Arsip Kategori: MANHAJ SALAF

KENAPA KITA HARUS MENGIKUTI ASSALAF ?

Penulis: Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala

Pertanyaan :

Kenapa harus dinamakan dengan as Salafiyyah?? Apakah dawah ini merupakan dawah hizbiyyah, atau dawah thooifiyyah atau dawah madzhabiyyah, atau dia ini merupakan satu golongan yang baru dalam Islam ini??

Jawaban :

Sesungguhnya kata kata “as Salaf” maruufun (sangat dikenal) dalam bahasaarab dan di dalam syariat ini, yang terpenting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syariat.

Sesungguhnya telah shohih dari pada Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam, bahwasanya beliauAlaihi wa Sallam pernah berkata kepada anaknya Faathimah radhiallahu anha sebelum beliauAlaihi wa Sallam wafat :

((فاتقي الله واصبري، فإنه نعم السلف أنا لك……)). رواه مسلم (2450) (98).

Artinya : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “salaf” bagi kamu adalah saya…”[1]

Penggunaan kalimat ‘salaf” sangat maruf dikalangan paraulama salaf dan sulit sekali untuk dihitung dan diperkirakan, cukup bagi kita satu contoh dari sekian banyak contoh contoh yang digunakan oleh mereka dalam rangka untuk memerangi bidah bidah.

كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف

Setiap kebajikan itu adalah dengan mengikuti orang salaf dan setiap kejelekan tersebut adalah yang diada adakan oleh orang khalaf”.

Ada sebahagian orang yang mendawakan memilikiilmu, mengingkari penisbahan kepada “salaf”, dengan dawaan bahwa nisbah ini tidak ada asalnya. Dia berkata : “Tidak boleh bagi seseorang muslim untuk mengatakan saya seorang “salafiy,” seolah olah dia mengatakan juga : “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan saya muslim yang mengikuti para “salafus shoolih” dengan apa apa mereka di atasnya dalam bentukaqidah, ibadat dan akhlaq.” Maka tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini kalau benar benar dia ingkari, sudah tentu diwajibkan juga bagi dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar, yang telah dijalani oleh para “salafus shoolih”, Rasuulullahi Shollallahualaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadist hadist yang mutawaatir diantaranya :

((خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم)).

Artinya : “Sebaik baik ummat saya adalah yang hidup sezaman dengan saya (sahabatku), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Taabiuun), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Baaut Taabi`iin)….”[2]

Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbahan kepada as Salafus Shoolih, sebagaimana kalau seandainya berlepas diri juga dari penisbahan yang lainnya, tidak mungkin bagi seorang ahli `ilmu untuk menisbahkannya kepada kekufuran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari penamaan seperti ini (nisbah kepada “salaf”). Apakah kamu tidak menyaksikan, bukankah dia menisbahkan dirinya kepada satu madzhab dari sekian madzhab yang ada?, apakah madzhab ini berhubungan dengan aqidah atau fiqh. Sesungguhnya dia mungkin Asyariy, Maaturiidiy dan mungkin juga dia dari kalangan ahlul hadist atau dia Hanafiy, Syaafiii, Maalikiy atau Hanbaliy diantara apa apa yang termasuk kedalam penamaan ahlus Sunnah wal Jamaaah, padahal seseorang yang menisbahkan dirinya kepada madzhab asyAriy atau kepada madzhab yang empat, sebenar dia telah menisbahkan dirinya kepada pribadi pribadi yang bukan masuum tanpa diragukan, walaupun diantara mereka ada juga para ulama yang benar, alangkah aneh dan sangat mengherankan sekali, kenapa dia tidak mengingkari penisbahan kepada pribadi yang tidak masuum ini???

Adapun seorang yang mengintisabkan dirinya kepada “as Salafus Shoolih”, sesungguhnya dia telah menyandarkan dirinya kepada seseorang yang masuum secara umum (yang dimaksud Nabi Muhammad Shollallahualaihi wa Sallam), Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa Sallam telah menyebutkan tentang tanda tanda “al Firqatun Naajiyyah” yaitu seseorang yang berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah Shollallahualaihi wa Sallam dan para shohabatnya ada di atasnya, maka barang siapa yang berpegang teguh dengan jalan mereka secara yaqin, dia betul betul berada di atas petunjuk Robnya.

Nisbah kepada “as Salaf” ini merupakan nisbah yang akan memuliakan seseorang menisbahkan dirinya kepadanya, kemudian memudahkan baginya untuk mengikuti jalan kelompok orang yang selamat tersebut, tidak sama dengan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nisbah yang lain, karena penisbahan itu tidak akan terlepas dia diantara dua perkara :

Pertama, dia mungkin meng-intisabkan dirinya kepada seseorang yang bukan masuum, atau kepada orang orang yang mengikuti manhaj (methode) orang yang bukan masuum ini, yang tidak ada sifat suci baginya, berbeda dengan shahabat Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam yang memang diperintahkan kita oleh Nabi Shollallahualaihi wa Sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah (cara/methode)nya dan sunnah para shahabatnya setelah beliau wafat.

Dan kita akan terus menerus menganjurkan dan menerangkan agar pemahaman kita terhadap al Quraan dan as Sunnah benar benar sesuai dengan pemahaman para shahabatnya Shollallahu alaihi wa Sallam, supaya kita terjaga daripada berpaling dari kanan dan kekiri, juga terpelihara dari penyelewengan pemahaman yang khusus, sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan atas pemahaman itu dari Kitaabullahi Subhaana wa Taaalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Kemudian, kenapa tidak cukup bagi kita untuk menisbahkan diri kepada al Quraan as Sunnah saja?

Jawabannya kembali kepada dua sebab :

Pertama : Berhubungan dengan nash nash syar`ii.

Kedua : Melihat kepada keadaan firqoh firqoh (golongan golongan) islaamiyah pada sa`at ini.

Ditinjau dari sebab yang pertama : kita menemukan dalil dalil syarii memerintahkan untuk mentaati sesuatu yang lain disandari kepada al Kitab dan as Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta`aalaa :

((يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم….)) النساء (59).

Artinya : “Hai orang orang yang beriman, thaatilah Allah dan thaatilah RasulNya, dan ulil amri diantara kalian.” An Nisaa` (59).

Kalau seandainya ada waliyul amri yang dibaiat dikalangan kaum muslimin maka wajib untuk menthaatinya sebagaimana kewajiban menthaati al Kitab dan as Sunnah, bersamaan dengan demikian kadang kadang dia salam serta orang orang disekitarnya, namun tetap wajib menthaatinya dalam rangka mencegah kerusakan daripada perbedaan pandangan pandangan yang demikian dengan syarat yang ma`ruuf, demikian disebutkan dalam hadist yang shohih :

((لا طاعة في معصية إنما الطاعة في المعروف)).

Artinya : “Tidak ada kethaatan di dalam mashiat, sesungguhnya kethaatan itu hanya pada yang maruuf.”[3]

Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa berkata :

((ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا)). النساء:(115).

Artinya : “Barang siapa menyakiti (menyelisihi) as Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam setelah sampai (jelas) kepadanya hudan (petunjuk), lalu dia mengikuti bukan jalan orang muminin (para shahabat), kami akan palingkan dia kemana sekira kira dia berpaling, lalu kami akan masukan dia keneraka jahannam yang merupakan sejelek jelek tempat baginya.” An Nisaa (115).

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat kesia sia-an, tidak diragukan dan disangsikan lagi bahwasanya penyebutan jalan orang muminiin pada ayat ini sudah tentu ada hikmah dan faedah yang sangat tepat, yaitu; bahwasanya ada kewajiban yang penting sekali tentang pengikutan kita kepada Kitaabullahi Subhaana wa Taaalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahualaihi wa Sallam wajib untuk dicocokan dengan apa apa yang telah dijalani oleh orang muslimiin yang pertama dikalangan ummat ini, mereka adalah shahabat Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam; kemudian orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, inilah yang selalu diserukan oleh ad Dawatus Salafiyyah, dan apa apa yang telah difokuskan dalam da`wah tentang asas asas dan tarbiyahnya.

Sesungguhnya “ad Dawatus Salafiyyah”-merupakan satu satunya dawah yang haq untuk menyatukan ummat ini, sementara apapun bentuk dawah yang lain hanya memecah belah ummat ini; AllahAzza wa Jalla berkata :

((وكونوا مع الصادقين)). التوبة (119).

Artinya : “Hendaklah kamu bersama orang orang yang benar.” At Taubah (119), dan barangsiapa yang membedakan diantara al Kitaab dan as Sunnah disatu sisi, dan antara “as Salafus Shoolih disisi yang lainnya dia bukan seorang yang jujur selama lamanya.

Ditinjau dari sebab yang kedua : Kelompok kelompok dan golongan golongan pada hari ini sama sekali tidak menghadap secara muthlaq untuk mengikuti jalan orang muminiin (jalan para shahabat radhiallahuanhum) seperti yang disebutkan pada ayat diatas, dan dipertegas lagi dengan sebahagian hadist hadist yang shohih diantaranya : hadist al firaq (mengenai perpecahan) menjadi tujuh puluh tiga gologan, yang keseluruhannya di neraka kecuali satu, Rasuulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang sifatnya bahwasanya dia :

“هي التي على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي.”

Artinya : “Dia (al Firqatun Naajiyyah) itu adalah sesuai dengan apa apa yang saya hari ini dan para shahabat saya.”[4]

Dan hadist ini serupa dengan ayat diatas menyebutkan jalan orang muminiin, diantaranya juga hadist alIrbaadh bin Saariyah radhiallahu `anhu :

“فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي”.

Artinya : “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah dan Sunnah al Khulafaaur Raasyidiin al Mahdiyiin setelah saya.”[5]

Jadi dihadist ini menunjukan dua Sunnah : Sunnatur Rasuul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Sunnatul Khulafaaur Raasyidiin.

Diwajibkan bagi kita-akhir ummat ini- untuk kembali kepada al Kitaab dan as Sunnah dan jalan orang muminiin (as Salafus Shoolih), tidak dibolehkan bagi kita mengatakan: kita akan memahami al Kitab dan as Sunnah secara bebas (merdeka) tanpa meruju kepada pemahaman “as Salafus Shoolih!!”

Dan wajib adanya penisbahan yang membedakan secara tepat pada zaman ini, maka tidak cukup kita katakan : saya muslim saja!, atau madzhab saya adalah al Islam!, padahal seluruh firqah firqah yang ada mengatakan demikian : ar raafidhiy (as Syii`ah) dan al ibaadhiy (al Khawaarij/Firqatut takfiir) dan al qadiyaaniy (Ahmadiyyah) dan selainnya dari firqah firqah yang ada!!, jadi apa yang membedakan kamu daripada mereka keseluruhannya??

Kalau kamu mengatakan : saya muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah juga belum cukup, karena pengikut pengikut firqah firqah yang sesat juga mengatakan demikian, baik al Asyaairah dan al Maaturiidiyyah dan kelompok kelompok yang lain- keseluruhan pengikut mereka juga mendawakan mengikuti yang dua ini (al Kitab dan as Sunnah).

Dan tidak diragukan lagi adanya wujud penisbahan yang jelas lagi terang yang betul betul membedakan secara nyata yaitu kita katakan : “Ana muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah di atas pemahaman “as Salafus Shoolih,” atau kita katakan dengan ringkas : “Ana Salafiy.”

Dan diatas inilah; sesungguhnya kebenaran yang tidak ada penyimpangan padanya bahwasanya tidak cukup bersandarkan kepada al Kitab dan as Sunnah saja tanpa menyandarkan kepada methode pemahaman “as Salaf” sebagai penjelas terhadap keduanya dalam sisi pemahaman dan gambaran, al ilmu dan alamal, ad Da`wah serta al Jihad.

