Arsip Kategori: NASEHAT ISLAMI

NASEHAT UNTUKMU REMAJA MUSLIM WANITA

Jangan kalian sia-siakan masa muda dan umur kalian dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi dengan perbuatan dosa dan maksiat…

Apalagi banyak dari kalian yang terjatuh pada pergaulan bebas…!!!

Wahai para wanita…!!!

perhatikanlah beberapa ayat dan hadits di bawah ini, semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan hendaklah kalian (wahai para wanita) tetap di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.”

al-Ahzab: 33

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat: (1) sebuah kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia, dan (2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan sambil berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan godaan); kepala mereka seperti punuk unta yang miring; mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga yang tercium dari jarak sekian-sekian.”

HR. Muslim no. 5704

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

al-Isra’: 32

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“… Kemudian, kami pergi dan sampai pada suatu bangunan yang serupa dengan tungku api, yang terdengar darinya suara hiruk pikuk. Kami menengok ke dalamnya. Ternyata di dalam ada laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang. Datang dari bawah mereka kobaran api, yang apabila kobaran api datang mengenai mereka, mereka berteriak (memekik). Aku bertanya, ‘Siapa mereka itu?’ … Mereka berdua menjawab, ‘Adapun sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang, yang berada di dalam bangunan serupa tungku api, adalah para pezina laki-laki dan perempuan’.”

HR. al-Bukhari no. 7047

Berkata al-Imam Ahmad tentang dosa zina :

“Saya tidak mengetahui sesuatu yang lebih besar dosanya—setelah dosa membunuh seseorang—daripada zina.”

ad-Da’ wad Dawa’ hlm. 230

Wallohu A’lam, Barokallohufiikum !!!

UNTUKMU PARA REMAJA WANITA, KASIHANILAH DIRI KALIAN

Jangan kalian sia-siakan masa muda dan umur kalian dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi dengan perbuatan dosa dan maksiat…

Apalagi banyak dari kalian yang terjatuh pada pergaulan bebas…!!!

Wahai para wanita…!!!

perhatikanlah beberapa ayat dan hadits di bawah ini, semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan hendaklah kalian (wahai para wanita) tetap di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.”

al-Ahzab: 33

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat: (1) sebuah kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia, dan (2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan sambil berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan godaan); kepala mereka seperti punuk unta yang miring; mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga yang tercium dari jarak sekian-sekian.”

HR. Muslim no. 5704

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

al-Isra’: 32

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“… Kemudian, kami pergi dan sampai pada suatu bangunan yang serupa dengan tungku api, yang terdengar darinya suara hiruk pikuk. Kami menengok ke dalamnya. Ternyata di dalam ada laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang. Datang dari bawah mereka kobaran api, yang apabila kobaran api datang mengenai mereka, mereka berteriak (memekik). Aku bertanya, ‘Siapa mereka itu?’ … Mereka berdua menjawab, ‘Adapun sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang, yang berada di dalam bangunan serupa tungku api, adalah para pezina laki-laki dan perempuan’.”

HR. al-Bukhari no. 7047

Berkata al-Imam Ahmad tentang dosa zina :

“Saya tidak mengetahui sesuatu yang lebih besar dosanya—setelah dosa membunuh seseorang—daripada zina.”

ad-Da’ wad Dawa’ hlm. 230

Wallohu A’lam, Barokallohufiikum !!!

PANDAINYA SESEORANG !

Bukan karna usahanya yang lancar..

Bukan karna hartanya yang banyak..

Bukan karna ekonominya yang melemah..

Bukan karna hidupnya yang seadanya..

Bukan karna ilmunya yang banyak..

Bukan karna banyaknya anak/keturunan..

Dan bukan karna yang lain sebagainya..

NAMUN PANDAINYA SESEORANG ADALAH, YANG SELALU BERTAKWA KEPADA ALLAH DAN SELALU BERSYUKUR ATAS KARUNIA SERTA NIKMAT YANG ALLAH BERIKAN KEPADANYA !

jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
[Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 120]

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
[Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 134]

Kemudian Allah Tabaroka Wa Taala
berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepada kalian. Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan.”
[QS Al ‘Ankabut: 17]

Semoga kita termasuk orang yang selalu bertaqwa kepada Allah dan rosulnya, serta selalu pandai untuk mensyukuri karunia dan nikmat yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada kita, Aamiin ..

Barokallohufiikum !

