

[Al-Muntaqo min Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah, 1/367 no. 213]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]


[1] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih beliau (3/1480) dari hadits ‘Arfajah radhiyallahu’anhu.

Barokallohufiikum !

MENUJU DAULAH ISLAMIYAH

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Fadhilatus Syaikh al-Albani. Anda mengetahui bahwa para pemuda Islam dewasa ini, di banyak tempat sedang sibuk meniti jalan kembali menuju terwujudnya keadaan yang Islami. Padahal di sana banyak rintangan yang menghadang jalan kembali yang haq atau langkah-langkah yang benar; yang diciptakan oleh pemerintahan-pemerintahan (sistem-sistem) yang dhalim; atau akibat dari kesalahan-kesalahan para pemuda Islam sendiri, seperti berlebih-lebihan di dalam beragama atau meremehkannya. Maka menurut pendapat Syaikh, apa langkah-langkah yang benar yang anda nasihatkan kepada Kaum Muslimin, untuk melaksanakan dalam mencapai terwujudnya apa yang mereka kehendaki?.”

Jawaban :

Dengan taufiq Allah, aku katakan : Bahwa sesungguhnya keadaaan kaum Muslimin dewasa ini sedang dikelilingi oleh negara-negara kafir yang kuat materinya. Mereka (kaum Muslimin) diuji dengan (berkuasanya) pemerintah-pemerintah yang kebanyakan tidak berhukum kepada apa yang Allah turunkan, hanya pada sebagian sisi tertentu, tanpa sebagian yang lainnya. Yang tidak membantu kaum Muslimin untuk melakukan tindakan secara kelompok ataupun secara politik, seandainya mereka mampu melaksanakannya.

Maka sesungguhnya aku melihat bahwa pekerjaan yang semestinya dilaksanakan oleh jamaah-jamaah Islamiyah, hendaklah dipusatkan (terbatas) pada dua point yang mendesak. Aku tidak percaya bahwa di sana (selain dua point tadi) ada metode untuk selamat dari kelemahan, kerendahan dan kehinaan yang dialami kaum Muslimin.

Aku katakan hal ini khususnya kepada kaum Muslimin yang teguh, dengan dipelopori para pemudanya yang sadar dan memahami; (pertama) kasus tragis yang menimpa kaum Muslimin, dan (kedua) sangat menaruh perhatian untuk melakukan upaya sungguh-sungguh dalam mencari alternatif pemecahan dari kasus tragis tersebut dengan segenap kekuatan yang ada.

Sedangkan terhadap jutaan kaum Muslimin yang Islamnya hanya karena kenyataan geografis atau hanya Islam KTP, maka mereka ini bukanlah yang aku maksudkan dengan pembicaraanku.

Aku ulangi, sesungguhnya penyelesaian yang harus ditangani para pemuda tadi, terangkum hanya dalam dua perkara, tidak ada lainnya, yaitu: Tashfiyah (pemurniaan kembali ajaran-ajaran Islam) dan Tarbiyah (pembinaan).

Yang aku maksudkan dengan Tasfiyah adalah mempersembahkan Islam kepada generasi muda Muslim secara murni, bersih dari segenap kotoran keyakinan (menyimpang), khurafat, bid’ah dan kesesatan yang menyusup masuk ke dalamnya (Islam) di sepanjang abad-abad ini. Di antaranya adalah hadits-hadits yang tidak shahih, bahkan terkadang maudhu’ (palsu).

Tash-fiyah ini haruslah direalisasikan, karena tanpa tash-fiyah tidak akan ada jalan lain selama-lamanya untuk mewujudkan cita-cita kaum Muslimin dimaksud. Padahal mereka, kita yakini merupakan umat pilihan di dunia yang luas ini.

Jadi yang dimaksud tashfiyah ini sesungguhnya adalah mempersembahkan obat (solusi). Obat atau solusi itu adalah Islam yang telah memecahkan musykilah (kesulitan) serupa ini di saat bangsa Arab, di satu sisi, dalam keadaan hina dan diperbudak oleh bangsa-bangsa yang kuat di sekitar mereka yaitu Persia, Romawi dan Habasyah, sedangkan di sisi lain mereka beribadah kepada selain Allah Ta’ala.

Islam inilah satu-satunya obat (solusi) untuk menyelamatkan bangsa Arab dahulu dari keadaan yang buruk itu. Dan ternyata (kini) sejarah berulang sebagaimana dikatakan orang. Sementara itu sebuah obat, apabila ia sama dengan obat yang dulu, maka pastilah ia akan menyembuhkan -jika digunakan oleh orang yang sakit- terhadap penyakit yang sama dengan penyakit yang dulu.

Islam adalah satu-satunya obat, dan ini tidak diperselisihkan oleh jama’ah-jama’ah Islam di bidang perbaikan; usaha mengembalikan Islam, memulai kehidupan Islam dan menegakkan daulah Islamiyah.

Jama’ah-jama’ah ini telah terlibat perselisihan keras mengenai apa titik awal yang seharusnya dilakukan untuk ishlah (memperbaiki ummat -pent). Dalam hal ini, kita berbeda dengan seluruh jama’ah Islam yang ada.

Aku berpendapat bahwa (perbaikan itu) harus dimulai dengan Tashfiyah dan Tarbiyyah secara serempak.

Adapun seandainya memulai dengan perkara-perkara politik, maka (kita melihat) orang-orang yang sibuk dengan politik terkadang aqidahnya rusak dan terkadang tingkah lakunya terlalu jauh dari syari’at ditinjau dari kaca mata Islam.

(Kita melihat) orang-orang yang sibuk membuat himpunan dan perkumpulan-perkumpulan dengan embel-embel nama “Islam”, pada umumnya massa himpunan tersebut tidak mempunyai pemahaman yang jelas (tentang kebenaran -red).

Karenanya Islam ini tidak terpengaruh apa-apa dalam sikap hidup mereka. Itulah mengapa anda jumpai kebanyakan mereka tidak menerapkan Islam pada dirinya, padahal itu termasuk perkara yang memungkinkan bagi mereka untuk mengamalkannya dengan mudah, karena tidak seorang diktator pun yang bakal sewenang-wenang menghalanginya.

Di saat yang sama mereka ini mengembar-gemborkan semboyannya bahwa : “tidak ada hukum (yang boleh diikuti) kecuali hukum Allah…”, “harus berhukum berdasarkan hukum yang diturunkan Allah…”.

Kalimat di atas memang merupakan ungkapan yang benar, akan tetapi orang yang tidak mempunyai apa-apa (tidak mempunyai kemauan untuk menerapkan ajaran Islam pada dirinya), tentu tidak akan bisa memberikan apa-apa (tidak akan bisa menerapkan ajaran Islam pada ummat).

Maka apabila kebanyakan kaum Muslimin dewasa ini tidak menegakkan hukum Allah pada diri mereka sedangkan mereka menuntut orang lain untuk menegakkan hukum Allah pada negara/pemerintahan mereka, tentu mereka tidak akan mampu mewujudkannya, karena orang (yang menuntut) yang tidak mempunyai apap-apa, tentu tidak akan bisa memberi apa-apa.

Para penguasa itu sebenarnya termasuk bagian ummat ini, karenanya mereka bersama rakyat berkewajiban memahami penyebab kelemahan yang mereka alami. Mereka (rakyat dan penguasa) wajib mengetahui mengapa para penguasa kaum Muslimin dewasa ini tidak berhukum dengan Islam kecuali dalam beberapa segi. Mengapa pula para da’i Islam itu tidak menerapkan Islam pada dirinya sebelum mereka menuntut orang lain untuk menerapkannya pada negeri mereka.

Jawabannya hanya satu, yaitu kemungkinan mereka hanya mengetahui dan memahami Islam secara garis besar saja, atau kemungkinan dasar pijak mereka, hidup mereka, akhlaq mereka, dan tata pergaulan mereka terhadap sesama atau terhadap selain mereka tidak terbina melalui ajaran Islam ini….

Namun secara umum, seperti kita ketahui melalui pengalaman, adalah karena mereka hidup di dalam penyakit utama yang besar, yaitu jauhnya mereka dari pemahaman yang shahih tentang Islam. Bagaimana tidak, sedangkan di kalangan para da’inya saja sekarang ada yang menganggap bahwa para salafiyyun telah menyia-nyiakan umur mereka hanya dalam masalah tauhid. Subhanallah, betapa jauhnya orang yang mengucapkan kata-kata semacam ini, tenggelam ke dalam kebodohan, karena dia pura-pura lalai kalau tidak benar-benar lalai bahwa dakwah seluruh Nabi dan Rasul yang mulia adalah:

“Hendaklah kalian beribadah kepda Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” [An-Nahl: 36]

Bahkan sesungguhnya Nuh ‘alaihis salam telah melaksanakan dakwah selama 950 tahun, beliau tidak mengadakan ishlah (perbaikan), tidak membuat syari’at dan tidak menegakkan politik. Yang beliau lakukan hanya seruan: “Wahai kaumku beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thagut!”

Adakah di sana ada ishlah? Apakah di sana ada tasyri’ (pensyari’atan)? Apakah di sana ada politik?, tidak suatu pun, kecuali seruan: “Kemarilah wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut”. Itulah dia Rasul pertama (berdasarkan hadits shahih) yang telah diutus ke bumi, beliau terus-menerus berdakwah selama 950 tahun, tidak menyeru kecuali kepada tauhid, dan inilah (tauhid) kesibukan yang menyibukkan para salafiyyun. Karenanya, betapa anehnya ketika kebanyakan da’i Islam memandang rendah bahkan sampai pada tingkat mengingkari tugas dakwah para salafiyyun.

Sesungguhnya termasuk keutamaan-keutamaan Sunnah adalah bahwa ia menjelaskan musykilah-musykilah (kesulitan-kesulitan) yang terkadang menghadang umat ini. Sunnah itu terlebih dahulu menyediakan obatnya setelah sebelumnya memperingatkan mereka akan penyakitnya.

Masing-masing-masing-masing kita mengetahui sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

” Artinya : Umat-umat akan mengelilingi kalian sebagaimana orang-orang yang makan (dengan lahap) mengelilingi piring-piringnya. Para sahabat bertanya: “Apakah karena sedikitnya kami pada saat itu, wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan kalian banyak (jumlahnya) pada saat itu, akan tetapi kalian adalah seperti buih banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut kegentaran dari hati musuh kalian, dan Dia benar-benar akan menanamkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”. Beliau menjawab: “Cinta dunia dan benci mati“. [Hadits Riwayat. Abu Dawud dari Ibnu Umar, Ahmad, Ath-Thabrani dalam al-Kabiir, Ibnu ‘Adi dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan hadits ini shahih]

Dalam hadits ini terdapat penjelasan mengenai salah satu penyakit yang akan menimpa kaum muslimin, dan akan menjadi sebab atau menujukan sunnah kauniyah syari’ah (satu ketentuan yang pasti terjadi yang diterangkan oleh syari’at -pent) dalam satu waktu, bagi berkuasanya musuh terhadap kaum Muslimin dari segala arah, sebagaimana orang-orang yang makan bersama (dengan lahap) mengelilingi (satu) piring.

Aku katakan :  “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan mengenai adanya satu penyakit di antara sekian penyakit lainnya yang akan mengakibatkan kaum Muslimin terperosok ke dalam kenyataan yang mengenaskan ini, yaitu (penyakit) cinta dunia dan benci mati. Dan ini erat kaitannya dengan apa yang telah aku katakan di muka, yakni keharusan bagi adanya Tashfiyah dan Tarbiyah”

Penggalan kedua dari kalimat (tashfiyah dan tarbiyah) ini, (yaitu kalimat Tarbiyah), artinya harus mentarbiyah (mendidik/membina) kaum Muslimin zaman sekarang dengan suatu tarbiyah yang pada intinya dapat menghindarkan mereka agar jangan sampai terfitnah dengan dunia sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum mereka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku takutkan (justeru) apabila dibukakan kesenangan kehidupan dunia buat kalian, lantas hal itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Akibat (kesenangan dunia) ini kita lihat amat sedikit orang yang mau memperhatikan penyakit ini dan kemudian mendidik para pemuda, terutama yag telah dibukakan simpanan-simpanan bumi bagi mereka dan dilimpahi kebaikan-kebaikan (kemakmuran) serta berkah bumi.

Hanya sedikit orang yang memperingatkan tentang penyakit ini, yang menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk membentengi darinya dan agar supaya (penyakit) cinta dunia benci mati tidak menjalar di hati mereka. Dengan demikian maka penyakit ini harus diobati dan manusia harus dididik agar selamat darinya.

Kita kembali kepada penggal (kalimat) yang pertama dan hal itu lebih penting tanpa diragukan lagi, yaitu ucapan kita bahwa haruslah memulai dengan tashfiyah yang diiringi dengan tarbiyah. Di sana ada hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kepada tashfiyah ini, yaitu sabda beliau:

“Apabila kalian jual beli dengan ‘iinah, kalian memegangi ekor-ekor sapi, kalian puas dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah. (pastilah) Allah timpakan kehinaan atas kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahih Al Jaami’ Ash Shaghiir]

Di dalam hadits ini terdapat keterangan penyakit dan obatnya, yaitu bahwa beliau bersabda di awal hadits: “apabila kalian jual-beli dengan ‘iinah”. ‘Iinah adalah satu jual-beli yang bersifat riba, dan sangat disayangkan dewasa ini terjadi di sebagian negara-negara Islam, bahkan (negara-negara) Arab. Padahal negara-negara ini mestinya memahami Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, lebih baik daripada pemahaman kaum Muslimin non-Arab.

‘Iinah adalah jika seorang membeli suatu kebutuhan dari penjual dengan harga yang leih tinggi dari harga kontan (tunai). Dia membelinya tidak kontan, atau yang sekarang dinamakan “kredit”, yaitu dengan harga yang lebih tinggi dari harga kontan. Padahal pelakunya (pembeli) tidaklah datang untuk membeli; akan tetapi dia datang (membeli) hanya untuk mengambil dinar (uang tunai), sehingga menjadi kesibukannya dan menjadi batu loncatan (modal) pekerjaanya.

Dan karena kerusakan masyarakat dan terlepasnya ikatan agama (Islam) yang seharusnya (ikatan agama) mereka kerjakan; maka orang yang membutuhkan uang (harta tadi) harus membuat tipu daya terhadap apa yang diharamkan oleh Allah untuk memastikan dirinya mendapatkan uang (harta tadi).

Kemudian orang yang membutuhkan tadi mendatangi penjual dan membeli darinya – (sekadar contoh)- sebuah mobil yang harganya 20.000 dinar secara kredit, padahal harga sesungguhnya lebih murah dari itu. Dan musibah yang tersembunyi pada tindakan di atas, yaitu bahwa pembeli yang membutuhkan tadi tidaklah menerima mobil itu, tetapi dia lansung menjualnya secara kontan kepada penjual tadi dengan harga yang lebih rendah, umpamanya 17.000 dinar. Kemudian dia menerima harga (uang kontan) ini, tetapi selanjutnya dia harus menggenapi angsuran-angsuran yang besar yang telah disepakati pertama kali, misalnya selama satu tahun atau enam bulan.

Inilah jual-beli ‘iinah itu, dan ini adalah perkara nyata dewasa ini di sebagian negara-negara sebagaimana tadi telah kami sebutkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “apabila kalian (melakukan) jual beli ‘iinah,” berarti membuat tipu daya terhadap apa yang diharamkan oleh Allah kemudian dihalalkannya.

Kemudian sabda beliau lagi, “Kalian memegangi ekor-ekor sapi dan kalian puas dengan pertanian,” dan ini adalah termasuk memburu duniawi dan meninggalkan jihad dijalan Allah. (Maka) akibat buruk apakah yang menimpa kaum Muslimin ini, yang membuat tipu daya paling rendah terhadap hukum-hukum Allah dan menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan. Kemudian mereka berpaling dari kewajiban mereka, seperti jihad di jalan Allah karena sebagian mereka lalai disebabkan memburu dunia.

Dan apakah akhir perjalanan mereka?

Akibat buruk dan akhir perjalanan mereka adalah Allah menimpakan kehinaan atas mereka, Dia tidak akan mencabutnya dari mereka sampai mereka kembali kepada agama mereka. Dengan demikian secara umum bahwa sesungguhnya penyakit-penyakit yang menimpa kaum Muslimin teringkas dalam dua sisi:

Pertama : Meninggalkan kewajiban yang dikenal secara pasti dalam agama ini seperti jihad di jalan Allah dengan sebab mereka memburu dunia.
Kedua : Membuat tipu daya terhadap yang telah diketahui keharamannya dari As Sunnah, seperti ‘iinah dengan nama jual-beli.
Dan contoh-contoh lain banyak sekali, bahkan sampai hari ini, masih ada orang berfatwa “bolehnya nikah tahliil”, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ini:

“Allah melaknat muhallil (orang yang menikah untuk menghalalkan bagi suami dari wanita yang telah dicerai tiga kali, pent) dan muhallallah (orang yang dihalalkan dengan pernikahan atasnya, pent).” [Hadits Riwayat. Ahmad, An-Nasai, dan At Tirmidzi, lihat Bulughul Maram, kitab An-Nikah, pent]

Hujjah mereka bersandar secara lahiriah bahwa wanita yang dicerai tiga kali itu rela terhadap laki-laki yang mengawininya untuk menghalalkan wanita tersebut bagi suaminya yang pertama; dia rela sebagai ganti suami, demikian pula wali amr(yang mengurusi nikah/pemerintah) rela terhadap hal ini. Dan mereka semuanya sepakat bahwa pernikahan itu tujuannya hanyalah untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan dan menyelisihi firmanNya:

{“Talak (yang boleh dirujuk) itu dua kali. Setelah itu boleh dirujuk lagi dengan yang ma’ruf atau dengan menceraikan dengan cara yang baik.”} {Kemudian jika si suami mentalaknya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga dia kawin dengan suami yang lain.} [Al Baqarah awal ayat 229 dan awal ayat 230]

Kemudian dengan fatwa tersebut mereka membawa laki-laki yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menamakannya “kambing jantan pinjaman”; sedangkan mereka menamakannya “suami”. Padahal dia bukanlah seorang suami, karena dia tidak menikahi wanita tersebut supaya dengannya dia terjaga, dan supaya wanita itu terjaga dengan dirinya. Akan tetapi hanyalah untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, yaitu bahwa wanita itu tidak boleh untuk kembali kepada suaminya yang telah mentalaknya tiga kali sampai dia menikah dengan orang yang lain, dengan cara yang syar’i sebagaimana suaminya yang pertama menikahinya.

Dan Rabb kita Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam beberapa firmanNya:

” Artinya : Dan Dia telah menciptakan isterinya darinya (tulang rusuk Adam).” [An Nisaa’: 1]

“Artinya : …agar supaya dia merasa senang kepadanya.” [Al A’raaf: 189]
“Artinya : …dan Dia menjadikan rasa kasih sayang di antara kalian.” [Ar-Ruum:21]

Padahal laki-laki tadi mengawininya dengan rasa tidak senang/tenteram terhadap wanita itu. Dan wanita itu tidak merasa senang terhadap laki-laki tersebut. Laki-laki itu hanyalah menghabiskan malam bersamanya dan menerkamnya sebagaimana kambing jantan menerkam kambing betina. Dan setelah masuk waktu subuh dia ceraikan, karena memang dia tidak menikah untuk tujuan yang mulia; tetapi hanya untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Maka sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila kalian telah jual-beli dengan ‘iinah” adalah semacam contoh terhadap apa yang dilakukan kaum Muslimin yang berupa penghalalan dan tipu daya terhadap apa yang Allah haramkan. Akan tetapi hal ini tidaklah secara terang-terangan, sebagaimana kaum Muslimin dewasa ini menghalalkan riba dan membuat tipu daya terhadapnya, sehingga terjadi dua musibah atas mereka:

Pertama: Melaksanakan yang haram.
Kedua : berkisar sekitar menghalalkannya.
Dan belum lama ini aku telah menyebutkan bahwa ada orang yang menulis sebuah buku, dan di dalamnya dengan sombong disebutkan: bahwa upaya agar seorang Muslim tidak terjatuh di dalam riba adalah hendaknya dia bernadzar kepada Allah. Yaitu setiap kali dia berhutang harta kepada seseorang, hendaknya dia memberikan 10%-nya sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Jika dia meniatkan hal ini pada dirinya, maka jadilah ukuran wajib dipenuhi.

Memang, sebagian syaikh membenarkan hal itu, padahal mereka hanya berputar-putar sekitar hukum-hukum Islam dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Ini tidak lain adalah jalannya Yahudi di dalam riba. Dan itu adalah jalan yang berbahaya dan amat membinasakan.

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan bahwa barangsiapa yang melakukannya, Allah akan menimpakan kehinaan padanya dan tidak akan mencabutnya sampai dia kembali ke agamanya. Dan kembali ke agama adalah permasalahan zaman ini, yang merupakan permasalahan besar dan haruslah ada sedikit perincian mengenainya. Itu karena sebagian penulis dan da’i berpendapat – dan sangat disayangkan- bahwa agama itu mempunyai pemahaman-pemahaman (tafsir) yang beraneka ragam dan bahwa perselisihan dalam hal ini adalah di dalam furu’ (masalah-masalah cabang), bukan di dalam ushul (masalah-masalah pokok).

Akan tetapi aku katakan: “Sesungguhnya perselisihan itu terjadi di dalam ushul, sebagaimana terjadi di dalam furu’. Dan tatkala aku menyebutkan perselisihan, maka yang pertama kali aku maksudkan adalah para ulama dari seluruh firqah (golongan), karena dari sanalah munculnya perselisihan yang ada di antara kaum Muslimin yang awam.

Dan seandainya kita kembali (melihat) firqah-firqah ini, baik yang dulu maupun sekarang, pastilah kita mendapati adanya perselisihan itu, baik dalam furu’ maupun dalam ushul.

Sebagai contoh (bukan merupakan pembatasan) aku mengingatkan adanya keyakinan berbagai kelompok-kelompok besar kaum Muslimin di berbagai daerah dewasa ini tentang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk Allah yang pertama. Kelompok-kelompok tersebut berhujjah dengan hadits yang tidak ada asal-usulnya di dalam sunnah yang shahih, yaitu:

“Pertama kali yang Allah ciptakan adalah cahaya nabimu, hai Jabir (sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam).”

Dan engkau dapati umunya ahli ilmu mendengar kesesatan ini, bahkan dinyatakan terang-terangan di atas mimbar-mimbar, mereka mendengar tetapi mengingkari dan mengaminkan padahal kesesatannya sudah jelas. Dan tidak ada yang menghadapi itu kecuali, yaitu orang-orang yang menegakkan jiwa mereka untuk mengingkari khurafat-khurafat serta kesesatan-kesesatan semacam ini. Dan perselisihan antar ulama Muslimin ini sebagaimana telah nyata adalah perselisihan dalam aqidah (ushul), dan bukanlah dalam cabang fiqh (furu’).

Seandainya kita menghendaki diperpanjang, maka contoh-contohnya banyak, akan tetapi lebih utama aku tidak perdalam. Dan aku lebih baik pindah (pembicaraan) kepada perselisihan yang terjadi antara ulama yang berpendapat bahwa (perselisihan) itu terjadi hanyalah dalam furu’ dan itu tidak berbahaya…

Dan kita berada di depan dua sisi: perselisihan dalam furu’ dan perselisihan dalam furu’ ini tidak berbahaya; dan keduanya adalah serba tidak benar.

Pertama.

Pendapat perselisihan hanya dalam furu’, ini adalah salah. Untuk memperjelas hal ini aku akan menyebutkan tentang perselisihan yang terjadi antara madzhab Hanafiyah pada satu sisi dengan seluruh madzhab yang lain pada sisi yang kedua di dalam permasalahan iman; yaitu apakah iman itu bertambah dan berkurang atau bahwa iman itu tetap tidak bertambah atau tidak berkurang.

Sesungguhnya pada awalnya terjadi perselisihan antara kalangan Maturidiyah di satu pihak dengan Asy’ariyah dan ahli hadits di pihak lain. Perselisihan ini kemudian berkembang menjadi perselisihan yang lain, yaitu apakah iman itu bertambah dan berkurang atau bahwa aiman itu tetap tidak bertambah atau tidak berkurang.

Padahal yang benar Al Qur’an telah menjelaskan bahwa iman itu bertambah:

” Artinya : Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” [Al Mudatstsir:31]

Di sana ada ayat-ayat yang banyak dalam masalah ini, dan Sunnah juga menambah keterangan pada ayat-ayat di atas secara jelas tentang bertambahnya iman, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

‘Iman itu mempunyai enam puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah syahadat laa ilaaha illa Allah. Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” [Muttafaq alaihi]

Walaupun demikian, sesungguhnya kita dapati Maturidiyyah di masa kini yang secara fiqh bermadzhab Hanafiyah mengatakan dengan lantang bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, bahkan mereka menyebutkan dari imam mereka bahwa “Imanku seperti iman Jibril dan ini berarti bahwa iman manusia yang paling durhaka- yang terkadang orang yang mengatakan dengan lantang tadi- sama dengan imannya Jibril.

Dan ucapan ini -walaupun salah- berkaitan erat dengan keyakinan mereka bahwa iman itu tidak menerima tambah dan kurang. Dan mereka berkata, “Apabila kita katakan bahwa iman itu bertambah, berarti iman bisa berkurang, dan apabila iman berkurang, maka akan bisa menghabiskan iman pemiliknya.” Ucapan ini benar-benar berkaitan erat dengan keyakinan mereka bahwa iman itu hanyalah keyakinan saja. (seharusnya iman itu keyakinan, ucapan dan perbuatan-red).

Adapun keyakinan ahli sunnah dari Asyaa’irah dan ahlul hadits bahwa iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan amal shalih, dan tambahnya iman adalah dengan ketaatan sedang berkurang adalah dengan kemaksiatan. Maka ini adalah perselisihan yang terjadi sejak lama dan terus sampai hari ini, kemudian di belakang hari ini tumbuh perselisihan masalah aqidah yang lain yang berkaitan dengan ucapan jelas, yaitu apakah seroang Muslim mengucapkan “Saya mu’min, insya Allah.” Atau cukup dengan ucapan “Saya mu’min,” tanpa insya Allah?

Barangsiapa yang berkata bahwa iman itu bertambah atau berkurang, dia akan berkata: “saya mu’min insya Allah,” karena ia takut atas dirinya bahwa dia kurang di dalam amalan-amalannya yang shalih. Dan barangsiapa berkata bahwa iman itu tidak bertambah atau berkurang, dia pasti dengan ucapannya, “Saya mu’min.” Dia tidak mencupakan “insya Allah” karena jika dia berkata “insya Allah” maka menurutnya hal itu artinya dia ragu di dalam keyakinannya yang menetap dalam hati. Dan berawal dari perselisihan itu, timbullah perselisihan yang lain, bolehkah mengucapkan “insya Allah” (ketika berkata: saya mu’min) atau tidak boleh?

Dan perselisihan tersebut tidaklah berhenti pada masalah fiqh, tentang bolehnya mengucapkan insya Allah atau tidak bolehnya. Tetapi telah merembet kepada masalah yang berbahaya yang telah menceria-beraikan kaum Muslimin dengan seburuhk-buruknya, yaitu sampai pada tingkat orang Muslim menyerupai orang kafir.

Di dalam sebagian kitab Hanafiyah terdapat pertanyaan: Bolehkah wanita Hanafiyah menikah dengan laki-laki Syafi’iyah? Dan jawabnya adalah tidak boleh. Karena Hanifiyah meragukan iman orang-orang Syafi’iyah.

Dan kaum Muslimin di negara-negara di belakang dua sungai telah mengamalkan fatwa ini bertahun-tahun, yang penduduknya tidak membolehkan anak-anak wanita mereka menikah dengan laki-laki Syafi’iyah.

Begitulah keadaannya sampai datang seorang tokoh ulama Hanifiyah yang bergelar Mufti ats-Tsaqalain, yang menyusun tafsir Abu as-Su’ud, yang dalam menghadapi masalah tadi berfatwa: tentang bolehnya Hanifiyah menikah dengan orang Syafi’iyah, akan tetapi dengan alasan yang aku sendiri tidak bisa mengomentarinya.

(Tafsir) Abu as-Su’ud telah membolehkan pernikahan laki-laki Hanifiyah dengan wanita Syafi’iyah dengan menempatkan kedudukan wanita itu pada kedudukan ahli kitab dengan qiyas perlakuan terhadap wanita Yahudi atau Nashrani.

Maka sangat mengherankan, jika ia (Abu as-Su’ud) membolehkan ini, akan tetapi dia tidak membolehkan sebaliknya… dan sungguh ini telah terjadi di negara-negara kaum Muslimin dan terus terjadi sampai hari ini.

Aku (Syaikh Al-Albani) mendengarnya sendiri dari seorang laki-laki awam yang bermazhab Hanafiyah yang terpesona kepada seorang kahatib masjid Bani Umayyah di Damaskus Syam, sehingga ia berkata, “Seandainya khatib itu tidak bermazhab Syafi’i, sungguh aku akan menikahkankannya dengan putriku.”

Aku harapkan janganlah seorang dari orang-orang yang lalai, tergesa-gesa menuduhku telah berbuat jahat dan mengatakan: “Sesungguhnya perselisihan-perselisihan ini telah berakhir dan telah lewat masanya.”

Maka kepada orang ini dan yang semisalnya, aku sebutkan contoh di atas (yang aku mengetahuinya sendiri) sebagai dalil terus berlangsungnya perselisihan-perselisihan tersebut.

Ini adalah pada tingkatan bangsa Arab, maka apabila engkau berpindah kepada kaum Muslimin non-Arab, pasti engkau dapatkan perselisihan yang lebih pahit dan lebih keras daripada perselisihan-perselisihan yang mengherankan ini.

Kedua.

Perselisihan dalam furu’ tidak akan berbahaya. Adapun ucapan mereka bahwa perselisihan dalam furu’ tidak akan berbahaya, maka aku katakan: “Di dalam perselisihan ushul bahayanya jelas, sebagiannya telah lewat, berdasarkan ini maka sesungguhnya bahaya itu juga pindah pula pada (perselisihan) furu’; dan cukuplah sebagai tanda bahaya bahwa perselisihan ini menyebabkan berpecah-belahnya ummat dan porak-porandanya seperti telah aku jelaskan.

Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana penyelesaiannya?

Penyelesaiannya ada pada penutup hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah aku kemukakan, yaitu “sampai kalian kembali ke agama kalian.” Yang artinya terkandung pada kembali secara benar kepada Islam. Islam dengan pemahaman yang benar yang telah dijalani oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shabahat beliau.

Untuk membatasi jawaban masalah tersebut, aku ulangi: “Haruslah kita memulai dengan tashfiyah dan tarbiyah, dan sesungguhnya harakah (pergerakan) apa saja yang tidak berdiri di atas fondasi ini sama sekali tidak ada faedahnya.“

Dan untuk membuktikan kebenaran pendapat kita di dalam manhaj ini, kita kembali kepada Kitab Allah al-Karim, di dalamnya terdapat satu ayat yang menunjukkan bahwa permulaan itu haruslah dilakukan dengan tashfiyah kemudian tarbiyah yang membuktikan kesalahan setiap orang yang tidak setuju dengan kita.

Allah berfirman:

” Artinya : Jika kalian menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kalian.” [Muhammad 7]

Inilah ayatnya, Dia berfirman: Jika kalian menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kalian.”

Inilah ayat yang dimaksud; dan ahli tafsir telah sepakat bahwa arti menolong Allah adalah “mengamalkan hukum-hukumNya.” Dan termasuk pula: “Iman kepada yang ghaib.” Yang telah dijadikan oleh Allah sebagai syarat pertama bagi mu’minin.

“Artinya : Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib dan menegakkan shalat.” [Al-Baqarah: 3]

Maka bila pertolongan Allah tidak terwujud, kecuali dengan menegakkan hukum-hukumNya, lantas bagaimana mungkin kita memasuki jihad secara amalan? Sedangkan kita belum menolong Allah sesuai (makna) yang telah
disepakati ahli tafsir.

Bagaimana kita memasuki jihad sedangkan aqidah kita rusak, hancur? Bagaimana kita akan berjihad, sedangkan akhlaq rusak? Kalau begitu haruslah meluruskan aqidah dan mendidik jiwa sebelum memulai jihad.

Dan aku mengetahui bahwa perkara ini tidak akan selamat dari penentangan terhadap manhaj kita: tashfiyah dan tarbiyah.

Tentang ini ada orang berkata: “Sesungguhnya melaksanakan tashfiyah dan tarbiyah adalah satu urusan yang membutuhkan waktu panjang bertahun-tahun.”

Akan tetapi aku katakan, “Hal ini (waktu panjang) tidaklah penting, namun yang penting adalah kita menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama kita, oleh Rabb kita yang Maha Agung.”

Yang penting kita mulai pertama kali dengan mengenal agama kita dan setelah itu tidak peduli apakah jalannya panjang atau pendek.

Sesungguhnya aku tujukan ucapanku ini kepada para aktifis da’wah kaum Muslimin, para ulama dan para pembimbing. Aku seru mereka, hendaklah berada di atas ilmu yang sempurna tentang Islam yang shahih dan hendaklah mereka memerangi setiap kelalaian atau pura-pura lupa dan memerangi setiap perselisihan dan pertengkaran.

“Artinya : Maka janganlah kalian saling bertengkar yang menyebabkan kalian jadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” [Al-Anfal: 46]

Dan setelah kita menyelesaikan pertengkaran dan kelalaian ini dan kita tempatkan kebangkitan, persatuan dan kesepatan pada posisinya, maka kita mengarah untuk mewujudkan kekuatan materi (fisik):

“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kalian mampu berupa kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” [Al-Anfal : 60]

Mewujudkan kekuatan materi adalah perkara yang pasti, karena memang harus membangun industri, pabrik senjata dan lainnya. Akan tetapi sebelum segala sesuatu itu dilakukan, haruslah kembali secara benar kepada agama sebagaimana yang dijalani oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau di dalam aqidah, ibadah, tingkah laku dan seluruh apa yang berkaitan dengan perkara-perkara syari’ah.

Dan hampir-hampir engkau tidak akan mendapati seorang pun di kalangan kaum Muslimin yang menjalankan ini, kecuali Salafiyun.

Mereka adalah orang-orang yang meletakkan titik di atas huruf-huruf, dan mereka sajalah yang menolong Allah dengan apa yang Dia perintahkan yang berupa tashfiyah dan tarbiyah yang akan mewujudkan manusia Muslim yang benar. Mereka sajalah wujud firqah an-Najiyah (golongan yang selamat) dari neraka dari 73 firqah yang ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentangnya, beliau bersabda, “Semuanya di dalam neraka.”

Oleh karena inilah aku ulangi lagi, “Tidak ada jalan keselamatan, kecuali al-Kitab dan as-Sunnah serta tashfiyah dan tarbiyah di dalam menuju al-Kitab dan as-Sunnah. Dan ini mendorong upaya pemahaman terhadap ilmu hadits dan pemisahan yang shahih dari yang dhaif, supaya kita tidak membangun hukum yang keliru seperti yang dijalani kaum Muslimin pada banyak kesalahan-kesalahan hukum dengan berpegang pada hadits-hadits yang lemah.

Di antaranya (sekedar contoh), apa yang terjadi pada sebagian negara-negara Islam tatkala mempraktekkan Undang-Undang Islam -sebagaimana mereka namakan-, akan tetapi tidak berlandaskan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka terjatuhlah ke dalam kesalahan-kesalahan perundang-undangan dan yang berkaitan dengan hukuman.

Misalnya, bahwa hukuman seorang Muslim tatkala membunuh kafir dzimmi (yang bernaung di bawah bendera Islam ini) apabila dilakukan secara sengaja adalah balas dibunuh. Dan diyat (tebusan) orang dzimmi yang terbunuh secara keliru adalah sama dengan diyat Muslim. Padahal ini bertentangan dengan apa yang berlaku di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Maka bagaimana setelah ini (semua), memungkinkan kita menegakkan daulah padahal kita berada di dalam kesalahan-kesalahan serampangan ini. Ini terjadi pada lapangan ilmu, maka apabila kita berpindah ke masalah pendidikan, kita dapati kesalahan-kesalahan yang mematikan, akhlaq kaum Muslimin di dalam pendidikan hancur binasa. Maka haruslah dijalankan tashfiyah dan tarbiyah dan kembali secara benar kepada Islam.

Dan pada kedudukan ini, sangat menakjubkan ucapan salah seorang da’i Islam bukan dari Salafiyun (akan tetapi kawan-kawanya tidak mengamalkan ucapan ini) yang berkata, “Tegakkan daulah Islam di dalam hati kalian, niscaya daulah Islam akan berdiri di bumi kalian.”

Sesungguhnya kebanyakan da’i Muslimin keliru ketika mereka lalai dari prinsip ini dan ketika mereka berkata, “Sesungguhnya sekarang bukanlah waktunya tashfiyah dan tarbiyah, akan tetapi sekarang hanyalah waktu untuk bersatu.”

Padahal bagaimana mungkin bersatu, sedangkan perselisihan terjadi dalam ushul dan furu’. Sesungguhnya perselisihan ini adalah kelemahan dan kemunduran yang laten pada kaum Muslimin.

Dan obatnya adalah satu, teringkas dari apa yang telah dijelaskan, yaitu kembali dengan benar kepada Islam yang shahih atau mulai mempraktekkan manhaj kita dalam tashfiyah dan tarbiyah, dan mudah-mudahan ini telah cukup.

Walhamdulillah Rabbil ‘Alamin.

[Diterjemahkan secara bebas oleh Muslim Abu Shalihah dari kitab “Hayaatu al-Albani wa Aatsaaruhu wa Tsanaa-u al-‘Ulamaa ‘Alaihi” oleh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, Juz I/377-391 bab “Ath-Thariq Ar-Rasyid Nahwa Binaa-i al-Kiyaani Al-Islamiy”. Penerbit: Ad-Daar as-Salafiyah, cet. I, Th. 1407 H/1987 M, As-Sunnah Edisi 08/Th. III/1419-1999]

SUMBER ARTIKEL :
http://almanhaj.or.id

Barokallohfiium !

ADA APA DENGAN HIZBUT TAHRIR ? KHILAFAH MODEL SIAPA YANG AKAN DI USUNG NYA ?

Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan….


Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya dan sebagainya, kita akan tahu bahwa klaim mereka ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah ternyata tidak dilakukan dengan cara-cara yang Islami.

*** Apa Itu Hizbut Tahrir? ***

Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT) telah memproklamirkan diri sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1).

Atas dasar itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)

Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan:

“Demikian pula, dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan…, dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan problematika utama kaum muslimin, yaitu menegakkan sistem khilafah.”(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41).

Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.

Allah menegaskan:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya’.” (An-Nahl: 36)

Rasulullah juga menegaskan:

“Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)

*** Tujuan dan Latar Belakang ***

Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )

Para pembaca, tahukah anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi?

Landasannya adalah bahwa semua negeri kaum muslimin dewasa ini –tanpa kecuali– termasuk kategori Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim.

Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim. (Lihat Mengenal HT, hal. 79)

Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah sifat yang kontinu (terus-menerus/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya adalah orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah.

Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur, dan setiap negeri yang penduduknya orang-orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut.” (Majmu’ Fatawa, 18/282)

Para pembaca, mengapa –menurut HT– harus satu khilafah? Jawabannya adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan, republik presidentil (dipimpin presiden) ataupun republik parlementer (dipimpin perdana menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara (khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak negara bagian. (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55)

Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara (khilafah) dan satu khalifah. Namun, jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.

Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata: “Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 37)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Para imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 34)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya (dalam kondisi seperti itu -pen) tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya.” (As-Sailul Jarrar, 4/512)

Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shan’ani, sebagaimana dalam Subulus Salam (3/347), cet. Darul Hadits.

*** Kapan HT Didirikan? ***

Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) yang berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah, dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama.Dia adalah Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 135, dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi).

Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya, lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?!

Wallahul musta’an.

*** Landasan Berpikir Hizbut Tahrir ***

Landasan berpikir HT adalah Al Qur‘an dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan dengan pemahaman Rasulullah dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka.

Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani, menjuluki mereka dengan Al-Mu’tazilah Al-Judud (Mu’tazilah Gaya Baru).

Padahal jauh-jauh hari, shahabat ‘Ali bin Abi Thalib telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.”2 (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Demikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah, berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin.

Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad atas para nabi, syafaat Rasulullah untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di hari kiamat, adanya siksa kubur, adanya jembatan (ash-shirath), telaga dan timbangan amal di hari kiamat, munculnya Dajjal, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi ‘Isa u di akhir zaman, dan lain sebagainya.