Kita mengetahui bahwasanya mereka-radhiallahu anhum- tidak pernah fanatik kepada madzhab tertentu atau kepada pribadi tertentu, tidak terdapat dikalangan mereka ada mengatakan : “Bakriy (pengikut Abu Bakr),Umariy (pengikut Umar),Utsmaaniy (pengikut Utsman),Alawiy (pengikuti Ali) radhiallahuanhum ajmaiin, bahkan salah seorang dari kalangan mereka apabila memudahkan baginya untuk bertanya kepada Abu Bakr atauUmar atau Abu Hurairah dia akan bertanya; yang demikian itu dikarenakan mereka betul betul yaqin bahwasanya tidak dibolehkan meng-ikhlashkan “ittibaa” (pengikutan) kecuali pada seorang saja, ketahuilah dia adalah Rasulullahi Shollallahualaihi wa Sallam; dimana beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan padanya.

Kalau kita terima bantahan para pengeritik ini bahwasanya kita hanya menamakan diri kita “kami orang muslim”, tanpa menisbahkan kepada “as Salafiyyah”-padahal nisbah itu merupakan nisbah yang mulia dan benar-, apakah mereka (para pengeritik) akan melepaskan dari penamaan dengan golongan golongan mereka, atau madzhab madzhab mereka, atau thoriiqah thoriiqah mereka- yang padahal penisbahan dan penyadaran itu bukan disyari`atkan dan tidak benar?!!

فحسبكم هذا التفاوت بيننا

وكل إناء بما فيه ينضح.

Artinya : “Cukuplah bagi kalian perbedaan ini diantara kita

Dan setiap bejana akan menuangkan apa apa yang ada padanya.

Dan Allah Tabaaraka wa Taaalaa yang Menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan Dia-Subhaana wa Taaalaa- Yang Maha Penolong.

Diterjemahkan oleh Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy

Dari Majallah as Ashoolah (no.9/86-90), dengan judul : “Masaail wa Ajwibatuha.”

Sumber: http://www.darussalaf.or.id Penulis: Al Muhaddist al Allaamah Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Taaala Judul: Kenapa kita harus mengikuti as Salaf?

Iklan

TAMPA GOLONGAN APAPUN

Mengikuti Al Qur’an Dan Al Hadits, Tampa Mengikuti Aliran Apapun…..
HANYA ITULAH YANG DI ANJURKAN !!!

Terdapat pembatasan zaman salaf, yaitu orang-orang yang tidak boleh diselisihi dengan mengada-adakan PEMAHAMAN BARU yang hal itu tidak mereka pahami…

Di dalam hadits Ibnu Mas’ud, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka lagi. Kemudian akan datang suatu kaum, kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.”

[(Mutafaq ‘alaihi)]

[(Dan Lihat Ash-Shahihah oleh Al-Albany no. 700)]

Selain dalil di atas, perkara pokok ini (yaitu kewajiban mengikuti pemahaman Salaf) mempunyai dalil-dalil lain dari al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

[(An-Nisa’ : 115)]

Dalil dalam ayat ini ada pada digabungkan sikap menjauhi jalan kaum mu’minin dengan penentangan kepada Rasul, hingga akhirnya berhak memperoleh ancaman yang dahsyat ini. Padahal hanya dengan penentangan kepada Rasul saja telah cukup untuk memperoleh ancaman tersebut berdasarkan firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta menentang Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.

[(Muhammad : 32)]

[(Dan Lihat Majmu’ul Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah (19/194)]

Barokallohufiik !

MENILAI AKIDAH SESEORANG ITU HARUS MESTI DENGAN MANHAJNYA, BUKAN MANHAJ ABAL ABAL YANG SOK INGIN MENEGAKKAN AGAMA ALLAH, NAMUN HANYA SEBATAS KERONGKONGANNYA SAJA

Melihat atau menilai akidah seseorang tidak cukup hanya dengan lambang atau LOGO yang bersimbolkan tulisan tulisan saja,

MISALNYA TULISAN KALIMAT YANG MENTAUHIDKAN ALLAH, La’ilaha’illallah
muhammadarrasulullah :

YANG Dimana sering kita melihat hal tsbt pada :

  • sebuah tulisan yang ada di bendera bendera.
  • sebuah tulisan yang ada di ikatan kepala

  • sebuah tulisan yang ada di pakaian, baju dll..

  • sebuah tulisan yang ada di alat alat media, komunikasi dan lain sebagainya…

Yang seolah olah mereka ini adalah orang orang yang benar benar berakidah dan menunjukkan kalau diri mereka telah benar benar bertauhid, padahal mereka sejatinya bukan orang bertauhid melainkan hanya sekedar tampilan luarnya saja, yang di simbolkan pada tulisan tulisan kalimat kalimat tauhid, dan merasa paling benar dalam menegak kan kalimat Tauhid tsbut…

Padahal mereka hanyalah kelompok HIZBIYYIN/HIZBIYYAH yang katanya tidak ada kelompok dalam dirinya/mereka, namun menganggap dirinyalah yg paling benar, dan yang di luar kelompok mereka adalah kafir, musuh Allah, murtad, munafik, fasik, yang katanya keluar dari islam dlsbg….

Itulah, sebagian di antara mereka/para hizbiyyin/hizbiyyah sangat mudah mentahdzir saudara saudaranya mereka jika tidak sepadan dengan nya …

Wal’iya Udzubillaahimin Dzaalik..

Saudaraku seiman di manapun kita berada, perlu sekali kita ketahui bahwa menilai orang yg benar benar berakidah adalah dengan manhajnya, karna dengan adanya manhaj yang benar dari seseorang tidak akan pernah mentahdzir saudara mereka, karna sebagaimana hal itu tidak pernah dilakukan nya pada masa rasulullah maupun para shahabat dan sangat berhati hati dari hal tersebut..

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Karena inilah, wajib berhati-hati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan (yang dilakukan). Karena hal ini adalah bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka”.
[Majmu Fatawa’ (III/229)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan “kafir” atau “musuh Allah”.

Sebgaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “wahai kafir”, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan; namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 60), Abu ‘Awanah (I/23), Ibnu Hibban (no. 250-at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban), dan Ahmad (II/44) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma]

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“ … Dan barangsiapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan ia musuh Allah, sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya sendiri”.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 61), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, karena tuduhannya akan kembali kepada dirinya, jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan.
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6045) dan Ahmad (V/181), dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu]

Padahal keterangan dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir, kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut).

KARNA Syarat-syarat seseorang bisa dihukumi kafir ADALAH :

(1). mengetahui (dengan jelas)

(2). dilakukan dengan sengaja, dan,

(3). tidak ada paksaan.

Sedangkan intifa’ul mawani’ (tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir), yaitu kebalikan dari syarat tersebut :

(1). Tidak mengetahui

(2). Tidak disengaja, dan

(3). Karena dipaksa.

[Lihat Mujmal Masa-ilil Iman wal Kufr al-‘Ilmiyyah fi Ushulil-‘Aqidah as-Salafiyyah, Cetakan II Tahun 1424 H, halaman 28-35, dan Majmu’ Fatawa’ (XII/498)]

Dan kemudian yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul ‘Ilmi yang dalam ilmunya, dan para ulama Rabbani.
Sebab Rabbani, adalah orang yang bijaksana, ‘alim, dan penyantun, serta banyak ibadah dan ketakwaannya.
dengan ketentuan-ketentuan syari’at yang sudah disepakati.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/405)]

Ketahuilah bahwa orang yang benar benar bermanhaj Ahlus Sunnah tidak akan mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam), selama hatinya tetap dalam keadaan beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”
[An-Nahl:106]

OLEH KARNA ITU PERLU JUGA KITA KETAHUI, BAHWA ORNG YANG BENAR BENAR BERAKIDAH HARUS DI LIHATNYA PULA BAGAIMANA MANHAJNYA APAKAH SUDAH BENAR ATAU TIDAK, Sebab kalau kita melihat bahwa Pada hakekatnya, Para hizbiyyah/hizbiyyin meski mereka memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, yg di mana mereka sebenarnya Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga yaitu, Bin Baaz, Al-Albani dan Al-Utsaimin.

Serta Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salaf secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan.

Dan Sampai sampai mereka menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui tentang waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bid’ah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan.

Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mulut mereka, apalagi pada zaman sekarang ini, mereka para hizbiyyin/hizbiyyah berani mencela dan memfitnah para ulama, ulil amri, dan kaum muslimin yang tidak sepaham dengan nya…

Ketahuilah, Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah.

Karna Orang-orang yang merendahkan Ulama’, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah atau bermanhaj Salafus sholih, NAMUN manhaj mereka hanyalah Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena mereka hanya nampak baik pada PENAMPILAN nya saja..

Oleh karna itu mari Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang lurus..

Agar kelak mereka bersama dengan manhaj Salafus Sholeh yang murni, dan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para tabiin yang berada diatasnya..

Wollohu Waliyyut Taufiik !

BAGAIMANAKAH CARA UNTUK MENDAPATKAN HIDAYAH SETELAH FUTUR?

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Dengan mengobati futurnya,
Caranya adalah :

  • Bermajelis dengan orang saleh
  • Curhat kepada orang yang berilmu

  • Meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan dia futur

  • Dan membaca sejarah hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf .

Jika mulai semangat, segeralah untuk memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an dengan tadabur.

Waffaqakumullah !

KAJIAN SALAFIY DI LAPORKAN POLISI?

Pelapor : “Pak Polisi, di daerah kami ada pengajian Salafiy. Tolong dibubarkan karena meresahkan warga.”

Polisi menjawab : “Meresahkan gimana ???? Memang mereka nyetel musik nyaring-nyaring ya, bikin gaduh ???”

Pelapor : “Nggak pak, bahkan kata mereka musik itu haram.”

Polisi : “Terus ??? Oh, saya tahu. Pasti mereka ngajak demo ya ??”

Pelapor : “Nggak pak. Malah kata mereka demo itu gak boleh, katanya harus mendengar dan ta’at pada pemerintah muslim.”

Polisi : “Lantas, bikin resahnya dimana ?? Apa mereka ngajak tawuran ??”

Pelapor : “Nggak Pak. Mereka bilang haram mengacungkan senjata ke orang Islam.”

Polisi : “Ngajakin ngebom ya ??”

Pelapor : “Bukan juga, pak. Katanya membunuh kafir non harbi itu haram.”

Polisi : “Oooh. . . Pasti mereka lagi pesta sex ??!”

Pelapor : “Bapak jangan ngawur, lha wong wanitanya aja ada ruangan sendiri terpisah dengan jama’ah laki-laki.”

Polisi : “Biasanya pengajian meresahkan itu karena dzikir berjama’ahnya pake mikrofon, apa mereka begitu ??”

Pelapor : “Nggak pak. Salafiy gak pernah dzikir bareng2 kayak gitu, kata mereka itu bid’ah”

Polisi : “Apa suara kasidahan ibu-ibunya jelek ???”

Pelapor : ” Bapak ini gimana sih, kan sudah saya bilang mereka nggak suka nyanyi2″

“Terus ???? Kenapa mesti saya bubarkan ????”
Tanya Pak Polisi.

Pelapor : “Karena begini, pak. Karena mereka itu. . . . Karena. . . . Begini lho. . . . Hmmm. . . Apa ya ???” (sambil garuk2 kepalanya yang tidak sedang gatal)

Polisi berkata : “Bapak silahkan buat laporan yang jelas dulu, jangan mudaj bertindak gegabah sebelum bapak sendiri jelas dan tahu. Allaah ﷻ berfirman, “La taqfu ma laysa laka bihi ‘ilm”. Jangan mengikuti apa yang kamu tidak tahu ilmunya.”

