Arsip Kategori: RISALAH SHOLAT

HUKUM LEWAT DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHOLAT

image

Mengenai hal ini perlu dirinci pembahasannya terkait beberapa keadaan:

Shalat Dengan Menggunakan Sutrah.

Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa lewat di depan sutrah hukumnya tidak mengapa dan lewat di tengah-tengah antara orang yang shalat dengan sutrahnya hukumnya tidak boleh dan orang yang
melakukannya berdosa ( Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah , 24/184).

Berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu , Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka
tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan ” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505)

Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan) ” (HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin
Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl
hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim ).

Dengan demikian kita tidak boleh lewat diantara orang
yang shalat dengan sutrahnya, hendaknya kita mencari jalan di luar sutrah, atau lewat belakang orang yang shalat tersebut, atau mencari celah antara orang yang shalat, atau cara lain yang tidak melanggar larangan ini.

Shalat Tanpa Menggunakan Sutrah

Demikian juga terlarang lewat di depan orang yang
sedang shalat walaupun ia tidak menghadap sutrah,
orang yang melakukannya pun berdosa.

Berdasarkan
hadits dari Abu Juhaim Al Anshari, bahwa Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang
shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat ” (HR. Al Bukhari 510, Muslim 507).

Namun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan lafadz (di depan orang yang shalat ) yaitu berapa batasan jarak di depan orang shalat yang tidak dibolehkan lewat?

Dalam hal ini banyak pendapat yang dinukil dari para ulama:

-Tiga hasta dari kaki orang yang shalat Sejauh lemparan batu, dengan lemparan yang biasa, tidak kencang ataupun lemah.

-Satu langkah dari tempat shalat.

-Kembali kepada ‘urf, yaitu tergantung pada anggapan
orang-orang setempat. Jika sekian adalah jarak yang
masih termasuk istilah ‘di hadapan orang shalat’, maka
itulah jaraknya.

-Antara kaki dan tempat sujud orang yang shalat
Yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin adalah antara kaki dan tempat sujud orang
yang shalat. Karena orang yang shalat tidak
membutuhkan lebih dari jarak tersebut, maka ia tidak
berhak untuk menghalangi orang yang lewat di luar jarak
tadi (Syarhul Mumthi’ ,3/246).

Dengan demikian jika ingin lewat di depan orang yang
shalat yang tidak menggunakan sutrah hendaknya lewat diluar jarak sujudnya, dan ini hukumnya boleh.

Telah dijelaskan bahwa para
ulama sepakat bahwa makmum dalam shalat jama’ah tidak disunnahkan untuk membuat sutrah. Sutrah imam adalah sutrah bagi makmum. Namun apakah boleh seseorang lewat di depan para makmum? Atau bolehkah
lewat diantara shaf shalat jama’ah?

Dalam hal ini ada
dua pendapat diantara
para ulama :

  1. Hukumnya tidak boleh, berdasarkan keumuman
    larangan dalam hadits Abu Juhaim. Selain itu gangguan
    yang ditimbulkan oleh orang yang lewat itu sama baik
    terhadap orang yang shalat sendiri maupun
    berjama’ah.
  2. Hukumnya boleh berdasarkan perbuatan Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu , sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahihain , Ibnu Abbas berkata,
    “Aku datang dengan menunggang keledai betina. Ketika itu aku hampir menginjak masa baligh. Rasulullah sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap ke dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf. Kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada seorang pun yang
    mengingkari perbuatanku itu” (HR. Al Bukhari 76,
    Muslim 504).

Perbuatan sahabat Nabi, jika diketahui Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan banyak sahabat namun
tidak diingkari, maka itu adalah hujjah (dalil). Dan ini
merupakan sunnah taqririyyah, sunnah yang berasal dari persetujuan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap sebuah perkataan atau perbuatan.
Sehingga sunnah taqririyyah ini merupakan takhsis
(pengkhususan) dari dalil umum hadits Abu Juhaim.