Adapun dalam masalah fiqih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim, boleh melihat gambar porno, boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka, boleh mengeluarkan jizyah (upeti) untuk negeri kafir, dan lain sebagainya. (Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 139-140)

** Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah **

Bagi HT, khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut, HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:

1. Mendirikan Partai Politik

Dengan merujuk Surat Ali ‘Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal HT hal. 3).

Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memperbanyak pendukung dan pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil membentuk partai. (Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)

Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang jauh dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yang berpendapat demikian?!

Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!

Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu a’lam.

2. Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)

Berinteraksi dengan umat (Tafa’ul Ma’al Ummah) merupakan tahapan yang harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada empat:

– Pertama: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24). Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin ‘ashabiyyah (fanatisme) dan loyalitas terhadap

HT.
-Kedua: Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif/umum yang disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi antara masyarakat dengan penguasanya.

Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7)

Betapa ironisnya, Rasulullah memerintahkan kita agar menjadi masyarakat yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka:

“Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)

– Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).
Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin, tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)

– Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian. Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).

Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan Rasulullah. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah menjuluki mereka dengan “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka”!

Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.” (Mengenal HT, hal. 3)

Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah : “Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.”

Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?”

Rasulullah bersabda (artinya): “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z, 3/1476, no. 1847)?!

Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah :

“Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya (nasehatnya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin , dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits no. 1096)?!

Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya, sebagaimana yang mereka nyatakan:

“Sikap HT dalam menentang para penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan, menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura), menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada.” (Mengenal HT, hal. 26-27)

Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim.” Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik.

Buktinya, mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasehat “di hadapan” sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya.

Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah yang diriwayatkan shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin di atas?!

Dan jangan terkecoh dengan ucapan mereka, “Meskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata) dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yang menghalangi dakwahnya.” (Mengenal HT, hal. 28). Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).

3. Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)

Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan:

“Hanya saja setiap orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.” (Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)

Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:

1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.

2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan). (Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72)

Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka” yang mereka tempuh.

Wahai HT, ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Bahwasanya Nabi mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah I dan Rasul-Nya.

Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak, sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa…

Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/6)

Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t: “Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:

  1. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

  3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

  4. Seseorang yang mengatakan: “ Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir, Muhammad Al-’Uraini hal. 21-22)

Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran, maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan nasehat kepadanya, bukan pemberontakan.

Adapun dalih mereka dengan hadits Auf bin Malik :

Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (membe-rontak)?”

Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!” (HR. Muslim, 3/1481, no. 1855)

bahwa “mendirikan shalat di tengah-tengah kalian” adalah kinayah dari menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga –menurut HT– walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir dan boleh untuk digulingkan!

Ini adalah pemahaman sesat dan menyesatkan.

Para pembaca, tahukah anda dari mana ta‘wil semacam itu? Masih ingatkah dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan para ulama. Wallahul musta’an.

Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih petunjuk Ilahi. Amin…

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.)

========================================

1 Menolak sifat-sifat Allah I dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja. (ed)

2 Lanjutan riwayat tersebut: “Dan sungguh aku telah melihat Nabi n mengusap pungggung khufnya.” (ed)


sumber : http://asysyariah.com/kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah-sorotan-ilmiah-tentang-selubung-sesat-suatu-gerakan/

Barokallohufiikum !

LEBIH PENTING KHILAFAH ATAUKAH DAKWAH TAUHID ??

Tauhid Dulu, Atau Khilafah ?
Renungan Bagi Pendamba Khilafah .


Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.

Terkadang muncul celetukan di antara mereka, “Kalian ini ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”.

Atau yang lebih halus lagi berkata, “Agenda kita sekarang bukan lagi masalah TBC -takhayul, bid’ah dan churafat-, sekarang kita harus lebih perhatian terhadap agenda kemanusiaan.”

Atau yang lebih cerdik lagi berkata, “Kalau kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka, yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”. Allahul musta’aan…

Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?

Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepada mereka, bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)

Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, apabila kamu berbuat syirik maka benar-benar semua amalanmu akan terhapus, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65).

Lebih daripada itu, kemusyrikan -sebagai lawan dari tauhid- menjadi sebab seorang hamba terhalang  masuk surga untuk selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, seluruhnya adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama kali pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163).

Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka sepanjang hayat masih dikandung badan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.” (QS. al-Hijr: 99).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu). Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?

Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!

Seruan semacam ini sering kita dengar. Dan banyak sekali kalangan yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah ta’ala, yaitu jalan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).

Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!

Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan hak Allah ta’ala, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad raya. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang lainnya. Beliau  bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu). Namun, jangan disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama sekali tidak!

Jangan Bicara Masalah Bid’ah!

Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka, bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit. Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin, dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu  akan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan oleh agama.

Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha).

Sebagian ulama salaf juga berkata, “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih ada kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah, maka sulit diharapkan taubat darinya.” Selain itu, sebagaimana kita yakini pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak boleh serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.

Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan yang berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam khutbatul hajah di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap bahwa orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan mujahid!

Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan perjuangan serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus mereka tanggung di jalan dakwah ini.

Maka apabila kita telah mengetahui itu semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak menempuh jalan ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu maknanya dia telah berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena ‘pengkhianatannya’ itulah statusnya akan berubah dari seorang da’i ilallah -orang yang mengajak kepada Allah- menjadi da’i ila ghairillah -orang yang mengajak kepada selain Allah-! Nas’alullahas salamah

Jangan Merasa Paling Benar!

Sebagian orang ketika ditegur dan diingatkan untuk meninggalkan atau menjauhi perkara-perkara yang menyimpang dari agama -karena bertentangan dengan al-Qur’an ataupun as-Sunnah- dengan ringannya mengucapkan perkataan semacam itu. Entah penyimpangan itu terkait dengan aqidah, ibadah, ataupun masalah yang lainnya. Entah itu termasuk dalam kategori syirik, kekafiran, kebid’ahan ataupun kemaksiatan yang lainnya.

Belum lagi, jika orang tersebut memiliki sedikit ‘ilmu’ dan wawasan, maka dengan sigapnya dia akan ‘memperkosa’ dalil demi melanggengkan tindakannya yang keliru. Keras kepala, itulah sifat yang melekat dalam dirinya. Kalau dicermati lebih dalam, justru ternyata sikapnya yang tidak mau menerima nasehat dan teguran itu merupakan bentuk kesombongan dan ekspresi perasaan diri yang paling benar [!], Wal ‘iyadzu billah…

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. an-Nisaa’: 59).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu -Muhammad- sebagai hakim atas segala perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’: 65).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat, untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu).

Tauhid Sudah Ada di Dada-Dada Manusia!

Sebagian orang mengucapkan perkataan semacam ini, sehingga secara sadar ataupun tidak dia telah menjauhkan manusia dari dakwah tauhid. Berangkat dari asumsi yang salah itulah maka mereka tidak lagi memberikan porsi besar bagi dakwah tauhid. Mereka pun beralih ke kancah perpolitikan ala Yahudi dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang menyeret mereka dalam kehinaan.

Apabila dikaji sebabnya, maka hanya ada dua kesimpulan; mungkin karena ketidaktahuannya sehingga dengan mudahnya dia berkata demikian, atau karena dia mengetahui kebenaran namun sengaja berpaling darinya. Dan keduanya ini apabila menimpa seorang yang digelari sebagai da’i, ustadz ataupun murabbi merupakan realita yang sangat pahit sekali. Oleh sebab itu, kita perlu meluruskannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid bukan sekedar ucapan la ilaha illallah yang tidak diiringi dengan konsekuensinya. Orang-orang munafikin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan la ilaha illallah, akan tetapi mereka divonis akan menempati kerak neraka yang paling bawah. Hal itu tidak lain karena mereka tidak jujur dalam mengucapkannya.

Tauhid juga bukanlah sekedar keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan serta yang melimpahkan rezki, bukan itu saja! Sebab apabila memang itu tauhid yang dimaksud oleh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya beliau tidak perlu mengobarkan peperangan kepada kaum kuffar Quraisy yang telah mengimani perkara-perkara itu.

Jangan Runtuhkan Persatuan!

Apabila para da’i berbicara tentang tauhid dan membantah berbagai macam bentuk kemusyrikan yang ada serta menjelaskan sunnah dan membongkar berbagai macam bentuk bid’ah yang merajalela, maka bangkitlah sebagian orang dengan semangat bak pahlawan seraya berteriak,

“Mengapa kalian sibukkan umat dengan urusan semacam ini? Umat akan terpecah belah akibat dakwah kalian.”

Inilah komentar-komentar sinis yang mereka lontarkan. Padahal, kita telah mengetahui bersama bahwa persatuan kaum muslimin yang hakiki -yang dengannya mereka akan selamat di hadapan Rabbnya- adalah persatuan di atas tauhid dan sunnah, bukan persatuan di atas syirik dan bid’ah!

Orang-orang yang gemar menebar syirik dan bid’ah -dengan dipoles berbagai macam hiasan- maka mereka itulah sesungguhnya gerombolan pemecah belah dan pengacau persatuan!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka niscaya Kami akan biarkan dia terombang-ambing di atas kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidak akan bermanfaat harta dan keturunan, melainkan bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- orang-orang yang -dahulu ketika di dunia- saling berkasih sayang berubah menjadi saling memusuhi, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

Allah ta’ala juga berfirman mengenai seruan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, Dialah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia -saja-. Inilah jalan yang lurus.” (QS. az-Zukhruf: 64).

Allah ta’ala berfirman tentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain itu, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia perintahkan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-An’aam: 153)

Khilafah, Itu Solusinya!

Sebagian gerakan Islam yang telah kehilangan arah dan lalai dari misi dakwah para rasul sangat getol mendengung-dengungkan slogan ini. Menurut mereka, tanpa khilafah berarti tiada syari’ah. Tanpa khilafah, kaum muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah khilafah sebagai target perjuangan dan misi utama dakwah mereka. Tidak ada satupun problema di masyarakat atau negara melainkan  mereka sangkut-sangkutkan dengan khilafah dan politik kekuasaan.

Mereka menuding para da’i tauhid sebagai da’i kampungan yang tidak bisa bicara kecuali masalah-masalah sepele. Tidak bisa mengatasi masalah bangsa, tidak punya visi ke depan demi kejayaan umat, dan lain sebagainya.

Padahal, kita semua tahu bahwa bangunan umat ini tidak akan tegak dan kokoh kecuali di atas aqidah yang kuat dan murni. Seorang muslim dengan aqidah yang kokoh akan dengan sukarela menerapkan syari’ah dalam kehidupannya sekuat kemampuannya, meskipun misalnya ternyata khilafah belum mampu mereka wujudkan karena kondisi umat yang masih berlumuran dengan kotoran-kotoran keyakinan dan bid’ah yang sedemikian luas menjangkiti anak bangsa dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan melindas lembaran sejarah sedemikian lama.

Perubahan ini membutuhkan proses yang bertahap, tidak bisa terjadi secara tiba-tiba seperti membalikkan telapak tangan begitu saja.

Hal ini dapat kita saksikan dalam individu-individu kaum muslimin. Yang mana perubahan menjadi baik itu memerlukan proses dan tahap yang tidak sebentar. Nah, bagaimana lagi dengan sekelompok orang yang memiliki beragam problema, sebuah negara, apalagi kumpulan negara dengan jutaan masalah yang menghimpit warga negara mereka masing-masing?

Tentu merubahnya tidak cukup dengan teriakan dan slogan semata. Kembali kepada syari’ah tidak seratus persen bergantung pada khilafah. Betapa banyak syari’at yang bisa diterapkan oleh seorang individu umat ini, sebuah keluarga atau sekumpulan orang tanpa perlu menunggu tegaknya khilafah. Tidak ada yang salah dalam merindukan khilafah, akan tetapi tatkala khilafah menjadi tujuan dan cita-cita dakwah maka silahkan anda jawab sendiri pertanyaan ini; Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah menegakkan tauhid?

Dari situlah perlu kita camkan wahai saudaraku, bahwa tidak akan berhasil upaya apapun yang ditempuh oleh gerakan mana saja selama mereka lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti jejak para pendahulu mereka.

Imam Malik rahimahullah telah mengingatkan, “Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan hal itu gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan sebab Kitab ini -al-Qur’an- dan akan menghinakan sebagian kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Sungguh benar ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak berhasil mendapatkannya.” Betapa banyak orang yang mengira dirinya pejuang Islam, mujahid dakwah, da’i kebenaran, namun ternyata mereka salah jalan dan justru menjadi musuh Islam dari dalam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia akan tetapi mereka mengira bahwa mereka telah melakukan kebaikan yang sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)

Saudaraku, betapa banyak rumah yang roboh bukan karena tiupan angin kencang ataupun terpaan banjir bandang. Akan tetapi ia roboh karena pondasinya yang tidak kokoh, karena pilar-pilarnya yang begitu lemah, tidak kuat menopang dinding dan atap serta barang-barang berat yang ada di dalamnya, sehingga tatkala getaran kecil gempa menyapa maka luluh lantaklah seluruh sendi-sendinya dan runtuhlah rumah itu menimpa pemiliknya!

Maka demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengimpikan kekuasaan dan khilafah namun menyingkirkan agenda terbesar umat Islam yang sesungguhnya. Jadi, sepenting apakah tauhid itu? Kini anda telah bisa menjawabnya.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel http://www.muslim.or.id

sumber : http://muslim.or.id/manhaj/lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid.html

Barokallohufiik !

INILAH ISIS MENURUT ULAMA SALAFUSH SHALIH

Nasihat asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad Tentang ISIS dan Khilafah Khayalan Mereka

Oleh: asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr hafizhohullah

Beberapa tahun lalu, di Iraq lahir sebuah kelompok yang menamakan diri mereka دولة الإسلام بالعراق والشام (dalam versi bahasa Inggris: Islamic State of Iraq and Sham; ISIS), dan dikenal juga dengan singkatan [داعش] yang diambil dari huruf-huruf awal nama daulah khayalan tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian pengamat yang mengikuti perkembangan mereka, munculnya daulah khayalan ini diikuti dengan munculnya sejumlah nama: Abu Fulan al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, yaitu berupa kun-yah yang disertai penisbatan kepada suatu negeri atau kabilah. Inilah kebiasaan orang-orang majhul (orang yang tidak jelas) yang bersembunyi di balik kun-yah dan penisbatan.

Kemudian setelah beberapa waktu terjadinya peperangan di Suriah antara pemerintah dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah. Bukan untuk membantu memerangi pemerintah Suriah, namun malah memerangi Ahlus Sunnah yang berjuang melawan pemerintah Suriah dan membantai Ahlus Sunnah. Dan sudah masyhur bahwa cara mereka membunuhi orang-orang yang ingin mereka bunuh seenaknya yaitu dengan menggunakan golok-golok yang merupakan cara terburuk dan tersadis.

Di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka mengubah nama mereka menjadi الخلافة الإسلامية (al-Khilafah al-Islamiyah). Khalifahnya yang disebut dengan Abu Bakar al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid jami’ di Mosul. Diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Aku dijadikan pemimpin bagi kalian padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kalian”. Sungguh ia telah berkata benar, bahwa ia bukanlah orang yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuhi orang seenaknya dengan golok-golok. Apabila pembunuhan tersebut atas perintahnya, atau ia mengetahuinya atau ia menyetujuinya, maka justru ia adalah orang yang terburuk di antara mereka. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barangsiapa mengajak kepada jalan petunjuk, maka ia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi pahala orang yang mengkutinya itu sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak keada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa semisal dosa orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi dosa orang yang mengkutinya itu sedikitpun”. [HR. Muslim: 6804].

Kalimat yang ia katakan tersebut dalam khutbahnya, sebenarnya adalah kalimat yang telah dikatakan oleh khalifah pertama umat Islam setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu anhu wa ardlah. Namun beliau adalah orang yang terbaik dari umat ini, dan umat ini adalah umat yang terbaik dari umat-umat yang ada. Beliau berkata demikian dalam rangka tawadlu’ (rendah hati) padahal beliau sendiri tahu dan para sahabat juga tahu bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil berupa ucapan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai hal tersebut. Maka sebaiknya firqah ini (ISIS) sadar diri dan kembali kepada jalan petunjuk sebelum daulah mereka hilang dihembus angin sebagaimana daulah-daulah yang telah ada semisalnya di berbagai zaman.

Dan suatu hal yang disayangkan, fitnah (musibah) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima dan disambut oleh sebagian pemuda di negeri al-Haramain. Mereka bahagia dan senang terhadap khilafah khayalan ini sebagaimana senangnya orang yang haus ketika mendapatkan minuman. Dan diantara mereka juga ada yang mengaku telah berbai’at kepada khalifah majhul tersebut! Bagaimana mungkin bisa diharapkan kebaikan dari orang-orang yang memiliki pemahaman takfir (serampangan memvonis kafir) dan taqtil (serampangan membunuh orang) dengan cara membunuh yang paling kejam dan sadis?

Maka yang menjadi kewajiban atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri mereka dari pengaruh para provokator, dan hendaklah mereka ruju’ kepada apa yang datang dari Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rosul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dalam setiap tindak-tanduk mereka. Karena pada keduanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaknya mereka juga ruju’ kepada para ulama yang senantiasa menasihati mereka dan kaum muslimin. Diantara contoh keselamatan dari kesesatan karena ruju’ kepada para ulama adalah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya (191) dari Yazid al-Faqir, ia berkata,

كنتُ قد شَغَفَنِي رأيٌ من رأي الخوارج، فخرجنا في عِصابةٍ ذوي عدد نريد أن نحجَّ، ثمَّ نخرجَ على الناس، قال: فمررنا على المدينة فإذا جابر بن عبد الله يُحدِّث القومَ ـ جالسٌ إلى ساريةٍ ـ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: فإذا هو قد ذكر الجهنَّميِّين، قال: فقلتُ له: يا صاحبَ رسول الله! ما هذا الذي تُحدِّثون؟ والله يقول: {إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ}، و {كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}، فما هذا الذي تقولون؟ قال: فقال: أتقرأُ القرآنَ؟ قلتُ: نعم! قال: فهل سمعت بمقام محمد عليه السلام، يعني الذي يبعثه فيه؟ قلتُ: نعم! قال: فإنَّه مقام محمد صلى الله عليه وسلم المحمود الذي يُخرج اللهُ به مَن يُخرج. قال: ثمَّ نعتَ وضعَ الصِّراط ومرَّ الناس عليه، قال: وأخاف أن لا أكون أحفظ ذاك. قال: غير أنَّه قد زعم أنَّ قوماً يَخرجون من النار بعد أن يكونوا فيها، قال: يعني فيخرجون كأنَّهم عيدان السماسم، قال: فيدخلون نهراً من أنهار الجنَّة فيغتسلون فيه، فيخرجون كأنَّهم القراطيس. فرجعنا، قلنا: وَيْحَكم! أَتَروْنَ الشيخَ يَكذِبُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم؟! فرجعنا، فلا ـ والله! ـ ما خرج منَّا غيرُ رَجل واحد، أو كما قال أبو نعيم

“Dulu aku pernah terpengaruh dan begitu menyukai suatu pemikiran dari pemikiran Khawarij, lalu kami keluar bersama sekelompok orang banyak untuk berhaji. Kami pun keluar bersama orang-orang. Kemudian tatkala kami melewati Madinah, kami mendapati Jabir bin Abdillah tengah duduk di tengah para musafir untuk mengajarkan hadits Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menyebutkan tentang al-Jahannamiyun (orang-orang yang dikeluarkan dari neraka). Aku pun berkata kepada Jabir bin Abdillah, ‘Wahai shahabat Rosulullah, apa yang sedang kau katakan ini? Bukankah Allah berfirman (yang artinya): Wahai Rabb kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia”, (QS. Ali Imran: 192). Allah juga berfirman (yang artinya): “Setiap kali mereka (para penghuni neraka) hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya”. (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa yang kalian katakan ini?”. Maka Jabir bin Abdillah pun berkata, “Apakah kau membaca Alquran?”. Aku menjawab, “Ya”. Jabir berkata, “Lantas apakah kau mendengar tentang kedudukan Muhammad alaihis salam? Yakni kedudukan yang beliau diutus kepadanya?”. Aku menjawab, “Ya”. Jabir “Maka sesungguhnya itulah kedudukan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang terpuji, yang dengan sebabnya-lah Allah mengeluarkan orang yang dikeluarkan dari neraka”. Kemudian Jabir menjelaskan tentang letak shirath dan bagaimana manusia melintasinya. Aku khawatir tidak menghafalnya semua penjelasannya. Hanya saja Jabir mengatakan bahwa ada orang-orang yang dikeluarkan dari neraka setelah mereka berada di dalamnya, dia mengatakan, “Lalu mereka dikeluarkan (dari neraka) seakan-akan mereka itu potongan kayu dan biji-bijian kering yang telah dijemur, lalu mereka dimasukkan ke sebuah sungai dari sungai-sungai surga dan mereka mereka dicuci di situ, lalu dikeluarkan lagi seakan-akan mereka itu kertas yang putih”. Lalu kami pun ruju’, kami mengatakan kepada sesama kami, “Celakalah kalian! Apakah kalian pikir Syaikh (yaitu Jabir bin ‘Abdillah) telah berdusta atas nama Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam?”. Dan kami pun ruju’, dan demi Allah, tidaklah ada yang keluar dari kelompok kami kecuali seorang lelaki saja. Atau kira-kira demikian yang dikatakan oleh Abu Nu’aim”. [HR. Muslim].

Abu Nu’aim di sini adalah al-Fadl-l bin Dukain, ia adalah salah seorang perawi hadits ini. Hadits ini menunjukkan bahwa kelompok yang disebutkan di dalamnya telah mengagumi pemikiran Khawarij, yaitu mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini mereka kekal di neraka. Namun dengan bertemunya mereka dengan Jabir radliyallahu anhu dan dengan penjelasan beliau, akhirnya mereka kemudian mengikuti bimbingan Jabir kepada mereka lalu meninggalkan kebatilan yang mereka pahami. Mereka juga tidak jadi melancarkan pemberontakan yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah haji. Inilah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang Muslim jika ia ruju’ kepada ulama.

Bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat ahlussunnah wal jama’ah juga ditunjukkan oleh sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut ini, dari hadits Hudzaifah radliyallahu anhu,

إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah orang yang membaca Alqur’an, yaitu ketika telah terlihat cahaya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, ia pun berlepas diri dari Alqur’an dan membuangnya di belakang punggungnya. Lalu ia berusaha memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah syirik. Aku (Hudzaifah) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, (dalam keadaan ini) siapakah yang berbuat syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh?’. Beliau bersabda, ‘Yang menuduh’”. [HR. al-Bukhoriy dalam at-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan al-Bazzar, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karya al-Albaniy: 3201].

Masih belianya usia, merupakan sumber buruknya pemahaman. Ini ditunjukkan oleh hadits yang di riwayatkan oleh al-Bukhoriy dalam Shahih-nya (4495) dengan sanadnya dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya bahwa ia berkata,

قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا} ، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله  {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

“Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan aku ketika itu masih berumur muda, Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke Ka’bah atau Umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf pada keduanya”. Maka aku berpendapat bahwa tidak mengapa seseorang tidak melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah?. Aisyah berkata, ‘Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshar, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid. Dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah. Ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke Ka’bah atau Umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf pada keduanya”. [HR. al-Bukhoriy].

‘Urwah bin az-Zubair termasuk orang yang utama dari kalangan tabi’in, salah seorang dari 7 fuqoha Madinah di masa tabi’in. Beliau telah menyiapkan ‘udzur-nya pada kesalahan pemahaman beliau, yaitu usia beliau yang masih muda ketika bertanya pada Aisyah. Maka jelaslah dari sini bahwa belianya usia meupakan sumber buruknya pemahaman dan bahwa kembali kepada ulama adalah sumber kebaikan dan keselamatan. Dalam Shahih al-Bukhoriy (7152) dari Jundab bin Abdillah, ia berkata,

إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل

“Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali dari yang baik hendaknya ia lakukan. Barangsiapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan setangkup darah yang ia tumpahkan, hendaknya ia lakukan”. [HR. al-Bukhoriy].

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fat-h al-Bariy (13/130), “Diriwayatkan juga secara marfu’ oleh ath-Thabraniy dari jalan Ismail bin Muslim, dari al-Hasan, dari Jundab dengan lafadz, ‘kalian tahu bahwa aku pernah mendengar Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه

“Janganlah terhalangi sampai salah seorang dari kalian dengan surga karena setangkup darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga”.

Hadits ini walaupun tidak secara tegas marfu’ kepada Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam namun dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat. Sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa hak”. [selesai perkataan Ibnu Hajar].

Sebagian hadits-hadits dan atsar-atsar ini telah aku sebutkan dalam tulisanku berjudul Biayyi ‘Aqlin wa Diinin Yakuunut Tafjiir wat Tadmiir Jihaadan. Di dalamnya juga terdapat banyak hadits dan atsar yang menjelaskan haramnya bunuh diri dan haramnya membunuh orang lain tanpa hak. Tulisan ini telah dicetak secara tersendiri pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama tulisan lain yang berjudul Badzalun Nush-hi wat Tadzkiir li Baqaayal Maftuuniin bit Takfiir wat Tafjiir yang termasuk dalam Majmu’ Kutub war Rosail milikku (6/225/276).

Dan kepada para pemuda yang sudah ikut-ikutan mendukung ISIS ini, hendaklah mereka ruju‘ dan kembali kepada jalan yang benar. Dan jangan terfikir sama sekali untuk bergabung bersama mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan ini lewat bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan golok-golok yang sudah jadi ciri khas kelompok ini. Dan (kepada para pemuda Saudi) hendaknya mereka tetap mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya. Demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek juga mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Sungguh negeri ini adalah negeri yang terbaik di dunia ini, dengan segala kekurangannya. Dan diantara sebab kekurangan tersebut fitnah (musibah) para pengikut budaya Barat di negeri ini yang terengah-engah dalam taqlid terhadap negeri Barat dalam perkara yang mengandung mudlarat.

Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar Ia senantiasa memperbaiki kondisi kaum muslimin di manapun berada. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada para pemuda kaum Muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, semoga Allah menjaga negeri al-Haramain baik pemerintah maupun masyarakatnya dari setiap kejelekan, semoga Allah memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang fajir. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Sumber: http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28

Penerjemah:
tim penerjemah Muslim.Or.Id

Artikel Muslim.Or.Id

Barokallohufiikum !

SAUDARAKU, INILAH SEBAGIAN FATWA ULAMA SALAF TENTANG ISIS

Asy-Syaikh Ali Hasan al-Halaby al-Atsary ketika ditanyakan kepada beliau bagaimana pendapat antum mengenai ISIS/Daish, maka murid dari asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah ini menjawabnya dalam sebuah tulisan yang berjudul “Daisy Khowarij Biladisy Syam Fi Dlouil Kitab Wa Sunnah”. Berikut ini kami rangkumkan sebagian jawaban beliau mengenai ISIS:

1.Banyak dari personil dan amir ISIS yang secara konsisten melancarkan tuduhan kepada mujahidin dari bumi Syam (Suriah) bahwa mereka sesat dan menjadi antek-antek dan kaki tangan orang kafir, dan siapa pun yang menuduh mereka maka tidak ada kebaikan padanya, karena Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) berkata mengenai mereka sebagaimana yang diriwayatkan at-Tirmidziy dan Ahmad, “Jika telah rusak penduduk Syam maka tidak ada kebaikan pada kalian”.

2.Banyak dari amir ISIS yang mengobral janji kepada penduduk Syam bahwa mereka datang untuk menolong penduduk Syam, namun realita di lapangan menunjukkan bahwa mereka datang untuk memerangi tanah Syam dan justru mengganggap kafir penduduk Syam, dan menguras kekayaan alam mereka yang ada di ladang-ladang minyak, gudang-gudang gandum, dan di kota-kota yang mereka kuasai, sudah sepatutnya sabda Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) dalam al-Bukhoriy dan Muslim disematkan pada mereka yaitu, “Barangsiapa hijrahnya dengan tujuan dunia yang ingin dia raih, atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya tersebut sesuai dengan apa yang dia inginkan”. Namun karunia hanya milik Allah kemudian berkat perjuangan Free Syrian Army melawan ISIS dan amir-amirnya, yang mengorbankan darah mereka untuk penduduk Syam.

3.Khawarij tidaklah terikat secara khusus dengan waktu dan individu, namun mereka adalah kelompok sesat yang memiliki karakteristik tertentu, dan semua yang memiliki sifat/karakter atau sebagian sifat Khawarij maka termasuk dari mereka, oleh karena itu mereka muncul di hadapan umat Islam pada setiap zaman sampai pada akhirnya mereka nanti akan menyertai Dajjal. Di dalam Sunan Ibnu Majah, Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) bersabda, “Akan muncul sekelompok kaum yang membaca Alqur’an namun bacaannya tidak sampai pada kerongkongan mereka, setiap satu abad akan mereka muncul dan terputus/menghilang (lebih dari dua puluh kali Nabi mengulangi kalimat tersebut), sampai yang terakhir muncul akan berada di barisan pasukan besar Dajjal”.

            Khawarij memiliki beberapa sifat sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits syarif, sebagian besar sifat tersebut ada pada amir dan personil ISIS, dan hal itu bukanlah tindakan satu dua oknum sebagaimana yang mereka anggap, karena tindakan dan sifat itu terjadi berulang-ulang dan sangat massif yang menunjukkan ini adalah strategi politik ISIS, yang pelaksanaannya dengan sepengetahuan amir-amir senior mereka, sifat-sifat tersebut adalah:

1.Khawarij akan muncul di akhir zaman, dan mayoritas kemunculan mereka terjadi di arah timur (Irak), sebagaimana hal ini terjadi pada amir-amir senior ISIS (Abu Bakar al- Baghdadiy dan Abu Bakar al-Iraqiy), Rosulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) bersabda sebagaimana disebutkan dalam al-Bukhoriy dan Muslim, “Akan keluar satu kaum di akhir zaman, (mereka) adalah orang-orang yang masih muda, akal mereka bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baiknya perkataan manusia, keimanan mereka tidak melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya, di mana saja kalian menjumpai mereka, maka (perangilah) bunuhlah, karena sesungguhnya dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi siapa saja yang membunuh mereka”. Dan di dalam musnad Ahmad dan Shahih Ibnu Hibban Rosulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) bersabda, “Akan keluar dari arah timur sebuah kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya”.

2.Mayoritas anggota dan amir ISIS berusia muda, dan berambisi untuk merekrut anak-anak muda agar dicuci otaknya dan dijejali dengan pemikiran-pemikiran yang mereka inginkan, karena manhaj atau metodologi mereka yang takfiri tidak akan diterima oleh orang yang berpemikiran matang, dan mereka sendiri pendek akalnya alias dungu yang tidak memikirkan akibat dari tindakannya, karena itu amir-amir senior mereka memperbudak mereka dengan slogan “kami mendengar dan taat kepada amir”. Di dalam al-Bukhoriy dan Muslim, Rosulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) bersabda, “‘Akan keluar satu kaum di akhir zaman, (mereka) adalah orang-orang yang masih muda, akal mereka bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baiknya perkataan manusia, keimanan mereka tidak melewati kerongkongan”.

3.Sombong, merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, jika ada yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka ambil, dan jika bertentangan akan mereka tolak dan mereka ta’wilkan; hal ini tampak pada waktu diskusi mereka dengan Ali bin Abi Thalib (radliyallahu anhu), ketika Ali mengalahkan argumentasi mereka dengan firman Allah (tidak ada hukum selain hukum Allah), mereka tidak menerimanya dan memerangi Ali hingga akhirnya Ali terbunuh, Ali berkata sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, ‘Kalimat yang haq/benar namun digunakan untuk tujuan yang bathil, sesungguhnya Rosulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) telah mensifati sekelompok manusia, dan sungguh aku mengetahui sifat itu ada pada mereka, “mereka mengatakan kalimat yang haq dengan lisan-lisan mereka namun tidak melewati ininya mereka –Ali memberikan isyarat menunjuk tenggorokannya- mereka adalah termasuk dari makhluk yang paling dibenci Allah”.

(Diterjemahkan dari tulisan asy-Syaikh Ali Hasan al-Halabi yang berjudul “Daisy Khowarij Biladisy Syam”/iz)

…………………………………

Sumber;

http://koepas.org/index.php/fatwaulama/1053-isis-di-mata-syaikh-ali-al-halaby-1

http://koepas.org/index.php/fatwaulama/1058-isis-di-mata-syaikh-ali-al-halaby-2

Barokallohufiikum !

BEDAKANLAH CIRI AHLUSSUNNAH, CIRI ISIS KHAWARIJ DAN CIRI KAUM SYIAH

Pada Tulisan Artikel Ini , Kita Dapat Mengetahui Ciri Ciri Mereka Dari Pada Kaum Antara Ahlus-Sunnah, Isis Khawarij Dan Kaum Syiah Laknatulloh, Semoga Pula Pada Artikel Ini Dapat Di Fahami Sebagai Suatu Pengetahuan Agar Bagi Saudara Dan Saudariku Semuawanya Tidak Bingung Untuk Menilai Mana Yang Benar Dan Mana Yang Salah…, Serta Semoga Allah Memberi Petunjuk Serta Hidayahnya Kepada Kita Semuanya Pula… In Shaa Allah, Aamiin 😀

………………………………………………………………………

↗  CIRI AHLUSSUNNAH,

selengkapnya di :

http://varyd.wordpress.com/salaf-salafy-dan-salafiyah/

Ahlus Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka… 😀

  1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda (yang artinya):“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
  2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah (yang artinya): “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59). “Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.“(QS. Al Ahzab: 36)

  3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

  4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka (yang artinya): “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

  5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

  6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

  7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

  8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

  9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda (yang artinya): “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

  1. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah (yang artinya):“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman (yang artinya): “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

DI KUTIP DARI ARTIKEL :

http://varyd.wordpress.com/

Sumber : http://www.asysyariah.com

================================

↗ CIRI ISIS KHAWARIJ

Ciri isis (Khawarij) ini yaitu sangat suka Mengkafirkan Pemerintah Muslim, jauh Beda dengan Salafi atau ahlus-sunnah ….
😀

Perhatikan penjelasan di bawah  ini :

Telah dimaklumi bahwa kelompok-kelompok Khawarij termasuk ISIS dan yang lainnya, mengkafirkan para penguasa muslim dan menjuluki mereka dengan thagut, bahkan ISIS berencana merebut Al-Haramain dari penguasa thagut Arab Saudi, menurut mereka.

Namun anehnya, ada sekelompok orang Syi’ah dan para simpatisan mereka yang menuduh bahwa Salafi sama dengan ISIS. Tulisan ringkas ini insya Allah akan membedah akar pengkafiran Khawarij terhadap para penguasa, yang sangat berbeda dengan aqidah Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Makna Kekafiran dan Pembagiannya

Kekafiran (الكفر) secara bahasa maknanya adalah (الستر) dan (التغطية), yang berarti menutup. Sedangkan menurut syari’at, kekafiran adalah lawan dari keimanan (ضد الإيمان). Dan terbagi dalam lima jenis, yaitu:

1) Mendustakan (كفرالتكذيب)

2) Menentang (كفر الإباء والاستكبار)

3) Ragu (كفر الشك)

4) Berpaling (كفر الإعراض)

5) Kemunafikan (كفر النفاق)

[Lihat Madarijus Salikin, karya Al-Imam Ibnul Qoyyim, 1/335-338]

Adapun tingkatan kekafiran terbagi dua:

1) Kekafiran besar (الكفر الأكبر), yang menyebabkan murtad (keluar dari Islam dan menjadi kafir)

2) Kekafiran kecil (الكفر الأصغر), yang tidak menyebabkan murtad.

[Lihat Majmu’ At-Tauhid, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 6, sebagaimana dalam Aqidatul Muslim, karya Asy-Syaikh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qohthoni, 1-2/621-626]

Tidak Berhukum dengan Hukum Islam, Apakah Termasuk Kekafiran Besar ataukah Kekafiran Kecil?

Pendapat pertama: Termasuk kekafiran besar yang menyebabkan murtad, ini pendapat ahlul bid’ah dari kalangan Khawarij dan selain mereka yang beragama atas dasar semangat belaka, bukan dengan ilmu.

Pendapat kedua: Termasuk kekafiran kecil yang tidak menyebabkan murtad, kecuali jika pelakunya melakukan salah satu dari tiga hal:

1) Menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam

2) Menganggap ada hukum yang sama baiknya dengan hukum Islam

3) Menganggap ada hukum yang lebih baik dari hukum Islam.

Apabila seorang penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Islam melakukan satu dari tiga hal tersebut barulah dia dihukumi telah melakukan kekafiran besar yang dapat menyebabkan dia murtad, kafir dan keluar dari Islam. Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu pendapat para sahabat, imam mazhab yang empat dan seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sampai hari kiamat [lihat Al-Qoulul Mufid, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 2/159-160]

Adapun akar kesesatan Khawarij dalam memahami permasalahan ini dikarenakan penyimpangan mereka dalam metode memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana ciri ahlul bid’ah lainnya, yaitu tidak mau mengikuti pemahaman As-Salafus Shalih terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga mereka salah memahami firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al-Maidah: 44]

Kaum Khawarij memahami ayat ini bahwa kekafiran yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah kekafiran besar, sehingga siapa saja pelakunya walaupun dia seorang muslim telah menjadi kafir atau murtad dari Islam.

As-Sam’ani rahimahullah berkata,

واعلم أن الخوارج يستدلون بهذه الآية ، ويقولون : من لم يحكم بما أنزل الله فهو كافر ، وأهل السنة قالوا : لا يكفر بترك الحكم

“Ketahuilah, sesungguhnya Khawarij berdalil dengan ayat ini (dalam pengkafiran). Mereka berkata: Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir. Adapun Ahlus Sunnah berkata: Tidak kafir dengan sekedar tidak berhukum (dengan hukum Allah).”

Atas dasar kesesatan ini, kaum Teroris Khawarij tidak segan-segan membunuh kaum muslimin, tidak peduli yang berada di tempat maksiat ataupun yang sedang beribadah di masjid, karena bagi mereka pemerintah dan seluruh aparat telah kafir karena, “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar” (seperti kata seorang tokoh Khawarij di negeri ini).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan akan kemunculan Khawarij dan sifat-sifat mereka,

قَوْمٌ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Mereka adalah satu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak malampaui kerongkongan mereka (tidak memahami Al-Qur’an dengan baik), mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus buruannya, mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin. Andaikan aku bertemu mereka, maka akan kubunuh mereka seperti pembunuhan kepada kaum ‘Aad.”

Apa yang disampaikan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits ini benar-benar sesuai kenyataan yang ada pada kelompok Teroris Khawarij. Mereka tidak memperhatikan dakwah tauhid dan pemberantasan kesyirikan, sehingga mereka membiarkan para penyembah kubur yang ada di sekitar mereka. Seakan bagi mereka kesyirikan saat ini hanyalah kesyirikan di parlemen, sedangkan kekafiran hanyalah, “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar”.

Demikian pula yang terjadi pada kelompok ISIS, mereka membunuh kaum muslimin di Suriah dan membiarkan bahkan membantu pemerintah Syi’ah Suriah dan Iran yang memiliki aqidah kesyirikan dan kekufuran.

Hadits ini juga menunjukkan bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi Teroris Khawarij menurut tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu memerangi mereka, demikian pula menasihati mereka sebelum diperangi.

Maka inilah keyakinan Khawarij terhadap para penguasa muslim hari ini, mereka mengkafirkan para penguasa karena tidak berhukum dengan syari’at Islam secara menyeluruh dengan dalil firman Allah ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 44.

Bagaimana dengan keyakinan Salafi?

Salafi, sesuai artinya yaitu pengikut Salaf, pengikut generasi terbaik umat ini, yakni Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat, memahami ayat tersebut sebagaimana yang dipahami para sahabat dan tabi’in.

Para ulama Salafi menjelaskan bahwa sebab turunnya ayat ini (Surat Al-Maidah: 44) berkaitan dengan orang-orang yang memang kafir dari kalangan Yahudi dan kaum musyrikin, sehingga untuk menerapkan ayat ini kepada kaum muslimin tidak sama dengan orang-orang kafir.

As-Sam’ani rahimahullah berkata,

قال البراء بن عازب -وهو قول الحسن-: الآية في المشركين. قال ابن عباس: الآية في المسلمين، وأراد به كفر دون كفر

“Al-Barro bin ‘Azib berkata –dan ini juga merupakan pendapat Al-Hasan-: Ayat ini tentang kaum musyrikin. Ibnu Abbas berkata: Ayat ini tentang kaum muslimin juga, namun yang dimaksudkan dengan kekufuran adalah kekufuran kecil.”

