Arsip Kategori: BUDAYA

BUDAYA NYONGKOLAN ATAU BUDAYA PENGIRINGAN PENGANTIN DI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT DALAM TINJAUAN SYIARIAT ISLAM

Disini saya peribadi, ingin membahas sedikit tentang adat/budaya/teradisi yang telah terjadi di lombok dari masa dulu hingga saat ini yang masih di lakukan oleh sebagian wilayah di masyarakat kota lombok NTB, YAITU acara NYONGKOLAN ATAU DALAM BAHASA UMUM NYA ACARA PENGIRINGAN PENGANTIN yang di lakukan dengan menggunakan berbagai BENTUK ALAT MUSIK..

Perlu kita ketahui bahwa, adakah dalam syariat islam mengajarkan akan hal ini, atau adakah contoh dari rasulullah untuk melakukan nya ?

Seperti anggapan mereka, KURANG SEMPURNA PERNIKAHAN SEORANG BILA TIDAK DI MERIAHKAN DENGAN ACARA TERSEBUT, padahal tidak ada satupun yang ada dalam RUKUN NIKAH yang menyebutkannya/yang di haruskan… !

Kemudian selain dari pada itu, ada pula yang beranggapan bahwa, ini adalah BUDAYA/TRADISI yang harus kita lakukan, agar di dalam pernikahan si A dan si B , dapat menjadikan nya terjalin keluarga yang bahagia..

Nah , itulah beberapa anggapan atau sebagai alasan mereka supaya acara atau tradisi tersebut selalu tetap mereka adakan setiap adanya pernikahan seseorang. NAMUN masih banyak lagi alasan alasan yang lain nya, yang di mana alasan alasan mereka semua itu tidak ada sumbernya dari al quran maupun as sunnah .

Yang akhirnya Bid’ah di dahulukan dan sunnah di tinggalkannya/di abaikan nya.

Perlu kita ketahui juga bahwa, dalam acara ini sungguh sangat membutuhkan biaya yang banyak pula, dimana orang yang tidak mampu bersusah payah untuk mencari biaya agar pernikahan nya di iringi dengan adat atau tradisi tersebut , kadang dengan cara meminjam kepada tetangga atau yang lainnya atau dengan cara menjual barang berharga yang ada padanya seperti : sapi, kambing, tanah dan lain sebagainya .

Kadang pula yang merasa mampu untuk menyelenggarakannya, uang atau bentuk harta yang ia miliki mereka hambur hamburkan . Dari pada memikirkan untuk masa depannya si pengantin .

“Coba’ itu uang di simpen untuk beli beras mungkin ada mamfaatnya, dari pada uang di hambur hamburkan hanya untuk bersenang senang yang gak ada faedah dan mamfaatnya sama sekali, apalagi sekarang jaman nya BARANG naik harga semua ”

Buruk nya lagi , dalam acara nyongkolan tersebut SEMUA YANG LAKI MAUPUN PREMPUAN bercampur BAUR, 
dimana  perempuan nya juga gak nutup AURAT/ TERBUKA dengan pakaian adat atau tradisi yang mereka KENAKAN .

DAN kadang mereka bergoyang goyang berjoget joget sambil mengikuti irama lagu serta GENDANG yang mereka mainkan di blakang pengantin yang mereka IRINGI tersebut .

Kadang pula ada yang minum minuman keras sampai mengakibatkan mereka teler teleran sambil bergoyang di tempat muka umum orang banyak, dan berbagai kerusakan kerusakan atau keburukan lain nya .

BERKAITAN DENGAN HAL INI ,
Mari kita bersama melihat acara atau tradisi tersebut dalam pandangan syariat islam, apakah di bolehkan atau tidak untuk kita melakukannya.

Yang pertama kita mulai dari tentang syarat sah nikah kemudian rukun rukun nya serta adab adab pada pernikahan .

Di dalam pernikahan terdapat keteraturan terpenuhinya hak masing-masing indifidu suami istri di bawah naungan cinta dan kasih sayang, penghormatan dan penghargaan. Dan  masih banyak lagi hikmah pernikahan yang masih tersembunyi.

Yang sedikit tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa pernikahan dalam Islam memiliki nilai yang sangat agung.