Pelapor : “Waaaaah, ternyata bapak pinter agama, hafal ayat juga. Ikut kajian dimana, pak ???”

Polisi : “Kajian Salafiy.”

Pelapor : “@#?!!?#….”


Alhamdulillah, fakta di lapangan kajian Salafiy telah menyebar keseluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia, dari instansi pemerintah baik kepolisian, pns, negeri, swata, pengusaha, pedagang, artis hingga preman telah banyaj ruju’ kepada manhaj Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena da’wahnya yang haq bersumber dari Kitabullaah dan Sunnah Nabi ﷺ dengan pemahaman para Shahabat Nabi ﷺ serta para ‘ulaama yang mengikuti mereka dengan baik dari zaman ke zaman.

Ini sekedar contoh, situs milik POLRI pun dipenihi dan mengajak pada manhaj Salaf, http://metro.polri.go.id/profil-masjid-polda-metro-jaya

Ini patut kita syukuri, semoga Allah ﷻ memberkahi da’wah yang mulia ini.

Sumber :Abdullah Khanza Blog

Barokallohufiikum !

BAGAIMANAKAH CARA UNTUK MENDAPATKAN HIDAYAH SETELAH FUTUR?

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Dengan mengobati futurnya,
Caranya adalah :

  • Bermajelis dengan orang saleh
  • Curhat kepada orang yang berilmu

  • Meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan dia futur

  • Dan membaca sejarah hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf .

Jika mulai semangat, segeralah untuk memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an dengan tadabur.

Waffaqakumullah !

JANGAN MENGAMBIL ILMU KEPADA ORANG YANG BELUM JELAS AKIDAH NYA, WALAUPUN DIA MENGATAKAN DIRINYA MENGIKUTI SUNNAH

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Belajar ilmu agama tidak boleh serampangan, karena yang dikorbankan adalah prinsip agama kita. Belajar agama harus kepada ahlinya yang jelas keilmuan, akidah, manhaj, akhlak, dan adabnya; jangan kepada hizbiyin, orang yang berakhlak jelek, atau yang tidak jelas manhaj serta akidahnya.

Barokallohufiikum !

TIDAK SEMUA MUSLIM LAYAK DIJADIKAN GURU ATAU USTADZ

Tidak semua orang yang kita
kenal adalah tempat kita bertanya tentang
masalah agama.

Allah berfirman :

“Ikutilah orang
yang tiada minta Balasan kepadamu; dan
mereka adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk” (QS Yasin:21).

Ibnu Sa’di mengatakan :

“Ikutilah orang yang
memberikan nasehat kepadamu, yang
menginginkan kebaikan untukmu, bukan
seorang yang menginginkan harta dan upah
darimu karena nasehat dan bimbingan yang dia
berikan kepadamu. Ini merupakan faktor
pendorong untuk mengikuti orang yang memiliki
sifat demikian. Namun boleh jadi ada yang
bilang, ‘memang boleh jadi dia berdakwah dan
tidak meminta upah dengan dakwahnya namun
ternyata dia tidak berada di atas kebenaran’.
Kemungkinan ini Allah bantah dengan
firmanNya, ‘Dan mereka adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk’. Hal ini karena mereka
hanyalah mendakwahkan hal-hal yang dinilai
baik oleh akal sehat dan mereka hanya melarang
untuk mengerjakan hal-hal yang dinilai buruk
oleh akal sehat” (Taisir al Karim al Rahman hal
817, cetakan Dar Ibnu al Jauzi)

Pepatah arab mengatakan :

faaqidus syai’ laa
yu’thihi, orang yang tidak punya tidak akan bisa
memberi. Sebagaimana orang yang tidak punya
uang tidak akan pernah bisa memberi uang
kepada orang lain maka demikian pula orang
yang tidak berada di atas hidayah tentu tidak
bisa bagi-bagi hidayah.
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan ciri dai
yang bisa bagi-bagi hidayah karena dia memang
berada dalam hidayah yaitu tidak meminta upah
dengan dakwah dan nasehatnya.
Tidak hanya sebatas meminta upah berupa
harta, namun juga tidak meminta upah dalam
bentuk penghormatan, cium tangan, disowani,
diminta mencoblos partai tertentu, dimintai
membuat kartu anggota organisasi tertentu
ataupun tergabung dalam kelompok pengajian
tertentu.

Inilah ciri orang yang layak kita jadikan sebagai
guru ngaji kita.

Syeikh Abdur Rahman bin Muhammad bin
Qosim mengatakan :

“Dalam dakwah ada dua
syarat yang harus dipenuhi yaitu ikhlas karena
mengharap melihat wajah Alloh dan sesuai
dengan sunnah Rasulullah. Jika seorang dai tidak
memenuhi kriteria pertama maka dia adalah
musyrik. Tetapi jika syarat kedua yang tidak
terpenuhi maka dia adalah mubtadi’. Demikian
pula, seorang dai harus mengetahui materi yang
hendak didakwahkan baik berupa perintah
maupun larangan sebagaimana seharusnya
lembut ketika memerintah dan melarang suatu
hal” (Hasyiah Kitab at Tauhid hal 55).

ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀَ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺭِّﺛُﻮﺍ ﺩِﻳﻨَﺎﺭًﺍ ﻭَﻻَ
ﺩِﺭْﻫَﻤًﺎ ﻭَﺭَّﺛُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Dan
sesungguhnya para nabi itu tidak memwariskan
dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan
ilmu agama” (HR Abu Daud no 3741, dinilai
shahih oleh al Albani).

Adalah menjadi ketentuan untuk semua nabi,
jika mereka meninggal dunia maka harta
warisan mereka tidak jatuh kepada keluarganya
namun menjadi hak sosial. Ketentuan ini
memberi penegasan bahwa dakwah yang
diusung oleh para nabi dan orang-orang yang
mengikuti jejak mereka dengan baik adalah
dakwah yang ikhlas. Mereka berdakwah bukan
untuk tujuan memperkaya diri sendiri atau
anggota keluarga dan keturunan.
Andai harta warisan para nabi itu dibagikan
kepada keluarganya maka boleh jadi ada orang
akan berpikir bahwa nabi demikian rajin
berdakwah adalah supaya anggota keluarganya
berkecukupan hingga tujuh keturunan.

Dengan adanya ketentuan di atas maka orang
akan semakin yakin bahwa dakwah para nabi
hanyalah karena Alloh. Mereka ingin agar
masyarakat berubah semakin baik, semula syirik
menjadi tauhid, bid’ah menjadi sunnah dan
maksiat menjadi ketaatan.
Jangan terburu-buru menjadikan seseorang
sebagai guru ngaji kita sebelum sifat di atas ada
pada mereka. Tidak semua muslim layak
dijadikan guru dan tidak semua orang yang kita
kenal adalah tempat kita bertanya tentang
masalah agama.

By Ustadz Aris Munandar —

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

ANJURAN UNTUK TIDAK KELUAR DARI JAMA’AH WALAU HANYA SATU JENGKAL

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ» [ أخرجه أحمد وغيره]

“Siapa yang memisahkan diri dari jama’ah sekadar satu jengkal maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”

[HR. Ahmad dalam Musnad 4/130, 202, 5/344, Abu Daud 4/241 no. 475]

Barokallohufiik !

PENGANUT ISLAM YANG TERASING DI TENGAH UMMATNYA YANG BANYAK

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi,

أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ

“Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)

Sebagaimana kata As Sindi dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Sunan Ibnu Majah,

غَرِيبًا أَيْ لِقِلَّةِ أَهْله وَأَصْل الْغَرِيب الْبَعِيد مِنْ الْوَطَن

Disebut ‘gharib’ jika pengikutnya sedikit dan maksud asal dari kata ‘gharib’ adalah jauh dari negeri.

( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً

Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.

(فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ

Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut.

و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا

Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.

وَفِيهِ تَنْبِيه عَلَى أَنَّ نُصْرَة الإِسْلام وَالْقِيَام بِأَمْرِهِ يَصِير مُحْتَاجًا إِلَى التَّغَرُّب عَنْ الأَوْطَان وَالصَّبْر عَلَى مَشَاقّ الْغُرْبَة كَمَا كَانَ فِي أَوَّل الأَمْر

Ini menunjukkan bahwa memperjuangkan dan menjalankan ajaran Islam memang butuh akan keterasingan dari negeri. Ketika itu butuh ada kesabaran ekstra dalam menghadapi keterasingan sebagaimana keadaan Islam di awal-awal. Demikian penjelasan As Sindi.

Baca selengkapnya di :
Rumaysho.Com >> http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/berbahagialah-orang-yang-terasing-10465

PESANTREN AS SUNNAH

image

BERIKUT SEDIKIT INFO TENTANG PONDOK PESANTREN SALAFIYAH LOMBOK

Bismillah…

Pondok Pesantren Assunnah merupakan salah satu Pontren Islam Salafiyah yang ada di Lombok.

Beralamatkan di jln. Jurusan Lb Lombok-Mataram Km.55

Kampung Muhajirin .

Desa Bagek Nyaka Santri .

Kecamatan Aikmel .

Kabupaten Lombok Timur .

Propinsi Nusa Tenggara Barat .

kodepos 83653 Telp/Fax: 0376-2924114

email: pontrenassunnah@gmail.com

Pontren ini berdiri tahun 2004. Dan, alhamdulillah, sejak tahun 2011 Pontren ini sudah mendapat Izin Operasional dari Departemen Agama setempat.

Pesantren yang dibina oleh : 

Ust. Sufyan Bafien Zein dan

Ust. Mizan Qudsiyah, Lc

ini memiliki santri pada tahun ajaran 2011-2012 sebanyak 621 santri.

Terbagi di beberapa Jenjang Pendidikan yaitu :

TK- Islam Assunnah,

SD- Islam Assunnah,

SMP- Islam Assunnah,

SMA- Islam Assunnah dan

Ma’had Ali.

Pontren ini memiliki 36 guru agama yang merupakan alumni Timur Tengah (Univ. Islam Madinah, Ma’hadul Harom Makkah, Univ. Ibnu Utsaimin Unaizah KSA) dan alumni dalam negeri (LIPIA, STIT Ali bin Abi Tholib Sby, Ma’hadul Furqon Gresik dan Ma’had-ma’had lainnya di Indonesia) dan 30 guru umum alumni Universitas-universitas dalam negeri.

Sejak berdirinya Pontren Assunnah mendapat kunjungan kehormatan dari beberapa Ulama’ Timur Tengah sekaligus menyampaikan ceramahnya diantaranya:

Syekh DR. Sholah Al-budaer (Iman dan Khotib Masjid Nabawi ),

Syekh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al-badr Al-abbad ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh DR. Ibrohim Arruhaily ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh Ali Hasan Alhalabi, Syekh Saliim Ied Alhilali,

Syekh Masyhur Hasan Alu Salman,

Syekh Muhammad Musa Alu Nashr
(keempat murid syekh Alalbani-rahimahulloh- dari Yordania).

Demikian pula beberapa tamu dari Maroko, Inggris, Spayol dan kunjungan dan tamu-tamu lainnya.

Kurikulum yang digunakan yaitu paduan antara Kurikulum Dinas Pendidikan Nasional dengan Kurikulum Pondok.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH
Tentang info PESANTREN ASSUNNAH
Salafiyah Lombok ….