Ulama besar Salafi, ahli hadits abad ini, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

“Maka tidak boleh membawa ayat ini atas sebagian penguasa muslim dan para hakimnya yang berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala dengan berbagai bentuk undang-undang buatan manusia. Aku katakan, tidak boleh mengkafirkan dan mengeluarkan mereka dari agama dengan sebab perbuatan itu, apabila mereka masih beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Meskipun mereka telah berbuat jahat karena berhukum bukan dengan hukum Allah Ta’ala tetap saja tidak boleh mengkafirkan mereka. Karena walaupun mereka sama dengan Yahudi dalam permasalahan ini, namun mereka berbeda dengan Yahudi dalam permasalahan yang lain, yaitu iman dan pembenaran mereka terhadap ajaran yang Allah Ta’ala turunkan, berbeda dengan orang Yahudi yang menentangnya.”

Berikut penjelasan ulama Salaf terhadap makna surat Al-Maidah ayat 44:

1) Sahabat yang mulia, Turjumanul Qur’an, Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

“Bukan kekafiran (besar) sebagaimana pendapat mereka, sesungguhnya itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama, tapi kekafiran kecil (kufrun duna kufrin).” [Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/313), beliau menyatakan shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

2) Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma juga berkata,

“Barangsiapa yang mengingkari hukum Allah maka dia kafir, adapun yang masih mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka dia zalim lagi fasik.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12063), dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

3) Tabi’in yang mulia ‘Atho bin Abi Rabah rahimahullah berkata,

“Maksudnya adalah kekafiran di bawah kekafiran (yakni kekafiran kecil), kefasikan di bawah kefasikan dan kezaliman di bawah kezaliman.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12047-12051), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

4) Tabi’in yang mulia Thawus bin Kaysan rahimahullah berkata,

“Bukan kekafiran (besar) yang mengeluarkan dari agama.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12052), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

5) Tabi’ut Tabi’in yang mulia, Abdullah bin Thawus rahimahumallah berkata,

“Tidaklah seperti orang yang kafir kepada Allah Ta’ala, Malaikat-Nya, Kitab-Nya dan Rasul-Nya.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12055), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 256]

Inilah sesungguhnya manhaj generasi terbaik yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dalam beragama, siapa yang menyimpang dari pemahaman ini maka dia telah keluar dari jalan satu golongan yang selamat dan masuk kepada 72 golongan yang sesat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إن أمتي ستفترق على اثنتين وسبعين كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة

“Sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Zhilalul Jannah: 64]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

و تفترق أمتي على ثلاث و سبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ما أنا عليه و أصحابي

“Dan akan berpecah ummatku menjadi 73 millah, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shohihul Jami’: 9474 dan Al-Misykah: 171 pada tahqiq kedua]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

فأخبر النبي أن الفرقة الناجية هي التي تكون على ما كان عليه هو وأصحابه فمتبعهم إذا يكون من الفرقة الناجية لأنه على ما هم عليه ومخالفهم من الاثنتين والسبعين التي في النار

“Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang selamat (al-firqotun najiyah) adalah yang mengikuti beliau dan sahabat-sahabatnya. Jadi, orang yang mengikuti mereka menjadi bagian dari al-firqotun najiyah karena dia berada di atas jalan mereka, sedangkan yang menyelisihi maka dia termasuk ke dalam 72 golongan yang di neraka.”

Inilah akar penyimpangan Khawarij (dan seluruh kelompok sesat), yaitu karena mereka berusaha memahami Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri, tidak mengikuti pemahaman sahabat, oleh karena itu sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika berdialog dengan Khawarij, pertama kali yang beliau ingatkan kepada mereka adalah,

أتيتكم من عند أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم المهاجرين والأنصار ومن عند بن عم النبي صلى الله عليه و سلم وصهره وعليهم نزل القرآن فهم أعلم بتأويله منكم وليس فيكم منهم أحد

“Aku adalah utusan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, Muhajirin, Anshor, dan sepupu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan juga menantu beliau (yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Khalifah ketika itu), aku datang kepada kalian untuk menyampaikan pendapat mereka, karena kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, maka mereka lebih mengetahui akan tafsirnya daripada kalian, sedang tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang bersama kalian.”

Da menurut logika yang sehat, pemahaman Teroris Khawarij dalam mengkafirkan setiap orang yang “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar” atau “Tidak berhukum dengan hukum Islam secara menyeluruh” akan berkonsekuensi mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang ada di muka bumi ini, sebab siapa yang mampu menjalankan syari’ah Islam dengan benar sepanjang hidupnya?! Apakah ada manusia yang tidak pernah berbuat salah?!

Dan yang paling minimal, konsekuensi dari pemahaman rusak Terosis Khawarij ini adalah pengkafiran seluruh pelaku dosa besar yang sudah jelas-jelas merupakan manhajnya Khawarij generasi awal. Sebab yang namanya syari’ah Islam secara hakiki adalah seluruh aturan-aturan kehidupan dalam Islam, tidak sebatas hukum-hukum dalam pemerintahan. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti membunuh, mencuri, zina dan lain-lain, adalah pelanggaran syari’ah Islam yang pelakunya kafir kepada Allah Ta’ala (menurut pemahaman rusak ini, tanpa membedakan orang yang menghalalkan perbuatan haram tersebut setelah mengetahui keharamannya dan orang yang melakukannya namun masih meyakini hal itu tetap haram). Wal’iyaadzu billahi minal jahli wadh-dholaal.

Syubhat dan Bantahannya

Diantara syubhat terbesar Teroris Khawarij yang telah menguasai jiwa dan pikiran mereka adalah tuduhan mereka bahwa penguasa yang ada sudah benar-benar menghalalkan hukum peninggalan Belanda dan hukum yang bertentangan dengan syari’at, atau menganggapnya sama baiknya dengan hukum Islam, atau bahkan lebih baik dari hukum Islam, dengan bukti perbuatan penguasa dalam menetapkan undang-undang yang tidak berdasar syari’at Islam.

Jawaban atas syubhat ini:

Pertama: Penghalalan (الاستحلال) yang dimaksudkan para ulama bukanlah sekedar penghalalan dengan perbuatan tetapi dengan hati (yakni meyakini apa yang diharamkan Allah Ta’ala itu halal setelah mengetahui keharamannya dalam syari’at Islam), oleh karena itu sebagian ulama mengistilahkan kekafiran berhukum dengan selain hukum Islam ini dengan ‘kekafiran dalam perbuatan’ (kufur ‘amali) yang tidak mengeluarkan dari Islam dan ‘kekafiran dalam keyakinan’ (kufur i’tiqodi) yang mengeluarkan dari Islam.

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Faqih Al-Albani rahimahullah berkata,

“Kunci dalam permasalahan ini adalah memahami bahwa kekafiran itu ada dua bentuk, keyakinan (اعتقادي) dan perbuatan (عملي). Keyakinan tempatnya di hati, sedangkan perbuatan tempatnya pada anggota tubuh. Maka barangsiapa yang perbuatannya adalah kekafiran yang menyelisihi syar’i dan bersesuaian dengan keyakinan yang ada dalam hatinya, itulah kufur i’tiqodi (kekafiran besar) yang tidak diampuni Allah Ta’ala dan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya. Adapun jika hatinya menyelisihi kekafiran itu maka dia beriman dengan hukum Rabbnya, apabila dia menyelisihi hukum tersebut dengan perbuatannya, maka kekafirannya adalah kufur ‘amali (kekafiran kecil) bukan i’tiqodi (kekafiran besar), dia di bawah kehendak Allah Ta’ala, mungkin diadzab dan mungkin diampuni (sebagaimana pelaku dosa besar).”

Lalu dari mana kalian tahu penguasa yang menyelisihi hukum Islam itu telah menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam atau menganggap sama baiknya dengan hukum Islam atau lebih baik dari hukum Islam dengan hatinya?! Apakah kalian telah membelah dadanya?!

Perhatian: Bantahan ini sekaligus menjawab tuduhan “murji’ah” terhadap Salafi yang dilontarkan oleh orang-orang Khawarij, alasan mereka karena Salafi tidak mengkafirkan pelaku kufur ‘amali, yaitu para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Islam, maka keterangan di atas telah membantah mereka bahwa kufur ‘amali yang dimaksudkan di sini adalah kufur asghar, yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam, bukan kufur akbar.

Jadi bukan bermakna setiap kufur ‘amali itu tidak dapat dikafirkan pelakunya, karena bisa jadi kufur ‘amali, kekufuran dalam perbuatan, bukan dalam keyakinan namun termasuk kufur akbar yang menyebabkan pelakunya murtad keluar dari Islam, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain-Nya dan lain-lain. Akan tetapi kufur ‘amali berupa tidak berhukum dengan syari’at Islam termasuk kufur asghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Kedua: Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan, bahwa penguasa tersebut telah melakukan kekafiran besar karena menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam atau menganggapnya sama baik dengan hukum Islam atau bahkan lebih baik dari Islam, maka apakah penguasa yang tadinya muslim tersebut serta merta menjadi kafir?! Apakah setiap pelaku kekafiran langsung bisa kita kafirkan?!

Inilah salah satu titik perbedaan yang mendasar antara manhaj Teroris Khawarij dan manhaj Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam pengkafiran. Karena semangat yang berlebihan tanpa didasari dengan ilmu sehingga Teroris Khawarij mengkafirkan setiap muslim yang melakukan kekafiran tanpa mengikuti kaidah-kaidah pengkafiran menurut Islam. Pembahasan berikut insya Allah Ta’ala akan menjelaskan beberapa kaidah penting yang harus dipahami dalam pengkafiran menurut ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Beberapa Kaidah dalam Pengkafiran

1) Menghukumi suatu perbuatan sebagai kekafiran atau pelakunya telah kafir adalah hukum syar’i.

Berbicara tentang kekafiran suatu perbuatan dan pengkafiran pelakunya sama halnya dengan pembicaraan suatu hukum dalam syari’at, haruslah berdasarkan ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sebab Allah Ta’ala telah mengharamkan pembicaraan dalam agama-Nya tanpa didasari ilmu, sebagaimana firman-Nya,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“(Allah mengharamkan) kalian berkata atas Allah apa yang tidak kalian ketahui.” [Al-A’rof: 33]

Asy-Syaikh Al-Mufassir AbdurRahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Makna firman Allah Ta’ala, “(Allah mengharamkan) kalian berkata atas Allah apa yang tidak kalian ketahui”, mencakup pembicaraan tentang nama-nama Allah Ta’ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan syari’at-Nya. Semua bentuk pembicaraan tanpa ilmu telah diharamkan oleh Allah Ta’ala. Dia melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan hal itu, karena dalam perbuatan tersebut terdapat kerusakan yang khusus maupun umum.”

Maka tidak diragukan lagi bahwa pembicaraan tentang kekafiran dan pengkafiran adalah masalah syari’at yang harus berdasarkan ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Kekafiran adalah hukum syar’i, hanya boleh ditetapkan dengan dalil-dalil syar’iyyah.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Oleh karena itu para ulama Sunnah tidak mengkafirkan (semua) yang menyelisihi mereka, meskipun orang yang menyelisihi itu mengkafirkan mereka, karena (menetapkan) kekafiran adalah hukum syar’i.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Tidak boleh bagi seseorang untuk mengkafirkan orang yang menyelisihinya, apabila perkataan orang yang menyelisihinya itu bukan termasuk kekafiran menurut syar’i yang berasal dari pemilik syari’ah (yaitu Allah Ta’ala). Walaupun akal bisa saja membedakan pendapat yang benar dan yang salah, namun tidak semua yang salah menurut akal merupakan kekafiran dalam syar’iah, sebagaimana tidak semua yang dianggap benar oleh akal harus dianggap baik dalam syar’iah.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Demikian pula, pengkafiran adalah hak Allah Ta’ala, maka tidak boleh mengkafirkan seseorang kecuali yang telah dikafirkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.“

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Kekafiran adalah hukum syar’i yang harus kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apa yang dianggap sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah kekafiran, jika tidak dianggap sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah bukanlah kekafiran. Sehingga tidak harus bahkan tidak boleh mengkafirkan seorang (muslim) sampai jelas dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah atas kekafirannya.”

Oleh karena itu, tidak setiap orang berhak bicara dalam masalah pengkafiran selain para ulama yang benar-benar mendalam ilmunya.

Asy-Syaikh Al-Faqih Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Menghukumi seseorang telah murtad atau keluar dari agama Islam adalah kewenangan para ulama yang mendalam ilmunya, mereka adalah para hakim di mahkamah syari’ah dan para ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Sebagaimana pula dalam permasalahan lainnya, berbicara dalam masalah seperti ini bukanlah hak setiap orang, bukan pula hak para penuntut ilmu atau yang menisbatkan diri kepada ilmu agama padahal pemahamannya tentang ilmu agama masih sangat terbatas. Bukanlah hak mereka untuk menghukumi seseorang telah murtad, karena perbuatan tersebut akan melahirkan kerusakan. Bisa jadi mereka memvonis seseorang telah murtad padahal dia tidak murtad. Sedang mengkafirkan seorang muslim yang tidak melakukan salah satu pembatal keislaman sangat berbahaya. Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, “wahai kafir” atau “wahai fasik”, padahal dia tidak seperti itu maka perkataan itu kembali kepada orang yang mengucapkannya. Oleh karena itu, yang berhak memvonis murtad hanyalah para hakim syar’i dan ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Adapun yang merealisasikan hukumannya adalah pemerintah kaum muslimin, selain itu hanya akan melahirkan kekacauan.”

2) Tidak setiap muslim yang melakukan kekafiran itu kafir.

Sangat penting dipahami bahwa tidak setiap muslim yang melakukan kekafiran serta merta menjadi kafir, sampai terpenuhi syarat-syarat pengkafiran (شروط التكفير) dan hilang penghalang-penghalangnya (موانع التكفير).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Tidak setiap orang yang bersalah (melakukan kekafiran) itu menjadi kafir, terlebih dalam permasalahan yang rumit, yang terdapat banyak khilaf padanya.”

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata,

“Tidak setiap mukmin yang melakukan kekafiran serta merta bisa dihukumi kafir.”

Maka wajib bagi setiap muslim berhati-hati dalam mengkafirkan saudaranya meskipun telah jelas baginya bahwa saudaranya tersebut telah melakukan suatu amalan kekafiran (insya Allah akan kami bahas secara lebih terperinci tentang syarat-syarat dan penghalang-penghalang dalam pengkafiran pada kesempatan yang lain).

3) Pengkafiran terhadap seorang muslim yang melakukan kekafiran terbagi dua bentuk, pengkafiran terhadap perbuatan (takfir muthlaq) dan pengkafiran terhadap pelakunya (takfir mu’ayyan).

Takfir muthlaq adalah mengkafirkan suatu perbuatan kekafiran apabila telah dinyatakan sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak disyaratkan apapun dalam takfir muthlaq selain adanya dalil yang shahih yang menyatakan suatu perbuatan sebagai kekafiran dan adanya istidlal yang benar.

Sedangkan takfir mu’ayyan adalah mengkafirkan pelaku kekafiran. Disyaratkan dalam takfir mu’ayyan ini sejumlah syarat-syarat yang harus terpenuhi dan hilang penghalang-penghalangnya, sebelum menjatuhkan vonis kafir kepada orang tertentu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Wajib membedakan antara takfir muthlaq danmu’ayyan.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Mazhab para imam dalam pengkafiran dibangun atas dasar perincian antara jenis kekafirannya (muthlaq) dan pelakunya (mu’ayyan).”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Takfir muthlaq tidak mengharuskan takfir mu’ayyan, karena bisa jadi sebagian ulama berbicara dalam satu masalah berdasarkan ijtihadnya lalu mereka tersalah dalam masalah tersebut, maka tidaklah para ulama tersebut dikafirkan, meskipun bisa saja orang yang melakukan kekafiran itu dikafirkan apabila telah tegak hujjah atasnya.”

Faidah: Kaidah ini juga merupakan bantahan kepada mereka yang menuduh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi kerjanya hanya membid’ah-bid’ahkan (tabdi’) dan mengkafir-kafirkan orang. Sebab kebanyakan orang yang menuduh tersebut tidak bisa membedakan yang mana tabdi’ atau takfir muthlaq dan yang mana mu’ayyan, sehingga mereka menyangka Salafi mudah menjatuhkan vonis mu’ayyan kepada pelaku bid’ah atau kekafiran, padahal yang divonis adalah perbuatannya ataupun kelompok bid’ahnya bukan person yang melakukannya atau yang tergabung dalam kelompok bid’ah tersebut.

Contoh vonis muthlaq, apabila kita mengatakan, “Demonstrasi kepada pemerintah kaum muslimin adalah bid’ah”, atau “Siapa yang melakukan demonstrasi kepada pemerintah kaum muslimin maka dia seorang Ikhwani (pengikut IM) Khariji (yang bermanhaj Khawarij)”.

Ucapan di atas jelas berbeda jika kita mengatakan, “Fulan adalah ahli bid’ah karena dia telah melakukan kebid’ahan” dan “Fulan adalah ahli bid’ah karena dia telah bergabung dengan kelompok bid’ah”. Dua contoh yang terakhir ini adalah vonis mu’ayyan kepada fulan (individu) tertentu yang tidak boleh dilakukan kecuali terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.

Bahaya Mengkafirkan Seorang Muslim

Wajib menahan diri dari mengkafirkan seorang muslim yang melakukan kekafiran sampai terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan hilang penghalang-penghalangnya, karena mengkafirkan seorang muslim yang tidak layak dikafirkan adalah perbuatan yang sangat berbahaya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka ucapan tersebut pasti kembali kepada salah seorang dari keduanya.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِك

“Tidaklah seorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan kekafiran, kecuali akan kembali kepada penuduhnya apabila orang yang dituduh tidak seperti itu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

وَمَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau mengatakan, “Wahai musuh Allah”, padahal tidak seperti itu, maka (ucapan tersebut) kembali kepadanya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Hadits ini adalah peringatan keras kepada setiap muslim, jangan sampai menuduh saudara muslimnya dengan kekafiran atau kefasikan.”

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata,

“Ini adalah ancaman besar bagi siapa yang mengkafirkan seorang muslim padahal ia tidak kafir.”

Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, menghukumi seorang muslim telah keluar dari Islam dan masuk kepada kekafiran tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir kecuali dengan bukti yang lebih jelas dari matahari siang”.

Beliau (Asy-Syaukani) rahimahullah menyebutkan hadits-hadits di atas dan berkata,

“Maka dalam hadits-hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisalnya terdapat peringatan yang paling agung dan nasihat yang paling besar agar berhati-hati dari sikap terburu-buru dalam mengkafirkan.”

SUMBER :
Website Sofyan Chalid bin Idham Ruray

SELENGKAP NYA DI :

http://www.sunnahcare.com/2014/11/salib-ala-isis.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/mutilasi-ala-isis-di-kota-raqqa-suriah.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/137-anak-anak-dibantai-isis.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/kompilasi-kejahatan-isis-terhadap.html?m=1

http://sofyanruray.info/tag/isis/

===============================

↗  CIRI SYIAH LAKNATULLOH

Anda harus mengetahuinya….. !!!

Ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:

  1. Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.
  • Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.

  • Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali. Anda bisa saksikan videonya di:

  • http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    1. Pengikut Syiah shalat bukan dengan tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah. Misalnya, orang syiah tidak bersedekap ketika shalat, tidak mengucapkan Aamiin, setelah akhir Surat Al-Fatihah, dan mereka mengutuk Abu bakar, Umar, dan aisyah ketika shalat.

    Klik link videonya di sini :

    http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    Di youtube banyak pula video-video yang menggambarkan bagaimana mereka melakukan shalat
    (jangan ditiru sholatnya) :

    Video Aneh Tarawih Syi’ah
    Lihat Pula Di Sini :

    http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    1. Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.
  • Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud, bila mereka shalat tidak didekat orang lain.

  • Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.

  • Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.

  • Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum. Dzikir mereka tidak lagi menyebut nama Allah, tapi menyebut nama Husain atau Fatimah atau ahlul bait lainnya.

  • Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat radhiyallahu anhum dan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah).

  • Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara satu kelompok kaum muslimin dengan kelompok lainnya, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan sunni. Ini tentu tidak benar.

  • Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.

  • 14.Orang Syiah tidak berpuasa pada hari Asyura tetapi mereka hanya menunjukkan kesedihan di hari tersebut.
    Bahkan ada di kalangan mreka yang menganggap haram puasa kerana seolah-olah bersyukur ke atas kesyahidan Sayyidina Husain.

    1. Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah.
  • Orang-orang Syi’ah juga getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

  • Syiah juga mengajarkan desakralisasi Al Qur’an. Dalam keyakinan syiah bahwa al Qur’an yang ada ini tidak asli yang asli adalah mushaf Fatimah. “Syiah ini seperti liberal, mereka mengatakan al Qur’an produk budaya, syiah mengatakan al Qur’an palsu.

  • Model dakwah yang di gunakan orang-orang syiah dalam menyebarkan syiahnya di bumi ahlus sunnah, sering mengangkat ukhuwah Islamiyah. Tidak ada perbedaan syiah dan sunni yang penting Islam.Memberikan image netral, namun dilain kesempatan mengkritik sunni, mengkritik ulama sunni.

  • Bila dikatakan kepadanya bahwa dirinya Syiah, maka dia akan menolak disebut syi’ah dan menyatakan diri bahwa dirinya seorang muslim,atu lebih suka disebut sebagai pengikut ahlul bait, kemudian mereka juga menghindari diskusi face to face.

  • Seorang syiah tidak boleh diberi nama atau dipanggil dengan nama Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah dan Aisyah.

  • Berkeyakinan Imam-imam 12 mereka adalah maksum (bebas dari dosa-doa kecil dan besar). Bahkan ada dikalangan ulama-ulama mereka mengatakan bahawa kedudukan imam-imam 12 adalah setara bahkan ada yang kata lebih tinggi dari kedudukan Para Nabi-Nabi dan Malaikat-Malaikat yang paling hampir dengan Allah.

  • Kain kafan mayat mereka bertulis.

  • Membaca talqin dengan menyebut imam-imam 12.

  • Meletakkan gambar-gambar imam-imam 12 mereka di dalam rumah. Biasanya mereka letak di dinding rumah mereka.

  • Suami halal meliwat isteri.

  • Mereka tidak ada sholat tarawih. Jika ada Orang syiah yang berteraweh itu bermakna mereka bertaqiah (pura-pura)

  • Mereka lebih banyak menyebut nama-nama imam-imam mereka dari menyebut kalimah Allah terutama ketika mereka ditimpa musibah.

  • Setiap kali menyambut hari peringatan seperti peringatan terbunuhnya Saidina Ali bin Abi Tolib dan peringatan terbunuhnya Husein bin Ali, pengikut syiah akan melakukan upacara-upacara yang menunjukkan kesedihan mereka terhadap musibah-musibah yang menimpa ahlul bait. Dalam merayakan ritual ini cara mereka berbeda-beda sesuai tempat asal mereka.

  • Dalam pembahasan kajian fikih yang diadakan selalu saja mengangkat pendapat Mazhab Ahlul Bait sebagai pengganti kata Syiah. Kalangan ini akan menyampaikan bahwa pendapat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad demikian. Adapun menurut pendapat Ahlul Bait demikian. Dan yang rajih adalah pendapat Ahlul Bait. Atau menggunakan kalimat yang semisalnya; madzhab keluarga Nabi, pendapat Amirul Mukminin Ali dan seterusnya.

  • Senantiasa mengangkat isu untuk mencintai Ahlul Bait versi Syiah yakni keluarga Nabi jalur Keturunan Ali bin Abi Thalib RA saja.

  • Mengatakan Sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan RA bukan sahabat Nabi saw, seorang munafiq dan berbagai celaan lainnya.

  • Menyampaikan bahwa dalam riwayat Imam Bukhari ada para perawi Syi’ah. Siapa yang menghujat atau menyesatkan Syi’ah berarti menghujat Bukhari.

  • Memberikan pernyataan bahwa Syiah itu tidak sesat, Syiah dan Sunni itu sama, tidak perlu untuk diperdebatkan.

  • Silahkan anda tambahkan ciri-ciri lainnya …… ???

  • Ciri-ciri mereka sangat banyak. Sekalipun dalam kondisi syiah minoritas, anda sulit untuk menjumpai ciri itu, karena mereka bertaqiyah. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

    Dengan hati yang terang, kaum muslimin Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan. Jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan al-Quran dan para sahabat radhiyallahu anhum, serta para ibunda kaum Muslimin (yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.

    Wallahu a’lam.

    ( BY : Abu Syamil Humaidy )

    DI KUTIP DARI ARTIKEL :

    http://www.sunnahcare.com

    Untuk Penjelasan Selanjut nya :
    Baca Di :

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/pertanyaan-untuk-syiah.html?m=1

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/peluang-emas-untuk-syiah-dan-aliran.html?m=1

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/ritual-khusus-agama-syiah-di-hari-asyura.html?m=1

    Barokallohufiyk !

    AWAS BAHAYA KHAWARIJ

    Sebuah pemikiran dan ideologi tidak akan mati, meskipun para penganutnya sudah terkubur hancur dimakan tanah! Demikianlah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Memang begitulah realitanya. Sebagai contoh: Pemikiran Khawarij yang masih tetap eksis hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman seperti yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu telah menumpas sebagian besar tokoh-tokohnya pada peperangan Nahrawan yang terkenal itu, akan tetapi benih-benih pemikirannya masih tetap bertahan. Begitu pula pada hari ini, meskipun para alim ulama telah memperingatkan umat dari bahaya bid’ah Khawarij ini, toh pemikiran-pemikiran ala Khawarij tetap laris manis di tengah-tengah kaum muslimin, khususnya generasi muda.

    Mayoritas orang-orang yang terjebak dalam bid’ah Khawarij pada awalnya tidak menyadari bahwa pemikiran yang bercokol dalam benaknya adalah benih-benih bid’ah Khawarij. Setelah larut di dalamnya dan setelah terbawa arus dan telah terkondisi, mereka tidak dapat melepaskan diri darinya. Persis seperti virus rabies yang menggerogoti penderitanya.

    Sebagai contoh sekarang ini muncul sebuah pemikiran bahwa dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap seseorang sekarang ini tidak dibutuhkan lagi proses penegakan hujjah jikalau ia melakukan kekufurannya itu karena kejahilan yang bisa dihilangkannya dengan menuntut ilmu, tapi hal itu tidak dilakukannya karena malas atau lalai, ia tidak bisa dimaafkan, ia dapat dihukumi kafir. Karena malas belajar bukanlah alasan untuk melakukan kekufuran. Demikian yang diungkapkan oleh Abdul Mun’im Mushtafa Halimah dalam bukunya berjudul Ath-Thaghut. Hal itu jelas merupakan prolog menuju akar pemikiran Khawarij yang royal mengkafirkan kaum muslimin.

    Contoh pemikiran lainnya: Dalam menetapkan bahwa seseorang telah menghalalkan dosa yang dilakukannya cukup dengan qarinah (indikasi kuat) bahwa ia telah menghalalkannya. Mereka beralasan karena sekarang ini tidak mungkin seseorang mengatakan terang-terangan bahwa ia telah menghalalkan dosa yang diperbuatnya. Jadi cukup dengan indikasi kuat tadi. Apa yang dikatakan oleh Abdul Mun’im Mushtafa Halimah berikut ini dalam bukunya tersebut adalah buktinya:

    “Persyaratan adanya pernyataan halal yang bersifat mutlak sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama itu kelihatannya sulit diterima oleh kalangan murji’ah modern. Karena mereka hanya menerima istilah ‘menyatakan halal’ apabila diucapkan dengan lisan bahwa ia menghalalkan hukum selain hukum Allah dari lubuk hatinya. Pernyataan seperti itu tidak akan dilontarkan oleh thaghut dari segala thaghut sekalipun di muka bumi ini. Adapun indikasi-indikasi yang terlihat dari amal perbuatan mereka jelas menunjukkan bahwa mereka menghalalkan hal itu. Bahkan menunjukkan kekufuran dan penghinaan terhadap hukum Allah tersebut, bagi mereka (murji’ah modern) tidak bisa dijadikan patokan.”

    Cobalah lihat, tanpa disadari benih-benih pemikiran Khawarij kembali muncul. Hal ini harus diwaspadai oleh kaum muslimin! Jika tidak bukan mustahil mereka akan menjadi korban!

    Dahulu telah dikatakan:

    Aku mengenal kejahatan bukan untuk melakukannya
    Akan tetapi agar dapat menghindarkan diri darinya
    Barangsiapa yang tidak dapat membedakan
    antara yang baik dengan yang jahat
    Dikhawatirkan ia terjerumus dalam kejahatan itu

    Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu juga rajin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kejahatan-kejahatan yang bakal muncul dengan harapan dapat menjauhkan diri dari kejahatan tersebut.

    Melihat gejala yang tumbuh di tengah-tengah umat pada hari ini, yaitu maraknya pemikiran-pemikiran bid’ah Khawarij khususnya di kalangan pemuda, maka kami mengetengahkan sebuah makalah yang ditulis oleh Fathi Abdullah Sultan berjudul ‘Metodologi Ibnu Taimiyah Dalam Membedah Bid’ah Khawarij’. Semoga makalah tersebut dapat bermanfaat bagi kita semua.


    Akhir-akhir ini muncul kembali benih-benih generasi khawarij di beberapa negeri kaum muslimin. Kaum muslimin harus waspada terhadap fenomena tersebut! Agar orang yang memiliki secercah ilmu dapat mengidentifikasi hakikat permasalahan, dapat menetapkan hukum secara benar dan dapat membedakan antara kesalahan yang bisa dimaklumi dan kesalahan yang tidak bisa dimaklumi, yaitu kesalahan yang berpangkal dari asas ahlu bid’ah. Khususnya bid’ah yang berkaitan dengan masalah pengkafiran kaum muslimin, penghalalan darah, harta dan tempat tinggal mereka.

    Pertama : Hal itu harus didasarkan kepada kaidah-kaidah ilmiah yang merujuk kepada pedoman generasi Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah berikut teknis penerapannya di lapangan.
    Kedua : Seluk-beluk bid’ah Khawarij harus dipahami, khususnya yang berkaitan dengan kaidah-kaidah dan asal-usul bid’ah mereka.
    Kedua perkara penting di atas dapat diwujudkan secara paripurna dengan menilik kembali warisan-warisan ilmiah yang telah ditinggalkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Khususnya untuk mengetahui ciri-ciri kaum Khawarij dari masa ke masa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memiliki keistimewaan khusus dalam membahas persoalan tersebut!

    Sebelum kita memulai pembahasan, selayaknya kita perhatikan beberapa perkara penting yang telah diingatkan oleh Ibnu Taimiyah:

    1. Kaum Khawarij ini muncul pertama kali pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu.

    Mereka terkenal dengan ketekunan dalam beribadah, seperti shalat, puasa, tilawah Al-Qur’an, zuhud dan beberapa aspek ibadah lahiriyah lainnya yang tidak didapati pada mayoritas sahabat nabi. Namun sayangnya mereka menyimpang dari sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan menyempal dari kaum muslimin. Mereka telah membunuh seorang muslim bernama Abdullah bin Khabbab dan merampas binatang-binatang ternak milik kaum muslimin. Inilah bid’ah yang pertama kali muncul dalam sejarah Dienul Islam dan merupakan bid’ah yang paling banyak dikecam dalam sunnah Nabi dan atsar Salafus Shalih. Tokoh utama merekalah yang pertama kali menyanggah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mengatakan: “Berlaku adillah wahai Muhammad, karena Anda belum berlaku adil!” Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk membunuh dan memerangi kaum Khawarij ini. Dan ini terwujud ketika para sahabat keluar bersama Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu untuk memerangi mereka.

    Banyak sekali hadits-hadits nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang memerintahkan supaya memerangi mereka serta menceritakan ciri-ciri mereka. Hingga Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Hadits tentang Khawarij ini dinyatakan shahih dari sepuluh sisi.”

    Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَ تَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ فَمَنْ أَدْرَكَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا عِنْدَ الهِ لِمَنْ قَتَلَهُمْ

    Salah seorang dari kalian merasa shalatnya lebih rendah nilainya daripada shalat mereka, puasanya lebih rendah nilainya daripada puasa mereka, tilawahnya lebih rendah nilainya daripada tilawah mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka (tidak memahaminya). Mereka telah melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai sebab telah tersedia pahala yang besar di Hari Kiamat bagi yang membunuh mereka.

    1. Kaum Khawarij ini akan tetap ada hingga datang masa keluarnya Dajjal.

    Hadits-hadits berkaitan dengan Khawarij ini diriwayatkan dalam berbagai versi. Dalam hadits Abu Barzah riwayat An-Nasa’i disebutkan:

    يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ كَأَنَّ هَذَا مِنْهُمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ اْلإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ مَعَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ

    Akan muncul di akhir zaman nanti suatu kaum, sepertinya orang ini (gembong khawarij Dzul Khuwaisirah) termasuk kelompok mereka, yang membaca Al-Qur’an akan tetapi tidak melewati tenggorokan mereka (tidak memahaminya). Mereka telah keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Ciri-ciri mereka adalah menggundul kepala. Mereka akan tetap muncul hingga akhir zaman bersama Dajjal. Apabila kalian menemui mereka, perangilah! Mereka adalah seburuk-buruk makhluk bentuk maupun perangainya.

    Dalam kitab Majmu’ Fatawa (28/496), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Dalam beberapa riwayat hadits lain telah diceritakan bahwa kelompok ini akan tetap muncul sampai zaman keluarnya Dajjal. Alim ulama telah sepakat bahwa kelompok Khawarij ini bukan hanya pasukan tentara yang menyertai Dajjal.”

    3.Alim ulama telah menggolongkan setiap pengikut hawa nafsu serta ahli bid’ah yang memiliki pemikiran seperti mereka dalam jajaran Khawarij.

    Sebagaimana dimaklumi bahwa bentuk-bentuk khuruj (pembangkangan) dalam Dienul Islam sangat banyak sekali.

    1. Syariat telah mengecam dengan keras kelompok khawarij bahkan memerintahkan agar memerangi mereka meskipun mereka memiliki kebaikan dan ketekunan dalam beribadah.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

    “Meskipun shalat, puasa dan tilawah Al-Qur’an mereka sangat banyak, ibadah dan kezuhudan mereka teruji, namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memerintahkan agar memerangi mereka. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu telah melaksanakan perintah Rasulullah tersebut bersama beberapa orang sahabat nabi lainnya. Mereka memerangi pasukan Khawarij yang telah menyimpang dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan syariat yang beliau bawa.” [Lihat Majmu’ Fatawa 11/473]

    Perlu diketahui bahwa kaum Khawarij ini menapaki beberapa fase hingga dapat mengkristalkan lalu merealisasikan bid’ah mereka.

    Pertama kali mereka menampilkannya dalam bentuk prolog-prolog yang mereka sokong dengan berbagai argumentasi. Lalu mereka mengetengahkan alasan-alasan mengapa harus memilih dan mewujudkan pemikiran sesat tersebut. Setelah itu memaksakan pemikiran-pemikiran yang menurut mereka harus diterima itu walaupun harus dengan menggunakan senjata (kekerasan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membahas tuntas masalah ini dalam uraian beliau berikut ini:

    PEMBAHASAN PERTAMA : PERISTIWA PENDAHULUAN BID’AH KHAWARIJ

    Interpretasi keliru terhadap apa yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya merupakan dasar bid’ah Khawarij. Sebenarnya kaum Khawarij ini tidak bermaksud menyelisihi Al-Qur’an, akan tetapi mereka salah dalam menginterpretasikannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Bid’ah yang pertama kali muncul, yaitu bid’ah Khawarij, penyebabnya adalah interpretasi keliru terhadap kandungan Al-Qur’an, sebenarnya mereka tidak bermaksud melanggarnya! Akan tetapi mereka salah menafsirkannya. Mereka berasumsi bahwa nash-nash ancaman itu berkonseksuensi kafirnya para pelaku dosa besar! Mereka beranggapan bahwa seorang mukmin itu harus baik dan bertakwa, konseksuensinya siapa saja yang tidak baik dan tidak bertakwa maka ia tergolong kafir dan kekal dalam api neraka.

    Kemudian mereka menandaskan: “Utsman, Ali dan orang-orang yang membela mereka berdua bukanlah tergolong orang-orang yang beriman. Karena mereka telah berhukum dengan selain hukum Allah, demikian kata mereka!

    Jadi, ada dua pendahuluan bagi bid’ah Khawarij ini:

    Siapa saja yang perbuatan dan pendapatnya menyalahi Al-Qur’an maka ia tergolong kafir.
    Utsman, Ali dan orang-orang yang membela mereka termasuk kategori demikian.
    Oleh sebab itu hendaklah ekstra hati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap kaum muslimin hanya karena dosa dan kesalahan yang dilakukan. Sebab itulah bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam. Dengan dalih tersebut mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Dalam banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengecam mereka dan memerintahkan agar memerangi mereka.” [Lihat Majmu’ Fatawa 13/30-31]

    PEMBAHASAN KEDUA : AKAR BID’AH KHAWARIJ

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menggolongkan bid’ah Khawarij ini sebagai bid’ah yang besar, sebagaimana halnya Syi’ah Rafidhah dan sejenisnya. Ketika menerangkan perbedaan antara Rafidhah dan Khawarij, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    “Akar kesesatan mereka (Khawarij) adalah keyakinan mereka bahwasanya para Imam serta segenap kaum muslimin telah menyimpang dari kebenaran dan telah sesat. Itu pula yang merupakan akar kesesatan setiap kelompok yang menyimpang dari sunnah nabi, seperti halnya Rafidhah dan kelompok-kelompok lainnya! Kemudian mereka nyatakan kufur setiap perbuatan yang mereka anggap sebuah tindak kezhaliman. Lalu mereka menjatuhkan sanksi-sanksi hukum yang mereka ada-adakan atas setiap kekufuran!

    Itulah tiga pokok dasar kelompok-kelompok yang menyimpang dari As-Sunnah, seperti Haruriyah (Khawarij), Rafidhah (Syi’ah) dan yang lainnya.

    Dalam setiap kesempatan mereka berusaha melepaskan asas-asas dasar Dienul Islam sehingga mereka keluar dari Islam sebagaimana panah melesat dari busurnya.

    Ibnu Taimiyah memandang akar bid’ah Khawarij dari dua sisi:

    1. Menyelisihi sunnah Rasulullah.
    2. Konseksuensi-konseksuensi batil yang ditimbulkannya.

    Dalam Majmu’ Fatawa (19/72-73), Ibnu Taimiyah menerangkan: “Ada dua faktor utama yang menyebabkan kaum Khawarij ini menyempal dari jama’ah kaum muslimin:

    Mereka telah menyelisihi Sunnah nabi. Mereka pandang jelek perkara yang baik-baik dan mereka pandang baik perkara yang buruk. Itulah yang mereka tunjukkan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ketika Dzul Khuweisharah At-Tamimi berkata kepada beliau: “Berlaku adillah, sesungguhnya engkau tidak berlaku adil!” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Celakalah engkau, siapakah lagi yang berlaku adil jika aku tidak berlaku adil! Sungguh telah merugi dan celakalah diriku jika aku tidak berlaku adil!”
    Mereka memvonis kafir kaum muslimin karena dosa dan kesalahan yang dilakukan, serta menerapkan sanksi-sanksi hukum atas vonis yang telah mereka jatuhkan itu, yaitu penghalalan darah dan harta kaum muslimin. Mereka menganggap negeri kaum muslimin sebagai darul harb (negeri kafir yang mesti diperangi) dan hanya negeri mereka sajalah yang berhak disebut darul iman.
    Kemudian Syaikhul Islam menerangkan ekses-ekses negatif yang timbul akibat dua faktor di atas. Beliau menjelaskan: “Setiap muslim hendaknya berhati-hati dari dua faktor tersebut berikut dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya, seperti membenci kaum muslimin, melaknat, mengecam serta menghalalkan darah dan harta mereka.

    Kedua faktor di atas jelas menyelisihi kaidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Sedang siapa saja yang menyelisihi Sunnah maka ia tergolong mubtadi’ (ahli bid’ah) yang telah menyimpang dari Sunnah Rasulullah. Barangsiapa mengkafirkan kaum muslimin karena dosa yang mereka perbuat kemudian memperlakukan mereka sebagai orang kafir, maka ia telah memisahkan diri dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Perlu diketahui bahwa mayoritas ahlu bid’ah dan hawa nafsu muncul melalui dua faktor di atas.

