Arsip Kategori: RISALAH ILMU

PETUNJUK ALLAH

image

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh ALLAH, maka dialah yang mendapat petunjuk.
Barang siapa yang di sesatkan oleh ALLAH, Maka merekalah orang orang yang merugi

QS . AL A’ROF : 178

Iklan

JANGAN MENGAMBIL ILMU KEPADA ORANG YANG BELUM JELAS AKIDAH NYA, WALAUPUN DIA MENGATAKAN DIRINYA MENGIKUTI SUNNAH

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Belajar ilmu agama tidak boleh serampangan, karena yang dikorbankan adalah prinsip agama kita. Belajar agama harus kepada ahlinya yang jelas keilmuan, akidah, manhaj, akhlak, dan adabnya; jangan kepada hizbiyin, orang yang berakhlak jelek, atau yang tidak jelas manhaj serta akidahnya.

Barokallohufiikum !

TIDAK SEMUA MUSLIM LAYAK DIJADIKAN GURU ATAU USTADZ

Tidak semua orang yang kita
kenal adalah tempat kita bertanya tentang
masalah agama.

Allah berfirman :

“Ikutilah orang
yang tiada minta Balasan kepadamu; dan
mereka adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk” (QS Yasin:21).

Ibnu Sa’di mengatakan :

“Ikutilah orang yang
memberikan nasehat kepadamu, yang
menginginkan kebaikan untukmu, bukan
seorang yang menginginkan harta dan upah
darimu karena nasehat dan bimbingan yang dia
berikan kepadamu. Ini merupakan faktor
pendorong untuk mengikuti orang yang memiliki
sifat demikian. Namun boleh jadi ada yang
bilang, ‘memang boleh jadi dia berdakwah dan
tidak meminta upah dengan dakwahnya namun
ternyata dia tidak berada di atas kebenaran’.
Kemungkinan ini Allah bantah dengan
firmanNya, ‘Dan mereka adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk’. Hal ini karena mereka
hanyalah mendakwahkan hal-hal yang dinilai
baik oleh akal sehat dan mereka hanya melarang
untuk mengerjakan hal-hal yang dinilai buruk
oleh akal sehat” (Taisir al Karim al Rahman hal
817, cetakan Dar Ibnu al Jauzi)

Pepatah arab mengatakan :

faaqidus syai’ laa
yu’thihi, orang yang tidak punya tidak akan bisa
memberi. Sebagaimana orang yang tidak punya
uang tidak akan pernah bisa memberi uang
kepada orang lain maka demikian pula orang
yang tidak berada di atas hidayah tentu tidak
bisa bagi-bagi hidayah.
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan ciri dai
yang bisa bagi-bagi hidayah karena dia memang
berada dalam hidayah yaitu tidak meminta upah
dengan dakwah dan nasehatnya.
Tidak hanya sebatas meminta upah berupa
harta, namun juga tidak meminta upah dalam
bentuk penghormatan, cium tangan, disowani,
diminta mencoblos partai tertentu, dimintai
membuat kartu anggota organisasi tertentu
ataupun tergabung dalam kelompok pengajian
tertentu.

Inilah ciri orang yang layak kita jadikan sebagai
guru ngaji kita.

Syeikh Abdur Rahman bin Muhammad bin
Qosim mengatakan :

“Dalam dakwah ada dua
syarat yang harus dipenuhi yaitu ikhlas karena
mengharap melihat wajah Alloh dan sesuai
dengan sunnah Rasulullah. Jika seorang dai tidak
memenuhi kriteria pertama maka dia adalah
musyrik. Tetapi jika syarat kedua yang tidak
terpenuhi maka dia adalah mubtadi’. Demikian
pula, seorang dai harus mengetahui materi yang
hendak didakwahkan baik berupa perintah
maupun larangan sebagaimana seharusnya
lembut ketika memerintah dan melarang suatu
hal” (Hasyiah Kitab at Tauhid hal 55).

ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀَ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺭِّﺛُﻮﺍ ﺩِﻳﻨَﺎﺭًﺍ ﻭَﻻَ
ﺩِﺭْﻫَﻤًﺎ ﻭَﺭَّﺛُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Dan
sesungguhnya para nabi itu tidak memwariskan
dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan
ilmu agama” (HR Abu Daud no 3741, dinilai
shahih oleh al Albani).

Adalah menjadi ketentuan untuk semua nabi,
jika mereka meninggal dunia maka harta
warisan mereka tidak jatuh kepada keluarganya
namun menjadi hak sosial. Ketentuan ini
memberi penegasan bahwa dakwah yang
diusung oleh para nabi dan orang-orang yang
mengikuti jejak mereka dengan baik adalah
dakwah yang ikhlas. Mereka berdakwah bukan
untuk tujuan memperkaya diri sendiri atau
anggota keluarga dan keturunan.
Andai harta warisan para nabi itu dibagikan
kepada keluarganya maka boleh jadi ada orang
akan berpikir bahwa nabi demikian rajin
berdakwah adalah supaya anggota keluarganya
berkecukupan hingga tujuh keturunan.