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

JANGANLAH KAMU MENGAMBIL ILMU KECUALI DARI ORANG YANG TELAH DIKETAHUI KETEGUHANNYA DI ATAS SUNNAH

Al-Imam Muhammad bin Sirin Berkata :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Beliau juga berkata :

“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, maka tatkala fitnah telah terjadi, mereka pun berkata:

‘Sebutkanlah rawi-rawi kalian kepada kami, maka diperiksalah, bila berasal dari kalangan ahlus sunnah maka diambil haditsnya dan bila berasal dari ahlul bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Kedua atsar di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya)

Barokallohufiik !

TIGA JAWABAN MANUSIA KETIKA DIPERINTAHKAN UNTUK TAAT KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATALA DAN RASULNYA SHALALLAHU ALAIHI WA SALLLAM

PERTAMA
Jawaban orang mukmin:

“sami’na wa atho’na”

(kami dengar, kami taat)

KEDUA
Jawaban Bani Israil atau Yahudi:

“sami’na wa ashoina”

(kami mendengar, tapi tidak menaati)

KETIGA
Jawaban orang MUNAFIQ:

“sami’na wa hum laa yasma’uun”

(mereka berkata: “kami dengar” padahal mereka tidak mendengarkan)

TerMasuk kategori manakah kita  ?
Semoga kita termotivasi untuk selalu menjadi golongan pertama, Aamiin.. !?

——————–

PENJELASAN :

PERTAMA
Jawaban orang mukmin:

“sami’na wa atho’na”

misalnya dijelaskan di surat an-Nuur: 51

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami MENDENGAR, DAN KAMI PATUH.” Dan mereka itulah orang-orang
yang BERUNTUNG.”

Dan Pada Surat Al-Baqarah: 285:

“…Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:
“KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT.”

KEDUA
Jawaban Bani Israil atau Yahudi:

“sami’na wa ashoina”

Contohnya :
Terdapat pada surat Al-Baqarah: 93,

“…Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “KAMI MENDENGAR TETAPI TIDAK MENTAATI”.

KETIGA
Jawaban orang MUNAFIQ:

“sami’na wa hum laa yasma’uun”

Contohnya terdapat pada Surat
Al-Anfaal: 20-21,

“Hai orang orang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang MUNAFIQ yang berkata: “KAMI MENDENGARKAN”, PADAHAL MEREKA TIDAK MENDENGARKAN.”

Ketika mereka mengatakan,

“kami mendengar”,

Allah Maha Tahu, sebenarnya hati mereka menolak dan mereka tidak mendengarkan.

Sebagaimana orang munafik pada umumnya, secara zhahir mereka menampakkan sifat baik, mendengar dan merespon, padahal tidak demikian (Ibnu Ishaq dlm Tafsir Ibnu Katsir hal 25 terbitan Pustaka Imam Syafii)

Kemudian Ibnu Katsir menulis :

“Allah menjelaskan bahwa manusia seperti ini adalah MAHLUK PALING BURUK dan TERMASUK PERANGAI PALING BURUK. karena Allah berfirman di ayat selanjutnya:

“Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yg tuli.”
[al-Anfaal: 22]

Maksudnya TULI dari mendengarkan kebenaran. BISU dari memahaminya. Karena itu Allah berfirman:

“Yang tidak mengerti apa pun”.

Mengapa seburuk-buruk mahluk?
sebab seluruh mahluk melata selain mereka taat kepada Allah sesuai fungsi ia diciptakan. sementara orang munafiq diperintahkan untuk beribadah lalu mereka kufur.

Pada surat al-Araaf: 179

Allah berfirman:

“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.”

(By Alqur’anAssunnah)

Semoga bermanfaat .
Wollohu Waliyut Taufiik !

PERLU KITA KETAHUI BAHWA ALLAH AZZA WA JALLA SAMA SEKALI TIDAK AKAN MENERIMA AMAL PERBUATAN SEORANG HAMBA KECUALI HANYA DENGAN PETUNJUK DAN SUNNAH RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Bagaimanapun semangatnya dia dalam mengerjakannya, dan meskipun dia mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla dan ikhlas dalam mengerjakannya, kecuali jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan petunjuk dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sebagaimana Allah Azza wa Jalla Berfirman:

(قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم)

“Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
[(QS. Ali ‘Imran:31)]

Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata:

“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla)

Barokallohufiikum !

JANGAN DI NILAI DARI PENAMPILAN ORANG KARNA PENAMPILAN SESEORANG ITU BELUM TENTU BENAR

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata :

“Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit.
Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.”
[(Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38)]

LIHATLAH FIRMAN ALLAH :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”
[(QS. Al An’am: 116)]

DAN ALLAH BERFIRMAN :

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
[(QS. Al A’raf: 187)]

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”
[(QS. Al A’raf: 102)]

YANG BERPEGANG TEGUH PADA KEBENARAN SEJATINYA HANYALAH SEDIKIT

Di Sebutkan Dalam Al Qur’an Bahawa :

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ”
[(QS. Hud: 40)]

Disebutkan pula dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.”
[(HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220)]

KEMUDIAN NABI SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENJELASKAN BAHWA BERPEGANG PADA KEBENARAN ITU TERASING

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”
[(HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah)]

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata :

“Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.”
[(Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41)]

KEMUDIAN PATOKAN KEBENARAN ITU BUKANLAH DI LIHAT DARI BANYAK NYA PENGIKUT

Dalam hal ini yang menjadi Patokan Kita adalah harus tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun biasanya mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.”
[(QS. Yusuf: 103)]

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
[(QS. Al An’am: 116)]

JADI DAPAT DISIMPULKAN BAHWA kita Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

WollohutaA’ala A’lam Bhissowaab .
Wa Barakallohufiikum !

BEDAKANLAH CIRI AHLUSSUNNAH, CIRI ISIS KHAWARIJ DAN CIRI KAUM SYIAH

Pada Tulisan Artikel Ini , Kita Dapat Mengetahui Ciri Ciri Mereka Dari Pada Kaum Antara Ahlus-Sunnah, Isis Khawarij Dan Kaum Syiah Laknatulloh, Semoga Pula Pada Artikel Ini Dapat Di Fahami Sebagai Suatu Pengetahuan Agar Bagi Saudara Dan Saudariku Semuawanya Tidak Bingung Untuk Menilai Mana Yang Benar Dan Mana Yang Salah…, Serta Semoga Allah Memberi Petunjuk Serta Hidayahnya Kepada Kita Semuanya Pula… In Shaa Allah, Aamiin 😀

………………………………………………………………………

↗  CIRI AHLUSSUNNAH,

selengkapnya di :

http://varyd.wordpress.com/salaf-salafy-dan-salafiyah/

Ahlus Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka… 😀

  1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda (yang artinya):“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
  2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah (yang artinya): “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59). “Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.“(QS. Al Ahzab: 36)

  3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah (yang artinya):“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

  4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka (yang artinya): “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

  5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

  6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

  7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

  8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

  9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda (yang artinya): “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

  1. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah (yang artinya):“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman (yang artinya): “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

DI KUTIP DARI ARTIKEL :

http://varyd.wordpress.com/

Sumber : http://www.asysyariah.com

================================

↗ CIRI ISIS KHAWARIJ

Ciri isis (Khawarij) ini yaitu sangat suka Mengkafirkan Pemerintah Muslim, jauh Beda dengan Salafi atau ahlus-sunnah ….
😀

Perhatikan penjelasan di bawah  ini :

Telah dimaklumi bahwa kelompok-kelompok Khawarij termasuk ISIS dan yang lainnya, mengkafirkan para penguasa muslim dan menjuluki mereka dengan thagut, bahkan ISIS berencana merebut Al-Haramain dari penguasa thagut Arab Saudi, menurut mereka.

Namun anehnya, ada sekelompok orang Syi’ah dan para simpatisan mereka yang menuduh bahwa Salafi sama dengan ISIS. Tulisan ringkas ini insya Allah akan membedah akar pengkafiran Khawarij terhadap para penguasa, yang sangat berbeda dengan aqidah Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Makna Kekafiran dan Pembagiannya

Kekafiran (الكفر) secara bahasa maknanya adalah (الستر) dan (التغطية), yang berarti menutup. Sedangkan menurut syari’at, kekafiran adalah lawan dari keimanan (ضد الإيمان). Dan terbagi dalam lima jenis, yaitu:

1) Mendustakan (كفرالتكذيب)

2) Menentang (كفر الإباء والاستكبار)

3) Ragu (كفر الشك)

4) Berpaling (كفر الإعراض)

5) Kemunafikan (كفر النفاق)

[Lihat Madarijus Salikin, karya Al-Imam Ibnul Qoyyim, 1/335-338]

Adapun tingkatan kekafiran terbagi dua:

1) Kekafiran besar (الكفر الأكبر), yang menyebabkan murtad (keluar dari Islam dan menjadi kafir)

2) Kekafiran kecil (الكفر الأصغر), yang tidak menyebabkan murtad.

[Lihat Majmu’ At-Tauhid, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 6, sebagaimana dalam Aqidatul Muslim, karya Asy-Syaikh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qohthoni, 1-2/621-626]

Tidak Berhukum dengan Hukum Islam, Apakah Termasuk Kekafiran Besar ataukah Kekafiran Kecil?

Pendapat pertama: Termasuk kekafiran besar yang menyebabkan murtad, ini pendapat ahlul bid’ah dari kalangan Khawarij dan selain mereka yang beragama atas dasar semangat belaka, bukan dengan ilmu.

Pendapat kedua: Termasuk kekafiran kecil yang tidak menyebabkan murtad, kecuali jika pelakunya melakukan salah satu dari tiga hal:

1) Menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam

2) Menganggap ada hukum yang sama baiknya dengan hukum Islam

3) Menganggap ada hukum yang lebih baik dari hukum Islam.

Apabila seorang penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Islam melakukan satu dari tiga hal tersebut barulah dia dihukumi telah melakukan kekafiran besar yang dapat menyebabkan dia murtad, kafir dan keluar dari Islam. Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu pendapat para sahabat, imam mazhab yang empat dan seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sampai hari kiamat [lihat Al-Qoulul Mufid, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 2/159-160]

Adapun akar kesesatan Khawarij dalam memahami permasalahan ini dikarenakan penyimpangan mereka dalam metode memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana ciri ahlul bid’ah lainnya, yaitu tidak mau mengikuti pemahaman As-Salafus Shalih terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga mereka salah memahami firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al-Maidah: 44]

Kaum Khawarij memahami ayat ini bahwa kekafiran yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah kekafiran besar, sehingga siapa saja pelakunya walaupun dia seorang muslim telah menjadi kafir atau murtad dari Islam.

As-Sam’ani rahimahullah berkata,

واعلم أن الخوارج يستدلون بهذه الآية ، ويقولون : من لم يحكم بما أنزل الله فهو كافر ، وأهل السنة قالوا : لا يكفر بترك الحكم

“Ketahuilah, sesungguhnya Khawarij berdalil dengan ayat ini (dalam pengkafiran). Mereka berkata: Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir. Adapun Ahlus Sunnah berkata: Tidak kafir dengan sekedar tidak berhukum (dengan hukum Allah).”

Atas dasar kesesatan ini, kaum Teroris Khawarij tidak segan-segan membunuh kaum muslimin, tidak peduli yang berada di tempat maksiat ataupun yang sedang beribadah di masjid, karena bagi mereka pemerintah dan seluruh aparat telah kafir karena, “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar” (seperti kata seorang tokoh Khawarij di negeri ini).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan akan kemunculan Khawarij dan sifat-sifat mereka,

قَوْمٌ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Mereka adalah satu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak malampaui kerongkongan mereka (tidak memahami Al-Qur’an dengan baik), mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus buruannya, mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin. Andaikan aku bertemu mereka, maka akan kubunuh mereka seperti pembunuhan kepada kaum ‘Aad.”