    PEMBAHASAN KETIGA : REFERENSI UTAMA DAN METODE KHAWARIJ DALAM PENGAMBILAN DALIL

    Khawarij biasa berpegang kepada tekstual ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka menolak hadits-hadits nabi yang sepintas lalu bertentangan dengan tekstual ayat-ayat tersebut. Bahkan mereka tidak segan-segan membuang hadits-hadits mutawatir dengan alasan bertentangan dengan teks ayat. Ibnu Taimiyah menuturkan sebagai berikut:

    “Apabila Anda telah mengetahui akar-akar bid’ah dari uraian sebelumnya, maka ketahuilah bahwa akar bid’ah Khawarij adalah memvonis kafir pelaku dosa. Mereka yakini sebagai dosa perkara-perkara yang sebenarnya bukan dosa. Mereka memandang wajib mengikuti Al-Qur’an saja dan menolak hadits yang bertentangan dengan teks ayat Al-Qur’an, meskipun hadits tersebut derajatnya mutawatir. Dan memvonis kafir orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka. Bahkan mereka membolehkan berbuat apa saja terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka melebihi perlakuan terhadap orang-orang kafir, dengan keyakinan orang-orang tersebut telah murtad dari Islam. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa:

    يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ

    “Mereka membunuhi kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.”

    Dengan dasar itu mereka mengkafirkan Utsman, Ali serta para pembela mereka berdua. Dan mereka juga mengkafirkan orang-orang yang turut serta dalam kancah peperangan Shiffin! Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran mereka yang kotor lainnya! [Silakan lihat Majmu’ Fatawa 3/355]

    Kaum Khawarij telah terjerumus dalam dua perkara yang sangat berbahaya:

    1. Meninggalkan kewajiban berpegang teguh dengan sunnah nabi. Mereka berpendapat bahwa hal itu tidak wajib!

    Dalam Majmu’ Fatawa (20/104), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dosa dan kesalahan ahlu bid’ah adalah karena meninggalkan apa yang telah diperintahkan kepada mereka, yaitu mengikuti Sunnah nabi dan menetapi jama’ah kaum muslimin.

    Akar bid’ah Khawarij adalah keyakinan mereka bahwa mentaati Rasul hukumnya tidak wajib bila bertentangan dengan teks Al-Qur’an menurut persepsi mereka. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk meninggalkan kewajiban.”

    Dalam kesempatan lain beliau menambahkan: “Kaum Khawarij beranggapan bahwa Rasul bisa berbuat zhalim dan tersesat dalam sunnahnya, oleh karena itu menurut mereka mentaati dan mengikuti rasul bukanlah suatu keharusan. Mereka hanya mempercayai apa yang disampaikan Rasul di dalam Al-Qur’an, adapun As-Sunnah yang menurut mereka bertentangan dengan tekstual Al-Qur’an, tidaklah mereka terima.” [Silakan lihat Majmu’ Fatawa 19/73]

    1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan akal pikiran mereka.

    Selain tidak menerima As-Sunnah yang menurut klaim mereka bertentangan dengan tekstual Al-Qur’an, mereka juga memahami Al-Qur’an seenak perut mereka saja, mereka menafsirkannya menurut logika dan hawa nafsu. Terutama dalam menafsirkan nash-nash yang berisi ancaman, mereka jatuh dalam kekeliruan yang fatal dalam menafsirkannya.

    Ketika mengulas perbedaan antara bid’ah Rafidhah dengan Khawarij Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Diantara perbedaan tersebut: Khawarij mengikuti nash-nash Al-Qur’an yang mereka pahami sendiri, sementara Rafidhah mengikuti Imam Ma’shum yang sebenarnya tidak ada. Dalam hal ini Khawarij lebih bagus daripada Rafidhah.” [Silakan lihat Majmu’ Fatawa 28/483]

    Demikianlah penilaian Ibnu Taimiyah setelah kita ketahui bersama bahwa beliau menggolongkan keduanya sebagai bid’ah yang besar!

    Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyah menyatakan: “Demikian pula kaum Khawarij ini menganut keyakinan wajibnya mengikuti Al-Qur’an meskipun mereka pahami menurut akal pikiran mereka dan berkeyakinan tidak wajib mengikuti As-Sunnah yang bertentangan dengan tekstual ayat Al-Qur’an. Sementara Rafidhah menganut keyakinan wajibnya mengikuti Madzhab Ahli Bait, mereka mengklaim bahwa diantara Ahli Bait terdapat Imam yang ma’shum, yang tidak ada satupun ilmu yang tersembunyi atasnya, tidak pernah salah, baik disengaja, terlupa ataupun sadar.” [Lihat Majmu’ Fatawa 28/491]

    Bagi yang mengikuti uraian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas tentulah dapat melihat bahwa: Khawarij tidak memiliki buku-buku yang berbicara khusus tentang dasar-dasar pemikiran mereka. Pemikiran-pemikiran tersebut dibiarkan terekam di dalam akal mereka tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Di samping itu mereka menyokongnya dengan asas-asas bid’ah. Dengan itu mereka leluasa menjatuhkan vonis kafir terhadap orang-orang yang mereka anggap murtad dan memaksa kaum muslimin lainnya untuk menjatuhkan vonis kafir tersebut.

    Oleh sebab itu sangat sulit mendeteksi mereka pada awal kemunculannya sehingga mereka memiliki wilayah tempat mewujudkan seluruh bid’ah-bid’ah mereka itu.

    Berbeda dengan kelompok-kelompok bid’ah lainnya yang memiliki buku-buku yang menjelaskan dasar-dasar pemikiran kelompok masing-masing sehingga akar bid’ah mereka lebih mudah diidentifikasi.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kaum Khawarij hanya mengikuti As-Sunnah yang telah terperinci bukan yang menyelisihi tekstual Al-Qur’an. Menurut mereka boleh jadi seorang pezina tidak hukum rajam, tidak ada batasan tertentu yang menyebabkan seseorang berhak dipotong tangannya karena mencuri, seorang murtad tidak perlu dihukum mati, karena semua itu (yakni rajam, batasan barang yang dicuri hingga pencurinya berhak dipotong tangannya dan hukuman bagi orang murtad) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.

    Pemikiran-pemikiran Khawarij dapat kita ketahui melalui penukilan-penukilan orang tentang mereka. Kita belum mendapatkan satupun buku yang mereka karang tentang dasar-dasar pemikiran mereka. Sebagaimana kita dapat temui buku-buku tentang dasar-dasar pemikiran Mu’tazilah, Rafidhah, Zaidiyah, Karramiyah, As’ariyah, Salimiyah, Madzhab yang empat, Zhahiriyah, Ahlu Hadits, Falasifah, Shufiyah dan lain-lain.” [Silakan lihat Majmu’ Fatawa 13/48-49]

    (Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Medani)

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

    ………………………………………………

    Artikel Almanhaj.or.id

    Barikallohufiik !

    SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN KAUM KHAWARIJ

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berusaha menganalisa faktor-faktor penyebab munculnya bid’ah Khawarij dan berusaha menjelaskan cara-cara setan dalam menjerat mereka. Salah satunya adalah dengan menjadikan bid’ah yang mereka lakukan seolah-olah bagus dan indah serta layak diikuti dan diterima. Sehingga harus dibela dengan pedang oleh imam beserta jama’ah mereka.

    Berikut ini akan kami sebutkan beberapa faktor yang dipaparkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang merupakan sebab penyimpangan dan kesesatan kaum Khawarij. Sekaligus faktor penyebab berkembangnya bid’ah mereka di tengah-tengah manusia.

    1.Sikap Wara’ Yang Semu Sebagai Akibat Dari Kedangkalan Ilmu Mereka.

    Banyak sekali orang yang bersikap wara’ terhadap hal-hal tertentu. Namun di lain pihak justru meninggalkan perkara-perkara yang diwajibkan atas mereka. Diantara mereka ada yang melakukan perkara-perkara syubhat dengan berpijak kepada persangkaan dusta belaka. Ironinya mereka menganggap hal itu sebuah kewara’an, disebabkan karena kedangkalan ilmu dan piciknya pemahaman mereka. Hingga mereka jadikan sebagai sesuatu yang harus diikuti layaknya sebuah syariat.

    Disebabkan sikap wara’ semu yang ditunjukkan oleh kaum Khawarij tersebut, seperti berlebih-lebihan dalam menyikapi perkara kezhaliman dan kemaksiatan, dan keyakinan mereka yang keliru tentang ancaman Allah yang pasti ditepati-Nya dan tidak akan dipungkiri. Akibatnya mereka malah meninggalkan kewajiban mentaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan berhukum kepada sunnah beliau dalam masalah vonis memvonis. Serta meninggalkan kewajiban berlaku belas kasih terhadap kaum mukminin. Sehingga mereka jatuh ke dalam bid’ah yang besar! Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela dan memerintahkan untuk memerangi mereka.

    Berkaitan dengan perkara di atas Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (XX/140): “Sikap wara seperti itu telah menjerumuskan pelakunya ke dalam bid’ah yang besar. Sama halnya sikap wara’ yang ditunjukkan oleh kaum Khawarij, Syi’ah Rafidhah, Mu’tazilah dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya. Mereka bersikap wara’ secara berlebihan terhadap kezhaliman atau sesuatu yang mereka anggap kezhaliman dengan menjauhi orang-orang yang berbuat zhalim, sayangnya mereka justru meninggalkan kewajiban yang dibebankan atas mereka, seperti shalat jum’at, shalat jama’ah, haji, jihad dan memberi nasehat serta berlaku kasih sayang kepada kaum muslimin. Orang-orang yang bersikap wara’ seperti itulah yang disanggah oleh para imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti imam yang empat. Mereka menyebutkan hal ini dalam deretan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

    Kemudian belaiu menjelaskan bahwa sikap wara’ yang semu ini hanya akan dapat diperbaiki dengan ilmu yang memadai, pemahaman yang mapan dan rasa kasih sayang yang dalam. Beliau berkata dalam kitab Al-Majmu’ (XX/141-142):

    “Oleh sebab itu seorang yang wara’ membutuhkan ilmu yang cukup tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dan pemahaman dalam agama. Jika tidak maka sikap wara’nya itu lebih banyak mendatangkan kerusakan daripada maslahat. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kafir, ahli bid’ah, Khawarij, Rafidhah dan lain-lain.

    Wara’ yang dianjurkan oleh syariat -yang justru dilanggar oleh kaum Khawarij- adalah:

    Harus melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram.
    Perbuatannya harus sesuai dengan sunnah nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Harus dalam lingkupan rasa takut dan pengharapan.
    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam Majmu’ Fatawa (XX/110-111): “Contohnya adalah kaum Al-Wa’idiyah dari kalangan Khawarij dan sejenisnya, yang menanggapi perkara maksiat dan larangan secara berlebihan. Dalam hal mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan mengagungkannya mereka sudah baik, namun sayangnya hal itu mereka lakukan di atas dasar menyelisihi sunnah nabi dan atas dasar pengingkaran mereka terhadap kewajiban mengasihi kaum mukminin meskipun melakukan dosa besar.”

    1. Menyamaratakan Antara Kesalahan Dan Dosa.

    Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa pemabahasan tentang status hukum seorang muslim yang fasik merupakan sebab pertama terjadinya bid’ah di dalam agama. Kaum Khawarij berkata: “Orang fasik itu hukumnya kafir” mereka meyakini kebenaran infadzul wa’id (kebenaran ancaman Allah terhadap orang-orang fasik), menurut mereka maknanya adalah: “Orang-orang fasik kekal dalam neraka dan tidak akan dapat keluar darinya dengan syafaat atau dengan yang lainnya.” Hal itu hanya untuk menetapkan bahwa Allah benar-benar menepati janji dan tidak memungkirinya. Menurut mereka bila ancaman bersifat umum telah dikeluarkan maka akan terhitung pengingkaran apabila tidak membenarkannya. Mereka keliru dalam memahami sebuah ancaman. Mereka samakan antara dosa dan ancaman dengan kesalahan.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XXXV/69-70): “Kelompok-kelompok sesat menyamaratakan antara kesalahan dan dosa. Kadangkala mereka bersikap berlebihan dalam masalah ini. Ada yang berkata: “Orang-orang itu ma’shum!” Dan sebagian lagi berkata: “Orang-orang itu termasuk pembangkang karena kesalahan yang dilakukannya!” Ahli ilmu bukanlah orang yang ma’shum dan bukan pula orang yang tidak berdosa.
    Faktor inilah yang banyak melahirkan kelompok-kelompok bid’ah dan menyimpang. Sebagian kelompok tersebut ada yang mencaci dan melaknat Salafus Shalih dengan alasan mereka telah melakukan dosa dan pelaku dosa tersebut berhak dilaknat. Bahkan mereka tidak segan menjatuhkan vonis fasik atau kafir terhadap Salafus Shalih. Sebagaimana dilakukan oleh kaum Khawarij yang mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan orang-orang yang mendukung mereka berdua, mengutuk dan mencaci mereka dan menghalalkan darah mereka…!”

    1. Kesalahan Dlam Memahami Dalil.

    Kesalahan ini tampak lebih jelas dalam memahami nash-nash berisi ancaman dan beberapa masalah yang berkaitan dengan pengkafiran kaum muslimin. Demikian pula dalam memahami nash-nash tentang amar ma’ruf nahi mungkar dan beberapa hal yang berkenaan dengan pembangkangan dan perlawanan terhadap penguasa.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Dar’u Ta’arudhi Al-Aql wan Naql (I/141) berkata: “Kaum Khawarij yang mentakwil secara keliru ayat-ayat Al-Qur’an dan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka lebih baik keadaannya dari pada mereka (kaum Jahmiyah). Sebab kaum Khawarij tersebut menjatuhkan vonis kafir atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya saja mereka keliru dalam memahami nash Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut. Adapun kaum Jahmiyah menjatuhkan vonis kafir atas dasar ucapan yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya.”

    1. Kesalahan Dalam Menetapkan Wasilah Dan Target.

    Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu perintah syariat yang memiliki kaidah-kaidah, batasan dan wasilah tertentu. Kaum Khawarij -disebabkan berpalingnya mereka dari Sunnah nabi- justru memutarbalikkan perkara, mereka jadikan perkara ma’ruf sebagai perkara mungkar dan perkara mungkar sebagai perkara ma’ruf. Bahkan mereka tidak mengetahui wasilah amar ma’ruf nahi mungkar, mana saja mendatangkan maslahat dan mana saja yang tidak mendatangkan maslahat. Mereka keliru dalam menetapkan wasilah dan menentukan target.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’Fatawa (XXVIII/128) ketika mengulas kesalahan yang dilakukan manusia berkaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar berkata: “Kelompok kedua: Orang-orang yang ingin menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lisan ataupun dengan tangan (kekuatan) secara membabi buta tanpa bimbingan ilmu, sikap santun, kesabaran dan tanpa mempertimbangkan mana yang mendatangkan maslahat dan mana yang tidak, mana yang sanggup dilakukan dan mana yang tidak. ia melakukan amar ma’ruf atau nahi mungkar dengan anggapan bahwa ia sanggup melakukannya demi membela agama Allah dan sunnah rasul-Nya, sayangnya ia malah melanggar batasan-batasan syariat. Sebagaimana hal ini banyak dilakukan oleh ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu, seperti kaum Khawarij, Mu’tazilah, Rafidhah serta kelompok-kelompok bid’ah lainnya yang keliru dalam menegakkan jihad beramar ma’ruf nahi mungkar. Akibatnya kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahatnya. Oleh sebab itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar bersabar terhadap kezhaliman para penguasa dan melarang memerangi mereka selama mereka masih menegakkan shalat. Beliau bersabda:

    أَدُّوا إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ وَ سَلُوْا اللهَ حُقُوْقَكُمْ

    Tunaikanlah hak-hak mereka dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian”
    Kami telah beberapa kali menjelaskan hal ini panjang lebar di tempat lain.”

    1. Kesalahan Dalam Menempatkan Dalil Dan Kandungan Dalil Tersebut.

    Kaum Khawarij ini biasanya meyakini sebuah pendapat terlebih dahulu baru mencari-cari ayat Al-Qur’an yang dikira mendukung pendapat tersebut. Sementara tidak ada pendahulu bagi mereka dari kalangan sahabat maupun generasi yang mengikuti mereka dengan baik. Dan tidak pula dari kalangan para imam yang mendukung pendapat atau penafsiran mereka tersebut. Dalam hal ini mereka memakai dua metodologi:

    Mementahkan kandungan nash-nash Al-Qur’an.
    Menempatkan nash-nash tersebut tidak pada tempatnya.
    Maka kesalahan mereka terpulang kepada dua perkara: kesalahan mereka dalam meyakini keyakinan-keyakinan batil dan kesalahan mereka dalam cara menetapkan keyakinan-keyakinan batil tersebut.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (XIII/356): “Orang-orang yang keliru dalam menetapkan dalil dan kandungan yang terdapat dalam dalil -seperti kelompok-kelompok ahli bid’ah- meyakini sebuah pendapat yang menyelisihi kebenaran yang diyakini oleh umat ini yang tidak akan bersepakat di atas kesesatan, dari kalangan Salaful Ummah dan para imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka membawakan ayat-ayat Al-Qur’an namun memahaminya dengan pendapat akal mereka.

    Kadang kala mereka membawakan beberapa ayat Al-Qur’an untuk mendukung keyakinan mereka padahal ayat tersebut bukanlah dalil yang mendukungnya. Dan kadang kala mereka mentakwil dalil-dalil yang menyelisihi pendapat mereka dengan memalingkan dalil tersebut dari makna yang sebenarnya. Diantara kelompok itu adalah Khawarij, Rafidhah, Jahmiyah , Mu’tazilah, Qadariyah, Murjiah dan lainnya.”

    PEMBAHASAN KELIMA : EKSES-EKSES NEGATIF BID’AH KHAWARIJ

    Ekses negatif yang ditimbulkan bid’ah Khawarij tidak hanya menyentuh persoalan aqidah saja, bahkan juga menyentuh persoalan ibadah dan mua’malah yang berakibat langsung kepada kehidupan dan aktifitas kaum muslimin. Ekses-ekses negatif tersebut dapat kita simpulkan sebagai berikut:

    Pertama : Pemberontakan Bersenjata Terhadap Imam-Imam Yang Berada Di Atas Petunjuk Dan Jama’ah Kaum Muslimin Serta Penguasa Mereka.

    Ini merupakan ekses negatif yang paling berbahaya yang ditimbulkan oleh bid’ah Khawarij. Yang juga dapat mengakibatkan kerusakan dien dan dunia.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XIII/35): “Kedua kelompok tersebut (yaitu Rafidhah dan Khawarij) menghujat bahkan mengkafirkan penguasa kaum muslimin. Mayoritas Khawarij mengkafirkan Utsman dan Ali Radhiyallahu anhuma serta orang-orang yang mendukung mereka berdua. kaum Rafidhah melaknat Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum serta orang-orang yang mendukung mereka. Akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan oleh Khawarij lebih nyata lagi, berupa pertumpahan darah, perampasan harta, pemberontakan bersenjata, oleh sebab itu dalam beberapa hadits shahih disebutkan perintah untuk memerani mereka. Hadits-hadits yang berisi celaan dan perintah memerangi mereka sangat banyak sekali. Hadits-hadits tersebut mutawatir menurut Ahli Hadits, seperti halnya hadits ru’yah, azab kubur, hadits-hadits yang menjelaskan tentang adanya syafaat dan haudh (telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

    Kedua : Kebencian Mereka Terhadap Kaum Muslimin, Pengkafiran, Hujatan Dan Laknat Serta Penghalalan Darah Dan Harta Kaum Muslimin.

    Setelah menyebutkan dua perkara di atas Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh sebab itu setiap muslim harus berhati-hati terhadap dua perkara di atas, dan juga seluruh perkara yang dapat menimbulkan kebencian terhadap kaum muslimin, hujatan, laknat dan penghalalan darah serta harta mereka….”

    Ketiga : Menganggap Negeri Kaum Muslimin Sebagai Darul Kufur Dan Harb (Negeri Kafir Dan Boleh Diperangi). Dan Menganggap Negeri Merekalah Darul Hijrah.

    Sikap seperti ini merupakan akibat dari bid’ah mereka. Hingga mereka anggap halal menumpahkan darah kaum muslimin dan merampas harta mereka. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Kitab Majmu’ Fatawa (XIX/73) berkata: “Perbedaan kedua antara Khawarij dengan ahlu bid’ah yang lain adalah: Kaum Khawarij ini mengkafirkan orang yang berbuat dosa dan kesalahan. Dan atas dasar itu mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta mereka. Dan menganggap negeri kaum muslimin sebagai darul harb sementara negeri mereka adalah darul iman……”

    Dalam bagian lain ketika membahas perbedaan antara Khawarij dengan Mu’tazilah (Majmu’ Fatawa XIII/98) beliau menambahkan: “Mereka sangat menjaga kejujuran, seperti halnya Khawarij. Mereka tidak membuat-buat dusta seperti halnya kaum Rafidhah. Dan mereka juga berpendapat bahwa tidak boleh bernaung kecuali di negeri Islam, sebagimana halnya kaum Khawarij……”

    Catatan:

    Lebih parah lagi, kaum Khawarij ini sengaja berhijrah ke Darul Kufur dan menetap di sana dengan dalih:

    Mereka tidak bisa sabar terhadap kezhaliman para penguasa muslim.
    Mereka lebih banyak menyerang negeri Islam daripada negeri kufur. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (III/355): “Kaum Khawarij ini mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka. Menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengan mereka dengan tuduhan telah murtad menurut mereka. Suatu hal yang justru tidak mereka terapkan terhadap orang yang benar-benar kafir. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:
    يَقْتُلٌوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَ يَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

    “Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala”

    Keempat : Mereka Mengkafirkan Orang Yang Menyelisihi Mereka Dan Memaksa Orang Lain Untuk Mengikuti Bid’ah Mereka.

    Ini merupakan perkara yang hampir dapat ditemui pada selurh kelompok-kelompok yang menyelisihi sunnah, ahli bid’ah dan para pengikut hawa nafsu. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (III/279): “Kaum Khawarij merupakan kelompok bid’ah pertama yang mengkafirkan kaum muslimin, mengkafirkan orang karena berbuat dosa besar, mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.”

    Itulah keadaan ahli bid’ah yang mengada-adakan bid’ah dan mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah tersebut. Sementara Ahlu Sunnah wal Jama’ah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, mentaati Allah dan rasul-Nya, mengikuti kebenaran dan berlaku belas kasih terhadap manusia.”

    Kaum Khawarij mendasari bid’ah mereka dengan prinsip-prinsip bid’ah, persatuan ala hizbiyah serta pemikiran-pemikiran sesat.

    Disamping itu mereka juga selalu mengamat-amati situasi dan kondisi yang berkembang dan peristiwa-peristiwa yang terjadi guna mempersiapkan tempat yang layak mereka jadikan pangkalan demi mewujudkan tujuan mereka. Oleh sebab itu aksi mereka tersebut terpusat pada point-point berikut ini:

    1. Menisbatkan diri kepada nama dan identitas yang bersifat umum, bukan kepada nama dan identitas yang bersifat khusus yang mengacu kepada manhaj Salafus Shalih.

    Ketika membahas salah satu kebiasaan ahli bid’ah yang bersembunyi dibalik manhaj Salaf, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/153): “Kelompok yang terkenal dengan bid’ahnya seperti kelompok Khawarij dan Rafidhah tidak mengaku berada di atas manhaj salaf. Bahkan mereka mengkafirkan Salafus Shalih. Demikian pula kaum Khawarij yang telah mengkafirkan Utsman dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhuma dan jumhur kaum muslimin dari kalangan sahabat dan tabi’in. Bagaimana mungkin mereka mengaku berada di atas manhaj salaf?”

    Catatan:

    Bahkan kaum mukminin yang lemah yang berdomisili di negeri ahli bid’ah, seperti Khawarij dan lainnya, terpaksa menyembunyikan keimanan dan manhaj mereka. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/149):
    “Tidak ada satupun manhaj salaf yang harus disembunyikan kecuali bila berada di negeri ahli bid’ah, seperti di daerah kekuasaan Rafidhah dan Khawarij. Orang-orang mukmin yang lemah terpaksa menyembunyikan keimanan dan manhaj mereka. sebagaimana banyak diantara kaum mukminin yang menyembunyikan keimanan mereka di darul harb.”

    1. Mencari-cari kesalahan ahlus sunnah wal jama’ah hingga dalam masalah ijtihadiyah.

    Ketika membahas kelompok-kelompok ahli bid’ah yang terkenal dan sikap mereka yang menolak mengikuti manhaj salaf Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/155): “Diantara sebab hujatan yang ditujukan oleh ahli bid’ah kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beberapa kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh individu Ahlu Sunnah dan kesalahan ijtihad sebagian ulama Ahlu Sunnah. Kesalahan dan pelanggaran itu menjadi fitnah bagi orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sehingga mereka jatuh dalam kesesatan yang jauh.”

    1. Menurut Khawarij Ahlu Hadits adalah musuh bebuyutan yang harus ditumpas dengan segala cara.

    Dalam Majmu’ Fatawa (XX/161) Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap ahli bid’ah pasti berusaha menyembunyikan nash-nash yang bertentangan dengan prinsip mereka dan nash-nash yang tidak mereka sukai. Mereka tidak suka nash-nash tersebut dipublikasikan, diriwayatkan dan dibicarakan. Dan juga membenci orang-orang yang melakukan hal itu. Sebagaimana dikatakan oleh Salafus Shalih: Tidaklah seseorang jatuh ke dalam sebuah bid’ah melainkan akan dicabut kenikmatan hadits dari hatinya.”

    1. Mencari-cari kesalahan penguasa dan memprovokasi massa untuk melawan penguasa. Kemudian juga menghujat dan mengkafirkan penguasa.

    PEMBAHASAN KEENAM : WAKTU DAN TEMPAT KAUM KHAWARIJ MEMULAI AKSI MEREKA

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya membahas dasar-dasar bid’ah Khawarij, sebab-sebab munculnya dan ekses-ekses nagatifnya saja, bahkan beliau juga mengungkap masalah yang lebih khusus lagi, yaitu masalah waktu dan tempat kaum Khawarij memulai aksi mereka. Perlu diketahui bahwa kaum Khawarij ini telah menetapkan waktu dan tempat mereka memulai aksi jihad -demikian anggapan mereka-, didukung beberapa unsur yang saling menguatkan sebagai mukaddimah berlangsungnya ‘pesta besar’ mereka.

    1. Tempat Dan Waktu Memulai Aksi.

    Kaum Khawarij harus mendapatkan tempat yang cocok untuk memulai aksi. Setelah melakukan persiapan dan saling bahu-membahu untuk menyukseskan aksi mereka. Biasanya mereka memulai aksi selepas terjadinya peristiwa besar! Syeikhul Islam rahimahullah mengungkap gerakan politik terselubung ini dalam Majmu’ Fatawa (XXVIII/489), ketika beliau membahas kerusakan yang ditimbulkan oleh madzhab Rafidhah dan Khawarij: “Faktor penyebabnya adalah kaum Khawarij ini merupakan kelompok bid’ah pengikut hawa nafsu yang pertama kali menyempal dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, padahal eksistensi Khulafaur Rasyidin serta kaum Muhajirin dan Anshar, pelita ilmu dan iman, keadilan dan cahaya nubuwat serta kekuatan hujjah dan kekuasaan masih ada. Saat itu Allah menegakkan dien ini atas agama yang lainnya dengan kekuatan hujjah dan kekuasaan.

    Sebab munculnya aksi mereka adalah kebijaksanaan Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu serta orang-orang yang mendukung mereka yang bersumber dari penakwilan mereka. Rupanya hal itu tidak dapat diterima oleh kaum Khawarij. Mereka anggap perkara ijtihad itu sebagai sebuah dosa. Bahkan menggolongkannya sebagai dosa besar! Oleh sebab itu mereka tidak memberontak pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, karena penakwilan seperti itu tidak terjadi pada zaman kekhalifahan mereka berdua dan juga ketika itu kaum Khawarij ini masih lemah.”

    Jadi, mereka akan muncul pada dua kondisi:

    Peristiwa-peristiwa dan fitnah-fitnah yang terjadi bertepatan dengan takwil-takwil bid’ah mereka.
    Jumlah mereka yang memadai dan banyak.
    2. Unsur-Unsur Pendukung Munculnya Aksi Khawarij.

    Salah satu ciri khas Khawarij ini adalah mereka memiliki imam, jama’ah dan negeri (daerah kekuasaan/tempat berlindung).

    Pertama: Mereka menyempal dari kaum muslimin.
    Kedua: Mereka menyimpulkan ikatan wala’ dan bara’ (loyalitas dan permusuhan) atas dasar bid’ah mereka tersebut.
    Kemudian imam mereka adalah imam tandingan bagi imam kaum muslimin yang sah. Oleh sebab itu bid’ah Khawarij dan bid’ah Rafidhah bertemu pada satu titik yang sama, yaitu masalah imamah dan khilafah! Berikut merembet kepada seluruh perkara ibadah dan hukum-hukum syar’i.”

    Mereka menganggap negeri mereka yang layak disebut sebaagi darul hijrah dan darul iman. Sementara negeri kaum muslimin lainnya adalah darul kufur dan harb. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan unsur-unsur tersebut dalam Majmu’ fatawa (XIII/35): “Kaum Syi’ah ketika itu tidak memiliki jama’ah dan imam, tidak pula memiliki negeri dan kekuatan untuk memerangi kaum muslimin. Yang memiliki semua itu pada saat itu hanyalah kaum Khawarij!

    Ciri khas mereka adalah memiliki imam, jama’ah dan negeri. Mereka anggap negeri mereka sebagai darul hijrah, adapun negeri kaum muslimin lainnya adalah darul kufur dan harb.”

    KAPAN KHAWARIJ AKAN MUNCUL?

    Jika bid’ah takfir dan bid’ah pembangakangan terhadap penguasa dan kaum muslimin telah saling berpadu, maka telah bersatulah pasangan serasi dalam sebuah pesta besar! Para pelayan yang dungu telah mengatur segala sesuatunya. Berjalan kesana kemari mengurus pesta besar tersebut! Menghidangkan kepada para undangan -kaum militan- beraneka ragam kesesatan dan penyimpangan dari aqidah dan manhaj dalam bentuk perbaikan dan penjelasan. Dihidangkan di atas meja yang berlapiskan kezuhudan dan kewaraan semu, sementara hakikatnya adalah kehancuran dan kebinasaan. Kemah-kemah telah dipancangkan, para kekasih telah saling berpasangan, rekan-rekan telah saling bersatu, harta telah dihamburkan, peran masing-masing telah dibagi-bagikan, mereka anggap genderang jihad telah bergema!

    Jangan terkecoh! Sebenarnya itulah genderang setan Khawarij, yang ditabuh pada saat Ahlus Sunnah terlelap dan tercerai berai!

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (XIX/89): “Orang yang mencela hukum yang diputuskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pembagian yang beliau tetapkan -seperti yang dilakukan oleh Khawarij- pada dasarnya telah mencela Kitabullah dan telah menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menyempal dari kaum muslimin. Kekuatan setan Khawarij ini dapat diredam pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum ketika kaum muslimin masih bersatu padu. Ketika umat ini telah terpecah belah pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, setan Khawarij ini merasa mendapat angin untuk melancarkan aksinya! Merekapun bergerak, mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah Radhiyallahu anhuma serta orang-orang yang mendukung mereka berdua. Akhirnya mereka diperangi oleh kelompok yang paling mendekati kebenaran, yaitu kelompok Ali bin Abi Thalib, sebagimana disebutkan dalam kitab Ash-shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

    تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عَلىَ حِيْنِ فِرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ, تَقْتُلُهُمْ أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالحَقِّ

    Akan muncul nanti satu kelompok yang menyempal dari kaum muslimin ketika mereka terpecah menjadi dua golongan. Kelompok itu akan diperangi oleh golongan yang paling mendekati kebenaran.

    Semoga Allah merahmati Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah mengungkap rahasia yang tersembunyi dibalik jubah Khawarij. Membeberkan asas dasar mereka, ekses-ekses negatifnya dan akibatnya yang sangat berbahaya terhadap umat, terutama ketika umat ini dalam kondisi terpecah belah dan lemah.

    Tentunya kita sangat membutuhkan buku-buku karangan beliau, dan juga buku-buku seluruh ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dalam memahami kaidah-kaidah agama dan ushuluddin dan syariat. Hanya Allah sajalah yang kuasa memberi petunjuk kepada jalan yang benar, khususnya dalam kondisi umat yang dirudung fitnah dan lemah sekarang ini.

    (Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Medani)

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

    ……………

    Artikel Almanhaj.or.id

    Barokallohufiik !

    PERNYATAAN ULAMA BESAR MADINAH AN NABAWIYAH TERKAIT BERDIRINYA KHILAFAH ISIS

    Ulama Besar Arab Saudi, Ahli Hadits Kota Suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr  hafizhahullah berkata dalam risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah” di website resmi beliau,

    بسم الله الرحمن الرحيم

    الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛

    Sungguh telah lahir di Iraq beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri Daulah (Negara) Islam Iraq dan Syam, dan dikenal dengan empat huruf awal nama daulah khayalan tersebut yaitu [داعش] (ISIS), dan muncul bersamaan dengan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang yang mengamati tingkah pola dan pergerakan mereka, sejumlah nama sebagai julukan bagi anggota mereka dengan sebutan: Abu Fulan Al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, kuniah (julukan) yang disertai penisbatan kepada negeri atau kabilah, inilah kebiasaan orang-orang majhul (yang tidak dikenal), bersembunyi di balik julukan dan penisbatan.

    Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah[1] dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.

    Dan di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka merubah nama kelompok mereka menjadi “Al-Khilafah Al-Islamiyah”. Khalifahnya yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

    مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

    “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [HR. Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

    Dan kalimat yang ia katakan dalam khutbahnya tersebut, telah dikatakan oleh khalifah pertama dalam Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaahu, dan beliau adalah orang terbaik umat ini, sedang umat ini adalah umat yang terbaik di antara umat-umat yang ada, beliau mengatakan demikian dalam rangka tawadhu’ (bersikap rendah hati) sedang beliau mengetahui, para sahabat juga mengetahui bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya dari ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

    Termasuk kebaikan (yang kami nasihatkan) untuk kelompok ini, hendaklah mereka sadar diri dan kembali kepada kebenaran, sebelum daulah mereka hilang terbawa angin seperti daulah-daulah lain yang semisalnya di berbagai masa.

    Dan sangat disayangkan, fitnah (bencana) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima oleh anak-anak muda yang bodoh di negeri Al-Haramain, mereka menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan terhadap khilafah khayalan ini layaknya kebahagiaan orang yang haus terhadap minuman, dan diantara mereka ada yang berkhayal telah membai’at khalifah majhul ini! Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!

    Wajib atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri dari ikut-ikutan di belakang para provokator, dan hendaklah dalam setiap tindakan mereka kembali kepada dalil yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan dari Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, karena padanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaklah mereka kembali merujuk kepada para ulama yang menasihati mereka dan menasihati kaum muslimin.

    Diantara contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena merujuk kepada ulama, adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih beliau (no. 191) dari Yazid Al-Faqir, ia berkata,

    كُنْتُ قَدْ شَغَفَنِى رَأْىٌ مِنْ رَأْىِ الْخَوَارِجِ فَخَرَجْنَا فِى عِصَابَةٍ ذَوِى عَدَدٍ نُرِيدُ أَنْ نَحُجَّ ثُمَّ نَخْرُجَ عَلَى النَّاسِ – قَالَ – فَمَرَرْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَإِذَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ – جَالِسٌ إِلَى سَارِيَةٍ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فَإِذَا هُوَ قَدْ ذَكَرَ الْجَهَنَّمِيِّينَ – قَالَ – فَقُلْتُ لَهُ يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِى تُحَدِّثُونَ وَاللَّهُ يَقُولُ (إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ) وَ (كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا) فَمَا هَذَا الَّذِى تَقُولُونَ قَالَ فَقَالَ أَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَعْنِى الَّذِى يَبْعَثُهُ اللَّهُ فِيهِ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- الْمَحْمُودُ الَّذِى يُخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ. – قَالَ – ثُمَّ نَعَتَ وَضْعَ الصِّرَاطِ وَمَرَّ النَّاسِ عَلَيْهِ – قَالَ – وَأَخَافُ أَنْ لاَ أَكُونَ أَحْفَظُ ذَاكَ – قَالَ – غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ زَعَمَ أَنَّ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا فِيهَا – قَالَ – يَعْنِى فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ عِيدَانُ السَّمَاسِمِ. قَالَ فَيَدْخُلُونَ نَهْرًا مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُونَ فِيهِ فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ الْقَرَاطِيسُ. فَرَجَعْنَا قُلْنَا وَيْحَكُمْ أَتُرَوْنَ الشَّيْخَ يَكْذِبُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَجَعْنَا فَلاَ وَاللَّهِ مَا خَرَجَ مِنَّا غَيْرُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَوْ كَمَا قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ

    “Aku pernah terpengaruh oleh satu pemikiran Khawarij, maka kami beberapa orang pergi untuk berhaji, kemudian kami ingin memberontak, kami pun melewati kota Madinah, ternyata ada sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma sedang duduk di sebuah sudut, beliau sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau telah menyebutkan tentang al-jahannamiun (orang-orang yang dibebaskan dari neraka setelah diazab, lalu dimasukkan ke surga). Maka aku berkata kepadanya: Wahai sahabat Rasulullah, mengapa engkau menyampaikan ini padahal Allah telah berfirman,

    إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ

    “Sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.” (Ali Imron: 192)

    Dan firman Allah ta’ala,

    كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا

    “Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (As-Sajadah: 20)

    Maka apa yang bisa engkau katakan?

    Beliau berkata: Apakah kamu membaca Al-Qur’an?

    Aku berkata: Ya.

    Beliau berkata: Apakah kamu pernah mendengar ayat tentang kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang akan Allah bangkitkan beliau dalam kedudukan ini?

    Aku berkata: Ya.

    Beliau berkata: Sesungguhnya itu kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang terpuji, yang dengan itu Allah mengeluarkan sebagian orang dari neraka.

    Kemudian beliau menyebutkan tentang peletakan jembatan (shiroth) dan lewatnya manusia di atasnya –aku khawatir menyampaikannya karena aku tidak menghapalnya dengan baik, yang pasti beliau menyebutkan tentang satu kaum yang keluar dari neraka setelah mereka diazab di dalamnya, mereka keluar dalam bentuk seperti biji wijen yang terbakar sinar matahari- Beliau berkata: Mereka lalu masuk ke salah satu sungai di surga, mereka mandi padanya, lalu mereka keluar dalam bentuk seperti kertas-kertas putih.

    Kami pun kembali, lalu kami berkata kepada rombongan kami, celaka kalian apakah kalian menganggap Asy-Syaikh (Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (beliau tidak mungkin berdusta)?! Maka kami pun kembali, demi Allah (setelah itu) tidak ada seorang pun dari kami yang keluar (mengikuti Khawarij) kecuali satu orang –atau seperti yang dikatakan oleh Abu Nu’aim-.” [HR. Muslim]

    Abu Nu’aim adalah Al-Fadhl bin Dukain, beliau adalah salah seorang perawi hadits ini. Dan hadits ini menunjukkan bahwa kelompok ini telah tertipu dengan pemikiran Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini kekalnya di neraka, dan dengan pertemuan bersama sahabat Jabir radhiyallahu’anhu dan penjelasan beliau, maka mereka kemudian mengikuti bimbingan beliau, meninggalkan kebatilan yang mereka pahami dan tidak jadi memberontak yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah melaksanakan haji, maka ini adalah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang muslim apabila ia merujuk kepada ulama.

    Dan yang menunjukkan bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu,

    إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

    “Sesungguhnya yang aku takuti menimpa kalian, adanya orang yang membaca Al-Qur’an, sampai apabila telah terlihat sinarnya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, maka ia pun berlepas diri darinya dan membuangnya di belakang punggungnya, lalu ia memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah melakukan syirik. Aku (Hudzaifah) berkata: Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas dihukumi syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh? Beliau bersabda: Bahkan yang menuduh.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Al-Bazzar, lihat Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 3201]

    Anak muda, umumnya buruk pemahaman, yang menunjukkan hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau (no. 4495) dengan sanadnya kepada Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, bahwa beliau berkata,

    قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

    “Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan aku ketika itu masih berumur muda: Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya.” Maka aku berpendapat bahwa tidak ada dosa atas seorang pun yang tidak melakukan sa’i antara Shofa dan Marwah?