Yang shahih, boleh lewat di depan para makmum shalat
jama’ah, yang melakukan hal ini tidak berdosa dengan
dalil perbuatan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma . Namun
andaikan bisa menghindari atau meminimalisir hal ini,
itu lebih disukai. Karena sebagaimana jika kita shalat
tentu kita tidak ingin mendapatkan gangguan sedikit pun, maka hendaknya kita pun berusaha tidak memberikan gangguan pada orang lain yang shalat.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
“tidak beriman seseorang sampai ia menyukai sesuatu
ada saudaranya sebagaimana ia menyukai sesuatu itu ada pada dirinya”
(lihat Syarhul Mumthi , 3/279).

Shalat Di Masjidil Haram Atau Tempat Yang Banyak
Dilalui Orang.

Apakah boleh lewat di depan orang yang shalat di Masjidil Haram? Sebagian ulama membolehkan secara mutlak karena darurat dikarenakan banyaknya dan merupakan tempat lalu lalangnya orang-orang dalam rangka thawaf dan lainnya. Syaikh Shalih Al Fauzan menyatakan: “demikian juga jika seseorang shalat di Masjidil Haram, maka tidak perlu menghadang orang yang lewat di depannya, karena terdapat hadits bahwa
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di
Mekkah, orang-orang melewati beliau, ketika itu tidak ada sutrah dihadapan beliau. Hadits ini diriwayatkan oleh Al
Khamsah” (Mulakhash Fiqhi , 145).

Sebagian lagi tetap melarang berdasarkan keumuman
hadits Abu Juhaim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin menjelaskan: “Tidak ada perbedaan hukum
lewat di depan orang shalat baik di Mekkah maupun di
selain Mekkah. Inilah pendapat yang shahih. Tidak ada hujjah bagi yang mengecualikan larangan ini dengan hadits
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat (di
Mekkah), orang-orang melewati beliau, ketika itu tidak ada sutrah dihadapan beliau” karena dalam hadits ini tedapat perawi yang majhul . Adanya perawi majhul adalah kecacatan bagi hadits.
Andaikan hadits ini shahih pun, maka kita bawa kepada
kemungkinan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
shalat di tempat orang ber-thawaf. Dan orang yang
thawaf itu adalah orang-orang yang lebih berhak berada di tempat thawaf. Karena tidak ada tempat lain selain ini. Sedangkan orang yang shalat, dia bisa shalat di tempat lain. Adapun orang yang thawaf tidak memiliki tempat lain selain sekeliling Ka’bah, sehingga ia lebih berhak.

Demikian andaikan haditsnya shahih. Oleh karena itu Imam Al Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya memberi judul bab “sutrah di Mekkah dan tempat lainnya”. Artinya, menurut beliau hukum sutrah di Mekkah dan tempat lain itu sama” ( Syarhul Mumthi ,
3/248).

Dari penjelasan beliau ini juga dapat dipahami bahwa jika seseorang shalat di tempat melakukan thawaf maka boleh dilewati, karena orang yang thawaf lebih berhak untuk berada di tempat thawaf. Yang paling bagus dalam masalah ini adalah rincian yang dipaparkan oleh Ibnu ‘Abidin rahimahullah dan sebagian ulama Malikiyyah, yaitu sebagai berikut:
Jika orang yang shalat tidak bersengaja shalat di tempat orang-orang lewat, dan terdapat celah yang
memungkinkan bagi orang yang lewat untuk tidak lewat
di depan orang shalat, maka orang yang lewat tadi berdosa. Sedangkan yang shalat tidak berdosa.

Jika orang yang shalat sudah tahu dan sengaja shalat di
tempat orang-orang biasa lewat, sedangkan tidak ada
celah yang memungkinkan untuk lewat selain melewati
orang shalat, maka dalam hal ini orang yang shalat
berdosa. Adapun orang yang lewat tidak berdosa.

Jika orang yang shalat sudah tahu dan sengaja shalat di
tempat orang-orang biasa lewat, dan ada celah yang
memungkinkan untuk lewat, maka keduanya berdosa.

Jika orang yang shalat tidak bersengaja shalat di tempat orang-orang lewat dan tidak ada celah untuk lewat, maka boleh lewat dan keduanya tidak berdosa (lihat Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/185).

Perlu dicatat bahwa rincian ini berlaku dalam keadaan
tempat shalat yang ramai orang berlalu-lalang dan
banyak orang melakukan shalat semisal Masjidil Haram.