Apa yang disampaikan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits ini benar-benar sesuai kenyataan yang ada pada kelompok Teroris Khawarij. Mereka tidak memperhatikan dakwah tauhid dan pemberantasan kesyirikan, sehingga mereka membiarkan para penyembah kubur yang ada di sekitar mereka. Seakan bagi mereka kesyirikan saat ini hanyalah kesyirikan di parlemen, sedangkan kekafiran hanyalah, “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar”.

Demikian pula yang terjadi pada kelompok ISIS, mereka membunuh kaum muslimin di Suriah dan membiarkan bahkan membantu pemerintah Syi’ah Suriah dan Iran yang memiliki aqidah kesyirikan dan kekufuran.

Hadits ini juga menunjukkan bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi Teroris Khawarij menurut tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu memerangi mereka, demikian pula menasihati mereka sebelum diperangi.

Maka inilah keyakinan Khawarij terhadap para penguasa muslim hari ini, mereka mengkafirkan para penguasa karena tidak berhukum dengan syari’at Islam secara menyeluruh dengan dalil firman Allah ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 44.

Bagaimana dengan keyakinan Salafi?

Salafi, sesuai artinya yaitu pengikut Salaf, pengikut generasi terbaik umat ini, yakni Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat, memahami ayat tersebut sebagaimana yang dipahami para sahabat dan tabi’in.

Para ulama Salafi menjelaskan bahwa sebab turunnya ayat ini (Surat Al-Maidah: 44) berkaitan dengan orang-orang yang memang kafir dari kalangan Yahudi dan kaum musyrikin, sehingga untuk menerapkan ayat ini kepada kaum muslimin tidak sama dengan orang-orang kafir.

As-Sam’ani rahimahullah berkata,

قال البراء بن عازب -وهو قول الحسن-: الآية في المشركين. قال ابن عباس: الآية في المسلمين، وأراد به كفر دون كفر

“Al-Barro bin ‘Azib berkata –dan ini juga merupakan pendapat Al-Hasan-: Ayat ini tentang kaum musyrikin. Ibnu Abbas berkata: Ayat ini tentang kaum muslimin juga, namun yang dimaksudkan dengan kekufuran adalah kekufuran kecil.”

Ulama besar Salafi, ahli hadits abad ini, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

“Maka tidak boleh membawa ayat ini atas sebagian penguasa muslim dan para hakimnya yang berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala dengan berbagai bentuk undang-undang buatan manusia. Aku katakan, tidak boleh mengkafirkan dan mengeluarkan mereka dari agama dengan sebab perbuatan itu, apabila mereka masih beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Meskipun mereka telah berbuat jahat karena berhukum bukan dengan hukum Allah Ta’ala tetap saja tidak boleh mengkafirkan mereka. Karena walaupun mereka sama dengan Yahudi dalam permasalahan ini, namun mereka berbeda dengan Yahudi dalam permasalahan yang lain, yaitu iman dan pembenaran mereka terhadap ajaran yang Allah Ta’ala turunkan, berbeda dengan orang Yahudi yang menentangnya.”

Berikut penjelasan ulama Salaf terhadap makna surat Al-Maidah ayat 44:

1) Sahabat yang mulia, Turjumanul Qur’an, Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

“Bukan kekafiran (besar) sebagaimana pendapat mereka, sesungguhnya itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama, tapi kekafiran kecil (kufrun duna kufrin).” [Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/313), beliau menyatakan shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

2) Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma juga berkata,

“Barangsiapa yang mengingkari hukum Allah maka dia kafir, adapun yang masih mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka dia zalim lagi fasik.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12063), dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

3) Tabi’in yang mulia ‘Atho bin Abi Rabah rahimahullah berkata,

“Maksudnya adalah kekafiran di bawah kekafiran (yakni kekafiran kecil), kefasikan di bawah kefasikan dan kezaliman di bawah kezaliman.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12047-12051), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

4) Tabi’in yang mulia Thawus bin Kaysan rahimahullah berkata,

“Bukan kekafiran (besar) yang mengeluarkan dari agama.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12052), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

5) Tabi’ut Tabi’in yang mulia, Abdullah bin Thawus rahimahumallah berkata,

“Tidaklah seperti orang yang kafir kepada Allah Ta’ala, Malaikat-Nya, Kitab-Nya dan Rasul-Nya.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12055), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 256]

Inilah sesungguhnya manhaj generasi terbaik yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dalam beragama, siapa yang menyimpang dari pemahaman ini maka dia telah keluar dari jalan satu golongan yang selamat dan masuk kepada 72 golongan yang sesat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إن أمتي ستفترق على اثنتين وسبعين كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة

“Sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Zhilalul Jannah: 64]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

و تفترق أمتي على ثلاث و سبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ما أنا عليه و أصحابي

“Dan akan berpecah ummatku menjadi 73 millah, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shohihul Jami’: 9474 dan Al-Misykah: 171 pada tahqiq kedua]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

فأخبر النبي أن الفرقة الناجية هي التي تكون على ما كان عليه هو وأصحابه فمتبعهم إذا يكون من الفرقة الناجية لأنه على ما هم عليه ومخالفهم من الاثنتين والسبعين التي في النار

“Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang selamat (al-firqotun najiyah) adalah yang mengikuti beliau dan sahabat-sahabatnya. Jadi, orang yang mengikuti mereka menjadi bagian dari al-firqotun najiyah karena dia berada di atas jalan mereka, sedangkan yang menyelisihi maka dia termasuk ke dalam 72 golongan yang di neraka.”

Inilah akar penyimpangan Khawarij (dan seluruh kelompok sesat), yaitu karena mereka berusaha memahami Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri, tidak mengikuti pemahaman sahabat, oleh karena itu sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika berdialog dengan Khawarij, pertama kali yang beliau ingatkan kepada mereka adalah,

أتيتكم من عند أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم المهاجرين والأنصار ومن عند بن عم النبي صلى الله عليه و سلم وصهره وعليهم نزل القرآن فهم أعلم بتأويله منكم وليس فيكم منهم أحد

“Aku adalah utusan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, Muhajirin, Anshor, dan sepupu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan juga menantu beliau (yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Khalifah ketika itu), aku datang kepada kalian untuk menyampaikan pendapat mereka, karena kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, maka mereka lebih mengetahui akan tafsirnya daripada kalian, sedang tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang bersama kalian.”

Da menurut logika yang sehat, pemahaman Teroris Khawarij dalam mengkafirkan setiap orang yang “Tidak menjalankan syari’at Islam dengan benar” atau “Tidak berhukum dengan hukum Islam secara menyeluruh” akan berkonsekuensi mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang ada di muka bumi ini, sebab siapa yang mampu menjalankan syari’ah Islam dengan benar sepanjang hidupnya?! Apakah ada manusia yang tidak pernah berbuat salah?!

Dan yang paling minimal, konsekuensi dari pemahaman rusak Terosis Khawarij ini adalah pengkafiran seluruh pelaku dosa besar yang sudah jelas-jelas merupakan manhajnya Khawarij generasi awal. Sebab yang namanya syari’ah Islam secara hakiki adalah seluruh aturan-aturan kehidupan dalam Islam, tidak sebatas hukum-hukum dalam pemerintahan. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti membunuh, mencuri, zina dan lain-lain, adalah pelanggaran syari’ah Islam yang pelakunya kafir kepada Allah Ta’ala (menurut pemahaman rusak ini, tanpa membedakan orang yang menghalalkan perbuatan haram tersebut setelah mengetahui keharamannya dan orang yang melakukannya namun masih meyakini hal itu tetap haram). Wal’iyaadzu billahi minal jahli wadh-dholaal.

Syubhat dan Bantahannya

Diantara syubhat terbesar Teroris Khawarij yang telah menguasai jiwa dan pikiran mereka adalah tuduhan mereka bahwa penguasa yang ada sudah benar-benar menghalalkan hukum peninggalan Belanda dan hukum yang bertentangan dengan syari’at, atau menganggapnya sama baiknya dengan hukum Islam, atau bahkan lebih baik dari hukum Islam, dengan bukti perbuatan penguasa dalam menetapkan undang-undang yang tidak berdasar syari’at Islam.

Jawaban atas syubhat ini:

Pertama: Penghalalan (الاستحلال) yang dimaksudkan para ulama bukanlah sekedar penghalalan dengan perbuatan tetapi dengan hati (yakni meyakini apa yang diharamkan Allah Ta’ala itu halal setelah mengetahui keharamannya dalam syari’at Islam), oleh karena itu sebagian ulama mengistilahkan kekafiran berhukum dengan selain hukum Islam ini dengan ‘kekafiran dalam perbuatan’ (kufur ‘amali) yang tidak mengeluarkan dari Islam dan ‘kekafiran dalam keyakinan’ (kufur i’tiqodi) yang mengeluarkan dari Islam.

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Faqih Al-Albani rahimahullah berkata,

“Kunci dalam permasalahan ini adalah memahami bahwa kekafiran itu ada dua bentuk, keyakinan (اعتقادي) dan perbuatan (عملي). Keyakinan tempatnya di hati, sedangkan perbuatan tempatnya pada anggota tubuh. Maka barangsiapa yang perbuatannya adalah kekafiran yang menyelisihi syar’i dan bersesuaian dengan keyakinan yang ada dalam hatinya, itulah kufur i’tiqodi (kekafiran besar) yang tidak diampuni Allah Ta’ala dan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya. Adapun jika hatinya menyelisihi kekafiran itu maka dia beriman dengan hukum Rabbnya, apabila dia menyelisihi hukum tersebut dengan perbuatannya, maka kekafirannya adalah kufur ‘amali (kekafiran kecil) bukan i’tiqodi (kekafiran besar), dia di bawah kehendak Allah Ta’ala, mungkin diadzab dan mungkin diampuni (sebagaimana pelaku dosa besar).”

Lalu dari mana kalian tahu penguasa yang menyelisihi hukum Islam itu telah menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam atau menganggap sama baiknya dengan hukum Islam atau lebih baik dari hukum Islam dengan hatinya?! Apakah kalian telah membelah dadanya?!

Perhatian: Bantahan ini sekaligus menjawab tuduhan “murji’ah” terhadap Salafi yang dilontarkan oleh orang-orang Khawarij, alasan mereka karena Salafi tidak mengkafirkan pelaku kufur ‘amali, yaitu para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Islam, maka keterangan di atas telah membantah mereka bahwa kufur ‘amali yang dimaksudkan di sini adalah kufur asghar, yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam, bukan kufur akbar.

Jadi bukan bermakna setiap kufur ‘amali itu tidak dapat dikafirkan pelakunya, karena bisa jadi kufur ‘amali, kekufuran dalam perbuatan, bukan dalam keyakinan namun termasuk kufur akbar yang menyebabkan pelakunya murtad keluar dari Islam, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain-Nya dan lain-lain. Akan tetapi kufur ‘amali berupa tidak berhukum dengan syari’at Islam termasuk kufur asghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Kedua: Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan, bahwa penguasa tersebut telah melakukan kekafiran besar karena menghalalkan hukum yang bertentangan dengan Islam atau menganggapnya sama baik dengan hukum Islam atau bahkan lebih baik dari Islam, maka apakah penguasa yang tadinya muslim tersebut serta merta menjadi kafir?! Apakah setiap pelaku kekafiran langsung bisa kita kafirkan?!