    Aisyah berkata: Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf (sa’i) pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshor, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid, dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, maka ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan (firman-Nya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya”.” [HR. Al-Bukhari]

    Padahal ‘Urwah bin Az-Zubair termasuk sebaik-baik tabi’in, salah seorang dari 7 Fuqoha Madinah di masa tabi’in, beliau telah menyiapkan ‘udzurnya pada kesalahan beliau dalam memahami, yaitu keadaan beliau yang masih berumur muda ketika bertanya kepada Aisyah, maka jelaslah anak muda umumnya jelek pemahaman, dan bahwa kembali kepada ulama adalah kebaikan dan keselamatan.

    Dan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 7152) dari Jundab bin Abdullah radhiyallahu’anhu, ia berkata,

    إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل

    “Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik hendaklah ia lakukan, siapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan sepenuh genggaman darah yang ia tumpahkan hendaklah ia lakukan.” [HR. Al-Bukhari]

    Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (13/130),

    ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ

    “Hadits ini secara marfu’ terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, dari Al-Hasan, dari Jundab dengan lafaz: Kalian mengetahui bahwa aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

    تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه

    “Janganlah terhalangi antara seorang dari kalian dan surga dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga.”

    Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”

    Dan hadits-hadits serta atsar-atsar ini sebagiannya telah aku sebutkan dalam risalah,

    بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهادا؟! ويحكم أفيقوا يا شباب

    “Dengan akal dan agama apakah hingga pengeboman dan penghancuran dianggap jihad?! Kasihan kalian, sadarlah wahai para pemuda”

    Dalam risalah ini terdapat beberapa ayat, hadits dan atsar yang banyak tentang haramnya bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa hak. Risalah ini telah dicetak secara terpisah pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama risalah lain yang berjudul,

    بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير

    “Mengerahkan nasihat dan peringatan untuk sisa-sisa orang yang tertipu dengan pengkafiran dan pengeboman” termasuk dalam kumpulan kitab-kitab dan risalah-risalahku juz ke 6 hal. 225-279.

    Dan untuk para pemuda yang telah ikut-ikutan di belakang penyeru kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka mengoreksi diri, kembali kepada kebenaran dan jangan berfikir untuk bergabung dengan mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dengan bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan pisau-pisau yang telah menjadi ciri khas kelompok ini, dan (kepada para pemuda Arab Saudi) hendaklah mereka tetap konsisten dalam mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya, demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

    Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbaiki kondisi kaum muslimin di setiap tempat, memberi hidayah kepada para pemuda kaum muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, menjaga negeri Al-Haramain baik pemerintah maupun masyarakat dari setiap kejelekan, memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejelekan orang-orang yang jelek dan makar orang-orang yang buruk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

    وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه

    FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

    …………………………………………………………

    [1] Pemerintah Syi’ah Suriah saat ini beraqidah kufur dan syirik, membantai rakyatnya sendiri, Ahlus Sunnah Suriah.

    Baokallohufiikum !

    SERUAN ULAMA TERKAIT ISIS

    Oleh: Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad

    Ulama Besar Arab Saudi, Ahli Hadits Kota Suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah berkata dalam risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah” di website resmi beliau,

    Seruan Ulama Besar Ahlus Sunnah Terkait ISIS

    بسم الله الرحمن الرحيم

    الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛

    Sungguh telah lahir di Iraq beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri Daulah (Negara) Islam Iraq dan Syam, dan dikenal dengan empat huruf awal nama daulah khayalan tersebut yaitu [داعش] (ISIS), dan muncul bersamaan dengan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang yang mengamati tingkah pola dan pergerakan mereka, sejumlah nama sebagai julukan bagi anggota mereka dengan sebutan: Abu Fulan Al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, kuniah (julukan) yang disertai penisbatan kepada negeri atau kabilah, inilah kebiasaan orang-orang majhul (yang tidak dikenal), bersembunyi di balik julukan dan penisbatan.

    Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah[1] dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.

    Dan di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka merubah nama kelompok mereka menjadi “Al-Khilafah Al-Islamiyah”. Khalifahnya yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

    مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

    “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [HR. Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

    Dan kalimat yang ia katakan dalam khutbahnya tersebut, telah dikatakan oleh khalifah pertama dalam Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaahu, dan beliau adalah orang terbaik umat ini, sedang umat ini adalah umat yang terbaik di antara umat-umat yang ada, beliau mengatakan demikian dalam rangka tawadhu’ (bersikap rendah hati) sedang beliau mengetahui, para sahabat juga mengetahui bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya dari ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

    Termasuk kebaikan (yang kami nasihatkan) untuk kelompok ini, hendaklah mereka sadar diri dan kembali kepada kebenaran, sebelum daulah mereka hilang terbawa angin seperti daulah-daulah lain yang semisalnya di berbagai masa.

    Dan sangat disayangkan, fitnah (bencana) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima oleh anak-anak muda yang bodoh di negeri Al-Haramain, mereka menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan terhadap khilafah khayalan ini layaknya kebahagiaan orang yang haus terhadap minuman, dan diantara mereka ada yang berkhayal telah membai’at khalifah majhul ini! Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!

    Wajib atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri dari ikut-ikutan di belakang para provokator, dan hendaklah dalam setiap tindakan mereka kembali kepada dalil yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan dari Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, karena padanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaklah mereka kembali merujuk kepada para ulama yang menasihati mereka dan menasihati kaum muslimin.

    Diantara contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena merujuk kepada ulama, adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih beliau (no. 191) dari Yazid Al-Faqir, ia berkata,

    كُنْتُ قَدْ شَغَفَنِى رَأْىٌ مِنْ رَأْىِ الْخَوَارِجِ فَخَرَجْنَا فِى عِصَابَةٍ ذَوِى عَدَدٍ نُرِيدُ أَنْ نَحُجَّ ثُمَّ نَخْرُجَ عَلَى النَّاسِ – قَالَ – فَمَرَرْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَإِذَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ – جَالِسٌ إِلَى سَارِيَةٍ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فَإِذَا هُوَ قَدْ ذَكَرَ الْجَهَنَّمِيِّينَ – قَالَ – فَقُلْتُ لَهُ يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِى تُحَدِّثُونَ وَاللَّهُ يَقُولُ (إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ) وَ (كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا) فَمَا هَذَا الَّذِى تَقُولُونَ قَالَ فَقَالَ أَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَعْنِى الَّذِى يَبْعَثُهُ اللَّهُ فِيهِ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- الْمَحْمُودُ الَّذِى يُخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ. – قَالَ – ثُمَّ نَعَتَ وَضْعَ الصِّرَاطِ وَمَرَّ النَّاسِ عَلَيْهِ – قَالَ – وَأَخَافُ أَنْ لاَ أَكُونَ أَحْفَظُ ذَاكَ – قَالَ – غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ زَعَمَ أَنَّ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا فِيهَا – قَالَ – يَعْنِى فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ عِيدَانُ السَّمَاسِمِ. قَالَ فَيَدْخُلُونَ نَهْرًا مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُونَ فِيهِ فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ الْقَرَاطِيسُ. فَرَجَعْنَا قُلْنَا وَيْحَكُمْ أَتُرَوْنَ الشَّيْخَ يَكْذِبُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَجَعْنَا فَلاَ وَاللَّهِ مَا خَرَجَ مِنَّا غَيْرُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَوْ كَمَا قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ

    “Aku pernah terpengaruh oleh satu pemikiran Khawarij, maka kami beberapa orang pergi untuk berhaji, kemudian kami ingin memberontak, kami pun melewati kota Madinah, ternyata ada sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma sedang duduk di sebuah sudut, beliau sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau telah menyebutkan tentang al-jahannamiun (orang-orang yang dibebaskan dari neraka setelah diazab, lalu dimasukkan ke surga). Maka aku berkata kepadanya: Wahai sahabat Rasulullah, mengapa engkau menyampaikan ini padahal Allah telah berfirman,

    إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ

    “Sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.” (Ali Imron: 192)

    Dan firman Allah ta’ala,

    كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا

    “Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (As-Sajadah: 20)

    Maka apa yang bisa engkau katakan?

    Beliau berkata: Apakah kamu membaca Al-Qur’an?

    Aku berkata: Ya.

    Beliau berkata: Apakah kamu pernah mendengar ayat tentang kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang akan Allah bangkitkan beliau dalam kedudukan ini?

    Aku berkata: Ya.

    Beliau berkata: Sesungguhnya itu kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang terpuji, yang dengan itu Allah mengeluarkan sebagian orang dari neraka.

    Kemudian beliau menyebutkan tentang peletakan jembatan (shiroth) dan lewatnya manusia di atasnya –aku khawatir menyampaikannya karena aku tidak menghapalnya dengan baik, yang pasti beliau menyebutkan tentang satu kaum yang keluar dari neraka setelah mereka diazab di dalamnya, mereka keluar dalam bentuk seperti biji wijen yang terbakar sinar matahari- Beliau berkata: Mereka lalu masuk ke salah satu sungai di surga, mereka mandi padanya, lalu mereka keluar dalam bentuk seperti kertas-kertas putih.

    Kami pun kembali, lalu kami berkata kepada rombongan kami, celaka kalian apakah kalian menganggap Asy-Syaikh (Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (beliau tidak mungkin berdusta)?! Maka kami pun kembali, demi Allah (setelah itu) tidak ada seorang pun dari kami yang keluar (mengikuti Khawarij) kecuali satu orang –atau seperti yang dikatakan oleh Abu Nu’aim-.” [HR. Muslim]

    Abu Nu’aim adalah Al-Fadhl bin Dukain, beliau adalah salah seorang perawi hadits ini. Dan hadits ini menunjukkan bahwa kelompok ini telah tertipu dengan pemikiran Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini kekalnya di neraka, dan dengan pertemuan bersama sahabat Jabir radhiyallahu’anhu dan penjelasan beliau, maka mereka kemudian mengikuti bimbingan beliau, meninggalkan kebatilan yang mereka pahami dan tidak jadi memberontak yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah melaksanakan haji, maka ini adalah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang muslim apabila ia merujuk kepada ulama.

    Dan yang menunjukkan bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu,

    إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

    “Sesungguhnya yang aku takuti menimpa kalian, adanya orang yang membaca Al-Qur’an, sampai apabila telah terlihat sinarnya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, maka ia pun berlepas diri darinya dan membuangnya di belakang punggungnya, lalu ia memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah melakukan syirik. Aku (Hudzaifah) berkata: Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas dihukumi syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh? Beliau bersabda: Bahkan yang menuduh.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Al-Bazzar, lihat Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 3201]

    Anak muda, umumnya buruk pemahaman, yang menunjukkan hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau (no. 4495) dengan sanadnya kepada Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, bahwa beliau berkata,

    قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

    “Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan aku ketika itu masih berumur muda: Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya.” Maka aku berpendapat bahwa tidak ada dosa atas seorang pun yang tidak melakukan sa’i antara Shofa dan Marwah?

    Aisyah berkata: Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf (sa’i) pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshor, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid, dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, maka ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan (firman-Nya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya”.” [HR. Al-Bukhari]

    Khawarij Menghapal Al-Qur’an Namun Tidak Memahaminya Seperti Pemahaman Salaf

    Padahal ‘Urwah bin Az-Zubair termasuk sebaik-baik tabi’in, salah seorang dari 7 Fuqoha Madinah di masa tabi’in, beliau telah menyiapkan ‘udzurnya pada kesalahan beliau dalam memahami, yaitu keadaan beliau yang masih berumur muda ketika bertanya kepada Aisyah, maka jelaslah anak muda umumnya jelek pemahaman, dan bahwa kembali kepada ulama adalah kebaikan dan keselamatan.

    Dan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 7152) dari Jundab bin Abdullah radhiyallahu’anhu, ia berkata,

    إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل

    “Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik hendaklah ia lakukan, siapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan sepenuh genggaman darah yang ia tumpahkan hendaklah ia lakukan.” [HR. Al-Bukhari]

    Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (13/130),

    ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ

    “Hadits ini secara marfu’ terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, dari Al-Hasan, dari Jundab dengan lafaz: Kalian mengetahui bahwa aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

    تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه

    “Janganlah terhalangi antara seorang dari kalian dan surga dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga.”

    Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”

    Dan hadits-hadits serta atsar-atsar ini sebagiannya telah aku sebutkan dalam risalah,

    بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهادا؟! ويحكم أفيقوا يا شباب

    “Dengan akal dan agama apakah hingga pengeboman dan penghancuran dianggap jihad?! Kasihan kalian, sadarlah wahai para pemuda”

    Dalam risalah ini terdapat beberapa ayat, hadits dan atsar yang banyak tentang haramnya bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa hak. Risalah ini telah dicetak secara terpisah pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama risalah lain yang berjudul,

    بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير

    “Mengerahkan nasihat dan peringatan untuk sisa-sisa orang yang tertipu dengan pengkafiran dan pengeboman” termasuk dalam kumpulan kitab-kitab dan risalah-risalahku juz ke 6 hal. 225-279.

    Dan untuk para pemuda yang telah ikut-ikutan di belakang penyeru kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka mengoreksi diri, kembali kepada kebenaran dan jangan berfikir untuk bergabung dengan mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dengan bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan pisau-pisau yang telah menjadi ciri khas kelompok ini, dan (kepada para pemuda Arab Saudi) hendaklah mereka tetap konsisten dalam mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya, demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

    Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbaiki kondisi kaum muslimin di setiap tempat, memberi hidayah kepada para pemuda kaum muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, menjaga negeri Al-Haramain baik pemerintah maupun masyarakat dari setiap kejelekan, memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejelekan orang-orang yang jelek dan makar orang-orang yang buruk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

    وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه

    FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

    [1] Pemerintah Syi’ah Suriah saat ini beraqidah kufur dan syirik, membantai rakyatnya sendiri, Ahlus Sunnah Suriah (Pen).

    DICOPY dari http://sofyanruray.info/seruan-ulama-besar-arab-saudi-terkait-isis/

    http://ulamasunnah.wordpress.com/

    Barokallohufyik !

    SAUDARAKU, INILAH PENDAPAT ULAMA SALAF TENTANG ISIS

    → Komentar asy-Syaikh Shalih as-Suhaimiy -Hafizhohullah- mengenai ISIS

    Penanya:

    Semoga Allah ta’ala mencurahkan kebaikan kepada Anda… Mohon penjelasan tentang Khilafah Islamiyah yang dideklarasikan kemarin..

    Jawab :

    Saudaraku… Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Telah tampak berbagai kerusakan di daratan dan lautan, akibat perbuatan tangan manusia”. (QS. ar-Rum/30 : 41). Kerusakan disini bisa disebabkan oleh sikap esktrim (radikal) atau sebaliknya, disebabkan oleh sikap lembek (deradikal).

    Kerusakan yang disebabkan oleh sikap tafrith (Lembek dan meremehkan), contohnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang mulhid, sekuler, dan liberal. Serta orang-orang yang menyeru kepada kemungkaran, kekejian, perbuatan merusak, ‘kebebasan’ (alias kebablasan) dan kedungungan. Ini point yang pertama.

    Kedua: Kerusahan yang disebabkan oleh para penyeru ifrath (sikap berlebihan atau ekstrim), seperti yang dilakukan oleh orang-orang khawarij dan semua kelompok yang sejalan dengan prinsip mereka.

    Hari ini orang-orang dungu mempoklamatirkan berdirinya Daulah Khilafah Islamiyyah (yang sejatinya hanya khayalan). Sebenarnya ini cerita lama yang telah kami ketahui sejak 80 tahun lalu. Mereka membai’at seorang khalifah secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dikarenakan metode mereka dalam beragama nyleneh. Setiap dari mereka membai’at orang yang majhul (tidak dikenal atau tidak jelas ) secara sembunyi-sembunyi.

    Kemudian hari ini (kejadian itu terulang kembali), mereka kembali memproklamirkan – betapa seringnya mereka memproklamirkan (khilafah khayalan semacam ini)– . Apabila Sang Poklamator dibunuh atau meninggal, mereka akan menunjuk khalifah yang baru. Semacam ini mirip dengan keyakinan Mahdi versi Rafidlah -wal’Iyya dzu billah-.

    Khilafah yang dideklarasikan ini adalah Khilafah untuk kaum muslimin selurunya ?! Mereka mendeklarasikan bahwa khilafah ini untuk kaum muslimin seluruhnya?! Setelah mereka puas menyembelih dan melakukan berbagai bentuk aniaya terhadap saudara-saudara kita di Iraq?! Padahal baik khilafah khayalan ini maupun rival mereka yaitu Syi’ah Rafidlah, dua-duanya tidak di atas kebaikan, keduanya sama-sama tidak menginginkan kebaikan untuk umat Islam !

    Maka sudah seharusnya bagi kita untuk mewaspadai kedua kelompok ini; kelompok ISIS dan juga rival mereka yaitu rafidlah. Keduanya sama-sama di atas keburukan yang berantai, mereka semua berada di atas kesesatan, semuanya sepakat secara diam-diam untuk memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    Waspadalah dari bai’at khurafat semacam ini. Sejatinya ini adalah gerakan dajjal yang mereka poles dengan nama “Khalifah Muslimin masa kini”. Dia ini (Sang Poklamator) sejatinya dajjal, pendusta dan termasuk dari barisan para dai yang memyeru kepada kebatilan. Bagaimana tidak ? ia telah menggorok leher kaum muslimin di Suriah, dan sekarang dia berulah kembali untuk menyembeleh kaum muslimin di Iraq!! Dia telah bekerjasama dengan pemerintah tirani Suriah untuk membasmi kaum muslimin.

    Oleh karena itu pemerintah tirani Suriah membiarkan dia dan tidak memeranginya sama sekali.

    Namun saat ini, seluruh kekuatan jelek bersekongkol, barat dan para sekutunya ada dibelakang mereka untuk memberi dukungan kepada penyeru kebathilan yang mendakwakan “Daulah Khilafah” “Daulah Rafidlah”. Semua nama polesan ini sekarang berupaya menipu Islam dan kaum muslimin.

    Kita memohon kepada Allah – tabaraka wa ta’ala – agar meninggikan kalimat-Nya, menolong agama-Nya dan menumpas orang-orang yang buruk (menyimpang) dari kalangan ahlul bid’ah, pengekor hawa nafsu, dan musuh-musuh agama, siapa pun mereka, baik radikalis maupun deradikalis. Mereka adalah para dajjal, jangan sampai kalian tergabung dalam jaringan mereka!!

    Maksudnya adalah mereka tatkala mendirikan sebuah negara di suatu negeri, salah seorang pemimpin mereka mengira bahwa ia telah bemimpi bertemu Nabi. Dalam mimpi itu Nabi bersabda kepadanya,” Fulan yang akan mengimami sholat kalian . Saya tidak mengimami sholat kalian..” atau bersabada begini, ” Hari ini yang akan mengimani sholat kalian adalah fulan dari kalangan manusia.” atau bahwasannya malaikat Jibril mengimami mereka di lapangan ini dan ini.” Lihatlah bagaimana dajjal medakwakan igauwan ini.. Kita memohon kepada Allah perlindungan dan keselamatan. Maka waspadailah wahai kaum muslimin..

    Kemudian sebagaimana wasiat yang telah kusampaikan kepada penduduk Iraq belum lama ini, dan wasiatku kepada penduduk negeri lain sejak dahulu; Yaitu, hendaknya mereka tetap tinggal di rumah masing-masing. Kalau mereka diserang, maka silahkan membela diri. Barangsiapa yang terbunuh demi membela harta, kehormatan, atau jiwanya, maka dia syahid.

    Jangan ikut-ikutan dalam barisan pasukan kelompok-kelompok semacam ini. Mereka semua itu berada dalam kesesatan; baik Daulah Rafidlah, atau Daulah Syam dan Iraq atau (lebih pantas bila disebut) Daulah Khilafah Khayalan.

    Mereka semua bertolak belakang dengan Ahlus Sunnah wal jama’ah. Jangan sampai kita tersibukkan oleh mereka, tidak ada perlunya kita terhadap mereka. Bahkan kita tetap beribadah kepada Allah, belajar, dan menuntut ilmu agama Allah, hingga Allah mencabut ruh kita dalam keadaan baik atau mengistirahatkan kita dari gangguan para pelaku dosa.

    Ditranskrip dari Pelajaran Syarh “Ushulus Sunnah” karya al-Imam Ahmad. Pertemuan ke-3, tanggal 3 Ramadhan 1435 H / 1 Juli 2014.

    Penerjemah: Ahmad Anshori (Mahasiswa Universitas Islam Madinah, KSA)

    Diterjemahkan dari: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145025

    Sumber; http://www.ittibaussunnah.com/komentar-syaikh-shalih-as-suhaimi-hafizhahullah-mengenai-isis/

    Ini nashnya;

    ووصيّته للإخوة في العراق

    قارئ الأسئلة:

    أحسن اللهُ إليكم، بالمُناسبة؛ الكلام عن الخلافة الإسلاميّة التي أُعْلِنَت أمس؟

    الشّيخ:

    آه! ايه ما شاء الله!

    يا إخوتاه: ﴿ظَهَرَ الفَسَادُ فِي البَرِّ وَالبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ﴾، وهذا فسادٌ إمّا بالإفراطِ أو بالتّفريط.

    ← بالتّفريط: من الملاحدة وأصحاب العَلْمَنة واللَّبْرَلَة، ودُعاة الشّرّ ودُعَاة الخنا ودُعاة الفُجور ودُعَاة المسرحيَّات ودُعاة طاش ماطاش وما أدراك ما طاش ماطاش! يتبَاكَوْن عليه لأنّه غير موجود! هذا الجُزء الأوَّل.

    ← الجُزء الثَّاني؛ دُعاة الإفراط: من فِعل الخوارج ومن ينهجُ نَهْجَهُم.

    واليوم أعلن السّفهاء إقامة دولة الخلافة الإسلاميَّة المزعومة! هذه شِنْشنةٌ من 80 سنة نعرفها! يُبايِعُون خليفةً سرّيًا على مَنْهَجِهِم الفاسد، وكُلّهم عندهم بَيْعاتٌ سرّيّة لشخصٍ مجهولٍ!

    واليوم أعلنوه –وكثيرًا ما أعلنوه-! ثُمّ إذا قُتِل من أُعلن أو ذهب من أُعلن جاؤوا بخليفةٍ جديد! وهذا قريبٌ من مهديّ الرّافضة –والعياذُ باللهِ-.

    فهذه الخلافة التي أُعلنَت خلافة المُسلِمين جيمعا يعني!! نُودِيَ به خليفة للُمسلِمين بعد أن ذبَّح وفعل ما فعَل بالإخوة في العراق! لا هُوَ ولا خصومه من الرّافضة ليسوا على خيرٍ؛ الطّرفان كلّهم لا يُريدون خيرًا للأُمَّة الإسلاميَّة.

    فعلينا أن نَّحْذَر من الصّنفين: هُوَ وخُصومُه من الرَّافضة؛ كُلّهم على شرٍّ مُستطير؛ وكُلّهم على ضلالٍ؛ وكُلّهم قد يتّفقون سرًّا على عداوة أهل السُّنّة والجماعة.

    فاحذروا من هذه البَيْعة الخُرافيّة؛ الدَّجل الذي سمَّوه: (خليفة المُسلِمين اليوم!) هذا دجَّالٌ وكذَّابٌ أَشِرٌ من دُعاة الباطل، ذبَّح المُسلِمين في الشَّام والآن جاء يُذبِّح المُسلِمين في العراق! هُوَ تعاون مع طاغية الشَّام في ذبح المُسلمين؛ ولذلك طاغية الشَّام كَفَّ عنهُ تمامًا لا يُقاتِلُهُ لأنّه يُزوِّده بالبترول من دير الزّور! لكن الآن تعاوَنت جميع قُوى الشّرّ ووراءهُم الغرب بقضّه وقضيضه؛ دُعاة الشّرّ فيما يُسمّى بـ: (دولة الخلافة!)   (دولة الرّافضة!) وكُلّ هذه المُسمَّيات الآن تتكالب على الإسلام والمُسلِمين.

    فنسألُ الله -تبارك وتعالى- أن يُعليَ كلمتهُ، وأن ينصُرَ دينه، وأن يقمع أهل الشّرّ من أهل البدع والأهواء ومن أعداء الدِّين أيّا كانوا سواءً المُفرِطين أم المُفرَّطين.

    فهؤلاء دجَّالُونَ، وإيَّاكُم والتّعلّق بهم.

    يعني هُم لمّا قامَت دولتهم في بلدٍ ما زعم أحد مُؤيِّديه أنّه رأى النّبيّ وأنّه قال: فلان يُصلِّي بكم أنا لا أُصلِّي بكم! يُصلِّي بكم فلان من النّاس! أو أنّ جبريل صلّى بهم في ميدان كذا وكذا!

    رأيتُمُ الدَّجَل الذي يدَّعُونَهُ!! -نسألُ الله العافيةَ والسّلامة-، فعلى المُسلِمين أن ينتبهوا.

    وكما أوصيت الإخوة في العراق بالأمس؛ كما أوصيتُهم من زمانٍ في بلاد أخرى:

    يلزموا بيوتهم، فإن اعتُدِيَ عليهم فَلْيُدافعوا عن أنفسهم، ومن قُتِلَ دون ماله أو عرضه أو نفسه فهو شهيدٌ.

    لكن لا يُقاتلوا مع هذه الأحزاب كلّها، فكلّها على ضلال سواء دولة الرّفض أو دولة الشَّام والعراق أو دولة الخلافة المزعومة!

    كلّهم ضدَّ أهل السُّنّة والجماعة، فلا نشتغل بهم، ولا شأن لنا بهم، بَل نعبدُ الله ونتعلّم ونتفقّه في دين الله إلى أن يستريحَ بَرٌّ أو يُستراح من فاجرٍ، نعم.اهـ (1)

    فرّغه:/ أبو عبد الرحمن أسامة

    04 / رمضان / 1435هـ

    ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
    (1) من شرحِ فضيلة الشّيخ العلاّمة: صالح بن سعد السّحيميّ -حَفِظَهُ اللهُ- لـ: (أصول السُّنّة للإمام أحمد / الدَّرس الثَّالث) يوم: 03 / رمضان / 1435هـ، بالمسجد النّبويّ ..

    =============================

    https://cintakajiansunnah.wordpress.com/

    Barokallohufyik !

    USTADZ FIRANDA : ISIS MEMANG BERBAHAYA, TAPI SYIAH JAUH LEBIH BERBAHAYA

    Isu ISIS yang tengah menghangat di Indonesia dan dunia internasional karena blow up media-media sekuler barat, demikian juga dengan media-media di negeri ini yang ikut membebek dan berkiblat ke barat.

    Kebengisan tentara ISIS yang melampaui batas ini dimanfaatkan oleh Syiah untuk menghantam Ahlussunnah secara umum. Kebiadaban yang dilakukan oleh Basyar Al Assad dan pasukannya terhadap kaum muslimin Suriah kini terlupakan oleh berita ISIS. Kemudian Syiah menghembuskan opini bahwa Ahlussunnah adalah kumpulan orang-orang yang kejam. Padahal Ahlussunnah sendiri sepakat bahwa ISIS adalah kelompok sesat.

    Ustadz Firanda Andirja dalam kajian “Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Isu ISIS” di masjid Darul Ilmi PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) Rabu (3/9/2014) mengatakan, Syiah sengaja memanfaatkan isu ISIS untuk menghantam Ahlussunnah.

    “ISIS adalah isu yang banyak dimanfaatkan oleh banyak pihak, diantaranya adalah Syiah,” kata ustadz Firanda.

    Ustadz Firanda menambahkan, ucapan para tokoh Syiah tentang ISIS diarahkan kepada Ahlussunnah dan untuk membentuk opini publik bahwa biang radikalisme berasal dari Ahlussunnah bukan Syiah.

    “Jalaluddin Rakhmat, tokoh Syiah Indonesia mengatakan bahwa ciri-ciri ISIS adalah tauhid, jadi kalau yang sering membahas tauhid maka dia adalah ISIS,” ujarnya.

    Pengajar di masjid Nabawi ini menegaskan bahwa ISIS memang berbahaya tetapi Syiah juga sangat berbahaya.

    “Syiah adalah bahaya yang terorganisir (sudah ada dari zaman Sahabat), dan isu ISIS ini dimanfaatkan oleh Syiah untuk menjatuhkan Ahlussunnah,” terangnya.

    ISIS juga, kata mahasiswa S3 Universitas Islam Madinah ini, bukan hanya dimanfaatkan oleh Syiah tapi oleh orang-orang kafir juga.

    “Orang-orang kafir memanfaatkan sepak terjang ISIS ini untuk menjatuhkan Islam,” paparnya.(iz/gemaislam)

    ﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉

    → ISIS di perangi. Milisyi Syi`ah al Hut di Yaman dan Israil di biarkan

    http://mantankyainu.blogspot.com/2014/09/inggris-enggan-ikut-as-untuk-serang.html

    Bacalah  artikel ini:

    Inggris Enggan Ikut AS untuk Serang ISIS di Suriah

    REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN —
    Inggris tidak akan bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam serangan udara terhadap militan ISIS di Suriah.
    “Biarkan saya memperjelas, Inggris tidak akan mengambil bagian dalam serangan udara di Suriah,” kata Menlu Philip Hammond di Berlin, Kamis (11/9).

    “Kami sudah berdiskusi di parlemen kami tahun lalu dan kami tidak akan mengunjungi kembali posisi itu.”
    Menurutnya, Inggris sudah menegaskan sikap untuk tidak memberikan kontribusi terhadap serangan itu. Meski pun ISIS telah berusaha untuk membentuk suatu entitas yang mencakup Suriah dan perbatasan Irak.
    Ia menilai, Suriah dan Irak memiliki perbedaan dalam hal lingkungan hukum. Termasuk hal permisif iklim militer masing-masing.

    “Kami mendengarkan sangat hati-hati semalam terhadap apa yang presiden AS katakan. Kami mendukung sepenuhnya pendekatan AS mengembangkan koalisi internasional dan regional yang mendukung pemerintah Irak.”

    Namun, katanya, Inggris menentang gagasan kalau ISIS tak terbendung.

    “Kita harus mendorong mereka kembali. Kita harus menantang legitimasi mereka di mata Muslim garis keras dan proses yang telah dimulai dengan banyak ulama Islam berbicara menentang ideologi yang mereka anut,” ujar dia.

    ↗ Komentarku ( Mahrus ali ):

    Sungguh heran idiologi yang dipakai oleh Yahudi Amirika. Diskriminasi yang mencolok, tiada keadilan yang dilakukan oleh Amirika  sebagai negara  super power.

    Gerakan bersenjata Pemberontak Syi`ah  al Hut di Yaman di biarkan, tidak di urus, tidak di ancam dan tidak diperangi.

    Tapi ISIS yang sunni yang menegakkan  sistem al Quran diwilayahnya malah di ancam, diperangi. Bukan saja dari negara Amirika , Eropa tapi dari negara arab yang muslimpun ikut di belakang Amirika  dalam memerangi ISIS. Mengapa  negara – negara muslim  arab turut memerangi ISIS dan membiarkan milisi Syi`ah di Yaman untuk menyerang pemerintah Yaman.  Mereka  tidak membantu Hamas dalam memerangi Israil. Bahkan menghalangi negara Qatar untuk membantu Hamas. Inilah dunia arab yang sudah melepaskan al Qurannya, lalu memerangi sesama muslimnya dan kasih sayang dengan Yahudi yang anak emasnya adalah Israil.

    Jangan berpecah belah, bersatulah, musuh akan ketakutan dan bertekuk lutut di hadapan kaum muslimin. Ingatlah firmanNya:

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

    “Berpegang teguhlah dengan tali Allah, dan jangalah kalian berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103).

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

    “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 105).

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدْ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

    “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. At-Tahrim: 9).

    → Obama iblis dunia ancam ISIS dan sayangi syi`ah.

    http://mantankyainu.blogspot.com/2014/09/obama-iblis-dunia-ancam-isis-dan.html

    Bacalah artikel ini:

    Obama Tidak Akan Membiarkan Berdirinya Khilafah di Suriah & Irak

    AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) – Kamis (11/09/14)

    Presiden AS Barrack Obama memaparkan rencana strategisnya dalam rangka memerangi Islamic State (ISIS). Ia mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa ia akan menghajar personel-personel Daulah Islamiyyah dan tidak akan membiarkan satu tempat aman pun buat mereka.
    “Saya tidak akan ragu untuk bertindak melawan Islamic State di Suriah, begitu juga dengan Irak” tutur Obama. Presiden AS itu memaparkan strateginya di Gedung Putih setelah dua minggu kritikan yang menghantam dirinya atas tuduhan pemerintahnya tidak memiliki strategi untuk menghadapi Islamic State di Suriah.

    “Target kami jelas, kami akan lemahkan dan hancurkan Islamic State melalui strategi komperhensif untuk menghadapi terorisme” jelas Obama sebagaimana yang dilaporkan oleh Al Arabiyya bahwa Obama tidak akan membiarkan berdirinya khilafah di Suriah dan Irak.[usamah/dbs]

    ↗ Komentarku ( Mahrus ali ):

    Bila Obama Iblis dunia laknatullah alaih di gedung hitamnya memberikan ancaman atas berdirinya khilafah Islamiyah, maka pada hakikatnya itu ketakutan sang Iblis bukan menunjukkan keberaniannya. Dia takut bangkitnya Islam yang memiliki kekuatan ampuh untuk menggulingkan rezim – rezim kekufuran yang merupakan sekutu AS itu, senang pada AS, mendukungnya dan anti ISIS lalu menghalangi perkembangannya, lantas menumpasnya. Anehnya Israil dan milisi Syiah di Yaman dibiarkan, tidak diperangi, lalu dipuja dan tidak lecehkan sebagaimana ISIS. Mengapa demikian, jawabannya jelas, tidak samar lagi karena syiah dan Israil sama – sama dalam dunia Iblis yang anti pada dunia Islam militan bukan Islam abal – abal yang masih dalam dunia Iblis dan di sayang oleh Iblis dunia itu. Malaikat dan Allah akan membela kita dan hancurlah kekuatan setan manusia dan jin, lalu tampaklah kelemahan mereka dan ketangguhan anasir dakwah di jalan Allah bukan pion – pion Iblis yang siang dan malam di jalan setan…

    Saya ingat sekali dengan firmanNya:

    الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

    Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. 76 Nisa`

    KAMIS, SEPTEMBER 18, 2014
    → Ya, Daulah Islam Iraq dan Syam adalah “Khawarij”!

    Kamis, 18 Rabi`ul Akhir 1435 Articles, Jihady

    Oleh: Ganna Pryadharizal, Alumnus Universitas al Azhar, Mesir

    Sejak kemunculannya pada April 2013, Daulah Islam Iraq dan Syam (ISIS) yang didirikan demi mengembalikan supremasi syariat Islam, tidak pernah berhenti didera berbagai macam bentuk demonisasi. Secara sederhana, “demonisasi” (demon=setan) berarti sebuah bentuk propaganda untuk menjelek-jelekkan satu pihak sampai sejelek-jeleknya. Sehingga pihak tersebut dianggap sebagai setan oleh orang-orang yang termakan propaganda tersebut.

    Demonisasi menjadi sebuah bagian proses dari “demonologi” yang diartikan Noam Chomsky (1991) dalam bukunya Pirates and Emperor: International Terrorism in the Real World, sebagai sebuah “rekayasa sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman menakutkan, sehingga ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi”.

    Upaya kriminal ini benar-benar dialami ISIS. Begitu banyak upaya dilakukan para musuh untuk mendistorsi setiap tindak-tanduk institusi yang dipimpin oleh Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi.
    Salah satu bentuk demonisasi terhadap ISIS terjadi melalui labelisasi stigma (ciri negatif) dari orang-orang Islam yang sepertinya sangat keberatan dengan tegaknya Daulah Islam. Sangat disayangkan, orang-orang yang mengklaim berafiliasi kepada Islam, ajaran salaf, penuntut ilmu, dan lain sebagainya, justru secara keji mencap ISIS dengan berbagai terminologi (istilah) negatif dan destruktif.

    Di antaranya adalah stigma “Khawarij”.
    “Khawarij!”

    “Khawarij! Khawarij! Khawarij!”

    Inilah komentar dari para ulama komprador (agen) yang menyokong hegemoni para penguasa thaghut kafir tentang qiyadah (pimpinan) dan Mujahidin ISIS. Mereka tidak henti-hentinya menyematkan label “Khawarij” di setiap mimbar masjid, bedah buku, seminar, dialog, dan forum diskusi.

    Selain melancarkan serangan dalam pertempuran fisik, musuh-musuh ISIS memahami pentingnya serangan propaganda melalui perang terminologi. Mereka membombardir ISIS dengan serangkaian istilah buruk untuk meruntuhkan kepercayaan umat. Musuh mengeksploitasi berbagai nama dan istilah yang sesungguhnya sangat tidak tepat disematkan kepada para pejuang tauhid dan Mujahidin. Strategi yang nampak sederhana, namun mematikan.

    Musuh telah menabuh genderang perang istilah. Maka tidak salah jika kita pun bermain dalam Perang Terminologi ini.

    Kita tegaskan; memang benar bahwa ISIS adalah “Khawarij”! Namun menurut makna etimologis (asal-usul kata), yang artinya adalah ‘keluar’.
    Dalam bahasa Arab, kata “Khawarij” merupakan derivasi (bentukan) dari nomina (kata benda) khuruj yang artinya adalah ‘keluar’. Sedangkan menurut istilah dalam aliran pemikiran Islam, Khawarij adalah golongan yang keluar dari barisan penyokong Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan selanjutnya menjelma menjadi satu sekte dengan dogma keagamaan ekstrem.

    Sekali lagi kita tegaskan, ISIS adalah “Khawarij” dan pemimpinnya Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi adalah pemimpin “Khawarij”, namun dalam pengertian ahistoris yang beririsan dengan pengertian dalam studi sejarah Islam.

    ISIS adalah “Khawarij” (keluar). Ya, ISIS keluar di saat kaum Muslimin menggelepar bak ikan yang diburu oleh nelayan. ISIS keluar dari sikap acuh dan berpangku tangan, dan bergerak memompa semangat jihad umat dan memotivasi mereka untuk mendobrak belenggu para thaghut kafir. ISIS keluar dari gerahnya ruang gelap kesyirikan dan kekafiran yang merajalela di bumi kepunyaan Allah Swt, menuju angin segar ditaman hijau yang berpendaran cahaya tauhid.

    ISIS adalah “Khawarij”. Benar, karena ISIS keluar menuju medan jihad Irak dan Suriah untuk menegakkan kalimat la ilaha illallah(tiada sesembahan yang layak disembah selain Allah) dan mengerjakan proyek Khilafah Islamiyah.

    ISIS adalah “Khawarij”, karena mereka keluar dari poros Iblis menuju penyembahan Allah semata. ISIS keluar dari kungkungan para pejabat Gedung Putih (baca: Amerika Serikat) dan negara Zionis Israel. ISIS keluar untuk mencabik-cabik Protokol Zionis dan menghadang orang-orang Zionis yang berkeliaran untuk  membuat kerusakan.
    ISIS adalah “Khawarij”? Betul, karena mereka keluar dari kepatuhan terhadap undang-undang “bumi”, menuju ketaatan mutlak kepada ajaran-ajaran “langit”. Mereka membuang jauh-jauh undang-undang internasional, dan memeluk erat-erat lembaran-lembaran Al-Quran. ISIS keluar untuk meluluh-lantakkan berhala-berhala profan kontemporer, sebagaimana dulu berhala Hubal, Manat, Lata, dan Uzza dihancurleburkan.

    ISIS adalah “Khawarij”? Ya, mereka keluar dari penghambaan sesama manusia, menuju penghambaan kepda Allah Yang Maha Kuasa. Mereka keluar dengan menghunus pedang kemuliaan untuk menuntut balas kepada orang-orang kafir yang telah membuat anak-anak muslim menjadi yatim dan merampas harta-benda kaum muslimin. ISIS keluar dari penderitaan tiada henti, menuju impian eskatologi Islam (kehidupan akhirat).

    ISIS adalah “Khawarij”? Ya, mereka keluar dari jalan tak berujung yang telah membuat banyak manusia tersesat, menuju jalan kebenaran yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan nyata. Mereka keluar dari rumah dan kampung mereka yang fana menuju ‘kampung’ keabadian melalui jalan mati syahid.

