Arsip Kategori: RISALAH UMUM

KALANGAN HABAIB SERUKAN UNTUK TIDAK MERAYAKAN MAULID NABI

image

      

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar (tujuan-tujuan syari’at yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir ” Islam Today “, para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru Ittiba’ yang benar.

Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syiar-syiar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.

Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:

Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam. (HR. al-Bukhari)

Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,

“Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Radhiyallahu ‘anhum ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.

Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini adalah teks pernyataannya:
Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari’at yang beliau bawa adalah syari’at yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al maidah:3)

Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku. (HR. Muslim).

Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)

Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba’ yang benar. Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)

Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.

Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah Ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar (tujuan-tujuan syari’at yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba’) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari’at Islam.

Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan sabdanya:

Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam. (HR. al-Bukhari)

Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.

Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.

Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya:

Semua bid’ah itu sesat. (HR. Muslim).

Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.

Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:

Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut. (HR. Muslim).

Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:

  1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)
  2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)

  3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.

  4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum ‘Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)

  5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).

  6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).

  7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).

  8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)

  9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).

  10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala).

  11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)

  12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha).

sumber: Milis As-Sunnah

sumber penukilan : http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/04/10/kalangan-habaib-serukan-untuk-tidak-merayakan-maulid-nabi/

Iklan

SEPULUH JURUS PENANGKAL KESESATAN SYI’AH

Alhamdulillahirabbil ‘alamin atas segala nikmat dan karunia Allah. Dengan segala nikmat-Nya kita senantiasa diberi petunjuk dan kekuatan untuk meniti jalan istiqamah, alhamdulillah. Tanpa karunia dan perlindungan Allah, kita tak ada apa-apanya.

Berikut ini adalah “10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang berisi sepuluh logika dasar untuk mematahkan akidah sesat Syi’ah. Logika-logika ini bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syi’ah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syi’ah yang ingin menyesatkan umat Islam dari jalan yang lurus.

Kalau Anda berbicara dengan orang Syi’ah, atau ingin mengajak orang Syi’ah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syi’ah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syi’ah; coba kemukakan 10 logika dasar di bawah ini. Tentu saja, kemukakan satu per satu. In sya Allah, kaum Syi’ah akan kesulitan menjawab logika-logika ini, sehingga kemudian kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

JURUS 1: “NABI DAN AHLUL BAIT”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian
tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syi’ah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri?
Bukankah sosok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syi’ah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

Faktanya, ajaran Syi’ah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syi’ah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syi’ah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi.
Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”

JURUS 2: “AHLUL BAIT DAN ISTERI NABI”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara istri-istri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui istri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui istri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para istri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”

Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini istri-istri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.

JURUS 3: “ISLAM DAN SAHABAT”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syi’ah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”

Faktanya, kaum Syi’ah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

JURUS 4: “SEPUTAR IMAM SYI’AH”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syi’ah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syi’ah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syi’ah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syi’ah? Apakah orang Syi’ah meragukan keilmuan empat imam mazhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam mazhab tidak sepadan dengan 12 imam Syi’ah?”

Faktanya, kaum Syi’ah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syi’ah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12” atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syi’ah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam mazhab rahimahumullah.

JURUS 5: “ALLAH DAN IMAM SYI’AH”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syi’ah?” Tentu dia akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”

Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syi’ah, dalam kitab-kitab Syi’ah, dalam pengajian-pengajian Syi’ah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syi’ah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syi’ah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”

Faktanya, sikap ideologis kaum Syi’ah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syi’ah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

JURUS 6: “ALI DAN JABATAN KHALIFAH”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”

Kemudian katakan kepada orang Syi’ah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”

Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali radhiyallahu ‘anhu lebih berani melakukan hal itu.

JURUS 7: “ALI DAN HUSEIN”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syi’ah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syi’ah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syi’ah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syi’ah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih dahsyat lagi.