Adapun di tempat biasa yang tidak terlalu banyak orang
lalu-lalang, maka tidak ada alasan untuk melewati orang
yang shalat walaupun andaikan tidak ada celah dan ia ada keperluan untuk melewatinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Tidak ada perbedaan antara orang yang punya keperluan untuk lewat atau pun tidak punya keperluan. Karena ia tidak punya hak untuk lewat di depan orang yang shalat. Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda
“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang
shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat ”
arba’in di sini artinya 40 tahun (Syarhul Mumthi’ , 3/247).

Maka yang patut dilakukan adalah menunggu orang yang
shalat selesai. Ibnu Rajab mengomentari hadits ini: “ini
adalah dalil bahwa berdirinya seseorang selama 40 tahun untuk menunggu adanya jalan agar bisa lewat, itu lebih baik daripada lewat di depan orang yang shalat jika ia tidak menemukan jalan lain” (Fathul Baari Libni Rajab , 4/80).

Apakah Shalat Menjadi Batal Dengan Adanya Sesuatu
Yang Lewat?

Shalat bisa menjadi batal jika ia dilewati oleh wanita, atau keledai, atau anjing. Adapun jika yang lewat adalah selain tiga hal ini, maka tidak batal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Lewatnya wanita, keledai dan anjing membatalkan
shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur rahl ” (HR. Muslim 511)

anjing yang dimaksud adalah anjing hitam sebagaimana
disebutkan dalam riwayat lain:
“Jika salah seorang dari kalian shalat, dan ia tidak
menghadap sesuatu yang tingginya setinggi ujung pelana atau bagian tengah pelana, maka shalatnya bisa
dibatalkan oleh anjing hitam, wanita, dan keledai ” (HR.
Tirmidzi).

Batalnya shalat dalam hal ini berlaku baik jika yang shalat memakai sutrah, lalu wanita, atau keledai, atau anjing lewat di antara ia dan sutrahnya, maupun tanpa
sutrah namun mereka lewat di daerah sujud orang yang
shalat. Namun tidak berlaku untuk makmum shalat
jama’ah karena sutrah imam adalah sutrah bagi makmum, dan makmum tidak disyari’atkan untuk menahan orang yang lewat di depannya. Sehingga jika
wanita, atau keledai, atau anjing lewat diantara shaf
shalat jama’ah maka tidak membatalkan shalat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa secara mutlak shalat tidak bisa dibatalkan dengan lewatnya sesuatu, sedangkan hadits di atas maksudnya batal pahala atau kesempurnaan shalatnya. Tentu saja ini merupakan ta’wil yang tidak memiliki dasar. Dan petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebaik-baik petunjuk.
Al Lajnah Ad Daimah menyatakan: “yang shahih, lewatnya hal-hal yang disebutkan itu di depan orang yang shalat atau antara ia dan sutrahnya itu membatalkan shalatnya.

Karena terdapat hadits shahih bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘ Lewatnya wanita,
keledai dan anjing membatalkan shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur
rahl‘. Riwayat Imam Muslim. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat tidak bisa batal dengan hal-
hal tersebut. Namun pahalanya berkurang karena
berkurangnya seluruh kekhusyukannya atau sebagian kekhusyukannya. Namun yang nampaknya lebih tepat adalah apa yang terdapat dalam hadits, sedangkan pendapat yang kedua tadi merupakan ta’wil yang tidak didasari oleh dalil” (Fatawa Lajnah Daimah, no. 6990 juz 7 hal 82).

Tapi, jika wanita, anjing hitam atau keledai lewat di
depan orang yang shalat, sedangkan orang yang shalat
ini sudah mencari tempat yang aman dari orang yang
lewat, sudah menghadap sutrah , atau ia pun sudah
berusaha menghadang dan menahan yang lewat tadi
dengan sungguh-sungguh namun tetap saja bisa lolos,
maka shalat tidak batal. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan: “(jika wanita lewat) secara zhahir
shalatnya batal, dan wajib diulang. Namun menurut saya, ada sesuatu yang kurang tepat dalam pendapat ini.

Karena seorang yang melakukan shalat, ketika ia sudah melakukan apa saja yang diperintahkan oleh syari’at, lalu datang perkara yang bukan atas kehendaknya, dan inipun bukan karena tafrith (lalai) ataupun tahawun
(menyepelekan), bagaimana mungkin kita mengatakan
ibadahnya batal karena sebab perbuatan pihak lain?

