Arsip Kategori: AMALAN SUNNAH

DUNIA UNTUK BERAMAL AKHIRAT BALASAN NYA

Sebagaimana dalam firmannya :

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).

[(An-Najm/53:31)]

Allah Taala juga telah membantu manusia untuk merealisasikan ibadah yang merupakan tujuan mereka diciptakan, dengan cara menundukkan makhluk-makhlukNya bagi manusia dan segala perantara kebaikan..

Dalam berfirmannya :

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.

[(Luqman/31:20)]

Dan juga dalam firman nya :

“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

[(Al-Jatsiyah/45:12-13)]

Oleh Karna itu Berfikirlah…..

Inilah Renungan Untuk Kita Bersama, Semoga Kita Semua Selalu Bersyukur Atas Nikmat Yang Di Karunianya, In Shaa Allah Aamiin…

Barokallohufiikum !

Iklan

MENGEDEPANKAN KERIDHO’AN ROB-NYA DI ATAS HAWA NAFSUNYA

Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Rob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya”
[(HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)]

Barokallohufiikum !

MENGIKHLASKAN AMAL HANYA UNTUK ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Dengan cara kita megikhlaskan amal hanya untuk Allah, hal ini dapat mengangkat nilai amalan yang ada pada kita .

Allah ta’aala berfirman :

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.
[(QS Al-Lail : 19-21)]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridho kepadanya”
[(HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)]

Wollohutaala A’lam …
Barokallohufiikum !

ADAKAH ANJURAN MEMOTONG KUKU PADA HARI JUMAT

PERTANYAAN

Assalamu ‘alaikum…Pak Ustadz, apakah ada tata cara memotong Atau membuang kuku?

Dari Abu Zahwa..

JAWABAN

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam mengatakan :

“Terdapat beberapa riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan di hari Kamis, Jumat, atau hari lainnya. Tidak terdapat dalil sahih yang memberikan batasan waktu memotong kuku dengan hari tertentu. Namun, umumnya ulama menganjurkan untuk melakukannya di hari Jumat. Mengingat, hari Jumat adalah hari raya mingguan. Demikian pula untuk memotong bagian tubuh yang kotor lainnya. Akan tetapi, tidak ada dalil yang mengkhususkan hal ini dengan waktu tertentu atau batasan tertentu. Karena itu, selama kuku ini layak untuk dipotong maka hendaknya seseorang memotonganya.”
[(Sunan Al-Fitrah, 3:3)]

KEMUDIAN Di antara riwayat yang menyebutkan anjuran memotong kuku hari Jumat adalah :

Hadis pertama

كان يقلم أظافره ويقص شاربه يوم الجمعة قبل أن يخرج إلى الصلاة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa memotong kuku dan kumis beliau pada hari Jumat, sebelum berangkat shalat Jumat.”

Hadis kedua

من قلم أظافره يوم الجمعة وقي من السوء إلى مثلها

“Barang siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat maka dia dilindungi dari kejelekan semisalnya.”

Kedua hadis tersebut dinilai “lemah” oleh Imam Al-Albani. Hadis pertama beliau nyatakan statusnya “dhaif” dan hadis kedua beliau nilai sebagai hadis “palsu“.
[(Mukhtashar Silsilah Dhaifah, no. 112 dan no. 1816)]

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menyimpulkan, tidak ada anjuran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memotong kuku di hari Jumat.

Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan :

لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء

“Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara memotong kuku dan hari tertentu untuk memotong kuku.” [(Al-Maqasidul Hasanah, hlm. 163)]

Kemudian, terdapat beberapa riwayat dari para sahabat dan tabi’in bahwa mereka memiliki kebiasaan memotong kuku di hari Jumat. Di antara riwayat tersebut adalah :

Disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:244; dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma terbiasa memotong kuku dan memangkas kumis pada hari Jumat.

Disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2:65; dari Ibrahim, bahwa beliau menceritakan, “Orang-orang memotong kuku mereka pada hari Jumat.”

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, 3:197; bahwa Muhammad bin Ibrahim At-Taimi–salah seorang tabi’in–mengatakan, “Siapa saja yang memotong kukunya pada hari Jumat dan memendekkan kumisnya maka dia telah menyempurnakan hari Jumatnya.”

Berdasarkan riwayat dari para sahabat di atas, sebagian ulama dari Mazhab Syafi’iyah dan Hanbali menganjurkan untuk memotong kuku setiap hari Jumat.