Inilah salah satu titik perbedaan yang mendasar antara manhaj Teroris Khawarij dan manhaj Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam pengkafiran. Karena semangat yang berlebihan tanpa didasari dengan ilmu sehingga Teroris Khawarij mengkafirkan setiap muslim yang melakukan kekafiran tanpa mengikuti kaidah-kaidah pengkafiran menurut Islam. Pembahasan berikut insya Allah Ta’ala akan menjelaskan beberapa kaidah penting yang harus dipahami dalam pengkafiran menurut ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Beberapa Kaidah dalam Pengkafiran

1) Menghukumi suatu perbuatan sebagai kekafiran atau pelakunya telah kafir adalah hukum syar’i.

Berbicara tentang kekafiran suatu perbuatan dan pengkafiran pelakunya sama halnya dengan pembicaraan suatu hukum dalam syari’at, haruslah berdasarkan ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sebab Allah Ta’ala telah mengharamkan pembicaraan dalam agama-Nya tanpa didasari ilmu, sebagaimana firman-Nya,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“(Allah mengharamkan) kalian berkata atas Allah apa yang tidak kalian ketahui.” [Al-A’rof: 33]

Asy-Syaikh Al-Mufassir AbdurRahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Makna firman Allah Ta’ala, “(Allah mengharamkan) kalian berkata atas Allah apa yang tidak kalian ketahui”, mencakup pembicaraan tentang nama-nama Allah Ta’ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan syari’at-Nya. Semua bentuk pembicaraan tanpa ilmu telah diharamkan oleh Allah Ta’ala. Dia melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan hal itu, karena dalam perbuatan tersebut terdapat kerusakan yang khusus maupun umum.”

Maka tidak diragukan lagi bahwa pembicaraan tentang kekafiran dan pengkafiran adalah masalah syari’at yang harus berdasarkan ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Kekafiran adalah hukum syar’i, hanya boleh ditetapkan dengan dalil-dalil syar’iyyah.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Oleh karena itu para ulama Sunnah tidak mengkafirkan (semua) yang menyelisihi mereka, meskipun orang yang menyelisihi itu mengkafirkan mereka, karena (menetapkan) kekafiran adalah hukum syar’i.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Tidak boleh bagi seseorang untuk mengkafirkan orang yang menyelisihinya, apabila perkataan orang yang menyelisihinya itu bukan termasuk kekafiran menurut syar’i yang berasal dari pemilik syari’ah (yaitu Allah Ta’ala). Walaupun akal bisa saja membedakan pendapat yang benar dan yang salah, namun tidak semua yang salah menurut akal merupakan kekafiran dalam syar’iah, sebagaimana tidak semua yang dianggap benar oleh akal harus dianggap baik dalam syar’iah.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Demikian pula, pengkafiran adalah hak Allah Ta’ala, maka tidak boleh mengkafirkan seseorang kecuali yang telah dikafirkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.“

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Kekafiran adalah hukum syar’i yang harus kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apa yang dianggap sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah kekafiran, jika tidak dianggap sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah bukanlah kekafiran. Sehingga tidak harus bahkan tidak boleh mengkafirkan seorang (muslim) sampai jelas dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah atas kekafirannya.”

Oleh karena itu, tidak setiap orang berhak bicara dalam masalah pengkafiran selain para ulama yang benar-benar mendalam ilmunya.

Asy-Syaikh Al-Faqih Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Menghukumi seseorang telah murtad atau keluar dari agama Islam adalah kewenangan para ulama yang mendalam ilmunya, mereka adalah para hakim di mahkamah syari’ah dan para ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Sebagaimana pula dalam permasalahan lainnya, berbicara dalam masalah seperti ini bukanlah hak setiap orang, bukan pula hak para penuntut ilmu atau yang menisbatkan diri kepada ilmu agama padahal pemahamannya tentang ilmu agama masih sangat terbatas. Bukanlah hak mereka untuk menghukumi seseorang telah murtad, karena perbuatan tersebut akan melahirkan kerusakan. Bisa jadi mereka memvonis seseorang telah murtad padahal dia tidak murtad. Sedang mengkafirkan seorang muslim yang tidak melakukan salah satu pembatal keislaman sangat berbahaya. Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, “wahai kafir” atau “wahai fasik”, padahal dia tidak seperti itu maka perkataan itu kembali kepada orang yang mengucapkannya. Oleh karena itu, yang berhak memvonis murtad hanyalah para hakim syar’i dan ahli fatwa yang diakui keilmuannya. Adapun yang merealisasikan hukumannya adalah pemerintah kaum muslimin, selain itu hanya akan melahirkan kekacauan.”

2) Tidak setiap muslim yang melakukan kekafiran itu kafir.

Sangat penting dipahami bahwa tidak setiap muslim yang melakukan kekafiran serta merta menjadi kafir, sampai terpenuhi syarat-syarat pengkafiran (شروط التكفير) dan hilang penghalang-penghalangnya (موانع التكفير).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Tidak setiap orang yang bersalah (melakukan kekafiran) itu menjadi kafir, terlebih dalam permasalahan yang rumit, yang terdapat banyak khilaf padanya.”

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata,

“Tidak setiap mukmin yang melakukan kekafiran serta merta bisa dihukumi kafir.”

Maka wajib bagi setiap muslim berhati-hati dalam mengkafirkan saudaranya meskipun telah jelas baginya bahwa saudaranya tersebut telah melakukan suatu amalan kekafiran (insya Allah akan kami bahas secara lebih terperinci tentang syarat-syarat dan penghalang-penghalang dalam pengkafiran pada kesempatan yang lain).

3) Pengkafiran terhadap seorang muslim yang melakukan kekafiran terbagi dua bentuk, pengkafiran terhadap perbuatan (takfir muthlaq) dan pengkafiran terhadap pelakunya (takfir mu’ayyan).

Takfir muthlaq adalah mengkafirkan suatu perbuatan kekafiran apabila telah dinyatakan sebagai kekafiran oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak disyaratkan apapun dalam takfir muthlaq selain adanya dalil yang shahih yang menyatakan suatu perbuatan sebagai kekafiran dan adanya istidlal yang benar.

Sedangkan takfir mu’ayyan adalah mengkafirkan pelaku kekafiran. Disyaratkan dalam takfir mu’ayyan ini sejumlah syarat-syarat yang harus terpenuhi dan hilang penghalang-penghalangnya, sebelum menjatuhkan vonis kafir kepada orang tertentu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Wajib membedakan antara takfir muthlaq danmu’ayyan.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Mazhab para imam dalam pengkafiran dibangun atas dasar perincian antara jenis kekafirannya (muthlaq) dan pelakunya (mu’ayyan).”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Takfir muthlaq tidak mengharuskan takfir mu’ayyan, karena bisa jadi sebagian ulama berbicara dalam satu masalah berdasarkan ijtihadnya lalu mereka tersalah dalam masalah tersebut, maka tidaklah para ulama tersebut dikafirkan, meskipun bisa saja orang yang melakukan kekafiran itu dikafirkan apabila telah tegak hujjah atasnya.”

Faidah: Kaidah ini juga merupakan bantahan kepada mereka yang menuduh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi kerjanya hanya membid’ah-bid’ahkan (tabdi’) dan mengkafir-kafirkan orang. Sebab kebanyakan orang yang menuduh tersebut tidak bisa membedakan yang mana tabdi’ atau takfir muthlaq dan yang mana mu’ayyan, sehingga mereka menyangka Salafi mudah menjatuhkan vonis mu’ayyan kepada pelaku bid’ah atau kekafiran, padahal yang divonis adalah perbuatannya ataupun kelompok bid’ahnya bukan person yang melakukannya atau yang tergabung dalam kelompok bid’ah tersebut.

Contoh vonis muthlaq, apabila kita mengatakan, “Demonstrasi kepada pemerintah kaum muslimin adalah bid’ah”, atau “Siapa yang melakukan demonstrasi kepada pemerintah kaum muslimin maka dia seorang Ikhwani (pengikut IM) Khariji (yang bermanhaj Khawarij)”.

Ucapan di atas jelas berbeda jika kita mengatakan, “Fulan adalah ahli bid’ah karena dia telah melakukan kebid’ahan” dan “Fulan adalah ahli bid’ah karena dia telah bergabung dengan kelompok bid’ah”. Dua contoh yang terakhir ini adalah vonis mu’ayyan kepada fulan (individu) tertentu yang tidak boleh dilakukan kecuali terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.

Bahaya Mengkafirkan Seorang Muslim

Wajib menahan diri dari mengkafirkan seorang muslim yang melakukan kekafiran sampai terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan hilang penghalang-penghalangnya, karena mengkafirkan seorang muslim yang tidak layak dikafirkan adalah perbuatan yang sangat berbahaya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka ucapan tersebut pasti kembali kepada salah seorang dari keduanya.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِك

“Tidaklah seorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan kekafiran, kecuali akan kembali kepada penuduhnya apabila orang yang dituduh tidak seperti itu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

وَمَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau mengatakan, “Wahai musuh Allah”, padahal tidak seperti itu, maka (ucapan tersebut) kembali kepadanya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Hadits ini adalah peringatan keras kepada setiap muslim, jangan sampai menuduh saudara muslimnya dengan kekafiran atau kefasikan.”

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata,

“Ini adalah ancaman besar bagi siapa yang mengkafirkan seorang muslim padahal ia tidak kafir.”

Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, menghukumi seorang muslim telah keluar dari Islam dan masuk kepada kekafiran tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir kecuali dengan bukti yang lebih jelas dari matahari siang”.

Beliau (Asy-Syaukani) rahimahullah menyebutkan hadits-hadits di atas dan berkata,

“Maka dalam hadits-hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisalnya terdapat peringatan yang paling agung dan nasihat yang paling besar agar berhati-hati dari sikap terburu-buru dalam mengkafirkan.”

SUMBER :
Website Sofyan Chalid bin Idham Ruray

SELENGKAP NYA DI :

http://www.sunnahcare.com/2014/11/salib-ala-isis.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/mutilasi-ala-isis-di-kota-raqqa-suriah.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/137-anak-anak-dibantai-isis.html?m=1

http://www.sunnahcare.com/2014/11/kompilasi-kejahatan-isis-terhadap.html?m=1

http://sofyanruray.info/tag/isis/

===============================

↗  CIRI SYIAH LAKNATULLOH

Anda harus mengetahuinya….. !!!

Ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:

  1. Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.
  • Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.

  • Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali. Anda bisa saksikan videonya di:

  • http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    1. Pengikut Syiah shalat bukan dengan tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah. Misalnya, orang syiah tidak bersedekap ketika shalat, tidak mengucapkan Aamiin, setelah akhir Surat Al-Fatihah, dan mereka mengutuk Abu bakar, Umar, dan aisyah ketika shalat.

    Klik link videonya di sini :

    http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    Di youtube banyak pula video-video yang menggambarkan bagaimana mereka melakukan shalat
    (jangan ditiru sholatnya) :

    Video Aneh Tarawih Syi’ah
    Lihat Pula Di Sini :

    http://www.sunnahcare.com/2014/03/detektif-syiah-menelusuri-ciri-ciri.html?m=1

    1. Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.
  • Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud, bila mereka shalat tidak didekat orang lain.

  • Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.

  • Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.

  • Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum. Dzikir mereka tidak lagi menyebut nama Allah, tapi menyebut nama Husain atau Fatimah atau ahlul bait lainnya.

  • Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat radhiyallahu anhum dan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah).

  • Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara satu kelompok kaum muslimin dengan kelompok lainnya, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan sunni. Ini tentu tidak benar.

  • Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.

  • 14.Orang Syiah tidak berpuasa pada hari Asyura tetapi mereka hanya menunjukkan kesedihan di hari tersebut.
    Bahkan ada di kalangan mreka yang menganggap haram puasa kerana seolah-olah bersyukur ke atas kesyahidan Sayyidina Husain.