Karena yang berdosa adalah yang lewat. Adapun jika hal
itu terjadi karena menyepelekan atau lalai sebagaimana dilakukan kebanyakan orang, maka shalatnya batal tanpa
keraguan” (Syarhul Mumthi’ , 3/239).

Inilah pendapat yang
kami anggap sebagai pendapat yang lebih pertengahan dalam hal ini.

Mungkin ada yang bertanya,

“bagaimana dengan wanita?
apakah shalat seorang wanita batal jika dilewati wanita lain?”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya pertanyaan serupa, beliau menjawab: “iya, batal.
Karena tidak ada perbedaan hukum antara lelaki dan
wanita kecuali ada dalil yang menyatakan berbeda
hukumnya. Namun jika wanita tersebut lewat di luar
sutrah jika ada sutrah, atau di luar sajadah jika shalatnya
pakai sajadah, atau di luar area sujud jika tidak pakai
sutrah dan sajadah, maka ini tidak mengapa dan tidak
membatalkan” (Majmu’ Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin , 13/318).

Hukum Menghalangi Orang Lewat.
Disyariatkan bagi orang yang shalat untuk menahan atau
menghalangi orang yang lewat di depannya. Baik ia
memakai sutrah maupun tidak. Dalilnya hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu , Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka
perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan ” (HR. Al Bukhari 509)

Sebagian ulama berdalil dengan mafhum hadits ini,
bahwa yang disyariatkan untuk menahan orang yang
lewat adalah jika shalatnya memakai sutrah. Pendapat ini tidak tepat karena dalam riwayat yang lain Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk
menghalangi orang yang lewat secara mutlak.

“Jika seorang di antara kalian shalat, jangan biarkan
seseorang lewat di depannya. Tahanlah ia sebisa
mungkin. Jika ia enggan ditahan maka perangilah ia,
karena sesungguhnya itu setan ” (HR. Muslim 505. 506).

Namun para ulama berbeda pendapat mengenai hukum
menahan orang yang lewat ketika sedang shalat, apakah
wajib atau tidak? Karena lafadz-lafadz hadits mengenai
hal ini menggunakan lafadz perintah, yaitu (cegahlah) dan (tahanlah) atau semacamnya, maka pada asalnya menghasilkan hukum wajib. Ini adalah
salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad. Lebih diperkuat lagi wajibnya karena diperintahkan untuk
memerangi orang yang enggan dicegah untuk lewat (lihat Syarhul Mumthi’ , 3/244).

Sedangkan jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah karena sibuk menahan orang yang lewat dapat menghilangkan tujuan dari shalat yaitu khusyuk dan
tadabbur. Selain itu juga adanya perbedaan hukum
melewati orang yang shalat, sebagaimana telah dijelaskan, mengisyaratkan tidak wajibnya menahan
orang yang lewat. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah,
Malikiyyah, Hanafiyyah ( Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah , 24/187) dan serta pendapat mu’tamad madzhab Hambali
(Syarhul Mumthi’ , 3/243).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin memaparkan kompromi yang bagus antara yang mewajibkan secara mutlak dengan yang mensunnahkan secara mutlak:

“Dapat kita bawa kepada kompromi berikut: perlu
dibedakan antara lewat yang membatalkan shalat dengan
yang tidak sampai membatalkan shalat. Jika lewatnya tersebut membuat shalat batal, maka wajib ditahan.

Namun jika tidak sampai membatalkan shalat, maka tidak wajib (sunnah) untuk ditahan. Karena dalam kondisi ini, adanya yang lewat tersebut maksimal hanya membuat shalat kurang sempurna, tidak sampai membatalkan.

Berbeda halnya jika adanya yang lewat tadi dapat
membatalkan shalat. Lebih lagi jika shalatnya adalah
shalat fardhu, jika anda membiarkan sesuatu lewat
hingga membatalkan shalat anda sama saja anda sengaja
membatalkan shalat. Dan hukum asal membatalkan
shalat fardhu adalah haram” (Syarhul Mumthi’ , 3/245).