JURUS 8: “SYI’AH DAN WANITA”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Apakah dalam keyakinan Syi’ah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syi’ah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan ke orang Syi’ah itu: “Jika Syi’ah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syi’ah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syi’ah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”

Faktanya, kaum Syi’ah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama.Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

JURUS 9: “SYI’AH DAN POLITIK”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”

Lalu katakan ke orang Syi’ah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syi’ah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syi’ah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syi’ah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”

Faktanya, ajaran Syi’ah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syi’ah. Dalam hal ini akidah Syi’ah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

JURUS 10: “SYI’AH DAN SUNNI”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Mengapa kaum Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syi’ah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwah Islamiyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”

Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syi’ah benar-benar mau ukhuwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, istri-istri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwah atau perdamaian antara Sunni dan Syi’ah, sebelum Syi’ah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syi’ah.

Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syi’ah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah sangat sulit disatukan.

Demikianlah “10 Jurus Dasar Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syi’ah.

Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan umat Islam dari propaganda-propaganda Syi’ah.

Sumber WhatsApp Group

Wallahu a’lam bis-shawaab.
Barokallohufiik !

SEMASA SEHATNYA HANYA MELAKUKAN BERSENDA GURAU, DAN HANYA MENG-OLOK OLOK SAJA, ITULAH YANG TERJADI PADA ARTIS LAWAK, YANG OMONGANNYA DAPAT MENYESATKAN ORANG BANYAK

Allah Ta’ala berfirman :

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan)
lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirim sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim ”
[QUR’AN surath hujurat ayat 11]

Sebagaimana pula Allah Azza Wa
Jalla Berfirman dalam surat Al Zilzal ayat 7-8 :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ(٧)وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شّرًّا يَرَه ُ(۸)

” Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya diaakan melihat (balasan) nya).
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.

Menyebabkan orang lain berdosa adalah berdosa, lebih dilakukan dengan sengaja.

Dan perlu juga kita ketahui bahwa, pelawak merupakan sebagai pelopor perbuatan dosa akan bertanggung jawab dunia akhirat…!

Sebagaimana sabda Rosulullah shalallahuAlaihi Wa Sallam :

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَرَضِيَ الله عَنْهُ :أَنَّ رَسُوْلُ الله صَلّى َالله عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ

ذَالِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ

مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَالِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا – زواه مُسْلِمُ

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya , sedikit pun tidak dikurangi pahalanya. Barang siapa yang mengajak ke jalan sesat, ia mendapat dosa seberat dosa orang yang mengikutinya, sedikit pun tidak dikurangi dosanya”.

Jadi walaupun para pelawak itu Baik sifatnya ataupun main‑main bahkan sungguh-sungguh ,….
sebagai mana para pelawak kadang bergaya sebagai wanita / bencong /wadam atau sebaliknya para wanita yang memakai kumis, maupun berdandan sebagai laki‑laki mulai dari pakaian, yang mana perbuatan tersebut sangat-sangat dikutuk oleh Rosulullah ShalallahuAlaihi Wasallam..

Telah jelas dalam sabdanya:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م الْمُتَشَبِهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالّنِسَـاءِ

وَالْمُتَشَبِهَاتِ مِنَ النِساَءِ بِالرِّجَالِ_رواه اتبخارى

” Rosulullah shalallahuAlaihi Wa Sallam telah mengutuk laki‑laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki‑laki”

OLEH KARNA KALAU kita melihat mereka (para lawak) ,sungguh sedikitpun caranya itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Karna kalau memang tujuannya semata‑semata untuk kebenaran, bukan untuk yang lainnya..

Sehingga dalam setiap amaliah tidak ada satu orangpun yang teraniaya baik secara langsung maupun tidak langsung. Inilah ajaran Islam yang mengajarkan kesucian..
Dan Bukan untuk di jadikan bahan olok olokan saja !

PANDAINYA SESEORANG !

Bukan karna usahanya yang lancar..

Bukan karna hartanya yang banyak..

Bukan karna ekonominya yang melemah..

Bukan karna hidupnya yang seadanya..

Bukan karna ilmunya yang banyak..

Bukan karna banyaknya anak/keturunan..

Dan bukan karna yang lain sebagainya..