Dengan adanya ketentuan di atas maka orang
akan semakin yakin bahwa dakwah para nabi
hanyalah karena Alloh. Mereka ingin agar
masyarakat berubah semakin baik, semula syirik
menjadi tauhid, bid’ah menjadi sunnah dan
maksiat menjadi ketaatan.
Jangan terburu-buru menjadikan seseorang
sebagai guru ngaji kita sebelum sifat di atas ada
pada mereka. Tidak semua muslim layak
dijadikan guru dan tidak semua orang yang kita
kenal adalah tempat kita bertanya tentang
masalah agama.

By Ustadz Aris Munandar —

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

PESANTREN AS SUNNAH

image

BERIKUT SEDIKIT INFO TENTANG PONDOK PESANTREN SALAFIYAH LOMBOK

Bismillah…

Pondok Pesantren Assunnah merupakan salah satu Pontren Islam Salafiyah yang ada di Lombok.

Beralamatkan di jln. Jurusan Lb Lombok-Mataram Km.55

Kampung Muhajirin .

Desa Bagek Nyaka Santri .

Kecamatan Aikmel .

Kabupaten Lombok Timur .

Propinsi Nusa Tenggara Barat .

kodepos 83653 Telp/Fax: 0376-2924114

email: pontrenassunnah@gmail.com

Pontren ini berdiri tahun 2004. Dan, alhamdulillah, sejak tahun 2011 Pontren ini sudah mendapat Izin Operasional dari Departemen Agama setempat.

Pesantren yang dibina oleh : 

Ust. Sufyan Bafien Zein dan

Ust. Mizan Qudsiyah, Lc

ini memiliki santri pada tahun ajaran 2011-2012 sebanyak 621 santri.

Terbagi di beberapa Jenjang Pendidikan yaitu :

TK- Islam Assunnah,

SD- Islam Assunnah,

SMP- Islam Assunnah,

SMA- Islam Assunnah dan

Ma’had Ali.

Pontren ini memiliki 36 guru agama yang merupakan alumni Timur Tengah (Univ. Islam Madinah, Ma’hadul Harom Makkah, Univ. Ibnu Utsaimin Unaizah KSA) dan alumni dalam negeri (LIPIA, STIT Ali bin Abi Tholib Sby, Ma’hadul Furqon Gresik dan Ma’had-ma’had lainnya di Indonesia) dan 30 guru umum alumni Universitas-universitas dalam negeri.

Sejak berdirinya Pontren Assunnah mendapat kunjungan kehormatan dari beberapa Ulama’ Timur Tengah sekaligus menyampaikan ceramahnya diantaranya:

Syekh DR. Sholah Al-budaer (Iman dan Khotib Masjid Nabawi ),

Syekh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al-badr Al-abbad ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh DR. Ibrohim Arruhaily ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh Ali Hasan Alhalabi, Syekh Saliim Ied Alhilali,

Syekh Masyhur Hasan Alu Salman,

Syekh Muhammad Musa Alu Nashr
(keempat murid syekh Alalbani-rahimahulloh- dari Yordania).

Demikian pula beberapa tamu dari Maroko, Inggris, Spayol dan kunjungan dan tamu-tamu lainnya.

Kurikulum yang digunakan yaitu paduan antara Kurikulum Dinas Pendidikan Nasional dengan Kurikulum Pondok.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH
Tentang info PESANTREN ASSUNNAH
Salafiyah Lombok ….

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

JANGANLAH KAMU MENGAMBIL ILMU KECUALI DARI ORANG YANG TELAH DIKETAHUI KETEGUHANNYA DI ATAS SUNNAH

Al-Imam Muhammad bin Sirin Berkata :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Beliau juga berkata :

“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, maka tatkala fitnah telah terjadi, mereka pun berkata:

‘Sebutkanlah rawi-rawi kalian kepada kami, maka diperiksalah, bila berasal dari kalangan ahlus sunnah maka diambil haditsnya dan bila berasal dari ahlul bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Kedua atsar di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya)

Barokallohufiik !

JANGANLAH BERBICARA TANPA ILMU

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa
yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta
‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung,”
[(An-Nahl: 116)]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa diberi fatwa tanpa ilmu maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa tersebut. Barangsiapa menganjurkan satu perkara kepada saudaranya seagama sementara ia tahu bahwa ada perkara lain yang lebih baik berarti ia telah mengkhianatinya.”
[(Hasan, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (59), Abu Dawud (3657), Ibnu Majah (53), Ahmad (321 dan 365), ad-Darimi (1/57), al-Hakim (1/102-103), al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiib wal Mutafaqqih (11/155)]

Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata :

“Aku mendengar Ibnu ’Abbas radiallahu anhu menceritakan tentang seorang laki-laki di zaman
Nabi yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan
mereka. Bukankah bertanya merupakan obat kebodohan’?”
[(Shahih, HR Ibnu Majah (572), ad-Daraquthni (1/190/4), al-Hakim (1/178), ath-Thabrani
(11472), Abu Nu’aim dalam al-Hilyab (111/317-318)]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata :

“Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang tidak tahu hendaklah mengatakan, Allaahu a’lam. Sebab termasuk ilmu adalah
mengatakan, ‘Aku tidak tahu’ dalam perkara yang tidak ia ketahui ilmunya.” Sebab Allah subahanahu wata’ala berfirman kepada Nabi-Nya :

“Katakanlah (hai Muhammad), (Aku tidak
meminta upah sedikitpun ke-padamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan,”
[(Shaad: 86)]

Dikutip Dari : abuzuhriy.com

Semoga Bermamfaat .
Barokallohufiikum !