Cara Menahan Orang Yang Lewat.
Sebagaimana hadits yang telah disebutkan, disebutkan
cara menahan orang yang lewat.
“Tahanlah ia sebisa mungkin. Jika ia enggan ditahan maka
perangilah ia”
Maksudnya ketika lewat pertama kali, maka tahanlah
dengan cara yang ringan namun cukup untuk
menahannya. Jika ia berusaha untuk lewat kedua kalinya, maka tahanlah dengan lebih bersungguh-sungguh. Sebagaimana perbuatan seorang sahabat Nabi, Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu :
“aku (Abu Shalih; perawi hadits) ketika itu bersama yang Abu Sa’id sedang shalat pada hari Jum’at dengan
menghadap sutrah. Kemudian datang seorang pemuda dari Bani Abi Mu’yath hendak lewat di depan beliau. Kemudian beliau pun menahannya di lehernya. Lalu pemuda itu melihat-lihat sekeliling, namun ia tidak melihat celah lain selain melewati Abu Sa’id. Sehingga pemuda itu pun berusaha lewat lagi untuk kedua kalinya.

Abu Sa’id lalu menahannya lagi pada lehernya namun
lebih sungguh-sungguh dari yang pertama. Akhirnya
pemuda itu berdiri sambil mencela Abu Said. Setelah itu
dia memilih untuk membelah kerumunan manusia. Pemuda tadi pergi ke rumah Marwan (gubernur Madinah saat itu).

Ia menyampaikan keluhannya kepada Marwan. Lalu Abu Sa’id pun datang kepada Marwan. Lalu Abu Sa’id
pun datang kepada Marwan. Marwan bertanya kepadanya:
‘Apa yang telah kau lakukan kepada anak saudaramu
sampai-sampai ia datang mengeluh padaku?’ Lalu Abu
Sa’id berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap
orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah di lehernya.
jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena
sesungguhnya ia adalah setan’ ” (HR. Muslim 505)

dalam riwayat lain:

“dari Abu Sa’id, ia pernah shalat lalu anaknya Marwan
lewat di depannya, ia pun memukulnya. Marwan setelah kejadian itu bertanya kepada Abu Sa’id: ‘Apakah engkau.memukul anak saudaramu?’. Abu Sa’id berkata: ‘Tidak, aku tidak memukulnya. Yang aku pukul adalah setan’”.

Ishaq bin Ibrahim pernah melihat Imam Ahmad shalat,
ketika ada yang hendak lewat di depannya, beliau
menahannya dengan lembut. Namun ketika orang itu mencoba lewat lagi, Imam Ahmad menahannya dengan keras (Fathul Baari Libni Rajab , 4/83).

Ibnu ‘Abdil Barr menjelaskan makna ﻪْﻠِﺗﺎﻘﻴﻠﻓ (perangilah
ia) beliau berkata”maksudnya adalah menahan. Dan menurutku makna perkataan ini bukanlah melakukan
kekerasan, karena segala sesuatu itu ada batasnya”.
Beliau juga berkata: “para ulama bersepakat maksudnya
memerangi di sini bukanlah memerangi dengan pedang
(senjata), dan tanpa menoleh, dan tidak sampai pada kadar yang membuat shalatnya batal” (Fathul Baari Libni Rajab , 4/84).

Para ulama juga bersepakat bahwa hendaknya cara yang
digunakan untuk menahan orang yang shalat itu
bertahap, dimulai dari yang paling ringan dan lembuat
setelah itu jika berusaha lewat lagi maka mulai agak
keras dan seterusnya ( Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah , 24/187).

Adapun mengenai makna (sesungguhnya orang yang lewat di depan orang shalat adalah setan ),
ada dua tafsiran dari para ulama:
Orang tersebut disertai dan ditemani setan yang setan
ini memerintahkan dia untuk melewati orang shalat. Ini
pendapat yang dikuatkan Abu Hatim. Sebagaimana
dalam sebagian riwayat dikatakan:
“karena bersamanya ada qarin (setan) ”
Perbuatan melewati orang shalat adalah perbuatan
setan, sehingga orang ini adalah setan berbentuk
manusia. Ini adalah pendapat Al Jurjani. (lihat Fathul Baari Libni Rajab , 4/88)

Demikian risalah singkat mengenai sutrah shalat. Semoga dengan mengetahui fiqih mengenai sutrah, kaum
Muslimin dapat lebih menjaga dan meningkatkan kualitas shalatnya, sehingga shalat tidak hanya sekedar gerakan bungkuk-berdiri. Melainkan sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menggapai ridhaNya.