NAMUN PANDAINYA SESEORANG ADALAH, YANG SELALU BERTAKWA KEPADA ALLAH DAN SELALU BERSYUKUR ATAS KARUNIA SERTA NIKMAT YANG ALLAH BERIKAN KEPADANYA !

jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
[Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 120]

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
[Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 134]

Kemudian Allah Tabaroka Wa Taala
berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepada kalian. Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan.”
[QS Al ‘Ankabut: 17]

Semoga kita termasuk orang yang selalu bertaqwa kepada Allah dan rosulnya, serta selalu pandai untuk mensyukuri karunia dan nikmat yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada kita, Aamiin ..

Barokallohufiikum !

BULE ATAU BUKAN, PENCURI DI GILI TERAWANGAN TETAP DIARAK KELILING KAMPUNG

image

OMG … This is happen in Gili Trawangan, Sunday 14/July/2013, He did not expect in Gili Trawangan there are CCTV
Seorang bule di arak keliling pulau Gili Trawangan karena ketahuan Mencuri…

GILI TRAWANGAN, KOMPAS.com – Di Jakarta, telepon genggam yang tertinggal sering kali lenyap sudah, alias tak akan kembali ke tangan pemiliknya. Jika hal itu terjadi di Gili Trawangan, Lombok, kemungkinan besar telepon genggam Anda bisa kembali. Terutama jika yang menemukannya memang penduduk setempat.

Di pulau wisata yang mendunia dan berada di Nusa Tenggara Barat ini, memiliki aturan adat (awig-awig) yang ketat. Salah satunya adalah aturan mengenai pencurian.

“Kalau ada pencurian, kita akan arak, mau bule atau siapa pun. Baru kami serahkan ke pihak berwajib,” ungkap Kepala Dusun Gili Trawangan H. Lukman, kepada Kompas.com, Selasa (9/12/2014).

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Gili Trawangan Acok Bassok. Ia menceritakan pernah kejadian hilangnya tas seorang tamu. Setelah dicek melalui CCTV, ketahuan bahwa yang mengambil adalah sesama tamu, seorang wisatawan asing.

“Bule itu pun ditangkap dan diarak keliling desa. Baru lalu diserahkan ke polisi,” tutur Acok kepada Kompas.com, Rabu (10/12/2014).

Oleh karena itu, ia pun menyayangkan adanya anggapan bahwa di Nusa Tenggara Barat banyak maling. Ia meyakinkan bahwa di Gili Trawangan aman untuk wisatawan.

Sementara itu, Lukman juga menjelaskan bahwa imbas dari pesatnya pariwisata di Gili Trawangan adalah banyaknya pendatang yang masuk. Oleh karena itu, masyarakat setempat terutama para pengusaha pun berinisiatif membentuk petugas keamanan pulau yang berfungsi untuk mengawasi keamanan pulau tersebut.

“Pada dasarnya, mereka ini adalah pemuda-pemuda di sini. Pemuda-pemuda ini mendapat pelatihan dari kepolisian,” tutur Lukman.

Kompas.com sendiri sempat mengalami sebuah kejadian di hari Selasa (9/12/2014) malam. Seorang kusir cidomo (delman khas setempat), mencari pemilik sebuah telepon genggam. Ia menuturkan seorang temannya yang sesama kusir menemukan telepon genggam tersebut di cidomo. Usut punya usut, pemiliknya tak sengaja meninggalkannya di cidomo.

Jika Anda berkunjung ke Gili Trawangan, ada baiknya Anda mengingat nama kusir dari cidomo yang Anda tumpangi, layaknya Anda sedang menumpang taksi. Sehingga jika ada barang yang tertinggal, Anda tinggal melapor ke Koperasi Janur Indah yang mewadahi cidomo.