    ISIS adalah “Khawarij”! Ya, mereka keluar untuk meniti teladan Rasulullah yang dulu keluar dari Makkah menuju Madinah demi menggembleng keimanan dan kekuatan fisik, serta mendirikan Daulah Islam yang berwibawa. Mereka keluar dari kamp-kamp pelatihan (I’dad) dan kawah candradimuka jihad untuk menaklukkan markas-markas musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dulu Rasulullah keluar dari Madinah untuk menaklukkan Makkah agar tidak ada lagi manusia menghamba kepada selain Allah.

    Ya, ISIS adalah “Khawarij”, karena mereka keluar dari keburukan dengan segenap maknanya, menuju segalakebaikan menurut Allah dan Rasul-Nya. Allah pun akan membantu mereka keluar dari kegelapan, menuju cahaya. Allah berfirman tentang hal ini:“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257). Mujahidin siap berjibaku melawan musuh, di setiap peperangan dalam bentuk apapun (!)

    Editor : Arkan al Fadhil, Shoutussalam

    sENIN, SEPTEMBER 15, 2014
    → Selama ISIS berpegangan syariat, koalisi internasional akan hancur dengan sendirinya.

    Bacalah  artikel ini:

    Dapatkah 40 Negara Barat dan Arab Mengalahkan ISIS?

    PARIS (voa-islam.com) – Tiga puluh negara Barat (kafir musyrik) dan sepuluh negara Arab (munafik) telah berikrar membantu rezim Syi’ah Irak melawan kelompok Daulah Islamiyah Irak dan Suriah atau ISIS “dengan semua cara diperlukan”.

    Sebuah pernyataan bersama dari para menteri luar negeri yang ikut ambil bagian dalam konferensi besar di Paris mengatakan dukungan mereka, termasuk  “bantuan militer yang sesuai” menghadapi ISIS.

    Konferensi ini diadakan untuk menyepakati strategi membasmi kelompok ISIS yang kini menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah. Kemajuan ISIS di Irak dan Suriah telah membuat para pemimpin Barat dan Arab mengalami ketakutan.

    John Kerry, yang menghadiri pertemuan itu, sudah menggalang dukungan untuk rencana aksi yang telah diungkapkan oleh Presiden Barack Obama minggu lalu. Obama bersumpah akan menghancurkan ISIS, dan menggunakan segala kekuatan yang dimiliki AS.

    Pemenggalan James Foley, Steven Sotloff dan David Haines oleh pejuang ISIS yang diposting dalam sebuah video yang dikeluarkan kelompok pejuang ISIS itu pada hari Sabtu, menambah momentum terhadap rencana Obama, ungkap seorang wartawan AFP di Paris.
    Saat membuka pertemuan, Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan ancaman dari DI harus ditanggapi secara global.

    Badan intelijen AS, CIA, memperkirakan bahwa Daulah Islamiyah – yang dulu dikenal sebagai ISIS – memiliki sekitar 20.000 sampai 31.000 pejuang di Irak dan Suriah. Bahkan, Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, mengatakan bahwa ISIS jauh lebih canggih dan hebat dibandingkan al-Qaedah. Dengan dukungan senjata, dana, dan para pejuang yang terlatih, sangat membahayakan bagi Barat, tegasnya.

    Presiden Irak Fuad Masum, yang menjadi tuan rumah konferensi itu bersama-sama dengan Presiden Hollande, mengatakan komunitas internasional harus “dengan cepat” memburu para jihadis (ISIS), tegasnya.
    “Jika intervensi dan dukungan terhadap Irak terlambat datangnya, maka artinya ISIS bisa menduduki wilayah lebih luas lagi dan memberikan ancaman yang lebih besar,” kata Fuad Massum.

    Selanjutnya, Menteri Luar Negeri AS John Kerry akan bertemu para menteri luar negeri dari seluruh dunia di Paris, Prancis hari Senin untuk membahas strategi melumpuhkan militan Daulah Islamiyah atau ISIS.

    Sekitar 40 negara, diantaranya 10 negara-negara Arab, telah menyatakan bergabung dalam koalisi untuk membantu memerangi ISIS di Irak. Ini merupakan kekuatan global yang terbesar sepanjang sejarah menghadapi ISIS. Sementara itu, Prancis mengatakan telah bergabung dengan Inggris untuk mengintai ISIS dari udara di wilayah Irak.

    “Pagi ini, penerbangan pengintaian pertama dilaksanakan atas persetujuan antara Irak dan otoritas negara-negara Arab,” kata Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian mengatakan pada pasukan Prancis hari Senin di pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab.
    Inggris mengungkapkan pada bulan Agustus sejumlah jet Tornado dan pesawat pengintainya telah terlibat dalam pengumpulan informasi intelijen.
    Di bagian lain, sepuluh negara Arab telah menawarkan diri untuk mengambil bagian dalam serangan udara terhadap kelompok pejuang ISIS di Irak, kata para pejabat AS. John Kerry juga sudah bertemu dengan Presiden Mesir, Marsekal al-Sisi, dan menyatakan akan berdiri di garda paling depan dalam memerangi kelompok jihadis.
    Sejak perisistiwa 11 September 2001, pemboman gedung WTC di New York, dan respon Amerika dengan melakukan invasi militer ke Afghanistan, dan kemudian ke Irak, yang bertujuan menghancurkan al-Qaedah, nampaknya   belum tercapai tujuan utama AS.

    AS hanya mampu membunuh Usamah bin Laden, tapi tidak mampu mengalahkan al-Qaedah dan Taliban. Al-Qaedah dan Taliban tetap eksis dan terus berjuang mengalahkan hegemoni Barat yang didukung negara-negara sekutunya, termasuk Arab. Bahkan, al-Qaedah pengaruh terus berkembang di berbagai negara.

    Sekarang lahir kelompok baru ISIS yang lebih menakutkan terhadap Barat. ISIS lebih kuat dan canggih. ISIS mendapatkan dukungan senjata yang sangat luar biasa, dana, pasukan, dan menguasai wilayah yang sangat luas, Irak dan Suriah. Barat dan Arab menggigil melihat ISIS, dan sekarang sudah menjadi Daulah Islam Irak dan Suriah.

    Barat dan Arab akan menghadapi ancaman yang bersifat laten, yaitu ancaman ideologi,  dan tak pernah bisa dihapus. Sekarang berbagai kelompok jihad di berbagai negara telah bergabung dengan Daulah Islam Irak dan Suriah. Sebuah perkembangan yang sangat dramatik.

    AS sejak peristiwa 11 September, sudah melakukan invasi ke Irak dan Afghanistan, mengirimkan ratusan ribu pasukan bersama sekutunya dan didukung kekuatan persenjataan. Semua hanya berakhir dengan kekalahan, dan sangat memalukan. AS meninggalkan Irak. Akhir tahun ini, AS akan meninggalkan Afghanistan. Semua rezim boneka yang dicangkokan di Irak dan Afghanistan telah tersingkir.

    Nuri al-Maliki dan Hamid Karzai yang menjadi kaki-tangan AS telah pergi, dan gagal mengalahkan kekuatan ideologis (Islam). Kejahatan kafir musyrik (Yahudi-Nasrani), tidak akan pernah berhenti, sampai orang-orang mukmin memotong tangan mereka yang penuh dengan darah orang-orang Islam. Wallahu’alam.

    mashadi1211@gmail.com

    ↗ Komentarku ( Mahrus ali ):

    ISIS dalam keadaan  sendirian, dan Amirika, sekutunya dan beberapa negara arab yang muslim ikut nimbrung dalam koalisi internasional. Jadi negara  arab tidak mempertahankan atau mendukung sama  – sama muslimnya  tapi berada di barisan  kafirin untuk mengganyang ISIS yang memeraktekkan hukum Allah di wilayahnya dan membuang hukum thaghutnya…

    Koalisi internasional ini sejak dulu sudah ada, bukan sekarang saja – intinya  terfokus untuk menghadang hukum Allah ditegakkan di atas bumi, lalu  di ganti dengan hukum thaghut dan hukum Allah di injak – injak. Sekarang ISIS sendirian , tapi rupanya banyak kaum jihadi Islami yang sudah berangkat ke sana.

    Saya katakan :

    Engkau ISIS selama hukum Allah ditegakkan di wilayahmu dan hukum Thaghut dikubur, maka  engkau tidak sendirian. Allah bersamamu. 

    Saya  teringat dengan ayat:

    يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

    1. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

    الَّذِينَ اسْتَجَابُواْ لِلّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُواْ مِنْهُمْ وَاتَّقَواْأَجْرٌ عَظِيمٌ

    1. Orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, setelah mereka mendapat luka, berbuat kebaikan, dan bertakwa, [bagi mereka] pahala yang besar.

    الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْحَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

    1. Yaitu orang-orang yang kepada mereka dikatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.” Tapi perkataan itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”

    → Bongkar Kemunafikan Amerika di PBB, Pidato Cristina Fernández Diputus!’

    07 Oktober 2014

    Fiqhislam.com –

    Andai saja Cristina Fernández de Kirchner adalah pemimpin Dunia Arab dan Dunia Islam tentu mantap sekali.

    Disaat para pemimpin dan para menlu negara-negara arab sibuk mencium tangan Tzipi Livni si mentri keadilan israel yang tidak lain adalah penjahat perang I dan II di Gaza, dan mengusap-mengusap tangannya untuk mencari berkah, dan banyak pula yang cari muka dan menampilkan diri agar terlihat konservatif, cinta perdamaian dan normalisasi, dan ada pula yang mengirimkan ucapan selamat untuknya dan militernya karena sukses memenangkan pembunuhan massal di Gaza; tapi tidak demikian halnya dengan Presiden Argentina Cristina Fernández de Kirchner.

    Wanita tangguh ini berdiri tegap di forum PBB membongkar kontradiksi politik Amerika dan berbagai kebohongannya, membuka topeng dan menelanjang wajah jahat dan kesumatnya, taring-taringnya yang tajam dan haus darah, darah bangsa arab dan bangsa muslim secara khusus.
    Cristina Fernández mengecam politik Amerika yang penuh dengan kebencian namun ditutupi dengan topeng perang melawan teroris. Hal itu disampaikan Cristina dengan lantang dan tegas:

    “anda pernah mengeluarkan keputusan untuk memerangi Al-Qaeda setelah 11/09, anda jajah banyak negara dan anda membunuh ratusan ribu penduduknya atas nama perang melawan teroris di Irak dan Afganistan yang sampai saat ini masih saja menjadi negara yang paling bermasalah dengan teroris”.

    Cristina melanjutkan: “Setahun lalu kita pernah bersidang dimana anda semua melabel rezim Asad sebagai teroris dan anda semua mendukung oposisi yang dulu kami anggap sebagai pembangkang, namun sekarang kita bersidang lagi untuk membungkam para pembangkang itu yang ternyata memang teroris dan mayoritas sudah masuk list organisasi-organisasi teroris ekstrimis yang sekarang sudah berubah menjadi super ekstrim.

    Cristina menambahkan, “Dulu, Hizbullah juga pernah anda masukkan dalam list teroris, terakhir diketahui bahwa hizbullah adalah partai besar dan dikenal di Lebanon”.

    “Anda-anda pernah menuduh Iran dibalik ledakan Kedutaan Israel di Buenos Aires tahun 1994, dan sampai hasil inverstigasi sampai saat ini tidak dapat membuktikan bahwa Iran terlibat pada peledakan itu”, lanjutnya.

    Lebih jauh lagi, Cristina berkomentar mendukung korban teror israel di Jalur Gaza, sebuah komentar yang tidak akan pernah keluar dari bibir penguasa arab: “anda semua memejamkan mata di depan musibah yang maha dahsyat yang dilakukan israel yang memakan ribuan korban warga Palestina, bukannya anda-anda fokus pada ribuan korban itu, malah anda fokus pada roket-roket yang jatuh ke Israel yang tidak merugikan apa-apa bagi israel”.

    “hari ini kita bersidang kembali untuk mengeluarkan keputusan internasional untuk mengkriminalian ISIS dan memberangusnya. Negara-negara tempat beradanya ISIS (Suriah & Irak) adalah 2 rezim yang didukung oleh negara-negara yang menjadi konco-konco anda. Negara-negara (arab) itu adalah aliansi tetap negara-negara besar anggota Dewan Keamanan PBB”, tambahnya.

    Mendapatkan pidato pedas ini, terjemahan pidatonya diputus distop, agar pesan-pesanya tidak dapat sampai seluruh penjuru dunia, dan stasiun-stasiun televisi yang melakukan siaran langsung juga memutuskan siarannya. Mereka beralasan bahwa terputusnya siaran-yang seumur-umur tidak pernah terjadi dalam sejarah Dewan Keamanan PBB-adalah karena kesalahan tehnis. Amerika tidak senang dengan pidatonya Christina, maka Amerikapun menggunakan metode teror tehnis untuk menghalangi tersampaikannya kebenaran-kebenaran yang ingin didengarkan khalayak ramai.

    Penguasa arab yang sempat berbicra di sidang PBB senantiasa menyampaikan pidato suram, membosankan, penuh dengan kemunafikan dan senantiasa menjilat Amerika, sangat antusias dalam menampilkan bahaya ISIS dan ekstrimis muslim, tapi tidak ada yang berani menampilkan kebejatan teroris israel kecuali sedikit saja itupun dengan malu-malu.

    Amerika tidak mampu membully Presiden Argentina, karena sang presiden membela para korban nyawa, warga terluka, dan para anak-anak yatim di Gaza, karena Christina adalah presiden yang berkuasa atas kehendak rakyat, memerintah sebuah negara yang senantiasa menjaga kedaulatan rakyat dan martabat rakyat, dan selain itu semua, keberpihakannya senantiasa kepada nilai-nilai keadilan, HAM, dan martabat manusia di seluruh jagat raya, tidak perlu takut dengan Amerika, karena takut tidak punya tempat pada peradaban dan budaya mereka.

    Christina benar. Aliansi yang dikomandoi Amerika menggalang lebih dari 40 negara untuk memborbardir te
    Christina benar. Aliansi yang dikomandoi Amerika menggalang lebih dari 40 negara untuk memborbardir teroris muslim, bukan untuk memborbardir teroris Israel. Bahkan beberapa pilot arab dengan bangganya melakukan serangan udara tersebut untuk membungihanguskan tumpah darah mereka sendiri, dan pada saat yang sama para penguasanya duduk satu meja, makan malam bersama Tzipi Livni sembari membicarakan prosesi pengganyangan Gaza berikutnya.

    Kita sebagai rakyat tidak kuat menahan emosi, karena kita merasa begitu diinjak dan dihinakan ketika melihat tindak-tanduk memalukan dari para pemimpin kita, ketika kekayaan bumi dijarah di depan mata kita, ketika ribuan nyawa rakyat kita direnggut oleh pesawat-pesawat tempur yang dikemudikan oleh arab sendiri, sementara gempuran yang sama tidak pernah mereka lakukan terhadap bumi teroris israel. Dan pastinya kita tidak akan pernah melihat arab yang beraliansi dengan Inggris dan Amerika untuk memborbardir teroris Israel.

    Perbudakan dan nihilnya rasa nasionalisme ini berakibat kepada berhamburannya para pemuda muslim menerobos Suriah dan Irak untuk bergabung ke dalam barisan kelompok-kelompok Islam Politik garis keras, dan pastinya gelombang jihadis ini akan terus meningkat seiring dengan gempuran-gempuran baru yang diluncurkan oleh pesawat-pesawat tempur arab dan Amerika di Irak dan Suriah.

    Terima kasih sebesar-sebesarnya kita sampaikan kepada Chistina, terimakasih atas keberaniannya, terimakasih karena kefemininnya sebagai wanita mengungguli semua pria yang mengklaim diri jantan, terimakasih karena sudah menyampaikan kebenaran tanpa takut kepada Amerika dan pesawat-pesawat tempur dan roket serta balatentaranya. Dan selamat kepada penguasa-penguasa arab yang sudah dapat berkah dan anugerah dari betina Tzipi Livni, jika pun rakyat-rakyat tidak mengadili mereka, dan sidang PBB hanya mainan belaka, maka sejarah tidak akan memberi mereka ampun.

    Dari Benua seberang, dari bangsa-bangsa besar yang sudah melahirka Castro, Chavez, Evo Morales, Che Guevara, tidak aneh kalau juga melahirkan singa betina Christna, sementara bangsa-bangsa pengecut akan selamanya menghamba.
    [yy/theglobal-review]

    http://lamurkha.blogspot.com/?m=1

    Barikallohufyik !

    ISIS SANGAT BERBAHAYA DAN MENGANCAM KEUTUHAN NKRI

    ISIS yaitu Islamic State of Iraq and Syria, adalah organisasi militan yang mengendalikan Irak dan Siria. ISIS mengancam kehancuran permanen di Irak dan Siria, karena ISIS tidak hanya organisasi teroris semata tetapi suatu organisasi yang beroperasi bagaikan sebuah pasukan perang untuk menaklukan Irak dan Siria dan mendirikan undang2 ideologis baru sesuai dengan permainan akhir para ahli jihad global.

    ISIS adalah Muslim Radikal atau Muslim Supremacy bak Nazi, Stalin Supermacy. Siapa yang tidak mengikuti mereka akan dituduh musuh Islam dan musuh Allah dan harus dihukum dan dibunuh dengan kejam. ISIS adalah Muslim Terrorist, ISIS harus dilarangdi bumi Indonesia, kalau tidak akan menghancurkan NKRI seperti di Irak, Siria, Nigeria, Afganistan, Pakistan dll,

    Kita selalu mengklaim bahwa Islam adalah agama damai, dan agama rahmattan lil’alamin bagi semua manusia sesuai dengan nama Islam itu sendiri QS 21:107. Tapi dalam kenyataan sebaliknya. Kita harus akui bahwa pemahaman Islam sekarang ini yang diamalkan oleh umat Islam pada umumnya  tidak membawa umat Islam yang rahmatan lil alamin, atau umat teladan, tetapi membawa umat Islam mumdur kembali ke zaman Jahiliah, umat yang tidak produkif, penuh dengan kebencian, penindasan, zolim, diskiminatif atau tidak adil kepada kelompok lemah atau minoritas seperti : Kristen, Syiah, Ahmadiah, Ateis, Gay, Lesbian dan bahkan membunuh orang sipil yangtidak berdosa, tidak ikut berperang, membunuh anak2 dan wanita dengan bom bunuh diri dll.

    ISIS juuga memaksa Muslim untuk melakukan shalat, menggunakan hijab dan lain lewat fatwa ulama yang akhirnya jatuh kepada kemiskinan dan anarkis sebagai kutukan dari Allah SWT.Ini adalah masalah umat Islam, kitalah yang harus memperbaiki ajaran Islam berpaham primitif, fanatik yang bersumber dari negara2 Timur Tengah menjadi pemahaman Islam yang maju dan modern sesuai dengan perkembangan ilmu dan peradaban manusia di abad 21 yaitu abad Informasi dan Teknologi.

    Belakangan ini kita dihebohkan oleh video yang menayangkan ajakan untuk bergabung ke ISIS, yang tentunya sangat meresahkan kita dan mengancam keutuhan NKRI yang merupakan harga mati bagi rakyat Indonesia.

    Allah tidak akan merubah nasib suatu umat, seseorang kalau dia sendiri tidak memulai untuk merobahnya.QS 13;11.

    Untuk itu marilah kita bersama sama merobah nasib umat Islam kita.Tanpa bantuan anda, saya sendiri tidak akan sanggup menyampaikan pesan-pesan Allah kepada 250 juta umat Islam Indonesia…

    …………………………………………………………

    Referensi :

    http://en.ria.ru/military_news/20140801/191558431/US-Must-Act-Swiftly-Against-Iraq-Islamists-military-expert.html

    http://www.tempo.co/read/news/2014/08/01/078596639/Kenapa-ISIS-Berpotensi-Membahayakan-Indonesia

    ISIS Sangat Berbahaya dari pada al qaeda :

    http://m.youtube.com/watch?v=jYKSYgrfBdc

    Barokallohufyik !

    SEJARAH ISIS, ASAL MULA ISIS, DEKLARASI KHILAFAH ISIS, SIAPA ISIS

    Siapa dan bagaimana asal mula sejarah ISIS sampai deklarasi Khilafah di Irak ini memang fenomena yang ramai dibahas bayak orang karena ada kekhawatiran dari akan menular ke negara lain….

    kunci artikel ini adalah : siapa ISIS, asal muasal ISIS, awal mula ISIS, sejarah ISIS, siapa di belakang ISIS atau ISIL

    Semuanya bermula dari invasi Amerika Serikat dengan sejumlah negara yang mengikutinya (Sekutu) ke Irak di tahun 2003. Ketika itu Irak masih dibawah kendali Saddam Husain. Tujuan yang digembar gemborkan adalah mencari senjata pemusnah massal, tetapi tentu saja tujuan utamanya adalah penguasaan minyak dan menurunkan Saddam Husain. Terbukti  akhirnya senjata pemusnah massal tidak terdapat di Irak karena memang isu ini hanya digunakan untuk pemancing agar AS dapat menginvasi Irak.

    Hal ini membuat rakyat Irak bangkit dan berjuang membebaskan diri dari penjajahan AS dengan berbagai kelompok pejuang. Yang lebih menyakitkan rakyat Irak adalah selanjutnya AS malah membuat pemerintahan boneka yang di kuasai oleh minoritas di Irak yaitu Syiah. sementara 80% penduduk Irak adalah Sunni. Terlebih pemerintah boneka ini berlaku keras dan kejam terhadap para pejuang yang merupakan rakyat Irak sendiri.

    → SEJARAH ISIS

    Salah satu pemimpin dari para pejuang Irak yang paling dikagumi rakyat Irak adalah Abu Mush’ab Al Zarqowi (Ada juga yang menyebut Abu Musa Al Zarqawi) yang merupakan figur dari dari kelompok pejuang Jihad wa tauhid, sampai akhirnya AL Zarqawi meninggal, kemudian kelanjutan dari perjuangan rakyat Irak maka para pejuang Irak membentuk suatu dewan syura. yang akhirnya  mendeklarasikan Daulah Islam Iraq (DAI). Untuk pemimpinnya dipilih Abu Umar al Baghdady. Sampai disini semua berjalan masih normal tetapi kemudian roh DAI menjadi berbeda ketika Abu Umar terbunuh dan diganti dengan tidak normal oleh Abu Bakar Al Baghdady pada 15 Mei 2010 (lihat di bawah untuk detailnya)

    Ketika terjadi revolusi Suriah tahun 2011 maka sebagian pejuang asal suriah dari Irak kembali ke Suriah untuk melawan tindakan kejam dari presiden Bashar Assad dengan membentuk Jabhat Al Nusrah (JN) yang merupakan kelompok terbesar dari pejuang Suriah. Sedikit demi sedikit beberapa kota mulai di bebaskan. Ketika sudah banyak daerah dibebaskan tiba-tiba Abu Bakar Al Baghdady pada tahun 2013 mengatakan bahwa JN dihapus dan dijadikan Daulah Islam Irak dan Syam / DAIS atau ISIS (islamic state in Irak and Syam) dalam bahasa Inggrisnya. (kadang disebut ISIL karena sham diganti oleh kata Levant dalam bahasa Inggris)

    Setelah itu beberapa kota direbut oleh ISIS dengan menyerang kelompok-kelompok pejuang Suriah termasuk JN. termasuk dengan menggunakan bom bunuh diri ke beberapa pemimpin kelompok pejuan Suriah. Sehingga terjadi kekacauan dalam perjuangan rakyat Suriah. Akibat nya para ulama yang netral dari berbagai negara berusaha mendamaikan dengan membentuk mahkamah syariah untuk mengadili orang-orang yang bersalah ketika terjadi bentrok antar pejuang di Suriah. Semua kelompok menerima hal ini (pengadilan oleh mahkamah syariah) kecuali ISIS dengan berbagai alasan.

    → SIAPA ISIS

    Dan ketika Ayman Al Zawahiri (pemimpin Al Qaidah) juga meminta ISIS untuk kembali ke Irak dan hanya mengakui JN sebagai cabang resmi Al Qaeda di Suriah maka ISIS pun menolak. dan malah menuduh balik Al Qaidah juga para ulama-ulama yang selama ini menjadi rujukan para mujahidin seluruh dunia.

    sejarah isis ini Akhirnya ISIS mendapat cap takfiri dan khawarij dari para pejuang di Suriah dengan alasan
    Menyerang pejuang / mujahidin Suriah dari kelompok lain seperi JN, Ahrarus Syam, Jabhat Al Islamiyah dll (Sehingga memecah konsentrasi para pejuang sunny dalam melawan kekejaman tentara presiden Bassar Assad)
    Menolak mahkamah syariah yang digagas para ulama netral  untuk mengadili yang terlibat bentrokan ketika terjadi perselisihan diatara para pejuang Suriah
    Menolak perintah Al Qaidah, dan malah menuduh balik Al Qaidah.
    Sikap mengkafirkan pejuang lain dan berlebih-lebihan seperti dalam menghukum , contohnya  memenggal kepala kemudian memamerkan kepala-kepala tersebut , menyalib dan lain-lain yang dilarang dalam manhaj Islam yang lurus.

    Respon ISIS atas banyaknya penolakan dari para ulama terutama dari Al Qaidah adalah mendeklarasikan Daulah Islam tanpa kata Irak dan Syam sehingga berarti Khilafah dengan mengangkat Abu Bakar Al Baghdady sebagai Khalifah. Hal ini terksesan untuk berkelit karena sudah terdesak akibat menolak mahkamah syariah dan menolak Al Qaidah (ditolak oleh mayoritas mujahidin Suriah yang dianggap bermanhaj Islam yang lurus). Sehingga deklarasi khilafah ini ditentang para ulama di berbagai dunia karena dilakukan sepihak tanpa musyawarah ahlul hali wal aqdi (domain khilafah adalah seluruh dunia karena itu diperlukan musyawarah para ulama saleh yang sudah dikenal kelurusan manhaj nya oleh para mujahidin selama ini) 

    → ASAL ISIS

    Kemudian banyak orang bertanya ada apa dengan ISIS sehingga bentrok dengan para mujahidin lainnya ? hasil penelusuran para ulama ternyata kelompok yang asalnya adalah cabang resmi Al Qaidah di Irak (kelompok tauhid wal jihad yang dipimpin oleh abu Mushab Al Zarqawi) menjadi berbeda arah perjuangannya karena diduga disusupi oleh agen-agen partai baath (partai sosialis peninggalan Saddam Husein) sejak ditinggal oleh Abu Mushab Al Zarqawi. (tunggu update kronologinya)

    Belum jelas apa tujuannya, yang sudah terbukti sekarang diseluruh dunia umat Islam jihadis terpecah menjadi 2 kelompok besar yaitu: kelompok yang memihak kepada ISIS serta kelompok yang memihak kepada Al Qaidah (Al Qaeda) . Sungguh sebuah kerugian bagi umat islam karena sekarang terpecah dukungan jihad umat islam seluruh dunia.

    Kalau dikelompokan , maka umat Islam (Sunny) secara keseluruhan sekarang ini terbagi menjadi 4 kelompok :
    Islam Jihadis yang mendukung ISIS (sebagian ulama menggangap takfiri)
    Islam Jihadis yang mendukung Al Qaidah
    Islam moderat (Umat Islam yang cukup baik aqidahnya, suka sholat , zakat, Puasa dan Haji . tetapi tidak suka jihad dan tidak punya cita-cita memberlakukan syariah Islam secara keseluruhan termasuk dalam hal politik dan hukum positif)
    Islam Liberal (Umat Islam yang faham ke islaman-nya sudah tercemari zionisme)

    → Selanjutnya pertanyaan umat Islam adalah :

    Siapa yang akan menjadi cikal-bakal pasukan Imam Mahdi?

    Suatu saat Umat Islam akan kembali menguasai dunia sehingga terciptalah kemakmuran dan keadilan di seluruh dunia , yaitu benar-benar terwujud fungsi khalifah Allah atau pengganti Allah yaitu mengatur dunia dengan aturan Allah sehingga tercipta keadilan dan kemakmuran di seluruh dunia (sebelum kiamat maka Islam akan kembali tegak sekali lagi mengatur dunia , sekarang ini relatif Amerika dan Lobby Yahudi yang mengatur dunia , bagaimana ekonomi, perang, berita, cara hidup liberal, cara pandang demokrasi dan lain-lain diatur arahnya bahkan cara menilai salah-benarnya ditentukan oleh mereka).

    Dan tentu saat itu (ketika Islam tegak di muka bumi ini) akan dimulai dengan perang besar atau perang dunia ke-3 dimana umat islam akan berhadapan dengan kekuatan nasrani dan yahudi (seperti yang digambarkan dalam hadits shohih Nabi Muhammad Shalallohu’Alayhi Wasallam)

    Perang besar ini akan terjadi antara pasukan umat islam (yang berbendera hitam yaitu pasukan Imam Mahdi) melawan Nasrani-Yahudi, dulu tentang pasukan hitam ini masih tidak bisa dimengerti, tetapi sekarang hadits ini mulai menemui titik terang karena sekarang sudah banyak pasukan umat islam yang berbendera hitam, mempunyai senjata dan terlatih berperang…

    Hanya saja siapakah yang akan menjadi cikal bakal pasukan Imam Mahdi ini? apakah ISIS atau Al-Qoidah atau dari kelompok lainnya yang sekarang belum muncul? kalau melihat kelurusan manhaj menurut para ulama sampai saat ini Al-Qaidah masih dalam aqidah yang lurus sesuai Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad Shalallohu’Alayhi Wasallam, tetapi kita tidak tahu siapakah yang akan menjadi cikal bakal pasukan Imam Mahdi nantinya?

    Update : Kita tunggu bagaimana kelanjuta sejarah ISIS ini : tag: asal mula, awal mula siapa isis dan orang-orang dibelakangnya…..

    http://www.bebibums.com/?m=1

    Wollohu’alam …
    Barokallohufyik !

    PERSAMAAN SYIAH DAN ISIS

    Menjawab Tuduhan Dedengkot Syiah Indonesia

    ………………………………………………

    Bantahan terhadap Tokoh Syi’ah Indonesia
    bagian I

    Dunia lagi dihebohkan dengan berita-berita tentang kekejaman ISIS, sebuah gerakan berhaluan Teroris Khawarij yang telah memproklamasikan diri sebagai negara di Iraq dan Syam. ISIS mengkafirkan kaum muslimin dan membantai dengan cara yang sangat kejam dan sadis.

    Apa hubungannya antara ISIS dengan Syi’ah? Adakah hubunganya dengan Salafi?

    Kenyataan berbicara, ISIS dan Iran adalah pendukung rezim Syi’ah Suriah yang membantai Salafi. Tidak heran, ulama besar Salafi, ahli hadits kota suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah memperingatkan dengan keras bahaya kelompok ISIS ini. Beliau berkata,

    “Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah (Salafi) yang menentang pemerintah[1] dan membunuh Ahlus Sunnah (Salafi) dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.” [Risalah Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah]

    Beliau juga meminta para pengikut ISIS untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dan mencela mereka dengan celaan yang pedas serta memperingatkan para pemuda Islam agar tidak ikut-ikutan dengan mereka. Beliau berkata,

    “Termasuk kebaikan (yang kami nasihatkan) untuk kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka sadar diri dan kembali kepada kebenaran, sebelum daulah mereka hilang terbawa angin seperti daulah-daulah lain yang semisalnya di berbagai masa.

    Dan sangat disayangkan, fitnah (bencana) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima oleh anak-anak muda yang bodoh di negeri Al-Haramain, mereka menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan terhadap khilafah khayalan ini layaknya kebahagiaan orang yang haus terhadap minuman, dan diantara mereka ada yang berkhayal telah membai’at khalifah majhul ini! Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!

    Wajib atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri dari ikut-ikutan di belakang para provokator (ISIS), dan hendaklah dalam setiap tindakan mereka kembali kepada dalil yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan dari Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, karena padanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaklah mereka kembali merujuk kepada para ulama yang menasihati mereka dan menasihati kaum muslimin.” [Risalah Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah]

    Walhamdulillaah, risalah beliau secara lengkap telah kami terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (baca:http://sofyanruray.info/seruan-ulama-besar-arab-saudi-terkait-isis/), dengan harapan kaum muslimin secara umum, baik pemerintah maupun masyarakat, dan kaum Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia mendapatkan bimbingan ulama dalam menghadapi fitnah (bencana) ISIS ini.

    Dari keterangan ulama di atas jelaslah, benang merahnya antara ISIS dan dua rezim Syi’ah terbesar saat ini, yaitu Suriah dan Iran, mereka memiliki hubungan yang sangat dekat, bekerja sama dalam melakukan kejahatan terhadap umat manusia, dan fakta-fakta di lapangan membuktikan hal itu.

    Tetapi sungguh sangat aneh, salah seorang tokoh Syi’ah di negeri ini berusaha memutarbalikkan fakta, mereka menuduh bahwa ISIS memiliki hubungan dengan Salafi, dan bahwa ajaran mereka sama, yaitu tauhid. Tapi demikianlah Syi’ah, kalau tidak berdusta bukan Syi’ah namanya. Bahkan taqiyyah, berbohong adalah ajaran prinsip dalam Syi’ah.

    Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, padahal anak SD pun tahu, tauhid adalah landasan keyakinan setiap muslim, karena tauhid maknanya mengesakan Allah dalam ibadah, tidak mempersekutukan-Nya.

    Oleh karena itu kalimat Laa ilaaha illallah, kalimat dzikir teragung, semboyan setiap muslim, dinamakan: Kalimat Tauhid, karena makna kalimat tersebut adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang satu saja dan mengingkari penyembahan kepada selain-Nya (baca: http://sofyanruray.info/penting-syahadat-laa-ilaaha-illallah-makna-rukun-syarat-dan-kesalahan-kesalahan-dalam-penafsirannya/).

    Bagaimana bisa seorang yang mengaku muslim mencela tauhid…?!

    Padahal tauhid adalah sebab meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, lawan dari tauhid, yaitu syirik, adalah sebab kebinasaan dunia dan akhirat (baca: http://sofyanruray.info/peringatan-dari-bahaya-syirik-1/).

    Namun tidak terlalu aneh sebetulnya apabila tokoh Syi’ah mencela ajaran tauhid, karena Syi’ah memang berbeda dengan Islam, Syi’ah mengajarkan syirik, Islam mengajarkan tauhid.

    Sebagai contoh, dalam kitab Syi’ah diajarkan bahwa imam mereka mengetahui perkara ghaib sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala, disebutkan dalam kitab Syi’ah yang masyhur berjudul Bihaarul Anwaar (26/27) karya Al-Majlisi, tokoh besar Syi’ah,

    عن أبي عبد الله قال: والله لقد أعطينا علم الأولين والآخرين. فقيل له: أعندك علم الغيب؟ فقال له: ويحك! إني لأعلم ما في أصلاب الرجال وأرحام النساء

    “Dari Abu Abdillah (diklaim sebagai imam Syi’ah), ia berkata: Demi Allah kami telah diberikan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terakhir. Maka dikatakan kepadanya: Apakah engkau memiliki ilmu ghaib? Maka ia berkata: Celaka engkau, tentu saja aku mengetahui apa yang ada di sulbi kaum lelaki dan di rahim para wanita.”

    Padahal Allah ta’ala berfirman,

    قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

    “Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” [An-Naml: 65]

    Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya:

    يقول تعالى آمرًا رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقول معلمًا لجميع الخلق: أنه لا يعلم أحد من أهل السموات والأرض الغيب. وقوله: { إِلا اللَّهَ } استثناء منقطع، أي: لا يعلم أحد ذلك إلا الله، عز وجل، فإنه المنفرد بذلك وحده، لا شريك له، كما قال: { وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ } الآية [الأنعام: 59]، وقال: { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [لقمان: 34]، والآيات في هذا كثيرة

    “Allah ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengajarkan kepada seluruh makhluk, bahwasannya tidak ada satupun penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib. Dan firman Allah ta’ala, “(Tidak ada penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib) keuali Allah” adalah sebuah pengecualian yang terputus, yaitu bermakna: Tidak ada satupun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya Dia esa dalam perkara ilmu tentang yang ghaib, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya:

    وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” [Al-An’am: 59]

    Dan juga firman-Nya,

    إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Luqman: 34]

    Dan ayat-ayat tentang ini masih banyak.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/207]

    Ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh bahwa orang-orang Syi’ah memang tidak bertauhid, mereka menyekutukan Allah ta’ala. Inilah kesesatan Syi’ah terbesar yang harus diwaspadai.

    Dan juga diantara bahaya Syi’ah yang harus diwaspadai oleh pemerintah dan umat Islam adalah kesamaan antara Syi’ah dan ISIS dalam beberapa perkara, diantaranya:

    1) Pengkafiran Kaum Muslimin, termasuk Pemerintah dan Rakyatnya

    Sudah dimaklumi bahwa ISIS dan kaum Khawarij secara umum menganggap kafir orang-orang di luar kelompok mereka, yang tidak berbaiat kepada mereka atau yang mereka anggap tidak berhukum dengan hukum Allah (tentang pengkafiran versi Khawarij ini insya Allah akan kami bahas dalam artikel tersendiri). Bagaimana dengan Syi’ah?

    Jawabnya sama, Syi’ah juga mengkafirkan kaum muslimin selain mereka, bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, generasi terbaik umat Islam, apalagi generasi setelahnya?!

    Perhatikanlah penukilan tentang pengkafiran Syi’ah dari kitab-kitab mereka berikut ini. Para penulis Syi’ah seperti Ath-Thusi dalam Rijal Al-Kasyi (1/26), Al-Majlisi dalam Bihaarul Anwaar (22/333) dan Al-Kulaini dalam Al-Kafi (2/244, 441) menukil (secara dusta) dari Abu Ja’far Al-Baqir (beliau dianggap oleh Syi’ah sebagai imam yang kelima) bahwa ia berkata,

    ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبو ذر والمقداد

    “Manusia (para sahabat) telah murtad kecuali tiga orang (sahabat): Salman, Abu Dzar dan Al-Miqdad.”

    Orang-orang Syi’ah mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak beriman dengan imam-imam (dua belas) mereka. Penulis Syi’ah, Yusuf Al-Bahrani berkata dalam bukunya Al-Hadaaiq An-Nazhirah fi Ahkaamil ‘Itrah Ath-Thahiroh hal. 136,

    وليت شعري أي فرق بين من كفر بالله سبحانه وتعالى ورسوله، وبين من كفر بالأئمة عليهم السلام؟

    “Aduhai, apa bedanya antara orang yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dengan orang yang mengingkari para imam ‘alaihimussalaam?”

    Dan sebelumnya telah dinukil oleh Al-Majlisi dalam Bihaarul Anwaar (23/390),

    اتفقت الإمامية على أن من أنكر إمامة أحد من الأئمة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فروض الطاعة فهو كافر ضال مستحق للخلود في النار

    “Syi’ah Imamiyah (yang mengimani 12 imam) telah sepakat bahwa siapa yang mengingkari keimaman salah seorang imam Syi’ah dan menentang apa yang telah Allah wajibkan (menurut Syi’ah) untuk mentaati para imam maka ia kafir, sesat, pasti kekal di neraka.”

    2) ISIS Mengkafirkan dan Men-Thogut-kan Pemerintah, Syi’ah Juga Demikian

    Tokoh Syi’ah, Al-Kulaini dalam Al-Kafi (1/67) meriwayatkan dengan “sanad”nya dari Umar bin Hanzhalah, ia berkata:

    سألت أبا عبد الله عن رجلين من أصحابنا بينهما منازعة في دين أو ميراث تحاكما إلي السلطان وإلي القضاء أيحل ذلك؟ قال: من تحاكم إليهم بحق أو باطل فإنما تحاكما إلي الطاغوت ومايحكم له فإنما يأخذ سحتا وإن كان حقا ثابتا له لأنه أخذه بحكم الطاغوت

    “Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang sahabat kami yang berselisih dalam masalah hutang dan warisan, mereka berdua berhukum kepada pemerintah dan peradilan, apakah itu halal? Ia berkata: Barang siapa berhukum kepada mereka dengan kebenaran ataupun kebatilan maka ia telah berhukum kepada thagut. Dan apa saja yang dihukumi oleh penguasa baginya maka hakikatnya adalah kecurangan meskipun itu adalah memang haknya, karena ia telah mengambil hukum thagut.”

    3) Pemimpin Revolusi Syi’ah  Iran, Khomeini Membenarkan Ajaran Pengkafiran dan Pen-Thogut-an terhadap Penguasa

    Khomeini berkata dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah (Pemerintahan Islam) hal. 74,

    الإمام نفسه ينهى عن الرجوع إلي السلاطين وقضاتهم ويعتبر الرجوع إليهم رجوعا إلي الطاغوت

    “Imam kita tersebut melarang untuk berhukum kepada para penguasa dan peradilan mereka, dan menganggap berhukum kepada mereka sama dengan berhukum kepada thagut.”