Pernikahan agar sah dan berkah harus terpenuhi padanya rukun-rukunnya serta adab-adabnya. Terpenuhinya rukun-rukun pernikahan kunci sahnya, sedangkan baiknya adab-adabnya akan menjadi sumber keberkahannya.

DI DALAM PERNIKAHAN PERLU KITA KETAHUI BAHWA RUKUN NIKAH TERSEBUT ADA EMPAT YANG MENJADIKAN NIKAH ITU SAH

Di antaranya ialah :

  1. Adanya seorang wali yang sah yang menikahkan.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Pernikahan tidak sah tanpa wali (yang sah)”
[(HR. Khamsah selain an-Nasai, dishahihkan oleh Ahmad dan Ibnu Main, al-Irwa’ no: 1839)]

  1. Disaksikan minimal dua orang saksi.

Yaitu saat akad pernikahan dilangsungkan harus dihadiri minimalnya dua orang saksi  atau lebih dari kalangan laki-laki muslim yang adil pada dirinya dan orang lain. Yaitu bukan orang yang biasa melakukan dosa-dosa besar atau yang semisalnya.

Berdasarkan firman Allah azza wajalla:

“dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.
[(QS ath-Thalaq: 2)]

Meski ayat ini tentang thalaq dan ruju’, namun pernikahan dianalogikan kepada keduanya juga.

Selain itu juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Pernikahan tidak sah tanpa wali yang sah dan dua orang saksi yang adil”.
[(HR. al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syeikh al-Albani dalam shahihul jami no: 7557)]

  1. Ungkapan akad pernikahan yang sah.

Yang dimaksud ialah shighotul aqdi. Yaitu yang dikenal dengan istilah ijab qobul. Ialah ucapan calon suami atau wakilnya ketika akad pernikahan, kepada wali calon istri, misalnya;

“Nikahkan aku dengan putri bapak, atau saudri Bapak yang bernama Fulanah.”

Kemudian wali atau wakilnya mengatakan, misalnya;

“Aku nikahkan Anda dengan putriku atau dengan saudariku yang bernama Fulanah”.

Kemudian si calon suami menjawab dengan megatakan, misalnya;

“Aku terima pernikahannya dengan diriku”.

  1. Adanya mahar.

Mahar atau mas kawin, atau ada yang menyebut sri kawin, yaitu sesuatu yang diberikan seorang suami kepada seorang istri agar halal bersenang-senang dengannya. Memberi mahar ini hukumnya wajib. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
[(QS an-Nisa’: 4)]

Apabila sebuah pernikahan telah terpenuhi keemapat rukun tersebut maka secara syari’at Islam pernikahan tersebut telah sah dan suami istri telah halal bersenang-senang dari dan dengan pasangannya.

Lihatlah pada rukun nikah tersebut di atas, adakah anjuran untuk di meriahkan dengan acara nyongkolan
Setelah sahnya pernikahan ?

SEDANGKAN MEREKA beranggapan bahwa dengan nyongkolan nikah nya itu sah dan sempurna ? Dan dapat membawa keberkahan dalam keluarga ?

BERIKUT KETAHUILAH JUGA ADAB ADAB YANG ADA dalam Pernikahan

Tinggal bagaimana agar pernikahan bisa mendatangkan keberkahan? Agar pernikahan mendatangkan keberkahan maka harus diperhatikan adab-adabnya, ialah dengan memelihara dan mengamalkan adab-adabnya. Yang dimasudkan ialah adab-adab saat pernikahan dan usai pernikahan, Berikut sebagian dari adab-adab nya :

PERTAMA : Diawali dengan khuthbah nikah, BUKAN DENGAN NYONGKOLAN

Khutbah nikah yang di maksudkan Ialah khuthbah singkat yang disampaikan menjelang akad pernikahan dilangsungkan. Yang dibaca kurang lebih ialah sebagai berikut:

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ

لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Setelah itu kemudian dilanjutkan membaca ayat 102 dari surat Ali Imran, dilanjutkan membaca ayat 1 surat an-Nisa’ dan dilanjutkan dengan membaca ayat 70-71 surat al-Ahzab.