    1. Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah.
  • Orang-orang Syi’ah juga getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

  • Syiah juga mengajarkan desakralisasi Al Qur’an. Dalam keyakinan syiah bahwa al Qur’an yang ada ini tidak asli yang asli adalah mushaf Fatimah. “Syiah ini seperti liberal, mereka mengatakan al Qur’an produk budaya, syiah mengatakan al Qur’an palsu.

  • Model dakwah yang di gunakan orang-orang syiah dalam menyebarkan syiahnya di bumi ahlus sunnah, sering mengangkat ukhuwah Islamiyah. Tidak ada perbedaan syiah dan sunni yang penting Islam.Memberikan image netral, namun dilain kesempatan mengkritik sunni, mengkritik ulama sunni.

  • Bila dikatakan kepadanya bahwa dirinya Syiah, maka dia akan menolak disebut syi’ah dan menyatakan diri bahwa dirinya seorang muslim,atu lebih suka disebut sebagai pengikut ahlul bait, kemudian mereka juga menghindari diskusi face to face.

  • Seorang syiah tidak boleh diberi nama atau dipanggil dengan nama Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah dan Aisyah.

  • Berkeyakinan Imam-imam 12 mereka adalah maksum (bebas dari dosa-doa kecil dan besar). Bahkan ada dikalangan ulama-ulama mereka mengatakan bahawa kedudukan imam-imam 12 adalah setara bahkan ada yang kata lebih tinggi dari kedudukan Para Nabi-Nabi dan Malaikat-Malaikat yang paling hampir dengan Allah.

  • Kain kafan mayat mereka bertulis.

  • Membaca talqin dengan menyebut imam-imam 12.

  • Meletakkan gambar-gambar imam-imam 12 mereka di dalam rumah. Biasanya mereka letak di dinding rumah mereka.

  • Suami halal meliwat isteri.

  • Mereka tidak ada sholat tarawih. Jika ada Orang syiah yang berteraweh itu bermakna mereka bertaqiah (pura-pura)

  • Mereka lebih banyak menyebut nama-nama imam-imam mereka dari menyebut kalimah Allah terutama ketika mereka ditimpa musibah.

  • Setiap kali menyambut hari peringatan seperti peringatan terbunuhnya Saidina Ali bin Abi Tolib dan peringatan terbunuhnya Husein bin Ali, pengikut syiah akan melakukan upacara-upacara yang menunjukkan kesedihan mereka terhadap musibah-musibah yang menimpa ahlul bait. Dalam merayakan ritual ini cara mereka berbeda-beda sesuai tempat asal mereka.

  • Dalam pembahasan kajian fikih yang diadakan selalu saja mengangkat pendapat Mazhab Ahlul Bait sebagai pengganti kata Syiah. Kalangan ini akan menyampaikan bahwa pendapat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad demikian. Adapun menurut pendapat Ahlul Bait demikian. Dan yang rajih adalah pendapat Ahlul Bait. Atau menggunakan kalimat yang semisalnya; madzhab keluarga Nabi, pendapat Amirul Mukminin Ali dan seterusnya.

  • Senantiasa mengangkat isu untuk mencintai Ahlul Bait versi Syiah yakni keluarga Nabi jalur Keturunan Ali bin Abi Thalib RA saja.

  • Mengatakan Sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan RA bukan sahabat Nabi saw, seorang munafiq dan berbagai celaan lainnya.

  • Menyampaikan bahwa dalam riwayat Imam Bukhari ada para perawi Syi’ah. Siapa yang menghujat atau menyesatkan Syi’ah berarti menghujat Bukhari.

  • Memberikan pernyataan bahwa Syiah itu tidak sesat, Syiah dan Sunni itu sama, tidak perlu untuk diperdebatkan.

  • Silahkan anda tambahkan ciri-ciri lainnya …… ???

  • Ciri-ciri mereka sangat banyak. Sekalipun dalam kondisi syiah minoritas, anda sulit untuk menjumpai ciri itu, karena mereka bertaqiyah. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

    Dengan hati yang terang, kaum muslimin Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan. Jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan al-Quran dan para sahabat radhiyallahu anhum, serta para ibunda kaum Muslimin (yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.

    Wallahu a’lam.

    ( BY : Abu Syamil Humaidy )

    DI KUTIP DARI ARTIKEL :

    http://www.sunnahcare.com

    Untuk Penjelasan Selanjut nya :
    Baca Di :

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/pertanyaan-untuk-syiah.html?m=1

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/peluang-emas-untuk-syiah-dan-aliran.html?m=1

    http://www.sunnahcare.com/2014/11/ritual-khusus-agama-syiah-di-hari-asyura.html?m=1

    Barokallohufiyk !

    MEMAHAMI TENTANG UDZUR KEJAHILAN

    Asy-Syaikh Al-Albaaniy dan ‘Udzur Kejahilan

    Rekan-rekan sekalian,…..

    setelah kita mengetahui madzhab Ibnu Taimiyyah[1], Ibnul-‘Utsaimiiin[2], dan masyayikh kibaar lain tentang ‘udzur kejahilan …..

    sekarang mari kita simak bagaimana pandangan Al-Imaam Al-Mujaddid :

    Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah dalam permasalahan ini. Berikut akan saya bawakan dari kitab Mausuu’ah Al-‘Allaamah Al-Imaam Mujaddid Al-‘Ashr Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy yang disusun oleh Asy-Syaikh Dr. Syaadiy Aalu Nu’maan hafidhahullah. Tepatnya di juz 5 mulai halaman 733.

    Bagi yang dapat membaca dan memahaminya, Anda akan dapatkan pemahaman yang sangat mendalam yang mengandung rincian-rincian kondisi mana yang diberikan ‘udzur dan mana yang tidak diberikan ‘udzur, yang secara ringkas diuraikan dalam beberapa point berikut (dan ini bukan pembatas):

    1. Beliau rahimahullah membedakan antara pengkafiran (takfir) mutlak dan pengkafiran mu’ayyan (individu).
    2. Pengkafiran secara mu’ayyan dilakukan apabila telah tegak padanya hujjah Islam.

    3. Penegakan hujjah hanya dapat dianggap jika hujjah yang ditegakkan/disampaikan tersebut adalah hujjah Islam yang benar dan murni sesuai pemahaman salaf, bukan hujjah Islam yang tercampur dengan kekotoran dan penyelewengan.

    4. Pada dasarnya, kaum muslimin diberikan ‘udzur atas kejahilannya, termasuk dalam perkara kufur akbar dan syirik akbar. Namun demikian, dalam penerapannya tidaklah mutlak. Ada yang diberikan ‘udzur, ada pula yang tidak diberikan ‘udzur, sehingga perlu dilihat kondisinya.

    5. Seorang muslim yang hidup dalam lingkungan masyarakat Islami yang diterapkan padanya hukum-hukum Islam dan hukum-hukum itu telah tersebar/tersiar secara luas[3], maka kejahilannya tidak diberikan ‘udzur.

    6. Seorang muslim yang hidup dalam lingkungan yang tersebar padanya ilmu dan ulama, maka kejahilannya tidak diberikan ‘udzur.

    7. Seseorang masuk Islam dan kemudian hidup dalam lingkungan masyarakat kafir atau negeri kafir yang tidak nampak padanya hukum-hukum Islam, maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    8. Seorang muslim yang hidup di lingkungan masyarakat Islam secara nama namun tidak nampak atau tidak diterapkan hukum-hukum Islam di dalamnya (tersebar kebodohan yang merata), maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    9. Seseorang yang hidup di lingkungan masyarakat Islam yang menyimpang dari ‘aqidah Islam yang benar dimana mereka didampingi ulama-ulama suu’ yang menyebarkan bid’ah dan penyimpangan terhadap sunnah; maka kejahilannya secara umum dapat diberikan ‘udzur.

    10. Seseorang yang sudah berusaha secara ikhlash untuk mengetahui hukum Allah yang benar, namun kemudian ternyata ia salah; maka ia diberikan ‘udzur.

    11. Beliau rahimahullah tidak membedakan ‘udzur dalam masalah ushul ataupun furuu’.
      Masih banyak faedah lain yang rinciannya hanya didapatkan dengan membaca secara langsung penjelasan beliau rahimahullah di bawah.

    Sebenarnya masih banyak lembar penjelasan beliau dalam kitab tersebut, akan tetapi yang di bawah saya rasa cukup mewakili, dan Alhamdulillah, beliau cukup konsisten dalam menjelaskan kaedah dalam permasalahan ini.
    Ringkas kata, madzhab Al-Imaam sangat berbeda dengan ‘mereka’ (yang menafikkan ‘udzur kejahilan); yang sekarang mulai bergeliat membawakan cap-cap irjaa’ terhadap orang yang berseberangan pendapat dengan mereka, dengan membonceng fatwa sebagian ulama.

    Laa haula walaa quwwata illaa billaah…..

    Selamat menikmati penjelasan beliau[4] !!

    Al-Albani – Al-‘Udzr bil-Jahl.
    pdf by : abuljauzaa

    ……………………………………………………………

    [1]      Silakan baca :
    Ibnu Taimiyyah dan ‘Udzur Kejahilan (1)
    Ibnu Taimiyyah dan ‘Udzur Kejahilan (2)

    [2]      Silakan baca : Penjelasan Gamblang Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah dalam Masalah Pelabelan Kesyirikan.

    [3]      Beliau rahimahullah mencontohkan negeri Saudi ‘Arabia.

    [4]      Sebagian fatwa beliau rahimahullah di sini telah diterjemahkan di artikel : Madzhab Kibaar Ulama dalam ‘Udzur Kejahilan pada Permasalahan Kufur dan Syirik

    Di Ambil Dari Artikel :

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/?m=1

    Barokallohufiik !

    KEWAJIBAN MENGIKUTI SUNNAH RASULULLAH SHALALLAHUALAIHI WASALLAM

    Oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc.

    Semua orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari kemudian wajib menyadari bahwa landasan utama agama islam yang agung ini adalah dua kalimat syahadat:لا إله إلا الله و محمد رسول الله yang ini berarti bahwa seseorang tidak akan bisa berislam dengan benar, bahkan tidak akan bisa mencapai kedudukan taqwa yang sebenarnya disisi Allah Azza wa Jalla, kecuali setelah dia berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dua kalimat syahadat ini dengan baik dan benar.

    Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah menjelaskan bahwa makna (لا إله إلا الله) adalah tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Azza wa Jalla, artinya tidak ada yang berhak untuk kita serahkan padanya segala bentuk ibadah, yang lahir maupun yang batin, kecuali Allah Azza wa Jalla semata-mata. Dan syahadat ini mengandung dua konsekwensi:

    1. Menetapkan bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak disembah/diibadahi

    2. Berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah selain Allah Azza wa Jalla.

    Adapun syahadat محمد رسول الله)), maka maknanya tercakup dalam empat perkara:

    1. Mentaati segala sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    2. Membenarkan semua berita yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    3. Menjauhi semua yang dilarang dan dicela oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    4. Hanya mengikuti sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

    Dan untuk tujuan merealisasikan kandungan dua kalimat syahadat inilah Allah Azza wa Jalla mengutus para Rasul shallallahu alaihi wasallam, Allah Azza wa Jalla Berfirman:

    (ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أنِ اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت)

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah segala sesuatu yang disembah selain-Nya” (QS An Nahl: 36).

    Dan Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang seruan yang disampaikan Nabi Nuh shallallahu alaihi wasallam kepada kaumnya, dalam firman-Nya:

    (قال يا قومِ إني لكم نذير مبين، أن اعبدوا الله واتقوه وأطيعونِ)

    “Nuh berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah (saja), bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku”, (QS. Nuh: 2-3).