Photo Credit : Gili Air .. Gili Meno .. Gili Trawangan Lombok

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2014/12/12/160400227/Bule.atau.Bukan.Pencuri.di.Trawangan.Pasti.Diarak.Keliling.Kampung
http://www.holidayislombok.com

GHIBAH ADALAH MERUPAKAN DOSA BESAR YANG AGAK SULIT DIHINDARI OLEH SEORANG MUSLIM

Ketika anda menjadi seorang pedagang maka pedagang lain akan sangat sulit lepas dari ghibahan lisan anda…

Ketika anda bekerja sebagai seorang pegawai maka pegawai lain akan sangat susah luput dari ghibahan anda…

Ketika anda menjadi seorang ustadz maka ustadz lainpun sukar bebas dari ghibahan anda…

Ghibah inilah yang dikatakan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang masyhur di telinga kita dengan berbagai lafazhnya di antaranya adalah :

Dari Jabir bin ‘Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan :

“Ketika kami dalam sebuah perjalanan bersama Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam, beliau melalui dua kuburan yang penghuninya sedang mendapatkan adzab kubur. Maka beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Mereka berdua tidaklah diadzab karena perkara yang besar. Penghuni yang pertama diadzab karena gemar mengghibahi orang lain……”

[HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 735. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al Albani Rohimahumallah]

Wollohu Waliyyut Taufiik !

JANGANLAH KITA SEPELEKAN TENTANG DUSTA

Di dalam Al Qur’an Talah di sebutkan Bahwa :

“Terkutuklah orang yang banyak berdusta”
[(QS. Adz dzaariyaat:10)]

Namun Pada keBiasaan nya kalau orang lagi bercinta sering sekali di antara mereka mengucapkan kata kata seperti mengungkapkan suatu perkataan DI mana perkataan tersebut di tujukan kepada seseorang dengan menGatakan Aku Sayang kepadamu atau dengan kata kata yang lain yang se makna dengan nyA !

Terlebih lagi di internet maupun dari komunikasi yang lain nya, dalam istilah bahasa umumnya CATING/TELPON dengan lawan jenis.

Secara umum yang ikhwan maupun akhwat di saat waktu mereka meluahkan rasa perasaan nya, satu di antara mereka kadang mengatakan kalau dirinya sangat sayang kpada seseorang yang di ajaknya catingan itu, namun pada waktu yang lain ia juga megatakan sayang nya kepada orang lain, selain dari pada yang pertama ia sayangkan !

Tetapi itu semuanya terjadi kepada lelaki dan wanita yang sering mengumbar GOMBALNYA kepada lawan jenisnya dengan mengatakan aku sayang padamu hanya padamu…dan di lawan jenis yang lain nya pula mengatakan seperti itu juga !

Sungguh…kata kata yang sering di ungkapkan seperti ini bukanlah hal yang spele, karna ini adaalah termasuk perkataan DUSTA yang dimana dalam syariat islam tidak di bolehkan walaupun itu hanya suatu kata kata yang gombal ataupun hanya bergurau saja !

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Rodiyallohu’anhu, beliau berkata bahwa,

Nabi shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta,”
[(HR Bukhari [6094])]

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Rodiyallohu’anhu,
bahwasanya Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Ada empat sifat jika keempatnya ada pada diri seseorang berarti ia orang munafik tulen. Dan apabila ia memiliki salah satu dari empat sifat ini berarti ia memiliki satu sifat munafik hingga ia meninggalkan sifat itu: Apabila diberi amanah ia berkhianat, jika berbicara ia dusat, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berbuat jahat,”
[(HR Bukhari [34] dan Muslim [58])]

Diriwayatkan Pula dari Samurah bin Jundab Rodiyallohu’anhu Beliau berkata,
Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam bersabda:

“Aku melihat orang yang mendatangiku dan mereka berkata, ‘Orang yang engkau lihat mulutnya dikoyak tadi adalah seorang pendusta. Ia berbohong hingga kebohongannya tersebut dibebankan kepadanya sampai mencapai ufuk. Ia diberi beban seperti itu hingga hari kiamat’,”
[(HR Bukhari [6096])]

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa :

Dusta ialah memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kejadian yang sebenarnya baik dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidak tahuan. Hanya saja jika dilakukan karena tidak tahu maka tidak berdosa. Allahu a’lam.

Kemudian juga Sangat diharamkan berkata dusta dan bahaya menganggap remeh perbuatan dusta, karena dusta merupakan sebab dari segala kejahatan.

Dan juga Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta maka hal itu akan menjadi salah satu sifatnya.