Apabila dicukupkan sampai di situ tidak mengapa, apabla ditambahkan membaca sabda Rosululoh berikut maka lebih baik, yaitu:

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ

بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“sesungguhnya sebenar-benar perkataan ialah Kitabulloh (al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuknya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (baru), sedangkan setiap yang diadakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, sedangkan setiap yang sesat akan masuk ke dalam neraka”

KEMUDIAN YANG KEDUA Pernikahan HARUS diumumka,n BUKAN HARUS DI IRINGI DENGAN NYONGKOLAN .

Karna Mengumumkan pernikahan diperintahkan. Pernikahan tidak boleh disembunyikan atau di rahasiakan.  Berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Umumkanlah pernikahan”
[(HR Ahmad, Ibnu Hibban, dll dengan sanad hasan. Shahihul jami’ no: 1072)]

Namun disini ada Cara dalam mengumumkan pernikahan, diantaranya selain dengan menghadirkan minimalnya dua orang saksi juga dengan mengadakan pesta walimah dan dengan menabuh rebana. INGAT TABUHAN REBANA bukan gendang yang di pakai pada acara NYONGKOLAN.

Walimah ialah makanan yang dihidangkan saat kedua suami istri usai membangun rumah tangga. Diadakannya walimah ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Adakan pesta walimah meski hanya dengan seekor kambing”.
[Hadits muttafaqun alaih]

Dan juga pada saat WALIMAH di Bolehkan  memeriahkan dengan didendangkan “nasyid’ yang baik.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Pembeda antara yang halal dan yang haram (zina) ialah (dipukulnya) rebana dan (didendangkannya) suara pada pernikahan”.
[(HR an-Nasai: 2/91, at-Tirmidzi: 1/201, Ibnu Majah no: 1896, al-Hakim 2/184, Baihaqi 7/289 dll. At- tirmidzi mengatakan: “hadits ini hasan”. Sebagaimana di dalam al-Irwa no: 1994)]

KEMUDIAN YANG KETIGA YAITU Panjatan doa bagi kedua mempelai

Agar pernikahan berkah, maka bagi para tamu undangan walimah hendaknya mendoakan kedua mempelai dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagi berikut:

“Semoga Allah memberkahimu dalam suka dan dukamu serta mengumpulkan kalian berdua di dalam kebaikan”.
[(HR Abu Dawud no: 2130, Tirmidzi no: 1091 dishahihkan oleh Syeikh al-Albani)]

KEMUDIAN KEEMPAT Suami Di anjurkan untuk berdoa saat memuali membangun rumah tangga

Maksudnya, kali pertama suami mendatangi istrinya uasai akad pernikahan, pertama kali yang hendaknya dilakukan suami ialah berdoa. Yaitu dengan cara memegang ubun-ubun istri dengan tangan kanannya lalu memanjatkan doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagi berikut:

“Ya Allah. Sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang telah Engkau titahkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang telah Engkau titahkan padanya”.
[(HR Abu Dawud no: 2160 dan Ibnu Majah no: 2252 dengan sanad hasan sebagaimana di dalam Shahih Abu Dawud no: 1892 dan di dalam Shahih Ibnu Majah no: 1825)]

KEMUDIAN KELIMA YAITU Berdoa sebelum berhubungan suami istri

Apabila suami istri hendak berhubungan badan, apakah untuk kali yang pertama ataupun untuk yang berikutnya, maka hendaknya suami berdoa dengan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah setan dar kami, dan jauhkanlah pula setan dari apa yang Engkau rezekikan (anak) buat kami”.
[(Muttafaqun alaih)]

Itulah sebagain dari adab-adab pernikahan yang In Shaa Allah menjadi sebab diberkahinya pernikahan. BUKAN KARNA  ADANYA TARDISI NYONGKOLAN ITU MEREKA YANG MENIKAH MEMDAPATKAN KEBERKAHAN .

Kemudian mari juga kita melihat pada tradisi tersebut bahwa disitu juga terjadi pencampur bauran antara laki dan perempuan di mana perempuan nya juga tidak menutup aurat. Bagaimanakah islam meninjaunya ?

Perlu kita ketahui bahwa pencampur bauran antara lelaki dan perempuan atau di sebut dengan Ikhtilath adalah  merupakan jalan menuju zina.