    Dan tentang seruan Nabi ‘Isa kepada kaumnya:

    (وجئتكم بآية من ربكم فاتقوا الله وأطيعونِ، إنّ الله ربي وربكم فاعبدوه، هذا صراط مستقيم)

    “Dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Rabbmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia (saja). Inilah jalan yang lurus”. (QS. Ali ‘Imran: 50-51)

    Kesimpulannya, inti ajaran dan seruan dakwah para Nabi dan Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah:

    – mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla semata-semata

    – mengajarkan kepada mereka bagaimana cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yang benar dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, melalui ucapan dan perbuatan mereka shallallahu alaihi wasallam.

    Dalil-dalil wajibnya mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam beribadah

    Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla sama sekali tidak akan menerima amal perbuatan seorang hamba, bagaimanapun semangatnya dia dalam mengerjakannya, dan meskipun dia mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla dan ikhlas dalam mengerjakannya, kecuali jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan petunjuk dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Allah Azza wa Jalla Berfirman:

    (قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم)

    “Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran:31).

    Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla).

    Dan kalau kita melihat kembali apa sebenarnya definisi Ibadah/Amal saleh itu, maka akan semakin jelaslah masalah ini. Definisi Ibadah yang paling lengkap dan paling baik adalah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Al ‘Ubudiyyah”: Ibadah itu adalah suatu nama (istilah) yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, baik itu berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin. Maka dari definisi ini terlihat jelas bahwa salah satu kriteria ibadah/amal saleh adalah dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, artinya yang menjadi barometer dalam menilai apakah suatu ucapan/perbuatan bernilai ibadah/amal saleh disisi Allah Azza wa Jalla, adalah kecintaan dan keridhaan Allah Azza wa Jalla, bukan berdasarkan keinginan, akal, perasaan atau kesenangan manusia. Dan semua ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla telah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam ucapan dan perbuatan (sunnah) Beliau shallallahu alaihi wasallam, sehingga setelah Beliau shallallahu alaihi wasallam wafat, maka tidak ada satu ucapan/perbuatan pun yang dibutuhkan oleh setiap muslim untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, kecuali semua itu telah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan lengkap dan jelas. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani (Al Mu’jam al kabir 2/155) dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani, dari seorang sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghiffari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    “ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم”

    “Tidak ada (lagi) yang tertinggal dari (ucapan/perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu”. Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun (yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla) sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya (semua) kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari (semua) keburukan yang diketahuinya”, (HSR Muslim).

    Dan Allah Azza wa Jalla sendiri telah mengumumkan kepada semua manusia tentang kesempurnaan ajaran agama islam yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini dalam firman-Nya:

    (اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً)

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam ini menjadi agamamu”, (QS Al Maaidah:3).

    Konsekwensi buruk perbuatan bid’ah

    Maka setelah turunnya ayat di atas, jika ada seorang yang ingin mencari atau melakukan suatu ucapan/perbuatan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, padahal ucapan/perbuatan tersebut tidak pernah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang ini ada dua kemungkinan padanya, yang tidak bisa lepas darinya:

    – kemungkinan pertama, dia menganggap Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama islam ini, yang berarti firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Maaidah:3 tersebut, tidak ada artinya, atau dengan kata lain, firman Allah Azza wa Jalla tersebut (menurut dia) isinya cuma sekedar basa-basi, karena tidak sesuai kenyataan?!

    – kalau dia menyanggah kemungkinan pertama tadi, maka kemungkinan kedua, dia menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum menyampaikan syariat islam ini dengan sempurna, artinya (menurut dia) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan sebagian dari petunjuk Allah Azza wa Jalla yang seharusnya disampaikan kepada manusia, atau dengan kata lain, dia menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati amanat Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikan semua petunjuk Allah Azza wa Jalla kepada manusia?!

    Maka tentu saja tuduhan-tudahan yang terdapat dalam dua kemungkinan di atas adalah tuduhan-tuduhan yang sangat keji, bahkan bisa menyebabkan kekafiran jika seseorang benar-benar meyakininya. Dan semua ini menggambarkan kepada kita akan buruknya melakukan perbuatan yang tersebut di atas (perbuatan Bid’ah), karena konsekwensinya adalah tuduhan-tuduhan keji yang langsung ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, seperti yang tersebut dalam dua kemungkinan di atas.

    Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, kami ingin menyampaikan beberapa syubhat (pengkaburan) yang sering dilontarkan ketika kita membicarakan masalah ini, sekaligus jawabannya, insya Allah Azza wa Jalla. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    – ucapan orang yang mengatakan: “yang pentingkan niatnya baik, meskipun jalannya berbeda-beda selamanya tujuannya satu, pasti akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla?! Bahkan ada di antara mereka yang berargumentasi dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

    “إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئٍ ما نوى”
    “Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya” (HSR Al Bukhari 1/3 dan Muslim 3/1515).

    Jawabannya, Hadits ini memang hadits yang shahih, akan tetapi ada ayat Al Qur’an dan hadits lain yang menerangkan makna yang benar dari hadits ini, diantaranya sabda Rasulullahshallallahu alaihi wasallam:

    “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردٌّ”

    “Barang siapa yang melakukan suatu amalan (dalam agama ini) yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HSR Al Bukhari 2/753 dan Muslim 3/1343).

    Maka metode yang benar dalam memahami agama ini adalah memahaminya dari semua ayat Al Qur’an dan hadits yang shahih secara keseluruhan, bukan dengan mengambil satu ayat atau hadits kemudian meninggalkan ayat atau hadits yang lainnya?! Kedua hadits di atas menjelaskan tentang dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah Azza wa Jalla:

    1) Syarat yang pertama, yaitu ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa Jalla dalam melakukan amal ibadah, dan ini adalah inti makna syahadat (لا إله إلا الله), syarat ini terkandung dalam hadits yang pertama, oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa hadits yang pertama merupakan timbangan amalan batin (hati) manusia.

    2) Syarat yang kedua, yaitu semata-mata mengikuti contoh dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam melakukan amal ibadah, dan ini adalah inti makna syahadat (محمد رسول الله), syarat ini terkandung dalam hadits yang kedua, oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa hadits yang kedua merupakan timbangan amalan lahir manusia.

    Kedua syarat ini Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:

    (فمن كان يرجو لقاء ربي فليعمل عملاً صالحاً ولا يشرك بعبادة ربّه أحداً)

    “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (amal yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya” (QS Al Kahfi:110).

    Adapun dalil yang menunjukkan bahwa jalan yang benar (lurus) itu cuma satu dan tidak berbilang adalah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:

    عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: خطّ رسول الله صلى الله عليه وسلم خطاًّ بيده ثم قال: “هذا سبيل الله مستقيماً”، قال: ثم خط خطوطاً عن يمينه وشماله ثم قال: “هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعوا إليه”، ثم قرأ (وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل) صحيح رواه أحمد والدارمي.

    Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata: Raslullah shallallahu alaihi wasallam (pernah) membuat satu garis lurus (dihadapan kami), kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Inilah jalan Allah yang lurus”, kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam membuat garis-garis lain (yang banyak jumlahnya) di samping kiri dan kanan garis yang lurus tadi, lalu Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Inilah jalan-jalan lain (yang menyimpang/sesat), yang pada semua jalan ini ada setan yang mengajak (manusia) untuk mengikuti jalan tersebut”, kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah Azza wa Jalla (Al An’aam: 153): “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (sesat yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (Hadits shahih riwayat Ahmad 1/435 dan Ad Darimi 1/78)).

    – Ucapan orang yang mengatakan: “yang pentingkan amalannya amalan baik, selama amalan tersebut baik, mengapa harus diingkari?

    Jawabannya, yang menjadi patokan/barometer dalam menilai baik/buruknya suatu amalan (perbuatan) adalah petunjuk dan syariat Allah Azza wa Jalla, bukan akal, perasaan dan pertimbangan manusia, karena akal, perasaan dan pertimbangan manusia bersifat relatif dan sangat terbatas, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Baqarah: 216):

    (كتب عليكم القتال وهو كرهٌ لكم وعسى أن تكرهوا شيئاً وهو خير لكم وعسى أن تحبّوا شيئاً وهو شرٌّ لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون)

    “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

    Dan semua amalan yang baik telah Allah Azza wa Jalla tetapkan dalam syariat-Nya dan telah dicontohkan dengan jelas dan sempurna oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Allah Azza wa Jalla berfirman:

    (اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً)
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Ku-ridhai Islam ini menjadi agamamu” (QS Al Maaidah:3).

    Sebagai bukti akan hal ini adalah suatu kisah yang pernah terjadi di jaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim:

    عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم يسألون عن عبادة النبي صلى الله عليه وسلم، فلما أخبروا كأنهم تقالوها، فقالوا: وأين نحن من النبي صلى الله عليه وسلم قد غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر، قال أحدهم: أما أنا فإني أصلي الليل أبدا، وقال آخر: انا أصوم الدهر ولا أفطر، وقال آخر: أنا أعتزل النساء فلا أتزوج أبدا، فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: “أنتم الذين قلتم كذا وكذا؟ أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له، لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني”متفق عليه.

    Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Tiga orang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah datang ke rumah istri-istri Beliau shallallahu alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah Beliau shallallahu alaihi wasallam (sewaktu di rumah), dan setelah hal tersebut diterangkan kepada mereka, seolah-olah mereka menganggapnya sedikit, sehingga mereka mengatakan: jauh sekali kedudukan kita dibandingkan dengan kedudukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (di sisi Allah Azza wa Jalla), karena Allah Azza wa Jalla telah mengampuni semua dosa Beliau shallallahu alaihi wasallam yang lalu maupun yang akan datang, kemudian salah seorang dari mereka berkata: (Mulai sekarang) saya akan sholat semalam suntuk (tiap malam) selamanya! Orang yang ke dua berkata: Saya akan berpuasa terus setiap hari dan tidak mau berhenti berpuasa! Dan orang yang ke tiga berkata: Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya! Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi yang mengucapkan ucapan ini dan itu? Ketahuilah, demi Allah! Saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dibandingkan kamu semua, tapi (bersamaan dengan itu) saya (kadang) berpuasa dan (kadang) tidak berpuasa, saya melakukan shalat (malam) dan (diselingi dengan) tidur, dan saya menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku (cara-caraku beribadah) maka dia bukan termasuk golonganku (umatku)” HSR Al Bukhari (5/1949) dan Muslim (2/1020).

    Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingkari amalan yang ingin dilakukan oleh ketiga orang sahabat ini radhiallahu anhu, padahal kalau dilihat berdasarkan akal, perasaan dan pandangan manusia amalan yang ingin mereka lakukan adalah amalan yang baik bahkan sangat baik! Shalat semalam suntuk tanpa tidur malam, puasa setiap hari dan menjauhi wanita karena tidak ingin terganggu konsentrasi beribadah.

    Bahkan pengingkaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada mereka adalah pengingkaran yang sangat keras, sampai-sampai Beliau shallallahu alaihi wasallam menyatakan sikap bara’ (berlepas diri) dari perbuatan yang ingin mereka lakukan itu, yang ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut meskipun terlihat baik menurut akal, perasaan dan pandangan manusia, akan tetapi karena tidak pernah dicontohkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka perbuatan tersebut sangat buruk di hadapan Allah Azza wa Jalla dan jika dikerjakan justru akan semakin menjauhkan seseorang dari ridha-Nya Azza wa Jalla.

    وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    _______________

    1. Lihat kitab “Al Ushulu ats tsalaasah” (hal.12).

    2. Ibid (hal.13).

    Sumber : ngaji-online.com

    Semoga Bermamfaat .
    Barokallohufiik !