SALAH SATU CONTOH DI ANTARANYA :
Misalnya menertawakan anak-anak, seperti dikatakan kepada nya, ‘Ambilah!’
padahal sebenarnya ia tidak mau memberikannya kepada anak-anak tersebut !

Kemudian mengaku kenyang padahal ia sedang lapar !

Kadang juga bercerita dusta untuk membuat orang-orang tertawa, dan lain Sebagainya … Dan masih juga Contoh yang lain nya, yang dimana termasuk juga’ yang sering GOMBAL tentang perasaan kepada semua lawan jenis nya dengan mengUmbar kata kata sayang ataupun dengan kata kata yang lain nya, yang di mana ungkapan nya itu hanya dusta BELAKA !

Kurang Lebihnya Saya mohon maaf Atas Penulisan ini Semoga ada mamfaatnya .

Wabarokallohufiikum !

PESANTREN AS SUNNAH

image

BERIKUT SEDIKIT INFO TENTANG PONDOK PESANTREN SALAFIYAH LOMBOK

Bismillah…

Pondok Pesantren Assunnah merupakan salah satu Pontren Islam Salafiyah yang ada di Lombok.

Beralamatkan di jln. Jurusan Lb Lombok-Mataram Km.55

Kampung Muhajirin .

Desa Bagek Nyaka Santri .

Kecamatan Aikmel .

Kabupaten Lombok Timur .

Propinsi Nusa Tenggara Barat .

kodepos 83653 Telp/Fax: 0376-2924114

email: pontrenassunnah@gmail.com

Pontren ini berdiri tahun 2004. Dan, alhamdulillah, sejak tahun 2011 Pontren ini sudah mendapat Izin Operasional dari Departemen Agama setempat.

Pesantren yang dibina oleh : 

Ust. Sufyan Bafien Zein dan

Ust. Mizan Qudsiyah, Lc

ini memiliki santri pada tahun ajaran 2011-2012 sebanyak 621 santri.

Terbagi di beberapa Jenjang Pendidikan yaitu :

TK- Islam Assunnah,

SD- Islam Assunnah,

SMP- Islam Assunnah,

SMA- Islam Assunnah dan

Ma’had Ali.

Pontren ini memiliki 36 guru agama yang merupakan alumni Timur Tengah (Univ. Islam Madinah, Ma’hadul Harom Makkah, Univ. Ibnu Utsaimin Unaizah KSA) dan alumni dalam negeri (LIPIA, STIT Ali bin Abi Tholib Sby, Ma’hadul Furqon Gresik dan Ma’had-ma’had lainnya di Indonesia) dan 30 guru umum alumni Universitas-universitas dalam negeri.

Sejak berdirinya Pontren Assunnah mendapat kunjungan kehormatan dari beberapa Ulama’ Timur Tengah sekaligus menyampaikan ceramahnya diantaranya:

Syekh DR. Sholah Al-budaer (Iman dan Khotib Masjid Nabawi ),

Syekh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al-badr Al-abbad ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh DR. Ibrohim Arruhaily ( Pengajar di Masjid Nabawi sekaligus Dosen Pasca Sarjan di Univ. Islam Madinah )

Syekh Ali Hasan Alhalabi, Syekh Saliim Ied Alhilali,

Syekh Masyhur Hasan Alu Salman,

Syekh Muhammad Musa Alu Nashr
(keempat murid syekh Alalbani-rahimahulloh- dari Yordania).

Demikian pula beberapa tamu dari Maroko, Inggris, Spayol dan kunjungan dan tamu-tamu lainnya.

Kurikulum yang digunakan yaitu paduan antara Kurikulum Dinas Pendidikan Nasional dengan Kurikulum Pondok.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH
Tentang info PESANTREN ASSUNNAH
Salafiyah Lombok ….

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiik !

TENTANG UCAPAN IN SHAA ALLAH SAAT BERJANJI

Janji adalah hutang dan hutang wajib dibayar. Oleh karena itu, suatu janji wajib hukumnya untuk ditepati, bahkan bila seorang berjanji lalu diingkarinya tanpa uzur, maka ia tergolong memiliki tanda orang munafik yang akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir.