CARILAH ISTRI YANG BERHIJAB

image

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab: 59)

Inilah perintah yang menjadi identitas seorang Muslimah untuk selalu mengenakan jilbab di manapun dirinya berada.

Dari ayat perintah berjilbab tersebut, tersirat sebuah tujuan mulia yakni menjaga martabat seorang wanita dari laki-laki asing (bukan mahramnya).

Wanita yang baik akan menggunakan jilbab untuk menjaga hijab ketika bersosialisai dengan siapapun dan di manapun, kecuali kepada kerabat keluarganya. Dengan menjaga hijab, kehidupan seorang wanita akan jauh dari fitnah terlebih-lebih gosip di jaman seperti ini.

Dan masih banyak ayat-ayat Allah maupun hadits Rasulullah yang mengharuskan jilbab bagi seorang Muslimah jika dirinya ingin benar-benar mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Facebook

Barokallofiikum !

JANGANLAH KITA SEPELEKAN TENTANG DUSTA

Di dalam Al Qur’an Talah di sebutkan Bahwa :

“Terkutuklah orang yang banyak berdusta”
[(QS. Adz dzaariyaat:10)]

Namun Pada keBiasaan nya kalau orang lagi bercinta sering sekali di antara mereka mengucapkan kata kata seperti mengungkapkan suatu perkataan DI mana perkataan tersebut di tujukan kepada seseorang dengan menGatakan Aku Sayang kepadamu atau dengan kata kata yang lain yang se makna dengan nyA !

Terlebih lagi di internet maupun dari komunikasi yang lain nya, dalam istilah bahasa umumnya CATING/TELPON dengan lawan jenis.

Secara umum yang ikhwan maupun akhwat di saat waktu mereka meluahkan rasa perasaan nya, satu di antara mereka kadang mengatakan kalau dirinya sangat sayang kpada seseorang yang di ajaknya catingan itu, namun pada waktu yang lain ia juga megatakan sayang nya kepada orang lain, selain dari pada yang pertama ia sayangkan !

Tetapi itu semuanya terjadi kepada lelaki dan wanita yang sering mengumbar GOMBALNYA kepada lawan jenisnya dengan mengatakan aku sayang padamu hanya padamu…dan di lawan jenis yang lain nya pula mengatakan seperti itu juga !

Sungguh…kata kata yang sering di ungkapkan seperti ini bukanlah hal yang spele, karna ini adaalah termasuk perkataan DUSTA yang dimana dalam syariat islam tidak di bolehkan walaupun itu hanya suatu kata kata yang gombal ataupun hanya bergurau saja !

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Rodiyallohu’anhu, beliau berkata bahwa,

Nabi shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta,”
[(HR Bukhari [6094])]

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Rodiyallohu’anhu,
bahwasanya Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Ada empat sifat jika keempatnya ada pada diri seseorang berarti ia orang munafik tulen. Dan apabila ia memiliki salah satu dari empat sifat ini berarti ia memiliki satu sifat munafik hingga ia meninggalkan sifat itu: Apabila diberi amanah ia berkhianat, jika berbicara ia dusat, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berbuat jahat,”
[(HR Bukhari [34] dan Muslim [58])]

Diriwayatkan Pula dari Samurah bin Jundab Rodiyallohu’anhu Beliau berkata,
Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Aku melihat orang yang mendatangiku dan mereka berkata, ‘Orang yang engkau lihat mulutnya dikoyak tadi adalah seorang pendusta. Ia berbohong hingga kebohongannya tersebut dibebankan kepadanya sampai mencapai ufuk. Ia diberi beban seperti itu hingga hari kiamat’,”
[(HR Bukhari [6096])]

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa :

Dusta ialah memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kejadian yang sebenarnya baik dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidak tahuan. Hanya saja jika dilakukan karena tidak tahu maka tidak berdosa. Allahu a’lam.

Kemudian juga Sangat diharamkan berkata dusta dan bahaya menganggap remeh perbuatan dusta, karena dusta merupakan sebab dari segala kejahatan.

Dan juga Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta maka hal itu akan menjadi salah satu sifatnya.

SALAH SATU CONTOH DI ANTARANYA :
Misalnya menertawakan anak-anak, seperti dikatakan kepada nya, ‘Ambilah!’
padahal sebenarnya ia tidak mau memberikannya kepada anak-anak tersebut !

Kemudian mengaku kenyang padahal ia sedang lapar !