Wallahu waliyyut taufiq .

Penulis: Yulian Purnama

Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.Sos., M.Pi.

Sumber : Artikel Muslim.Or.Id —

Iklan

BOLEHKAH BANCI JADI IMAM ?

Ada syubhat yang belum saya dapatkan penjelasannya, “Seorang banci boleh jadi imam jika seluruh ma’mumnya perempuan.”

PERTANYAAN

Bolehkah seorang banci menjadi imam shalat berjamaah? Kemudian jika jawaban boleh, kondisi bagaimanakah yang membolehkannya? Jazakumullahu khairan

Dari: Ummu Aisyah

JAWABAN

Bolehkah banci jadi imam?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, perlu kita seragamkan istilah ‘banci’.

Banci menurut istilah para ulama adalah orang yang tidak diketahui, apakah dia lelaki ataukah perempuan. Dia memiliki dua alat kelamin, alat kelamin lelaki dan alat kelamin perempuan, dan keduanya berfungsi.

Dalam as-Syarh al-Mumthi’ dinyatakan,

والخُنثى هو: الذي لا يُعْلَمُ أَذكرٌ هو أم أنثى؟ فيشمَلُ مَن له ذَكَرٌ وفَرْجٌ يبول منهما جميعاً

Banci (al-Khuntsa) adalah orang yang tidak diketahui apakah dia lelaki ataukah perempuan. Mereka adalah orang yang memiliki dzakar (kelamin lelaki) dan farji (kelamin wanita), dia kencing dari kedua saluran itu bersamaan. (as-Syarh al-Mumthi’, 4/223).

Jika sampai baligh sama sekali tidak bisa ditentukan mana alat kelamin yang dominan, ulama fiqh menyebutnya ‘al-Khuntsa al-Musykil’ (banci gak jelas).

Dari pengertian di atas, banci dalam syariat kembali kepada kelainan ciri fisik, bukan semata mental. Sehingga lelaki yang bermental gay, bukan termasuk kategori banci dalam kajian fiqh.

Kedua, hukum banci jadi imam

Ulama sepakat, posisi banci dalam shalat jamaah, berada diantara lelaki dan wanita. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في أنه إذا اجتمع رجال، وصبيان، وخناثى، ونساء، في صلاة الجماعة، تقدم الرجال، ثم الصبيان، ثم الخناثى، ثم النساء

Tidak ada perselisihan diantara ulama bahwa apabila ada berbagai macam makmum, mulai dari lelaki, anak-anak, banci, dan wanita dalam shalat jamaah, maka lelaki dewasa di depan, kemudian anak-anak, kemudian banci, kemudian wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 20/25).

Banci di posisikan antara lelaki dan wanita, karena banci berpeluang untuk menjelma menjadi kedua jenis itu. Dia bisa menjadi lelaki dan bisa menjadi wanita. Sehingga jenis kelaminnya ada dua kemungkinan, bisa lelaki, bisa wanita.

Mengingat lelaki dewasa tidak boleh diimami wanita, jumhur ulama berpendapat,

  1. Banci tidak boleh mengimami lelaki, karena ada kemungkinan dia wanita
  2. Banci tidak boleh menjadi imam sesama banci, karena ada kemungkinan si imam wanita sementara si makmum lelaki.

  3. Banci boleh mengimami wanita. Karena wanita boleh menjadi imam wanita.

Dalam kitabnya al-Muhadzab, as-Saerozi – ulama Syafiiyah – mengatakan,

ولا تجوز صلاة الرجل خلف الخنثى الْمُشْكِلِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ امرأة, ولا صلاة الخنثى خلف الخنثى لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْمَأْمُومُ رَجُلًا وَالْإِمَامُ امرأة

Seorang lelaki tidak boleh shalat di belakang banci yang belum jelas, karena memungkinkan dia wanita. Banci tidak boleh shalat di belakang banci, karena bisa jadi makmumnya lelaki sementara imamnya wanita. (al-Muhadzab, 1/97).