Namun karena seseorang tidak bisa memprediksi bahwa ia bisa dan pasti mampu melaksanakan sesuatu yang telah dijanjikannya pada orang lain pada masa yang akan datang, maka seharusnya ia menyertakan janji-janjinya untuk masa datang dengan sebuah kalimat :

In sha Allah (jika Allah menghendaki)

Bi Masyiatillah (dengan kehendak Allah)

illa An YasyaAllah (kecuali jika Allah menghendaki).

Hal ini, sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. Al-Kahfi: 23-24 :

“(23) dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:

“Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

Menurut beberapa kitab tafsir, seperti tafsir Imam Qurthubi (Juz 10, hlm. 384) bahwa sebab turunnya dua ayat di atas adalah karena beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad shalallahu Alaihi Wasallam tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab:

“Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan!”. dan beliau tidak mengucapkan in sha Allah  (jika Allah menghendaki).

tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang (bahkan riwayatnya sampai 15 hari) untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut in shaa Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa jika berjanji hendaknya ada pengecualian dengan mengatakan “jika Allah menghendaki”.

Hal ini berfungsi jika orang yang janji itu lupa atau ada uzur, sehingga tidak bisa menepati janjinya, maka ia tidak tergolong orang yang berbohong atau ingkar janji. Bahkan pada ayat berikutnya (ayat 24) ada anjuran jika lupa mengucapkan Insya Allah lalu ingat, maka tetap dianjurkan untuk mengucapkan itu, walaupun sudah lama waktu antara janji (yang lupa Insya Allah) dengan waktu ingatnya itu bahkan walau sudah hampir satu tahun, sebagaimana pendapat sahabat Ibn Abbas yang dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya.

Dalam al-Qur’an sendiri terdapat pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu tentang ucapan Insya Allah yang terulang sebanyak 6 kali, yaitu: (1) Q.S. al-Baqarah: 70, tentang janji Bani Israil kepada Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi dengan ciri-ciri tertentu; (2) Q.S. Yusuf: 99, tentang Janji Nabi Yusuf pada saudara-saudranya untuk masuk Mesir dengan aman; (3) Q.S. al-Kahfi: 69, tentang janji Nabi Musa pada Nabi Khidir untuk taat dan sabar saat belajar padanya; (4). Q.S. al-Qashash: 27, tentang janji Nabi Syu’aeb pada Nabi Musa yang akan dinikahkan dengan salah seorang putrinya setelah mahar dari Nabi Musa berupa kerja di ladangnya dalam hitungan waktu tertentu terpenuhi sebagiannya; (5) Q.S. al-Shaaffat: 102, tentang janji Nabi Ismail pada ayahnya; Nabi Ibrahim bahwa ia akan ikhlas dan tidak berontak saat akan di sembelih ayahnya, oleh karena itu ia minta pada ayahnya agar ia tidak usah diikat, karena tidak akan lari dan; (6) Q.S. al-Fath: 27, tentang janji Allah pada Nabi Muhammad untuk bisa (dalam waktu dekat) kembali menguasai kota suci mekkah dan bisa berhaji lagi setelah sebelumya di embargo oleh orang-orang kafir Quraesy.

Para ulama telah sepakat bahwa berjanji dengan tambahan pengecualian kata In shaa Allah atau semisal dengan bahasa Arab atau bahasa apapun adalah sunnah (dianjurkan dan berpahala) walau memang ada sebagian kecil ulama yang berpendapat wajib hukumnya tambahan kalimat In shaa Allah.

Namun ulama yang berpendapat sunnah pun memberi syarat; boleh berjanji tanpa In shaa Allah, jika dalam hatinya tidak ada keyakinan bahwa ia pasti bisa menepati janjinya tanpa ada kaitanya dengan taqdir Allah.

PERINTAH MENUTUP PERHIASAN DAN LARANGAN MENAMPAKKAN NYA KEPADA KAUM LAKI-LAKI

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…”
Maksud dari perhiasan yang harus ditutupi di dalam ayat ini secara umum mencakup pakaian luar yang dihiasi dengan hiasan-hiasan yang menarik pandangan mata kaum laki-laki, bukan hanya perhiasan secara khusus seperti anting-anting, gelang tangan, gelang kaki, kalung cincin, atau yang semisalnya.