Hal ini sudah sangat jelas karena perzinaan terjadi dimulai dari pandangan mata, lalu hati menginginkannya, lalu kemaluanlah yang melaksanakannya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia pasti mendapatkannya, tidak bisa dihindari. Zina mata adalah memandang, zina lisan adalah ucapan, nafsu membayangkan dan menginginkan, dan kemaluan membenarkan itu semua ataupun mendustakannya.”
[HR Al Bukhari (6243) dan Muslim (2657)]

Nah itulah yang terjadi apabila ikhtilat itu di lakukan pada acara tersebut dan pada ikhtilat yang lain nya, Sehingga Rasulullah melarang dari nya .

Bahkan disebutkan pula dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Ikhtilath dapat membuat
HILANG NYA RASA MALU SEORANG WANITA TERHADAP LELAKI .

Hal ini berbeda jauh dengan keadaan wanita pada masa kenabian dan pada masa awal-awal Islam di mana mereka itu memiliki sifat malu dan menjaga kehormatan diri yang sangat besar.

Keadaan ini digambarkan di dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu:

“Nabi صلى الله عليه وسلم lebih pemalu daripada gadis perawan di balik tirainya.”
[HR Al Bukhari (3562) dan Muslim (2320)]

Pada Hadits di atas menggambarkan tentang keadaan para wanita perawan pada masa itu yang amat pemalu. Lantas bagaimanakah dengan para gadis perawan pada masa kini yang telah terbiasa dengan ikhtilath?

Ikhtilath juga merupakan fitnah yang paling pertama menimpa bangsa Yahudi.

Sehingga kaum muslimin yang melakukan ikhtilath, pada hakikatnya mereka telah meniru kerusakan yang ada pada bangsa Yahudi.

Di sebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Takutlah kalian kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita. Sesungguhnya fitnah yang paling pertama menimpa Bani Israil adalah (fitnah) wanita.”
[HR Muslim (2742)]

Nah itulah beberapa penjelasan tentang yang terjadi pada acara NYONGKOLAN tersebut yang mengakibatkan Perbuatan MAKSIAT mereka gemarkan dari pada untuk mereka menjauhi nya , hanya karna mereka mengedepankan adat atau tradisi dari pada Alqur’an da As Sunnah .

عن أبي محمد عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم – لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعاُ لما جئت به – حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح

Dari Abu Muhammad, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
[HR. Al-Bukhari, dalam kitab Qurratul ‘Ainaini (1/38, no. 45), Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab al-Hujjah dengan sanad yang shahih]

Beberapa Faedah yang dapat kita ambil dari hadits tersebut
di antarnya :

  1. Peringatan bagi manusia untuk tidak mengedepankan akal atau adat istiadat di atas risalah yang dibawakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab ketidaksempurnaan iman ini dapat menafikan keimanan darinya.

Apabila seseorang berkata: mengapa kalian mengartikannya dengan “tidak beriman secara sempurna?”

Jawaban: kami mengartikannya demikian sebab tidak mungkin hal ini terjadi dalam setiap permasalahan. Bisa jadi hawa nafsunya mengikuti banyak hal yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam sebagian yang lain tidak mengikutinya, maka dari itu diartikan ‘tidak beriman secara sempurna’. Dan kita katakan: apabila hawa nafsunya menolak semua (perkara agama) yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Wajib atas seseorang untuk mendahulukan mencari dalil, sebelum memutuskan suatu hukum, bukan menghukumi dulu lantas mencari dalil.

Artinya: jika Anda ingin menetapkan suatu hukum dalam hal keyakinan atau amalan yang zhahir, maka kewajiban Anda yang pertama adalah mencari dalil, kemudian menetapkannya. Adapun sikap sebaliknya (Anda menetapkan dulu lalu mencari dalil), itu berarti Anda menjadikan diri Anda sebagai matbu’ (yang harus diikuti) oleh para tabi’ (yang mengikuti). Dengan kata lain, jika demikian Anda telah menjadikan akal sebagai sumber rujukan pokok, sedangkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai cabangnya.

Sebab itu Anda dapatkan sebagian ulama – semoga Allah merahmati dan memaafkan mereka – yang mendewa-dewakan madzhab mereka.