Imam An-Nawawi mengatakan :

“Imam Asy-Syafi’i dan para ulama Mazhab Syafi’iyah rahimahumullah menegaskan dianjurkannya memotong kuku dan mencukur rambut-rambut di badan (kumis dan bulu kemaluan, pen.) pada hari Jumat.”
[(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 1:287)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar pernah memberikan keterangan :

“Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang memotong kuku. Beliau menjawab, ‘Dianjurkan untuk dilakukan di hari Jumat, sebelum matahari tergelincir.’ Beliau juga mengatakan, ‘Dianjurkan di hari kamis.’ Beliau juga mengatakan, ‘Orang boleh milih waktu untuk memotong kuku.’” Setelah membawakan pendapat Imam Ahmad, kemudian Al-Hafizh memberikan komentar, “(Pendapat terakhir) adalah pendapat yang dijadikan pegangan, bahwa memotong kuku itu disesuaikan dengan kebutuhan.”
[(Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 8:33)]

Di sisi lain, sebagian ulama memberikan kelonggaran dalam menentukan hari memotong kuku. Seseorang disyariatkan untuk memotong kuku kapan pun dia membutuhkan. Hanya saja, tidak boleh dibiarkan sampai melebihi 40 hari. Ini adalah pendapat Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar.

Dasarnya adalah hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Beliau mengatakan :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.”
[(H.R. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa’i)]

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Dan dipublikasikan ulang oleh http://www.salafiyunpad.wordpress.com

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

NASEHAT UNTUKKU DAN UNTUKMU SHOHABAT FYILAH DI MANAPUN BERADA

IBNU SHALAH DALAM KITABNYA ‘ULUMUL HADITS YANG LEBIH DI KENAL DENGAN MUQODDIMAH IBNISH SHALAH MENGATAKAN :

“(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan memengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya SECARA LENGKAP ketika berulang menyebut Rasulullah.”

Ibnu Shalah juga berkata :

“Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut :

Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.

Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang .

Misalnya :
Dia tidak menuliskan wassalam.
islam Fatwa Larangan Penyingkatan SALAM dan SHALAWAT

KEMUDIAN Al-‘Allamah As-Sakhaw dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan :

“Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Ara:) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan saw dan shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.

KEMUDIAN PULA  As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, mengatakan :

“Dibenci menyingkat SHALAWAT DAN SALAM DALAM PENULISAN, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”

Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar KAUM MUSLIMIN mencari yang utama atau YANG AFDHAL, Yaitu: dengan mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”
[(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)]

Yang BerSumber Dari :
Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91

Oleh karna dengan ini marilah kita yaitu, Hendaknya kita mulai sekarang menulis lengkap tulisan tersebut dan tidak dengan menyingkatnya ..

SEBAGAI KESIMPULAN NYA :

WALAUPUN NIAT KITA baik “TAPI” cara yang digunakan adalah SALAH, maka tidak lain hasilnya salah…

In Shaa Allah, umat muslim tidak mempunyai jiwa bakhil untuk niat
dan tujuan yang mulia .. !

Untuk itu harus ada di tengah mereka saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. Maka -dalam rangka ukhuwah islamiyah- kita wajib mengingatkan kesalahan kaum muslimin dan menjelaskan penyimpangan dan kebid’ahan-kebid’ahan pada zaman sekarang ini dengan berharap semoga Allah menyelamatkan seluruh kaum muslimin,
dari KESESATAN DAN PENYIMPANGAN.. !

WollohuA’lamBhisshowaab .
Wabarokallohufiikum !

KELELAHAN YANG DISUKAI ALLAH SUBHANAHU WA TAALA DAN RASULNYA

Ada 8 kelelahan yang disukai Allah dan Rasul-Nya :

  1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9 : 111)
  2. Lelah dalam berda’wah / mengajak kepada kebaikan (QS. 41 : 33)

  3. Lelah dalam beribadah dan beramal sholeh (QS. 29 : 69)

4.Lelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik putra / putri amanah Ilahi (QS. 31 : 14)

  1. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)
  • Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)

  • Lelah dalam belajar/menuntut ilmu (QS. 3:79)

  • Lelah dalam kesusahan, kekurangan, dan sakit (QS. 2:155)

  • Semoga kelelahan dan kepayahan yang kita rasakan hari ini dan esok menjadi bagian itu semua. Semoga kita dapati Allah Tersenyum menyambut kita di surga nanti. Aamiin.

    Semoga bermanfaat .

    Barokallohufiik !

    PERLU KITA KETAHUI BAHWA ALLAH AZZA WA JALLA SAMA SEKALI TIDAK AKAN MENERIMA AMAL PERBUATAN SEORANG HAMBA KECUALI HANYA DENGAN PETUNJUK DAN SUNNAH RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM

    Bagaimanapun semangatnya dia dalam mengerjakannya, dan meskipun dia mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla dan ikhlas dalam mengerjakannya, kecuali jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan petunjuk dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

    Sebagaimana Allah Azza wa Jalla Berfirman:

    (قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم)

    “Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
    [(QS. Ali ‘Imran:31)]

    Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata:

    “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla)

    Barokallohufiikum !