    4) Pemberontakan dan Pembunuhan

    Akal-akalan pengkafiran inilah yang menipu para pengikut mereka untuk mau mengangkat senjata menjatuhkan pemerintah yang sah dan membantai kaum muslimin yang telah dianggap kafir dan tidak mau mendukung mereka, inilah yang dulu terjadi di Iran (Revolusi Khomeini) dan saat ini di Iraq dan Syam (Revolusi ISIS). Haruskah kita menunggu terjadi di Indonesia…?!

    Itu sudah merupakan konsekuensi, setelah pengkafiran, maka yang dianggap kafir harus dibunuh, inilah ideologi mereka. Perhatikan nukilan dari kitab Syi’ah yang berjudul ‘Ilalusy Syaroi’ Ash-Shoduq hal. 326, bahwa dikatakan kepada Abu Abdillah,

    ما تقول في قتل الناصب، قال: حلال الدم لكني أتقي عليك فإن قدرت أن تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكيلا يشهد به عليك فافعل

    “Apa pendapatmu tentang membunuh pembenci ahlul bait (menurut Syi’ah, pen)? Ia berkata: Halal darahnya (boleh dibunuh), akan tetapi aku mengkhawatirkanmu, maka jika engkau mampu untuk meruntuhkan tembok padanya atau menenggelamkannya di air agar ia tidak melihatmu, lakukanlah.”

    5) ISIS Telah Melakukan Pemberontakan dan Pembunuhan di Masa Ini, Syi’ah Pun Demikian

    Berapa banyak darah kaum muslimin di Suriah telah ditumpahkan oleh koalisi ISIS dan Syi’ah (Rezim Iran, Rezim Suriah dan Hizbullah Lebanon). Berapa banyak nyawa Ahlus Sunnah telah melayang di Iran sejak revolusi Syi’ah Khomeini. Dan memang penumpasan sudah menjadi ciri khas Syi’ah dari masa ke masa, bahkan merreka berencana untuk menghancurkan kakbah sejak dulu.

    Cucu Khomeini yang bernama Ahmad Al-Khomeini, pernah membongkar kejahatan kakeknya sendiri secara tidak sengaja dalam wawancara dengan koran Az-Zaman yang terbit di Iraq, no. 1623, tahun 2003. Ahmad Al-Khomeini menuturkan,

    كان هناك قرار إيراني سري بتهيئة الأجواء لإيقاف الحرب، ولهذا الغرض تم التخطيط لعدد من الإجراءات لصرف الأنظار وتوجيهها بعيدا عن العراق والحرب، فعمدوا إلي إرسال مواد متفجرة إلى السعودية، وإلى مكة المكرمة تحديدا (نحو خمسمائة كيلو غرام من هذه المواد) بإخفائها في حقائب الحجاج من دون علمهم  في كل حقيبة نصف كيلوغرام (TNT) وذلك لتفجير دار الحجاج الإيرانيين في مكة المكرمة

    “Iran telah merencanakan misi rahasia untuk menyiapkan situasi yang tepat dalam menghentikan peperangan (dengan Iraq), dan untuk rencana ini, telah dimatangkan beberapa operasi untuk mengalihkan perhatian dan mengarahkannya jauh dari Iraq dan perang, maka mereka sengaja mengirim bahan-bahan peledak ke Saudi Arabia, khususnya ke Makkah Al-Mukarromah, diantaranya terdapat sekitar 500 kg bahan peledak, dengan menyembunyikannya pada koper-koper jama’ah haji tanpa mereka ketahui, pada setiap koper terdapat ½ kg TNT untuk meledakkan perkemahan jamaah haji Iran di Makkah Al-Mukarramah.”[2]

    Innaa illaahi wa innaa ilaihi rooji’un, inilah ajaran Syi’ah yang sesungguhnya. Oleh karena itu ulama Salaf dahulu menganggap semua ahlul bid’ah adalah pemberontak.

    Imam Abu Qilabah rahimahullah berkata,

    ما ابتدع قوم بدعة إلا استحلوا فيها السيف

    “Tidaklah satu kaum berbuat bid’ah (mengada-ada dalam agama) kecuali mereka akan menghalalkan pedang dalam kebid’ahan itu.” [Asy-Syari’ah lil Aajurri: 203]

    Imam Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah menganggap ahlul bid’ah seluruhnya adalah Khawarij (pemberontak) dan beliau berkata,

    إن الخوارج اختلفوا في الاسم، واجتمعوا على السيف

    “Sesungguhnya kaum Khawarij (pemberontak) itu berbeda-beda namanya, namun bersatu di atas pedang.” [Syarhus Sunnah lil Baghawi, 10/233]

    Inilah diantara kesamaan ISIS dan Syi’ah, inilah cita-cita mereka, menguasai suatu negeri, meski dengan cara kekerasan.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

    FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

    [1] Menentang pemerintah muslim hukumnya adalah haram, namun yang terjadi di Suriah adalah Ahlus Sunnah mempertahankan diri dari serangan pemerintah Basyar Asad yang berideologi Syi’ah yang kufur dan syirik

    [2] Dari web Difa’ anis Sunnah

    ============================
    reposting : http://sofyanruray.info/persamaan-antara-isis-dan-syiah-bantahan-terhadap-tokoh-syiah-indonesia-bag-1/

    Barokallohufiyk !

    DEKLARASI KHILAFAH ISLAMIYYAH ANTARA PERSPEKTIF SYARIAT DAN REALITA

    Khilafah Islamiyyah, Siapa Yang Tidak Merindukannya, Bukan Khilafah Abal-Abal.. Atau Yang Mengaku Sebagai Khilafatul Lilmuslimiin,.
         

    Oleh: Asy Syaikh Al Habib Alawy bin Abdulqadir As Segaf (Pembina Umum Yayasan Durar Saniyyah)

    Segala puji milik Allah rabbul ‘alamin, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

    Khilafah Islamiyyah dan menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah diatas manhaj Nubuwwah adalah cita-cita yang agung, setiap muslim menghendakinya dalam kehidupan ini. Hal diatas merupakan tujuan Islam yang agung, wujud persatuan yang tertinggi yang Allah dan rasul-Nya perintahkan. Allah berfirman (yang artinya),

    “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al Mu’minun: 51)

    “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”(QS. Ali Imran: 103)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal: ridha kepada kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan kamu semuanya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah serta tidak bercerai berai…” (HR Muslim: 1715)

    Para ulama sepakat (ijmak) atas wajibnya mengangkat seorang pemimpin untuk kaum muslimim. Diantara ulama yang mentransmisi ijmak (konsensus) adalah Al Mawardi dalam “al Ahkaam al Sulthaniyyah”, hal. 15, Abul Ma’aaly al Juwainy dalam “Ghiyaatsu al Umam”, hal. 15, al Qadhi Iyadh dalam “Ikmal al Mu’lim”, 6/220, An Nawawi dalam “Syarh Shahih Muslim”, 12/205 dan banyak lagi yang lainnya. Teks-teks ijmak sangat banyak dalam referensi-referensinya dan tidak perlu kami sebutkan disini.

    Para ulama juga sepakat, bahwa tujuan utama dari Imamah (kepemimpinan) atau khilafah adalah apa yang disebutkan oleh para ulama melalui lisan dan buku-buku mereka. Imam al Mawardi merangkumnya dalam perkataan beliau, “Imamah ditegakkan untuk menjalankan misi nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia, menyerahkannya kepada orang yang mampu melakukannya dalam umat ini merupakan kewajiban yang disepakati.”

    Dengan demikian, tujuan dari khilafah dan imamah adalah menegakkan kemaslahatan agama dan dunia. Merealisasikan tujuan ini bisa saja dilakukan oleh seorang penguasa muslim di suatu negeri dari negeri-negeri kaum muslimin walau pun tidak ada khilafah.

    Penguasa itu harus didengar dan ditaati oleh orang-orang yang ada dalam kekuasaannya, walau pun kepemimpinannya bukan kepemimpinan yang besar (imamah ‘udzmaa) (kepemimpinan yang mencakup seluruh wilayah internasional –pent). Al ‘Allamah Asy-Syaukani berkata dalam “As Sail Al Jarrar”, 4/512, “Dan adapun setelah Islam tersebar, semakin luas wilayahnya dan daerah-daerahnya kian berjauhan, maka dimaklumi, setiap wilayah memiliki pemimpin atau penguasa sendiri-sendiri. Aturan-aturan suatu wilayah hanya berlaku untuk orang-orang yang berada disana dan tidak berlaku bagi orang-orang yang ada di wilayah yang lain.

    Maka, tidak mengapa ada beberapa pemimpin atau penguasa, dan wajib untuk taat kepada masing-masing dari mereka -setelah pembaiatan- atas penduduk wilayah tersebut, yang berlaku padanya perintah serta larangannya. Begitu pun demikian untuk penduduk wilayah yang lain”.

    Pernyataan ini juga dinukil dan dikuatkan oleh al ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan dalam kitabnya, “Ikliil al Karaamah fii Tibyaan Maqaashid al Imamah”, hal. 125. “Hampir seluruh ulama dari berbagai madzhab membolehkan pemimpin lebih dari satu jika tidak dimungkinkan mengangkat satu Imam yang menegakkan hukum untuk seluruh negeri kaum muslimin, karena jarak yang berjauhan”.

    Walaupun dalam masalah ini terdapat silang pendapat, namun ia tidak memberi pengaruh para permasalahan yang sedang kita bahas. Mereka membolehkan dalam kondisi ini, karena ia adalah kondisi darurat dan tidak mampu. “Ketidakmampuan menggugurkan perintah dan larangan, walaupun pada asalnya wajib.” (Majmu’ al Fatawa: 20/61).

    Ada perbedaan antara situasi leluasa dan darurat. Orang yang tidak membedakan keduanya, ia berarti bodoh terhadap landasan rasional dan dalil. Ini yang terjadi pada banyak manusia. Mereka mengira bahwa agama ini tidak akan tegak selama belum tegak khilafah, tidak membedakan antara upaya kepada penegakkan khilafah yang hakiki, yang diperintahkan oleh syariat dan sekedar deklarasi khayalan yang hanya memuaskan sisi emosional, walaupun dalam realitasnya tidak merealisasikan tujuan-tujuan khilafah sebenarnya. Prasangka semacam ini mirip dengan prasangka sebagian orang yang tidak mengerti bahwa yang mampu menyebarkan keadilan dan menghilangkan kezaliman hanya Imam Mahdi. Sehingga kedua kelompok ini hanya bergantung kepada dua perkara ini (Khilafah dan Mahdi)

    Perbincangan tentang khilafah Islamiyyah atau Imamah Kubra sangat panjang. Telah banyak para ulama yang menuliskannya dari dulu hingga sekarang. Membahasnya tidak akan selesai hanya dengan satu makalah atau tulisan yang ringkas. Oleh karena itu, pembahasan dalam tulisan ini akan dibatasi seputar deklarasi khilafah yang telah diumumkan di Irak saat ini (ISIS), dari sisi realitas sejarah dan tinjauan syariat.

    Pertama: Realitas Sejarah
    Dengan menelusuri sejarah Islam, akan tampak dengan jelas bahwa banyak khilafah khayalan yang dideklarasikan dalam sepanjang sejarahnya, baik melalui klaim kedatangan Mahdi atau melalui jalur sekte-sekte khawarij yang sesat; dan mereka adalah orang-orang yang sangat terobsesi dengan khilafah, akan tetapi tanpa petunjuk dan al Qur`an. Nampaknya –wallahu a’lam- ini telah menjadi karakter mereka.

    Adapun ahli sunnah wal jamaah, mereka tidak menetapkan nama khilafah atau imamah ‘udzma melainkan bagi orang yang benar-benar memiliki kekuasaan atas mayoritas mereka (kaum muslimin –pent) baik dengan kerelaan atau dengan penaklukan di berbagai daerah kaum muslimin.

    Adapun seorang yang dibaiat oleh suatu penduduk daerah tertentu saja, atau berhasil menaklukan daerah itu saja, maka kekuasaannya hanya bersifat lokal atas mereka, tidak mencakup orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya atau ditaklukkan olehnya. Beginilah seterusnya kemudian kemunculan masalah multi kepemimpinan yang telah dijelaskan tadi. Makalah ini tentu tidak akan mendiskusikan masalah ini dari sisi legal atau tidaknya.

    Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Tidak pernah sama sekali umat ini bersepakat untuk mengangkat seorang khawarij menjadi pemimpin. Andai Allah memberi kekuasaan kepada mereka, maka akan rusaklah bumi ini… dan dengan demikian, ada belasan atau dua puluh orang dari mereka yang masing-masing pernah menyatakan bahwa dirinya adalah khalifah.” (Mukhatashar Ta`rikh Dimasyq: 26/390)

    Diantara sepak terjang Khawarij
    Seorang pemuda khawarij mengklaim tegaknya khilafah di masa Abdulmalik, namun ia tidak berhasil meraihnya (Wafayatu al A’yaan: 2/455).

    Pada tahun 140 H, khilafah diklaim untuk pemimpin Ibadhiyyah (salah satu sekte khawarij –pent) bernama Abdul A’la bin Samah al Ma’aafiry. Berjalan selama empat tahun, hingga akhirnya ia dibunuh oleh al Manshur para rahun 144 H (Tarikh Ibnu Khaldun: 4/241).

    Di Thanja, khilafah diklaim untuk seorang amir khawarij, orang-orang menyebutnya dengan gelar amirul mukminin, kemudian ia dibunuh oleh Khalid bin Habib al Fihry (Tarikh Ibnu Khaldun: 6/145)

    Diantara mereka juga adalah raja al Mu’iz Ismail asal Kurdi, ia mengaku dirinya berasal dari Quraisy dari Bani Umayyah, ia pun menyatakan dirinya sebagai khalifah dan diberi gelar al Haady. Ia pun akhirnya mati pada tahun 598 H (Mukhtashar Tarikh Dimasyq: 26/390)

    Bahkan terkadang lebih dari satu orang mengumumkan khilafah dalam satu waktu. Ini yang terjadi di Andalusia. Sehingga pada abad kelima, di Andalusia saja, ada lima orang mendeklarasikan khilafah. (Al Waafi bil Wafayaat: 18/5).

    Adapun klaim kedatangan Mahdi, maka ia sangat banyak. Cukup disini saya sebutkan contoh di masa sekarang:

    Negeri ini (negeri dua tanah suci) telah mengalami kasus demikian. Pada akhir abad 14 (1385 – 1399), tatkala muncul sekelompok penuntut ilmu yang belajar kepada para ulama besar seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh al Albani rahimahumullah, penampilan mereka sunnah dan kehidupan mereka serba kekurangan.

    Orang-orang akan memandang ringan ibadahnya jika membandingkannya dengan ibadah mereka. Mereka memiliki kecenderungan yang ekstrim, namun mereka sangat jujur dan ikhlas. Pemimpin mereka adalah Juhaiman al Utaiby, ia sering ke negara-negara teluk untuk mendakwahkan tauhid dan millah Ibrahim ‘alaihissalam.

    Hingga berkumpullah banyak para pemuda tanpa pengawasan para ulama. Sampai terjadilah fitnah yang besar –mirip dengan fitnah deklarasi khilafah pada hari ini- yaitu diumumkannya kedatangan Mahdi untuk Muhammad bin Abdullah al Qahthany, saudara ipar Juhaiman.

    Saya pernah bertemu dengan al Qahthany ini pada tahun 1399 H, duduk dengannya dan shalat dibelakangnya shalat jahriyyah dimana engkau akan memandang rendah shalatmu jika dibandingkan dengan shalatnya. Kedatangan Mahdi ini diumumkan pada sekitar Muharram tahun 1400. Juhaiman dan jamaahnya masuk ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Fajr.

    Sesaat setelah shalat Fajr, Juhaiman dan saudara iparnya ini berdiri di hadapan jamaah shalat mengumumkan kepada orang-orang –melalui pengeras suara Imam Masjidil Haram dan shalat pun disiarkan melalui radio- kabar kedatangan Mahdi yang ditunggu (al Muntadhar), pembaharu (mujaddid) agama ini, kemudian Juhaiman dan pengikutnya membaiat “Mahdi al Muntadhar” tersebut di hadapan jamaah shalat serta meminta kepada mereka untuk membaiatnya pula. Berdirilah sekelompok dari mereka dan membaiatnya.

    Orang-orang ramai memperbincangkan kabar tersebut dan banyak para pemuda yang terfitnah dengannya –seperti para pemuda yang terfitnah oleh deklarasi khilafah saat ini-. Sebagian mereka ada yang melakukan safar untuk membaiatnya, ada yang membaiatnya di tempat, ada juga yang bingung dan ragu.

    Mereka pun dinasehati, bahwa ini adalah fitnah yang perkaranya harus dikembalikan kepada pandangan para ulama rabbani, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan pandangan mereka dalam kesesatan, sehingga umat Muhammad tersesat karena mereka.

    Tatkala banyak dari pada pemuda saat itu melihat para ulama kaum muslimin, para penuntut ilmu yang senior dan para dai yang tulus di seluruh dunia mengingkari kedatangan Mahdi ini, karena hadis-hadis yang shahih dan hasan tentang kedatangan Mahdi tidak cocok dengan sosok saudara Ipar Juhaiman, banyak diantara mereka yang menarik diri, dan sebagiannya tetap pada pendapatnya. Hingga fitnah ini dapat dipadamkan, Mahdi mereka dibunuh, Juhaiman dan para loyalisnya dihukum mati. Terbangunlah mereka dari tidurnya dan pupuslah mimpi mereka. Sungguh, hari ini sama dengan kemarin!

    Kedua: Tinjauan Syariat
    Telah dimaklumi di kalangan para ulama bahwa diantara syarat-syarat terpenting yang wajib ada pada khilafah Islamiyyah diatas manhaj nubuwwah, selain persyaratan Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, adil dan berasal dari suku Quraisy, adalah persyaratan Musyawarah dan Kekuasaan.

    Musyawarah
    Yang dimaksud musyawarah adalah musyawarah ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama, para tokoh, pemimpin dan orang-orang yang memiliki pandangan yang memiliki kemampuan untuk mengikat urusan-urusan dan melepaskannya. Yaitu orang-orang yang diikuti oleh manusia baik dari ahli agama atau dunia.

    Bukan ahlul halli wal aqdi sekelompok orang yang dipilih suatu jamaah kaum muslimin saja, baik dari kalangan jihadiyyah atau bukan, kemudian mereka disebut ahlul halli wal aqdi. Lalu mereka ditanya, apakah Anda semua memilih si Fulan sebagai Khalifah?

    Dan mereka mengatakan, “Iya.” Tidak setiap orang yang disebut ahlul halli wal aqdi benar-benar ahlul halli wal aqdi. Nama tidak merubah hakikat yang dinamai sama sekali. Dalam Shahih Bukhari, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang membaiat seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, maka ia tidak dibaiat dan tidak pula yang membaiatnya, khawatir keduanya akan terbunuh.”

    Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dan “Al Fath”, 12/150: “Dalam perkataan umar diatas terdapat isyarat agar berhati-hati dari sikap tergesa-gesa dalam urusan seperti itu, karena tidak ada sosok yang seperti Abu Bakar yang terkumpul padanya sifat-sifat terpuji; kepatuhan terhadap perintah Allah, lemah-lembut terhadap kaum muslimin, akhlak yang baik, wawasan tentang politik dan sikap warak. Orang yang tidak ada padanya seperti sifat-sifat beliau, dikhawatirnya dengan membaiatnya tanpa musyawarah akan muncul perselisihan yang mendatangkan keburukan.”

    Sebuah kepemimpinan, walaupun seorang pemimpin kecil atas suatu negeri, harus memiliki ahlul halliwal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan pemimpin. Dan ini sebagaimana yang telah lalu, berlaku dalam situasi lemah dan darurat. Setiap negara dipimpin oleh seorang penguasa muslim lebih baik dari pada keadaan manusia yang akan kacau tanpa aturan. Adapun kepemimpinan yang besar atau khilafah islamiyyah, maka ia tidak sah kecuali dengan musyawarah mayoritas ahlul halli wal ‘aqdi dari seluruh negeri. Imam Abu Ya’la dalam ‘al Ahkam al Sulthaniyyah’, 1/23 berkata, “(Khilafah) tidak sah tanpa mayoritas ahlul halli wal ‘aqdi.”

    Syakhul Islam Ibnu Taimiah menyatakan dalam ‘Minhaj As Sunnah’, 1/526, tatkala beliau membantah sebagian ahli kalam yang berpendapat keabsahan imamah hanya dengan empat atau tiga atau kurang dari itu, beliau berkata, “Ini bukan pendapat para ulama ahli sunnah, walaupun sebagian ahli kalam berkata, “Imamah absah dengan baiat empat orang, sebagaimana sebagian mereka berkata, sah dengan baiat dua orang, sebagian lagi mengatakan sah hanya dengan baiat satu orang. Ini bukanlah perkataan para ulama sunnah.

    Imamah menurut mereka hanya dinyatakan sah dengan persetujuan para tokoh. Dan seseorang tidak menjadi seorang imam (pemimpin) yang sah, sampai ia disetujui oleh para tokoh yang dengan mengikuti mereka dalam memilihnya tercapai tujuan dari imamah itu sendiri. Sesungguhnya tujuan dari imamah adalah tercapainya kekuatan dan kekuasaan. Jika ia dibaiat dan dengan baiat tersebut tercapai kemampuan dan kekuasaan, maka ia berhak menjadi pemimpin.”

    Bahkan Imam Ahmad rahimahullah, dinukil dari beliau dalam salah satu riwayat, bahwa imamah hanya sah dengan ijmak (kesepakatan). Beliau berkata, “Barangsiapa yang menjadi pemimpin khilafah, orang-orang sepakat dan ridha kepadanya, begitu pun dengan orang-orang yang ditaklukkannya dengan pedang, sehingga ia menjadi seorang khalifah dan disebut dengan amirul mukminin, maka membayarkan sedekah kepadanya boleh, baik ia orang yang baik atau orang yang jahat.”

    Beliau juga berkata dalam riwayat Ishaq bin Manshur saat ditanya tentang hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mati dan tidak memiliki imam, maka ia mati dengan cara jahiliyyah.” Apakah makna hadis ini? Beliau berkata, “Apakah engkau tahu siapa itu imam? Imam adalah orang yang disepakati oleh kaum muslimin. Seluruhnya mengatakan, “Ini adalah imam.” Ini lah makna hadis tersebut.” (Lihat Minaaj as Sunnah: 1/530)

    Disini terdapat hal yang perlu digarisbawahi, yaitu perbedaan antara baiat sekelompok orang untuk seorang laki-laki di kalangan mereka dengan keabsahan imamah untuknya serta terangkatnya ia menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin dan keberhakannya memegang imamah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam ‘Minhaj As Sunnah’: 1/531, “Andai Umar dan sekelompok orang yang bersamanya membaiatnya (yaitu Abu Bakar) dan para sahabat yang lain menolak baiat tersebut, maka Abu Bakar tidak akan menjadi pemimpin dengan hal itu.

    Ia hanya akan menjadi seorang pemimpin dengan pembaiatan mayoritas para sahabat, orang-orang pemilik kemampuan dan kekuatan. Oleh karena itu penolakan Sa’ad bin Ubadah tidak teranggap, karena hal itu tidak mencacati tujuan dari kepemimpinan, yaitu tercapainya kekuatan dan kekuasaan yang dengan keduanya terwujud kemaslahatan-kemaslahatan imamah. Dan hal itu, telah tercapai dengan persetujuan mayoritas.

    Barangsiapa yang mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi seorang pemimpin hanya dengan persetujuan satu, dua atau empat orang, dan mereka bukanlah pemilik kemampuan dan kekuatan, maka ia telah salah, sebagaimana orang yang menganggap penolakan satu atau dua orang atau sepuluh mempengaruhi keabsahannya pun telah salah.

    Kekuasaan
    Tidak sah bagi pihak manapun untuk mendeklarasikan khilafah atas seluruh kaum muslimin dan mengangkat seorang pemimpin untuknya, lalu meminta seluruh kaum muslimin di seluruh dunia untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah kaum muslimin, padalah ia tidak memiliki kekuasaan, tidak dapat melindungi orang-orang yang dekat dengan mereka, apalagi orang yang jauh dari mereka. Ini adalah omong kosong dan kedunguan. Mendirikan khilafah bukan dengan sekedar klaim dan deklarasi. Apa nilainya sebuah deklarasi yang tidak memiliki hakikat dalam wujudnya?

    Barangsiapa yang menaklukkan salah satu wilayah kaum muslimin, kemudian ia mengangkat dirinya menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin, maka seakan-akan ia menganggap dirinya telah menaklukkan seluruh negeri-negeri kaum muslimin, ini adalah perkara yang tidak sesuai dengan nalar dan realitas, maka dari itu ia pun tidak sesuai dengan syariat. Bahkan, ia menunjukkan reduksi yang besar dalam memahami hukum-hukum imamah dan yang terkait dengannya.

    Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kedua shahihnya dari hadis Abu Zinad, dari al A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai, diperangi dibelakangnya dan dijadikan pelindung.”

    Al Hafidz An Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pemimpin itu adalah perisai” maksudnya seperti pelindung, karena ia mampu mencegah musuh agar tidak mengganggu kaum muslimin, menghalangi sebagian manusia dari sebagian, membela Islam, disegani manusia dan mereka menakuti kekuatannya. Makna “Diperangi di belakangnya” maksudnya diperangi bersamanya orang-orang kafir, para pemberontak, orang khawarij dan seluruh pelaku kerusakan dan kezaliman.” Ibnu Hajar dalam ‘al Fath’ dan para pensyarah hadis ini juga menjelaskan yang sepertinya.

    Maka, bagaimana mungkin seorang dari kaum muslimin dibaiat sebagai pemimpin atas mereka padahal ia tidak dapat melindungi mereka?! Imamah juga memiliki hak dan kewajiban. Orang yang tidak mampu menunaikan hal yang Allah wajibkan atasnya terkait dengan hak rakyatnya, maka hendaknya ia tidak meminta mereka untuk menunaikan haknya atas mereka.

    Maka, seseorang tidak dianggap sebagai khalifah atas kaum muslimin, melainkan jika pada dirinya benar-benar terdapat syarat-syarat khilafah ini, dari sisi kekuatan dan kekuasaan atas mayoritas kaum muslimin. Jika tidak demikian, Imamahnya bukanlah Imamah yang besar, paling tidak hanya pemimpin atas suatu daerah yang telah dikuasainya saja. Yang menjadi standar adalah hakikat dan makna, bukan sekedar makna dan tampilan.

    Kehati-hatian Daulah-Daulah Islam dalam Mendeklarasikan Khilafah
    Siapa saja yang memperhatikan Khilafah Islamiyyah dari sejak masa Khulafa Rasyidin hingga jatuhnya Khilafah Ustmaniyyah (Othoman), ia akan melihat bahwa masing-masing dari khalifah itu memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar atas banyak kaum muslimin di zamannya. Adapun para Khulafa Rasyidun dan dua daulah: Umawiyyah dan Abbasiyyah, maka ini sangat jelas, khalifah demi khalifah memegang tampuk kepemimpinannya. Berikut adalah paparan untuk realitas sejarah yang dekat:

    Daulah Utsmaniyyah
    Tatkala daulah Abbasiyyah mulai melemah, para pemimpinnya terpecah belah dan daulahnya terpisah-pisah, hingga menjadi kerajaan-kerajaan dan pemerintahan-pemerintahan yang terpisah-pisah. Posis Khalifah saat itu hanya tinggal wujudnya saja, tanpa kekuasaan di bawahnya. Dari sini lah mulai nampak benih-benih kemunculan Daulah Utsmaniyyah.

    Pada tahun 618 H, Arthgrl memimpin Turkiman Muslimin dan menguasai daerah yang cukup luas dari wilayah Turki, namun ia tidak mendeklarasikan khilafah. Kemudian ia wafat pada tahun 687 H dan digantikan oleh putra sulungnya Ustman, dialah pencetus pertama Daulah Utsmaniyyah. Ia mulai memperluas kekuasaannya, hingga pada tahun 688 H, ia berhasil menguasai Benteng Sauda, kemudian melakukan perluasan dan menjadikan Madinah Bani Syahr –Kota Baru- sebagai pusat kekuasaannya. Ia menggelari dirinya dengan Badisyah Ali Utsman dan membuat bendera untuk daulahnya (yaitu bendera yang digunakan oleh negara Turki saat ini), namun ia juga tidak mendeklarasikan khilafah.

    Keadaan terus berlangsung hingga tiba masa Salim Awwal (918 – 926 H) yang berupaya untuk menyatukan seluruh negeri Islam yang belum berada dalam kekuasaannya. Hingga saat itu pun, ia tidak mendeklarasikan khilafah. Di masa itu, Shafawiyyin yang bersekutu dengan Portugis melawan kaum muslimin. Mereka berhasil dikalahkan dalam perang Jaldiran pada tahun 920 H. beberapa hari setelah itu, Sultan (bukan khalifah) Salim Awwal memasuki kota Tabriz dan menaklukkannya.

    Tidak lama setelah mengalahkan Shafawiyyin, pada tahun 922, ia memerangi seluruh kerajaan-kerajaan dan berhasil menaklukkannya pada perang Maraj Dabiq, setelah penguasa Syam bergabung dengannya. Dengan peperangan ini, seluruh wilayah Syam berada dalam genggamannya begitu pun Anadhul seluruhnya di bawah kekuasaannya, dan ia pun tidak mendeklarasikan khilafah.

    Pada tahun 923, terjadi perang Ridaniyyah, ia adalah peperangan terakhir melawan kerajaan-kerajaan tersebut dan Sultan Salim Awwal berhasil memenangkannya. Akan tetapi ia juga tidak mendeklarasikan khilafah. Dengan berakhirnya kekuasaan raja-raja itu, berakhirlah masa kepemimpinan khalifah dari Abbasiyyah yang sebagaimana tadi telah digambarkan, tidak memiliki kekuasaan apa pun. Lalu daerah Hijaz masuk ke dalam wilayah Daulah Ustmaniyyah. Saat itu lah, (ada juga yang mengatakan sebelumnya) Sultan Salim Awwal diberi gelar Khalifah kaum muslimin, kepemimpinan Ustmani berubah status dari Daulah menjadi Khilafah. Itu terjadi pada tahun 926 H, yaitu setelah lebih dari 300 tahun dimulainya kepemimpinan keluarga Utsman. Tidakkah orang-orang yang tergesa-gesa mengambil pelajaran?!

    Daulah Su’udiyyah Pertama
    Imam Mujaddid Muhammad bin Abdulwahhab bersekutu dengan Imam Muhammad bin Su’ud pada tahun 1157 H. Pada saat itu perkembangan dan perluasan daulah Su’udiyyah pertama dimulai. Banyak negeri-negeri Najd berhasil dikuasai. Pada tahun 1165, daerah Huraimla takluk. Kemudian Quwai’iyyah pada tahun 1169. Imam Muhammad bin Su’ud wafat pada tahun 1179 H. Kepemimpinan digantikan oleh putranya Abdulaziz. Ia melanjutkan perjalanannya bersama Imam Muhammad bin Abdulwahhab, hingga sang Imam pun wafat pada tahun 1206 H setelah Daulah Su’udiyyah pertama dimasanya berhasil menguasai banyak wilayah Najd. Namun ia tidak mendeklarasikan khilafah. Padahal ia berperang bersama dua pemimpin; Muhammad dan Abdulaziz sekitar 50 tahun, dan wilayah kekuasaan Daulah Su’udiyyah pertama setelah wafatnya sang Imam telah mencakup hampir seluruh Jazirah Arab di masa Imam Abdullah bin Su’ud, yang kepemimpinannya berakhir pada tahun 1234 H. Dengannya, berakhir masa Daulah Su’udiyyah pertama, dan tidak seorang pun dari mereka yang mendeklarasikan khilafah, padahal daulah mereka berjalan sekitar 80 tahun.

    Thaliban
    Kekuasaan Thaliban di Afganistan berjalan selama 6 tahun dari tahun 1417 H hingga tahun 1423 H. Di masa itu, Thaliban telah menguasai seluruh wilayah Afganistan. Namun demikian, mereka menamainya dengan ‘Imarah Afganistan Islamiyyah’ dan tidak mendeklarasikan khilafah. Mereka juga menggelari pemimpinnya dengan amirul mukminin, bukan dengan khalifatul muslimin. Ia juga tidak meminta kaum muslimin di India, Cina, Jazirah Arab, Maroko, kaum muslimin di Eropa, Amerika dan Arfika untuk berbaiat kepadanya.

    Sejumlah Pertanyaan Banyak Para Pemuda
    Sebagian mereka mengatakan, kita menyaksikan, mendengar dan membaca pihak ini dan pihak itu. Masing-masing mengungkapkan argumentasinya, untuk menyatakan bahwa pendapatnya adalah yang hak dan benar.

    Masing-masing berargumentasi dengan ayat-ayat dan hadis-hadis, masing-masing juga menukilkan pendapat para ulama terdahulu untuk menguatkan pendiriannya. Kemudian, diantara para pendukung khilafah ini, kita mendapati diantara merekapara mujahid yang telah berkorban untuk agama ini dengan darah dan jiwanya, melawan musuh dengan sangat mengagumkan hati orang-orang yang beriman, bersiaga di bawah terik matahari dan cuaca dingin.

    Sementara kita mendapati orang-orang yang mengingkari para pendukung daulah hanya duduk manis di rumahnya sambil menulis, jauh dari medan-medan pertempuran, dalam rasa aman, menulis sambil duduk di kursi-kursi empuk, di balik layar-layar komputer, dalam ruangan ber-AC. Bagaimana mungkin Anda menginginkan kami untuk meninggalkan pendapat yang pertama dan mengambil pendapat orang kedua?!

    Sebagian mereka berkata, kami telah berputus asa dari perkataan kalian. Dari sejak 100 tahun yang lalu kalian menggembar-gemborkan seputar pentingnya mengembalikan khilafah Islamiyyah, namun kami tidak pernah melihat kalian mengerjakan sesuatu untuk mengembalikannya kecuali hanya omongan belaka. Ada pun mereka, para pejuang itu telah mewujudkan mimpi kami yang sangat besar dan merealisasikannya secara nyata dengan darah dan senjata mereka. Apakah kita akan meninggalkan realitas yang nyata, yang ramai dibicarakan oleh hampir seluruh media dan menggentarkan negara-negara kafir, lalu kami mengambil perkataan para pemalas semacam kalian?!

    Pertanyaan-Pertanyaan Diatas Mengandung Tiga Syubhat:
    Para pendukung khilafah telah merealisasikannya secara nyata, sementara orang-orang yang menentang mereka hanya bisa berbicara.

    Para pendukung khilafah adalah ahli tsughur (para pejuang di medan perang), sementara orang-orang yang menentang mereka adalah ahli dutsur (yang bergelimang harta).

    Semuanya berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama terdahulu.

    Berikut adalah jawabannya:
    Adapun syubhat pertama, bahwa para pendukung khilafah telah merealisasikannya secara nyata, hal ini sudah dibantah dalam penjelasan yang lalu. Bahkan, makalah ini seluruhnya ditujukan untuk membantah kesimpulan itu. Kita katakan, yang menjadi ukuran adalah hakikat dan makna, bukan sekedar nama dan bentuk. Mendeklarasikan sesuatu bukan berarti mengerjakan atau mewujudkannya. Mewujudkannya secara lahir tidak juga berarti menunjukkan keabsahannya, dalam hadis, “Shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.” Padahal orang itu sujud, rukuk, menunduk dan bangkit.

    Adapun syubhat kedua, bahwa para pendukung khilafah adalah para pejuang di medan perang (ahli tsughur) dan orang-orang yang menentangnya adalah sekedar para penikmat harta, maka bantahan atas hal ini dari dua sisi:

    Pertama: telah lalu pembahasan dalam makalah yang berjudul “Isykaliyyatu al Ghuluw fil Jihad al Mu’ashir” (Problem Radikalisme dalam Jihad Kontemporer) dalam kajian ketujuh, pada bantahan atas pernyataan, “Jika manusia berselisih, maka bertanyalah kepada ahli tsughur”, silahkan dirujuk kembali makalah tersebut. Intinya, ahli tsughur tidak memiliki otoritas yang melebihi ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan yang lainnya dalam mengangkat seorang khalifah kaum muslimin.

    Kedua: realitasnya tidak demikian. Mayoritas ahli tsughur dari kalangan mujahidin, kelompok-kelompok besar, aliansi-aliansi dan faksi-faksi jihad yang ada tidak mendukung deklarasi khilafah, tidak membaiat mereka (ISIS), maka dalil itu berbalik atas mereka.

    Adapun syubhat ketiga, bahwa seluruhnya berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama yang terdahulu untuk menguatkan pendapatnya, maka saya katakan: Yang menjadi ukuran bukan sekedar berargumentasi dan menukil, yang menjadi ukuran adalah bagaimana cara argumentasinya?

    Bagaimana kapasitas ilmiah orang yang berargumentasi dengan ayat, hadis dan perkataan para ulama ini? Jika kita memperhatikan substansi masalah kita saat ini, maka kita tidak menemukan dari para ulama rabbani yang dalam keilmuannya, yang terkenal keshalehan, ketakwaan dan jauhnya mereka dari syubhat, yang mendukung khilafah ini. Bahkan, para tokoh intelektual pergerakan jihad kontemporer saat ini pun secara tegas menolaknya.

    Kita melihat, hanya para pemuda tanggung dan orang-orang bodoh –kecuali sedikit diantara mereka- yang mendukung khilafah ini. Jika Anda menelusuri seluruh alam Islami dari timur sampai ke barat, dari selatan sampai ke utara, Anda akan melihat bahwa seluruh para ulama, penuntut ilmu dan para da’i, mereka sepakat, seluruhnya mengingkari keabsahan khilafah ini, tidak meridhainya, dan tidak memandang bahwa syarat-syarat khilafah telah terpenuhi padanya. Tidakkah ini cukup sebagai bukti kebatilannya?

    Para ulama rabbani yang dalam keilmuaanya adalah timbangan yang detail, saat terjadi kesimpang siuran, banyaknya fitnah, ketidakjelasan perkara dan kebingungan manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan mereka dalam kesesatan.

    Kesimpulannya: Jika keumuman kaum muslimin di seluruh negeri membaiat seorang diantara mereka, maka ia adalah khalifah mereka. Wilayah itu disebut khilafah. Jika tidak, ia hanya salah satu Imarah, dan penguasa suatu wilayah itu adalahhakim atau amir yang khusus untuk orang-orang yang ada disana.

    Dengan demikian, kepemimpinan yang tidak berkumpul padanya Umat ini, bukanlah kepemimpinan yang bersifat umum, tidak boleh disandangkan nama khilafah padanya, walau pun ia mendeklarasikannya. Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan mengembalikan orang-orang yang tersesat di kalangan kaum muslimin kepada kebenaran, dan memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan keselamatan.

    Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim

    18 Syawwal 1435


    Penerjemah: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.

    Artikel Muslim.Or.Id

    sumber : http://muslim.or.id/manhaj/deklarasi-khilafah-islamiyyah-antara-perspektif-syariat-dan-realita.html

    Barokallohufiikum !

    KEKEJAMAN KHAWARIJ BUKAN AJARAN ISLAM

    Kelompok sesat berhaluan Khawarij berbaju “ISIS” yang telah melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin secara kejam dan sadis, telah diperingatkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah di abad ini akan bahaya kesesatan mereka tersebut.

    Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah berkata :

    وقد اشتهر أن قتلهم لمن يريدون قتله يكون بالسكاكين الذي هو من أبشع وأنكى ما يكون في قتل الآدميين

    “Dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.” [Risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah”]

    Beliau hafizhahullah berkata :

    وكيف يُرتجى خير ممن ابتلوا بالتكفير والتقتيل بأشنع القتل وأفظعه؟

    “Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!”
    [Risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah”]

    Pada hakikatnya apa yang mereka lakukan hanyalah mengikuti pendahulu mereka, yaitu kaum Khawarij generasi awal yang membunuh kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir, bahkan membunuh dua orang sahabat terdekat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang sudah dijamin surga dan dua orang khalifah kaum muslimin yang termasuk Al-Khulafa’ur Rasyidun, yaitu ‘Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhuma.

    Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan :

    قَوْمٌ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

    “Mereka adalah satu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak malampaui kerongkongan mereka (tidak memahami Al-Qur’an dengan baik), mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus buruannya, mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin. Andaikan aku bertemu mereka, maka akan kubunuh mereka seperti pembunuhan kepada kaum ‘Aad.”
    [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

    Mereka juga membunuh Sahabat yang Mulia Abdullah bin Khabbab radhiyallahu’anhuma dan budak perempuannya yang sedang hamil secara sadis dan kejam.

    Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

    ثُمَّ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ لَا يَعْتَقِدُ مُعْتَقَدَهُمْ بِكفْر وَيُبَاحُ دَمُهُ وَمَالُهُ وَأَهْلُهُ وَانْتَقَلُوا إِلَى الْفِعْلِ فَاسْتَعْرَضُوا النَّاسَ فَقَتَلُوا مَنِ اجْتَازَ بِهِمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَمَرَّ بِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ وَكَانَ وَالِيًا لِعَلِيٍّ عَلَى بَعْضِ تِلْكَ الْبِلَادِ وَمَعَهُ سُرِّيَّةٌ وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلُوهُ وبقروا بطن سُرِّيَّتِهِ عَنْ وَلَدٍ فَبَلَغَ عَلِيًّا فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فِي الْجَيْشِ الَّذِي كَانَ هَيَّأَهُ لِلْخُرُوجِ إِلَى الشَّامِ فَأَوْقَعَ بِهِمْ بِالنَّهْرَوَانِ وَلَمْ يَنْجُ مِنْهُمْ إِلَّا دُونَ الْعَشَرَةِ وَلَا قُتِلَ مِمَّنْ مَعَهُ إِلَّا نَحْوُ الْعَشَرَةِ

    “Kemudian mereka (kaum Khawarij) bersepakat atas kafirnya orang yang tidak meyakini keyakinan mereka dan halal darahnya, hartanya dan keluarganya, setelah itu mereka berpindah kepada tindakan fisik; mereka menghadang manusia lalu membunuh siapa pun kaum muslimin yang melewati daerah mereka, dan tatkala Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu’anhuma melewati mereka –beliau ketika itu adalah Gubernur Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu di sebagian wilayah yang mereka tempati- beliau lewat bersama seorang budak perempuan yang sedang hamil, maka mereka membunuh beliau dan merobek perut budak perempuannya untuk mengeluarkan bayinya, maka sampailah berita tersebut kepada Ali, beliau pun segera keluar menuju mereka bersama pasukan yang tadinya beliau siapkan untuk menuju Syam, beliau memerangi mereka di Nahrawan, dan tidak ada dari mereka yang selamat kecuali kurang dari sepuluh orang, dan tidak ada yang terbunuh dari pasukan Ali radhiyallahu’anhu kecuali sekitar sepuluh orang saja.”

    Sebagaimana mereka juga membunuh orang tua Tabi’in yang Mulia Sa’id bin Jumhan rahimahullah, sebagaimana penuturan beliau :

    أَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى وَهُوَ مَحْجُوبُ الْبَصَرِ ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ، قَالَ لِي : مَنْ أَنْتَ ؟ فَقُلْتُ : أَنَا سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ ، قَالَ : فَمَا فَعَلَ وَالِدُكَ ؟ قَالَ : قُلْتُ : قَتَلَتْهُ الأَزَارِقَةُ ، قَالَ : لَعَنَ اللَّهُ الأَزَارِقَةَ ، لَعَنَ اللَّهُ الأَزَارِقَةَ ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كِلاَبُ النَّارِ ، قَالَ : قُلْتُ : الأَزَارِقَةُ وَحْدَهُمْ أَمِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا ؟ قَالَ : بَلِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا . قَالَ : قُلْتُ : فَإِنَّ السُّلْطَانَ يَظْلِمُ النَّاسَ ، وَيَفْعَلُ بِهِمْ ، قَالَ : فَتَنَاوَلَ يَدِي فَغَمَزَهَا بِيَدِهِ غَمْزَةً شَدِيدَةً ، ثُمَّ قَالَ : وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ ، عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ ، فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ ، فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ ، وَإِلاَّ فَدَعْهُ ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ.

    “Aku pernah mendatangi Abdullah bin Abi Aufa -radhiyallahu’anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku, “Siapakah kamu?” Aku berkata, “Aku Sa’id bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al-Azaariqoh telah membunuhnya”. Beliau berkata, “Semoga Allah melaknat Al-Azariqoh, semoga Allah melaknat Al-Azariqoh. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kami bahwa mereka dalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata, “Apakah Al-Azariqoh saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan semana-mena terhadap mereka”. Beliau pun menarik tanganku dengan keras seraya berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah), hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasihatmu, maka datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui, semoga ia menerima nasihat darimu.  Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.”
    [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/382), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 6435) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 905), dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 905]

    Itulah mazhab mereka yang menunjukkan bahaya bid’ah dalam agama, sebagaimana telah diperingatkan para ulama sejak dulu.

    Al-Imam Abu Qilabah rahimahullah berkata :

    ما ابتدع قوم بدعة إلا استحلوا فيها السيف

    “Tidaklah satu kaum berbuat bid’ah (mengada-ada dalam agama) kecuali mereka akan menghalalkan pedang dalam kebid’ahan itu.”

    Al-Imam Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah menganggap ahlul bid’ah seluruhnya adalah Khawarij (pemberontak) dan beliau berkata :

    إن الخوارج اختلفوا في الاسم، واجتمعوا على السيف

    “Sesungguhnya kaum Khawarij (pemberontak) itu berbeda-beda namanya, namun bersatu di atas pedang.”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

    أَهْلُ الْبِدَعِ مَعَ الْقُدْرَةِ يُشْبِهُونَ الْكُفَّارَ فِي اسْتِحْلَالِ قَتْلِ الْمُؤْمِنِينَ وَتَكْفِيرِهِمْ كَمَا يَفْعَلُهُ الْخَوَارِجُ وَالرَّافِضَةُ وَالْمُعْتَزِلَةُ وَالْجَهْمِيَّةُ وَفُرُوعُهُمْ لَكِنَّ فِيهِمْ مَنْ يُقَاتِلُ بِطَائِفَةٍ مُمْتَنِعَةٍ كَالْخَوَارِجِ وَالزَّيْدِيَّةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْعَى فِي قَتْلِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ مِنْ مُخَالِفِيهِ إمَّا بِسُلْطَانِهِ وَإِمَّا بِحِيلَتِهِ وَمَعَ الْعَجْزِ يُشْبِهُونَ الْمُنَافِقِينَ يَسْتَعْمِلُونَ التَّقِيَّةَ وَالنِّفَاقَ كَحَالِ الْمُنَافِقِينَ

    “Ahlul bid’ah apabila memiliki kekuatan maka mereka menyerupai orang-orang kafir dalam menghalalkan darah dan mengkafirkan kaum muslimin seperti yang dilakukan Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Jahmiyyah dan cabang-cabang mereka, akan tetapi di tengah-tengah mereka ada yang berperang dengan kelompok yang tidak mau tunduk seperti Khawarij dan Zaidiyyah, dan diantara mereka ada yang masih tetap membunuh orang yang telah mereka kuasai yang menyelisihi mereka, apakah mereka membunuhnya dengan  kekuasaan ataukah dengan tipu daya. Dan sebaliknya, ahlul bid’ah apabila dalam keadaan lemah maka mereka menyerupai orang-orang munafiq, mereka menggunakan taqiyyah (berpura-pura) dan kemunafikan seperti keadaan orang-orang munafiq.”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengingatkan :

    وكذلك الخوارج: لمّا كانوا أهل سيف وقتال، ظهرت مخالفتهم للجماعة؛ حين كانوا يقاتلون الناس. وأما اليوم فلا يعرفهم أكثر الناس.

    “Demikian pula Khawarij, tatkala mereka menyandang senjata dan perang, maka nampaklah penyelisihan mereka terhadap al-jama’ah ketika mereka memerangi manusia, adapun hari ini kebanyakan orang tidak mengenali mereka.”

    Dan diantara bentuk kekejaman mereka di masa ini adalah membunuh kaum muslimin dengan api, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

    إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

    “Sungguh tidak boleh menyiksa dengan api kecuali (Allah) Rabb-nya api.” [HR. Abu Daud dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 487]

    Bahkan kepada orang kafir pun, walau ada khilaf ulama, pendapat yang kuat insya Allah bahwa hal itu terlarang, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata :

    بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الخُرُوجَ: «إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلاَنًا وَفُلاَنًا، وَإِنَّ النَّارَ لاَ يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا»

    “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan seraya bersabda: “Apabila kalian berhasil menangkap fulan dan sulan bakarlah keduanya dengan api”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika kami sudah hendak berangkat: Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan, sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Allah, maka apabila kalian berhasil menangkap keduanya maka bunuhlah mereka (tanpa dibakar).”
    [HR. Al-Bukhari]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

    وَأَمَّا حَدِيثُ الْبَابِ فَظَاهِرُ النَّهْيِ فِيهِ التَّحْرِيمُ

    “Adapun hadits ini maka yang nampak jelas adalah larangan dalam hadits ini merupakan pengharaman.”

    Adapun perbuatan sebagian sahabat yang mungkin belum sampai kepada mereka larangan ini sehingga mereka membakar sebagian orang kafir berdasarkan ijtihad, seperti ijtihad Abu Bakr radhiyallahu’anhu yang memerintahkan Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu untuk membakar orang-orang yang murtad dan ijtihad Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ketika membakar orang-orang Syi’ah yang menuhankan beliau, tidaklah patut dipertentangkan dengan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

    Sumber :  http://sofyanruray.info/kekejaman-khawarij-bukan-ajaran-islam/

    Semoga BermamfaAt .
    Wollohu Waliyyut Taufiik !

    KETAHUILAH BAHWA ISIS MENGADOPSI PEMIKIRAN IKHWANUL MUSLIMIN

    Sangat perlu kita ketahui bahwa ISIS mengadopsi pemikiran dari sebagian tokoh Ikhwanul Muslimin.

    Apabila kita tarik ke belakang lebih jauh lagi, induk pemikirannya adalah kelompok sempalan Khawarij yang tumbuh berkembang di masa khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

    Maka dari itu untuk kita ketahui bahwa, mengenal hakekat ISIS adalah dengan mengenal aqidah dan sifat-sifat kelompok Khawarij. Apabila kita memahami hakekat kelompok Khawarij, maka ini tidak hanya berkaitan dengan ISIS saja, namun juga berkaitan dengan al-Qaedah, Ikhwanul Muslimin, dan berbagai gerakan radikal Khawarij lainnya, baik yang di luar Indonesia, maupun yang di dalam negeri Indonesia yang memiliki sepak terjang dan dasar pemikiran yang sama.

    Disini Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras terhadap kelompok sesat Khawarij ini, diiringi dengan penyebutan sifat-sifat mereka. Di antaranya :

    PERTAMA
    Mereka adalah Orang-Orang Sangat Rajin dan Serius Beribadahْ

    “… salah satu di antara kalian pasti akan menganggap rendah shalatnya dibandingkan shalat mereka, serta shaumnya dibandingkan shaum mereka.”

    [HR. al-Bukhari 6933, Muslim 1064]

    Oleh karena itu, jangan tertipu dengan penampilan mereka sebagai orang yang giat dan rajin beribadah. Karena ternyata mereka di atas kesesatan, sehingga berbagai ibadah yang mereka lakukan itu tiada bernilai sama sekali. Tentunya, tidaklah setiap orang yang rajin dan serius beribadah itu khawarij.

    Suatu ketika pernah disebut-sebut tentang Khawarij dan keseriusan mereka dalam beribadah dan dalam melaksanakan shalat di hadapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, maka beliau berkomentar :

    “Orang-orang Khawarij itu tidaklah lebih serius ibadahnya dibandingkan Yahudi dan Nashara. Namun toh demikian ternyata mereka di atas kesesatan.”

    [diriwayatkan oleh al-Aajurry dalam kitab asy-Syari’ah]

    KEDUA
    Orang-orang yang Tidak Memahami al-Qur`an dengan Baik dan Benar

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Akan ada di tengah-tengah umatku perselisihan dan perpecahan. (Yakni akan ada) sebuah kaum pandai berbicara, namun tidak cakap (jelek) dalam berbuat. Mereka rajin membaca al-Qur’an namun (bacaan) tersebut tidak bisa melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke dalam hati mereka). … mereka berdakwah (mengajak) kepada Kitabullah, padahal mereka bukan termasuk darinya sama sekali. … .”

    [HR. Abu Dawud 4765]

    KETIGA
    Orang-orang yang Muda Belia

    “Akan muncul di akhir zaman, sebuah kaum yang muda belia dan dungu akalnya, namun berkata-kata dengan sebaik-baik ucapan manusia.”
    [HR. al-Bukhari 5057]

    Mereka adalah orang-orang yang relatif muda usianya, sedikit ilmu dan pengalamanya, namun berani lancang berbicara tentang masalah besar, serta mengkritisi para ulama besar.

    Yakni mereka berucap dengan kata-kata yang baik pada tampilannya, namun hakekatnya adalah kejelekan atau kebatilan. Seperti yang mereka propagandakan dan mereka promosikan sekarang, yaitu :

    “Khilafah Islamiyyah”,

    kata-kata yang sangat bagus. Padahal hakekatnya adalah mereka membantai kaum muslimin.

    KEEMPAT
    Mereka adalah Anjing-anjing Neraka

    “Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”

    [HR. Ibnu Majah 173]

    KELIMA
    Mereka adalah Makhluk Terjelek

    “Mereka adalah sejelek-jelek makhluk dan ciptaan.”

    [HR. Muslim 1067]

    KEENAM
    Keluar dari Agama

    “Akan ada sepeninggalku dari umatku, sekelompok kaum yang rajin membaca al-Qur`an namun bacaan tersebut tidak melewati tenggorokan mereka (yakni tidak masuk ke dalam hati mereka). Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah menembus buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali lagi kepada agama tersebut…”

    [HR. Muslim 1067]

    KETUJUH
    Membunuhi Kaum Muslimin

    “Mereka membunuhi orang-orang Islam, namun membiarkan para penyembah berhala (yakni orang-orang musyrik).”

    [HR. al-Bukhari 3344]

    Demikianlah yang dilakukan oleh ISIS dan juga gerakan-gerakan radikal teroris khawarij lainnya.

    Bagi mereka darah kaum muslimin sangat murah dan tidak ada artinya. Pembunuhan sadis dan tak berprikemanusiaan itu mereka lakukan dengan mengatasnamakan jihad dan penegakan syari’at Islam, bahkan mengatasnamakan :

    “Khilafah Islamiyyah”

    Karena tidak ada cara untuk memperbaiki umat yang telah rusak ini menurut mereka, kecuali dengan cara pembunuhan massal.

    Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah sejak beberapa abad lalu telah mengatakan :

    “Kalau mereka (Khawarij) telah memiliki kekuatan, niscaya akan merusak bumi semuanya, baik Iraq maupun Syam. Mereka tidak akan membiarkan seorang bayi laki, maupun bayi perempuan, pria dewasa maupun wanita dewasa [kecuali pasti mereka bunuh !!]

    Karena umat manusia menurut mereka telah rusak dengan tingkat kerusakan yang tidak bisa diperbaiki kecuali dengan pembunuhan massal !!”

    [al-Bidayah wa an-Nihayah 10/584-585]

    Wollohuta’ala A’lam Bhisshowaab.
    Wabarokallohufiikum !

    BELIYANYA USIA MERUPAKAN SUMBER BURUKNYA PEMAHAMAN

    ‘Urwah bin az-Zubair termasuk orang yang utama dari kalangan tabi’in, salah seorang dari 7 fuqoha Madinah di masa tabi’in…

    Beliau telah menyiapkan ‘udzur-nya pada kesalahan pemahaman beliau, yaitu usia beliau yang masih muda ketika bertanya pada Aisyah. Maka jelaslah dari sini bahwa BELIYANYA USIA merupakan sumber buruknya pemahaman dan bahwa kembali kepada ulama adalah sumber kebaikan dan keselamatan…

    Dalam Shahih al-Bukhoriy (7152) dari Jundab bin Abdillah, ia berkata :

    “Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali dari yang baik hendaknya ia lakukan. Barangsiapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan setangkup darah yang ia tumpahkan, hendaknya ia lakukan”.

    [HR. al-Bukhoriy]

    Barokallohufiik !

    KEMUNCULAN ISIS HANYALAH BARANG LAMA DALAM KEMASAN BARU

    Sebelum populernya nama ISIS, lebih dahulu kita mendengar nama jaringan “al-Qaedah”

    pimpinan Usamah bin Laden Alias gendeng  , yang kemudian dilanjutkan oleh Aiman azh-Zhawahiri. Juga gerakan “Jabhatun Nushrah” (Front Pembelaan), dan berbagai gerakan lainnya yang sebenarnya mereka sama, yakni sama-sama berideologi dan berprinsip dengan prinsip KHAWARIJ

    Kemudian Di antara berbagai gerakan radikal yang mempunyai pemikiran Khawarij tersebut pada masa ini adalah kelompok :

    “Ikhwanul Muslimin” (IM)

    Hal ini bisa dilihat dari sebagian karya para tokoh tokohnya..

    Seperti Sayyid Quthub sebagaimana tertuang dalam  sebagian karyanya menvonis masyarakat muslim telah menjadi masyarakat jahiliyyah (maksudnya adalah kafir)

    Oleh karena itu kaum khawarij berangkat dari pemikiran tersebut tidak segan-segan untuk menumpahkan darah masyarakat muslim tersebut karena dianggap telah murtad atau kafir, Na’uubillaah .

    KEMUDIAN dalam sejarah perkembangannya, perjalanan kelompok IM ini diwarnai dengan berbagai aksi teror dan peristiwa-peristiwa berdarah, dalam upaya mereka mewujudkan tujuan utamanya, yaitu mendirikan apa yang mereka namakan sebagai :

    “Daulah Islamiyyah” atau

    “Khilafah Islamiyyah”.

    Barokallohufiik !

    TAUHID DULU ATAU KHILAFAH ?

    Semua dakwah para Nabi dan Rasul adalah untuk menegakkan “Tauhid” maka tidak ada khilafah kecuali berdiri di atas Tauhid karena khilafah adalah merupakan hadiah dari Alloh untuk Hamba hambaNya, yang telah menegakan Tauhid di muka bumi.

    Jadi khilafah bukan menjadi tujuan utama dakwah, akan tetapi ia menjadi sarana dalam menegakan tauhid di muka bumi.

    Maka kita jumpai di antara para Nabi mereka tidak mempunyai khilafah atau bahkan beberapa segelintir orang yang mengikutinya, akan tetapi terus menyerukan dakwah tauhid….

    Cobalah lihatlah misalnya nabi Nuh Alaihissalam yg berdakwah lebih kurang sekitar 950 tahun dan yang mengikuti pun hanya beberapa segelintir orang saja…apakah selama itu bliau berusaha mendirikn kekhilafahan…untuk mendirikan negara islam…tidak!!”” akan tetapi beliau terus meyerukan ke jalan Tauhid.

    Nabi kita ketika memulai dakwahnya selama di mekah apakah sibuk bagaimana mendirikan negara islam….sama sekali tidak
    Namun lihatlah tatkala umat nya sudah banyak yg mentauhidkan Alloh ,Alloh jadikan kaum muslimin kuat dan berkuasa di muka bumi.

    Maka sugguh benar perkataan seorang dai :

    قوموا دولة الأسلام في قلوبكم ستقم في أرضكم

    Tegakkanlah daulah islam di hati hati kalian maka akan tegak di bumi kalian.

    Kesimpulannya:

    Tauhid Adalah prioritas utama,maka mari kita berusaha mempelajari tauhid yang benar pada diri kita, berusaha mengamalkan syariat Syariatnya pada diri kita, kemudian mengajarkan kepada keluarga,masyarakat begitu seterusnya sehingga ketika kaum muslimin sudah banyak yang kembali ke jalanNya, memtauhidkanNya,maka Allohpun akan ridho dan memberi kekuasaan di muka bumi di atas khilafah ‘ala manhaji nubuwah…

    wallahu a’lam .
    Barokallohufiik !

    SALAH FAHAM TENTANG THAGUT

    Allah ta’ala berfirman :

    فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

    “Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”
    [QS. Al-Baqarah : 256]

    (Sebagian) orang-orang takfiriy (= gemar mengkafirkan orang) seringkali menggunakan ayat di atas dan ayat-ayat semisal untuk menstigma orang-orang tertentu sebagaithaaghuut. Dan anggapan mereka, semua hal yang disebutthaaghuut oleh para ulama adalah kafir. Atau kongkrit yang akan diangkat dalam artikel ini : Ketika para ulama menjelaskan salah jenis thaaghuut adalah penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka penguasa itu statusnya kafir karena thaaghuut itu berstatus kafir.

    Ini adalah kekeliruan deduksi berat yang banyak menjangkiti orang-orang takfiriy.

    Benarkah setiap hal yang dinisbatkan kepada thaaghuut itu dihukumi kafir ?

    Untuk menjawabnya, kita akan bahas lebih dahulu, apa sebenarnya thaaghuut itu ?. Para ulama mempunyai ragam perkataan sebagaimana disebutkan di bawah :

    Ia bisa berupa berhala/patung yang disembah, sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ عَلَى ذِي الْخَلَصَةِ “، وَذُو الْخَلَصَةِ: طَاغِيَةُ دَوْسٍ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ

    Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah berkata Sa’iid bin Al-Musayyib : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak akan tegak hari kiamat hingga pantat-pantat wanita suku Daus berjoget di Dzul-Khalashah”. Dzul-Khulashah adalah thaaghuut (berhala) suku Daus yang mereka sembah pada masa Jaahiliyyah [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7116].

    Ia bisa berupa syaithaan, sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ زَكَرِيَّا، عَنِ الشَّعْبِيِّ: “الطَّاغُوتِ: الشَّيْطَانُ ”

    Telah menceritakan kepada kami Abu bakr, dari Wakii’, dari Zakariyyaa, dari Asy-Sya’biy : “Thaaghuut, yaitu syaithaan” [Ghariibul-Hadiits oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy, 2/643; shahih].

    Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata :

    وقال ابن قتيبة : كل معبود ؛ من حجر أو صورة أو شيطان : فهو جبتٌ وطاغوتٌ . وكذلك حكى الزجاج عن أهل اللغة

    “Ibnu Qutaibah berkata : ‘Segala sesuatu yang disembah baik berupa batu, patung, ataupun syaithaan, maka ia adalah jibt dan thaaghuut’. Dan begitulah yang dihikayatkan oleh Az-Zujaaj dari para pakar bahasa” [Nuzhatul-A’yun An-Nawaadhir, hal. 410].

    Ia bisa berupa dukun, sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدٍ: “الطَّاغُوتِ: الْكَاهِنُ ”

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami Ghundar, dari Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’iid : “Thaaghuut, yaitu dukun” [idem; shahih].

    Ia bisa berupa tukang sihir, sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الأَعْلَى، قَالَ: ثنا دَاوُدُ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ، أَنَّهُ قَالَ: ” الطَّاغُوتُ: السَّاحِرُ ”

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdul-A’laa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Daawud, dari Abul-‘Aaliyyah, bahwasannya ia berkata : “Thaaghuut, yaitu tukang sihir” [Tafsir Ath-Thabariy, 4/557; shahih].[1]

    Atau berupa segala sesuatu yang disembah selain Allah, sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ، ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، ثنا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ لِي مَالِكٌ ” الطَّاغُوتُ: مَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ”

    Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah : Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Maalik pernah berkata kepadaku : “Thaaghuut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah” [Tafsir Ibni Abi Haatim, no. 2622; shahih].

    Beberapa ulama memutlakkannya dengan semua orang yang menyeru kepada kesesatan, sebagaimana perkataan Al-Qurthubiy rahimahullah :

    {وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} أي اتركوا كل معبود دون الله كالشيطان والكاهن والصنم، وكل من دعا إلى الضلال

    “Ayat : dan jauhilah thaaghuut’, maknanya : tinggalkanlah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, seperti syaithaan, dukun, berhala, dan semua yang menyeru kepada kesesatan” [Tafsiir Al-Qurthubiy, 10/103].

    Atau memutlakkannya pada setiap pemimpin kesesatan :

    Ibnul-Mandhur rahimahullah berkata :

    الطاغوتُ ما عُبِدَ من دون الله عز وجل وكلُّ رأْسٍ في الضلالِ طاغوتٌ وقيل الطاغوتُ الأَصْنامُ وقيل الشيطانُ وقيل الكَهَنةُ وقيل مَرَدةُ أَهل الكتاب

    “Thaaghuut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah ‘azza wa jalla.  Dan segala pemimpin kesesatan adalah thaaghuut. Dikatakan, thaaghuut adalah berhala-berhala. Dikatakan pula : syaithaan dan dukun” [Lisaanul-‘Arab, hal. 2722 – materi kata طوغ].

    Al-Fairuz Aabaadiy rahimahullah berkata :

    والطاغوت : اللات , والعزى , والكاهن , والشيطان , وكل رأس ضلال , والأصنام ، وما عبد من دون الله , ومردة أهل الكتاب

    “Dan thaaghuut adalah Laata, ‘Uzza, dukun, syaithaan, semua pemimpin kesesatan, berhala, sesuatu yang diibadahi selain Allah, dan orang-orang durhaka dari Ahlul-Kitaab” [Al-Qaamuus Al-Muhiith, 4/400].

    Atau memutlakkannya pada setiap orang yang memalingkan dari jalan kebaikan/kebenaran.

    Ar-Raaghib Al-Asfahaaniy rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Taajul-‘Aarus berkata :

    ويُرَادُ بهِ السّاحِرُ والماردُ منَ الجنِّ والصّارِفُ عنْ طَرِيقِ الخَيْرِ

    “Dan yang dimaksudkan dengannya adalah tukang sihir, pentolan jin yang durhaka, dan orang yang memalingkan dari jalan kebaikan” [Taajul-‘Aarus, 1/5685].

    Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah berkata :

    وعلماءُ السوءِ الذين يدعون إلى الضلال والكفر أو يدعون إلى البدع أو إلى تحليل ما حرم الله أو تحريم ما أحل الله : طواغيتٌ

    “Dan ‘ulama suu’ (yang jelek) yang mengajak kepada kesesatan dan kekufuran, atau mengajak kepada kebid’ahan, atau mengajak kepada menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka mereka disebut thaaghuut” [Syarh Tsalaatsatil-Ushuul, hal. 151].

    Bahkan, thaaghuut itu mencakup orang yang memakan uang suap dan beramal tanpa ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah :

    والطواغيت كثيرة , والمتبين لنا منهم خمسة : أولهم الشيطان وحاكم الجور وآكل الرشوة ومن عُبدَ فرضيَ والعامل بغير علم

    “Thaaghuut itu banyak jenisnya, dan yang telah kami jelaskan di antaranya ada lima, yaitu : syaithaan, hakim yang curang, pemakan risywah (uang sogok), orang yang diibadahi (selain Allah) dan ia ridlaa, serta orang yang beramal tanpa ilmu” [Ad-Durarus-Saniyyah, 1/137].

    Mencakup juga dinar dan dirham, sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

    وهو اسمُ جنسٍ يدخل فيه : الشيطان والوثن والكهان والدرهم والدينار وغير ذلك

    “Ia (thaaghuut) merupakan isim jenis yang masuk padanya : syaithaan, berhala, dukun, dirham, dinar, dan yang lainnya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 16/565].

    Mencakup pula orang yang merubah hukum Allah dan/atau tidak berhukum dengan hukum Allah, sebagaimana perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah yang lain :

    والطاغوت عام، فكل ما عُبد من دون الله، ورضي بالعبادة من معبود أو متبوع أو مطاع في غير طاعة الله ورسوله، فهو طاغوت.
    والطواغيت كثيرة ورؤوسهم خمسة: 
    (الأول): الشيطان الداعي إلى عبادة غير الله، والدليل قوله تعالى:{أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}. 
    ( الثاني ): الحاكم الجائر المغير لأحكام الله تعالى، والدليل قوله تعالى:{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً}. 
    ( الثالث ): الذي يحكم بغير ما أنزل الله، والدليل قوله تعالى:{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}… 
    ( الرابع ): الذي يدعي علم الغيب من دون الله، والدليل قوله تعالى:{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً}. وقال تعالى:{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}. 
    ( الخامس ): الذي يعبد من دون الله وهو راض بالعبادة، والدليل قوله تعالى:{وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ}.

    “Thaaghuut itu banyak macamnya, dan biang-biangnya ada lima, yaitu : Pertama, syaithaan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala : ‘Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaithaan? Sesungguhnya syaithaan itu adalah musuh yang nyata bagimu’. (QS. Yasin : 60). Kedua, penguasa lalim yang merubah hukum-hukum Allah ta’ala, dan dalilnya adalah firman-Nya ta’ala : ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. Dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya’ (QS. An-Nisaa’ : 60). Ketiga, orang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir’ (QS. Al-Maaidah : 44). Keempat, orang yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, padahal itu adalah hak khusus Allah; dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala : ‘(Dia adalah Rabb) yang mengetahui hal ghoib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghoib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya’ (QS. Al-Jin : 26-27); dan firman-Nya : ‘Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)’ (QS. Al-An’aam : 59). Kelima, segala sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia rela dengan penyembahan tersebut. Adapun dalilnya adalah firman Allah ta’ala : ‘Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan, ‘Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu kami beri balasan dengan Jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim’ (QS. Al-Anbiyaa’ : 29)” [Majmuu’ Rasaail fit-Tauhiid wal-Iimaan, hal. 377-378].

    والطواغيت كثيرة، ورؤوسهم خمسة: إبليس لعنه الله، ومن عبد وهو راض، ومن دعا الناس إلى عبادة نفسه، ومن ادعى شيئا من علم الغيب، ومن حكم بغير ما أنزل الله

    “Thaaghuut itu banyak macamnya, dan biangnya ada lima : (1) Iblis la’natullah, (2) orang yang diibadahi selain Allah dan ia ridlaa kepadanya, (3) orang yang menyeru manusia untuk meng-ibadahi dirinya, (4) orang yang mengklaim mengetahui ilmu ghaib, dan (5) orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah” [Tsalaatsatul-Ushuul, hal. 195].

    Ibnu Katsiir rahimahullah ketika menafsirkan ayat :

    يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

    “Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” [QS. An-Nisaa’ : 60].

    beliau berkata :

    والآية أعم من ذلك كله، فإنها ذامة لمن عدل عن الكتاب والسنة، وتحاكموا إلى ما سواهما من الباطل، وهو المراد بالطاغوت هاهنا

    “Dan ayat tersebut lebih umum maknanya dari semua yang disebutkan itu, karena ia merupakan celaan bagi orang yang menyimpang dari Al-Qur’am dan As-Sunnah, dan mereka berhukum kepada selain keduanya, yaitu kepada kebathilan. Itulah yang dimaksudkan denganthaaghuut pada ayat ini” [Tafsir Ibni Katsiir, 2/346].

    Abu Ja’far Ath-Thabariy rahimahullah mencoba merangkum pendefinisian thaaghuut : :

    والصواب من القول عندي في”الطاغوت”، أنه كل ذي طغيان على الله، فعبد من دونه، إما بقهر منه لمن عبده، وإما بطاعة ممن عبده له، وإنسانا كان ذلك المعبود، أو شيطانا، أو وثنا، أو صنما، أو كائنا ما كان من شيء

    “Dan yang benar menurutku tentang perkataan thaaghuut, bahwasannya ia adalah segala sesuatu yang melampaui batas terhadap Allah, lalu diibadahi selain dari-Nya, baik dengan adanya paksaan kepada orang yang beribadah kepadanya, atau dengan ketaatan orang yang beribadah kepadanya. Sesuatu yang diibadahi itu bisa berupa manusia, syaithaan, berhala, patung, atau yang lainnya” [Tafsir Ath-Thabariy, 5/419].

    Dan kemudian Ibnul-Qayyim rahimahullah memberikan definisi yang lebih mencakup dengan perkataannya :

    والطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده من معبود و متبوع أو مطاع فطاغوت كل قوم من يتحاكمون إليه غير الله ورسوله أو يعبدونه من دون الله أو يتبعونه على غير بصيرة من الله أو يطيعونه فيما لا يعلمون أنه طاعة الله

    “Thaaghuut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas; baik sesuatu itu dari hal yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Maka thaaghuut itu setiap kaum yang berhukum kepadanya selain dari Allah dan Rasul-Nya, atau mereka menyembah selain dari Allah, atau mereka mengikutinya tanpa adanya pentunjuk dari Allah, atau mereka mentaatinya terhadap segala sesuatu yang tidak mereka ketahui bahwasannya hal itu merupakan ketaatan kepada Allah” [I’laamul-Muwaqqi’iin, 1/50].

    Rekan-rekan,… dari sini kita dapat tahu kekeliruan orang-orang takfiriy itu. Tidak semua yang disebut thaaghuut itu adalah kafir. Benar, bahwasannya syaithaan, dukun, dan tukang sihir itu kafir, karena dalil-dalil secara jelas menunjukkan akan kekafirannya. Tapi apakah patung itu juga dihukumi kafir ?. Jawabannya : Tentu tidak, karena ia adalah benda mati yang tidak bisa disifati dengan kekufuran, sebagaimana tidak bisa disifati dengan lawannya (iman dan Islam). Hal yang sama dengan dinar dan dirham – yang menjadi thaaghuut bagi orang yang tamak kepadanya – .

    Begitu juga dengan pemakan suap. Walaupun ia termasuk pelaku dosa besar[2], namun memakan suap bukanlah jenis dosa yang secara asal menyebabkan pelakunya terjerembab dalam kekafiran (akbar) berdasarkan kesepakatan Ahlus-Sunnah.[3]

    Begitu juga dengan ulama suu’ dan mubtadi’ atau ahlul-bid’ah yang menyeru kepada kesesatan. Mereka tidak bisa dimutlakkan kafir, karena para Ahlus-Sunnah telah memerincinya, apakah bid’ah yang didakwakannya itu merupakan bid’ah mukaffirah atau ghairu mukaffirah.[4]

    Begitu juga dengan penguasa dhaalim, ia tidak bisa dimutlakkan dengan kekafiran. Rasulullah shallallaallhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang kemunculanatsarah :

    إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

    “Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu : pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat – Abu Al-Jauzaa’). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudl”  [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7057 dan Muslim no. 1845].[5]

    Perintah bersabar (dan larangan keluar dari ketaatan) merupakan nash bahwa atsarah-atsarah tersebut tidaklah dihukumi kafir (murtad).

    dan yang lainnya….

    Jika demikian,…. maka pensifatan thaaghuut kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah pun demikian, yaitu tidak bisa dimutlakkan kepada kekafiran, karena ia membutuhkan perincian sebagaimana dimaklumi di kalangan Ahlus-Sunnah. Telah berlalu beberapa artikel di Blog ini yang membahasnya.[6]

    Ringkas kata, kekafiran thaaghuut itu harus dikembalikan setiap jenisnya dan dalil yang menopangnya. Barangsiapa yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib bagi kita menghukuminya kafir; namun sebaliknya, barangsiapa yang tidak dikafirkan Allah dan Rasul-Nya, tidak boleh seorangpun yang menghukuminya kafir. Kekafiran bukan semata-mata pensifatan thaaghuut pada sesuatu.

    Jangan Anda terpedaya dengan sebagian omongan mereka yang dikit-dikit bicara thaaghuut, lalu ujungnya : kafir.

    Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.


    [1]     Namun dalam riwayat lain dengan sanad sama dari ‘Abdul-A’laa disebutkan :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ: ” الطَّاغُوتِ: الشَّاعِرُ ”

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa, dari Daawud, dari Abul-‘Aaliyyah, ia berkata : “Thaaghuut, yaitu penyair” [Ghariibul-Hadiits oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy, 2/643; shahih].

    Kemungkinan, ada tashhiif dalam riwayat ini, wallaahu a’lam.

    [2]     Sebagaimana riwayat :

    حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ خَالِهِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ” لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ “. قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

    Telah menceritakan kepada kami Abu Muusaa Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari pamannya (jalur ibu) Al-Haarits bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Salamah, dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memberikan uang suap dan orang yang menerima uang suap” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1337, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih].

    [3]     Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

    اتَّفق أهل السنة والجماعة – وهم أهل الفقه والأثر – على أنَّ أحداً لا يُخرجه ذنبُه – وإن عظُمَ – من الإسلام

    “Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah – dan mereka adalah ahlul-fiqh wal-atsar – telah bersepakat bahwasannya seseorang tidaklah dikeluarkan dari wilayah Islam akibat dosa yang dilakukannya – meskipun itu dosa besar – “ [At-Tamhiid, 16/315].

    [4]     Telah berkata Asy-Syaikh Haafidh Al-Hakamiy dalam kitabnya Ma’aarijul-Qabuul (2/503-504) :

    ثم البدع بحسب إخلالها بالدين قسمان:

     مكفرة لمنتحلها.

     وغير مكفرة.

    فضابط البدعة المكفرة : من أنكر أمرا مجمعا عليه ، متواترا من الشرع ، معلوما من الدين بالضرورة ، من جحود مفروض ، أو فرض مالم بفرض ، أو إحلال محرم ، أو تحريم حلال ،أو اعتقاد ماينزه الله ورسوله وكاتبه عنه…

    والبدعة غير المكفرة: هي مالم يلزم منه تكذيب بالكتاب ، ولابشىء مما أرسل به، ثم مثل لذلك فقال: مثل بدع المروانية، أي – بدع حكام الدولة من بني مروان التي أنكرها عليهم فضلاء الصحابة ، ولم يقروهم عليها- ومع ذلك لم يكفروهم بشىء منها، ولم ينزعوا يدا من بيعتهم لأجلها، كتأخير بعض الصوات عن وقتها ، وتقديمهم الخطبة قبل صلاة العيد…

    “Kemudian bid’ah sesuai dengan pengrusakannya terhadap agama dibagi menjadi dua :

    a. Mengkafirkan pelakunya

    b. Tidak mengkafirkan pelakunya.

    Batasan bid’ah yang mengkafirkan pelakunya adalah bila seseorang mengingkari perkara-perkara yang telah disepakati, mutawatir dalam syari’at, diketahui secara pasti termasuk bagian dari agama, mengingkari kewajiban atau mewajibabkan perkara yang tidak wajib, menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau meyakini sesuatu yang telah dibersihkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta kitab-Nya.

    Sedangkan bid’ah yang tidak mengkafirkan pelakunya adalah bid’ah yang tidak menjadikan seseorang mendustakan Kitab atau sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Seperti bid’ah Marwaniyyah, yaitu bid’ah-bid’ah yang diada-adakan oleh pemerintah Bani Marwan yang diingkari oleh tokoh-tokoh shahabat. Meskipun demikian, para shahabat tidak mengkafirkan mereka dengan sebab bid’ah tersebut, dan juga tidak mencabut bai’at dari mereka akibat bid’ah tadi. Misalnya : bid’ah mengakhirkan waktu shalat dan mendahulukan khutbah sebelum shalat ‘Ied” [selesai].

    Selengkapnya, silakan baca : Hukum Mubtadi’ (حكم المبتدع)

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/hukum-mubtadi.html?m=1

    [5]     An-Nawawi rahimahullah berkata :

    فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه

    “Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kedhalimannya)” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

    [6]     Silakan baca :

    Shahih Atsar Ibnu ‘Abbas : Kufrun Duuna Kufrin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiiriyyuun

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/07/shahih-atsar-ibnu-abbas-kufrun-duuna.html?m=1

    MENYIKAPI PENGUASA YANG DHALIM – Tanya Jawab

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/menyikapi-penguasa-yang-dhalim-tanya.html?m=1

    Penghalalan (Istihlaal) Dalam Amal Perbuatan Yang Mengkonsekuensikan Kekafiran

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/penghalalan-istihlaal-dalam-amal.html?m=1

    QS. An-Nisaa’ Ayat 65 Sebagai Dalil Pengkafiran Orang Yang Berhukum Dengan Selain Yang Diturunkan Allah ?

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/06/qs-nisaa-ayat-65-sebagai-dalil.html?m=1

    Tidak Berhukum Dengan Syari’at Yang Diturunkan Allah.

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/tidak-berhukum-dengan-syariat-yang.html?m=1

    Kafirnya Seorang Haakim Atau Penguasa Tidaklah Melazimkan Kebolehan Keluar Ketaatan Dan Mengangkat Senjata Kepadanya.

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/09/kafirnya-seorang-haakim-atau-penguasa.html?m=1

    Sumber :

    http://abul-jauzaa.blogspot.com

    Wollohu Waliyyut Taufiik !