Madzhab itu mereka jadikan dalil dan rujukan pokok bagi para pengikut madzhab mereka, kemudian mereka berupaya memutar-mutarkan ‘tengkuk’ nash (al-Qur-an dan as-Sunnah) agar sesuai dengan apa yang dinyatakan madzhab mereka dengan cara yang tidak tepat.

Ini termasuk musibah yang menimpa sebagian ulama. Maka yang wajib atasmu adalah menjadikan hawa nafsu mengikuti apa yang datang dari syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Pembagian hawa nafsu kepada terpuji dan tercela.

Pada dasarnya, ketika hawa nafsu dikatakan secara umum, maka yang dimaksud adalah hawa nafsu yang tercela, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur-an dan al-Hadits. Setiap yang Allah sebutkan dalam hal mengikuti hawa nafsu, secara otomatis itu berarti jelek.

Namun hadits ini menunjukkan bahwa hawa nafsu dapat diarahkan agar mengikuti syari’at yang dibawa oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Dengan kata lain, hawa nafsu itu terbagi dua bagian:

Pertama terpuji, yaitu manakala ia mengikuti apa yang dibawakan Rasulullah.

Kedua: tercela, yaitu yang menyelisihi hal di atas. Namun ketika disebutkan secara mutlak, maka pengertiannya adalah hawa nafsu yang tercela, sehingga dikatakan: “Hidayah lawannya adalah hawa nafsu.”

  1. Kewajiban menerapkan hukum syari’at Islam dalam segala hal, berdasarkan sabda beliau:

    “mengikuti apa yang aku bawa.”

Sedangkan Rasulullah diturunkan dengan membawa segala hal yang akan bermanfaat bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu.”
[(QS. An-Nahl: 89)]

Tidak ada satu pun di antara persoalan yang dibutuhkan manusia, baik dalam hal akhirat atau dunia – alhamdulillah – seluruhnya telah dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah penjelasannya gamblang, setiap orang mengetahuinya, atau penjelasan bagi sesuatu yang sulit, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang kuat dalam hal keilmuannya (ulama).

  1. Iman itu bersifat bertambah (karena keta’atan) dan berkurang (karena kemaksiatan), sebagaimana yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal-Jama’ah.

OLEH KARNA MARILAH KITA RENUNGI BEBERAPA PENJELASAN ALQURAN DAN ASSUNNAH DI BAWAH INI agar kita senantiasa ingin kembali dan merujuk atas perbuatan yang tidak ada contoh pada sebelumnya dan tidak selamanya kita kan tersesat hanya dengan karna mengedepankan adat ataupun tradisi yang membudaya dari pad mengedepankan perintah Allah maupun rasulnya .

“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.”
[(Q.S. An Nisa’: 13-14)]

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.”
[(Q.S. Al Ahzab: 36)]

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
[(Q.S. An Nisa’: 69)]

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
[(QS. Al Ahzaab: 21)]

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka
[(Q.S. An Nisa’: 80)]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”
[(HR. Abu Hurairah)]

“Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” 
[(HR. an-Nasa`i)]

“Orang yang berpegangan kepada sunahku pada saat umatku dilanda kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid.” 
[(HR. Ath-Thabrani)]

“Berpegangteguhlah kalian dengan Sunnah-ku dan sunnah para Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk (setelahku).” 
[(HR. Al-‘Irbadh bin Sariyah)]

“Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.”
[(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)]

“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku.”
[(HR. Bukhari)]

KESIMPULAN

Berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah diperintahkan oleh Allah dalam Kitabullah, dan Rasul-Nya dala hadits-hadits beliau, sehingga jika kita berpegang kepada Kitabullah, secara otomatis kita wajib berpegang kepada Sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam, hal ini menunjukkan perintah berpegang kepada sunnah bersamaan dengan Kitabullah adalah sangat kuat, bahkan seandainya tidak ada satu hadits pun yang memerintahkan hal ini, cukuplah perintah ini kita dapatkan dari Al-Qur’an.

Kurang lebih nya saya mohon maaf atas penulisan ini , semoga bermamfaat barokallohufiik !

Iklan