Kadang juga bercerita dusta untuk membuat orang-orang tertawa, dan lain Sebagainya … Dan masih juga Contoh yang lain nya, yang dimana termasuk juga’ yang sering GOMBAL tentang perasaan kepada semua lawan jenis nya dengan mengUmbar kata kata sayang ataupun dengan kata kata yang lain nya, yang di mana ungkapan nya itu hanya dusta BELAKA !

Kurang Lebihnya Saya mohon maaf Atas Penulisan ini Semoga ada mamfaatnya .

Wabarokallohufiikum !

BAGIMU YANG BELUM MENUTUP AURAT SILAHKAN CARI DALILNYA

  • boleh menunda menutup aurat jika belum
    siap
  • tidak ada guna berjilbab tapi kelakuan tak baik

  • ingin perbaiki hati / kelakuan dulu baru nanti
    berjilbab

  • berjilbab kalau sudah menikah

  • yang penting hatinya bukan penampilannya

  • percuma berjilbab jika hatinya tak baik / busuk

  • aku tak berjilbab karena gerah

  • aku tak berjilbab karena pekerjaan

dan alasan lain yang memperbolehkan tak
berjilbab / menutup aurat tolong carikan
dalilnya , adakah di perbolehkan tak menutup
aurat / berjilbab dengan alasan alasan yang di
sebut kan di atas ??

Jika tak ada mengapa masih saja berani
menentang perintah Allah ??

siapa kita ?

sedangkan Allah adalah penguasa hidup dan
mati kita dunia – akhirat… !

Allah Ta’ala berfirman :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
ﻳُﺪْﻧِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻠَﺎﺑِﻴﺒِﻬِﻦَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ
ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang
mukmin: >> “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“ <<. Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

By: Ustadz. Hizbul Majid Al-Jawi dgn penambahan
ayat.

fb Status Nasehat —

Barokallohufiik !

TENTANG UCAPAN IN SHAA ALLAH SAAT BERJANJI

Janji adalah hutang dan hutang wajib dibayar. Oleh karena itu, suatu janji wajib hukumnya untuk ditepati, bahkan bila seorang berjanji lalu diingkarinya tanpa uzur, maka ia tergolong memiliki tanda orang munafik yang akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir.

Namun karena seseorang tidak bisa memprediksi bahwa ia bisa dan pasti mampu melaksanakan sesuatu yang telah dijanjikannya pada orang lain pada masa yang akan datang, maka seharusnya ia menyertakan janji-janjinya untuk masa datang dengan sebuah kalimat :

In sha Allah (jika Allah menghendaki)

Bi Masyiatillah (dengan kehendak Allah)

illa An YasyaAllah (kecuali jika Allah menghendaki).

Hal ini, sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. Al-Kahfi: 23-24 :

“(23) dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:

“Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

Menurut beberapa kitab tafsir, seperti tafsir Imam Qurthubi (Juz 10, hlm. 384) bahwa sebab turunnya dua ayat di atas adalah karena beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad shalallahu Alaihi Wasallam tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab:

“Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan!”. dan beliau tidak mengucapkan in sha Allah  (jika Allah menghendaki).

tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang (bahkan riwayatnya sampai 15 hari) untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut in shaa Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa jika berjanji hendaknya ada pengecualian dengan mengatakan “jika Allah menghendaki”.

Hal ini berfungsi jika orang yang janji itu lupa atau ada uzur, sehingga tidak bisa menepati janjinya, maka ia tidak tergolong orang yang berbohong atau ingkar janji. Bahkan pada ayat berikutnya (ayat 24) ada anjuran jika lupa mengucapkan Insya Allah lalu ingat, maka tetap dianjurkan untuk mengucapkan itu, walaupun sudah lama waktu antara janji (yang lupa Insya Allah) dengan waktu ingatnya itu bahkan walau sudah hampir satu tahun, sebagaimana pendapat sahabat Ibn Abbas yang dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya.