Bahkan dalam madzhab Syafiiyah, makmum lelaki yang shalat di belakang banci karena tidak tahu, maka jika dia tahu, dia wajib mengulangi shalatnya. an-Nawawi mengatakan,

وان صلي رجل خلف خنثى أو خنثى خلف خنثي ولم يعلم انه خنثى ثم علم لزمه الاعادة

Jika ada lelaki yang shalat di belakang banci, atau banci shalat di belakang banci, karena tidak tahu bahwa dia banci, kemudian dia tahu, maka dia wajib mengulangi shalat. (al-Majmu’, 4/255).

Ketiga, banci kelainan mental

Melengkapi pembahasan di atas, banci karena kelainan mental.

Sejatinya dia hanya memiliki satu kelamin, lelaki. Dia lahir dan besar sebagai lelaki. Namun dia memiliki kecenderungan meniru gaya wanita. Bolehkah manusia semacam ini jadi imam?

Banci jenis ini ada dua macam,

Jenis pertama, banci yang dibuat-buat. Dia lelaki yang normal fisik dan mental, memiliki kecenderugan tertarik kepada lawan jenis (wanita). Namun dia sengaja meniru gaya wanita, bisa karena komunitas, atau karena tuntutan ngamen.

Banci jenis ini tergolong orang fasik. Dia melakukan dosa besar, karena tasyabbuh (meniru) wanita.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang meniru-niru kebiasaan wanita dan para wanita yang meniru-niru kebiasaan lelaki.” (HR. Bukhari 5885)

Sengaja meniru kebiasaan wanita, dan bahkan bangga dengan perbuatannya, menjadikan dirinya orang fasik. Tentang hukum, apakah dia boeh jadi imam, dijelaskan dalam Ensiklopedi Fiqh,

أما المتخلق بخلق النساء حركة وهيئة، والذي يتشبه بهن في تليين الكلام وتكسر الأعضاء عمدا، فإن ذلك عادة قبيحة ومعصية ويعتبر فاعلها آثما وفاسقا. والفاسق تكره إمامته عند الحنفية والشافعية، وهو رواية عند المالكية. وقال الحنابلة، والمالكية في رواية أخرى، ببطلان إمامة الفاسق

Lelaki yang meniru gaya wanita, meniru gerakannya, meniru gemulai suaranya, dan sengaja berlenggak-lenggok, merupakan perbuatan tercela dan kemaksiatan. Pelakunya tergolong orang fasik. Sementara orang fasik, makruh menjadi imam menurut Hanafiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dalam Malikiyah. Sementara Hambali dan salah satu riwayat dalam madzhab Malikiyah, berpendapat bahwa statusnya jadi imam itu batal. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 11/63).

Jenis kedua, banci karena kelainan mental.

Dia fisiknya lelaki, tapi mentalnya ‘kecipratan’ karakter wanita, dan itu di luar kesengajaannya. Bicaranya gemulai, gayanya seperti wanita. Statusnya sama dengan lelaki, dan sah jadi imam.

Dinyatakan dalam Ensiklopedi Fiqh,

المخنث بالخلقة، وهو من يكون في كلامه لين وفي أعضائه تكسر خلقة، ولم يشتهر بشيء من الأفعال الرديئة لا يعتبر فاسقا، ولا يدخله الذم واللعنة الواردة في الأحاديث، فتصح إمامته، لكنه يؤمر بتكلف تركه والإدمان على ذلك بالتدريج، فإذا لم يقدر على تركه فليس عليه لوم

Banci karena kelainan karakter, yaitu lelaki yang suaranya gemulai, dan gayannya seperti wanita sejak kecil, sementara dia tidak dikenal suka melakukan perbuatan buruk, maka dia tidak dihitung orang fasik. Tidak tidak mendapatkan celaan dan laknat, seperti yang disebutkan dalam hadis. Sah jadi imam, namun dia diperintahkan untuk meninggalkan tradisi gaya kewanitaannya, dan berusaha mengobati dirinya secara bertahap. Jika dia tidak mampu, dia tidak dicela.

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 11/62).

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi nur Bait

http://www.konsultasisyariah.com/jika-banci-jadi-imam-shalat/

Barokallohufiik !