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullahu ta’ala menjelaskan tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”

perhiasan yang dimaksud ialah seperti pakaian yang indah, perhiasan-perhiasan, serta seluruh badan, semuanya termasuk perhiasan (dalam ayat ini)

[Tafsir al-Karimurrahman lit Tafsiril Kalamil Mannan, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, hlm. 515]

Adapun laki-laki yang boleh melihat perhiasan seorang wanita, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, ada dua belas golongan saja, yaitu ayahnya, suaminya, mertuanya, putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara-saudaranya, putra-putra saudaranya, putra-putra saudarinya, sesama kaum muslimah, budak-budaknya, pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita, dan anak-anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Semoga bermamfaat .
Barokallohufiikum !

NASEHAT UNTUKKU DAN UNTUKMU SHOHABAT FYILAH DI MANAPUN BERADA

IBNU SHALAH DALAM KITABNYA ‘ULUMUL HADITS YANG LEBIH DI KENAL DENGAN MUQODDIMAH IBNISH SHALAH MENGATAKAN :

“(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan memengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya SECARA LENGKAP ketika berulang menyebut Rasulullah.”

Ibnu Shalah juga berkata :

“Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut :

Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.

Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang .

Misalnya :
Dia tidak menuliskan wassalam.
islam Fatwa Larangan Penyingkatan SALAM dan SHALAWAT

KEMUDIAN Al-‘Allamah As-Sakhaw dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan :

“Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Ara:) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan saw dan shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.

KEMUDIAN PULA  As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, mengatakan :

“Dibenci menyingkat SHALAWAT DAN SALAM DALAM PENULISAN, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”

Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar KAUM MUSLIMIN mencari yang utama atau YANG AFDHAL, Yaitu: dengan mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”
[(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)]

Yang BerSumber Dari :
Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91

Oleh karna dengan ini marilah kita yaitu, Hendaknya kita mulai sekarang menulis lengkap tulisan tersebut dan tidak dengan menyingkatnya ..

SEBAGAI KESIMPULAN NYA :

WALAUPUN NIAT KITA baik “TAPI” cara yang digunakan adalah SALAH, maka tidak lain hasilnya salah…

In Shaa Allah, umat muslim tidak mempunyai jiwa bakhil untuk niat
dan tujuan yang mulia .. !

Untuk itu harus ada di tengah mereka saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. Maka -dalam rangka ukhuwah islamiyah- kita wajib mengingatkan kesalahan kaum muslimin dan menjelaskan penyimpangan dan kebid’ahan-kebid’ahan pada zaman sekarang ini dengan berharap semoga Allah menyelamatkan seluruh kaum muslimin,
dari KESESATAN DAN PENYIMPANGAN.. !

WollohuA’lamBhisshowaab .
Wabarokallohufiikum !

KELELAHAN YANG DISUKAI ALLAH SUBHANAHU WA TAALA DAN RASULNYA

Ada 8 kelelahan yang disukai Allah dan Rasul-Nya :

  1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9 : 111)
  2. Lelah dalam berda’wah / mengajak kepada kebaikan (QS. 41 : 33)

  3. Lelah dalam beribadah dan beramal sholeh (QS. 29 : 69)

4.Lelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik putra / putri amanah Ilahi (QS. 31 : 14)

  1. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)
  • Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)

  • Lelah dalam belajar/menuntut ilmu (QS. 3:79)

  • Lelah dalam kesusahan, kekurangan, dan sakit (QS. 2:155)

  • Semoga kelelahan dan kepayahan yang kita rasakan hari ini dan esok menjadi bagian itu semua. Semoga kita dapati Allah Tersenyum menyambut kita di surga nanti. Aamiin.

    Semoga bermanfaat .

    Barokallohufiik !