Dalam al-Qur’an sendiri terdapat pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu tentang ucapan Insya Allah yang terulang sebanyak 6 kali, yaitu: (1) Q.S. al-Baqarah: 70, tentang janji Bani Israil kepada Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi dengan ciri-ciri tertentu; (2) Q.S. Yusuf: 99, tentang Janji Nabi Yusuf pada saudara-saudranya untuk masuk Mesir dengan aman; (3) Q.S. al-Kahfi: 69, tentang janji Nabi Musa pada Nabi Khidir untuk taat dan sabar saat belajar padanya; (4). Q.S. al-Qashash: 27, tentang janji Nabi Syu’aeb pada Nabi Musa yang akan dinikahkan dengan salah seorang putrinya setelah mahar dari Nabi Musa berupa kerja di ladangnya dalam hitungan waktu tertentu terpenuhi sebagiannya; (5) Q.S. al-Shaaffat: 102, tentang janji Nabi Ismail pada ayahnya; Nabi Ibrahim bahwa ia akan ikhlas dan tidak berontak saat akan di sembelih ayahnya, oleh karena itu ia minta pada ayahnya agar ia tidak usah diikat, karena tidak akan lari dan; (6) Q.S. al-Fath: 27, tentang janji Allah pada Nabi Muhammad untuk bisa (dalam waktu dekat) kembali menguasai kota suci mekkah dan bisa berhaji lagi setelah sebelumya di embargo oleh orang-orang kafir Quraesy.

Para ulama telah sepakat bahwa berjanji dengan tambahan pengecualian kata In shaa Allah atau semisal dengan bahasa Arab atau bahasa apapun adalah sunnah (dianjurkan dan berpahala) walau memang ada sebagian kecil ulama yang berpendapat wajib hukumnya tambahan kalimat In shaa Allah.

Namun ulama yang berpendapat sunnah pun memberi syarat; boleh berjanji tanpa In shaa Allah, jika dalam hatinya tidak ada keyakinan bahwa ia pasti bisa menepati janjinya tanpa ada kaitanya dengan taqdir Allah.

JANGANLAH BERBICARA TANPA ILMU

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa
yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta
‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung,”
[(An-Nahl: 116)]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa diberi fatwa tanpa ilmu maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa tersebut. Barangsiapa menganjurkan satu perkara kepada saudaranya seagama sementara ia tahu bahwa ada perkara lain yang lebih baik berarti ia telah mengkhianatinya.”
[(Hasan, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (59), Abu Dawud (3657), Ibnu Majah (53), Ahmad (321 dan 365), ad-Darimi (1/57), al-Hakim (1/102-103), al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiib wal Mutafaqqih (11/155)]

Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata :

“Aku mendengar Ibnu ’Abbas radiallahu anhu menceritakan tentang seorang laki-laki di zaman
Nabi yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan
mereka. Bukankah bertanya merupakan obat kebodohan’?”
[(Shahih, HR Ibnu Majah (572), ad-Daraquthni (1/190/4), al-Hakim (1/178), ath-Thabrani
(11472), Abu Nu’aim dalam al-Hilyab (111/317-318)]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata :

“Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang tidak tahu hendaklah mengatakan, Allaahu a’lam. Sebab termasuk ilmu adalah
mengatakan, ‘Aku tidak tahu’ dalam perkara yang tidak ia ketahui ilmunya.” Sebab Allah subahanahu wata’ala berfirman kepada Nabi-Nya :

“Katakanlah (hai Muhammad), (Aku tidak
meminta upah sedikitpun ke-padamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan,”
[(Shaad: 86)]

Dikutip Dari : abuzuhriy.com

Semoga Bermamfaat .
Barokallohufiikum !

TIGA GAYA WANITA YANG TIDAK DAPAT MENCIUM BAU SURGA

Ada tiga gaya, penampilan atau mode yang membuat wanita muslimah diancam tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian. Di antara penampilan yang diancam seperti itu adalah gaya wanita yang berpakaian namun telanjang. Yang kita saksikan saat ini, banyak wanita berjilbab atau berkerudung masih berpenampilan ketat dan seksi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Tiga Sifat Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan,

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ

Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring.

Apa yang dimaksud ketiga sifat ini?

Berikut keterangan dari Imam Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim.

(1) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

1- wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

2- wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.

3- wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.

(2) Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat

Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:

1- Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.

2- Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya.

3- Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggak lenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.

(3) Wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring

Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).

Mode Wanita Saat Ini …

Ada beberapa gaya yang bisa kita saksikan dari mode wanita muslimah saat ini yang diancam tidak mencium bau surga berdasarkan hadits di atas:

1- Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga kelihatan warna kulit.

2- Wanita yang berpakaian tetapi telanjang karena sebagian tubuhnya terbuka dan lainnya tertutup.

3- Wanita yang biasa berhias diri dengan menyisir rambut dan memakerkan rambutnya ketika berjalan dengan berlenggak lenggok.

4- Wanita yang menyanggul rambutnya di atas kepalanya atau menambah rambut di atas kepalanya sehingga terlihat besar seperti mengenakan konde (sanggul).