    TENTANG HASAD

    Jika anda benci melihat orang lain mendapatkan kemudahan&kebahagiaan, dan sebaliknya anda malah senang dan bahagia dengan kesusahan&kesulitan yang menimpa orang lain, maka itu pertanda anda telah terkena penyakit HASAD

    Berhati2lah, segera koreksi diri dan bertaubatlah, sebab hasad tsb tidak akan menghancurkan orang yang kita benci, melainkan malah akan menghancurkan diri kita sendiri

    “Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering)“. (HR Abu Dawud dalam “As-Sunan” (no. 4905))

    Dari Abu Hurairah Radhyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi !

    Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.

    Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya.

    Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim.

    Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”
    Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh :

    1. Muslim (no. 2564)
    2. Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360)

    3. Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas)

    4. Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250)

    5. Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549)

    Sumber : Facebook.com

    Semog Bermamfaat .
    Barokallohufiik !

    MENJADI INSAN BIASA YANG MERASA TIDAK LUPUT DARI KESALAHAN

    Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasallam bersabda:

    “Setiap manusia memiliki salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat.”

    [HR. Tirmidzi (2499) & Ibnu Majah (2451)]

    “Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat salah niscaya Allah wafatkan kalian & menggantikan dengan suatu kaum yang akan berbuat salah lalu mereka meminta ampunan kepada Allah hingga Allah memberikan ampunan bagi mereka.”

    [(HR. Muslim, Shohih Muslim 8/94 (2749)]

    Barokallohufiik !

    KRITERIA ORANG YANG PALING MULIA

    Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta’ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran atau patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
    [(QS.Al-Hujurat: 13)]

    Barokallohufiik !

    HUKUM RAMBUT MOHAWK DAN QAZA’ YAITU GAYA RAMBUT BALOTELLI

    Hukum qaza’ adalah makruh…

    Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang dalam keadaan rambutnya sebagian gundul, sebagian lainnya dibiarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarangnya. Beliau bersabda pada orang yang model rambutnya seperti itu, “Cukurlah seluruhnya. Atau biarkanlah seluruhnya.”

    Namun jika untuk mengikuti model orang kafir, berarti dihukumi haram.. !

    Karena tasyabbuh (mengikuti gaya) orang kafir adalah haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

    Oleh karena itu jika melihat ada orang yang model rambutnya adalah qaza’, hendaknya kita perintahkan agar ia menggundul seluruh rambut kepalanya. Kemudian beri saran setelah itu, jika ingin mencukur rambut lagi, hendaklah mencukur seluruhnya atau membiarkan seluruhnya.
    [(Syarhul Mumthi’, 1: 167-168)]

    image

    Juga ada keterangan dari Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (1: 347), “Qaza’ dihukumi makruh.

    Yang dimaksud qaza’ adalah model rambut yang hanya menggundul sebagian rambut saja. Hal ini terlarang berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam shahihain, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.”

    Dalil-dalil yang melarang model rambut qaza’,

    Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata :

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْقَزَعِ

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.”
    [(HR. Bukhari no. 5921 dan Muslim no. 2120)]

    Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar mengatakan :

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْقَزَعِ. قَالَ قُلْتُ لِنَافِعٍ وَمَا الْقَزَعُ قَالَ يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِىِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ.

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qaza’?” Nafi’ menjawab, “Qaza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.”
    [(HR. Muslim no. 2120)]

    Dalam keterangan yang lain, Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama berijma’ (sepakat) bahwa qaza’ itu dimakruhkan jika rambut yang digundul tempatnya berbeda-beda (misalnya: depan dan belakang gundul, bagian samping tidak gundul, -pen) kecuali jika dalam kondisi penyembuhan penyakit dan semacamnya. Yang dimaksud makruh di sini adalah makruh tanzih (artinya: sebaiknya ditinggalkan). … Ulama madzhab Syafi’iyah melarang qaza’ secara mutlak termasuk laki-laki dan perempuan.”
    [(Syarh Shahih Muslim, 14: 101)]

    Sumber Selengkapnya di :

    http://rumaysho.com/umum/hukum-rambut-mohawk-dan-qaza-gaya-rambut-balotelli-10094

    Wollohu Waliyyut Taufiik !