5- Wanita yang memakai wangi-wangian dan berjalan sambil menggoyangkan pundak atau bahunya.

Semoga Allah memberi petunjuk pada wanita muslimah untuk berpakaian yang sesuai petunjuk Islam. Karena penampilan seperti ini yang lebih menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Sumber : rumaysho.com

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

PERINTAH MENUTUP PERHIASAN DAN LARANGAN MENAMPAKKAN NYA KEPADA KAUM LAKI-LAKI

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…”
Maksud dari perhiasan yang harus ditutupi di dalam ayat ini secara umum mencakup pakaian luar yang dihiasi dengan hiasan-hiasan yang menarik pandangan mata kaum laki-laki, bukan hanya perhiasan secara khusus seperti anting-anting, gelang tangan, gelang kaki, kalung cincin, atau yang semisalnya.

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullahu ta’ala menjelaskan tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”

perhiasan yang dimaksud ialah seperti pakaian yang indah, perhiasan-perhiasan, serta seluruh badan, semuanya termasuk perhiasan (dalam ayat ini)

[Tafsir al-Karimurrahman lit Tafsiril Kalamil Mannan, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, hlm. 515]

Adapun laki-laki yang boleh melihat perhiasan seorang wanita, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, ada dua belas golongan saja, yaitu ayahnya, suaminya, mertuanya, putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara-saudaranya, putra-putra saudaranya, putra-putra saudarinya, sesama kaum muslimah, budak-budaknya, pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita, dan anak-anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

NASEHAT UNTUKKU DAN UNTUKMU SHOHABAT FYILAH DI MANAPUN BERADA

IBNU SHALAH DALAM KITABNYA ‘ULUMUL HADITS YANG LEBIH DI KENAL DENGAN MUQODDIMAH IBNISH SHALAH MENGATAKAN :

“(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan memengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya SECARA LENGKAP ketika berulang menyebut Rasulullah.”

Ibnu Shalah juga berkata :

“Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut :

Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.

Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang .

Misalnya :
Dia tidak menuliskan wassalam.
islam Fatwa Larangan Penyingkatan SALAM dan SHALAWAT

KEMUDIAN Al-‘Allamah As-Sakhaw dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan :

“Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Ara:) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan saw dan shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.

KEMUDIAN PULA  As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, mengatakan :

“Dibenci menyingkat SHALAWAT DAN SALAM DALAM PENULISAN, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”

Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar KAUM MUSLIMIN mencari yang utama atau YANG AFDHAL, Yaitu: dengan mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”
[(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)]

Yang BerSumber Dari :
Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91

Oleh karna dengan ini marilah kita yaitu, Hendaknya kita mulai sekarang menulis lengkap tulisan tersebut dan tidak dengan menyingkatnya ..

SEBAGAI KESIMPULAN NYA :

WALAUPUN NIAT KITA baik “TAPI” cara yang digunakan adalah SALAH, maka tidak lain hasilnya salah…

In Shaa Allah, umat muslim tidak mempunyai jiwa bakhil untuk niat
dan tujuan yang mulia .. !

Untuk itu harus ada di tengah mereka saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. Maka -dalam rangka ukhuwah islamiyah- kita wajib mengingatkan kesalahan kaum muslimin dan menjelaskan penyimpangan dan kebid’ahan-kebid’ahan pada zaman sekarang ini dengan berharap semoga Allah menyelamatkan seluruh kaum muslimin,
dari KESESATAN DAN PENYIMPANGAN.. !

WollohuA’lamBhisshowaab .
Wabarokallohufiikum !

WANITA SHALIHAH AKAN DIPELIHARA OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TAALA

Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.”
(QS. An Nisa’ : 34)

Namun Manakah yang di maksud dengan wanita shalihah tersebut?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” [(An-Nisa: 34)]

Dalam ayat yang mulia ini disebutkan bahwa di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf, yaitu (Bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada ketaatan), lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata:

“Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”
[(Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)]

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,
Mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.”
[(At-Tahrim: 5)]

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan menceraikan istri-istrinya (ummahatul mukminin), akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada ummahatul mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai Nabi menceraikan mereka, Dia akan menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih baik daripada mereka dalam rangka menakuti-nakuti mereka. Ini merupakan pengabaran tentang qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ancaman untuk menakut-nakuti istri-istri Nabi , bukan berarti ada orang yang lebih baik daripada shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126) dan bukan berarti istri-istri beliau tidak baik bahkan mereka adalah sebaik-baik wanita..

Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

“Permasalahan ini dibawa kepada pendapat yang mengatakan bahwa penggantian istri dalam ayat ini merupakan janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya beliau menceraikan mereka di dunia Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-wanita yang lebih baik daripada mereka.”
[(Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/127)]

Dalam ayat yang mulia di atas pula disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:

PERTAMA Muslimat

Yaitu : wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), tunduk kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.

KEDUA Mukminat

Yaitu : wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala

KETIGA Qanitat

Yaitu : wanita-wanita yang taat

KEEMPAT Taibat

Yaitu : wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.

KELIMA ‘Abidat

Yaitu : wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

KEENAM Saihat

Yaitu : wanita-wanita yang berpuasa.
[(Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)]

WollohuA’lam .
Barokallohufiikum !

TENTANG HASAD

Jika anda benci melihat orang lain mendapatkan kemudahan&kebahagiaan, dan sebaliknya anda malah senang dan bahagia dengan kesusahan&kesulitan yang menimpa orang lain, maka itu pertanda anda telah terkena penyakit HASAD

Berhati2lah, segera koreksi diri dan bertaubatlah, sebab hasad tsb tidak akan menghancurkan orang yang kita benci, melainkan malah akan menghancurkan diri kita sendiri

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering)“. (HR Abu Dawud dalam “As-Sunan” (no. 4905))

Dari Abu Hurairah Radhyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi !

Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.

Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya.

Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim.

Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”
Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh :

  1. Muslim (no. 2564)
  2. Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360)

  3. Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas)

  4. Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250)

  5. Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549)

Sumber : Facebook.com

Semog Bermamfaat .
Barokallohufiik !

MENJADI INSAN BIASA YANG MERASA TIDAK LUPUT DARI KESALAHAN

Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasallam bersabda:

“Setiap manusia memiliki salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat.”

[HR. Tirmidzi (2499) & Ibnu Majah (2451)]

“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat salah niscaya Allah wafatkan kalian & menggantikan dengan suatu kaum yang akan berbuat salah lalu mereka meminta ampunan kepada Allah hingga Allah memberikan ampunan bagi mereka.”

[(HR. Muslim, Shohih Muslim 8/94 (2749)]

Barokallohufiik !

PERLU KITA KETAHUI BAHWA ALLAH AZZA WA JALLA SAMA SEKALI TIDAK AKAN MENERIMA AMAL PERBUATAN SEORANG HAMBA KECUALI HANYA DENGAN PETUNJUK DAN SUNNAH RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Bagaimanapun semangatnya dia dalam mengerjakannya, dan meskipun dia mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla dan ikhlas dalam mengerjakannya, kecuali jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan petunjuk dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sebagaimana Allah Azza wa Jalla Berfirman:

(قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم)

“Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
[(QS. Ali ‘Imran:31)]

Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata:

“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla)

Barokallohufiikum !

JANGAN DI NILAI DARI PENAMPILAN ORANG KARNA PENAMPILAN SESEORANG ITU BELUM TENTU BENAR

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata :

“Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit.
Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.”
[(Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38)]

LIHATLAH FIRMAN ALLAH :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”
[(QS. Al An’am: 116)]

DAN ALLAH BERFIRMAN :

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
[(QS. Al A’raf: 187)]

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”
[(QS. Al A’raf: 102)]

YANG BERPEGANG TEGUH PADA KEBENARAN SEJATINYA HANYALAH SEDIKIT

Di Sebutkan Dalam Al Qur’an Bahawa :

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ”
[(QS. Hud: 40)]

Disebutkan pula dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.”
[(HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220)]

KEMUDIAN NABI SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENJELASKAN BAHWA BERPEGANG PADA KEBENARAN ITU TERASING

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing.

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”
[(HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah)]

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata :

“Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.”
[(Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41)]

KEMUDIAN PATOKAN KEBENARAN ITU BUKANLAH DI LIHAT DARI BANYAK NYA PENGIKUT

Dalam hal ini yang menjadi Patokan Kita adalah harus tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun biasanya mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.”
[(QS. Yusuf: 103)]

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
[(QS. Al An’am: 116)]

JADI DAPAT DISIMPULKAN BAHWA kita Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan.

WollohutaA’ala A’lam Bhissowaab .
Wa Barakallohufiikum !

KRITERIA ORANG YANG PALING MULIA

Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta’ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran atau patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
[(QS.Al-Hujurat: 13)]

Barokallohufiik !